Our Riding Ware

Kamis, 21 Mei 2015

[sambungan] Bermain di Bawah Bromo, Terseok-seok Menuju Puncak B29

Cerita sebelumnya dapat  klik disini

Braaak!!
Braaak!!! baru saja beranjak dari parkir berberapa puluh meter dari ladangnya mas Eko, Bishop hilang keseimbangan ketika melewati jalan tanah coklat yang licinnya minta ampun karena basah sehabis hujan, berikut kubangan-kubangan cukup dalam tingginya hampir se-roda, seakan tidak ada pilihan jalan untuk Bishop.  

Suara ambruknya Bishop terdengar oleh mas Eko, sontak saja dia menghampiri sambil berlari. Mendirikan motor ini berdua cukup buat ngos-ngosan, menarik mundur kembali Bishop dari kubangan, membuat saya meneguk air mineral setelahnya. 

Entah langit sedang menertawakan atau menangisi kejadian ini, tapi beberapa menit setelah mendirikan Bishop, tiba-tiba hujan deras mengguyur. Dengan bicara cepat, mas Eko berkata, "ayoo..kerumah saya dulu!untuk berteduh" Tawarannya saya terima kembali. Setelah membalik arah Bishop, putaran gas pun ditancap kembali, hanya sempat memakai celana anti air, sedangkan jas hujan sudah tidak sempat terpakai. 

Rumah mas Eko tidak jauh dari warung tempat kami bertemu sebelumnya. Setelah mempersilakan masuk, saya langsung ijin ke kamar mandi untuk ganti pakaian yang sudah basah kuyup. Setelahnya mas Eko, sudah menunggu di depan perapian yang letaknya menyatu dengan ruangan depan rumah ini. Susu panas sudah ada dihadapan, sesosok wanita keluar dari dapur, tidak lain aedalah ibu dari mas Eko, dan mempersilakan meminum hidangan yang telah dibuatnya, supaya hangat badannya kata beliau.

Nilai keramahan yang sudah jarang ditemui di perkotaan, walau kami belum kenal sebelumnya tapi keluarga mas Eko sudah menerima saya layaknya saudara jauh yang baru datang. Terharu. 

Didepan perapian, kami ngobrol ngalor-ngidul ditemani Combat, yaitu nama anjing milik mas Eko, tidak lama kemudian ayah mas Eko juga ikut nimbrung mengobrol dengan kami. Begitu hangat. Mulai cerita dari, drop outnya dari falkutas pertanian salah universitas di Malang karena lingkungan keluarga memintanya untuk segera menikah. Tapi istrinya mas Eko tidak tinggal disini, melainkan di Malang, karena kebutuhan studi anaknya. Mas Eko termasuk murid berprestasi sedari SLTP, sampai ada guru yang berbaik hati untuk mendanai sekolahnya, termasuk ketika masuk universitas. 

Walaupun sudah tidak berada di lingkungan kampus, tapi mas Eko masih berhubungan baik dengan sarjana pertanian disana. Untuk bertukan pikiran masalah pertanian tentunya, yang sekarang menjadi mata pencarian utama keluarga ini. Penelitian untuk mendapat hasil pertanian terbaik juga dilakukan, biasanya teman sarjananya mengirim formula obat/pupuk, sementara mas Eko yang meraciknya dan langsung dicoba diladangnya. Hasil formulanya dilaporkan kembali ke temannya, begitu seterusnya sampai mendapatkan hasil terbaik.

Hampir dua jam saya asyik mengobrol di rumah ini, sementara waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Melihat diluar hujan sudah agak reda walau masih rintik gerimis, saya mohon pamit dengan keluarga ini. Mas Eko sempat menyarankan untuk naik ojek saja ke B29, nanti bisa dicarikan tetangganya yang biasa mengantar wisatawan kesana. Kali ini saya menolak tawaran mas Eko, dan tetap bersikeras untuk kesana bersama Bishop.

Setelah mengucapkan banyak terimakasih dengan keluarga ini,. Semoga kebaikan dan keberkahan selalu tercurah buat keluarga ini. Saya meninggalkan rumah ini diringi gerimis. 

Combat ikut mengobrol dengan kami
selfie didepan perapian *halah.
senyum ayahnya mas Eko melepas saya sehabis pamitan
Bergerak meninggalkan desa Wonokerso perlahan, melewati pemukiman warga, dengan kondisi gerimis. Jalan bebatuan semakin licin setelah diguyur hujan, beberapa kali roda bishop mengalami hampir kepleset. Menurut info dari mas Eko, ada jalur lagi menuju B29, letaknya kira-kira sebelum keluar desa Wonokerso, nanti ada beberapa petunjuk mengarah kesana.

petunjuk arah yang lucu
Keluar pemukiman warga diakhiri dengan sebuah tanjakan curam menikung. Berkendara didaerah dingin keinginan untuk buang air kecil semakin sering frekuensinya. Bishop diparkir pinggir jalan setelah tikkungan, segera lari ke ladang untuk mendapatkan toilet darurat di semak-semak pinggir ladang.

