Our Riding Ware

Rabu, 09 Oktober 2013

Go Home #6

Alarm di ponsel berbunyi tepat pukul 04.00, setelah berkemas  memasukan semua barang ke pannier. Saat itu pula saya melihat salah satu sambungan braket untuk menempelkan pannier, lepas sambungannya. Tapi tak mengapa, perjalanan masih bisa dilanjutkan dan target selanjutnya mencari tukang las. 

Menembus gelap pagi dengan jalan seperti sebelumnya, masih tidak mulus. Hanya terlihat kelip lampu teras pemukiman penduduk yang jarak antar rumah berjauhan. Sedikit terlintas pikiran tentang cerita rawan kejahatan di sepanjang jalur ini. Tapi pikiran itu segera saya buang berganti berpikir positif bahwa semua  akan aman. 

Semakin jauh terlihat aktifitas warga di pinggir jalan sudah terlihat, ketika terlihat seorang wanita sedang membuka  pintu warungnya, saya langsung meminggirkan bishop didepan warung makanan ini. "Pesan teh hangat ya" kata saya ke Neni sambil menyulut sebatang rokok. Saya pun bertanya kepada ibu warung, "ada tidak pantai dekat sini?" beliau menjawab "nanti sekitar 3 kilometer lagi ada petunjuk ke arah pantai, di kanan jalan" jawabnya. 

Kami hendak mengejar sunrise jika memungkinkan. Setelah mendengar penjelesannya dari ibu warung kami menuju kesana. Benar saja, kami melihat papan berukuran besar bertuliskan "Selamat Datang, di Obyek Wisata Pantai Karang Tawulan" berikut dengan daftar harga parkir dan tiket masuknya, tapi tidak terlalu saya perhatikan, toh masih pagi pasti juga belum ada petugasnya, pikir saya waktu itu.

welcome
Setelah melewati tanjakan yang cukup curam berikut juga dengan turunannya, akhirnya sampai di tempat parkir wisata pantai ini. Masih tampak lengang hanya ada bishop parkir ditempat yang berukuran sekitar sepertiga lapangan bola ini. Tampak di sekitarnya warung makan/minum sedang di persiapkan beroperasi oleh pemiliknya. Dari sini kami mengikuti anak panah petunjuk menuju pantai. 

Ternyata kami harus menuruni jalan menuju kesana, tampak seperti semenanjung tapi ini versi mininya, dengan gazebo yang sudah tidak ada atapnya, dari sini kami bisa melihat lautan luas tanpa terhalang apapun dan tempat kami berdiri berada 36 meter diatas permukaan laut  Deru ombak menghantam beberapa batuan karang menjadi pemandangan yang seru. Tampak juga karang besar menyerupai sebuah pulau. Pulau itu disebut, Nusa Manuk karena pada waktu-waktu tertentu dihuni oleh berbagai macam jenis burung. Secara administratif pantai ini berlokasi di desa Kelapagenep, kecamatan Cikalong, kabupaten Tasikmalaya. Serta koordinat tercatat di Latitude: S 7°48.878' (7°48'52.7") Longitude: E 108°18.002' (108°18'0.1")

semenanjung kecil
Sayang saat itu awan hitam lebih mendominasi, jadi matahari pun sebunyi dibalik awan, harapan untuk melihat proses matahari terbitpun tidak terlaksana. Sebenarnya ada dua tempat untuk menikmati pemandangan laut di Karang tawulan, satu tempat lagi letaknya di sebelah kanan tempat kami berdiri dan harus dengan posisi lebih kebawah lagi. Kami pun mengahabiskan waktu dengan mengambil beberapa foto disini, dan mendadak kami menjadi sangat narsis didepan kamera dengan tripot sebagai penyangganya. Tak mengapa toh kami hanya berdua disini, jadi tempat ini serasa milik berdua.

view sebelah kiri, dengan awan mendung


Hampir satu jam kami dsini sebelum naik lagi menuju tempat parkir. Tampak warung makanan sekitar sini sudah tampak beroperasi, menu mie instan menjadi sarapan kali ini. Saat kami akan bergegas melanjutkan perjalanan, seorang bapak menunjukan jika ban belakang bishop kempes. Untuk mengurangi beban dan mencegah kerusakan di ban/velg, Neni saya tinggal diwarung, sementara saya mencari tukang tambal ban yang kata bapak tadi berjarak sekitar 5 kilometer. Saya juga berniat mencari tukang las, untuk menyambung bagian braket pannier yang lepas.

