Our Riding Ware

Senin, 29 Juni 2015

[sambungan#3] Bermain di Bawah Bromo, Terseok-seok Menuju Puncak B29 [Selesai]

Cerita sebelumnya klik disini

Awalnya tidak curiga apa yang terjadi dengan Bishop, tapi setelah diperhatikan dengan seksama ada hal janggal. Handle koplingnya lepas dari lubang pengaitnya, dan ujungnya patah. Sama sekali tidak bisa digunakan sesuai fungsinya. Sempat terjadi panik sebentar, sempat terpikir gimana melakukan perjalanan pulang jika untuk menjalankan Bishop saja tidak bisa, terlebih medan jalannya ang tidak biasa pada umumnya.

Mencoba tenang sambil membuka tempat peralatan, kunci pas serta yang lain. Selalu saya bawa, untuk mengantisipasi kondisi seperti ini. Sepertinya percuma untuk menyiarkan keadaan ini lewat media sosial dengan pesan "mayday..mayday..". Tukang ojek yang bisa lewat jalan menuju kesini pun enggan, apalagi orang lain akan sengaja membawa untuk sebuah apa yang dibutuhan Bishop saat itu. Terlihat bungkusan kabel tie atau pengikat kabel. Di coba melakukan beberapa ikatan pada handle kopling.

Berasa seperti tokoh film  MacGyver, kali ini saya berhasil memfungsikan tuas kopling ini kembali, paling tidak untuk sementara dan bisa sampai kota Malang, untuk membeli tuas yang baru nantinya. Arrgh..leganya.

patah
Sambil menikmati pemandangan dari ketinggian +/- 2900 mdpl ini saya mencari infromasi tentang jalur kepulangan, yaitu jalur menuju Ranu Pani lalu arah Malang. Kalau jalur ke Malang sama dengann jalur saat berangkat. Tapi, jalur ke arah Ranu Pani ini masih perlu banyak informasi, karena tidak ada petunjuk jalan yang jelas mengarah kesana, serta konon medan jalan yang terbilang lumayan ekstrim.

Tadinya ada seorang warga setempat yang berkenan mengantar sampai Ranu Pani, tetapi warga tersebut akan turun dulu untuk mengantar wisatawan. Setelah ditunggu cukup lama, pe-ngojek tersebut tidak muncul juga. Baiklah, saya akan mencari penggantinya dengan beberapa tukang ojek yang masih beberapa terlihat disini.

Bertanya dengan seorang pengojek yang sedang menunggu wisatawan untuk memakai jasanya. Setelah sedikit berbasa basi, saya menuju pada pertanyaan, "berapa tarif jika akan memakai jasanya untuk mengantar sampai Ranu Pani" dijawabnya dengan menyebut nilai rupiah enam puluh ribu. Sedikit tersentak dengan jawabannya. Mencoba menawarnya dengan maksud tarif bisa turun, tetapi usaha saya tidak berhasil. Dia tetap kuat pendiriannya dengan harganya.

Malah ditambah dengan perkataan menakut -takuti, katanya "jalurnya sangat sulit, ada beberapa ruas jalan hanya setapak yang pinggirnya adalah jurang dalam, serta ada beberapa persimpangan akan sangat membingungkan".

Apa yang disebutkan tukang ojek itu tidak lantas membuat saya berniat memakai jasanya, tapi justru sebaliknya saya segera meninggalkan dia menuju ke tempat Bishop dan segera berkemas. Bukan alasan karena didompet hanya tersisa tiga puluh rupiah, walau ada mesin ATM disini tetap tidak akan keluarkan untuk membayarnya. Tapi, lebih untuk tidak membiasakan warga setempat untuk "memalak" para pelancong dari luar daerah untuk menikmati objek B29 ini.

Dengan modal hanya mengetahui jalan masuk ke rute ini dengan tidak adanya informasi lengkap, Bishop segera dipacu. Melewati jalan perkebunan dengan lebar satu meteran, yang biasa digunakan warga menuju ladang sayur mayur mereka.

Jalan semakin menyempit bisa dikatakan berubah menjadi jalan setapak atau seroda. Terdapat persimpangan berbentuk huruf "Y" , sempat berhenti disini untuk menentukan akan mengambil jalan yang mana. Ditengah kebingungan, seperti mendapat pertolongan dari langit, tidak jauh dari Bishop berhenti, terlihat kerumunan remaja sedang berkumpul dengan masih duduk di sepeda motornya. Saya tanyakan tentang arah tujuan saya. Mereka menunjukan arahnya. Salah satu dari mereka menawarkan untuk berkendara bareng hingga Ranu Pani, karena kebetulan remaja ini akan pulang menuju Ranu Pani juga. Alhamdulillah.

Remaja ini mengenalkan dirinya dengan nama Endi. Saya disuruh melaju lebih dulu, sementara endi membututi dari belakang, "ntar kalo ada persimpangan, saya bilangin arahnya, mas" celetuk dia dari belakang. Dan tantangan dimulai, melewati jalan sempit dengan beragam kondisi merupakan keseruan yang mendebarkan.

