Our Riding Ware

Selasa, 31 Maret 2015

Cupunagara Sunday Morning Ride

Desa ini berada di kecamatan Cisalak, Subang. Untuk menuju desa ini diperlukan  kesiapan untuk melewati jalan bebatuan lepas beberapa puluh kilometer dari jalan masuknya, yaitu Kasomalang - Subang. Jalur ini juga merupakan jalan alternatif jika akan menuju Maribaya-Lembang. 

Kami berempat kang Rama, om Salum, om Hendry dan Dadang. Bermalam di salah satu sudut desa, berupa tanah lapang, dengan latar belakang bukit gagah berdiri, sekeliling hijau kebun teh. Layaknya tempat impian untuk menyegarkan pikiran disibuknya rutinas kota. Padahal lokasi ini tidak sengaja kami temukan setelah tanya penduduk setempat untuk mendirikan tenda. Warga menunjukan dengan ramah, bahkan kami dicarikan kayu bakar untuk membuat api unggun dimalam harinya. Malam harinya kami habiskan dengan berbincang-bincang dipinggir api unggun. 

Dibangunkan oleh udara dingin di desa Cupunagara walaupun saat itu udah  masuk didalam kantong tidur (sleeping bag), keluar dari tenda ternyata teman-teman yang lain sudah sibuk dengan kameranya untuk mengabadikan matahari terbit walau saat itu sedikit mendung.

Setelah menyedu kopi, makan cemilan pagi, serta memperhatikan kehidupan desa yang sedari pagi sudah sibuk di sawah belakang tanah lapang dengan menyemprot pestisida dilahan padi-nya, saya dan kang Rama berniat menelusuri jalan perkebunan teh peninggalan seorang Belanda, yaitu bernama Hoflan. Perkebunan ini di buat hampir bersamaan dengan dibangun jalan menuju kesini pada taun 1847. Saat itu jalan ini dibuat untuk jalur pedati, sebagai pengangkut hasil kebun. Perkebunan teh ini sekarang dibawah naungan PT Perkebunan Nusantara VIII.

Beberapa warga lalu lalang disekitar tenda, sambil meyapa kami bertanya hendak kemana, dan mereka menjawab ada acara keagamaan, kegiatan bulanan didesa ini yang letaknya di  situs keramat Cipabeasan, letaknya dipinggir tebing bukit Kertamanah. Yang terlihat hijau dan kokoh berdiri dari desa Cupunagara. 

Saya dan kang Rama segera bergegas untuk menikmati berkendara di tengah hijaunya perkebunan teh ini. Melewati jalan menanjak, dengan sesekali jalan bebatuan dan lumpur sehabis hujan, sangat seru dan mengasyikan!

terlihat tempat kami mendirikan tenda dan bermalam, dengan suasana desa yang sempurna
kang Rama on the road
Bishop semakin sexy, haha
peaceful!!
Berduyun-duyun ke acara keagamaan, terlepas dari acaranya, saya melihatya suatu harmoni antara alam dan manusia yg indah. Mereka rela jalan kaki menempuh beberapa kilomenter dengan jalan menanjak dan berlumpur untuk berkumpul menjalin silahturahmi dan keakraban. Bandingkan dengan di kota?mereka berperang argumentasi untuk politik yang busuk, menyebar kebencian di media sosial dengan artikel yang belum tentu kebenarannya. Yang kata mereka dalam rangka bentuk kepedulian terhadap republik ini. Memuakan!!!
Situs Cipabeasan. Disini terdapat makam kuno dan sebuah situ (danau kecil) yang sangat dikeramatkan. Menurut juru kuncinya, di lokasi ini juga dimakamkan seorang penyebar Islam yaitu Eyang Mangkunagara. 
tempat yang akan saya rindukan, sampai jumpa Cupunagara!

