Our Riding Ware

Rabu, 16 Oktober 2013

Go Home #7 [bonus track]

"No one realizes how beautiful it is to travel until he comes home and rest his head on his old familiar pillow" -Lin Yutang- 
Setelah menempuh perjalanan dari Pangandaran akhirnya tiba dengan selamat di rumah tempat saya dibesarkan, dengan disambut dengan hangat senyum orang tua. Walaupun sampai rumah jam 3 dinihari dengan dinginnya udara kaki gunung Merapi, karena rumah orang tua berlokasi di Tempel, Sleman, Yogyakarta hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari puncak Merapi, tapi kehangatan keluarga sangat terasa, kebetulan kakak saya juga sudah tiba terlebih dahulu di rumah sehabis menemuh perjalanan  mudik lebaran dari Karawang. 

Keesokan hari sehabis sahur, saya berniat jalan-jalan ke kawasan Merapi. Entah mengapa, Merapi selalu menjadi tempat yang harus di kunjungi setiap saya pulang ke Jogja. Kesejukan udara yang bebas polusi, jalur yang asyik untuk bermain main dengan bishop apalagi setelah erupsi tahun 2010 jalan di sekitar sana berubah menjadi berpasir dan berbatuan haril muntahan dari gunung menjadikan tantangan tersendiri.  

Merapi atas ciptaanNya seperti menjadi perantara untuk menguji warga di sekitarnya. Erupsi terakhir tahun 2010 tentu menyisakan pengalama pahit bagi sebagian 'korbannya', tapi tiga tahun berselang kehidupan perekonomiannya sudah tampak normal kembali. Ya, melalui Merapi seolah membawa berkah tersendiri, dari mulai melimpahnya material muntahannya yang membuat semakin menjamurnya penambang pasir & batu. Serta konon katanya tanahnya akan semakin menjadi subur untuk di gunakan untuk pertanian setelah dihujani abu vulkanik letusan Merapi, entah benar atau tidak tapi itu yang di katakan Bapan saya , karena beliau sendiri adalah petani salak pondoh dan merasakan hasil panennya jadi lebih baik jika setelah beberapa tahun setelah erupsi.

Tidak terkecuali bagi saya sendiri berkahNya melalui Merapi pernah saya rasakan. Beberapa kali menuliskan tentang perjalanan ke Merapi atau sekedar bercerita tentang kehidupan warganya setelah erupsi mendapat apresiasi setelah tulisan yang saya kirim dalam kompetisi menulis. Diantara dalam Lomba Ekspedisi Cicin Api periode IV dan juga 25 Finalis Lomba Blog 'Jelajah 7 Keajaiban Nusantara'. Serta foto bidikan Neni di Merapi mendapat apresiasi dari Rexona Men Adventure Photo Competion, mungkin bagi sebagian orang ini menjadi hal biasa saja, tapi bagi kami apresiasi itu menjadi sangat berarti sebuah pemicu semangat untuk tetap bekarya melalui perjalanan roda dua kami.

****

Perjalanan kali ini jalurnya pernah saya lewati beberapa kali, dari rumah orang tua di dusun Trumpon, desa Merdikorejo, mengarah ke utara desa Balerante, kecamatan Turi, diteruskan ke arah jalan Kaliurang. Gelap pagi, segarnya udara pegunungan menambah semangat saya dan bishop untuk menuju ke utara lagi. Bishop ajak ke desa Kinahrejo, entah sudah keberapa kalinya saya kesini. Seperti diketahui, jika setelah erupsi 2010 desa ini menjadi obyek wisata, untuk masuk menuju daya tarik utama desa ini yaitu petilasan rumah alm. mbah Maridjan disedikan ojek, atau kendaraan motor trail yang siap disewa. Jika akan jalan kaki juga bisa, cuma akan memerlukan biaya untuk parkir saja. 

