Our Riding Ware

Jumat, 29 November 2013

Bayah dan Penambang Emas

Kebanyakan remaja seusianya menghabiskan waktu untuk rekreasi atau sekedar santai di saat libur dari sekolah. Tapi tidak untuk seorang anak muda di kecamatan Bayah, kabupaten Banten yang saya temui saat itu. Tepatnya di pantai tidak jauh tempat kami menginap. Setelah menempuh perjalanan Bekasi-Sawarna-Bayah. Setelah bangun pagi saya sengaja bergerak ke pantai untuk sekedar menghirup udara pantai pagi.

Pantai Bayah orang yang saya temui menyebutnya. Tentu saja tidak satu orang saja, disini terlihat aktifitas tidak umum seperti kebanyakan pantai. Dan tentu saja menarik perhatian bagi saya. Mencoba mendekati seorang pemuda itu, percakapan pun saya buka dengan menanyakan kegiatan yang mereka lakukan. Dengan logat bahasa sunda sangat kental, dia menjawab bahwa sedang menambang emas. Emas??Ya...saya sedang melihat dia sedang memegang alat mirip piring tapi terbuat dari bahan kayu, bentuknya lebih mengerucut. Lalu meletakan pasir pantai di piring setelah mengambilnya dengan pacul. Mencampur sedikit air ke adonan pasir tersebut, lalu melalukan gerakan memutar piring tersebut. Sedikit demi sedikit pasirnya ditumpahkan dari piring. Beberapa gerakan serupa di ulangi, sampai beberapa butir tersisa di bagian pucuk kerucut piring. Jika terlihat warna kuning keemasan, maka pasir yang mereka gali tersebut mengandung emas, dan layak untuk di proses lebih lanjut. Pada tahap awal ini bisa disebut sebagai survey.

survey
memasang tiang
pasir ini harus disaring dulu
Penambang emas disini terlihat berkelompok, biasanya mereka masih satu ikatan keluarga. Setelah proses survey, anggota lain mendirikan tiang tepat di bibir pantai. Dengan maksud supaya mudah mengambil air laut untuk proses selanjutnya. Setelah tiang berdiri di empat sisi, lalu dibentangkan sebuah lembaran anyaman bambu berbentuk persegi panjang, diletakan diatas ke empat tiang tadi, dengan kemiringan tertentu, Kemudian menyelimuti lembaran tersebut dengan plastik selanjutnya karpet yang sering terlihat di mushola berwarna hijau diletakan diatas plastik. Saya tidak terlalu mengerti untuk apa perlengkapan yang mereka persiapkan itu.

ekonomi rakyat?entahlah..
umur tidak menghalangi untuk mencari nafkah
Tetapi setelah mengamati, peralatan sederhana ini di gunakan menyaring butiran-butiran pasir. Ember plastik sudah terisi penuh pasir diambil dari lokasi yang di survey tadi. Berjalan sekitar sepuluh meter menuju saringan, menumpahkan isi ember setelah dicampur air dari posisi teratas saringan, dengan kemiringan posisi saringan tadi pasir mengalir deras. Beberapa kali kegitan ini berulang. Setelah rasa cukup menyaringnya, karpet di tarik, Serbuk emas yang di harapkan tertinggal di atas plastik. Kemudian diletakan ke dalam ember lain.

menjaring rejeki
Aktifitas itu di lakukan sepanjang hari hingga sore menjelang, dalam satu hari menurut keterangannya bisa mendapatkan setengah hingga satu gram serbuk emas, lalu di jualnya ke toko emas. Tentu saja harga dari serbuk itu jauh lebih murah dari per gram nya ketika sudah jadi dalam bentuk logam emas.

Tidak lama saya disini, hanya setengah jam untuk selanjutnya meninggalkan pantai ini karena ada keperluan di kota ini. Beranjak dari sini masih menyisakan beberapa pertanyaan dan harapan. Semoga tempat ini bisa tetap terjaga dan tidak ada eksploitasi oleh mesin perusahaan investor bermodal besar, seperti halnya yang terjadi di Tumpang Pitu, Banyuwangi, penambangan oleh perusahaan bermodal dengan menyisakan kontroversi, dengan warga sekitar dan lingkungan. Faktor pendidikan sepertinya tidak terlalu penting bagi penambang emas sekitar Bayah ini, terbukti beberapa remaja sudah putus sekolah untuk bisa membantu orang tua nya mencari nafkah di pantai ini. Apakah dunia pendidikan tidak bisa dinikmati disini?

Saya pun teringat pasal UUD '45 yang berbunyi, "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat", tetapi sepertinya tidak berlaku disini. Atau pasal 31 ayat 1 UUD '45, "Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan". Juga tidak terasa maknanya disini.

Bishop was here





6 komentar:

  1. pasir panti y mengandung emas ya..kereen..

    BalasHapus
  2. hampir sama dengan di belitung, rata-rata kebanyakan anak mendulang timah

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah..kapan ya bisa ke Belitung, pantai2 disana keren..

      Hapus
  3. Nice Blog !! thanks for sharing this post.Really thank you! Keep writing poker online | Agen Sbobet

    BalasHapus