Minggu, 22 Juni 2014

Sudah Jatuh, Tertimpa Motor Pula

Alarm dari handphone tidak terdengar saat terbangun pagi Sabtu (24/05/2014), rencana akan berangkat pukul  03.00 dinihari pun telat hingga kami berangkat ketika jam tangan menunjukan pukul 05.00 pagi. Sudah lama saya tidak merasakan syndrome pra perjalanan, biasanya indikasinya susah tidur sebelum berangkat melakukan perjalanan. Tapi malam itu saya tidur sangat nyenyak. 

Saat melaju diawal-awal kilometer masih bingung mau lewat jalur yang mana, antara jalur utara Jawa atau selatan. Masih teringat 2 minggu sebelumnya, ketika saya pulang ke Jogja dengan menggunakan bis, masih banyak perbaikan jalan di jalur Pantura. Akhirnya saya memetuskan lewat selatan. 

Entah kami akan kemana, tapi yang jelas nantinya sampai Jogja, mampir di rumah orang tua, setelah disana baru menentukan mau kemana lagi. Kami punya waktu 6 hari untuk perjalanan kali ini setelah mengabil jatah cuti 2 hari, ditambah libur tanggal merahnya.

pagi di Jonggol
Sarapan bubur Cianjur:
 photo buburcopy_zpsd1ccefe0.jpg

Saya dan Neni yang duduk manis di jok belakang melewati rute Cikarang-Jonggol-Cianjur tidak mengalami hambatan berarti, cuma terlihat matahari sudah mulai naik, menandakan bahwa kami kesiangan ketika berangkat. Tapi tak mengapa, toh kami tidak terburu-buru untuk menikmati perjalanan ini. Sekitar pukul 08.00 kami tiba di kota Cianjur, seketika berhenti ketika melihat penjual bubur ayam. Dan melakukan ritual sarapan disini. 

Melanjutkan rute selajutnya, Padalarang-Cimahi dan Bandung, panas menyengat matahari semakin terasa, apalagi kemacetan di jalan Soekarno-Hata, Bandung sudah dimulai. Kecepatan Bishop tidak bisa dipacu kencang, harus beberapa berhenti karena berebut jalan dengan kendaraan lain, dan juga lampu merah yang memaksa saya menarik tuas rem.

Masih dijalan Soekarno-Hatta, saya melihat motor yang tidak asing, lengkap stiker logo suatu forum komunitas sepeda motor. Dia adalah om Adrian salah satu ketua chapter, Prides. Sempat mengobrol sebentar ketika lampu merah menyala, bahwa tujuan beliau akan melakukan perjananan ke arah timur, Surabaya-Madura bahkan samapai Bali jika waktunya cukup, katanya. Sesudah lampu hijau menyala, dengan Kawasaki 250 cc nya, om Adrian melesat hilang ditengah kemacetan, karena memang sudah ditunggu salah satu rekannya yang akan bersama melakukan perjalanannya.

Mungkin karena semua berpikiran bahwa jalur utara akan menimbulkan kemacetan seperti yang kami pikirkan, dan memilih jalur selatan. Maka yang terjadi malah sebaliknya. Kami harus selap-selip diantara mobil, truk dan bis. Kawasan Nagreg yang penuh tanjakan juga tidak luput dari antrian panjang kendaraan, karena kendaraaan berat/besar kepayahan menanjak. Sekitar jam 12 siang, kami baru keluar dari Nagreg. Segera mencari tempat makan siang. Kemacetan ternyata membuat perut kami semakin kencang berkeroncong.

Macet dimana-mana:
 photo macetcopy_zpsa7ed6c46.jpg

Setelah kenyang dan isitirahat di rumah makan yang berlokasi selepas Nagreg, perjalanan dilanjutkan menembus teriknya sinar mentari. Walau tidak sampai dehidrasi, kami beberapa kali untuk sekedar beli air minum, sekalian numpang istirahat di terasnya.

Tepatnya disebuah minimarket daerah Ciamis dengan tidak disengaja, tiba-tiba datang dua sepeda motor, salah satunaya adalah om Adrian yang ketemu di Bandung tadi, diikuti dengan om Salum. Walaupun belum pernah betatap muka dengan om Salum secara langsung, tapi kami pernah ber inetraksi lewat forum Prides-Online.com maupun di media sosial. Sambil isitrahat, om Salum bercerita, ketemu om Andrian setelah kesasar beberapa kilometer dari jalan seharusnya, maklum saja ini pertama kali beliau menyusuri jalur selatan jawa ini.