Keluar dari semak, ternyata ada warga dengan menunggang motor lengkap dengan pakain khas sehari-hari suku Tengger yaitu selalu ada sarung yang menempel di badan, berhenti di samping Bishop. Lagi-lagi keramahan warga setiap melihat pendatang terjadi disini, mungkin karena melihat  plat nomor Bishop dari luar kota, atau juga karena bawaan Bishop yang tidak lazim, atau lagi setelah melihat saya ternyata tidak memakai sarung. 

Pertanyaan standar dilontarkan, dari mana, mau kemana  oleh bapak pengguna motor Honda GL ini. Ketika saya jawab, jika saya dari daerah Bekasi, Cikarang tepatnya, bapak tersebut sempat kebingungan karena tidak tahu daerah tersebut, bukan karena berada di belahan planet lain, tapi setelah dijelaskan bahwa Bekasi tetangga kota dari Jakarta beliau baru mengerti. Saya utarakan juga jika saya hendak menuju ke puncak B29, dengan antusias beliau menunjukan jalurnya, yang ternyata jalur masuknya tidak jauh dari tempat kami mengobrol dan petunjuk jalannya sudah terlihat. 

sehabis pipis
Hari semakin sore saat itu jam tangan menunjukan pukul 5.20, saya segera pamit dengan bapak tadi. Menyusuri jalur yang ditunjukannya, Bishop kali ini sengaja dipercepat puataran rodanya, mengingat waktu sudah menjelang gelap, melewati jalan aspal berlubang dan kemudian berganti jalan cor mulus membentuk dua jalur, tiap jalur selebar setang Bishop. Sepertinya jalan ini memang di persiapakan untuk jalur wisata ke B29. Pemandangan disini pun menggoda untuk berhenti dan mengambil foto. Arrgh..andai saja tidak sedang mendung. Hamparan bukit hijau bercampur warna coklat tanah yang belum ditanamin, terlihat petakan-petakan ladang sayur mayur terlihat rapi dan serasi. 

jalan masuk
jalan cor

rapi dan serasi
Jalan kini berganti dengan tanah, dengan lebar semakin menyempit, akhirnya bergati jalan setapak atau seroda. Dahi saya pun mengkerut, dan bertanya dalam hati, "serius nih jalannya?". Tidak ada orang lain yang bisa di mintai keterangan. Tengak-tengok pun tidak terlihat ada jalan lain selain yang didepan mata. Tetap saja ada rasa penasaran, Bishop saya tinggalkan begitu saja, selanjutnya berjalan menyusuri jalan setapak ini, kira-kira sejauh 200 meter,  maksud hati untuk memastikan, apakah jalan ini layak untuk dilewati bersama Bishop. Tentu saja faktor keselamatan adalah hal yang terpenting untuk menjadi pertimbangan. 

Bukan menyerah, tapi bisa mati konyol jika lewat sini dengan kondIsi seperti ini. Jalan selebar setang motor, permukaan pun tidak rata,  dengan jurang sebelah kiri sedangkan sebelaH kanan adalah tebing. Mungkin jika tidak licin sehabis hujan masih bisa dilewati, tapi kali ini saya berpikir masih banyak yang bisa saya lakukan dikehidupan selanjutnya. Akhirnya kembali ketempat Bishop dan memutar setangnya balik arah.

jalan kaki dari sini
semakin jauh jalan kaki, jalannya seperti ini, dan balik arah

Mengingat hari semakin gelap, waktu magrib hampirpun tiba. Terpikir untuk menunda ke B29, mungkin lain kesempatan saya akan kembali. Energi yang lumayan terkuras, belum terbayang jalur buat mencapai kesana menjadi pertimbangan saat itu.

Masih menyusuri jalan gravel, bebatuan, Bishop diarahlan kota Lumajang, yang konon bisa tembus Malang lagi. Sampai akhirnya bertemu dengan beberapa pemuda dipinggir jalan, untuk menanyakan jalan keluar dari sini menuju kota. Selain info jalan ke kota didapat, ternyata ada berita baik, yaitu ada jalan menuju B29 dari Argosari. Pikiran seketika berubah. Apalagi para pemuda tersebut akan menempuh jalan yang sama, sampai jalan masuk ke jalur B29 via Argosari.

Untuk menyingkat waktu, saya pun segera mengikutinya sampe pertigaan jalur masuk. Sedikit kacau karena gelap sudah datang, kabut tebalpun turun, jarak pandang terbatas tidak lebih dari 10 meter juga menghantui. Sebagai pengguna kacamata minus, ini lumayan menjadi tantangan tersendiri. 

