Sabtu, 01 Februari 2014

Around #Ujung_Kulon

Rembesan air hujan yang menempel di tenda terasa ketika terbangun setelah menempuh perjalanan selama 15 jam menuju lokasi NNRUK, tertidur pulas membuat hujan malam harinya tidak mengusiK sampai akhirnya menengok keluar tenda dan menyadarkan jika saat itu sudah pukul 6 pagi. 

Baru benar keluar tenda setelah seorang teman mengoyang-goyangkan tenda dengan bermaksud membangunkan. Diluar ternyata sudah banyak tenda berdiri, tidak terlihat sebanyak ini pada dinihari ketika kami tiba dilokasi. Menyusul beberapa teman datang disekitar tenda dan beramah tamah kami disini.



Setelah siang menjelang saya berkeinginan untuk melihat ada apa saja disekitar kawasan Ujung Kulon. Langsung buka google map, ternyata ada beberapa jalan menuju sampai batas kendaraan bisa dilewati, yaitu bebatasan langsung dengan hutan kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.

Beberapa teman yang bersedia untuk bergabung melihat sekitar Ujung Kulon dengan tunggangannya, antara lain Latanza, Dadang dan Om Ori. Bertolak dari lokasi NNRUK di Sunda Jaya homestay , Desa Taman Jaya kami menuju ke barat lagi. Jika dilihat dari map jarak antara Sunda jaya dan batas Taman Nasional Ujung Kulon (paling barat) adalah sekitar 5 kilometer.

Melewati jalan yang tidak jauh berbeda dengan sebelumnya yaitu berupa jalan aspal rusak, kadang tanah berkubang seakan membuat ketagihan untuk melewati kembali setelah diniharinya melakukan hal sama. Tetapi kali ini karena siang hari maka untuk melakukan pengambilan gambar (foto) akan lebih mudah dari segi pencahayaan. Dalam hal ini motographer andalan kami (Neni) melakukan tugasnya dengan kamera kesayangannya.

Teman-teman tampak menikmati sekali ketika mengambil ancang-ancang, memasukan gigi rendah pada motornya, dan tancap gas saat didepan kubangan, efek air menyebar kesegala arah diabadikan sebuah jepretan kamera yang setelah melihat priview hasilnya berkomentar "bagus..bagus.." bernada puas. Sepatu dan celana yang basah tidak dihiraukan lagi, beberapa kubangan sukses kami lalui.

om Ori
Latanza
Dadang
Ketika menemukan persimpangan, kami sempat ragu-ragu untuk memilih arah. Setelah di jelaskan dengan penduduk setempat ketika kami bertanya kepadanya, jika lurus maka akan sampai dusun terakhir berbatasan dengan hutan taman nasional Ujun Kulon, jika belok kekanan akan menuju pantai lagi dan juga pos penjagaan Cilintang.

Sebelum menapakan roda di dusun terakhir kami harus melewati sebuah sungai dengan lebar sekitar 3 meter, ber-air jernih sehingga kami mantap melewatinya karena mengetahui kedalamannya. Dan kami pun tiba dusun/kampung Cikaung Girang, Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur. Disini kami berhenti di teras sebuah warung kecil menjajakan kebutuhan ringan sehari-hari, dan tentunya kami memesan beberapa botol minuman untuk melepas dahaga.

akses menuju Cikaung
Ditemani oleh pemilik warung, kami selonjoran diteras sambil saling mengobrol. Layaknya orang 'asing' yang baru saja ketemu, kami dan pemilik warung saling mengenalkan identitas. Beberapa cerita kami dengar dari penduduk setempat yang ikut bergabung ngobrol, berbagai cerita kami dengar, dari sudah susah menemukan atau melihat badak bercula satu yang terkenal dari kawasan ini walau mereka sering keluar masuk hutan kawasan hutan Taman Nasional Ujung Kulon. Ada juga cerita menarik juga, walau beberapa titik dipasang beberapa kamera/video record, untuk keperluan penelitian tentang habitat hewan-hewan yang ada dikawasan ini, tidak pernah lagi terekam aktifitas badak bercula atau hewan lain seperti harimau jawa yang disinyalir masih hidup disini, tetapi ketika akan mengambil alat perekam tadi terlihat jejak kaki hewan seperti badak dan harimau tadi.

warga Cikaung
Atau cerita tentang akses jalan menuju lokasi Ujung Kulon ini yang sepeti kurang pendapat perhatian dari pemerintah daerah. "Beberapa waktu lalu sih ada pejabat provinsi Banten datang kunjungan kesini, tapi sampai sekarang juga tidak ada perkembangan untuk membenahinya. Sudah menjadi biasa ketika seperti momen akan dilaksanakan Pemilu ini dimanfaatkan oleh calon-calon 'wakil rakyat' untuk memanfaatkan isu jalan yang tidak layak itu buat ber-kampanye. Ya ketika akan pemilihan seolah-olah akan diperbaiki dengan menata bebantuan sebagai alas aspal, tapi ketika Pemilu usai tidak ada proses pengaspalan" jelas salah satu warga Cikaung. Belum sempat kami menanggapi warga tadi berujar lagi "memang sepertinya golput adalah pilihan terbaik" seolah sudah tidak percaya lagi dengan janji-janji politikus. Saya hanya menganggukan kepala seusai mendengar ceritanya sambil melihat poster lengkap dengan simbol partainya salah satu calon legislatif yang tertancap di pohon sukun didepan kami mengobrol.

