Selasa, 12 November 2013

Pagi di Talaga Bodas

Terbangun pukul 5, udara sekitar Pancuran Tujuh terasa dingin sekali, malam harinya saya tidur masih menggunakan sepatu, sleeping bag, jaket dan tutup kepala pun masih terasa seperti di dalam lemari es. Tapi terpaksa harus bangun pagi karena kami rencana pulang ketika pagi menjelang. 

Karena mengetahui sore harinya kami bisa masuk lokasi Talaga Bodas dengan motornya sekaligus, beberapa teman yang belum berkesempatan ke lokasi, mengajak kami menuju kesana. Jadilah tiga motor menuju kesana bersama, yaitu om Julianto, mas Joe, saya dan Neni tentunya. 

Tidak ada kesulitan menuju lokasi, karena ini kali kedua kami kesini, dengan berbekal izin dari petugas di depan portal dan pos penjaga pagi itu kami sampai lagi di bibir talaga. Masih dengan alasan yang sama, petugas memperbolehkan kami masuk, karena masih dalam masa perbaikan dan sebernarnya lokasi ini masih ditutup untuk umum. Mungkin jika lokasi wisata Talaga Bodas sudah beroperasi seperti biasa, motor tidak bisa masuk sampai pinggir talaga. Kami merasa beruntung saat itu.

tiba lagi di lokasi
Pagi itu sangat cerah. Matahari tidak ragu-ragu mencurahkan cahayanya. Pancarannya terhalang barisan bukit yang mengeliling telaga bodas. Lokasi talaga separuhnya mendapat cahaya matahari, sedangkan separuh lainnya masih terlihat lebih gelap. Guratan cahayanya sangat terlihat bagaikan membelah bukit yang ada di depan kami. Kami menikmati pemandangan ini dengan bau sulfur yang tidak terlalu menyengat.

ready to ride
Selagi memandang lanskap di pinggir talaga, om Julianto yang berada tidak jauh dari saya berdiri, bercerita bahwa beliau pernah menuju ke arah kiri talaga (jika menghadap ke telaga), semakin sampai ujung medannya semakin tidak bersahabat, batuan kapur menjadi jalan yang harus di lalui. Om Jul belum sempat menutup ceritanya, saya sudah menyalakan mesin bishop, dan menuju kearah yang beliau ceritakan.

Menyusuri tepat di bibir talaga yang terdiri seperti pasir lembut, roda bishop perlahan menapakinya. Saya sadar resikonya sangat besar, karena jika ada kesalahan dalam mengendalikan setang bishop, kemungkinan besar akan menuju arah talaga, bisa apa dibayangkan apa yang terjadi, walau belum tahu seberapa kedalaman talaga. Kenapa memilih mengendarai bishop jauh dari bibir talaga?karena menurut saya bagian lain adalah bebatuan dengan tingkat kemiringan yang tidak aman jika mengendarai motor dengan jenis seperti bishop seperti ini. Lebih menggunakan motor jenis trail.

here i go..
Benar saja, semakin menjauh dari tempat beranjak tadi, jalannya semakin berbatu dan terjal dengan kemiringan yang bervariasi saya perkirakan antara 20 sampai 30 derajat. Di perlukan kepercayaan diri untuk melalaui dengan kendaraan bermesin roda dua ini, dan tentu saja perhitungan yang matang. Sekali lagi resikonya cukup besar, karena jika terperosok maka luasnya talaga siap menampung jatuhnya motor beserta pengendaranya. Sebaiknya tidak lewat jalur ini jika tidak siap menanggung resikonya. Dan mungkin kami yang terakhir melalui jalan ini dan hampir mengelilingi luas talaga dengan sepeda motor, karena setelah pembanguan sarana prasarana wisata Talaga Bodas, kawasan ini akan di tutup untuk segala jenis kendaraan.

semakin terjal
semua dalam kendali, jika ragu-ragu lebih baik mndur
hampir sampai ujung
Karena sudah jalan buntu, ujung jalan adalah langsung dinding bukit bersentuhan dengan air sulfur yang memenuhi talaga ini, maka saya balik arah dan ke tempat semula ketika tiba di lokasi wisata Talaga Bodas. Bau sulfur atau belerang juga semakin menyengat, kosentrasi saya terasa semakin berkurang, seiring dengan kepala yang sedikit pusing ketika mencium bau belerang. Kepulan asap keluar dari bebatuan, menjadi sumber tambahan bau yang membuat kami harus meninggalkan tempat ini. Sementara om Julianto bersama mas Joe tidak sampai ujung jalan dan telah meninggalkan kami lebih dahulu menuju Pancuran Tujuh untuk bersiap-siap kembali pulang.

kepulan asap yang menyesakan
enjoy de show
Tinggalah kami berdua menikmati suasana pagi yang tampak tenang, eksotis dengan sinar matahari menyinari layaknya menyorot sebuah panggung pertunjukan musik. Kami tidak lupa mengabadikan momen-momen ini dengan bidikan kamera. Tidak lama menyusul teman-teman Nusantaride yang tiba di lokasi, beberapa orang jalan kaki dari Pancuran Tujuh.

sunday morning glory
Tidak lama setelah itu, kami berpamitan dengan teman-teman untuk kembali, menempuh perjalanan pulang ke Cikarang. Terimakasih atas alamNya di sekitaran Garut ini. Semoga tetap bisa lestari, dan kami bisa menikmati di lain kesempatan.

****

Baca juga rangkaian cerita sebelumnya :

  1. [bukan] Hangat dari Kopinya
  2. Sore di Talaga Bodas

Foto yang lain keindahan pagi di Talaga Bodas klik disini






3 komentar: