Senin, 23 September 2013

Go Home #5

Selepas istirahat di warung, kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Masih dengan kondisi jalan yang sama, penuh kerikil, berdebu, tidak banyak kendaraan lain, tapi kali ini panas matahari semakin menyengat, memaksa saya membuka ventilasi jaket yang berada di bagian bahu. Neni yang berada di belakang seolah sudah hafal mengikuti gerakan badan saya ketika berkendara, prinsipnya boncenger jangan melawan gaya gerakan dari pemegeng kemudi,  ini penting untuk kenyamanan dan keselamatan. Karena di jalur ini saya sering bermanuver untuk sekedar menghindari kubangan atau lubang di tengah jalan. 

Memasuki kecamatan Pameungpeuk, jalan aspal relatif mulus kami temui. Laju Bishop di percepat dari sebelumnya, entah akan berhenti dimana lagi. Karena memang dari awal kami tidak punya rencana perjalanan yang jelas tentang tempat untuk singgah, istirahat. Tetapi jawaban atas pertanyaan tadi terjawab setelah melihat petunjuk arah menuju Pantai Santolo. Nama pantai ini liputannya sering saya dengar dan baca, Memang pantai ini merupakan salah satu primadona kabupaten Garut. Dari jalan utama kami belok kanan, sekitar 3-4 kilometer menuju ke pantai. Melewati loket parkir yang tidak ada petugasnya, entah karena mungkin sedang libur. Kami melewati jalan dengan lebar 3 meter dengan jalan aspal , dengan pemandangan padang rumput di sebelah kanan dan kiri jalan, sesekali harus berhenti untuk memberi jalan kepada gerombolan sapi bersama sang gembalanya. Juga akan menemukan markas LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa) disalah satu tikungan jalan ini, konon tempat ini juga untuk melakukan peluncuran roket untuk uji coba.

Deretan warung makan bejejer tanpa putus, menjajakan menu hewan laut. Saya sedikit bingung mencari lokasi pantainya, ternyata apa yang dicari ada dibalik deretan warung tersebut, hamparan pasir putih, tidak tampak banyak wisatawan hanya beberapa anak-anak sedang asyik bermain ombak dengan telanjang dada, tepat didekat deretan warung berjajar pula perahu nelayan sedang tidak melaut, tampak jauh dari pantai sebelah kanan deretan bukit. Karena saat itu siang hari serta matahari sedang terang menyinari, panasnya membuat memandang pantai dari warung dengan jendela yang sengaja di buat untuk menikmati ombak yang berkejaran. Tidak lupa kami memesan untuk dua porsi ikan laut seharga tujuh puluh ribu rupaih lengkap dengan nasi dan minuman es teh manis.

dari warung makan
pantainya
Pantai yang berlokasi di kecamatan Cikelet, kabupaten Garut, Jawa barat serta berkoordinat Latitude:S 7°39.591' (7°39'35.5") Longitude: E 107°41.275' (107°41'16.5")  ini kami tinggalkan setelah kurang lebih satu jam disini. Sebelum keluar gerbang, kami berkeliling sekitaran obyek wisata ini lebih ke dalam lagi. Pemandangan yang didominasi oleh warung-warung dari penjaja makan, sampai souvenir sebagai cidera mata khas pantai. Semakin kedalam akan menemukan sungai yang bermuara kepantai ini tentunya. Perahu nelayan dengan aktifitasnya, seperti membuat jaring ikan atau sekedar menimbang hasil tangkapannya.  Tampak juga dai sini seperti pulau kecil dengan lebat pepohonan. Di seberang sungan juga tampak sebuah pantai, tapi sayang sekali tidak ada jembatan penghubung untuk kesana, membuat kami harus balik arah dan meninggalkan tempat ini.

dermaga perahu nelayan
Masih penasaran dengan pantai disebelah Santolo, kami bekendara pelan untuk melihat petunjuk menuju kesana. Tidak lama akhirnya menemukan meyerupai tugu terdapat ruangan loket karcis serta membentang di atasnya bertuliskan "Sayang Heulang". Lagi-lagi kami masuk tanpa ada petugas penjaga loket alias gratis. Tidak lebih dari 3 kilometer pantai sudah terlihat setelahnya masih ada pemukiman  penduduk disini. Kami memacu bishop sampai ujung pantai, yaitu sungai yang sama seperti apa  terlihat lihat dari pantai Santolo tadi. Pulau kecil itu juga terlihat dekat dari sini, lengkap dengan jembatan menuju bernama Pulau Santolo itu. Tetapi jembatan berbahan kayu ini  terlihat kurang layak dari segi keamanan karena banyak papan yang sudah lapuk.

menuju pulau Santolo
pose sesudah main bola
Hanya beberapa anak kecil bemain bola yang kami temui saat memakir Bishop. Kami pun balik arah menuju pantai. Luas lautan sudah tampak, kami menuju ke bibir pantai. Sedikit berbeda dengan pantai-pantai sebelumnya, pantai dipenuhi dengan tumbuhan laut, entah apa namanya, yang tumbuh  mengambang di air. Saya menampaki dengan sepatu basah, melihat sekitar. Tampak dua orang disini, salah satu sedang menyelam di pantai yang membentuk seperti kolam dengan kacamata selam serta dilengkapi kaki katak yang biasa di gunakan penyelam-penyelam profesional. Sambil memegang jaring penangkap ikan. Ketika ditanya, sedang mencari ikan apa. Salah satu orang lagi yang menunggu di tepi 'kolam' menjawab, "sedang mencari ikan hias", sambi memegang ember untuk memuat hasil tangkapan. Setengah jam kami disini sebelum akhirnya benar-benar  meninggalkan pantai ini. 