*****************

Senin, 09 Maret 2015

End Year Ride [Resume]

Sudah beberapa tahun terakhir ini, mempunyai kebiasaan untuk menghabiskan sisa cuti untuk melakukan perjalanan dengan roda dua dalam beberapa hari, minimal seminggu. Untuk pemula seperti saya, durasi selama itu masuk kategori long trip. Apalagi sebagai buruh, waktu libur adalah  salah satu anugerah, disamping bonus tahunan tentunya.

Kali ini saya melakukan perjalanan seorang diri. Seperti yang saya yakini, perjalanan dengan istilah "solo riding" merupakan ajang untuk meditasi dan refleksi diri. Sepanjang jalan banyak melakukan monolog dengan diri sendiri ketika akan melakukan sesuatu, memutuskan, menanggung apa telah diputuskan. Saya juga lebih 'kyusuk'  melakukan passion ini. Dengan begitu kita akan semakin mengenal diri sendiri, meng-evaluasi setiap tindakan. Dan...free the soul as motorcycle traveler!

Soal tujuan tidak begitu penting, tapi saya akan mengarah ke timur Jawa. walau sudah beberapa kali mengunjungi destinasi dalam perjalanan ini, tapi ada cerita yang berbeda yang mengharu biru, menyenangkan, dan banyak hikmah yang didapat.

Walau seorang diri diatas roda dua ini, tapi saya begitu merasakan kehadiran Nya , orang-orang baik seperti dikirim dari langit untuk mengisi cerita perjalanan ini. Mereka yang sudah saya kenal sebelumnya, atau malah baru ketemu saat itu bak pahlawan yang tiba-tiba muncul saat saya membutuhkan, tanpa diminta atau broadcast di media social sekalipun. Dan tentu bonus perjalanan atas alam ciptaNya yang selalu membuat hati berdebar.

Untuk itu saya mengucapkan terimasih dan bersyukur atas perlindunganNya selama perjalanan, dan juga teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu, terimakasih atas cerita2nya yang menginspirasi.

Alhamdulillah sampai kembali di Cikarang dengan selamat walau mengalami beberapa insiden minor, dan masalah teknis di motor. Tercatat 2250 kilometer di spedometer Bishop, dalam perjalanan kali ini. Tentu tidak apa2nya nilai dalam angka jarak, dibandingkan pengalaman selama perjalanan.

Kebetulan karena dilakukan diakhir tahun, sekaligus sebagai evaluasi diri selama setahun terakhir dari refleksi diri selama perjalanan. Jika boleh meminjam kata-kata dari pak Jono selaku "juru kunci", yang tidak sengaja saya temui saat mengunjungi  di museum Trinil, mengatakan perlunya menghargai sejarah untuk mengetahui dan belajar dari masa lampau, supaya kehidupan selanjutnya lebih baik.

Selamat Tahun Baru, 2015! Semoga bisa menjadi insan yang lebih baik!

Tadinya rencana lewat Pantura, tapi baru sampai Pekalongan sudah jengah dengan kemacetan panjang dibeberapa ruas jalan dengan proyek sepanjang zamannya. Akhirnya belok kanan, memilih jalur Kajen-Linggosari-Kalibening-Batur-Dieng. Salah satu spot yg bisa dinikmati dalam jalur ini.
Menunggu sunrise Sikunir
Bersantai sejenak di puncak Sikunir




Persiapan melanjutkan ke timur, dari telaga Cebong, Dieng, setelah bermalam disini
Lepas dari Dieng ditemani hujan dan kabut
Tidak direncana mampir musium Trinil, banyak belajar sejarah tentang manusia purba sampai evolusi bumi dari sang juru kunci, pak Jono.
Singgah dan bermalam di kediamannya om Riza Aditya, trimakasih cerita2 inspiratifnya, bersama mas Agni juga :)
Tempat yang selalu buat kangen di timur jawa
Dan selalu menjadi tempat bermain yang mengasyikan
Menuju puncak B29, jalur dari desa Sariwani. 30-40 km jalannya mayoritas seperti ini.
Memasuki Wonokerso, berkabut dan jalan tanah licin, dan hujan turun saat itu, dihimbau dan ditolong petani setempat, untuk tidak melanjutkan perjalanan ke B29 karena kondisi cuaca
mas Eko adalah petani itu, dan mengajak untuk singgah dirumahnya sebentar untuk menikmati kopi panas, dan obrolan hangat sambil menunggu hujan reda dan ganti baju setelah basah kuyup
Terimakasih mas Eko & keluarga. Pamit dulu ya, untuk melanjutkan perjalanan

