Selasa, 22 Oktober 2013

[bukan] Hangat dari Kopinya



“Adventure in life is good; consistency in coffee even better.” ― Justina Chen
Entah mengapa acara ini di namakan "Ngopi Bareng" oleh beberapa teman-teman yang tergabung di forum Nusantaride. Undangan terbuka sudah di posting pada grup Facebook Nusantaride beberapa minggu sebelum acara tanggal 5 Oktober 2013.

Hari yang dinanti sudah tiba, kami berangkat menuju Garut ketika subuh menjelang. Mengandalkan google navigation di ponsel , tujuanpun di tunjuk ke Talaga Bodas, Garut, tidak lama telepon pintar di gengaman menunjuk jalur yang akan kami tempuh. Kami memang tidak berniat menyasarkan diri, tapi lebih memilih mengikuti jalur di layar beukuran 3 inchi ini, seakan tidak mau mengulur waktu sampai di tujuan dan bertemu dengan teman-teman yang biasanya hanya berinteraksi di dunia maya.

Cikarang-Purwakarta-Cimahi-Bandung-Cibiru-Garut-Talaga Bodas adalah jalur yang akan kami tempuh. Tidak ada kesulitan bearti melalui rute ini,  karena beberapa kali kami sudah pernah melewatinya, kecuali kota Garut yang memang belum pernah kami kunjungi. Sedikit kemacetan memasuki Cimahi-Bandung-Cibiru, panas menyengat terasa di kulit, beberapa kali kami berhenti di minimarket untuk sekedar menghindari dehidrasi dan juga mengistirahatkan tubuh.

Memasuki kota Garut, kami melewati pasar Leles, seperti pasar tradisional pada umumunya seditkit kemacetan terjadi, sambil menunggu kendaraan di depan beranjak, saya melirik layar ponsel untuk melihat rute mana lagi setelah ini, ternyata kami 'dianjurkan' belok kiri oleh sang navigasi. Masih dipasar Leles, terdapat pertigaan dengan papan petunjuk jalan bertuliskan "Wanaraja", kami pun belok kiri.

Mungkin karena google navigation saya atur ke pilihan "jarak terdekat" , maka jalan yang ditunjukannya pun memilih jalan pintas, jalan tidak lebar sekitar 3 meteran kami lalui, pemukiman warga terlihat jauh jaraknya, kami juga harus berbagi jalan dengan gerombolan anak sekolah yang baru saja pulang. Pemandangan sawah yang mengering, dan perbukitan juga kami temui disini.

jalan setelah belok kiri pasar Leles
Sekitar 20 kilometer dari Leles tadi tiba di Wanaraja, sesuatu yang kami tidak duga, saat di salah satu pertigaan Wanaraja, terlihat rombongan motor dengan perlengakapan seperti akan melakukan perjalanan jauh, motor dengan side/top box untuk memuat barang bawaan, jaket yang sering saya lihat, serta pelindung lutut. Seperti tidak asing dengan apa yang kami lihat, dan teryata benar dugaan saya, teman-teman dari forum Nusantaride adalah yang kami lihat di Wanaraja ini. Beberapa motor saya kenal, seperti milik om Bimo dan om Pram karena pernah beberapa kali bertemu. Saya sapa beliau untuk meminta ijin bergabung dalam rombongan.

Setelah lewat pasar Wanaraja, terdapat belokan ke kanan serta petunjuk jalan menuju Talaga Bodas. Melewati perkampungan dengan jalan aspal banyak lubangnya, rombongan melaju dengan kecepatan sedang. Tanjakan serta bebatuan kadang membuat barisan yang berjumlah sekitar 10 motor ini tidak rapi, karena harus bermanuver sesuai kondisi jalan.


Jalan semakin menanjak, pemandanganpun bertambah enak dipandang, hijau pepohonan terlihat dibawah, serta tebing dikanan kiri jalan. Tidak lama kemudian sampailah di suatu pertigaan, tampak berderet puluhan motor, dan tidak diragukan teman-teman yang sudah tiba terlebih dahulu, telah menunggu dari beberapa jam yang lalu. Disambut oleh om Julianto, kami menuju sebuah tempat berteduh satu deret dengan warung makan/minuman.

tempat bertemu
gunung Sadahurip, terihat dari tempat kami bertemu 
Location Info ; Lat: S 7°11.574' (7°11'34.5")  Long: E 108°3.448' (108°3'26.9")Altitude: 1578.80m Altitude Reference:Sea level
Seorang teman yang kebetulan tinggal di Garut, Om Tedi  menjelaskan jika kawasan Talaga Bodas sedang mengalami perbaikan sarana, dan sedang tidak dibuka untuk para wisatawan. Untuk lokasi selanjutnya di pilih Pancuran 7, yang letaknya sekitar satu kilometer dari Talaga Bodas.

Sambil menunggu beberapa teman yang menuju lokasi Pancuran 7 untuk survey lokasi, kami bencekrama dengan teman-teman yang lain. Serta tidak melewatkan pemandangan yang ada di tempat kami menunggu. Deretan pegununungan seolah tidak ada jedanya. Terlihat juga jelas dari sini gunung Sadahurip, yang berbentuk piramida. Beberapa waktu lalu gunung ini sempat menjadi pemberitaan media karena disinyalir mempunyai hubungan dengan piramida kuno, terutama yang ada di Mesir. Tetapi setelah di teliti oleh para ahli, dugaan tersebut tidak terbukti secara ilmiah.