Tidak jauh dari sebuah pasar tradisional, tukang tambal ban saya temui. Tidak lama kemudian dia beraksi dengan alat-alatnya, benar saja setelah di cek dengan air sabun, terdapat bocor dengan paku menancap. Kemudian ditambal kebocorannya, dipompa kembali, selanjutnya di cek lagi, ternyata masih ada kebocoran di bagian lain. Seterusnya hingga berulang sebanyak empat kali. Dan saya harus membayar empat kebocoran itu seharga empat puluh ribu rupiah. 

tambal ban:
 photo S91POK_zpsa77dd24a.jpg

Target setelah ini adalah mencari tukang las, tidak jauh dari tempat tambal ban, saya menemukan apa diinginkan, sekitar 15 menit dan pannier alumuniumpun kokoh menempel di braket

las braket:
 photo S92POK_zps24b0bde5.jpg

Setelah ini saya kembali ke pantai Trowulan untuk menjemput Neni dan melanjutkan perjalanan. Rute selanjutnya adalah, Cimauk - Jl.Raya Cimerak - Jl.Raya Pasir Gadung - Jl.Raya Cijulang. Memasuki daerah Cijulang kami melewati wisata Green canyon atau disebut juga Cukang Taneuh oleh warga setempat, tempat ini adalah wisata sungai yang airnya kehijauan disaat tidak turun hujan dengan pemandangan staklatif dan staklakmitnya. Kami sempat berhenti disini, dan mendiskusikan untuk masuk wisata ini atau tidak. Ternyata tidak, karena saya dan Neni pernah menikmati wisata ini beberapa waktu lampau.

Deretan jalur setelah ini adalah terkenal dengan beberapa tempat yang patut dikunjungi, tentu saja untuk menikmati keindahan ciptaanNya. Beberapa nama, seperti pantai Batu Karas, Pantai Batu Hiu, sungai Citumang, sampai pantai Pangandaran. Ketika terlihat papan petunjuk ke pantai Batu karas, kamipun hanya berhenti sejenak, berdiskusi dan memutuskan untuk tidak ke pantai itu. lagi-lagi alasan utamanya karena saya dan Neni sudah pernah kesana.

Menempuh sekitar 15 kilometer dari Batu karas, ada papan petunjuk lagi mengarah ke Pantai Hiu. Neni berkata "mau kesana gak?kalo aku udah pernah kesana". Saya jawab "kesana aja yuk..kan aku belum pernah". Dan Neni harus menurut perkataan saya, jika tidak maka dia akan menunggu sampai saya lihat pantai Batu Hiu, dan kembali untuk menjemputnya.

Tidak sampai 5 kilometer dari petunjuk arah tadi, lagi-lagi kami beruntung masuk tanpa di kasih karcis, alias gratis. Padahal terlihat petugas di pos loketnya. Sampailah kami di lokasi, Bishop langsung saya ajak ke pinggir pantai, sampai akhirnya tidak bisa melaju lagi. Karena sertengah rodanya sudah tertanam pasir, dan saya biarkan begitu saja. Saya dan Neni selanjutnya menikmati keindahan pantai ini.

sisi kanan batu Hiu
Pasir yang cukup terlihat putih, dengan berserakannya ranting kayu atau buah kelapa kering akibat terbawa ombak. Disebelah kanan pantai tampak sebuah bukit kecil, kata Neni yang sudah pernah kesana, bisa menikmati dari atas bukit itu. Tapi saya tidak berminat naik kesana. Dan lebih menikmati suara ombak serta mengambil beberapa foto. Oya..tentang kenapa pantai ini di sebut pantai Batu Hiu, karena terdapat batu karang yang menyerupai sirip hiu yang letaknya beberapa meter dari pantai, dan terendam air laut.

di Batu Hiu

keep moving

Setelah istirahat di sebuah warung yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari pantai, kami melanjutkan perjalanan. Sinar matahari semakin terik, debu berterbangan ketika kendaraan didepan kami melaju. Selanjutnnya kami hendak mengunjungi suatau tempat yaitu Citumang. Setelah menentukan rute melalui google map di ponsel, kami menuju kesana. Tapi walaupun terlihat 15 kilometer jarak di peta antara pantai Batu Hiu dengan Citumang, perjalanan kesana cukup membutuhkan waktu sekitar satu jam, karena kondisi jalan yang tidak mulus, jalan kerikil dan berdebu masih mendominasi, serta lokasi yang perlu dicari dengan bertanya ke warga sekitar.