Dari Sukapura, ternyata jalan semakin mengecil dengan jurang sebelah kiri siap menampung jika tergelencir karena licin sehabis hujan, saya memutuskan untuk balik arah.
sebenarnya sudah memutuskan untuk balik kota Prbolinggo untuk menunda ke B29 lain kesempatan, tapi ada akses lain yaitu dari Argosari, dan sampai sini ketika magrib menjelang, ditemani kabut tebal, sempat terjatuh karena jalan tanah berlubang panjang tidak terlihat tertutup kabut.
Bermalam dirumah pak Slamet, yang kebetulan sebagai penjaga tiket masuk ke B29. Jarak dari rumah ini ke B29 masih sekitar 1,5 kilometer, dan besok subuhnya rencana untuk melanjutkan riding.
Pak Sampurna lari menghampiri saya ketika Bishop ambruk, kondisi jalan tanah menanjak sehabis hujan, dengan dihiasi lubang panajng mirip selokan, serta penerangan minim membuat kesulitan tersendiri. Akhirnya pak Sampurna bersedia menemani saya untuk sampai atas, setelah sebelumnya menyaarankan untuk naik ojek ato jalan kaki, tapi saya tetap keras kepala untuk naik bersama Bishop, dg alesan akan turun ke arah Malang (bukan jalan yg sama dengan naiknya)

Pak Sampurna (merangkul saya) walau baru kenal beberapa jam, tapi sudah mau bahu membahu melewati jalan offroad, disela-sela napas tersendat akibat oksigen yang menipis diketinggian 2000an mdpl, beliau memberi semangat dengan tidak terlihat lelah mendorong Bishop, ato membantu mengangkat bishop ketika jatuh berkali-kali. Kegembiraan dan emosi setelah sampai puncak tidak bisa dibendung, termasuk oleh pak Sampurna.
touch up!
Sisi lain dari puncak
Turun tembus Ranu Pani tidak kalah mendebarkan
Tapi, keindahan kawasan Tengger, Bromo, Semeru dari atas membuat berdecak kagum
Ketemu dengan Endi ditengah jalur B29-Ranu Pani, dia yang mengarahkan melewati ini agar tidak tersesat, dan menjadi penyelamat saya ketika footstep menghimpit kaki saat bishop ambruk ditebing.
Pulang kerumah orang tua di Jogja, salah satu jalurnya, Trenggalek- Pacitan.

******************

Selasa, 03 Maret 2015

Bermalam di Puncak Guha

Mengapa bernama Puncak Guha
 
memancing
Dua pria ini saya hampiri setelah selesai mendirikan tenda, penasaran dengan apa yang mereka lakukan, salah satu dari mereka bercerita jika sedang memancing Lalay (sebutan hewan Kelelawar dalam bahasa Sunda).

Masih dari keterangannya, bahwa tempat tenda saya berdiri terdapat gua yang pintunya menghadap laut lepas, tempat ribuan kelelawar bersemayam, dan hewan tersebut akan keluar saat malam menjelang. Kail serta senarnya diulurkan kira2 dimulut gua, dengan pemancing berdiri diatas tebing, yg dibawahnya sudah hamparan ombak laut.

