Kamis, 01 Mei 2014

Merapi Trail #3

Kaliadem yang terik 
Sesampainya di Kaliadem kami berhenti sejenak untuk sekedar menenggak air mineral, dan mengambil beberapa foto. Kawasan ini berada di selatan gunung Merapi, saya dapat melihat pucuk gunung dengan jelas, disamping karena cuaca yang cerah saat itu, ditempat kami istirahat hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari puncak Merapi. Tidak heran jika kawasan ini habis dilahap oleh awan panas saat erupsi. Tadinya tempat ini dipenuhi oleh hijauan pohon, sekarang telah menjadi hamparan pasir batu muntahan Merapi. 

Saya langsung menanyakan ke Bagas, tentang rute selanjutnya. Bagas menawarkan dua pilihan, bedasarkan tingkat kesulitan rute yang akan di lalui. Saya memilih pilihan kedua, yaitu rute yang lebih menantang daripada pilihan pertama. 

Tanpa membuang banyak waktu, Bagas saya ajak untuk melanjutkan rute selanjutnya. Kami pun segera turun dari Kaliadem. Karena jalannya menurun kami bisa leluasa memainkan kecepatan motor, terkadang 'terbang' ketika melewati gundukan. Seru!. Tetapi beberapa kali juga harus meperlambat laju motor ketika akan menyalip truk pegangkut pasir atau batu. Jalannya hampir dipenuhi oleh badan truk. Harus extra hati-hati menyalipnya karena permukaan jalannya tidak rata dan terdapat beberapa batuan. Jika motor goyang sedikit ke kanan atau kekiri akan celaka. 

Tiba-tiba Bagas menajak turun ke sebuah sungai yang airnya sedang tidak mengalir. Seperti apa medannya? Mari kita telusuri. Pertama sudah disambut dengan hamparan batu yang besarnya rata-rata lebih besar dari kepalan tangan orang dewasa. Perlu sedikit penyesuaian mengedalikan motor. Tetapi tidak lama berselang akhirnya saya bisa menyesuaikan. Beberapa kali juga melewati batu besar yang sepertiganya memenuhi lebar sungai. Kami lewat sela-sela, sedapat mungkin roda bisa masuk diantara batu-batu itu. 

sambutan selamat datang
batu dimana-mana:
 photo edit132of1copyjpgMARK_zpsb45d3751.jpg

menunggu giliran lewat:
 photo edit192of1copyjpgMARK_zps44051c37.jpg

Sungai ini bernama Sokarya, merupakan anak sungai dari Opak. Posisi sungainya di pagari oleh tebing menjulang, walaupun tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 10 meter menjulang. Tapi cukup membuat kami seperti di lintasan mobil mainan Tamiya. Kanan kiri pepohonan sudah tampak menghijau, sekali laju roda terhenti setelah melihat batang pohon seukuran paha kaki melintang di lebar sungai. Kami harus menundukan tubuh dan mematahkan beberapa ranting supaya bisa melintas. 

pohon tidur
Entah mengapa walaupun belum begitu jauh kami menyusuri sungai ini, tetapi napas seperti tersendat-sendat, cukup menguras energi. Setiap kejadian seperti itu, kami berhenti untuk isitrahat dan minum air mineral yang kami bawa, sesekali Bagas bercerita tentang kesehariannya menjadi pemandu tour motor trail seperti ini. Seperti cerita tentang peyewa yang kecelakaan sampai patah tulang tangannya karena jatuh dari motor dan terbentur batu, penyewa itu tidak kapok untuk datang lagi untuk menyewa trail lagi dan keliling kawasan Merapi. 

diantara tebing
Karena jalan sungai kering ini mengarah ke utara ini berarti kami posisi menanjak, walau tidak ektrim menanjaknya tapi cukup merepotkan, apalagi menenemukan rintangan dengan tanah yang posisi lebih tinggi, dan kami harus melewatinya. Cekungan atau lubang akibat terbentuk dari tekanan air sungai, cukup membuat berkeringat tubuh ini. 

menanjak

gilirannya Bagas:
 photo edit172of1copyjpgMARK_zps9366002d.jpg
Yang cukup mencengangkan, ketika Bagas berada di depan, tidak terlihat oleh saya karena masih berada di balik tikungan, pandangan saya pun terhalang tebing. Ketika lepas dari tikungan, saya mendapati Bagas sudah tersungkur diantara batu, motornya sebagian masuk kebongkahan batu besar. Sambil tersenyum saya menanyakan kondisi Bagas, ternyata dia dalam kondisi yang baik. Hanya luka kecil hasil gesekan batu dengan tangannya. Setelah kami bahu membahu menarik motor Bagas yang terjepit batu besar, akhirnya kami bisa tersenyum lega karena semua dalam kondisi yang baik untuk bisa melanjutkan perjalanan.

Bagas gubrak
Ada KLX di balik batu:
 photo edit152of1copyjpgMARK_zpse38d4b30.jpg
Sungai ini juga digunakan untuk mencari nafkah warga  terdekat untuk menambang pasir, seperti yang kami temui, dua orang ibu sedang menyaring pasir dari bebatuan menggunakan jaring kawat, dan mengumpulkannya kemudian menunggu truk yang datang untuk mengangkut pasirnya. Wanita-wanita perkasa beberapa kali kami temui sepanjang rute. Jika melihat ibu-ibu itu berjibaku dengan wadah pasir, pacul dan tampak begitu iklasnya menjalankannya, saya saat itu merasa menjadi orang yang paling manja se-dunia.

Wanita perkasa:
 photo edit222of1copyjpgMARK_zpsc748c3a1.jpg
Tidak terasa kami sudah sampai akhir rute, dan mengakhiri tour ini. Pengalaman yang cukup mengesankan. Walau dari segi jarak dan durasi tidak panjang, sekitar 20 - 30 kilometer dan lamanya kira-kira 2,5 jam. Terimakasih Bagas yang telah menemani perjalanan ini. Walaupun kita baru pertama ketemu tetapi bisa sangat menikmati tour ini. Semoga bisa ketemu di lain waktu, dan semoga cita-citamu memiliki KLX sendiri tercapai. Saran saya, jika sudah mendapat penghasilan cukup, teruskan pendidikanmu yang sekarang terhenti.
keluar sungai Sokarya:
 photo edit232of1copyjpgMARK_zps0a919708.jpg
Merapi tidak pernah ingkar janji, termasuk menjajikan petualangan seru dengan mengendarai motor jenis trail, serta menawarkan cerita dibalik keganasan erupsinya. Silahkan mencoba ketika ber-Wisata ke Sleman, dan rasakan sensasinya.

-T A M A T-



7 komentar:

  1. Ngilu mbayangke scorpio mlebu watu-watu kuwi ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. opo meneh rider-e gedene sak mono :v

      Hapus
  2. Wah keren bgt mas,, tau gitu tak gowo trail ku dari jakarta.. Hehehehee nanti cobain sewa KLX disana ahh mas. Thanks yo mas info nya..

    BalasHapus
  3. Broo klu boncengan bareng pasangan boleh ndak? Apa ada tambahan biaya?

    BalasHapus
  4. Broo klu boncengan bareng pasangan boleh ndak? Apa ada tambahan biaya?

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus