Our Riding Ware

Senin, 18 Mei 2015

Bermain di Bawah Bromo, Terseok-seok Menuju Puncak B29

Rangkuman seluruh cerita perjalanan ini ada disini

Selepas dari kediamannya om Riza Aditya, saya bersiap melanjutkan perjalanan ke arah Bromo, tentu tempat ini sudah tidak asing lagi, karena memang sudah menjadi idola para pelancong. Bermalam di rumah om Riza sangat cukup memulihkan energi, setelah menempuh Cikarang - Dieng - Malang, walau malamnya kami begadang sampe jam 12 malam.

Di kota ini saya juga bertemu dengan mas Agni, kami sempat mengobrol pada malamnya tentang persiapan expedisinya yang di beri nama Malang South Coast Expedition, yaitu melakukan perjalanan bermotor untuk menyusuri pantai-pantai selatan Malang, tujuannya adalah mengumpulkan data, serta cerita menyangkut sosial, budaya dan tentu saja keindahan alamnya, untuk kemudian hasilnya bisa dipersentasikan dengan pihak-pihak terkait, dan tentu saja dari ekspedisi ini diharapkan bisa membawa kebaikan bagi sosial masyarakat dan juga ekosistem alamnya. 

Kegiatan yang dilakukan mas Agni bersama timnya bagi saya sendiri memberikan sudut berbeda dari aktifitas melakukan perjalanan bermotor, paling tidak bukan hanya sekedar untuk bernasis ria untuk mengganti profile picture di akun media sosial atau adu gengsi aksesoris motor demi sebuah komentar "kereeen..".

Oya jika ingin mengetahui kegiatan mas Agni dan kawan-kawan di bawah nama RECON (Ride for Environment and Conservational Action) bisa kunjungi fan page nya disini


Bermain di bawah Bromo

Jam tangan menunjukan jam tujuh pagi, Bishop dan saya meluncur dari Malang menuju Bromo via Tumpang, tidak begitu sulit menempuh jalur ini, karena petunjuk jalan di beberapa simpangan cukup jelas, lagi pula ini kedua  kalinya saya melewati jalur yang sama.

Pagi itu sangat cerah, awannya begitu biru, sengaja Bishop tidak saya pacu kencang untuk menikmatinya lengkap dengan udara sejuk khas pegunungan. Bukit-bukit hijau ditanami sayuran juga sedap dipandang. beberapa kali menghentikan Bishop untuk sekedar mengambil foto, atau mengirup udara segar ketika melepas helm. Jalan aspal disini relatif lebih mulus dari pada sebelumnya ketika saya 2 tahun yang lalu melewatinya.

salah satu view jika via Tumpang
sebelum Jemplang
Sampailah dipertigaan Jemplang, jika lurus adalah menuju padang savana atau pasir Bromo, sedangkan kalau belok kanan adalah Ranu Pani, yang juga merupakan pos pendakian gunung Semeru. Awalnya saya hendak menuju puncak B29 terlebih dahulu, yaitu salah satu tempat yang lagi naik daun namanya, konon jika berada disana kita seperti berada diatas awan, diatas sana juga terlihat kepulan asap kawah gunung Bromo. Kenapa di beri nama puncak B29, menurut beberapa informasi karena tempat itu berada di ketinggian 2900 mdpl.

pertigaan Njemplang
Di pertigaan Jemplang ini saya bertanya pada beberapa orang yang ditemui, tentu saja bertanya jalan menuju B29, sebagian mereka kurang tahu jalur yang saya maksud, malah ada yang baru mendengar tentang tempat itu. Karena menurut keterangan dari om Riza, puncak B29 bisa ditempuh dari arah Ranu Pani. Saya ingin memastikan jalan masuk dari arah Ranu Pani dari beberapa orang tadi, karena memang tidak ada petunjuk jalan berupa papan tulisan. Tapi informasi tersebut nihil di Jemplang ini.

Baiklah, Bishop di belokan ke kanan kearah Ranu Pani, disana mungkin info tentang jalan masuk ke arah B29 dapat ditemui. Jalan menuju Ranu Pani saya disuguhi pemandangan hijaunya padang savana dihimpit kaldera Bromo, terlihat dari ketinggian saat saya melintas. Saya ambil dapat mengambil gambar, seolah mengunakan pesawat tanpa awak (drone). Beberapa kali Bishop berhenti untuk memandanginya, sangat menyejukan.

apa terlihat dari jalan menuju Ranu Pani
Saat menemukan seorang warga Tengger, yaitu suku yang mendominasi di kawasan Bromo-Semeru ini, saya bertanya jalan yang dimaksud, lagi-lagi mereka tidak mengetahui tempat yang bernama B29 itu. Saya sampai bertanya kepada tiga orang berbeda, akhirnya salah satu dari mereka menunjukan pertigaan menuju B29, menurut keterangannya, nanti terdapat belokan, tidak jauh dari situ berdiri sebuah bangunan mirip Pura atau candi kecil, sebelah kanannya ada jalan kecil kearah B29.

