Rabu, 13 Agustus 2014

Sepenggal Cerita dari Selatan Jawa

Terbangun dipagi hari (26/04/2014) saat hujan belum reda, saya beranjak dari penginapan di kawasan pantai Pangandaran setelah menempuh perjalanan dua hari saru  malam menempuh rute Cikarang-Cidaun- - Pangandaran melewati pinggir pulau Jawa selatan, bersama seorang teman bernama Dadang.

Kami berpisah di Pangandaran sore harinya, untuk kemudian Dadang menuju Cirebon, kampung halamannya. Ya, perjalanan kami ini memang dalam rangka pulang kampung alias mudik dalam rangka hari raya Idul Fitri, 2014. Saya sendiri akan melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta, kota tujuan mudik. Karena disana lah orang tua saya tinggal.

Cerita perjalanan ini saya mulai saat dari Pangandaran sampai Jogja, karena cerita dengan rute Cikarang-Pangandaran akan dibuat oleh Dadang. Saya sendiri setahun sebelumnya menempuh rute yang sama dan pernah menuliskannya di blog ini pula. (klik disini untuk cerita perjalanannya)

Gerimis tidak berhenti menemani saya mulai dari Pangandaran, memakai celana tahan air serta membiarkan jaket tetap dipakai, karena bahannya kedap air untuk hujan ringan.

Baru menempuh jarak sekitar 13 kilometer dari Pangandaran, saya temui petunjuk mengarah ke suatu pantai. Pantai Karapyak di sebutnya. Jalan pedesaan berbatu kapur, dikombinasi dengan aspal berlubang menyambut. Masih gerimis, lengkap dengan kabut pagi menambah mengigilnya tubuh ini. Tapi tidak begitu masalah, suasana pagi membuat saya tetap semangat berkendara.

Benar saja, hanya berjarak 4 kilometer dari papan petunujuk tadi, saya temui hamparan laut luas, hanya berjarak 10 meteran dari aspal jalan. Bishop saya dekatkan kebibir laut, yang dibatasi dengan tanggul berbeton.

touch down
Pantai Karapyak yang berada di desa Bagolo, kecamatan Kalipucang pagi itu masih tergolong sepi, entah karena masih terlalu pagi, saat itu saya tiba dipantai ini pukul tujuh. Berderet rumah warga menghadap ke pantai, beberapa juga tampak penginapan kelas melati, tidak banyak warung makan/minum disini, suasananya masih sangat asri.

Beberapa tempak duduk terbuat dari beton juga tersedia, langsung menghadap ke laut lepas. Tapi sangat disayangkan ulah tangan jail, mencoret beberapa tempat duduk ini dengan cat semprot, sedikit menganggu keindahaan pantai. Mirip taman kota, dengan hamparan rumput gajah nan hijau menambah betah jika berada disini.

'karpet hijau' dan deburan ombak










“I think one travels more usefully when they travel alone, because they reflect more." ― Thomas Jefferson



Stop Vandalisme!:
 photo 25copy_zpsc2227c56.jpg
Jika saja tidak sedang gerimis saya akan berlama-lama disini. Hanya sekitar setengah jam dsini, perjalanpun dilanjutkan. Saya memang berniat dan penasaran untuk menelusuri jalan paling pinggir selatan Jawa. Ketika Google map menunjukan percabangan jalan, saya sempat berhenti untuk menengok kembali peta di layar ponsel. Jika kekanan akan menjauhi pinggiran Jawa, sedangkan ke kiri adalah mendekati ke laut selatan Jawa. Baiklah, saya mantap memilih belok kiri.

salah satu pemandangan setelahdari pantai Karapyak
Jalan aspal sudah tidak ditemui lagi disini, berganti dengan bebatuan kapur, sedikti licin karena hujan yang turun, beberapa kali ban bishop slip ketika saya mengeremnya. Kadang juga berganti jalan tanah merah. Terdengar suara ombak terdengar dari seberang tebing yang tertutup pepohonan. Sementara jalan semakin menyempit, melihat kedepan radius seratus meter. terdapat jalan setapak dan menanjak, Bishop pun saya berhentikan, dengan jalan kaki mendekat ketanjakan tersebut, untuk memperkirakan apakah bisa dilalui oleh Bishop.

balik kanan setelah melihat jalan didepan
Ternyata jawabnya 'tidak', dengan berat kosong Bishop yang mencapai 140 kilograman, jalan setapak dengan kemiringan sekitar 30 derajat, serta bertanah licin serasa tidak mungkin melewatinya. Memang jalan ini berbatasan tebing, yang jika saya melongoknya sudah terlihat hamparan laut selatan.

