Selasa, 21 Januari 2014

15 jam Menuju National Nusantaride Rally Ujung Kulon

Sabtu pagi (11/12/2014) dingin masih menyelimuti Cikarang, mungkin karena malam harinya hujan mengguyur kota yang biasanya membuat gerah ini. Mata belum sempat terbuka, tapi ketukan pintu dan ucapan "Asalamualaikum" membuat saya beranjak dari tempat tidur untuk menengok siapa yang datang.

Adalah Dadang dan Latanza sudah berada didepan halaman rumah beserta tunggangannya. Seolah mereka menjemput saya untuk berangkat mengikuti acara National Nusantaride Rally Ujung Kulon (NNRUK), sebuah acara untuk mengumpulkan para pelaku pengendara sepeda motor yang biasanya melakukan perjalanan dengan berbagai misi, salah satunya adalah memperkenalkan keindahan alam Indonesia.

Latanza yang baru saja melakukan perjalanan Jogja -Cikarang saya persilahkan isitrahat lebih dulu. Selang satu jam kami pun sudah bersiap menuju Jawa paling barat tempat berlangsungnya NNRUK. Kami memilih rute Cikarang-Setu-Cibubur-Bogor-Jasinga-Rangkasbitung-Pandeglang-Labuan-Lokasi.

on the way
Karena berangkat dari Cikarang sudah menunjukan pukul 9 pagi, beberapa ruas jalan sudah mengalami kemacetan. Sesampainya di jalan Cibubur, disana sudah menunggu mas Lukman, tampak sudah bersiap bergabung dengan kami menuju NNRUK. Sehabis ini saya menjemput Neni yang telah menunggu di jalan Margonda, untuk duduk manis di jok belakang Bishop.

Menyusuri jalan raya Bogor, dengan kecepatan sedang karena sudah mulai padat lalu lintasnya, beberapa kali saya harus sering menengok kaca spion untuk mengecek teman-teman yang berada dibelakang, beberapa teman tidak begitu hafal dengan rute yang akan kami lalui. Tidak sengaja kami bertemu dengan om Ori di jalan ini, dengan mengendarai motor jenis trail beliau menyapa kami, karena sudah pernah beberapa kali ketemu sayapun membalas sapaannya. Tentu saja beliau akan menuju NNRUK juga.

Ketika belok ke arah jalan baru Bogor yang mengarah ke Jasinga, kejadian pisah rombongan terjadi. Mas Lukman ternyata tidak belok, malah justru jalan lurus dan hilang dari pantauan. Setelah menelponya kami menunggunya, sementara om Ori yang berada didepan sudah melejit lebih dulu, dan kami merelakan beliau untuk jalan lebih dahulu.

Setelah formasi lengkap kembali kami melanjutkan perjalanan. Kami berhenti beberapa kali untuk makan siang masih didaerah Bogor, dan beberapa kali di minimarket ketika memang dibutuhkan untuk sekedar istirahat. Seperti kebiasaan setiap melakukan perjalanan, untuk berhenti maksimal per  2 jam.

Memasuki daerah Rumpin, rintik hujan terlihat menempel di kaca helm. Semakin jauh semakin deras, kami pun berhenti untuk memakai perlengkapan anti air. Jadilah sepanjang perjalanan ditemani oleh derasnya hujan.

pakai jas hujan
Memasuki Jasinga, jalan berkelok khas pegunungan kami rasakan, dengan pemandangan pohon sawit, dan perbukitan yang memanjakan mata ketika sesekali menengok melihat sekitar jalan. Saking asyiknya menikmati setiap tikungan sampai kadang saya lupa jika masih ada teman yang dibelakang saya, tampaknya saya dengan Latanza yang lebih bisa menikmati jalan seperti ini. Beberapa kali Dadang dan mas Lukman luput dari pandangan kaca spion, itu berarti saya harus menurunkan kecepatan sampai mereka mendekat kembali.

