Our Riding Ware

Minggu, 16 November 2014

Aksi Untuk Keadilan Energi

"Saya menguhubungi kang Rama seminggu sebelum berangkat ke kampung Cisoka, sebelumnya saya sudah membaca dari artikel tentang kegiatan teman-teman dari Purwakarta, lewat aksi sosialnya yaitu membuat kampung Cisoka kembali terang dengan lampu LED, dengan teknologi panel surya yang sebelumnya sebagian besar warga disini menggunakan lilin sebagai penerangan ketika malam tiba. 
Alhamdulillah kang Rama menginjinkan saya untuk turut serta. Bersama teman lainnya, yaitu Riesva, Asep. Kami tiba di kampung Cisoka ketika malam menjelang, sementara kang Titan sang teknisi lampu tiba saat tengah malam, bersama rekan-rekan yang berniat membuat video dokumenter tentang kegiatan ini.
Postingan kali ini, rangkuman dari apa yang melintas di otak saya ketika mengikuti kegiatan ini, tentu masih banyak cerita yang tidak tertulis, dan banyak rasa tidak terungkap disini"

Bermula dari kegemaran melakukan perjalanan dengan sepeda motor, menelusuri tiap jalan bumi pertiwi yang masih terjangkau dengan roda dua, menikmati keindahan alam didalamnya. Beberapa kesempatan juga sengaja menyasarkan diri untuk mendapatkan tempat baru, serta pemandangan belum pernah terlihat. Salah satu tujuannya adalah untuk mengenal wajah negeri ini lebih dekat dan intim, Indonesia. Karena pepatah pernah mengatakan, "tak kenal maka tak sayang". Karena hal itu kami berusaha mencintai negeri ini dengan cara ini. 

Dalam perjalanan roda dua ini, tentu banyak kesempatan untuk bencengkerama dengan penduduk lokal dalam rute yang dilewati. Berhenti untuk sekedar istirahat, atau mendengar cerita lokal akan lebih akan mengenal budayanya,  dan juga kehidupan sosial mereka. Selalu ada hikmah dan pelajaran dari setiap cerita. Bahkan untuk membangkitkan rasa empati antar sesama insan manusia.

Setelah mengenal lantas gimana mengungkapakan rasa sayang lewat aksi nyata?. Daerah yang dilalui dengan roda dua ini, kebanyakan adalah daerah pelosok, menjauh dari keramaian modernisasi kota. Tempat, desa atau kampung yang disinggahi biasanya jauh dari kata di sila kelima yaitu "Keadilan Sosial Bagi Seluruh rakyat Indonesia". Tentu tidak bisa serta merta menyalahkan penyelenggara negara, tetapi lebih ke arah memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah didaerah lewat aksi sosial. Bukankah, menyalakan lilin lebih baik dari pada mengutuk kegelapan?

Adalah berbagai komunitas penghobby perjalanan  roda dua yang berdomisili di kota Purwakarta dan sekitarnya, memulai aksi sosial untuk salah satu kampung tepatnya berada di kampung Cisoka, desa Citengah, kecamatan Sumedang selatan, kabupaten Sumedang. Kampung ini "ditemukan"  dalam  kegiatan blusukan dengan roda dua pada bulan Mei 2014. 



beberapa kilometer sebelum kampung Cisoka
Dalam perjalanan pertama kekampung Cisoka, yang sebenarnya sebagai persinggahan ketika menempuh rute jalan alternatif Sumedang - Limbangan, Garut. Setelah berbincang-bincang dengan warga setempat diketahui bahwa kampung yang terdiri dari 27 kepala keluarga ini mempunyai kesulitan dalam mendapat penerangan, dalam bentuk lampu yang bersumber dari energi listrik. 

Ironis memang, kampung yang berjarak tidak lebih  15 kilometer  dari kota Sumedang ini, belum bisa menikmati pasokan listrik dari perusahaan listrik negara. Saat itu, warga hanya mengandalkan teknologi panel surya sumbangan dari mahasiswa UNPAD. Sinar matahari yang diterima dari panel surya dirubah menjadi energi listrik lalu disimpan lewat media accu. Dari accu ini disalurkan menjadi cayaha lampu pijar. Namun seiring waktu berjalan, karena kurangnya pengetahuan tentang merawat alat-alat ini, beberapa accu mulai rusak, dan tentu saja beberapa rumah di kampung ini kembali mengandalkan lilin untuk penerangan pada malam hari, satu malam bisa menghabiskan lilin sebanyak dua sampai tiga batang. 



kampung Cisoka
semua atap rumah terdapat panel surya
Tentu hal ini akan tidak menguntungkan secara ekonomis bagi warga, karena harus membeli lilin setiap hari. Dan juga cahaya dari lilin tingkat cahayanya tidak layak untuk menerangi ketika berkegiatan ketika malam hari, misalnya untuk membaca.  Para warga yang sehari-hari bekerja sebagai penggarap kebun teh ini mendambakan ruangan rumahnya yang berdidinding anyaman bambu terang, layaknya masyarakat dikota-kota bisa melakukan aktifitas yang ditunjang dari energi listrik. Karena hal tersebut sudah menjadi kebutuhan primer. Kita yang hidup dikota besar biasa menggantungkan dari ketersediaan pasokan listrik untuk menunjang kegiatan sehari-hari tentu  bisa merasakan sangat bermanfaatnya ketika listrik padam. 