Sekitar setengah menunggu, beberapa teman yang survey Pancuran 7 kembali ketempat berkumpul semula. dan mengajak semua teman-teman Nusantaride untuk menuju kesana. Sekitar dua puluh motor beiringan menuju Pancuran Tujuh, dua kilometer masih dengan aspal walaupun tidak terlalu mulus dengan rindangnya pohon mendominasi di setiap pinggir jalan. Sampailah di pertigaan, kami berhenti di depan portal loket, bertanya dengan salah satu petugas disana, untuk meminta ijin masuk, setelah dipersilahkan kami belok ke kiri. Karena jika belok kanan adalah arah menuju Talaga Bodas.

perjalanan ke Pancuran 7
loket di pertigaan antara ke Pancuran Tujuh dan Talaga bodas
Sekitar 400 meter jalannya semakin tidak layak untuk motor seperti yang kami kendarai, jalan berbatuan membuat kecepatan di pacu pelan, beberapa kali kami harus mengendalikan setang motor dengan susah payah untuk menghindari roda slip karena batu. Ada seorang teman yang mengeluhkan tangannya terkilir karena menahan berat motor ketika akan ambruk, usaha yang sangat susah payah agar motor tidak 'terbaring' di jalan.

400 meter yang bisa membuat tangan terkilir
Sampai di lokasi [Lat: S 7°12.368' (7°12'22.1") Long: E 108°4.051' (108°4'3.1")sudah ada om Julianto, beliau memberi intruksi untuk parkir di tempat yang telah di sediakan, di kelompokan menjadi dua, untuk parkir yang hendak menginap dan tidak berniat bermalam disini. Memang ada beberapa teman sudah membawa perlengkapan, seperti tenda. Tetapi yang tidak membawa disini juga terdapat beberapa kamar berukuran 3x3 meter dengan alas tidur karpet untuk disewa dengan biaya sepuluh ribu perorang. Disini juga terdapat warung, menjajakan makan/minuman, tapi tidak untuk makan besar dengan nasi.

Setelah istirahat kami berkumpul, duduk bersila membentuk lingkaran di teras kamar-kamar yang disewakan. Obrolan santai di buka oleh om Julianto sebagai moderator. Karena beberapa teman belum saling mengenal, walaupun kenal mungkin hanya mengetahui lewat sosial media saja, satu persatu dipersilahkan mengenalkan diri. Tak jarang terselip guyonan-guyonan yang membuat suasana semakin akrab. Beberapa teman juga bercerita pengalaman bekendaranya, serta tanya jawab antar teman juga terjadi disini.

dibuka oleh om Jul
Hari semakin sore, setelah ini adalah acara bebas, ada mendirikan tenda, rebahan karena kecapekan, saya sendiri kembali ke arah Talaga Bodas bersama seorang teman yang saya kenal lewat travel blognya, bang Hendri, lewat blognya yang beralamat di http://advjourney.com/ , yang artikelnya berisi cerita perjalanaan dengan motor milik beliau, ditulis dengan singkat padat dan sangat informatif.

Sekembali dari Talaga Bodas, hari sudah petang dan dilokasi beberapa tenda sudah tampak berdiri. Pada malam harinya dengan api unggun menyala, kami berkumpul dikelilingi beberapa tenda. Obrolan ringan ,akrab dan hangat terjadi, tidak berlebihan jika tag line "There are no strangers here, only friends you haven't met yet" sering didengungkan di forum Nusantaride ini. Karena forum ini bukan klub atau komunitas seperti kebanyakan yang berkembang di para antusias roda dua, tetapi lebih ke arah forum sharing untuk berbagi pengalaman berkendara roda dua untuk menikmati keindahan nusantara, tidak ada ikatan peraturan yang terlalu ketat disini, tidak ada kopdar rutin, kami datang, saling berbagi cerita, dapat teman baru, dan tidak jarang ikatan pertemanan terjalin bermula dari acara sejenis yang sudah pernah diadakan. 


mendirikan tenda
Malam semakin larut dan dingin semakin membuat badan mengigil, menurut info dari teman yang membawa alat pengukur suhu, tercatat 15 derajat celcius. Beberapa teman sudah masuk tenda untuk istirahat, tidak lama kemudian saya pun masuk ke kamar yang sudah di sewa, tidur bareng sekamar 5 orang dengan tetap memakai sepatu dan protektor kaki tetap saja dinginnya sangat terasa, membuat saya beberapa kali harus terjaga.

menunggu nasi matang
Terbagun di subuh hari, dengan bermaksud melihat sunrise di Talaga Bodas, kami pun menuju bersama om Julianto, dan Joe. Petulangan dan keindahan alam kami temui disana. Untuk cerita detail selama di Talaga Bodas akan saya tulis terpisah dari artikel ini. Sepulang dari Talaga Bodas, saya dan Neni langsung menuju ke Jakarta kembali, perjalanan pulang ditemani oleh Dadang yang menuju Karawang, dan om Hardiansyah yang akan pulang ke Bandung. Alhamdulillah kami tiba di rumah dengan selamat.

Saya berterimakasih kepada teman-teman atas acara ini, setiap perjalanan tentu menyisakan hikmah dan pelajaran. Tentang loyalitas tanpas batas, seperti om Tedi yang rela turun ke kota Garut untuk membeli nasi dan membawanya untuk disantap bersama di lokasi,  tentang perjuangan beberapa teman yang untuk mencapai lokasi. Ada beberapa cerita teman dalam upaya mencapai lokasi ; walau tangki bensin motor bocor ditengah jalan tetap bisa sampai lokasi ; walau memakai motor matik dan sempat mogok yang pada akhirnya ditarik oleh motor penduduk untuk dibawa kebengkel tetapi sang rider masih bisa berkumpul bersama di lokasi ; ada juga yang baru datang ketikan jam 3 pagi seorang diri, dan cerita-cerita lain yang tentunya menarik. Semua perjuangan itu tidak mungkin terjadi jika tidak dilakukan dengan niat yang tulus dan iklas. Sampai jumpa di lain kesempatan, kawan!





Rabu, 16 Oktober 2013

Go Home #7 [bonus track]

"No one realizes how beautiful it is to travel until he comes home and rest his head on his old familiar pillow" -Lin Yutang- 
Setelah menempuh perjalanan dari Pangandaran akhirnya tiba dengan selamat di rumah tempat saya dibesarkan, dengan disambut dengan hangat senyum orang tua. Walaupun sampai rumah jam 3 dinihari dengan dinginnya udara kaki gunung Merapi, karena rumah orang tua berlokasi di Tempel, Sleman, Yogyakarta hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari puncak Merapi, tapi kehangatan keluarga sangat terasa, kebetulan kakak saya juga sudah tiba terlebih dahulu di rumah sehabis menemuh perjalanan  mudik lebaran dari Karawang. 

Keesokan hari sehabis sahur, saya berniat jalan-jalan ke kawasan Merapi. Entah mengapa, Merapi selalu menjadi tempat yang harus di kunjungi setiap saya pulang ke Jogja. Kesejukan udara yang bebas polusi, jalur yang asyik untuk bermain main dengan bishop apalagi setelah erupsi tahun 2010 jalan di sekitar sana berubah menjadi berpasir dan berbatuan haril muntahan dari gunung menjadikan tantangan tersendiri.  

Merapi atas ciptaanNya seperti menjadi perantara untuk menguji warga di sekitarnya. Erupsi terakhir tahun 2010 tentu menyisakan pengalama pahit bagi sebagian 'korbannya', tapi tiga tahun berselang kehidupan perekonomiannya sudah tampak normal kembali. Ya, melalui Merapi seolah membawa berkah tersendiri, dari mulai melimpahnya material muntahannya yang membuat semakin menjamurnya penambang pasir & batu. Serta konon katanya tanahnya akan semakin menjadi subur untuk di gunakan untuk pertanian setelah dihujani abu vulkanik letusan Merapi, entah benar atau tidak tapi itu yang di katakan Bapan saya , karena beliau sendiri adalah petani salak pondoh dan merasakan hasil panennya jadi lebih baik jika setelah beberapa tahun setelah erupsi.

Tidak terkecuali bagi saya sendiri berkahNya melalui Merapi pernah saya rasakan. Beberapa kali menuliskan tentang perjalanan ke Merapi atau sekedar bercerita tentang kehidupan warganya setelah erupsi mendapat apresiasi setelah tulisan yang saya kirim dalam kompetisi menulis. Diantara dalam Lomba Ekspedisi Cicin Api periode IV dan juga 25 Finalis Lomba Blog 'Jelajah 7 Keajaiban Nusantara'. Serta foto bidikan Neni di Merapi mendapat apresiasi dari Rexona Men Adventure Photo Competion, mungkin bagi sebagian orang ini menjadi hal biasa saja, tapi bagi kami apresiasi itu menjadi sangat berarti sebuah pemicu semangat untuk tetap bekarya melalui perjalanan roda dua kami.

****

Perjalanan kali ini jalurnya pernah saya lewati beberapa kali, dari rumah orang tua di dusun Trumpon, desa Merdikorejo, mengarah ke utara desa Balerante, kecamatan Turi, diteruskan ke arah jalan Kaliurang. Gelap pagi, segarnya udara pegunungan menambah semangat saya dan bishop untuk menuju ke utara lagi. Bishop ajak ke desa Kinahrejo, entah sudah keberapa kalinya saya kesini. Seperti diketahui, jika setelah erupsi 2010 desa ini menjadi obyek wisata, untuk masuk menuju daya tarik utama desa ini yaitu petilasan rumah alm. mbah Maridjan disedikan ojek, atau kendaraan motor trail yang siap disewa. Jika akan jalan kaki juga bisa, cuma akan memerlukan biaya untuk parkir saja. 

