Our Riding Ware

Jumat, 10 Oktober 2014

Meraba Bukit Kaba

Hari ke empat (7/10/2014) di provinsi Bengkulu ini adalah saat yang tepat untuk melakukan perjalanan dengan roda dua, pikir saya saat itu. Tepatnya di desa Sambirejo, kecamatan Selupu Rejang, kabupaten Rejang Lebong saya singgah selama total 5 hari. Sebenarnya tujuan utama ke kota ini adalah menghadiri pernikahan saudara sepupu, yang kebetulan saya belum pernah sama sekali berkunjung/silahturahmi dirumah paman atau yang biasa saya sebut paklik ini. Jadi ini adalah perjalanan pertama di daerah yang pernah menjadi tempat pengangsingan presiden pertama, Ir. Soekarno.

Untuk mencapai kota ini diperlukan waktu dua sampai tiga jam perjalanan darat dari ibukota Bengkulu. Lebih lama daripada penerbangan yang saya lakukan dari bandara Soekarno-Hatta ke bandara Fatmawati, Bengkulu yang hanya memakan waktu satu jam. Tidak seperti di kota besar di pulau Jawa, transportasi umum seperti bis antar kota tidak akan di temui, apalagi taksi. Kami harus memesan beberapa hari sebelumnya untuk memastikan mobil 'travel' bisa menjemput kami dibandara.
sebatang dulu sebelum terbang
Halo Bengkulu:
 photo 2copy_zps1c6b3f87.jpg
Kembali ke rencana awal untuk berkendara di kota ini, tidak banyak persiapan yang dilakukan. Untuk motor, saya pinjam dari sepupu. Sebuah motor sport 150 cc yaitu Yamaha Vixion akan menemani perjalanan kali ini. Perlu diketahui, kecamatan ini adalah dataran tinggi dengan di hiasi pemandangan perbukitan, perkebunan sayuran dengan suhu udara berkisar 20-25 derajat celsius. Sering tampak petani mengangkut hasil kebunnya dengan motor di modifikasi menyerupai jenis trail, tampak dari ban 'tahu' dan velg yang lebih besar dari standar pabrikan.
Mengangkut sayuran:
 photo 48copy_zpsfe5e4a3f.jpg
Ban tahu & Pertamini:
 photo 49copy_zpsd7ba87ee.jpg
Tadinya saya akan dipinjami motor jenis trail tersebut, karena menurut orang setempat, medan yang akan saya jelajahi lebih cocok dengan jenis motor tersebut. Tapi karena motor yang sedianya akan saya pakai sedang tidak sehat maka saya gunakan motor seadanya saja. Saya termasuk orang yang tidak mau ambil pusing dengan motor apa yang akan saya gunakan, toh itu hanya sebagai sarana. Saya lebih berpikir bagaimana cara untuk bisa menikmati perjalanan serta mencapai lokasi. 

Bukit Kaba adalah tujuan kali ini. Jika dilihat dari peta, jaraknya tidak lebih dari 50 kilometer dari tempat saya akan berangkat. Minimnya informasi untuk menuju kesana dengan roda dua tidak mengurungkan niat, tidak ada partner perjalanan alias tidak ada mengantar ke lokasi juga tidak menjadi halangan berarti. Saya termasuk penikmat solo riding akut, atau bisa sangat menikmati melakukan perjalanan seorang diri.

Depan rumah tempat saya singgah adalah termasuk jalan utama akses Bengkulu-Curup-Lubuk Linggau. Mulai mengelindingkan roda motor pukul 9.30 pagi, pagi itu sangat cerah setelah hari sebelumnya kota ini diselimuti kabut, informasi lain menyebutkan jika kemarin itu bukan kabut, melainkan asap kebakaran hutan di provinsi tetangga.