Obyek wisata Citumang berlokasi di desa Bojong, kecamatan Parigi, Ciamis, berkoordinat Latitude: S 7°38.690' (7°38'41.4"), Longitude:E 108°32.092' (108°32'5.5"). Ketika akan memasuki desa ini terlihat papan petunjuk mengarah ke lokasi, kami pun tinggal mengikutinya. Memasuki desa Bojong saya sempat terheran ketika melihat sungai di pinggir jalan desa dengan lebar sekitar 3 meter dan sudah diaspal, heran dan terkejut karena betapa jernihnya air yang mengalir disini. Sejernih air mineral yang dijual dengan kemasan botol atau galon. Ke dalaman sungai pun bisa diperkirakan 2 meteran, karena dasarnya terlihat jelas. Kami melaju pelan di jalan desa sambil memperhatikan jika ada petunjuk lagi yang menyatakan obyek wisata Citumang.

Dan petunjuk itu pun tampak. Spanduk besar ucapan selamat datang ke obyek ini terpanjang jelas. Setelah memarkir Bishop, kami langsung menuju sebuah rumah dengan spanduk tadi, tidak lama kemudian disambut dengan senyum lebar seorang pemuda berkulit sawo matang. Kami segera mengutarakan maksud tujuan kami. Dengan antusias pemuda ini menjelasakan tentang obyek wisata ini.

Pemuda yang setelah ini diketahui namanya Andri ini, mejelaskan jika kita bisa body rafting di sungai Citumang ini, perlengkapan seperti pelampung sudah disiapkan. Andri ini akan memandu kami selama melakukan body rafting atau kegitaan meyusuri sungai sepanjang 700 meter ini. Dengan paket harga Rp 140.000,- per dua orang yang ditawarkan. Layaknya antara penjual dan pembeli sayapun menawar harga tersebut, pada akhirnya harga disepakati Rp 120.000,- per dua orang.

Setelah melakukan persiapan, karena Neni tidak membawa celana pendek, disini juga disediakan untuk di sewa. Kami pun berjalan sejauh sekitar 300 meter untuk menuju tempat awal melakukan body rafting. Selama perjalanan kesana Andri yang dibantu temannya bernama Ayu memandu kami serta bercerita tentang obyek ini. Jika awalnya sekitar tahun 1995 seorang Jerman menemukan tempat ini sampai akhirnya berkembang menjadi salah satu obyek wisata yang menarik para wisatawan. Sebagai anak negeri kadang saya merasa malu mendengar cerita tersebut , karena banyak tempat-tempat semacam ini ditemukan dan di eksplore oleh orang luar negara.

Untuk tiket masuk di kelola oleh pemerintah setempat, sedangkan untuk kegiatan seperti memandu setiap wisatawan yang kesini di serahkan ke pemuda/i desa Bojong ini. Akhirnya kami sampai dilokasi yang dimaksud. Sudah tampak rombongan wisatawan mancanegara siap dengan busana renangnya untuk menyusuri sungai ini. Terlihat juga sungai selebar 10-15 meter dengan air jernih kehijauan dihadapan kami, Andri pun bertanya kesiapan kami untuk menyusuri sungai.ini, segera kami jawab jika kami sudah siap. Tidak lama kemudian kami menyeburkan diri kesungai. Segarnya air sungai sangat terasa diseluruh tubuh.

naik akar pohon sebelum lompat
airnya bening

Andri mengajak melawan arus sungai menuju sebuah gua, sebelum masuk ke gua di pinggir sungai terdapat tebing dengan akar pohon merambat di dindingnya. Beberapa orang bule sudah naik merambat lewat akar besar itu. Sampai ketinggian sekitar 5 meter, mereka lompat dan byuuur... Andri mengajak kami untuk melakukan hal sama. Dia lebih dulu melalakukannya seolah memberi contoh. Setelah itu baru saya dan di ikuti oleh Neni. Wisata Citumang ini selain menawarkan keindahan alam dengan uniknya sungai Citumah yang airnya sangat jernih bewarna kehijauan, juga menantang andrenalin dengan melakukan lompatan-lompatan dari pohon dipinggir sungai atau dari ketinggian sungai yang membentuk seperti air terjun.

jump
Setelah masuk ke gua, kami disuguhi pemandangan stalaktit dan stalagmit. Setelah samai ujung gua kami kembali menyusuri sungai mengikuti arus. Tantangan berikutnya adalah lompat dari air terjun, sedikit berbeda sensasinya karena kami harus menahan arus sungai sebelum melompat. Beberapa tantangan untuk lompat ditawarkan Andri, karena sepanjang pinggir sungai dipenuhi pohon yang cukup rindang bisa untuk berpijakan saat akan melompat, tentu saja setelah memanjatnya.