berangkat pagi
Karena masih pagi dan belum ada petugas untuk menarik retribusi untuk masuk desa ini, saya bebas masuk melalui sela-sela portal pintu masuk. menuju paling utara desa ini, jalan sudah tidak bisa dilewati roda dua sekalipun. Setelah berhenti sejenak melihat pemandangan semburat sinar matahari muncul dari balik gunung, Bishop saya arahkan ke kali Opak. Sungai yang sudah tidak mengalir air, hanya bebatuan sebesar kepala manusia mendominasi disini. Serta jalan setapak berpasir siap mengantarkan ke lawan sisi sungai. Sungai dengan latar belakang gagahnya Merapi terlihat jelas saat langit cerah kala itu. Saya pun tidak menyiakan momen ini dengan mengambil tripod serta memasangkan kamera. Karena saya sendiri, timer kamera menjadi andalan untuk mengabadikan gambar saya sedang berkendara dengan Bishop. Menjadi kelucuan tersendiri, karena saya berlari kearah Bishop setelah tombol ON  kamera di tekan, tidak jarang karena buru-buru melompat ke joknya bishop layaknya akan naik kuda, kemaluan saya membentur tangki motor, walau hanya sedikit nyeri yang dirasakan, tapi cukup membuat mulut ini meringis kesakitan.

menuju kali Opak
melintasi kali Opak
Sehabis dari ini, kami turun dan masuk ke 'Patalisan Ndalem Mbah Maridjan' atau bisa diartikan sebagai bekas rumah alm. Mbah Maridjan saat beliau meninggal dunia saat erupsi 2010 di kediaman yang kini sudah rata dengan pasir muntahan Merapi. Semoga saya tidak kualat karena masuk tepat didepan patilasan rumah beliau, yang kini hanya berdiri seperti gazebo sebagai tanda jika dulu disini adalah pernah tinggal sang juru Merapi yang sampai akhir hayatnya 'menjaga' gunung ini. Berapa fosil benda-benda yang membuktikan kedasyatan erupsi di pajang disini, dari mobil wartawan yang sudah gosong sampai peralatan rumah tangga warga sekitar sini dikumpulkan sebagai bagian dari bukti erupsi.

di depan pailasan alm. mbah Maridjan
Setelah dari sini, kami turun, mengelindingkan roda Bishop berkeliling di lokasi ini, hampir tidak ada pemukiman warga disini, hanya beberapa runtuhan tembok rumah yang menandakan dulu disini pernah ada peradaban. Beberapa sungai juga tampak sepi dari penambang pasir atau batu padahal hari hari biasanya banyak yang mengais rejeki di sini. Mungkin juga karena hari itu adalaha hari terakhir bulan ramadhan, dan sebagian warga mempersiapkan untuk menyambut hari raya Idul Fitri.

yang tersisa
melirik ke kamera, apakah timernya sudah bekerja
Puas di sini, Bihsop saya ajak ke daerah Kaliadem yang jaraknya kurang lebih lima kilometer dari desa Kinahrejo. Ketika menuju banyak ditemukan papan petunjuk untuk jalur motor trail atau mobil jeep. Memang semenjak erupsi 2010, kawasan ini menawarkan petuangalan seru dengan kendara yang siap disewa oleh siapun. Tapi saya menemukan petualangan tersendiri dengan menggunakan Bishop.



Tiba di Kaliadem, masih tampak sepi. Bishop melaju semakin ke utara mengarah ke Merapi, sangat jarang menemui momen saat cuaca cerah sehingga Merapi tanpa malu-malu menampakan kegagahannya. Menuju kesana disuguhi pemadangan hamparan pasir dengan batu-batu beserakan dipinggir jalan. Sungai kali adem tampak menganga besar dan jika menengok kedalamannya melebihi sungai normal pada umumnya. Walaupun tidak ada orang disini tetapi sekitar jalur yang kami lalui cukup bercerita betapa ganasnya erupsi Merapi. Saya berhenti disebuah tanah lapang, tampak beberapa bangunan warung makanan/minuman yang berjualan di sekeliling. Disini adalah tempat yang biasanya di gunakan para wisatawan mengakhiri perjalanannya dengan jeep atau trail sewaannya.

selalu menjadi tempat bermain yang menyenangkan 
cerah sekali
Tampak bangunan tembok tebal dari sini, saya menuju kesana. Bisa ditebak, bangunan ini adalah bunker, yaitu bangunan hampir tertanam tanah yang digunakan sebagai tempat penyelamatan diri terakhir ketika erupsi terjadi. Tahun 2006 bunker ini memakan korban jiwa, karena saat erupsi didalam ruangan ini, sudah bisa di pastikan panasnya bisa mencapai ratusan derajat celcius akibat lahar panas yang berada bangunan ini.

bunker
istirahat sejenak
Tidak lama kami di sini, karena terik matahari semakin menyengat. Sebelum pulang saya menuju jurang sungai Kali adem, Bishop melewati tanah yang lebih tinggi dari jalan utama, menuju ke bibir tebing hanya bebatuan sekepal tangan, bahkan ada yang lebih besar dari itu. Beberapa kali roda Bishop tergelincir batu. Dengan susah payah akhirnya sampai juga beberapa centi meter saja sebelum jurang yang menjulang ke dasar sungai. Dari sini saya bisa merasakan kedasyatan sewaktu erupsi. Sungai ini sudah bukan tampak seperti pada umumnya, kedalaman dan lebarnya melebihi ukuran rata-rata. Saya sadar betapa besar resiko berada di sini, longsor siap terjadi, apalagi ditambah dengan berat motor, tetapi saya coba mengelola rasa takut dan khawatir untuk lebih mendekat dan meliha serta merasakan kekuasaan-Nya.