Sayang Heulang
ikan hias untuk sesuap nasi
Masih di jalur pesisir pantai Jawa, matahari cukup menyengat membuat kami beberapa kali istirahat untuk sekedar minum beberapa tengguk, di minimarket ataupun di bahu jalan. Seperti ada aturan tidak tertulis yang biasanya kami berlakukan untuk melakukan perjalanan dengan sepeda motor yaitu berhenti setiap 2 jam untuk istirahat kami patuhi. Menjelang magrib kami memasuki daerah Cidadap, Tasikmalaya. Tampak matahari hampir tenggelam dihadapan, sunset pantai  yang selalu kami rindukan setiap melakukan perjalanan. Sedikit panik karena belum menemukan jalan menuju pantai untuk duduk manis memandang sang matahari tenggelam.

rest point entah yang keberapa
Sampai akhirnya sampai di daerah Cikalong, Tasikmalaya (Lat:S 7°47.504' Long: E 108°10.791') bertemu gerombolan anak muda ber sepeda motor keluar dari sebuah jalan, ternyata jalan itu menuju sebuah pantai. Bishop pun diarahkan kesana. Pantai tampak luas dengan hamparan pasir mirip gurun. Pantas saja tempat ini menjadi tujuan anak-anak muda tadi untuk mengabiskan sore karena lokasinya memang nyaman untuk sekedar mengobrol ditemani angin laut. Saya dan bishop berkeliling di area ini, layaknya sedang berkendara di padang pasir beberapa kali kami hampir terjatuh dilembutnya pasir, memang sepertinya tidak cocok motor jenis seperti Bishop ini dengan medan berpasir. Sunset yang kami tunggu sepertinya malu-malu menampakan wajahnya, hanya muncul sebentar dan kemudian hilang di balik awan tipis. Setelah mengambil beberapa gambar dengan kamera,  kami menuju sebuah warung makanan tidak jauh dari pantai.


muncul sesaat
between us

Warung sederhana berdinding papan kayu, lengkap bale-bale didepannya bisa untuk rebahan badan. Saya memesan kopi, dan makan beberapa pisang goreng. Saya sempat tanya kepemilik warung "nama pantai ini apa ya,bu?" beliau dengan logat sundanya menjawab dengan ekspresi wajah agak bingung "apa ya..orang sini biasanya menyebut pantai Cikalong karena nama daerah ini". Sambil berbincang dengan Neni mau bermalam dimana hari ini. Sudah tepikir untuk mendirikan tenda di pinggir pantai. Akhrinya obrolan terpotong sebentar karena pesanan makan malam kami datang, menu telur goreng dengan kecap mewarnai nasi sudah cukup untuk mengganjal perut. 

Tidak lama datang seorang pria dengan pakaian tampak lusuh, celana panjang yang dipotong sedengkul, menemani kami mengobrol. Dia juga memesan menu yang sama yang sama dengan kami. Sesudah mengahabiskan isi piring, bapak yang mengaku bernama Rudi bercerita tentang kegiatannya disini, Pak Rudi bekerja sebagai buruh pengolah pasir besi tidak jauh dari warung ini. Pasir besi di kumpulkan dari berbagai daerah sekitar sini, selanjutnya dengan mesin di proses hingga menjadi biji besi. Perusahaan ini milik orang asing, dan hasilnya di ekspor. Saya membayangkan ini adalah skala kecil dari eksploitasi kekayaan alam Indonesia yang sebagian untungnya untu negara asing. Untuk skala besarnya saya membayangkan PT. Freeport di Irian. Dan jika mencari infomasi tentang penambangan ini lebih jauh di mesin pencari dengan keyword "pasir besi cikalong tasikmalaya". Banyak cerita yang sepertinya sudah biasa tentang penyalahan wewenang penguasa dan pengusaha untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Serta dampak lingkungan yang tak tidak dihiraukan. Ironis.

di sela-sela cerita Pak Rudi
Hampir satu jam kami disini. Setelah pak Rudi meninggalkan untuk kembali ke asrama yang disediakan perusahaannya. Kami pun bersiap, karena tidak membawa matras untuk alas tidur kami hendak membeli kardus bekas dari pemilik warung. Tapi beliau malah menawarkan kamar milik tetangganya yang letaknya tidak jauh dari sini. Kami pun tiba di lokasi, sebuah deretan beberapa kamar mirip tempat kos 3x3 meter dengan fasilitas seadanya. Setelah membayar sewa pemalam dua puluh ribu rupiah. Kami istirahat untuk perjalanan esok. 






2 komentar:

  1. mirip pantai kondang iwak yang akan dieksplorasi buat tambang silika mas suyut. miris..

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih banyak pantai dieksploitasi tanpa memperhatikan dampak lingkungannya

      Hapus