Selanjutnya kami sepakat untuk berkendara bersama, karena arah tujuannya sama. Cukup menyenangkan berkendara dengan mereka, sebelumnya beberapa kali saya pernah ikut turing bersama dengan komunitas Prides. Tidak seperti yang sering saya lihat, ketika beberapa klub/komunitas motor berkonvoi, dengan meminta jalan ke pengguna jalan lainnya, menghidupkan sirene/lampu strobo, atau meperlihatkan arogansinya. Oya..di Prides ini juga, jika ada anggotanya mengunakan atau memasang sirine/strobo, dan sudah diperingatkan tetap mengunakannya akan di non-aktifkan ID-nya  (banned) dari forum online.

Walau kedua nya mengendarai motor berkubikasi lebih besar (250 cc) dari Bishop, kami bisa membuat group riding dalam satu irama dan ritme, walaupun bishop cukup kewalahan meladeni ketika menikmati kecepatan roda di atas rata-rata, ketika jalan raya memungkinan untuk menambah kecepatan. Beberapa kali Neni berucap, "udah, pelan-pelan saja" mencoba memperingatkan ketika saya sudah menarik trotel gas maksimal.

dengan 250cc:
 photo duetninjacopy_zpsb4cd9bd7.jpg

Selepas magrib, tiba di Purwokerto kami berpisah, karena saya dan Neni akan menuju Wonosobo, dan om Adrian serta om Salum akan ke Jogja via Kebumen-Purworejo.

Malam semakin menjelang, bishop diarahkan ke Banjarnegara lalu Wonosobo. Kami memang merencanakan bermalam didaerah pegunungan sekitar Wonosobo, karena kami sudah membawa lengkap peralatan berkemah.

Rencana yang diangan-angan seketika buyar ketika kecelakaan menimpa kami. disekitaran jalan raya Banyumas - Banjanegara, kejadiannya begitu cepat terjadi ketika Bishop sudah berbaring, dan menimpa tubuh kami. Setelah disadari kejadian itu akibat saya berpindah jalur, karena didepan kami jalannya dialihkan akibat adanya pengerjaan perbaikan jalan. Karena jalan disini kurang penerangan, ketika Bishop pindah jalur, ternyata tinggi permukaan jalan tidak rata, selisih sekitar 10 centimeter, akibatnya  roda depan tergelincir dan saya tidak bisa mengendallikannya.

Berdatangan beberapa orang sekitar, dari penduduk sekitar sampai pekerja proyek jalan. Mereka berusaha menolong kami, dengan memindah bishop kepinggir jalan. Salah satu warga juga ada yang mebawa air minum dan berusaha menenangakan keadaan. Setelah saya bertanya keadaan Neni, sedikit memar dibagian lutut, tapi dia bilang "gak papa" sedikit membuat saya lega. Sementara saya sedikit menahan sakit di lutut kaki, setelah melihatnya ternyata lutut sudah terluka dan celana sobek di bagiannya yang sama. Saat itu memang kami tidak memakai alat pelindung dibagian tubuh itu. Bagian siku tangan terlindungi karena jaket Respiro Bravent yang kami kenakan sudah terdapat pelindung terbuat dari karet bersertifikasi CE.

Tidak lupa saya memeriksa keadaan Bishop, terlihat setangnya sudah tidak pada bentuk normal lagi. Tak begitu masalah karena mesin masih bisa menyala. Kami istirahat sambil mengobati luka yang dilutut. Terdengar obrolan di kerumunan waarga, salah satu orang berkata: "jika kecelakaan seperti ini sudah terjadi sekitar  lima kali". Apa???berkata dalam hati saya menyela, pengerjaan proyek seperti ini tidak diberi rambu-rambu atau penerangan yang cukup, memang cukup efektif memberi 'jebakan' setiap pengguna jalan ketika melintas pada malam hari.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan, untuk selanjutnya mencari tempat makan malam. Tidak lama kemudian, menemukan warung nasi goreng dipinggir jalan. Makan malam disini sambil berunding, rencana setelah ini dengan keadaan tubuh yang mulai lelah dengan sedikit luka, dengan kedua alasan itu, maka kami memutuskan untuk menginap, jika menemukan penginapan. Setelah menyelesaikan makan, kami bergegas, untuk mencari tempat beristirahat. Di kota Banjarnegara, kami mendapatkan penginapan, dan istirahat disini

Pagi pukul 06.00, terbangun, segera menyiapkan untuk keberangkatan ke kota selanjutnya. Melewati kota Wonosobo, kami disuguhi pemandangan pengunungan, jalan yang kami lalui serasa diapit oleh dua gunung besar, yaitu Sumbing dan Sindoro, tampak jelas dipandangan kami gunung tersebut menjulang, walau kadang-kadang awan menyelimutinya. Udara segar, hari cerah memnambah semangat kami untuk berkendara, walau kadang menahan sakit luka di lutut ketika menginjak pedal rem, tapi rasa itu hilang ketika kami dengan riang berhenti, mengambil tripot, dan mengabadikan dalam kamera dengan latar belakang gunung Sindoro ataupun Sumbing.