jangan harap bisa menakhlukan alam, karena akan sia-sia dan menjadikan pribadi yang sombong. Tapi cobalah, kelola rasa takut yang ada dalam diri untuk mendekat dan merasakan kekuasaan-Nya.
Setelah mengambil beberapa foto, saya kembali ke rumah. Sore hariya entah mengapa badan terasa lemas, dan kepala menjadi pusing sangat hebat. Dari saat itu sampai akan kembali ke Cikarang, saya mengalami ganguan kesehatan, dan sempat menginap sehari di rumah sakit. Karena alasan kesehatan tersebut, Bishop saya kirim melalui jasa ekspedisi, saya sendiri 'terbang' ke Jakarta menyusul Bishop yang sudah berangkat terlebih dahulu.

Ini adalah paragraf terakhir dalam rangkaian cerita perjalanan pulang kampung. Perjalanan sederhana dengan berbagai 'bonus' perjalanan yang tidak kami duga sebelumnya, selalu ada hikmah di setiap perjalanan ini, terutama rasa syukur yang mendalam sehingga kami masih bisa menempuh jarak dan waktu dengan roda dua serta masih bisa melakukan aktifitas dan bekarya seperti biasa setelahnya.
Terimakasih kepada :

  • Allah SWT yang masih mengijinkan untuk mengelindingkan roda Bishop di bumi Nya, sang pencipta alam semesta telah memberikan keindahan dan kami temui selama perjalanan. 
  • Partner perjalanan yang setia Neni yang telah menemani perjalanan sampai Purwokerto, dengan membawa karya foto ke Jakarta setelah ini.
  • Bishop yang tetep tangguh dan tidak rewel selama mengantarkan kami
  • Keluarga tercinta yang perhatian, serta merawat saya saat terkapar sakit.

Rangkaian cerita perjalanan 'Go Home' :

  1. Go Home
  2. Go Home #2
  3. Go Home #3
  4. Go Home #4
  5. Go Home #5
  6. Go Home #6






Rabu, 09 Oktober 2013

Go Home #6

Alarm di ponsel berbunyi tepat pukul 04.00, setelah berkemas  memasukan semua barang ke pannier. Saat itu pula saya melihat salah satu sambungan braket untuk menempelkan pannier, lepas sambungannya. Tapi tak mengapa, perjalanan masih bisa dilanjutkan dan target selanjutnya mencari tukang las. 

Menembus gelap pagi dengan jalan seperti sebelumnya, masih tidak mulus. Hanya terlihat kelip lampu teras pemukiman penduduk yang jarak antar rumah berjauhan. Sedikit terlintas pikiran tentang cerita rawan kejahatan di sepanjang jalur ini. Tapi pikiran itu segera saya buang berganti berpikir positif bahwa semua  akan aman. 

Semakin jauh terlihat aktifitas warga di pinggir jalan sudah terlihat, ketika terlihat seorang wanita sedang membuka  pintu warungnya, saya langsung meminggirkan bishop didepan warung makanan ini. "Pesan teh hangat ya" kata saya ke Neni sambil menyulut sebatang rokok. Saya pun bertanya kepada ibu warung, "ada tidak pantai dekat sini?" beliau menjawab "nanti sekitar 3 kilometer lagi ada petunjuk ke arah pantai, di kanan jalan" jawabnya. 

Kami hendak mengejar sunrise jika memungkinkan. Setelah mendengar penjelesannya dari ibu warung kami menuju kesana. Benar saja, kami melihat papan berukuran besar bertuliskan "Selamat Datang, di Obyek Wisata Pantai Karang Tawulan" berikut dengan daftar harga parkir dan tiket masuknya, tapi tidak terlalu saya perhatikan, toh masih pagi pasti juga belum ada petugasnya, pikir saya waktu itu.

welcome
Setelah melewati tanjakan yang cukup curam berikut juga dengan turunannya, akhirnya sampai di tempat parkir wisata pantai ini. Masih tampak lengang hanya ada bishop parkir ditempat yang berukuran sekitar sepertiga lapangan bola ini. Tampak di sekitarnya warung makan/minum sedang di persiapkan beroperasi oleh pemiliknya. Dari sini kami mengikuti anak panah petunjuk menuju pantai. 

