Our Riding Ware

Selasa, 10 September 2013

Go Home #4

Meninggalkan wisata Puncak Guha, kembali menapaki jalan di dominasi kerikil, konon sedang di lakukan perbaikan jalan/akan diaspal, walaupun tidak terlihat aktifitas pengerjaan jalan. Taget selanjutnya adalah mencari warung untuk sarapan. Di lihat dari kondisi jalan, jalur ini terlihat kurang menguntungkan dari segi ekonomis atau mungkin kurang di perhatikan oleh pemerintah daerahnya, terbukti dengan sulitnya kami menemukan tempat penyedia sarapan.

Dua puluh menit dari pantai Puncak Guha,  bukan menemukan tempat yang di maksud, Neni malah memberi isyarat untuk memperlambat Bishop, karena melihat papan berukuran sekitar 60x20 cm bertuliskan "Wisata Pantai Cicula", tidak terlihat seperti ada jalan setelah papan itu, pasti akan terlewatkan jika mengendarai Bishop dengan kecepatan di atas rata-rata. Jalan selebar satu meteran menyambut untuk menuju pantai ini, tentunya dengan jalan tanah penuh hijauan rumput liar. Semakin menyempit jalannya, kanan/kiri ada tebing setinggi sekitar 2 meter, membuat saya merasa berkendara di trek mobil Tamiya yang sering dimainkan semasa sekolah dasar.

Belum genap berkendara sejauh satu kilometer garis pantai sudah terlihat, tidak lama kemudian di sambut oleh hamparan pasir terlihat bersih dari bekas tapak kaki, seperti belum terjamah oleh manusia atau makhluk hidup lainnya. Tidak tahu pasti lokasi ini berada di mana secara administatif, karena tidak ada orang untuk mendapatkan infomasinya, mencoba googling dengan kata kunci 'pantai Cicula' juga tidak di temukan. Tetapi menurut aplikasi di ponsel saya, tempat ini berkoordinat S7°37’37.46”  E107°40’28.99”. 

pintu masuk pantai Cicula
jalan menuju
Garis pantai ini tidak terlalu panjang, saya perkirakan tidak lebih dari 700 meter, sisi sebelah kiri (jika menghadap laut) di batasi oleh bukit memanang dan menjorok ke laut, sedangkan sebelah kanan bukit kecil sekitarnya penuh dengan batu karang. Karena begitu sepi tidak ada orang lain kecuali kami berdua, layaknya halaman rumah sendiri, Bishop saya ajak berkeliling di pantai ini dengan berbagai gaya dengan mempertimbangakan faktor keamanan berkendara tentunya, rasa riang gembira bersama kami saat Bishop di ajak melibas pasir pantai, pasir yang basah memudahkan roda bishop bebas membuat jejaknya.

Menuju sisi kanan pantai melewati batu karang, dan terhenti laju Bishop di depan karang yang membentuk seperti kubangan, selanjutnya kami menikmati suara ombak, serta dasyatnya ketika menghantam batu karang. Begitu tenang dan asri suasana disini, membuat kami lupa akan rasa lapar dan tujuan selanjutnya untuk mencari warung makanan. Tapi kami hanya setengah jam disini, untuk selanjutkan keluar dari pantai ini. Tampaknya terlalu mainstream jika menyebutnya tampat ini 'surga tersembunyi' dan bahasa sejenisnya, beberapa foto yang Neni ambil sepertinya bisa menggantikan untuk mendefinisikan tempat ini.

bermain di halaman belakang
enjoy the show

sisi kiri
sisi kanan

we was here
nice to meet you, Cicula
Tidak ada kemacetan mudik lebaran disini, seperti apa yang dikeluhan lewat media sosial, tapi walau tidak macet Bishop juga tidak bisa dipacu melebehi 40 km/jam karena kondisi jalan. Debu jalan sedikit mengganggu pandangan ketika berada di belakang truk, kerikil-kerikil terpental saat roda Bishop melindasnya, sambil tengak tengok mencari sarapan pagi, padahal waktu itu sudah pukul sepuluh pagi.

Jarak 5 kilometer dari pantai Cicula, kami pun menemukan warung makan. Kami kira tempat ini menyediakan menu ikan laut seperti apa yang tertulis pada papan petunjuk di depan warung ini. Ternyata di sini hanya menyediakan ikan mentah saja, tanpa bisa memasaknya. Pilihan menu selanjutnya hanya terdapat mie instan. Sesudah makan kami istirahat di warung ini, dari sini terlihat garis pantai, angin semilir lumayan kencang, kami pun rebahan hampir tertidur di samping warung dengan lantai dari kayu lembaran.



Baca juga:
Go Home 
Go Home #2
Go Home #3
Go Home #5


Tidak ada komentar:

Posting Komentar