berangkat pagi
Karena masih pagi dan belum ada petugas untuk menarik retribusi untuk masuk desa ini, saya bebas masuk melalui sela-sela portal pintu masuk. menuju paling utara desa ini, jalan sudah tidak bisa dilewati roda dua sekalipun. Setelah berhenti sejenak melihat pemandangan semburat sinar matahari muncul dari balik gunung, Bishop saya arahkan ke kali Opak. Sungai yang sudah tidak mengalir air, hanya bebatuan sebesar kepala manusia mendominasi disini. Serta jalan setapak berpasir siap mengantarkan ke lawan sisi sungai. Sungai dengan latar belakang gagahnya Merapi terlihat jelas saat langit cerah kala itu. Saya pun tidak menyiakan momen ini dengan mengambil tripod serta memasangkan kamera. Karena saya sendiri, timer kamera menjadi andalan untuk mengabadikan gambar saya sedang berkendara dengan Bishop. Menjadi kelucuan tersendiri, karena saya berlari kearah Bishop setelah tombol ON  kamera di tekan, tidak jarang karena buru-buru melompat ke joknya bishop layaknya akan naik kuda, kemaluan saya membentur tangki motor, walau hanya sedikit nyeri yang dirasakan, tapi cukup membuat mulut ini meringis kesakitan.

menuju kali Opak
melintasi kali Opak
Sehabis dari ini, kami turun dan masuk ke 'Patalisan Ndalem Mbah Maridjan' atau bisa diartikan sebagai bekas rumah alm. Mbah Maridjan saat beliau meninggal dunia saat erupsi 2010 di kediaman yang kini sudah rata dengan pasir muntahan Merapi. Semoga saya tidak kualat karena masuk tepat didepan patilasan rumah beliau, yang kini hanya berdiri seperti gazebo sebagai tanda jika dulu disini adalah pernah tinggal sang juru Merapi yang sampai akhir hayatnya 'menjaga' gunung ini. Berapa fosil benda-benda yang membuktikan kedasyatan erupsi di pajang disini, dari mobil wartawan yang sudah gosong sampai peralatan rumah tangga warga sekitar sini dikumpulkan sebagai bagian dari bukti erupsi.

di depan pailasan alm. mbah Maridjan
Setelah dari sini, kami turun, mengelindingkan roda Bishop berkeliling di lokasi ini, hampir tidak ada pemukiman warga disini, hanya beberapa runtuhan tembok rumah yang menandakan dulu disini pernah ada peradaban. Beberapa sungai juga tampak sepi dari penambang pasir atau batu padahal hari hari biasanya banyak yang mengais rejeki di sini. Mungkin juga karena hari itu adalaha hari terakhir bulan ramadhan, dan sebagian warga mempersiapkan untuk menyambut hari raya Idul Fitri.

yang tersisa
melirik ke kamera, apakah timernya sudah bekerja
Puas di sini, Bihsop saya ajak ke daerah Kaliadem yang jaraknya kurang lebih lima kilometer dari desa Kinahrejo. Ketika menuju banyak ditemukan papan petunjuk untuk jalur motor trail atau mobil jeep. Memang semenjak erupsi 2010, kawasan ini menawarkan petuangalan seru dengan kendara yang siap disewa oleh siapun. Tapi saya menemukan petualangan tersendiri dengan menggunakan Bishop.



Tiba di Kaliadem, masih tampak sepi. Bishop melaju semakin ke utara mengarah ke Merapi, sangat jarang menemui momen saat cuaca cerah sehingga Merapi tanpa malu-malu menampakan kegagahannya. Menuju kesana disuguhi pemadangan hamparan pasir dengan batu-batu beserakan dipinggir jalan. Sungai kali adem tampak menganga besar dan jika menengok kedalamannya melebihi sungai normal pada umumnya. Walaupun tidak ada orang disini tetapi sekitar jalur yang kami lalui cukup bercerita betapa ganasnya erupsi Merapi. Saya berhenti disebuah tanah lapang, tampak beberapa bangunan warung makanan/minuman yang berjualan di sekeliling. Disini adalah tempat yang biasanya di gunakan para wisatawan mengakhiri perjalanannya dengan jeep atau trail sewaannya.