Berbekal informasi tadi, akhirnya saya menemukan jalan dimaksud. Tapi setelah melihat jalanya saya jadi ragu-ragu untuk melewatinya. Sebuah jalan setapak, terlihat menanjak dengan terlihat basah sehabis hujan, dan akan licin dan merepotkan Bishop jika menempuhnya, tentu saya memperkirakan dengan bobot Bishop yang berat kosongnya saja mencapai 140 kg, apalagi ditambah barang bawaan berpergian selama seminggu, tampaknya akan mustahil melewatinya sendirian.

Setelah melihat peta di ponsel, untuk mencapai B29 ada jalan lain dengan turun terlebih dahulu menuju padang savana dan pasir Bromo, arahnya memutar jika dari lokasi Ranu Pani. Tidak pikir panjang, saya tancap gas Bishop balik arah dan menuju padan savana yang terlihat dari atas tadi.

sampai bawah
Tidak terlalu sulit menuju bawah, hanya sedikit perlu mengantri dengan mobil jip ketika turun dari Jemplang. Selepas turunan Jemplang, akan disuguhi hamparan padang rumput nan hijau tentunya, layaknya sebuah karpet, kawasan ini ditutup warna hijau. Beberapa gundukan menyerupai bukit kecil juga menghiasi, para pelancong menyebutnya bukit Teletabis, karena memang menyerupai rumah tokoh film anak-anak Lala, Dipsi, Tinki Winki, Po ini.

hai..Lala, Dipsi, Tinki Winki, Po, keluar lah

bersantai di tempat ini
Serasa tidak pernah bosan berada ditempat ini, walau ini ketiga kalinya saya disini. Begitu tenang, sejuk, dan indah tentunya. Bonus perjalanan ini begitu saya nikmati dengan berhenti, memarkir Bishop dan bersantai. Sebenarnya betah untuk berlama-lama di sini, tapi mengingat waktu sudah semakin siang, Bishop kembali saya pacu, setelah melewati padang rumput, kali ini pemandangan sedikit berbeda.

mari bermain bersama Bishop
bermain
Hamparan padang pasir kini terlihat, karena pada waktu  masih masuk musim penghujan, maka pasir dsini padat dan tidak sulit dilewati dengan roda dua, berbeda ketika musim kemarau pasirnya sangat lembut dan gembur, ban akan masuk agak dalam, akan menyulitkan ketika melewatinya. Kunjungan kedua beberapa taun lalu, pernah saya alami dengan kondisi pasir seperti itu, dan Bishop jatuh beberapa kali.

wahana bermain yang sudah ditutup??
Layaknya anak kecil sedang di bawa ketaman bermain, saya dan bishop sangat senang berada disini untuk bermain tentunya. Sesekali Bishop saya pacu kencang layaknya pengendara Rally Dakar melewati padang pasirnya, atau juga melewati gundukan-gundukan pasir padat, seakan berlatih kesimbangan berkendara. Menyenangkan sekali!! Terjatuh ketika hilang keseimbangan berada di kemiringan gundukan menjadi hiburan tersendiri, saya pu menertawai diri sendiri dari kejadian ini. Walau setelahnya meringis karena mendirikan Bishop di kemiringan ternyata susah dan berat. Saya harus menyeret motor India ini kepermukaan yang datar dahulu, lalu mendirikannya. Lumayan cukup menarik otot punggung.

cukup menarik otot
dan ternyata harus diseret kebawah dulu
mari bermain kembali
Sesampainya di depan gunung Batok, sedikit lelah terasa, apalagi setelah menyeret-nyeret Bishop. Pepohonan tampak disini, menjadi pilihan menarik untuk mengantungkan badan, rebahan diatas hammock. Dan benar istirahat disini cukup untuk memulihkan energi dan siap melanjutkan perjalanan ke arah puncak B29. saat itu sekitar pukul dua belas, setelah turun dari hammcok saya bersiap kembali.

