Jumat, 29 Mei 2015

[sambungan#2] Bermain di Bawah Bromo, Terseok-seok Menuju Puncak B29

Cerita  sebelumnya bisa klik disini

Terbangun pukul 3.15 pagi, kali ini alarm ponsel terlambat karena saya mengaturnya pukul 4.00. Keluarga pak Taufik pun belum terbangun. Sementarta saya sudah bersiap kembali dengan mengemasi semua barang bawaan, menata kembali supaya lebih ringkas. 

Setengah jam kemudian saya keluar dan  menyiapkan Bishop untuk menanjak ke puncak. Pak Taufik sudah terbangun, karena beberapa wisatawan sudah lewat depan rumahnya, mereka berjalan kaki dari bawah setelah menginap di rumah-rumah penduduk. Pak Taufik melaksanakan tugasnya sebagai penerima retribusi, dengan karcis seharga lima ribu rupiah. 

Selesai semua persiapan selesai saya ijin pamit ke Pak Taufik, ketika ditanya berapa tarif menginap semalam, beliau menolak untuk diberi beberapa lembar uang. Arrrgh...sesuatu yang membuat heran, kenapa orang pelosok tidak terlalu doyan duit? Berpesan hati-hati ketika nanjak karena masih licin sehabis hujan, pak Taufik melepas saya dari kediamannya.

Penerangan jalan hanya mengandalkan lampu depan dan LED tambahan dari Bishop, kabut masih menyelimuti kawasan ini membuat jalan yang dilalui menjadi remang-remang ditengah gelapnya subuh, jarak pandang hanya seperkian meter. Ini adalah tantangan awal sebagai pengguna kacamata minus. 

Benar saja, baru sekitar dua puluh meter keluar dari rumah pak Taufik, Bishop salah mengambil jalur ke jalan yang lebih rendah, mirip kubangan. Karena sedikit kaget karena kubangan itu tidak terlihat sebel;umnya, Bishop jatuh untuk pertama kali hari itu, seakan mengawali perjalanan ini dengan buruk. Entah kenapa Bishop semakin terasa berat, perlu tenaga ekstra untuk mengangkatnya tidak seperti biasanya. Pijakan kaki saya juga terlalu licin untuk menjadi tumpuan ketika akan mengangkatnya, beberapa kali kepleset.

Dari arah rumah pak Taufik berlari tergopoh-gopoh dengan terlihat sinar senternya, menghampiri kami. Tidak pakai basa-basi segera membantu mendirikan Bishop. Setelah sempat berkenalan sebelumnya, beliau bernama pak Sampurna, salah satu warga sini yang merupakan tetangga pak Taufik. Sambih ngos-ngosan untuk mengatur nafasnya, pak Sampurna menyarankan saya untuk menitipkan Bishop dirumahnya, dan jalan kaki menuju puncak. 

bangun setelah jatuh pertama
Lagi-lagi saya bersikeras untuk mengajak Bishop naik keatas, dengan alasan ingin pulang lewat jalan berbeda, yaitu jalur yang bisa tembus ke Ranu Pani. Saya juga minta tolong ke pak Sampurna untuk bisa menemani perjalanan saya ke puncak, untuk menunjukan jalan yang layak dilewati. Karena jalurnya sudah bisa terbaca ketika Bishop jatuh diawal pagi ini, maka saya akan habis energi jika harus melewati jalan ini sendiri dengan berat Bishop seperti itu.

Pak Sampurna menyanggupi untuk mengantar saya. Bishop tancap gas kembali, pak Sampurna berjalan didepan, sambil membawa senter. "ambil kiri, mas!" sambil menunjukan dengan sinar senter beliau mengarahkan jalurnya yang paling layak dilewati. Begitu seterusnya beliau memberi aba-aba, tergantung arah yang menurutnya pantas dilalui Bishop.

"lewat sini, mas!" ujarnya
Tapi karena memang jalurnya super licin, lagi-lagi Bishop terpeleset. Pak Sampurna kembali mundur untuk bersama mengangkat Bishop. Beberapa ruas jalan sengaja disiapkan oleh warga setempat karung-karung berisi pasir, fungsinya adalah ketika licin seperti ini, pasir ditaburkan kejalan untuk meminimalisir slip roda. Pak Sampurna beberapa kali juga melakukan tabur pasir ketika Bishop akan lewat.

 tabur pasir
Pasir yang disebar terutama pada bagian jalan sangat licin membantu traksi roda untuk bisa maju walau harus tetap dibantu dorongan. Memang cukup membuat ngos-ngosan kegiatan dorong mendorong ini, apalagi lokasi ini berada di ketinggian sekitar dua ribu meter dari permukaan laut, itu berarti kadar oksigen tidak sebanyak didataran yang lebih rendah.