selalu menjadi tempat bermain yang menyenangkan 
cerah sekali
Tampak bangunan tembok tebal dari sini, saya menuju kesana. Bisa ditebak, bangunan ini adalah bunker, yaitu bangunan hampir tertanam tanah yang digunakan sebagai tempat penyelamatan diri terakhir ketika erupsi terjadi. Tahun 2006 bunker ini memakan korban jiwa, karena saat erupsi didalam ruangan ini, sudah bisa di pastikan panasnya bisa mencapai ratusan derajat celcius akibat lahar panas yang berada bangunan ini.

bunker
istirahat sejenak
Tidak lama kami di sini, karena terik matahari semakin menyengat. Sebelum pulang saya menuju jurang sungai Kali adem, Bishop melewati tanah yang lebih tinggi dari jalan utama, menuju ke bibir tebing hanya bebatuan sekepal tangan, bahkan ada yang lebih besar dari itu. Beberapa kali roda Bishop tergelincir batu. Dengan susah payah akhirnya sampai juga beberapa centi meter saja sebelum jurang yang menjulang ke dasar sungai. Dari sini saya bisa merasakan kedasyatan sewaktu erupsi. Sungai ini sudah bukan tampak seperti pada umumnya, kedalaman dan lebarnya melebihi ukuran rata-rata. Saya sadar betapa besar resiko berada di sini, longsor siap terjadi, apalagi ditambah dengan berat motor, tetapi saya coba mengelola rasa takut dan khawatir untuk lebih mendekat dan meliha serta merasakan kekuasaan-Nya.

jangan harap bisa menakhlukan alam, karena akan sia-sia dan menjadikan pribadi yang sombong. Tapi cobalah, kelola rasa takut yang ada dalam diri untuk mendekat dan merasakan kekuasaan-Nya.
Setelah mengambil beberapa foto, saya kembali ke rumah. Sore hariya entah mengapa badan terasa lemas, dan kepala menjadi pusing sangat hebat. Dari saat itu sampai akan kembali ke Cikarang, saya mengalami ganguan kesehatan, dan sempat menginap sehari di rumah sakit. Karena alasan kesehatan tersebut, Bishop saya kirim melalui jasa ekspedisi, saya sendiri 'terbang' ke Jakarta menyusul Bishop yang sudah berangkat terlebih dahulu.

Ini adalah paragraf terakhir dalam rangkaian cerita perjalanan pulang kampung. Perjalanan sederhana dengan berbagai 'bonus' perjalanan yang tidak kami duga sebelumnya, selalu ada hikmah di setiap perjalanan ini, terutama rasa syukur yang mendalam sehingga kami masih bisa menempuh jarak dan waktu dengan roda dua serta masih bisa melakukan aktifitas dan bekarya seperti biasa setelahnya.
Terimakasih kepada :

  • Allah SWT yang masih mengijinkan untuk mengelindingkan roda Bishop di bumi Nya, sang pencipta alam semesta telah memberikan keindahan dan kami temui selama perjalanan. 
  • Partner perjalanan yang setia Neni yang telah menemani perjalanan sampai Purwokerto, dengan membawa karya foto ke Jakarta setelah ini.
  • Bishop yang tetep tangguh dan tidak rewel selama mengantarkan kami
  • Keluarga tercinta yang perhatian, serta merawat saya saat terkapar sakit.

Rangkaian cerita perjalanan 'Go Home' :

  1. Go Home
  2. Go Home #2
  3. Go Home #3
  4. Go Home #4
  5. Go Home #5
  6. Go Home #6






2 komentar:

  1. keren mas suyut foto2nya... timernya berapa detik itu? #mau tau aja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. di kira2 aja Om..paling maksimal 10 detik :)

      Hapus