Our Riding Ware

Senin, 09 Maret 2015

End Year Ride [Resume]

Sudah beberapa tahun terakhir ini, mempunyai kebiasaan untuk menghabiskan sisa cuti untuk melakukan perjalanan dengan roda dua dalam beberapa hari, minimal seminggu. Untuk pemula seperti saya, durasi selama itu masuk kategori long trip. Apalagi sebagai buruh, waktu libur adalah  salah satu anugerah, disamping bonus tahunan tentunya.

Kali ini saya melakukan perjalanan seorang diri. Seperti yang saya yakini, perjalanan dengan istilah "solo riding" merupakan ajang untuk meditasi dan refleksi diri. Sepanjang jalan banyak melakukan monolog dengan diri sendiri ketika akan melakukan sesuatu, memutuskan, menanggung apa telah diputuskan. Saya juga lebih 'kyusuk'  melakukan passion ini. Dengan begitu kita akan semakin mengenal diri sendiri, meng-evaluasi setiap tindakan. Dan...free the soul as motorcycle traveler!

Soal tujuan tidak begitu penting, tapi saya akan mengarah ke timur Jawa. walau sudah beberapa kali mengunjungi destinasi dalam perjalanan ini, tapi ada cerita yang berbeda yang mengharu biru, menyenangkan, dan banyak hikmah yang didapat.

Walau seorang diri diatas roda dua ini, tapi saya begitu merasakan kehadiran Nya , orang-orang baik seperti dikirim dari langit untuk mengisi cerita perjalanan ini. Mereka yang sudah saya kenal sebelumnya, atau malah baru ketemu saat itu bak pahlawan yang tiba-tiba muncul saat saya membutuhkan, tanpa diminta atau broadcast di media social sekalipun. Dan tentu bonus perjalanan atas alam ciptaNya yang selalu membuat hati berdebar.

Untuk itu saya mengucapkan terimasih dan bersyukur atas perlindunganNya selama perjalanan, dan juga teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu, terimakasih atas cerita2nya yang menginspirasi.

Alhamdulillah sampai kembali di Cikarang dengan selamat walau mengalami beberapa insiden minor, dan masalah teknis di motor. Tercatat 2250 kilometer di spedometer Bishop, dalam perjalanan kali ini. Tentu tidak apa2nya nilai dalam angka jarak, dibandingkan pengalaman selama perjalanan.

Kebetulan karena dilakukan diakhir tahun, sekaligus sebagai evaluasi diri selama setahun terakhir dari refleksi diri selama perjalanan. Jika boleh meminjam kata-kata dari pak Jono selaku "juru kunci", yang tidak sengaja saya temui saat mengunjungi  di museum Trinil, mengatakan perlunya menghargai sejarah untuk mengetahui dan belajar dari masa lampau, supaya kehidupan selanjutnya lebih baik.

Selamat Tahun Baru, 2015! Semoga bisa menjadi insan yang lebih baik!

Tadinya rencana lewat Pantura, tapi baru sampai Pekalongan sudah jengah dengan kemacetan panjang dibeberapa ruas jalan dengan proyek sepanjang zamannya. Akhirnya belok kanan, memilih jalur Kajen-Linggosari-Kalibening-Batur-Dieng. Salah satu spot yg bisa dinikmati dalam jalur ini.
Menunggu sunrise Sikunir
Bersantai sejenak di puncak Sikunir




Persiapan melanjutkan ke timur, dari telaga Cebong, Dieng, setelah bermalam disini
Lepas dari Dieng ditemani hujan dan kabut
Tidak direncana mampir musium Trinil, banyak belajar sejarah tentang manusia purba sampai evolusi bumi dari sang juru kunci, pak Jono.
Singgah dan bermalam di kediamannya om Riza Aditya, trimakasih cerita2 inspiratifnya, bersama mas Agni juga :)
Tempat yang selalu buat kangen di timur jawa
Dan selalu menjadi tempat bermain yang mengasyikan
Menuju puncak B29, jalur dari desa Sariwani. 30-40 km jalannya mayoritas seperti ini.
Memasuki Wonokerso, berkabut dan jalan tanah licin, dan hujan turun saat itu, dihimbau dan ditolong petani setempat, untuk tidak melanjutkan perjalanan ke B29 karena kondisi cuaca
mas Eko adalah petani itu, dan mengajak untuk singgah dirumahnya sebentar untuk menikmati kopi panas, dan obrolan hangat sambil menunggu hujan reda dan ganti baju setelah basah kuyup
Terimakasih mas Eko & keluarga. Pamit dulu ya, untuk melanjutkan perjalanan

Dari Sukapura, ternyata jalan semakin mengecil dengan jurang sebelah kiri siap menampung jika tergelencir karena licin sehabis hujan, saya memutuskan untuk balik arah.
sebenarnya sudah memutuskan untuk balik kota Prbolinggo untuk menunda ke B29 lain kesempatan, tapi ada akses lain yaitu dari Argosari, dan sampai sini ketika magrib menjelang, ditemani kabut tebal, sempat terjatuh karena jalan tanah berlubang panjang tidak terlihat tertutup kabut.
Bermalam dirumah pak Slamet, yang kebetulan sebagai penjaga tiket masuk ke B29. Jarak dari rumah ini ke B29 masih sekitar 1,5 kilometer, dan besok subuhnya rencana untuk melanjutkan riding.
Pak Sampurna lari menghampiri saya ketika Bishop ambruk, kondisi jalan tanah menanjak sehabis hujan, dengan dihiasi lubang panajng mirip selokan, serta penerangan minim membuat kesulitan tersendiri. Akhirnya pak Sampurna bersedia menemani saya untuk sampai atas, setelah sebelumnya menyaarankan untuk naik ojek ato jalan kaki, tapi saya tetap keras kepala untuk naik bersama Bishop, dg alesan akan turun ke arah Malang (bukan jalan yg sama dengan naiknya)

Pak Sampurna (merangkul saya) walau baru kenal beberapa jam, tapi sudah mau bahu membahu melewati jalan offroad, disela-sela napas tersendat akibat oksigen yang menipis diketinggian 2000an mdpl, beliau memberi semangat dengan tidak terlihat lelah mendorong Bishop, ato membantu mengangkat bishop ketika jatuh berkali-kali. Kegembiraan dan emosi setelah sampai puncak tidak bisa dibendung, termasuk oleh pak Sampurna.
touch up!
Sisi lain dari puncak
Turun tembus Ranu Pani tidak kalah mendebarkan
Tapi, keindahan kawasan Tengger, Bromo, Semeru dari atas membuat berdecak kagum
Ketemu dengan Endi ditengah jalur B29-Ranu Pani, dia yang mengarahkan melewati ini agar tidak tersesat, dan menjadi penyelamat saya ketika footstep menghimpit kaki saat bishop ambruk ditebing.
Pulang kerumah orang tua di Jogja, salah satu jalurnya, Trenggalek- Pacitan.

******************

3 komentar:

  1. dibaca berulang-ulang tetep seru
    btw saya yg penasaran klo njenengan perjalanan gitu yang motoin sapa sih mas?
    pake tripod ya klo ngga pas lagi sama boncenger?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ho'o..pake tripot+timer :D
      maturnuwun sudah membaca :)

      Hapus
  2. keren banget om suyut.... bikers dan petualang sejati ya begini ini...

    BalasHapus