Rabu, 30 April 2014

Merapi Trail #2

[cerita sebelumnya klik di sini]

Semenjak erupsi gunung Merapi 2010 dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, kecamatan Cangkringan, Sleman-Yogyakarta ini memang menjadi objek wisata dengan daya tariknya, antara lain: kisah alm. Mbah Maridjan yang kala itu menjabat sebagai juru kunci gunung Merapi, wafat dikediamanannya saat Merapi memuntahkan isinya, di dusun ini terdapat 'tetenger' atau tanda tempat dimana beliau ditemukan sudah meninggal dunia. 

Sesampainya di desa ini, saya melihat papan bertuliskan "Rental Jeep, Trail & Peralatan Camping", saya belokan ke kanan motor kearah tempat rental-an tersebut. Setelah bertanya penduduk yang lewat saat itu, akhirnya ditunjukan sebuah rumah. Tuan rumahnya bernama mas Eko, beliau adalah pemilik motor trail yang akan di sewakan. 

Setelah mengutarakan maksud saya datang kesini, mas Eko sambil menyodori sebuar brosur lengkap dengan daftar harga beberapa paket tour dengan motor trail KLX Kawasaki 150 cc ini. Serta ada juga daftar harga jika akan meyewa mobil "Jeep" , atau peralatan camping. Untuk rental motor trail sendiri dibagi menjadi 4 paket, yaitu jalur Short, Medium, Long dan Sunrise, tentu dengan harga dan durasi penyewaan yang berbeda di tiap jalur. 

brosur rental trail & jeep di Merapi
Saya memilih jalur Medium, dengan alasan durasi yang tidak terlalu lama, dan juga dana yang terbawa didompet saat itu. Oya saya dapat potongan harga dari mas Eko setelah berjanji akan memposting cerita perjalanan ini di blog. Sesudah deal dengan harga sewa, yaitu 150 ribu (belum diskon) saya disuruh menunggu beberapa saat, sementara mas Eko pergi sebentar untuk memanggil pemandu yang akan menemani selama tour

Tidak lama kemudian mas Eko sudah datang kembali ditemani seorang remaja dengan riding gear layaknya motor offroader, walaupun ada yang kurang lengkap apa yang dia kenakan, yaitu sarung tangan. Disini juga akan dipinjami helm dan sepatu boot jika penyewa tidak membawa. Saya meminjam helmnya saja, karena saat itu hanya membawa helm half face. Sedangkan mas Eko mempunyai dua motor yang disewakan, saya disuruh memilih. Saya memilih motor yang knalpotnya free flow, alias knalpot plong, apapun istilahnya yang jelas suaranya lebih keras/kencang, dan katanya bisa menambah tenaga si motor.

isi bensin
Tidak banyak basa-basi, saya dan Bagas (nama pemandu) segera tancap gas, sebelumnya Bagas bilang akan mengisi bensin terlebih dulu. Setelah itu saya berada belakang Bagas menyusuri sungai Opak yang berada tepat disebelah timur Kinahrejo. Seperti diketahui sungai ini adalah jalur lahar dingin saat erupsi, bermaterial pasir, batu beraneka ukuran, material ini bertambah jutaan kubik setelah erupsi terjadi. 

Batuan lepas mayoritas berukuran sekepal tangan orang dewasa, kami lewati. Lebih banyak mengandalkan engine brake karena jalannya menurun, kadang tanpa sengaja menekan rem depan/belakang akan membuat motor slip jalan bebatuan, hampir jatuh dibuatnya. Sungai ini juga berbentuk jalan ditengahnya terutama, karena tempat ini juga buat hilir mudik truk yang akan mengangkut pasir atau batu dari sungai ini. Kurang lebih 5 kilometer kami melalui jalur sungai Opak ini, selanjutnya keluar dan masuk ke dusun Petung. 

keluar dari sungai Opak
Tiba-tiba Bagas masuk dipekarangan rumah, memarkir motornya saya pun mengikutinya. Tampak rumah yang rusak parah, temboknya sudah mencoklat seperti sehabis kebakaran, atapnya sudah diganti dengan model asbes bergelombang yang tampak belum begitu lama terpasang. Didepan tampak mencolok seperti fosil hewan sapi atau entah kerbau, dengan tulang belulangnya disusun rapi membentuk hewan tersebut. Tampak beberapa barang seperti rongsokan dijejerkan diatas meja kayu. Setelah mendekat dan diperhatikan dengan sesakma, barang itu merupakan peralatan rumah tangga yang berada di dalam rumah ini, dan berubah bentuk ataupun warna karena terjangan awan panas Merapi. 

Museum Sisa Hartaku
Museum Sisa Hartaku begitu disebutnya, tepatnya berlokasi di dusun Petung, desa Kepuharjo, kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman ini memajang beberapa barang yang tersisa saksi keganasan awan panas Merapi, atau 'wedus gembel' warga setempat menyebutnya. Saya masuk kedalam rumah yang dibagi beberapa ruangan, layaknya rumah normal. Setiap temboknya dituliskan behuruf ukuran besar, bertemakan ungkapan perasaan para korban erupsi, yang setiap kalimatnya mengisyaratkan tentang kesedihan ketika bencana melanda dan juga rasa optimis bisa bangkit kembali setelah erupsi terjadi.  