Setiap beberapa dorongan saya duduk untuk isitirahat dipinggir jalan sambil meneguk air mineral,500 ml air harus berbagi dengan pak Sampurna, saya sedikit menyesal tidak membeli botol mineral lebih banyak sebelumnya. Ketika sedang melepas lelah, pak Sampurna segera mengingatkan saya untuk segera melanjutkan penanjakan. Alasannya, karena jika terlalu lama akan semakin banyak pengunjung lain yang menggunakan jalan ini, itu berarti akan menyusahkan karena jalan ini tidak terlalu lebar. Apalagi sebelah kanan jurang menjulang, siap menampung jika terjadi kecerobohan atau hal naas.

Memang benar, di bawah sudah terlihat beberapa sinar penerangan senter dari pengunjung yang berjalan kaki. Menurut pak Sampurna, biasanya malah banyak tukang ojek yang sudah naik dengan membocengkan para wisatawan, tapi karena medan jalan basah sehabis hujan maka pengojek memilih tidak beroperasi.

Entah Bishop ambruk berapa kali,  sudah tidak sempat menghitung. Engine guard yang berada di samping kiri-kanan terbuat dari pipa besi sudah bengkok tidak beraturan karena menopang motor  buatan India ini. Beberapa ratus meter terakhir, semburat sinar mentari mulai menampakan warna merahnya. Sementara tenaga sudah semakin kepayahan.

Pak Sampurna menyarankan untuk meninggalkan barang bawaan Bishop berupa dry bag 60 liter, dan tank bag. Tentunya dengan maksud meringankan beban, dan bisa naik dengan lebih leluasa. Pak Sampurna berjanji akan menyusul dengan membawa bawaan tadi, sementara saya disuruh melaju duluan.Kali ini saya melaju tanpa pak Sampurna, memang Bishop lebih mudah menanjak dari sebelumnya, tapi ketika salah milih jalur berlubang, saya harus dorong-mendorong sendirian.

Tibalah di percabangan jalan, arah kiri adalah jalan lebih sempit tapi bisa untuk motor serta jaraknya lebih pendek, sedangkan sebelah kanan sebaliknya, lebih lebar dan jaraknya lebih panjang. Saya ambil sebelah kiri, tapi setelah beberapa meter, pengunjung yang kebetulan melihat saya, menyarankan untuk ambil sebelah kanan saja, karena lebih landai, sedangkan sebelah kiri terdapat tanjakan dengan kemiringan curam. Saya ikuti saran pengunjung tersebut, sempat ambruk kembali ditikungan tanjakan ini.

"oh...sh*t..!"  berkarta dalam hati ketika menarik handle gas terakhir ditanjakan pamungkas, sebagai tanda bebas dari tantangan menanjak sepanjang 2 kilometer dengan terseok-seok. Bishop langsung saya parkir. Terdapat tulisan Puncak B29, menandakan saya sudah sampai. Tidak banyak yang dilakukan untuk beberapa menit kemudian, saya lebih banyak berdiam sambil melepas lelah, memerhatikan sekitar yang tampak samar-samar karena masih belum terang hari.


Berada disini ibarat dongeng Jack dan bijij kacang, menaiki pohon kacang setelah ditanam dan berada diatas awan setelah sampai diujung pohon. Lokasi B29 merupakan semacam bukit, dari sini saya dapak melihat gunung Bromo di sebelah barat, lautan pasir atau segara wedinya belum terlihat karena ditutup awan tebal nan putih,  sedangkan sebelah timur adalah bukit-bukit hijau perkebunan, serta pucuk gunung Argapura terlihat, bagian bawahnya tertutup awan pekat. Membuat merinding!

Lima belas menit kemudian pak Sampurna tiba, dengan barang bawaan serta helm saya. Rasanya ucapan terimakasih tidak cukup untuk mengapreasi kebaikan beliau. Walau kami baru kenal beberapa jam, tapi seakan sudah menjadi sebuah tim solid, yang bahu-mebahu untuk meyelesaikan tantangan ini. 

Jujur saja, saya terharu setelah sampai atas dan melihat jalan yang barusan dilewati.
Pak Sampurna tiba
Emosi kami tidak terbendung, rasa senang, puas, terharu bercampur aduk menjadi satu

Bersambung..............

Tidak ada komentar:

Posting Komentar