Ternyata kami harus menuruni jalan menuju kesana, tampak seperti semenanjung tapi ini versi mininya, dengan gazebo yang sudah tidak ada atapnya, dari sini kami bisa melihat lautan luas tanpa terhalang apapun dan tempat kami berdiri berada 36 meter diatas permukaan laut  Deru ombak menghantam beberapa batuan karang menjadi pemandangan yang seru. Tampak juga karang besar menyerupai sebuah pulau. Pulau itu disebut, Nusa Manuk karena pada waktu-waktu tertentu dihuni oleh berbagai macam jenis burung. Secara administratif pantai ini berlokasi di desa Kelapagenep, kecamatan Cikalong, kabupaten Tasikmalaya. Serta koordinat tercatat di Latitude: S 7°48.878' (7°48'52.7") Longitude: E 108°18.002' (108°18'0.1")

semenanjung kecil
Sayang saat itu awan hitam lebih mendominasi, jadi matahari pun sebunyi dibalik awan, harapan untuk melihat proses matahari terbitpun tidak terlaksana. Sebenarnya ada dua tempat untuk menikmati pemandangan laut di Karang tawulan, satu tempat lagi letaknya di sebelah kanan tempat kami berdiri dan harus dengan posisi lebih kebawah lagi. Kami pun mengahabiskan waktu dengan mengambil beberapa foto disini, dan mendadak kami menjadi sangat narsis didepan kamera dengan tripot sebagai penyangganya. Tak mengapa toh kami hanya berdua disini, jadi tempat ini serasa milik berdua.

view sebelah kiri, dengan awan mendung


Hampir satu jam kami dsini sebelum naik lagi menuju tempat parkir. Tampak warung makanan sekitar sini sudah tampak beroperasi, menu mie instan menjadi sarapan kali ini. Saat kami akan bergegas melanjutkan perjalanan, seorang bapak menunjukan jika ban belakang bishop kempes. Untuk mengurangi beban dan mencegah kerusakan di ban/velg, Neni saya tinggal diwarung, sementara saya mencari tukang tambal ban yang kata bapak tadi berjarak sekitar 5 kilometer. Saya juga berniat mencari tukang las, untuk menyambung bagian braket pannier yang lepas.

Tidak jauh dari sebuah pasar tradisional, tukang tambal ban saya temui. Tidak lama kemudian dia beraksi dengan alat-alatnya, benar saja setelah di cek dengan air sabun, terdapat bocor dengan paku menancap. Kemudian ditambal kebocorannya, dipompa kembali, selanjutnya di cek lagi, ternyata masih ada kebocoran di bagian lain. Seterusnya hingga berulang sebanyak empat kali. Dan saya harus membayar empat kebocoran itu seharga empat puluh ribu rupiah. 

tambal ban:
 photo S91POK_zpsa77dd24a.jpg

Target setelah ini adalah mencari tukang las, tidak jauh dari tempat tambal ban, saya menemukan apa diinginkan, sekitar 15 menit dan pannier alumuniumpun kokoh menempel di braket

las braket:
 photo S92POK_zps24b0bde5.jpg

Setelah ini saya kembali ke pantai Trowulan untuk menjemput Neni dan melanjutkan perjalanan. Rute selanjutnya adalah, Cimauk - Jl.Raya Cimerak - Jl.Raya Pasir Gadung - Jl.Raya Cijulang. Memasuki daerah Cijulang kami melewati wisata Green canyon atau disebut juga Cukang Taneuh oleh warga setempat, tempat ini adalah wisata sungai yang airnya kehijauan disaat tidak turun hujan dengan pemandangan staklatif dan staklakmitnya. Kami sempat berhenti disini, dan mendiskusikan untuk masuk wisata ini atau tidak. Ternyata tidak, karena saya dan Neni pernah menikmati wisata ini beberapa waktu lampau.

Deretan jalur setelah ini adalah terkenal dengan beberapa tempat yang patut dikunjungi, tentu saja untuk menikmati keindahan ciptaanNya. Beberapa nama, seperti pantai Batu Karas, Pantai Batu Hiu, sungai Citumang, sampai pantai Pangandaran. Ketika terlihat papan petunjuk ke pantai Batu karas, kamipun hanya berhenti sejenak, berdiskusi dan memutuskan untuk tidak ke pantai itu. lagi-lagi alasan utamanya karena saya dan Neni sudah pernah kesana.

Menempuh sekitar 15 kilometer dari Batu karas, ada papan petunjuk lagi mengarah ke Pantai Hiu. Neni berkata "mau kesana gak?kalo aku udah pernah kesana". Saya jawab "kesana aja yuk..kan aku belum pernah". Dan Neni harus menurut perkataan saya, jika tidak maka dia akan menunggu sampai saya lihat pantai Batu Hiu, dan kembali untuk menjemputnya.

Tidak sampai 5 kilometer dari petunjuk arah tadi, lagi-lagi kami beruntung masuk tanpa di kasih karcis, alias gratis. Padahal terlihat petugas di pos loketnya. Sampailah kami di lokasi, Bishop langsung saya ajak ke pinggir pantai, sampai akhirnya tidak bisa melaju lagi. Karena sertengah rodanya sudah tertanam pasir, dan saya biarkan begitu saja. Saya dan Neni selanjutnya menikmati keindahan pantai ini.

