Kamis, 10 November 2016

Hampir Pungli di Candi Jiwa , Karawang


Kebetulan lokasi yang tidak begitu jauh dari Cikarang, tempat saya berdomisili. Sore itu saya arahkan Bishop menuju Candi Jiwa, di kota Karawang. Candi agama Budha yang konon lebih tua dari candi Borobudur ini hanya berjarak sekitar 50 kilometer dari tempat tinggal saya yang di Cikarang. Jika dari jalan Cikarang - Karawang, sebelum kota Karawang bisa ambil arah kesana dari pertigaan menuju Rengasdengklok, dari sini ada beberapa petunjuk menuju lokasi, dengan teknologi google map pun akan lebih mudah mengarah kesana.

Tujuan kesini salah satunya adalah untuk mengambil video aerial, kebetulan saya lagi gandrung dengan kegiatan ini dengan pesawat tanpa awak atau biasa disebut drone berkamera ini. Candi Jiwa ini akan menjadi objek untuk melatih jari saya menggerakan tuas remote drone, dengan mengambil berbagai sudut pengambilan gambar. 

Tiba di lokasi setelah membayar retribusi sebesar lima ribu rupiah, Bishop saya parkir untuk selanjutnya saya berjalan kaki ke lokasi candi yang hanya berjarak seratus meter dari parkiran. Candi terletak ditengah hamparan luas persawahan padi yang sedang menghijau, seakan mempertegas jika Karawang masiih menjadi lumbung padi. Angin sepoi-sepoi berhembus seakan menyambut ramah kedatangan saya. Tidak banyak pengunjung saat itu, hanya terlihat sekumpulan pemuda yang jumlahnya tidak lebih dari tujuh orang.

Saya pun langsung menuju bawah pohon rindang di sudut dari lokasi Candi Jiwa ini. Sambil bersentai dengan menengguk air mineral, bertegur sapa dengan pengunjung lain yang kebetulan tidak jauh dari saya duduk. Sekitar setengah jam saya bersantai dibawah pohon sebelum mengeluarkan alat dokumentasi berupa drone.

Ketika mengeluarkan beberapa bagian dari drone, datanglah 3 orang yang sebelumnya sudah terlihat sejak saya tiba dilokasi. Terjadilah percakapan setelahnya : 

Mereka 1 : dari mana , mas?
Saya         : dari Cikarang, pak. 
Mereka 1: mau ngambil video/gambar ya? ntar bicara dengan bapak ini, dia petugas/penjaga lokasi ini (sambil menunjuk orang disampingnya)

*saya berkata dalam hati jika gelagatnya mereka akan melakukan pungutan liar karena saya akan mendokumntasikan lokasi ini.

Mereka 2 : ini pribadi atau dari instasi, mas?

*karena sudah terlihat gelagatnya saya menyiapkan satu jurus untuk menjawabnya.

Saya : pribadi, pak..oya saya punya web/blog pribadi yang pengunjung nya ribuan perhari (kalo ini bohong, padahal cuma bisa dihitung dengan jari pengunjung blog saya) , jadi dengan mendokumentasikan lokasi ini lalu menayangkannya di blog, tempat ini akan semakin dikenal dan akan semakin banyak pengunjungnya , dengan begitu akan menjadi tambahan pemasukan dana juga untuk pengurus/warga sekitar. Tapi tolong awasin pengunjung untuk menjaga tempat ini ya, pak?
Jadi saya boleh menerbangkan drone disini, pak?

Mereka 2 : Ooh..silahkan , boleh kok..

Saya  : terimakasih, pak

Dan saya pun menerbangkan drone dengan bahagia disaksikan ketiga bapak - bapak tadi. 




Minggu, 02 Oktober 2016

Kembali ke Cisoka

Jika pulang kampung ke Jogja tidak memungkinkan dengan waktu tempuh jika hanya memanfaatkan hari libur sabtu-minggu, saya punya beberapa pilihan lokasi untuk menggantikannya. Paling tidak akhir pekan saya dilewati oleh suasana sejuk serta dinginnya pegunungan, sepi dari berisiknya kota industri, keramahan warganya, serta dengan segala keserdehanaanya, bagi saya itu bisa sebagai ajang mensyukuri segala nikmat yang diberikan Nya.

Adalah kampung Cisoka, yang berjarak hanya sekitar 11 kilometer dari pusat kota Sumedang. Tapi jangan harap bisa menikmati jalan mulus menuju kampung ini, aspal terkelupas, bebatuan lepas akan disuguhkan ketika menuju kampung yang berada ditengah hamparan kebun teh. Untuk pengendara motor seperti saya jalan seperti ini cukup menyenangkan, paling tidak untuk mengusir rasa mengantuk setelah terbuai dengan halusnya aspal perkotaan, berganti dengan adrenalin yang terpacu.

Berkunjung ke kampung ini pertama kali saat bersama teman-teman dari Kartala dengan Perjalanan Cahaya-nya, dengan misinya membantu memberikan penerangan lampu dengan sumber energi dari panel surya. Dan jika kami rindu akan suasana Cisoka bisa berkunjung kapan saja, seperti apa yang terjadi akhir pekan kemarin (2/10/2016). Saya , Dadang dan Asep mengunjungi Cisoka kembali.

Foto-foto dibawah ini yang diambil dari atas dengan pesawat tanpa awak, semoga bisa mendeskripsikan suasana kampung Cisoka.


















---**--

Senin, 19 September 2016

Terbang dan berkendara di Purwakarta

Selain  'Alhamdulillah' ada kata pengganti untuk ber ucap rasa syukur atas segala yang diberikan Nya, yaitu 'untung', ya saya merasa beruntung domisili tidak jauh dari kota bernama Purwakarta. Melepas hiruk pikuk dari kota industri Cikarang, kota tetangga Purwakarta menjadi pilihan karena jarak yang hanya sekitar 70 km dan tawaran keindahan alamnya, sejuknya bebas dari polusi. 

Bebekal sepeda motor dan peta online cukup untuk menjelejahinya tidak perlu takut kesasar walau bepergian sendiri, hal atau tempat baru seakan menjadi rasa kecanduan untuk melakukan lagi dan lagi. Oya..saya kali ini juga di bekali wahana untuk mengambil foto dari ketinggian, yaitu sebuah pesawat tanpa awak atau lebih lazim disebut drone, saya merakitnya dengan metode DIY (do it yourself) beberapa waktu yang lalu. Sekitar waduk Jatiluhur, gunung Parang, gunung Bongkok menjadi jalur perjalanan kali ini, 

Ada kesan berbeda ketika mengabadikan foto lewat udara, kebesaran sang pencipta atas karya Nya, semakin bisa dirasakan. makluknya dengan segala kebesaran egonya pun tidak terlihat setitik pun, dan tentunya tidak artinya sama sekali.

Ya..perjalanan selalu memberikan pemahaman baru.