Mengatur kecepatan Bishop untuk pelan dan menjaga kesimbangan ketika disebelah kanan adalah jurang dalam, terlihat padang pasir Bromo dibawah dari saya berkendara. Atau memutar handle gas Bishop lebih dalam ketika   menemui kubangan air menggenang sehabis hujan, serta menenggelamkan setengah dari roda, menambah kecepatan pada situasi seperti ini diperlukan untuk menambah torsi sehingga bisa terbebas dari lumpur yang seakan tidak mau melepaskan roda untuk melaju.

jalan seroda
kubangan
jurang
Ditengah perjalanan saya mempersilahkan Endi melaju lebih dulu, salah satu alasannya saya akan lebih leluasa mengambil foto dengan ponsel berpiksel rendah ini, setelah kamera poket lowbat sejak di B29. Jalan bertambah variasi, kini tanjakan sempit denga licin sehabis hujan sempat membuat saya dan Bishop ambruk. Endi menghampiri dan membantu mengangkat Bishop setelah mendengar jatuhnya Bishop. Juga melewati pepohonan ilalang dari sisi kanan-kiri yang dahannya membentuk terowongan, membuat saya berkendara sambil menundukan badan serta menutup kaca helm demi keamanan, terutama mata yang tidak mau tersambar ranting.

jalan licin
terowongan
Kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika melewati jalan selebar 1 meteran dengan kanan kiri tebing, mirip trek mainan Tamiya atau Hotwheels, kesimbangan mengendalikan Bishop mutlak diperlukan disini, tapi entah karena sudah sedikit lelah atau hilang kosentrasi, roda Bishop tergelincir ketika melewati permukaaan jalan yang tidak rata.

Braaak!!  Bersama saya, Bishop ambruk kekiri. Tebing menahannya, tapi ada hal tidak diduga. Footstep atau pijakan kaki bagian depan, menjepit bagian kaki saya, tepatnya di sebelah bawah dengkul. Kaki saya seperti di paku dengan tebing dengan tekanan seberat Bishop. Tidak bisa bergerak sama sekali, mencoba berontak tidak mengubah keadaan, saya cuma bisa berteriak sekencang-kencangnya, dengan suara kencan kesakitan dan terselip kata 'tolong-tolong'. Dengan maksud Endi yang sudah melaju duluan mendengar, dan kembali mundur. Sekitar 3 menit, Endi tampak dan segera membagunkan Bishop. 

Bekas tusukan  footstep sampai sekarang saat menulis cerita perjalanan ini masih membekas hitam. Setelah meneguk air mineral, dan menangkan diri kami melanjutkan perjalanan. Entah apa yang terjadi jika tidak ada Endi, remaja ini seperti dikirim dari lagit oleh Tuhan untuk menyelematkan saya, agar bisa melanjutkan perjalanan dan hidup ini. 

keluar dari jalan maut
Endi, hero of the day..!
view sebelum keluar dari jalur B29 - Ranu Pani
Endi berkata,  "sebentar lagi udah sampai jalan yang ke Ranu Pani kok, mas". Benar saja, tidak lama kemudian tibalah di jalan akses antara Jemplang dan Ranu Pani. Kami muncul di pertigaan yang terdapat Pura kecil, pertigaan ini sudah saya akan masuki sehari sebelumnya, dan ragu-ragu untuk melewatinya karena melihat tanjakan dan lebar jalan yang tidak memungkinkan rasanya jika melaluinya bersama Bishop.

Setelah mengucapkan banyak terimakasih kepada Endi serta memberikan sekedar uang saku kepadanya, saya pamit menuju pulang, kali ini mengarah ke Jogja dan melewati Malang kembali. Suatu saat jika kembali ke kawasan Tengger-Bromo-Semeru ini, semoga saya bisa menemui Endi kembali. Semoga dia masih ingat dengan saya. 


Penutup

Beberapa pejalan, pelancong atau apalah isitilahnya melakukan perjalanan seorang diri dipercaya sebagai ajang meditasi, banyak renungan-renungan terjadi didalamnya, terkait kejadian didalam perjalanan. Banyak melakukan monolog atau bicara sendiri kepada dalam diri untuk suatu keputusan, dengan begitu kita akan lebih mengenal diri sendiri dan menjadi diri sendiri juga tentunya. Sifat mandiri mutlak diperlukan disini. Tetapi percaya jika Tuhan tidak tidur, Dia banyak mengirimkan bala bantuan ketika hambanya merasa memerlukan. Dipertemukan dengan orang-orang baik yang baru ditemui menjadikan kesan tersendiri. Walau harus tetap waspada terhadap marabahaya yang akan terjadi, dan semua ada resiko yang selalu siap dihadapi. Alhamdulillah selalu dalam lindungan Nya.


-SELESAI-

Senin, 08 Juni 2015

[gallery] Bermain di Bawah Bromo, Terseok-seok Menuju Puncak B29

Cerita sebelumnya dapat di klik disini

Setelah cukup mengeringkan keringat sehabis 2 kilometer yang melelahkan, layaknya pelancong yang lain, saya mengambil beberapa foto disini, sedikit sial karena kamera poket habis energi baterainya alias lowbat ketika baru mengambil beberapa gambar dilokasi ini, hanya menggunakan kamera dari handphone dengan resolusi gambar tidak seberapa sebagai perekam dokumentasi, paling tidak gambar-gambar ini memang tidak layak di ikutkan kontes photography.

yuhuu..negeri diatas awan eh kabut!
sisi sebelah timur, puncak Argapura terlihat. Arrrgh..syahduu!
saya gak tau, apakah foto siluet termasuk kategori selfie?tapi yang sedang berdiri itu saya, haha (foto by timer)
sisa tanah masih menempel
entah kabut atau awan
sudah mulai menyingkir, dan tampak segara wedi
sehari sebelumnya, saya melewati apa yang terlihat dibawah. Dan perjalanan adalah sebuah proses
tidak banyak yang dilakukan disini, tidak berpindah-pindah mencari view berfoto, karena masih butuh untuk menyisakan energi untuk pulang
Cerita selanjutnya, selain mendokumentasikan apa yang terlihat disini, juga ada hal penting yang harus dikerjakan disini, dan tentu cerita perjalanan turun dari sini.


Bersambung............