Kami selanjutnya menghayutkan diri dalam arus sungai ini. Beberapa kali harus menghindari bebatuan besar. Tapi relaks yang kami rasakan, suasananya begitu tenang dengan suara alam seperti gemericik air, ataupun suara burung liar. Tidak terasa kami sudah hampir melewati 700 meter, ini berarti kegiatan body rafting ini akan berakhir. Tapi sayang sepanjang menelusuri sungai ini baterai kamera tidak bisa diandalkan, ini bearti tidak banyak gambar yang bisa kami ambil disini. Tapi tak mengapa kami sudah bisa merasakan sendiri body rafting dan menikmati alam Citumang.

Setelah istirahat dan makan siang di sini, kami melanjutkan perjalanan kembali. Sambil melaju di atas Bishop kami berbincang akan kemana lagi setelah ini. Dan kami belum tahu akan berhenti dimana. Waktu menunjukan pukul tiga sore, dan terpikir untuk ke pantai Pangandaran untuk menyaksikan sunset disana. Oke..disepakati untuk menuju kesana. Tidak terlalu mengalami kesulitan untuk menuju kesana, disamping karena banyak petunjuk mengarah kesana, lagipula saya sudah pernah 2 kali melewati jalur ini.

Sekitar lima belas kilometer dari Citumang kami masuk ke pantai Pangandaran. Setelah mencari spot untuk memarkir Bishop, akhiirnya kami menemukan tempat untuk istirahat dipinggir pantai berikut bishop terparkir. Karena sebelumnya kami sulit mendapatkan sinyal untuk ber internet, disini saya buka laptop saya untuk mencari informasi tiket kereta api. Karena rencana awal Neni tidak ikut saya sampai Jogja, dan tetap akan berlebaran di Jakarta bersama keluarganya disana. Stasiun terdekat dari sini adalah Purwokerto, saya mendapatkan jadwal keretanya beserta ketersediaan tiketnya , dan selanjutnya rencana besok adalah meluncur ke stasiun kereta Purwokerto.


selalu ada keceriaan ditempat seperti ini
Oke masalah tiket sudah sedikit terpecahkan, selanjutnya kami menikmati pantai Pangandaran dan menanti matahari tenggelam. Untuk ukuran tempat wisata yang menjadi andalan kota Ciamis ini saat itu terlihat agak sepi, malah lebih dominan wisatawan mancanegara yang terlihat. Pantai landai membuat saya tidak lagi mempuyai alasan untuk menyusuri pantai ini dengan bishop, menuju kebarat pantai. Sedangkan Neni sibuk dengan kameranya mengabadikan momen dengan tombol shutternya. Warna langit yang menguning, memantul keseluruh samudera memang momen yang jarang kami temui. Beberapa anak kecil tampak riang berlari seolah dikejar ombak. Beberapa penyewa kuda tampak mondar mandir mencari konsumennya. Beberapa orang berambut pirang dengan bikininya sudah siap meyaksikan tenggelamnya sang surya.




Sedang asyik kami bercengkerama, suara orang dari belakang kami seolah menyapa dengan kalimat "Hey..what are doing?" kami pun menengok kebelakang. Tampak seorang bertubuh agak gemuk, berambut pirang, berjalan menuju kami. Dengan segera saya jawab sapaan dia. Setelah berkenalan, dia mengaku bernama Allan asal dari Jerman. Allan sudah memperhatikan kami kegiatan kami sedari tadi, dengan dandanan bishop memakai panier alumunium, dan kami mengambil beberapa foto dengan kamera dan tripod tampaknya mengundang rasa ingin tahunya Allan sehingga menghampiri kami. Allan bercerita jika dia punya hobi yang sama yaitu photoraphy dan travelling, sebelum ke Pangandaran ini dia di Bali dan mengunjungi beberpa tempat di pulau Jawa. Hampir setiap tahun dia mengunjungi Indonesia. Sepertinya dia sudah terlanjur cinta dengan negara ini. Setelah dia meminta untuk foto bersama kami, lalu pamit menuju hotelnya. Kami disarankan oleh Allan jika akan mencari tempat menginap jika bisa yang dekat dengan penginapannya, dai pun menyebutkan tempatnya menginap, dari nama hotelnya aja kami sudah tahu jika tarifnya tidak sesuai anggaran, kami lebih memilih tempat menginap bertarif seratus ribu permalam untuk istirahat dan melanjutkan perjalanan esok hari menuju Purwokerto.

bersama Allan
saatnya kembali

7 komentar:

  1. jaketnya bisa kompakan gitu ya?? ngiri..hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. ho'o...ini di di design Respiro memang untuk couple series :)

      Hapus
  2. nice, great couple :) keep travelling

    BalasHapus
  3. keren nan asyik (y)

    BalasHapus