sisi kanan batu Hiu
Pasir yang cukup terlihat putih, dengan berserakannya ranting kayu atau buah kelapa kering akibat terbawa ombak. Disebelah kanan pantai tampak sebuah bukit kecil, kata Neni yang sudah pernah kesana, bisa menikmati dari atas bukit itu. Tapi saya tidak berminat naik kesana. Dan lebih menikmati suara ombak serta mengambil beberapa foto. Oya..tentang kenapa pantai ini di sebut pantai Batu Hiu, karena terdapat batu karang yang menyerupai sirip hiu yang letaknya beberapa meter dari pantai, dan terendam air laut.

di Batu Hiu

keep moving

Setelah istirahat di sebuah warung yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari pantai, kami melanjutkan perjalanan. Sinar matahari semakin terik, debu berterbangan ketika kendaraan didepan kami melaju. Selanjutnnya kami hendak mengunjungi suatau tempat yaitu Citumang. Setelah menentukan rute melalui google map di ponsel, kami menuju kesana. Tapi walaupun terlihat 15 kilometer jarak di peta antara pantai Batu Hiu dengan Citumang, perjalanan kesana cukup membutuhkan waktu sekitar satu jam, karena kondisi jalan yang tidak mulus, jalan kerikil dan berdebu masih mendominasi, serta lokasi yang perlu dicari dengan bertanya ke warga sekitar.

Obyek wisata Citumang berlokasi di desa Bojong, kecamatan Parigi, Ciamis, berkoordinat Latitude: S 7°38.690' (7°38'41.4"), Longitude:E 108°32.092' (108°32'5.5"). Ketika akan memasuki desa ini terlihat papan petunjuk mengarah ke lokasi, kami pun tinggal mengikutinya. Memasuki desa Bojong saya sempat terheran ketika melihat sungai di pinggir jalan desa dengan lebar sekitar 3 meter dan sudah diaspal, heran dan terkejut karena betapa jernihnya air yang mengalir disini. Sejernih air mineral yang dijual dengan kemasan botol atau galon. Ke dalaman sungai pun bisa diperkirakan 2 meteran, karena dasarnya terlihat jelas. Kami melaju pelan di jalan desa sambil memperhatikan jika ada petunjuk lagi yang menyatakan obyek wisata Citumang.

Dan petunjuk itu pun tampak. Spanduk besar ucapan selamat datang ke obyek ini terpanjang jelas. Setelah memarkir Bishop, kami langsung menuju sebuah rumah dengan spanduk tadi, tidak lama kemudian disambut dengan senyum lebar seorang pemuda berkulit sawo matang. Kami segera mengutarakan maksud tujuan kami. Dengan antusias pemuda ini menjelasakan tentang obyek wisata ini.

Pemuda yang setelah ini diketahui namanya Andri ini, mejelaskan jika kita bisa body rafting di sungai Citumang ini, perlengkapan seperti pelampung sudah disiapkan. Andri ini akan memandu kami selama melakukan body rafting atau kegitaan meyusuri sungai sepanjang 700 meter ini. Dengan paket harga Rp 140.000,- per dua orang yang ditawarkan. Layaknya antara penjual dan pembeli sayapun menawar harga tersebut, pada akhirnya harga disepakati Rp 120.000,- per dua orang.

Setelah melakukan persiapan, karena Neni tidak membawa celana pendek, disini juga disediakan untuk di sewa. Kami pun berjalan sejauh sekitar 300 meter untuk menuju tempat awal melakukan body rafting. Selama perjalanan kesana Andri yang dibantu temannya bernama Ayu memandu kami serta bercerita tentang obyek ini. Jika awalnya sekitar tahun 1995 seorang Jerman menemukan tempat ini sampai akhirnya berkembang menjadi salah satu obyek wisata yang menarik para wisatawan. Sebagai anak negeri kadang saya merasa malu mendengar cerita tersebut , karena banyak tempat-tempat semacam ini ditemukan dan di eksplore oleh orang luar negara.

Untuk tiket masuk di kelola oleh pemerintah setempat, sedangkan untuk kegiatan seperti memandu setiap wisatawan yang kesini di serahkan ke pemuda/i desa Bojong ini. Akhirnya kami sampai dilokasi yang dimaksud. Sudah tampak rombongan wisatawan mancanegara siap dengan busana renangnya untuk menyusuri sungai ini. Terlihat juga sungai selebar 10-15 meter dengan air jernih kehijauan dihadapan kami, Andri pun bertanya kesiapan kami untuk menyusuri sungai.ini, segera kami jawab jika kami sudah siap. Tidak lama kemudian kami menyeburkan diri kesungai. Segarnya air sungai sangat terasa diseluruh tubuh.

naik akar pohon sebelum lompat
airnya bening

Andri mengajak melawan arus sungai menuju sebuah gua, sebelum masuk ke gua di pinggir sungai terdapat tebing dengan akar pohon merambat di dindingnya. Beberapa orang bule sudah naik merambat lewat akar besar itu. Sampai ketinggian sekitar 5 meter, mereka lompat dan byuuur... Andri mengajak kami untuk melakukan hal sama. Dia lebih dulu melalakukannya seolah memberi contoh. Setelah itu baru saya dan di ikuti oleh Neni. Wisata Citumang ini selain menawarkan keindahan alam dengan uniknya sungai Citumah yang airnya sangat jernih bewarna kehijauan, juga menantang andrenalin dengan melakukan lompatan-lompatan dari pohon dipinggir sungai atau dari ketinggian sungai yang membentuk seperti air terjun.

jump
Setelah masuk ke gua, kami disuguhi pemandangan stalaktit dan stalagmit. Setelah samai ujung gua kami kembali menyusuri sungai mengikuti arus. Tantangan berikutnya adalah lompat dari air terjun, sedikit berbeda sensasinya karena kami harus menahan arus sungai sebelum melompat. Beberapa tantangan untuk lompat ditawarkan Andri, karena sepanjang pinggir sungai dipenuhi pohon yang cukup rindang bisa untuk berpijakan saat akan melompat, tentu saja setelah memanjatnya.

