Senin, 23 September 2013

Go Home #5

Selepas istirahat di warung, kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Masih dengan kondisi jalan yang sama, penuh kerikil, berdebu, tidak banyak kendaraan lain, tapi kali ini panas matahari semakin menyengat, memaksa saya membuka ventilasi jaket yang berada di bagian bahu. Neni yang berada di belakang seolah sudah hafal mengikuti gerakan badan saya ketika berkendara, prinsipnya boncenger jangan melawan gaya gerakan dari pemegeng kemudi,  ini penting untuk kenyamanan dan keselamatan. Karena di jalur ini saya sering bermanuver untuk sekedar menghindari kubangan atau lubang di tengah jalan. 

Memasuki kecamatan Pameungpeuk, jalan aspal relatif mulus kami temui. Laju Bishop di percepat dari sebelumnya, entah akan berhenti dimana lagi. Karena memang dari awal kami tidak punya rencana perjalanan yang jelas tentang tempat untuk singgah, istirahat. Tetapi jawaban atas pertanyaan tadi terjawab setelah melihat petunjuk arah menuju Pantai Santolo. Nama pantai ini liputannya sering saya dengar dan baca, Memang pantai ini merupakan salah satu primadona kabupaten Garut. Dari jalan utama kami belok kanan, sekitar 3-4 kilometer menuju ke pantai. Melewati loket parkir yang tidak ada petugasnya, entah karena mungkin sedang libur. Kami melewati jalan dengan lebar 3 meter dengan jalan aspal , dengan pemandangan padang rumput di sebelah kanan dan kiri jalan, sesekali harus berhenti untuk memberi jalan kepada gerombolan sapi bersama sang gembalanya. Juga akan menemukan markas LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa) disalah satu tikungan jalan ini, konon tempat ini juga untuk melakukan peluncuran roket untuk uji coba.

Deretan warung makan bejejer tanpa putus, menjajakan menu hewan laut. Saya sedikit bingung mencari lokasi pantainya, ternyata apa yang dicari ada dibalik deretan warung tersebut, hamparan pasir putih, tidak tampak banyak wisatawan hanya beberapa anak-anak sedang asyik bermain ombak dengan telanjang dada, tepat didekat deretan warung berjajar pula perahu nelayan sedang tidak melaut, tampak jauh dari pantai sebelah kanan deretan bukit. Karena saat itu siang hari serta matahari sedang terang menyinari, panasnya membuat memandang pantai dari warung dengan jendela yang sengaja di buat untuk menikmati ombak yang berkejaran. Tidak lupa kami memesan untuk dua porsi ikan laut seharga tujuh puluh ribu rupaih lengkap dengan nasi dan minuman es teh manis.

dari warung makan
pantainya
Pantai yang berlokasi di kecamatan Cikelet, kabupaten Garut, Jawa barat serta berkoordinat Latitude:S 7°39.591' (7°39'35.5") Longitude: E 107°41.275' (107°41'16.5")  ini kami tinggalkan setelah kurang lebih satu jam disini. Sebelum keluar gerbang, kami berkeliling sekitaran obyek wisata ini lebih ke dalam lagi. Pemandangan yang didominasi oleh warung-warung dari penjaja makan, sampai souvenir sebagai cidera mata khas pantai. Semakin kedalam akan menemukan sungai yang bermuara kepantai ini tentunya. Perahu nelayan dengan aktifitasnya, seperti membuat jaring ikan atau sekedar menimbang hasil tangkapannya.  Tampak juga dai sini seperti pulau kecil dengan lebat pepohonan. Di seberang sungan juga tampak sebuah pantai, tapi sayang sekali tidak ada jembatan penghubung untuk kesana, membuat kami harus balik arah dan meninggalkan tempat ini.

dermaga perahu nelayan
Masih penasaran dengan pantai disebelah Santolo, kami bekendara pelan untuk melihat petunjuk menuju kesana. Tidak lama akhirnya menemukan meyerupai tugu terdapat ruangan loket karcis serta membentang di atasnya bertuliskan "Sayang Heulang". Lagi-lagi kami masuk tanpa ada petugas penjaga loket alias gratis. Tidak lebih dari 3 kilometer pantai sudah terlihat setelahnya masih ada pemukiman  penduduk disini. Kami memacu bishop sampai ujung pantai, yaitu sungai yang sama seperti apa  terlihat lihat dari pantai Santolo tadi. Pulau kecil itu juga terlihat dekat dari sini, lengkap dengan jembatan menuju bernama Pulau Santolo itu. Tetapi jembatan berbahan kayu ini  terlihat kurang layak dari segi keamanan karena banyak papan yang sudah lapuk.

menuju pulau Santolo
pose sesudah main bola
Hanya beberapa anak kecil bemain bola yang kami temui saat memakir Bishop. Kami pun balik arah menuju pantai. Luas lautan sudah tampak, kami menuju ke bibir pantai. Sedikit berbeda dengan pantai-pantai sebelumnya, pantai dipenuhi dengan tumbuhan laut, entah apa namanya, yang tumbuh  mengambang di air. Saya menampaki dengan sepatu basah, melihat sekitar. Tampak dua orang disini, salah satu sedang menyelam di pantai yang membentuk seperti kolam dengan kacamata selam serta dilengkapi kaki katak yang biasa di gunakan penyelam-penyelam profesional. Sambil memegang jaring penangkap ikan. Ketika ditanya, sedang mencari ikan apa. Salah satu orang lagi yang menunggu di tepi 'kolam' menjawab, "sedang mencari ikan hias", sambi memegang ember untuk memuat hasil tangkapan. Setengah jam kami disini sebelum akhirnya benar-benar  meninggalkan pantai ini. 

Sayang Heulang
ikan hias untuk sesuap nasi
Masih di jalur pesisir pantai Jawa, matahari cukup menyengat membuat kami beberapa kali istirahat untuk sekedar minum beberapa tengguk, di minimarket ataupun di bahu jalan. Seperti ada aturan tidak tertulis yang biasanya kami berlakukan untuk melakukan perjalanan dengan sepeda motor yaitu berhenti setiap 2 jam untuk istirahat kami patuhi. Menjelang magrib kami memasuki daerah Cidadap, Tasikmalaya. Tampak matahari hampir tenggelam dihadapan, sunset pantai  yang selalu kami rindukan setiap melakukan perjalanan. Sedikit panik karena belum menemukan jalan menuju pantai untuk duduk manis memandang sang matahari tenggelam.

rest point entah yang keberapa
Sampai akhirnya sampai di daerah Cikalong, Tasikmalaya (Lat:S 7°47.504' Long: E 108°10.791') bertemu gerombolan anak muda ber sepeda motor keluar dari sebuah jalan, ternyata jalan itu menuju sebuah pantai. Bishop pun diarahkan kesana. Pantai tampak luas dengan hamparan pasir mirip gurun. Pantas saja tempat ini menjadi tujuan anak-anak muda tadi untuk mengabiskan sore karena lokasinya memang nyaman untuk sekedar mengobrol ditemani angin laut. Saya dan bishop berkeliling di area ini, layaknya sedang berkendara di padang pasir beberapa kali kami hampir terjatuh dilembutnya pasir, memang sepertinya tidak cocok motor jenis seperti Bishop ini dengan medan berpasir. Sunset yang kami tunggu sepertinya malu-malu menampakan wajahnya, hanya muncul sebentar dan kemudian hilang di balik awan tipis. Setelah mengambil beberapa gambar dengan kamera,  kami menuju sebuah warung makanan tidak jauh dari pantai.


muncul sesaat
between us

Warung sederhana berdinding papan kayu, lengkap bale-bale didepannya bisa untuk rebahan badan. Saya memesan kopi, dan makan beberapa pisang goreng. Saya sempat tanya kepemilik warung "nama pantai ini apa ya,bu?" beliau dengan logat sundanya menjawab dengan ekspresi wajah agak bingung "apa ya..orang sini biasanya menyebut pantai Cikalong karena nama daerah ini". Sambil berbincang dengan Neni mau bermalam dimana hari ini. Sudah tepikir untuk mendirikan tenda di pinggir pantai. Akhrinya obrolan terpotong sebentar karena pesanan makan malam kami datang, menu telur goreng dengan kecap mewarnai nasi sudah cukup untuk mengganjal perut. 