Masih ditemani gerimis, saya balik arah. Ternyata tantangan baru di depan mata, ketika sebelumnya saya melewati sebuah turunan dengan kondisi jalan tanah merah, biasanya disebut tanah keramik karena saking licinnya. Tentu saja ketika balik arah, menjadi tanjakan yang menguras energi untuk melewatinya.

Saya turun dari jok, menuntun Bishop diawal tanjakan, menarik handel gas dengan sedikit mendorongnya, tetap saja roda tidak bergerak maju sedikitpun hanya berputar-putar ditempat, sementara spakbor depan sudah terisi penuh oleh tanah, semakin menghambat laju roda.

Sampai akhirnya berhenti sejenak untuk sekedar mengambil nafas, dan memikirkan bagaiman bisa melewati tanjakan dengan kemiringan sekitar 25 derajat penuh tanah ini. Suara ombak dan kicauan burung sedikit menenangkan, ada rasa panik sedikit sebelumnya karena saya disini seorang diri, jauh dari pemukiman.

Tool kits saya keluarkan dari tank bag untuk mencopot spakbor depan, dengan tujuan agar memperlancar laju roda yang sudah penuh dengan tanah diantara ban dan spakbor depan. Terus terang saya belum pernah melakukan mencopot spakbor, setelah dicoba ternyata melepas baut dibagian dalam spakbor tidak mungkin dilakukan, jika tidak melepas roda depan terlebih dahulu.

Situasinya semakin sulit karena tempat berdiri bishop dipenuhi tanah untuk mencopot ban depan tentu saja akan kehabisan tenaga. Kepikiran untuk menghancurkan paksa spakbornya. Entah datang dari mana, saya mendapatkan ide untuk mengurangi tekanan angin ban depan dan belakang, konon bisa menambah traksi atau daya cengkram antara ban dan tanah. Setelah dikurangi tekananya, saya coba usaha mengeluarkan bishop dari tanjakan ini, dan akhirnya berhasil.

akhirnya bisa keluar
ada yang pesen donat?
Diujung tanjakan sambil nafas tersendat-sendat, saya bersyukur bisa keluar dari tanjakan jahanam itu. Dan mengambil pelajaran, bahwa tantangan dipejalanan diberikanNya bedasarkan batas kemampuan dari tiap-tiap orang yang diberi tantangan.

Menyusuri kembali jalan yang lebih layak karena terdapat beberapa pemukiman. hujan semakin deras, dingin membuat semakin mengigil, saya sadar bahwa jaket yang saya kenakan sudah dari kemarin terkena hujan dan airnya mulai meresap menyentuh kulit. Sambil mencari tempat kosong untuk ganti jas hujan dan berteduh sejenak. Akhirnya saya menemukan teras bengkel otomotif yang sedang tidak beroperasi. Hampir menghabiskan setengah jam disini, untuk ganti kostum dangan jas hujan dan perlengkapan lainnya supaya kedap air.

meneduh
perlengkapan kedap air 
Hujan tidak reda juga, perjalananpun dilanjutkan. Masih di kecamatan Kalipucang- Cilacap. Melalui jalan pedesaan berkendara ditengah rintik hujan sambil mendengarkan lagu kesukaan yang bergema didalam helm merupakan kesenangan tersendiri bagi saya. Oya sebelumnya google map navigasi saya arahkan ke pulau Nusa Kambangan. Ya..saya sudah merencanakan ketika diperjalanan untuk mendatangi pulau yang terkenal sebagai tempat beberapa Lembaga Pemasyarakat berkeamanan tinggi di Indonesia. Pulau tersebut juga kadang di juluki 'Alcatraz' nya Indonesia.

seberang sungai adalah pulau Nusa Kambangan
Hamparan sawah padi terlihat luas, berbatasan dengan sungai lebar menuju laut. Sedangkan di seberangnya lagi terdapat dataran. Jika melihat google map di ponsel, saat posisi saya berada, dataran yang terlihat itu adalah pulau Nusa Kambangan. Baru pertama kalinya saya berada disini. Tidak seperti bayangan saya sebelumnya,  ketika dahulu pernah mendengar tentang pulau ini. Sebelumnya saya kira,  dari mulai pinggir pulau sudah dipagari layaknya penjara-penjara yang pernah saya lihat.