kiss the rain
Ketika memasuki Rangkasbitung hari semakin gelap, pada saat itu sekitar pukul 18.00, tetapi hujan sudah reda. Selelah berhenti sejenak disebuah mimarket untuk istirahat dan melepas jas hujan. Kami melanjutkan perjalanan menembus gelap menuju Pandeglang, yaitu kota setelah Rangkasbitung. Tidak ada hambatan berarti melewati kota Pandeglang, cuma ketika akan masuk kota Labuhan ada pengerjaan jalan yang mengharuskan tetap hati-hati melewatinya karena permukaanya tidak rata, dan kadang harus bergantian dengan pengendara yang lawan jalur karena jalan berubah jadi satu jalur.


Tidak disengaja kami ketemu dengan salah satu teman yang sedang melintas di jalan Pandeglang, serasa tidak asing dengan motor yang ditungganginya walaupun baru pertama kali ketemu disuatu acara. Adalah mas Bucek sang pengendaranya, yang akan menuju NNRUK pula, jadilah tambah satu lagi personil lagi. Karena mas Bucek motornya dilengkapi GPS, maka posisi terdepan dari rombongan digantikanya, karena dari perkiraaan lokasi tidak begitu jauh lagi, dan karena dari pihak panitia event untuk mencapai lokasi hanya dibekali oleh koordinat.

di sela waktu istirahat
Tidak bisa banyak yang dilihat ketika malam tentu tidak bisa menceritakan kondisi sekitar. Lagi-lagi kami ketemu lagi ditengah perjalanan dengan mas Hendry bersama rekannya satu motor lagi, dalam perjalanannya ke lokasi yang sama, bertambah kembali anggota rombongan.

14 jam sudah berkendara diatas roda dua, rasa ngantuk, lelah sudah mulai terasa. Menengok google map, diperkirakan 20 - 30 km lagi mencapai lokasi. Di luar dugaan kondisi jalan selanjutnya adalah berupa aspal rusak, berlubang atau lebih tepatnya disebut berkubang karena di isi oleh air sehabis hujan, tidak jarang juga diselingi batuan lepas, gravel tiada henti. Entah siapa yang memulai dahulu, saya, Dadang dan Latanza berinisiatif mendahului rombongan.

Saat itu saya sendiri berpikir untuk mengusir rasa ngantuk dangan cara menambah kecepatan, sengaja melewati kubangan sehingga cipratan air terjadi, cukup membasahi bagian kaki. Ternyata apa yang saya pikirkan terjadi juga pada Dadang dan Latanza, saling menyalip ketika terdapat kubangan, guyuran cipratannya cukup membuat rasa ngantuk ini hilang, balas membalas pun terjadi antara kami. Malah seakan menjadi hiburan tersendiri ketika melewati jalan seperti ini. Karena terlalu menikmati jalan ini, sampai tidak terasa bahwa kami sudah dekat dengan lokasi, beberapa kilometer sebelum tiba dilokasi saya bertanya kepada penduduk, karena kondisi penerangan yang gelap gulita membuat ragu.

Akhirnya kami tiba di lokasi tepatnya berada di Sunda Jaya Homestay, Taman Desa Jaya, Ujung Kulon Banten, koordinat Lat: S 6°47.022' (6°47'1.3") Long: E 105°30.164' (105°30'9.8") pada pukul 2.30 dinihari, disambut oleh beberapa teman yang sudah tiba lebih dahulu. Dengan kondisi basah kuyup, kami segera mencari kamar mandi, untuk selanjutnya mendirikan tenda dilokasi yang telah sediakan oleh panitia. dan tentu saja tertidur pulas setelahnya.

rute perjalanan (http://goo.gl/maps/Da8vh)

*Postingan berikutnya menceritakan tentang perjalanan disekitar lokasi NNRUK



Senin, 06 Januari 2014

30 km; 3,5 jam; Mencekam



Saat itu (21/12/2013) waktu pada jam tangan menunjukan pukul 16.30, tibalah saya dan bishop (nama motor saya) di suatu tempat dengan menyajikan pemandangan alam tidak lazim, paling tidak ditengah perjalanan pulang ke Jogja, tempat ini membuat saya berhenti, melepas helm dan sarung tangan serta mengamati sekitar. Setelah menempuh beberapa kota Cikarang-Subang-Bandung-Sumedang-Majalengka-Kuningan dan akhirnya berada di Brebes. (rute lengkap klik disini

Tepatnya di desa Sindangheula, kecamatan Banjarharjo, kabupaten Brebes, Bishop saya memarkir dipinggir jalan raya beraspal yang tampak mulus, terlihat memang jalan ini baru saja diselesaikan pengerjaannya. Pandangan lurus kedepan tertambat pada rangkaian gunung atau perbukitan kehijauan seolah membentengi desa ini. Sebelah selatan merupakan rangkaian gunung Kendeng dengan puncaknya gunung Kumbang (1218 dpl). Gerimis tidak membuat saya bergegas meninggalkan tempat ini.

Sedangkan hamparan sawah menguning, sebagian sudah tidak berpadi karena sudah dipanen melengkapi lukisan-Nya ini. Aktifitas petani membuat saya terkesima, maklum apa yang saya lihat pada saat itu sudah jarang ditemukan, petani dengan mengangkut jerami, beberapa kali juga terlihat menggiring barisan kerbau setelah menunaikan tugasnya membajak sawah. 

Tidak terasa hari semakin gelap, segera saya menyiapkan segala sesuatu untuk melanjutkan perjalanan, termasuk melihat google map di layar ponsel, sudah menjadi kebiasaan bagi saya ketika melakukan perjalanan rute ditemukan ketika saat itu juga. Tidak ada isitlah kesasar, tapi lebih tepat disebut menemukan hal baru. Jalur ditunjukan melewati perbukitan yang ada dihadapan. Tidak berpikir panjang, segera tancap gas melaju dijalan yang tampak hilang tertelan bukit. 

Jika dilihat dari google map  maka terlihat gambaran topografi  jalur yang akan saya lalui. Perbukitan mengelilingi hampir membentuk lingkaran, menyerupai sebuah mangkok. Benar saja, saya harus melewati tanjakan ekstrim, diperkirakan kemiringan sudutnya antara 45 derajat, kadang kala harus dikagetkan dengan belokan memotong dengan langsung menanjak. Jalan lebarnya sekitar 3 meter selalu merepotkan jika berpapasan dengan mobil, tapi hal itu jarang terjadi karena jalur ini tergolong sepi.

Hujan semakin deras, memaksa saya memakai perlengkapan anti air. Selalu menjadi kendala dengan penglihatan, kaca helm yang terburamkna oleh air hujan, jika kacanya ditutup makan akan timbul kaca mengembun, sedangkan saat kaca terbuka masih ada kacamata minus yang bernasib sama dengan kaca helm saat menemui hujan. Bishop tidak bisa dipacu kencang dengan alasan tersebut.

Sedangkan hari semakin gelap, sepanjang jalan hanya dikerumuni oleh pohon jati atau pinus yang menjulang tinggi. Sementara hujan semakin deras menghujam, celana yang tadinya tahan air entah mengapa menjadi tembus air membasahi kulit menambah menggigilnya tubuh ini. Sedikit lega ketika jalan dari tanjakan berubah turunan, itu berarti saya sudah melewati bukit ini dan berharap akan menemukan pemukiman untuk sekedar menghangatkan tubuh dengan kopi panas atau istarahat meluruskan kaki.