Kami selanjutnya menghayutkan diri dalam arus sungai ini. Beberapa kali harus menghindari bebatuan besar. Tapi relaks yang kami rasakan, suasananya begitu tenang dengan suara alam seperti gemericik air, ataupun suara burung liar. Tidak terasa kami sudah hampir melewati 700 meter, ini berarti kegiatan body rafting ini akan berakhir. Tapi sayang sepanjang menelusuri sungai ini baterai kamera tidak bisa diandalkan, ini bearti tidak banyak gambar yang bisa kami ambil disini. Tapi tak mengapa kami sudah bisa merasakan sendiri body rafting dan menikmati alam Citumang.

Setelah istirahat dan makan siang di sini, kami melanjutkan perjalanan kembali. Sambil melaju di atas Bishop kami berbincang akan kemana lagi setelah ini. Dan kami belum tahu akan berhenti dimana. Waktu menunjukan pukul tiga sore, dan terpikir untuk ke pantai Pangandaran untuk menyaksikan sunset disana. Oke..disepakati untuk menuju kesana. Tidak terlalu mengalami kesulitan untuk menuju kesana, disamping karena banyak petunjuk mengarah kesana, lagipula saya sudah pernah 2 kali melewati jalur ini.

Sekitar lima belas kilometer dari Citumang kami masuk ke pantai Pangandaran. Setelah mencari spot untuk memarkir Bishop, akhiirnya kami menemukan tempat untuk istirahat dipinggir pantai berikut bishop terparkir. Karena sebelumnya kami sulit mendapatkan sinyal untuk ber internet, disini saya buka laptop saya untuk mencari informasi tiket kereta api. Karena rencana awal Neni tidak ikut saya sampai Jogja, dan tetap akan berlebaran di Jakarta bersama keluarganya disana. Stasiun terdekat dari sini adalah Purwokerto, saya mendapatkan jadwal keretanya beserta ketersediaan tiketnya , dan selanjutnya rencana besok adalah meluncur ke stasiun kereta Purwokerto.


selalu ada keceriaan ditempat seperti ini
Oke masalah tiket sudah sedikit terpecahkan, selanjutnya kami menikmati pantai Pangandaran dan menanti matahari tenggelam. Untuk ukuran tempat wisata yang menjadi andalan kota Ciamis ini saat itu terlihat agak sepi, malah lebih dominan wisatawan mancanegara yang terlihat. Pantai landai membuat saya tidak lagi mempuyai alasan untuk menyusuri pantai ini dengan bishop, menuju kebarat pantai. Sedangkan Neni sibuk dengan kameranya mengabadikan momen dengan tombol shutternya. Warna langit yang menguning, memantul keseluruh samudera memang momen yang jarang kami temui. Beberapa anak kecil tampak riang berlari seolah dikejar ombak. Beberapa penyewa kuda tampak mondar mandir mencari konsumennya. Beberapa orang berambut pirang dengan bikininya sudah siap meyaksikan tenggelamnya sang surya.




Sedang asyik kami bercengkerama, suara orang dari belakang kami seolah menyapa dengan kalimat "Hey..what are doing?" kami pun menengok kebelakang. Tampak seorang bertubuh agak gemuk, berambut pirang, berjalan menuju kami. Dengan segera saya jawab sapaan dia. Setelah berkenalan, dia mengaku bernama Allan asal dari Jerman. Allan sudah memperhatikan kami kegiatan kami sedari tadi, dengan dandanan bishop memakai panier alumunium, dan kami mengambil beberapa foto dengan kamera dan tripod tampaknya mengundang rasa ingin tahunya Allan sehingga menghampiri kami. Allan bercerita jika dia punya hobi yang sama yaitu photoraphy dan travelling, sebelum ke Pangandaran ini dia di Bali dan mengunjungi beberpa tempat di pulau Jawa. Hampir setiap tahun dia mengunjungi Indonesia. Sepertinya dia sudah terlanjur cinta dengan negara ini. Setelah dia meminta untuk foto bersama kami, lalu pamit menuju hotelnya. Kami disarankan oleh Allan jika akan mencari tempat menginap jika bisa yang dekat dengan penginapannya, dai pun menyebutkan tempatnya menginap, dari nama hotelnya aja kami sudah tahu jika tarifnya tidak sesuai anggaran, kami lebih memilih tempat menginap bertarif seratus ribu permalam untuk istirahat dan melanjutkan perjalanan esok hari menuju Purwokerto.

bersama Allan
saatnya kembali