Setelah mengetahui kondisi kampung tersebut, direncanakanlah kunjungan ke desa tersebut untuk kedua kalinya. Tepatnya pada bulan Agusutus, 2014 tentunya dengan bersepeda motor, dan membawa alat-alat serta komponen seperti lampu, dan accu beberapa orang dari kami, menuju kampung Cisoka kembali. 

Rumah ketua RT kampung Cisoka adalah target pertama untuk pemasangan lampu. Sejak beberapa bulan terakhir rumah yang berdinding anyaman bambu, dengan model panggung, serta berukuran tidak lebih dari tigapuluh meter persegi ini hanya mengandalkan lilin untuk penerangan ketika malam hari. Hampir seluruh rumah di kampung ini, mempunyai bentuk serupa.

Pengerjaan instalasi lampu ini berupa penggantian accu yang sudak rusak, serta mengganti lampu pijar dengan lampu jenis LED berdaya 1 watt, lampu jenis ini digunakan karena dengan intesitas cahaya yang sama atau lebih dari lampu pijar, tetapi lebih bisa hemat daya listrik, dengan demikian muatan listrik yang tersimpan didalam accu akan lebih tahan lama. Hal serupa dilakukan pada 2 rumah lainnya, serta 1 mushola dengan memakai accu lebih besar, karena membutuhkan daya lebih untuk alat pengeras suara.


menginstalasi
salah satu LED yang sudah menyala
Pada kesempatan ini, digunakan juga untuk mendata kembali rumah mana yang masih mengalami masalah penerangan. Untuk selanjutnya dipersiapkan kembali alat/komponen yang diperlukan. Tidak bisa dilakukan sekaligus, karena terbatasnya anggaran dana. Sebagai informasi, sumber dana berasal dari swadaya anggota komunitas. 

Tiga bulan kemudian setelah kunjungan kedua, kami melakukan hal sama yaitu pemasangan lampu LED dan mengganti accu yang sudah rusak. Sesekali juga diberikan pengetahuan ke warga Cisoka untuk merawat accu supaya mempunyai umur yang lebih lama alias awet. Tercatat enam rumah yang sudah bisa menikmati penerangan lammpu LED. Genap sudah, kini seluruh rumah bisa menikmati terang ketika malam tiba. Daya accu yang terbatas sementara ini hanya bisa digunakan untuk penerangan, belum bisa untuk menyalakan alat elektronik laiinya, seperti radio dan televisi. 


Sebelum meninggalkan kampung Cisoka, kami berpamitan dengan pak Lili selaku ketua RT. Sangat terasa persaaan beliau lewat kata yang terucap, beliau terlihat bahagia ketika seluruh rumah di kampung ini sudah bisa menikmati terang lampu, yang akan memudahkan warga untuk beraktifitas, dan menghemat dari sisi ekonomi karena tidak perlu membeli lilin setiap hari.  



pak  Lili dan LED disalah satu ruangan
Tentu saja aksi ini tidak berhenti dikampung ini saja, seperti hal-nya kami yang tidak akan berhenti menggerakan roda sepeda motor, untuk membelah jalan-jalan dipelosok negeri ini selama diberikan kesehatan dan waktu. Masih ada beberapa data yang kami pegang, desa yang masih membutuhkan keadilan energi. 

Disini saya bisa banyak belajar tentang bagaimana memaknai sebuah perjalanan dari sisi yang berbeda. Berbuat sesuatu untuk sesama. Terimakasih teman-teman semua yang telah berkenan mengajak ke kampung Cisoka. 










4 komentar:

  1. Mantap...Explore Negri dari sudut berbeda...lanjutkan kang suyut

    BalasHapus
  2. Andai saja Mark Zuckerberg tak melahirkan pesbuk, bisa jadi ane tak akan bisa membaca tulisan sangat menarik ini yg ane dapatkan dari fanpage "Perjalanan Cahaya". Respect n Support untuk rekans yg tergabung dalam "Perjalanan Cahaya". btw ijin share di pesbuk-ku. Salam Hijau!

    BalasHapus