Seperti biasa untuk mengetahui rute, selain mengandalkan peta yang ada di handphone saya juga melihat petunjuk arah papan berwarna hijau, atau jika tidak ada juga petunjuk arah dari tulisan papan maka bertanya warga setempat adalah solusinya. Kesasar juga merupakan kenikmatan tersendiri, karena akan menemukan hal-hal baru, dan bisa belajar untuk keluar dari zona aman.

Sepanjang jalan akan disuguhi pemandangan barisan bukit yang seakan mengelilingi kota ini, juga hamparan kebun sayur-sayuran yang menyejukan mata dan pikiran. Jika hari-hari saya dipenuhi oleh hiruk pikuk kota industri, beserta kesemrawutannya, apa yang saya lihat di perjalanan ini seakan menjadi tombol reset, yang mengembalikan gairah dalam diri.

Lurus, Lubuk Linggau. Kanan, Bukit Kaba:
 photo 50copy_zpsbe717b5c.jpg
Desa Siaga Bencana
Belum genap 20 menit dengan kecepatan rata-rata 40 kpj terlihat gerbang selamat datang menandakan telah memasuki desa Siaga Bencana. Seperti yang saya baca dari berbagai sumber, Gunung Kaba yang warga lokal menyebutnya bukit Kaba (1937 mdpl), dipuncaknya terdapat kawah aktif yang menyemburkan asap mengandung sulfur. Terdapat beberapa  kawah/puncak lainnya yaitu, Bukit Itam (1893 mdpl)  dan Bukit Malintang (1713 mdpl).

Tidak jauh dari gerbang, terdapat pos pendakian ke bukit. Saya berhenti sejenak disini. Lebih dikenal dengan sebutan Posko Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) terdapat bangunan rumah yang seharusnya digunakan untuk mendapatkan informasi tentang pendakian ke bukit Kaba, dan juga untuk melaporkan diri jika akan mendaki. Ini sangat penting sebenarnya, karena jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kan lebih mudah untuk melacaknya. Tapi ironisnya disini tidak di temukan satu orang pun yang bisa dimintai keterangan. Pintu posko terkunci rapat.

Hanya berbekal peta lokasi yang ada didepan posko, saya mengamati jalur pendakian. Terdapat dua jalur, yaitu jalur pertama adalah untuk pejalan kaki yang jalannya bisa dimulai dari belakang posko berupa jalan setapak tentunya, sedangkan jalur kedua adalah terdapat jalan aspal berukuran tidak lebar, saya pikir jalur kedua ini adalah yang bisa dilalui sepeda motor. Tidak lama disini saya langsung tancap menuju jalur kedua.

Posko
katakan peta..peta!
Terdapat dua jalur pendakian:
 photo 6copy_zps02030c01.jpg
Sekitar 3 kilometer dari posko akan dijumpai gerbang menandakan jika akan memasuki Bukit Kaba, ini lah pintu masuk jalur kedua. Disambut oleh jalan aspal tidak begitu mulus selebar 1,5 meteran dengan kanan kiri pepohonan lebat berbagai jenis, dari tumbuhan merambat sampai berbatang besar. Semua tampak alami.  Memang lokasi ini merupakan salah satu hutan lindung. Sebagai informasi tambahan , jika jalur ini letaknya  di sabuk bukit, layaknya ikat pinggang yang melingkari tubuh, sebelah kiri adalah jurang dengan jarak 2-5 meter dari jalan.

gerbang masuk
Semakin jauh jalannya semakin variatif dan cenderung menyempit, dan aspal semakin rusak malah ada yang bebatuan, belokan patah dan menanjak banyak ditemui disepanjang jalan. Tidak ada orang lain atau berpapasan dengan pengunjung lain, benar-benar sepi. Hanya terdengar sesekali bunyi serangga, kadang terkihat kupu-kupu yang tiba-tiba terbang memotong jalan. 
jalan setelah gerbang:
 photo 9copy_zps699366ec.jpg
jalannya berubah:
 photo 11copy_zps30b4c733.jpg
so what??just enjoy de road
Setiap melakukan perjalanan saya selalu berusaha untuk bepirkir positif, menghilangkan sugesti dan pikiran negatif. Tetapi ketika melewati jalur ini sesekali ada perasaaan tidak enak, kadang timbul rasa kekhawatiran yang tidak jelas datang dari mana. Benar adanya, ketika melakukan perjalanan seorang diri akan lebih sensitif terhadap apa yang disekeliling kita. Kita akan lebih banyak melakukan dialog dengan diri sendiri, dan tentu saja itu menjadi refleksi diri. Saya akan lebih mengenal siapa saya. "I think one travels more usefully when they travel alone, because they reflect more." - TJ-

