Minggu, 10 November 2013

Sore di Talaga Bodas

Masih dalam rangkaian acara  Nusantaride Ngopi Bareng. Di sela acara tersebut kami sempatkan untuk berkunjung ke Talaga Bodas  yang berjarak sekitar 1 kilometer dari tempat kami menginap.

Sekilas Talaga Bodas
Dalam bahasa Sunda Talaga bisa diartikan sebagai danau, dan bodas berarti putih. Talaga ini merupakan kawah dari Gunung Talaga Bodas, terbentuk menjadi sebuah danau bersulfur jenuh bewarna puith, diketinggian 1512 m dpl, sedangkan gunungnya berada di 2201 m dpl. Talaga Bodas berada di desa Sukamenak, kecamatan Wanaraja, Garut (koordinat 7,208°LS 108,07°BT). Lokasi ini bisa di akses dari pasar Wanaraja, tidak jauh dari pasar ada petunjuk jalan menuju talaga, atau tanya penduduk sekitar juga bisa jadi pilihan untuk mengetahui lokasi. 


Sore

Mungkin  saya menjadi orang yang beruntung bisa masuk lokasi, karena saat itu (5/10/2013) kawasan Talaga Bodas sedang ditutup untuk wisatawan.  Obyek wisata yang dikelola oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) ini sedang dalam pembenahan dan pembangunan insfratuktur untuk pengembangan wisata.

Sinar matahari semakin redup, dinginnya udara tambah terasa menyentuh kulit, sore itu di sela-sela acara 'Nusantaride Ngopi Bareng', saya mengutarakan keinginan untuk ke Talaga Bodas pada bang Hendri, salah satu blogger yang konsisten menuliskan artikel tentang perjalanan beliau dengan sepeda motornya (blog bang Hendri :http://advjourney.com/). "Kan lokasinya di tutup, bang? tanya saya saat itu. Beliau menjawab "kita coba saja, siapa tau di kasih ijin sama petugasnya". Jawaban yang menarik dan perlu di realisasikan. Kami bertiga bang Hendri, saya dan Neni langsung tancap gas menuju kesana. Sekitar 500 meter sebelum lokasi terdapat pintu portal, terdapat seorang yang menanyai tujuan kami, setelah mengutarakan maksud dan tujuan, beliau memperbolehkan kami untuk masuk lokasi berikut juga dengan sepeda motor kami.

tiba di lokasi
bersama bang Hendri 
Neni sang fotograper kecil juga mau di foto :)
Usai menempuh 500 meter, sampailah di lokasi, sebuah danau walaupun di sebut 'bodas' dalam bahasa Sunda yang diartikan putih, tapi air yang mengisi talaga terlihat kehijauan, dengan bau sulfur yang tidak terlalu menyengat. Talaga ini di keliling bukit yang tampak hijau, semburat sinar matahari sore menyelinap dari atas bukit sebelum terbenam. Tidak lama muncul om Gunawan yang juga ikut dalam acara 'Ngopi Bareng' bersama sang istri, jadilah kami berlima menikmati pemandangan talaga ini. Bang Hendri menawari kami untuk menjajal pemandian air panas yang masih terletak dalam kawasan talaga ini.

Sebelum kami beranjak ke kolam air panas, datang lagi 3 motor yang juga akan menuju acara Nusantaride, salah satunya Dadang, yang sudah saya kenal sebelumnya, dan memang saya ajak ke acara ini. Tapi karena dia malamnya masih masuk kerja, jadi tidak bisa berangkat bareng.


om Tanto, Dadang, mas Esha Putra, 3 motor yang baru tiba
Selanjutnya meninggalkan 3 orang teman dan menuju pemandian air panasnya. Jalan disisi sebelah barat talaga kami telusuri, jalan tanah dengan pepohonan yang terkadang batangnya menjorok ke jalan sehingga beberapa menyerepet tubuh kami ketika melintas. Gundukan tanah dan batu juga kami lewati dan menjadi pengalaman berkendara yang seru.


sebentar lagi sampai pemandian air panas
Terlihat beberapa petak kolam disekat dengan tanggul mirip pondasi rumah. Kami segera memarkir kendaraan dipinggirnya. Menyentuh airnya dengan telapak tangan, terasa hangatnya pas untuk berendam, tidak lama kemudian saya memutusakan menyeburkan diri di kolam ini. Begitu rileks ketika mengambangkan tubuh di air sulfur ini. Karena teman-teman lain tidak berendam, dan saya telah ditunggu maka saya bangkit dari kolam. Di sekitar terdapat kamar ganti berdinding anyaman bambu beukuran 1,5x1,5 meter. 


siap nyebur
byuur...
Jangan heran di sekitar kamar ganti ini banyak ditemukan pakaian dalam berserakan, seperti terbuang. Saat itu saya tidak mengerti kenapa hal yang terlihat jorok itu ada di sekitar sini, tapi ketika menulis postingan ini saya mencoba cari tahu dengan megooglingnya, salah satu sumber menyebutkan bahwa hal itu terkait dengan cerita mitos di talaga ini, yaitu jika mandi atau berendam di sekitar ini celana dalam harus di tinggal di tempat supaya ketika pulang tidak di ikuti oleh 'penunggu' daerah ini. Tapi karena saat itu tidak tahu tentang hal tersebut, maka saya tetap membawa pulang pakaian dalam yang basah, dan ternyata mitos itu tidak terbukti.

Hari semakin gelap, kami pun berpisah. Bang Hendri pulang ke orang tuanya di daerah Garut juga, om Gunawan bersama istri kembali ke penginapan di Garut karena kebetulan pengatin baru ini sedang berbulan madu di kota ini. Sedangkan saya dan Neni balik ke Pancuran 7 untuk kembali berkumpul dengan teman-teman Nusantaride.

Kami juga berkesempatan menikmati hangatnya sinar mentari pagi serta petulangan sederhana di Talaga Bodas keesokan harinya. Ceritanya akan saya tulis di postingan selanjutnya. Salam.

sampai jumpa besok pagi




7 komentar:

  1. laik lah alweys.... #pujaaa kulit kerang

    BalasHapus
  2. Salam

    Berbagi Kisah, Informasi dan Foto

    Tentang Indahnya Indonesia

    www.jelajah-nesia2.blogspot.com

    BalasHapus
  3. keren..dua rider ketemu...aku suka medannya..offroad..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe..makasih mas..semoga lain kali bisa riding di borneo :)

      Hapus
  4. wouww..manthaabss..tp bebekku bsa gk yh road ksna..mo tnya ni masbro, klo jarak n wkt dr jkt-garut (C.malela)brp yh masbro..ap situasi prjlnan aman utk 2 riders..?
    thxs sblmnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo masuk lokasi Talaga sepertinya sudah tidak bisa :) karena sekarang motor dilarang masuk :)
      bisa 4-5jam..aman kok saya pernah satu motor +boncengan, aman2 saja http://www.getlost2explore.com/2011/11/meraba-bandung-edisi-curug-malelabonus.html

      Hapus