Satu jam lebih kami disini dan segera berpamitan dengan warga karena waktu semakin sore. Tujuan kami selanjtunya adalah pos Cilintang, tempat yang ditunjukan oleh warga dipersimpangan tadi sebelum kami sampai di kampung Cikaung. Tidak terlalu kesulitan mencapai lokasi, kalaupun ragu-ragu dipersimpangan kami tinggal wanya dengan penduduk setempat, seperti halnya ketika sampai pada sebuah tugu bertulisakn "Selamat Datang di Ujung Kulon" lengkap dengan ilustrasi seekor badak. Setelah bertanya dengan seorang bapak yang kebetulan tidak jauh dari tugu ini, beliau menunjukan arah ke kiri untuk menuju ke pos Cilintang.



Tibalah kami di pos penjagaan Cilintang, terlihat beberapa petugas jagawana yang masih beseragam sedang duduk santai di atas bale-bale kayu didepan bangunan/rumah jaga. Jika akan masuk kedalam hutan, para petugas ini siap mendampingi para tamunya. Setelah memarkir Bishop saya langsung menanyakan ke para penjaga tentang akses menuju ke pantai, ditunjukannya sebuah jalan setapak untuk menuju kepantai. Tidak banyak yang ditanyakan karena waktu itu semakin sore, dan niat kami untuk melihat sunset pantai membuat bergegas menyusuri jalan setapak tersebut dengan berjalan kaki.

pos Cilintang (photo: mang Dadang)
Berjalan sekitar 100 meter disamping kami berbatasan langsung dengan hutan Taman Nasional Ujung Kulon yang tampak masih alami dengan di batasi oleh pagar terbuat dari kawat yang tampak di aliri arus listirk ini dimaksudkan untuk menjaga margasatwa tidak keluar dari kawasan ini.  Sampailah kami dibibir laut, tampak beberapa pohon besar tumbang tapi masih tampak hidup dan ditumpani oleh tumbuhan lain. Garis pantai yang sebenarnya membentang panjang tetapi terhalang oleh beberapa pohon yang menjorok ke laut, membatasi kami untuk hilir mudik berajalan diatas pasir. Lokasi ditempat bediri berhadap langsung dengan teluk Selamat Datang. Sunset yang kami tungu juga urung muncul karena tertutup awan mendung. Karena itu kami balik ke pos untuk segera menuju kembali ke lokasi acara NNRUK.




Sampai dilokasi NNRUK disambut oleh sunset yang kami harapkan sebelumnya, serta teman-teman yang baru saja tiba dari beberapa daerah seperti Bandung, Jogja, Solo, Semarang. Kehangatan obrolan teman-teman pun terjadi, biasanya kami ber interaksi lewat forum Nusantaride di dunia maya tapi kini bisa bertemu di dunia nyata. Itu adalah salah tujuan dari diadakan acara tahunan ini. Kami saling berbagi cerita tentang pengalaman masing-masing berkendara menikmati alam nusantara.

Kami tidak datang untuk bertemu dengan artis adventurer yang biasa di televisi, karena kami-lah artis atas diri kami sendiri walaupun dengan petualangan sederhana yang kami lakukan. Tidak ada motor ratusan juta yang sediakan panitia untuk foto-foto, dan di upload di media sosial, karena kami bangga dengan motor yang kami miliki walupun itu murah harganya. Ya sebagian dari kami berpendapat motor  hanya sebagian alat untuk mengenal negeri ini dengan berkelana, menyusuri tiap sudutnya, serta berbagai cerita lewat foto dan cerita perjalanan.

Sekelumit tempat yang kami bisa ekplore dikawasan yang berdekatan langsung dengan habitat badak ini, sebenarnya masih banyak lokasi-lokasi yang ingin kami telusuri termasuk pulau-pulau di dekat sini, dengan menyewa perahu dengan harga sewa sekitar 2 jutaan bisa berpenumpang 20 orang, bisa menyambangi pulau-pulau sekitar sini yang konon keindahannya sering disebut surga dunia.

kembali
sunset Sunda Jaya

Sekelumit tempat yang kami bisa ekplore dikawasan yang berdekatan langsung dengan habitat badak ini, sebenarnya masih banyak lokasi-lokasi yang ingin kami telusuri termasuk pulau-pulau di dekat sini, dengan menyewa perahu dengan harga sewa sekitar 2 jutaan bisa berpenumpang 20 orang, bisa menyambangi pulau-pulau sekitar sini yang konon keindahannya sering disebut surga dunia.


******

Peta letak dan luas kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (sumber: http://www.ujungkulon.org/tentang-tnuk/letak-dan-luas) :














2 komentar:

  1. Luar biasa kombinasi motoadventure dan blogadventure :D #lanjutkan mas suyut :D

    BalasHapus