Benar saja tidak lama setelah magrib tiba, beberapa kelelawar berhasil menyangkut dikail, dengan sigap ditarik senarnya, sementara diatas sudah siap seseorang dengan pisau untuk menjagal hewan bertaring ini. Kejadian ini berulang-ulang sampai mereka merasa sudah cukup menyembelih puluhan ekor hewan ini, untuk dibawa pulang dan disantap bersama keluarga.

Saya pun menebak kenapa tempat ini dinamakan pantai Puncak Guha, dan terdapat gambar kelewawar (menyerupai logo tokoh Batman) dipapan pintu masuk lokasi ini. Karena terdapat gua (guha), dan tempat ini berada diketinggian diatas laut (puncak).

Bishop siap bermalam disini

Pagi Hari

Angin pantai mengoyak tenda seolah untuk membangunkan, memang tenda yang saya dirikan hanya berjarak 5 meter dari tebing. Sudah tampak terang diluar sana, saya kira pertunjukan mentari terbit sudah terlewatkan. Ternyata setelah saya tanya mas Nova yang sudah sibuk dengan kameranya, mengatakan belum telat untuk menyaksikan munculnya matahari dari balik deretan bukit disana, dan sinarnya akan memantul diatas hamparan samudera. Sambil menunggu saya menyalakan kompor untuk segelas kopi.

give me coffee, tent and motorcycle
Tidak lama kemudian menyusul muncul dari dalam tenda, mas Supri, Firli, Wahyu, om Jack dan Apriyadi. Ya, kami menghabiskan malam ditempat ini setelah pulang dari acara tahunan suatu forum penghobby perjalanan sepeda motor bernama Nusantaride. Acaranya sendiri berlokasi di Pangelangan, Bandung. Seusai acara saya menuju selatan Jawa, artinya pantai adalah tujuan selanjutnya. Kami secara tidak sengaja ketemu dan berkumpul di pantai Puncak Guha ini, karena setelah acara National Nusantaride Rally Pangelangan  masih ada waktu sehari untuk mengabiskan waktu akhir pekan, secara tidak direncana pula kami kompak punya keinginan untuk bermalam minggu dipantai ini.

Momen yang ditunggu tiba, dari kami sibuk dengan sendirinya, diantara mengarahkan lensa kameranya pada bergantinya warna langit seiring semakin tingginya sang mentari, atau sekedar berdiam khusuk mengamati proses awal hari dimulai. Sesudahnya kami segera berkemas, untuk kembali ke rumah masing-masing yang kebetulan dari kota yang berbeda.

Kami merasa beruntung karena dua hari ini sangat cerah, setelah sebelumnya ketika berangkat ke Pengalengan, hujan sempat mengguyur selama perjalanan. Ini ketiga kalinya saya ke tempat ini, dan baru sekali ini berkesempatan untuk menghabiskan malam bersama taburan bintang dilangit dan obrolan teman-teman. Sambil mengenang kunjungan pertama ke lokasi ini dua tahun yang lalu. Terus terang saja, tempat ini mempunyai kesan dan kenangan tersendiri bagi saya.

sunrise Puncak Guha
pemadangan lain di pagi hari
berpose di jalur paling selatan Jawa sebelum berpisah kekota masing-masing
Info Lokasi: Puncak Guha secara administratif berada  Desa Sinarjaya kecamatan Bungbulang, Kab. Garut, sekitar 5 kilometer kearah timur pantai Ranca Buaya. Tempat wisata ini belum dikelola secara serius, terbukti tidak ada tiket retribusi resminya, kadang cuma warga yang menarik uang karcis. Tidak ada fasilitas toilet, atau tempat makan/minum. Jika berkunjung hendaknya membawa tempat untuk sampah, karena memang tidak tersedia disini, sudah terlihat sampah berserakan ketika kami berada disini. Dan semoga tempat ini bisa tetap indah tanpa sampah dari pengunjungnya.


Oya...mas Nova sempat mendokumentasikan dalam bentuk video  tentang perjalanan kami, check it out!