Benar saja akhirnya menemukan pemukiman penduduk, beberapa tulisan papan petunjuk menamakan daerah ini bernama Salem. Kegiatan tersesat selalu memberi dampak wawasan baru tentang daerah yang belum pernah dijamah secara tidak sengaja. Salem ini merupakan kecamatan dari kabupaten Brebes, letak geografisnya berada di lembah yang dikelilingi hutan dan deretan pegunungan disekitarnya. Tentu pemandangan khas pegunungan akan menyejukan mata di daerah ini. Posisi kecamatan ini seperti seolah-olah seperti didasar mangkok/piring, sekelilingi adalah perbukitan yang cukup tinggi, karena kondisi lokasi seperti tersebut wilayah ini tergolong terisolir. Sangat di sayangkan saya tidak bisa mengenal daerah ini lebih jauh, tapi karena waktu semakin mendekati malam, kondisi  badan yang basah membuat keinginan untuk keluar dari wilayah ini.

Sehabis melewati daerah ini, untuk keluar harus menembus hutan kembali, waktu itu menunjukan pukul 19.00, saat memasuki rerimbunan pohon, tidak ada penerangan jalan sama sekali, hanya lampu depan bishop yang bisa diandalkan walau tidak terlalu terang. Sekitar 2 kilometer berjalan ada perasaan ragu-ragu, sedikit takut. Bertanya-tanya dalam hati, seberapa panjang jalan seperti ini, apakah aman, dan lain sebagainya. Keraguan itu membuat saya balik arah kembali ke arah pemukiman.

Ditemui sebuah warung, saya langsung memesan kopi panas. Selain itu maksud hati ingin menanyakan beberapa hal kepada pemilik warung, seorang wanita berjilbab yang tampak masih muda. Dari pertayaan yang saya lontarkan, dia menjawab denga logat sunda, jika jalannya memang seperti itu yaitu berupa hutan, dan gelap semua, tapi nanti sesekali akan menemukan desa, waktu tempuh bisa mencapai dua jam sampai keluar hutan ini.

Entah apa dari sugesti obrolan tadi, atau dari keterangan pemilik warung yang membuat saya bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Pikiran negatif dipaksa untuk menjadi positif untuk bisa melewati hutan ini, tidak ada jalan lain untuk bisa keluar dari daerah ini dan mencari tempat istirahat di kota terdekat.

Menelusuri jalan hutan pun dimulai, walau jalannya sudah ber aspal, tapi tetap harus extra hati-hati, banyak kubangan karena aspal rusak tertutup dengan genangan air hujan, hujan semakin deras mengiringi perjalanan. Beberapa kali lubang-lubang itu berhasil membuat kaget, dan cukup ampuh membuat shock breaker depan bishop bocor olinya (oli bocor in diketahui setelah tiba di Jogja). Sesekali hewan malam mengeluarkan suaranya menambah semakin mencekam suasanya. Tapi saya coba mengelola rasa takut yang ada didalam diri. Tapi tidak bisa mengatur rasa dingin yang membuat badan ini semakin menggigil, karena derasnya air hujan.

Semakin terlihat lampu penerangan rumah-rumah penduduk, itu berarti semakin dekat menuju kota terdekat, dan juga terbebas dari kegelapan hutan bersama mencekam suasana didalamnya. Akhirnya saya tiba di kota Bumiayu, disebuah pasar dengan ruko berjejer saya menepi. Menuju kerumunan orang dan bertanya tentang penginapan terdekat, ditunjukan tempat menginap terdekat dengan tarif termurah. Akhirnya saya mendapatkan penginapan dengan tarif 70.000 rupiah permalam dan segera isitrahat untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja kesesokan harinya. Sebelum bisa tidur saya bersyukur bisa melewati jarak 30 kilometer (Sindangheula-Bumiayu) dengan durasi 3,5 jam yang membuat andrenalin sedikit terpacu ketika melewatinya, sampai akhirnya saya bisa tidur nyenyak didalam sleeping bag.

kecamatan Salem seperti berada di alas mangkok. H-I (Sindangheula-keluar Salem).
 Rute lengkap : http://goo.gl/maps/P1tTA