Eiiits...ternyata masih ingin bermain
cukup untuk memulihkan tenaga
terdengar dari kejauhan, "mas..mau nyewa kuda tidak?"
Berhubung sudah tengah hari, berarti juga saaat makan siang, bergegas dari sini untuk naik ke arah Cemoro Lawang karena setahu saya disana terdapat beberapa warung nasi. Perjalanan ke puncak B29 akan dimulai lagi dari Cemoro Lawang.


Terseok-seok Menuju Puncak B29

rutenya
Jika dilihat dari peta diatas, jalur yang sudah dilalui adalah Jemplang - Cemoro Lawang, tempat saya dan Bishop bermain sebelumnya. Berpatokan dari google map pula jalur akan saya tempuh untuk menuju puncak B29. Terus terang saja, jalur ini tidak saya ketahui sebelumnya, dan baru dicari rutenya ketika di Cemoro Lawang ini,  tapi mengetahui hal-hal yang baru diketahui saat melakukan perjalanan adalah sesuatu yang menarik, berikut dengan kejutan-kejutan didalamnya. Kesasar adalah hal sudah biasa, tujuan bukan hal utama lagi, menikmati proses perjalanan malah menjadi dari tujuan itu sendiri.

Dari Cemoro Lawang jalan masih aspal, cenderung banyak turunan, pemandangan perkebunan masih menghiasi, Bishop saya pacu kecepatan sedang, karena nanti terdapat belokan kekanan setelah ini, lagipula pemandangan ini sayang dilewatkan jika memacu kecepatan Bishop diputaran tinggi.

Arah Sukapura adalah target titik poin berikutnya jika melihat di peta, sempat bertanya pada warga dipinggir jalan, dan ditunjuka pertigaan yang mengarah kesana. Masuk pertigaan, jalan berubah menjadi aspal lubang-lubang.

Sukapura adala nama kecamatan yang masih termasuk di kabupaten Probolinggo, sementara saya melewati desa Sariwani, jalan berubah menjadi gravel, bebatuan rata sepanjang jalan. Beberapa kali mengambil posisi berkendara dengan berdiri untuk menghindari sakit pada pinggang, atau Bishop lebih mudah dikendalikan dengan posisi seperti ini.

 dipinggir Pura  (tempat ibadah  Hindu) saat melintas kecamatan Sukapura
bebatuan
Tidak banyak yang berubah dari kondisi jalan, kecuali lebar jalan menyempit terkadang harus mepet bahu jalan dan berhenti jika berpapasan dengan roda empat atau truk. Aktifitas warga juga terlihat sepanjang jalan, dengan  sebagian besar pekerjaannya adalah petani perkebunan sayur atau buah. Ramah warga lokal selalu hadir saat orang baru ditemuinya, terbukti ketika saya beberapak kali sedang istirahat dipinggir jalan untuk sekedar menengguk air mineral, warga lokal tidak segan berhenti juga dan berbincang dengan saya.

pulang dari kebun, berhenti untuk sekedar tanya, "dari mana, mau kemana"

harus bergantian
sempat berkendara bareng pengendara ini beberapa kilometer, yang mengantarkan dagangannya ke Lumajang setiap seminggu sekali
Hari semakin sore, kabut mulai turun langit juga tampak gelap, dugaan akan turun hujan juga terlintas dipikiran. Bishop sedikit ditambah kecepatannya. Memasuki desa Wonokerso, google map yang sebagian acuan menelusuri jalan kehilangan sinyal GPS nya. Sial!! Lagi pula ponsel satu-satunya yang berperan multitasking ini termasuk untuk melihat map sudah lowbat.

Terdapat persimpangan yang tidak ada petunjuk jalanya layaknya di jalan perkotaan, tentu saja bertanya pada warga setempat adalah solusinya, entah berapa kali saya melakukannya. Terkadang harus bolak - balik di jalan yang sama, kalau tidak mau disebut kesasar. Berhenti, melepas helm, turun dari jok dan membaur dengan warga saat kehilangan arah, adalah salah satu cara berinteraksi dengan mereka, beberapa cerita menarik terkadang terlontar dari perkataanya, cerita-cerita lokal menarik yang tidak akan ditemui di layar televisi atau secarik kertas koran. 

dengan bapak ini, saya dianjurkan ambil jalan sebelah kiri
gerbang Wonokerso
Kabut semakin tebal, gerimis pun mulai rintik. Menambah hawa dingin menusuk tubuh, walau sudah memakai rangkap kaos dua buah, semakin lama berkendara disini semakin tinggi pula lokasi yang dicapai. Masih di desa Wonokerso, terlihat pemukiman didepa mata, sasaran tatapan pertama adalah warung kopi yang ada didepan.