gunung Sindoro nan gagah
Neni tampak mungil sekali :D
Sampai kami temui, gerbang bertuliskan "Welcome to Posong". Nama Posong beberapa kali saya baca lewat artikel. Daripada penasaran, kami masuk jalan yang mirip jalan menuju suatu kampung. Kami di cegat beberapa pemuda kemudian menyerahkan karcis tanda retribusi masuk kawasan ini, tiket seharga lima ribu rupiah kami bayar. Layaknya dataran tinggi, jalan menanjak kami lalui, dengan pemandangan persawahan tembakau.

pintu masuk Posong
Masih jalan menuju Posong :
 photo DSC_0892copy_zpsbc880179.jpg
Jalan terdiri dari batu yang ditata rapi, walaupun permukaan tidak mulus, tapi relatif mudah di lalui, beberapa kali kami juga menemui pengunjung mengendarai motor jenis matik. Jarak 3 kilometer dari pintu gerbang tadi sudah dilewati, kami tiba di parkiran pengunjung kawasan Posong ini. Terlihat terdapat gazebo, yang digunakan untuk beristirahat atau  melihat pemandangan di lokasi ini.

Oya..tempat ini menurut dari berbagai sumber informasi, adalah tempat atau pos yang digunakan pangeran Diponegoro, salah satu pahlawan kemerdekaan, ketika terdesak dari pasukan Belanda kala itu. Pangeran Diponegoro mendirikan beberapa pos di desa Tlahab, kecamatan Kledung ini. Posong ini menurut cerita kependekan dari kata Pos Kosong, alias pos yang sudah tidak digunakan lagi.

Kami tidak lantas menuju gazebo untuk istirahat, tetapi dari parkiran kami menyaksikan hamparan luas persawahan sepanjang mata memandang. Sayang sekali setengah dari gunung Sumbing tertutup awan, sedangkan gunung Sindoro tidak tampak sekali karena awan juga. Terdapat jalan setapak, ditengah-tengah persawahan. Setelah tanya petani tembakau yang kami temui, jika jalan ini bisa dilewati sepeda motor, tapi tidak bisa sampai bawah, alias buntu.

Tapi tidak merubah keinginan saya untuk turun kebawah bersama Bishop, sementara Neni tidak ikut, tetap memotret lansdkap di dekat parkiran. Tapi..apa yang terjadi??ketika melewati turunan pertama, Bishop tidak bisa dikendalikan, memanfaatkan engine break ataupun menekan dalam-dalam rem depan dan belakang tidak berpengaruh, Bishop terperosok bebas, kedua ban tidak ada traksi sama sekali terhadap tanah yang memang licin sehabis hujan.

nyungsep
Kanan jalan terdapat seperti sungai kecil buat pengairan sawahpun jadi pembehertian Bishop, dengan posisi ban depan dibawah, mungkin bisa di istilahkan "nyungsep". Sebelum akan masuk sungai saya sempat lompat dari Bishop, sehingga masih diberikan keselamatan diri. Beberapa petani yang tidak jauh dari lokasi, mendekat ke bishop, berusaha membantu menarik Bishop dari sungai. Tidak bisa dibayangkan jika tidak ada para petani yang membantu, sangat mustahil menarik Bishop yang berbobot sekitar 150 kg berdua dengan Neni. Kami mengucapkan banyak terimakasih kepada bapak petani tersebut setelahnya.

setelah jatuh, tetep turun
Sindoro malu-malu tertutup awan
Setelah mengecek keadaan bishop, dan mencobanya sebentar melewati sisa jalan persawahan ini. Ternyata, rangka bishop tidak lurus lagi, terlihat antara roda depan dan belakang sudang menyimpang. Segera memutuskan untuk segera meninggalkan tempat ini, dengan pertimbangan waktu, sehingga kami bisa tiba di Jogja tidak terlalu sore dan bisa ke bengkel buat perbaikan Bishop.
sebenarnya lukanya kecil, tapi lumayan terasa nyeri ketika mengijak pedal rem:
 photo DSC_0948copy_zps8140dff9.jpg

Melewati kota-kota selanjutnya, Parakan-Temanggung-Secang-Magelang akhirnya kami tiba dirumah orang tua yang berada di kecamatan Tempel, kabupaten Sleman sekitar pukul 15.00. Karena kondisi tubuh yang serasa remuk setelah jatuh sebanyak 2 kali, saya lebih memilih menghubungi tukang pijat langganan ketika sampai rumah, daripada pergi ke bengkel.


bersambung.....