Sampai akhirnya laju roda bishop terhenti ketika saya melihat papan besar bertuliskan "Pelabuhan Penyebrangan Majingklak" setelah mengambil foto di depan gerbang pelabuhan, saya beranikan untuk masuk ke kawasan ini. Disambut seorang wanita, jika dilihat dari penampilannya beliau adalah seorang ibu rumah tangga.

didepan gerbang pelabuhan
"Permisi bu, boleh saya tanya-tanya?"  saya membuka percakapan setelah melepas helm
"Oh..silahkan, mau tanya apa, mas?"jawab ibu itu menyambut hangat
"Begini bu, kalo saya mau ke Nusa Kambangan apakah benar bisa melalui pelabuhan ini? saya bertanya lagi.
"Iya benar, mas. Tapi coba saya tanya bapaknya (suami ibu tersebut)" seusai menjawab, beliau menuju rumah disebelah pos, sambil memanggil suaminya.
Tidak lama, sang suami keluar  sambil mengajak saya masuk kedalam rumah tersebut, kata bapak tersebut "supaya enak ngobrolnya"

disambut
Adalah bapak Abdullah yang mengajak saya masuk sebuah rumah seukuran kira-kira enam puluh meter persegi. Tampak masih dalam perbaikan, pak Abdul juga menjelaskan diawal obrolan jika ini adalah rumah dinas yang baru dibangun untuk menjalankan tugasnya sebagai pengawas di PT. ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyebrangan). Beliau sudah mengabdi di ASDP sekitar 11 tahun, berpindah-pindah tugas di beberapa provinsi termasuk pernah bertugas di Papua. Beliau kelahiran dan besar di kota Bandung, dari logat bahasanya sudah bisa saya tebak sebelumnya.

Setelah mengutarakan maksud saya, pak Abdul menjelaskan jika ingin menyeberang ke pulau Nusa kambangan dapat menggunakan perahu yang bisa disewa seharga kisaran empat puluh sampai lima puluh ribu rupiah. Untuk mencapai pulau itu memakan waktu tidak lebih dari setengah jam. Jika ingin kembali, tinggal hubungi aja operator perahu yang disewa tadi via telepon, makan akan dijemput kembali. Pak Abdul menjelaskan segala sesuatu info yang saya butuhkan secara detail. Sambil ditemani kopi panas, obrolan pun semakin hangat.

Hujan juga tidak semakin reda, malah deras. Pak Abdul bercerita panjang lebar. Saya merasa menjadi pembawa acara talk show tokoh inspiratif. Kenapa demikian?saya lebih banyak mendengarkan cerita dari pak Abdul tentang berbagai hal. Bahwa ternyata beliau punya hobi mengendarai motor yang lebih umum di sebut touring dengan berbagai komunitasnya. Tapi sudah ditinggalkan hobinya tersebut, sekarang lebih sering masuk keluar hutan dengan menggunakan motor jenis trail yang beliau modifikasi/membuat sendiri.

Keahlian meracik jenis motor trail yang dari awalnya motor bebek atau batangan biasa ini, akhirnya beliau memutuskan untuk mendirikan bengkel modifikasi di kecamatan Kalipucang ini. Dengan merekrut pemuda-pemuda yang awalnya menganggur, bengkel tersebut bisa menajadi lahan nafkah bagi para pemuda yang bekerja disana. Beliau sendiri tidak ber-orientasi pada keuntungan materi atas bengkel itu. Baginya, bengkel itu sudah bisa beroperasi, bisa menyalurkan kegiatan postif dilingkungannya sudah cukup. Sungguh niat yang mulia.

bersama pak Abdul
Sudah satu jam lebih saya bersama pak Abdul, hujan juga malah semakin deras. Sedangkan waktu sudah menunjukan hampir pukul 12 siang. Saya memutuskan untuk tidak menyeberang ke pulau Nusa Kambagan karena lasan cuaca dan waktu. Mungkin lain waktu bisa mempunyai kesempatan lagi kesana. Sayapun berpamitan dengan pak Abdul beserta istri seraya mengucapkan banyak terimakasih atas informasi dan kehangatan sambutannya.

Mengingat waktu yang semakin siang, saya fokus untuk samapi Jogja hari ini. Rute yang ditempuh selanjutnya adalah Kalipucang-Cilacap-Kebumen-Jalan Daendels-Yogyakarta. Alhamdulillah saya tiba dirumah orang tua (Tempel-Sleman) saat waktu menunjukan pukul sembilan malam.
Bapak dan Ibu, maafkan anakmu yang pulang telat (lagi).

melewati daerah Kawunganten, Cilacap. Tidak serasa sedang mudik. Tidak macet. 
masuk kota Kebumen, dan melewati perbukitan itu
istirahat dipinggir jalan Daendels
ba'da magrib melewati kota Ambal-Kebumen, menyantap makanan kesukaan yaitu sate Ambal,
 warung milik pak Kasman


**********











2 komentar:

  1. mantab soul kak


    :D

    BalasHapus
  2. senang sekali bacanya..betullll,serasa pingin tau aja setelah tau gak bisa jalan..!! baru terasa gak pingin tau, dan setelah itu mulai kalut...hehe sama seperti saya, tapi setelah itu lagi terasa indah dan legaaaa...salam, pokoknya mantaaap..

    BalasHapus