Selain untuk berteduh dari gerimis yang semakin kencang, warung ini bisa digunakan untuk merebah lelah setelah menempuh jarak dari Cemoro Lawang, dengan medan jalan yang cukup untuk mengeluarkan keringat. Berhenti diwarung biasanya juga saya gunakan sebagai 'modus' untuk bisa berinteraksi dengan warga lokal. Dengan segelas kopi hitam, saya bisa berbincang dengan warga setempat yang kebetulan singgah diwarung sepulang dari kebun atau ladang.

Bertanya dari mana, mau kemana adalah pertayaan lumrah kepada siapa yang dianggap orang baru oleh warga lokal. Obrolan pun melebar, sesekali saya menggunakan bahasa jawa, maksud hati supaya lebih cepat berinterkasi, tetapi ada beberapa kosakata berbeda dibandingkan dengan bahasa jawa yang biasa saya gunakan, dan kahirnya kami menggunakan bahasa campur-campur.

Mengetahui saya akan menuju puncak B29, salah satu warga bernama mas Eko, menunjukan jalan menuju kesana dari desa ini. Jalan tersebut akan melewati kebun/ladang miliknya, mas Eko menawari saya jika akan ke jalan masuk menuju B29 dari Wonokerso ini, bisa bareng dengannya, karena kebetulan dia akan ke ladang. Dan tawaran saya terima. 

Setelah menghabiskan mie instan dan segelas kopi, saya dan mas Eko keluar warung dan melaksanakan rencana kami. Dengan motor bebek sudah dimodif  layaknya motor trail lengkap dengan ban 'tahu'nya, mas Eko melesat tanjakan demi tanjakan, Bishop membututinya seakan tidak mau ketinggalan. Sekitar 3 kilometer dari warung tibalah di ladangnya. Saya juga ikut memarkir Bishop dipinggir jalan.

Tampak tebing menghijau, bercampur warna coklat tanah yang belum tertanami, sebagian lagi tetutup oleh kabut tebal. Kemiringan tebing yang digunakan bercocok taman ini cukup curam, kemiringannya saya perkirakan mencapai 45 derajat. Mas Eko menuruni tebing ini, lagi-lagi saya mengikuti.

Ladang ini ditanami dengan sistem tumpang sari, yang artinya bermacam macam jenis sayur mayur atau buah ditanam dalam satu lahan. Mas Eko menyewa lahan pertanian ini dari Perhutani sebesar 200 - 300 ribu rupiah per hektar untuk setiap tahunnya. Mas Eko juga bercerita tentang suka dukanya menjadi petani, sampai bercerita tentang keluarganya. Cerita lokal yang menarik.

Karena hari semakin sore, sayapun beranjak dan pamitan dengan mas Eko. Setelah di briefing singkat olehnya mengenai gambaran jalur yang akan di lalui menuju B29, saya bergegas untuk menancap gas Bishop kembali.

mas Eko dan ladangnya
foto bareng sebelum lanjut perjalanan

bersambung klik disini

6 komentar:

  1. saya masih pemula, bahkan sebenarnya masih pengalaman pertama, tapi bersama rombongan tersebut dari jalur yg mas suyut ambil kiri (gambar : dengan bapak ini, saya dianjurkan ambil jalan sebelah kiri), rombongan saya ambil jalur kanan, benar2 menyakitkan, seandainya jumlah rombongan saya tidak cukup, mungkin saya sudah menyerah, setelah berjuang susah payah, akhirnya bisa lewat jalur tersebut tanpa harus memutar balik, tapi tidak direkomendasikan lewat daerah tersebut, banyak lubang yg membuat roda tersangkut (lubangnya seperti jalan setapak), potongan kayu berserakan membuat cengkeraman roda berkurang, benar2 liar...

    sekalian minta izin ambil gambar "pertigaan legendaris"nya mas, saya tidak banyak foto, dan mungkin karena belum tahu medan, jadi ga sempat ngambil kenang2an "pertigaan legendaris", makasih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha..monggo mas..silahkan ambil gambarnya, buat kenang2an :D cerita yang menarik juga dari sampean, jadi ada gambaran kalo pilih jalan yg kanan..lain kali sepertinya saya perlu mencobanya, haha

      Hapus
  2. hihihi, Ride Reportnya Keren BEUDDDD mas Suyuttt.... sisan dolan ke Pantai Papuma Masss

    BalasHapus