Jalan semakin menanjak, lebih banyak ditemui jalan aspal yang berubah menjadi bebatuan. Sampai akhirnya setelah lewat satu tikungan saya terkejut dengan jalan yang tepat didepan. Jalan ambles, membentuk seperti sungai dengan kedalaman setinggi motor, dengan lebar sedikit lebih panjang dari setang motor, dengan posisi menanjak kemiringan sekitar 20-25 derajat, sepanjang kira-kira 10 meter. Berhenti sejenak, turun dari motor dan melihat kondisi jalan yang ambles itu sampai akhir ketemu aspal lagi. 

jalan apaan ini???:
 photo 12copy_zps20139250.jpg
survey jalur:
 photo 13copy_zps85b38117.jpg
Lagi-lagi saat berdialog dengan diri sendiri, kira-kira sanggup tidak melewati ini. Setelah berpikir gimana caranya untuk melewatinya. Motor saya starter dan coba melaju untuk menanjak, sekitar jalan 2 meter motor mati mesinnya setelah kehilangan torsi atau tenaga. Tidak ada ruang untuk mengambil ancang-ancang membuat keadaan ini wajib mengandalkan putaran bawah dari mesin motor. Saat-saat ini saya kangen Bishop untuk melakukannya. Tapi kerinduan itu segera dihilangkan dan harus menghadapi kenyataaan yang ada. Saya coba beberapa kali dengan cara yang sama. Tapi tidak berhasil. Sementara saya juga harus menjaga keseimbangan karena jika miring kekanan/kikiri motor akan menyerempet dinding tanah. 

Kembali berpikir sejenak, entah darimana saya mendapat ide untuk melakukan cara ini, yaitu kaki saya berpijak ditanah posisi paling tinggi pada kanan-kiri nya. Sedangkan tangan tetap memegang setang. Posisi tubuh saya seperti kuda-kudaan ketika keponakan saya akan menunggangi punggung. Logikanya dengan cara ini akan mengurangi beban motor, dan tujuannya adalah mendongkrak tenaga awal si mesin. Entah benar apa tidak logika saya saat itu, tapi ketika dicoba motor berhasil menanjak walau dengan sedikit kepayahan. 

what a style?
Layaknya bermain game konsole bergenre petualangan, yang semakin tinggi level game itu semakin susah melewatinya. Di tanjakan ini adalah bagian paling susah bagi saya yang masih hijau pengalamaan kegiatan, ya sebut saja motorcycle adventure ini. Ketika berhasil melewati, sontak saja kegirangan dalam hati tidak bisa dipungkiri lagi. Tetapi sesudahnya terasa sangat lelah dengan nafas putus-putus, teringat dengan hukum alam, semakin tinggi posisi dari permukaan laut maka kadar oksigen semakin menipis, mungkin itu juga yang membuat nafas saya seakan mau habis.