Lampu tambahan dinyalakan, terlihat samar-samar, ternyata kanan kiri adalah jurang. Walau jalan sedikit lebar, sekitar dua samapai tiga meter, tapi tetap saja kewaspadaan harus tetap terjaga. Semakin menanjak dan tidak menentu kerataan jalannya. Jalur-jalur mirip selokan juga ditemui. Merasa serba salah melewatinya, ketika menanjak Bishop akan saya pacu tenaganya, tetapi jarak pandang terbatas akan membahayakan karena tidak tahu apa yang dihadapan. Bisa-bisa kebablasan sampai jurang. Amit-amit.

jalur masuk
Benar saja, ketika melewati tanjakan, Bishop tidak terlalu dimaksimalkan tenaganya, hanya beberapa putaran gas saja. Ternyata tidak disangka terdapat lubang mirip galian kuburan kabel telekomunikasi, menahan laju roda, Bishop pun tidak bisa ditahan ketika sudah miring, lebih baik dilepas atau dijatuhkan saja. Karena beban beratnya akan berlipat-lipat ketika sudah posisi miring. 

Langsung berusaha untuk mengangkatnya, ternyata Bishop tidak bergerak sedikitpun. Mungkin faktor kelelahan dari saya, cukup wajar ini hari ke 3 setelah menempuh perjalanan dari Cikarang, ditambah hari ini melewati jalan semi offroad. Saya ulangi sampai dua kali untuk mengangkatnya, ternyata tetap tidak kuat.

Sedikit pasrah sambil menunggu tenaga pulih kembali. Seolah Tuhan mengirim bala bantuan tanpa diminta, terlihat pancaran lampu kendaraan dari arah depan. Seketika lampu depan dan sein Bishop saya nyalakan, dengan maksud memberi tanda keberadaan Bishop, karena jika tidak bisa saja mereka menabrak kami karena keterbatasan jarak pandang.

kualitas foto dan jalan yang sama buruk. Foto aslinya gelap tapi coba diedit dengan menerangkan, hasilnya tentu saja  banyak noise, paling gak bisa menggambarkan jalan buruk dan kondisi jatuh Bishop. Biar gak dibilang hoax, haha
Mereka ada sekitar 4 motor, segera membatu mengangkat Bishop. Alhamdulillah...dan terimakasih terucap  ke para pengendara yang akan sedianya akan kembali ke Surabaya setelah menikmati B29. Ternyata ada salah satu dari rombongan pengendara tersebut adalah warga setempat, dan menyarankan untuk menitipkan Bishop di bawah, lalu saya mengunakan ojek ke B29, mengingat medan yang sulit ditempuh setelah hujan. Tapi tawarannya saya tolak. Kali ini saya membtuhkan warga tersebut untuk menunjukan jalan ke B29, termasuk memberi tanda jika ada lubang atau jalan tidak layak dilewati. 

Warga tersebut akhirnya menyanggupi, selanjutnya saya hanya mengikuti jalur yang dilewati warga itu ketika berkendara di depan. Sekitar sartu sampai dua kilometer saya tiba didepan rumah warga yang berada tepat dipinggir jalan, disitu Bishop berhenti dan memarkir dihalaman rumah. Karena rumah ini juga merupakan tempat penarikan retribusi jika akan berwisata ke B29. Saya memberi uang ke warga yang mengantar saya sampai sini, walau warga tersebut tidak mau menarif harga. Setelahnya saya berbincang dengan pemilik rumah sekaligus petugas penarik karcis B29.

Ternyata menurut keterangan Pak Taufik (pemilik rumah ini) untuk mencapai lokasi masih dibutuhkan jarak sekitar dua kilometer dengan medan lebih tidak layak bagi kendaraan sejenis Bishop, yaitu jalan tanah licin sehabis hujan, dengan tanjakan curam berikut dengan berbelok-belok. Akan mustahil jika melanjutkan perjalanan malam ini juga dengan kondisi kepayahan seperti ini. Sayapun meminta ijin untuk bisa menginap dirumah pak Taufik, untuk besok subuh melanjutkan perjalanan. Beliau pun mempersilahkan. 

Disini saya juga memesan makan malam, menu mie instan dengan nasi pun terasa enak sekali. Sambil makan, pak Taufik bertutur jika sekitar seminggu yang lalu ada pengendara 'turing' lengkap dengan pannier alumunium naik ke B29, tapi pengendara itu naik ojek sementara motornya di kendarai 'joki' warga setempat. Dengan alasan medan yang sulit. Pak Taufik juga menjelaskan ciri-ciri pengendara tersebut, setelah saya coba menebak dengan menyebutkan sebuah nama, ternyata tebakan saya benar. Jika pengendara tersebut masih teman satu penghobi perjalanan bermotor yang saya kenali. Saya kenal beliau berpengalaman dalam melakoni kegiatan ini. Terbayang sudah, beliau yang sudah malang melintang di kegiatan perjalanan roda dua cukup lama saja merasa kesulitan menempuhnya, apalagi saya yang belum lama melakukan kegiatan ini. "Oke..lihat saja besok, sesuatu jika belum dicoba tentu tidak akan diketahui hasilnya", gumam saya dalam hati.

Saya pun pamit untuk segera tidur, telah disiapkan ruang depan oleh pak Taufik. "seadanya ya mas, tempat tidurnya" ujarnya sambil mengulurkan bantal. Saya tidur beralaskan kasur palembang dengan nyenyak sampai besok subuh.

sampai jumpa besok subuh

bersambung........ klik disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar