Our Riding Ware

Selasa, 03 September 2013

Go Home #3

“Getting lost is just another way of saying 'going exploring.” ― Justina Chen
Mentari pagi menemani ketika menyusuri jalan selepas dari pantai Ranca Buaya. Seolah sinarnya memberi petunjuk untuk mengikuti kemana harus menuju. Memang kami sedang mengarah ke timur. Setelah menikmati aspal mulus pada akses menuju Ranca Buaya, kini kami menemui hamparan batu kerikil di sepanjang perjalanan. Sempat melesat  dalam pikiran bahwa jalan mulus tersebut hanya untuk menuju pantai Ranca Buaya, karena daerah tersebut adalah salah satu sektor andalan pariwisata pemerintah daerah setempat. Padahal setelah ini banyak potensi wisata lainnya yang tidak kalah menarik. Hanya saja dari segi akses menuju kesana perlu usaha  lebih. Sedangkan kalau dilihat dari sisi lain, pantai-pantai setelah ini lebih tampak alami, tidak kotor oleh sampah pengunjung, ataupun warung-warung yang kadang terlihat mengganggu pemandangan.
lights will guide you home
jalan kerikil:
 photo S27_zps96d52853.jpg

Bishop dibawa dengan kecepatan rata-rata 30-40 km/jam selain untuk menghindari tergelincir dari kerikil juga untuk melihat dan menikmati pemandangan sekitarnya. Disebelah kiri jalan adalah perbukitan memanjang sedangkan dikanan jalan terlihat garis pantai. Layaknya balita yang baru saja bisa berjalan, ingin mencoba menuju tempat yang baru ditemui. Begitu juga dengan kami, ingin mencoba setiap tempat baru. Kadang terlihat konyol setelahnya, belok semaunya sendiri atau menyasarkan diri untuk menuju sebuah bukit, maksud hati ingin melihat dengan pandangan yang luas, melihat hamparan samudera ataupun hijauan perbukitan. Tentu akan menjadi kepuasan tersendiri ketika mencapainya.


Melihat jalan aspal menuju keatas bukit, membuat rasa keingintahuan akan pemandangan apa yang akan ditemui nanti membuat kami berusaha agar sampai ke tempat tersebut. Walau tampak terpotong jalannya, kami tetap mencoba melewatinya. Akan tetapi, ketika mau mulai menuju kesana sudah terhadang oleh jalan tanah dan aspal berjarak beberapa centimeter mengakibatkan Bishop tidak dengan mudah melewati, saya sampai harus mengganjal dengan sebongkah batu, setelah sedikit mengeluarkan keringat, akhirnya bisa menapak aspal. Tanpa pikir panjang bishop langsung tancap gas, tapi itu hanya beberapa meter saja karena didepan jalannya putus. Dengan sedikit tertawa saya bilang ke Neni yang masih nunggu di bawah tentang kondisi jalan

make your own road
akhirnya bisa naik ke aspal:
 photo S25_zps3ead8432.jpg

Kembali ke jalan utama, kami melihat jalan setapak, tampak juga seperti bangunan menghadap laut. Setelah bercakap sebentar dengan Neni, jalan itu pun disusuri. Disela-sela rumputan, ilalang setinggi satu meteran Bishop melaju dengan pelan. Hanya mengikuti jalan setapak ini, ternyata di tengah jalan kami menemui seorang setengah baya, sedang memegang alat pemotong rumput. Astaga..! ternyata beliau sedang membersihkan rumput diantara batu nisan. Walaupun hanya beberapa batu nisan , tapi ini sudah merupakan komplek pemakaman. Kami pun bertanya ke bapak tersebut, apakah ada jalan menuju rumah itu dari jalan ini. Beliau menjawab, tidak ada. Untuk menghormati penduduk lokal, kami mengurungkan niat untuk segeran balik kearah ketika kami menuju kesini. Mungkin kalau tidak ada bapak tadi, saya tetap meneruskan sampai jalan setapak itu berakhir.

kuburan, balik kanan
padahal sudah nampak garis pantainya:
 photo S26_zps59df2f2a.jpg

Tak apalah dua kali usaha kami tidak mendapatkan apa yang di harapkan. Sekitar tiga kilometer dari Ranca buaya, disebelah kanan jalan terlihat papan membentang di antara sepasang gapura bertuliskan "Selamat Datang. Di Objek Wisata Puncak Guha". Di balik gapura terdapat loket karcis masuk, terlihat sudah tidak terawat, kacanya di depannnya sudah pecah. Lagi-lagi tidak ada petugas disana, otomatis kami langsung menerobos masuk.

Melewati jalan tanah sedikit bergelombang, serta di sebelah kanan kiri hamparan padang rumput ilalang tampak mengering, seketika kami berhenti disini, terlihat hamparan samudra hindia dari sini. Rasa takjub walau tidak terucap, senyum bahagia melihat ini sudah merupakan rasa syukur, telah dipertemukan keindahan alam nusantara ini. Selanjutnya kami menuju ke tebing yang langsung menghadap laut lepas. Selanjutnya saya dengan Bihsop berkeliling padang rumput ini, tapi harus hati-hati karena permukaan padang ini miring alias tidak rata terlebih jika sudah sampai pinggir tebing, karena gaya untuk turun ke tebing akan lebih besar.
touch down!:
 photo S51_zps4e802cb1.jpg

what a beautiful place! 
tetap harus hati-hati
Wisata Puncak Guha, tepatnya berlokasi di desa Sinarjaya, kecamatan Bungbulang, kabupatean Garut, tercatat di aplikasi android saya berkoordinat  S7°37’37.4628”  E107°40’28.9992”. Puncak Guha merupakan semenanjung kecil, kami bisa melihat samudra hindia secara bebas tanpa penghalang apapun, disini juga terdapat gua lebih mirip sumur besar (karena saya harus menengok kebawah untuk melihat ke lubang tersebut) menghadap laut didalam sangat ramai dengan suara kelelawar, saya baru mengerti maksud gambar kelelawar di papan masuk tadi setelah melihat gua ini.


Disebelah kanan (kalau menghadap laut) terdapat muara sungai, terlihat dari atas para nelayan membawa jaring entah sedang mencari apa di pertemuan sungai dan laut ini, sungai yang terlihat dari atas tempatkami berdiri merupakan perbatasan antara kecamatan Bungbulang dan Caringin.

menjaring rejeki
Hamparan hijau rumput mirip dengan rumput sintentis lapangan futsal, tidak banyak sampah bungkus makanan/minuman. Beberapa kali kami merebahkan tubuh ini, angin semilir sedikit kencang, hanya ada suara ombak dan angin yang berhembus, sangat tenang. Ada beberapa gazebo untuk berteduh walau sebagian gentingnya sudah rontok. Tapi kami masih bisa berteduh dari bayangan bangunan gazebo itu. Dan jangan harap menemukan warung atau penjaja makanan disini seperti tempat wisata lain.

view sebelaha kanan
view sebelah kiri
karpet rumput
pose yang aneh
dan tertidur
Kurang lebih dua jam disini, walau masih terasa kurang lama menikmati tipe pantai yang berbeda dengan kebanyakan. Dalam hatipun saya bergumam untuk suatu saat kembali lagi kesini, untuk sekedar mendirikan tenda dan bermalam, menunggu sunset pulang ke peraduaannya. Semoga saat kembali nanti  wajah pantai ini tidak banyak berubah dan tetap eksoktis.

sampai jumpa kembali si eksostik


Baca juga:
Go Home
Go Home #2
Go Home #4
Go Home #5



11 komentar:

  1. nah pantay itu yang bikin aku kangen

    BalasHapus
  2. sori om suyut nama ane rama bergawa di pol dan pesbuk

    BalasHapus
  3. Tebing dan ombak pantai selatan memang mempesona..

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan masih banyak lagi yang belum diketahui pesonanya :)

      Hapus
  4. mas suyut memang kerjaannya seneng membuat iri riders lain... :mewek:

    BalasHapus
    Balasan
    1. haiyaah,,,om Bejo bisa aja..smua rider bisa kok :)

      Hapus
  5. mantap pemandangannya, tp kalo motor matic haduh bisa bahaya kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa kok pake matic..tapi pelan2 :)
      makasih sudah mampir :)

      Hapus