Menanjak sekitar 200 meter, jalan semakin melebar, di akhir tanjakan saya terperangah melihat di 100 meter didepan mata, mirip tembok memanjang berwarna hijau ditumbuhi rerumputan, terlihat tangga terbuat dari beton menjulang naik. Disini juga terdapat tanah lapang, mirip tempat parkir kendaraan, berdasarkan informasi yang saya dapat, dulu memang jalan yang telah saya lalui bisa dilewati mobil sekalipun, tapi karena longsor dan perubahan kondisi alam lainnya maka jalannya berubah seperti yang telah diceritakan sebelumnya. Motor diberhentikan, memandang sekeliling, seketika kegembiraan diluapkan dalam hati. Saya tahu itu adalah apa yang menjadi tujuan setelah melewati jalur kedua. 

kegembiraan
Informasi dari saudara, jika sudah terlihat tangga seribu, berarti kawah bukit berada di baliknya. Ya mereka menyebutnya tangga seribu karena jumlah anak tangganya konon mencapai hampir seribu buah, ada mitos juga jika menghitung jumlah anak tangga beberapa kali, hasilnya tidak pernah akan sama dari setiap orang, atau setiap kesempatan menghitung. Seketika saya teringat dengan tangga menuju makam kerajaan Imogiri - Jogja, mitosnya serupa.

Sementara jika berbalik badan, maka akan terlihat sejauh mata memandang adalah rimbunnya hutan alami, sebagian telah terlewati ketika menuju kesini. Pemukiman warga Rejang Lebong juga terlihat sangat mungil atapnya. Saya pun mengabadikan beberapa gambar dari kamera poket yang dibawa. Sebelum menaiki tangga seribu tentunya. 

balik badan, dan pemandangan
Tidak lama terdengar raungan knalpot sepeda motor dari arah bawah, kemudian mucul dihadapan dua motor jenis bebek dengan pengendara membawa senapan angin. Di duga mereka adalah warga sekitar bukit Kaba, jika melihat apa yang dipakai, dan tanpa memakai helm. Saya pun menyapanya.

Layaknya orang yang baru ketemu, kami pun saling mengenalkan diri. Heri dan Riki adalah namanya. Warga desa yang terletak tidak jauh dari posko pendakian. Sebagai orang lokal tentu mengenal lebih jauh tentang bukit Kaba. Mereka kesini tujuan utamanya adalah berburu satwa disekitar bukit terutama jenis burung. Heri bercerita, jika bukit Kaba selain sebagai tempat wisata pelepas penat, juga untuk berbagai keperluan seperti melunasi nadzar, yaitu melaksanakan apa yang telah dijanjikan jika apa yang dimohon terkabulkan. Kebanyakan yang kesini dengan melepas burung merpati atau kambing untuk melaksanakan nadzar mereka. Memang saya temui ada beberapa ekor burung merpati disini, mungkin jika saya temui kambing akan saya bawa turun kebawah untuk dijual kembali. 

Atau cerita berbau mistis, ada salah satu dusun bernama Curup yang jika warganya mendaki ke bukit ini akan mendapat celaka diperjalanan, entah itu hilang atau malah ditemukan sudah tidak bernyawa. Heri juga berpesan untuk menjaga ucapan dan perilaku selama disini, karena sudah banyak kejadian aneh diluar logika jika tidak bisa menjaga hal tersebut.

Heri juga mengatakan jika saya beruntung bisa menemui langit cerah tanpa ditutupi kabut. Karena mereka sendiri sering kesini, tetapi jarang sekali menemukan cuaca seperti ini.

Heri dan Riki pun naik keatas duluan dengan meniti tangga seribu. Sementara saya berhenti sejenak untuk sekedar menenggak minum. Oya jika kesini hendaknya membawa air minum dari bawah, karena disini tidak ditemui pedagang makan/minuman.

tempat parkir, tangga seribu, Heri & Riki yang naik duluan
Setelah mereka hampir sampai atas, saya menyusul naik. Kemiringan tangga hampir 45 derajat, membuat energi terkuras, beberapa kali berhenti buat menyelesaikan nafas yang terputus-putus. Penuh hati-hati menapaki anak tangga, karena tidak ada pengangan disisinya, keseimbangan tubuh harus tetap terjaga. Konon juga sering terjadi kecelakaan ketika pengunjung menaikinya, tentu celaka ketika jatuh dan megelinding kebawah.

Akhirnya sampai atas, diujung tangga dibatasi pagar berbeton yang hampir mengelilingi kawah, beberapa pagar sudah rusak dan rubuh. Sementara sesekali melongok kebawah kawah untuk memperhatikan kepulan asap sulfur yang berhembus dari permukaan tanah. Terdapat jalan setapak juga jika ingin turun kebawah kawah, tapi saya tidak melakukannya karena jaraknya lumayan jauh. Saya lebih memliih berada dipinggir kawah memperhatikan sekelilingi. Terus terang baru pertama kali ini menjumpai pemandangan seperti ini, berada di ketinggian sekitar 1938 meter dari permukaan laut, dengan berdapingan mulut besar kawah yang masih aktif.

bersama Heri dan Riki samapi puncak :)

Walau saya saat itu berada diketinggian tapi kenapa dalam hati bergumam bahwa betapa 'rendahnya' atau kecilnya manusia dibandingkan dengan ciptaan Nya terahampar dihadapan. Gusti Allah memang Maha Keren!

Saya semakin mendekat ke bibir kawah, harus hati-hati, lengah sedikir saja bisa terjun bebas ke dasar. Saya perkirakan dalamnya sekitar 100 meter. Bau belerang menyengat tidak bisa di hindari, entah efek bau tersebut atau bukan  kepala sedikit pusing. Berjalan mengelilingi pinggir kawah walau tidak satu lingkaran penuh, hanya berjalan yang bisa djangkau, karena beberapa bagian adalah tebing terjal. Mengabadikan beberapa gambar dengan kamera seakan wajib hukumnya, sesekali narsis dengan tripot dan selftimer menjadi solusi ketika berpergian sendirian.


kota Curup kelihatan dari sini:
 photo 61copy_zps8468a641.jpg
pagar kawah:
 photo 62copy_zpsf048abc4.jpg
lebatnya hutan lindung:
 photo 58copy_zpsd9eb1e9c.jpg
jalan turun menuju kawah:
 photo 52copy_zpse0145434.jpg
sisi lain:
 photo 60copy_zpsa792d7f8.jpg
kepulan asap sulfur:
 photo 56copy_zps10ef891f.jpg
mengelilingi bibir kawah:
 photo 54copy_zps820631da.jpg


Tidak ada orang lain selain saya sendiri setelah Heri dan Riki pamit turun duluan. Begitu hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Walaupun saat itu sangat terik, tapi udara gunung tidak membuat tubuh ini berkeringat.

Keheningan pecah saat terdengar suara satwa jenis kera, saya menebak itu suara simpanse atau sejenisnya, karena pernah mendengar ketika berkunjung ke kebun binatang, arah suara dari hutan dibawah, sangat keras suaranya. Sedikit membuyarkan kosentrasi. Tidak lama kemudian saya turun menuju parkiran.

mereka mengaku dari kota Pahiang. Dan latar belakang tembok penuh vandalisme seolah menjadi ciri tidak baik bangunan di negeri ini. Semoga generasi ini tidak melakukan hal serupa

Tadinya mau tancap gas kembali pulang, tapi dekat tempat parkir saya jumpai beberapa anak muda disana. Saya hampiri dan mulai mengobrol. Mereka sekitar delapan orang telah menginap disini dengan cara berkemah, dan mendaki ketika menuju kesini. Tentu dengan jalur pendakian. Tidak lama mengobrol disini, sayapun pamit turun. Tidak ada halangan berarti ketika jalan kebawah sampai gapura pintu masuk jalur kedua bukit Kaba. Alhamdulillah.

Disini saya mendapat "message in a bottle" bahwa gusti Allah masih sayang pada saya, dengan masih melindungi selama dan setiap perjalanan. Semoga. Amin.



**************

2 komentar:

  1. kerenn om suyut
    http://setia1heri.com/2014/10/13/salut-untuk-mas-cb150r-ini-say-no-balapan-dijalanan-ketika-ditantang-yzf-r15/

    BalasHapus