Ada hal unik juga disalah satu ruangan, terdapat jam dinding yang sudah rusak terbakar, jarum jam berhenti tepat saat letusan Merapi terbesar saat itu. Atau beberapa pusaka keris terpajang, dan beberapa batu mulia  sebagian sudah berbentuk cicin, ketika saya akan mengambil gambar lewat kamera, di tembok terdapat larangan untuk memotretnya. Bagas juga bercerita ada beberapa waktu lalu pengunjung 'nekat' memotretnya tetapi ketika dilihat hasilnya, benda-benda tersebut tidak tampak di fotonya.

Jam Erupsi:
 photo edit27editextreme2of1WATERMARKcopy_zps7fb330a4.jpg
Pusaka:
 photo edit30editextreme2of1copyjpgWATERMARK_zps07bdc6e7.jpg
Ungkapan:
 photo edit26editextreme2of1copyjpgWATERMARK_zpsccc659e7.jpg
Tidak lama kami disini, langsung mengarah ke utara lagi. Saya tidak asing dengan jalan ini karena beberapa kali melewatinya dengan Bishop. Benar saja, jalan ini adalah menuju Kaliadem, karena saat itu Bagas berada depan sedang menjalankan tugasnya, maka saya ikuti saya dia. Masih melewati jalan terjal, walau masih ada sebagian sisa aspal. tapi lebih banyak tetutup pasir dan kerikil. Di jalan ini kami lebih bisa memacu motor lebih kencang daripada sebelumnya ketika melewati sungai Opak. 

Beberapa kali Bagas sengaja menarik handel gas lebih dalam ketika melewati gundukan pasir atau batu, efek jumping pun terjadi. Remaja putus sekolah itu tampak lihai menggerakan stang kemudi motornya. Saya kadang mengikuti gerakan Bagas, dan merasakan berkendara roda dua yang menyenangkan, paling tidak bagii kami saat itu. Tidak lama kemudian sampailah kami di lokasi Kaliadem, yang menjadi titik tujuan wisatawan lain. Merapi semakin tampak jelas dari sini. 

menuju kaliadem

bersambung...



Senin, 28 April 2014

Merapi Trail

Sebenarnya tidak ada rencana untuk 'bermotoran' di Jogja, karena kedatangan ke kota ini (kamis, 24/04/2014) terbilang mendadak dengan adanya kecelakaan yang menimpa Ibunda, dan saya pulang tanpa Bishop untuk menengok beliau. 

Dua hari lebih banyak menghabiskan waktu dirumah saja, yaitu dusun Trumpon, desa Merdikorejo ,kecamtan Tempel, kabupaten Sleman, tetapi hari Sabtu-nya hasrat untuk pergi ke suatu tempat dengan mengendarai sepeda motor tiba-tiba timbul. Melihat kondisi ibu yang berangsur membaik setelah operasi tangan, akhirnya meluncurlah ke tempat yang selalu kunjungi setiap pulang kampung. 

Kawasan Gunung Merapi adalah tempat pelampiasan untuk berkendara walaupun tanpa Bishop. Dengan alasan lokasi ini dekat dengan rumah yaitu berjarak sekitar 10 kilometer. 

Motor Bapak
Dengan menggunakan motor bebek Honda Supra X, saya menuju ke lokasi. Motor ini boleh dikatakan 'keramat' karena ini kendaraan yang digunakan oleh ayahanda sehari-hari, sekedar untuk operasional sehari-hari termasuk pergi-pulang ke kebun salak sebagai lahan mencari nafkah. 

Saya tidak menggunakannnya 'semena-mena' yang kadang dilakukan terhadap bishop. Supra X dipacu perlahan pagi itu, sekitar jam 06.00. Udara segar pegunungan, hijaunya lahan perkebunan salak pondoh, hiruk pikuk kehidupan warga yang mulai tampak terutama terlihat di pasar tradisonal, mengiringi saya menuju Merapi.

Memang rute ini termasuk alternatif, saya tinggal mengarah ke utara, melewati beberapa desa yang masuk daerah administratif kecamatan Turi. Jalan cukup saya hafal karena sering melewatinya. Terlihat Merapi gagah berdiri menandakan cuaca hari itu cukup cerah. 

cerah
Setelah berkutat di jalan pedesaan sampailah saya di jalan Kaliurang, jalan ini merupakan jalan utama jika akan menuju kawasan Merapi dari kota Jogja. Jika dari arah selatan (kota Jogja), kira-kira jalan Kaliurang km 60 makan sebelah kanan jalan ada petunjuk dengan papan bertuliskan Merapi Golf. Ikuti jalan tersebut terus ada beberapa petunjuk lagi setelahnya yang mengarah ke desa Kinahrejo. 

Tidak sulit menemukan lokasi 'Wisata Volcano Merapi Tour' ini, karena banyak petunjuk arah menuju tempat ini, setelah masuk dari jalan Kaliurang.

oya, sebelum sampai jalan Kaliurang lewat sini dulu, Museum Merapi. 

Kinahrejo.

Cerita selanjutnya klik di :

Merapi Trail #2

Merapi Trail #3