Tidak lama datang seorang pria dengan pakaian tampak lusuh, celana panjang yang dipotong sedengkul, menemani kami mengobrol. Dia juga memesan menu yang sama yang sama dengan kami. Sesudah mengahabiskan isi piring, bapak yang mengaku bernama Rudi bercerita tentang kegiatannya disini, Pak Rudi bekerja sebagai buruh pengolah pasir besi tidak jauh dari warung ini. Pasir besi di kumpulkan dari berbagai daerah sekitar sini, selanjutnya dengan mesin di proses hingga menjadi biji besi. Perusahaan ini milik orang asing, dan hasilnya di ekspor. Saya membayangkan ini adalah skala kecil dari eksploitasi kekayaan alam Indonesia yang sebagian untungnya untu negara asing. Untuk skala besarnya saya membayangkan PT. Freeport di Irian. Dan jika mencari infomasi tentang penambangan ini lebih jauh di mesin pencari dengan keyword "pasir besi cikalong tasikmalaya". Banyak cerita yang sepertinya sudah biasa tentang penyalahan wewenang penguasa dan pengusaha untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Serta dampak lingkungan yang tak tidak dihiraukan. Ironis.

di sela-sela cerita Pak Rudi
Hampir satu jam kami disini. Setelah pak Rudi meninggalkan untuk kembali ke asrama yang disediakan perusahaannya. Kami pun bersiap, karena tidak membawa matras untuk alas tidur kami hendak membeli kardus bekas dari pemilik warung. Tapi beliau malah menawarkan kamar milik tetangganya yang letaknya tidak jauh dari sini. Kami pun tiba di lokasi, sebuah deretan beberapa kamar mirip tempat kos 3x3 meter dengan fasilitas seadanya. Setelah membayar sewa pemalam dua puluh ribu rupiah. Kami istirahat untuk perjalanan esok. 






Selasa, 10 September 2013

Go Home #4

Meninggalkan wisata Puncak Guha, kembali menapaki jalan di dominasi kerikil, konon sedang di lakukan perbaikan jalan/akan diaspal, walaupun tidak terlihat aktifitas pengerjaan jalan. Taget selanjutnya adalah mencari warung untuk sarapan. Di lihat dari kondisi jalan, jalur ini terlihat kurang menguntungkan dari segi ekonomis atau mungkin kurang di perhatikan oleh pemerintah daerahnya, terbukti dengan sulitnya kami menemukan tempat penyedia sarapan.

Dua puluh menit dari pantai Puncak Guha,  bukan menemukan tempat yang di maksud, Neni malah memberi isyarat untuk memperlambat Bishop, karena melihat papan berukuran sekitar 60x20 cm bertuliskan "Wisata Pantai Cicula", tidak terlihat seperti ada jalan setelah papan itu, pasti akan terlewatkan jika mengendarai Bishop dengan kecepatan di atas rata-rata. Jalan selebar satu meteran menyambut untuk menuju pantai ini, tentunya dengan jalan tanah penuh hijauan rumput liar. Semakin menyempit jalannya, kanan/kiri ada tebing setinggi sekitar 2 meter, membuat saya merasa berkendara di trek mobil Tamiya yang sering dimainkan semasa sekolah dasar.

Belum genap berkendara sejauh satu kilometer garis pantai sudah terlihat, tidak lama kemudian di sambut oleh hamparan pasir terlihat bersih dari bekas tapak kaki, seperti belum terjamah oleh manusia atau makhluk hidup lainnya. Tidak tahu pasti lokasi ini berada di mana secara administatif, karena tidak ada orang untuk mendapatkan infomasinya, mencoba googling dengan kata kunci 'pantai Cicula' juga tidak di temukan. Tetapi menurut aplikasi di ponsel saya, tempat ini berkoordinat S7°37’37.46”  E107°40’28.99”. 

pintu masuk pantai Cicula
jalan menuju
Garis pantai ini tidak terlalu panjang, saya perkirakan tidak lebih dari 700 meter, sisi sebelah kiri (jika menghadap laut) di batasi oleh bukit memanang dan menjorok ke laut, sedangkan sebelah kanan bukit kecil sekitarnya penuh dengan batu karang. Karena begitu sepi tidak ada orang lain kecuali kami berdua, layaknya halaman rumah sendiri, Bishop saya ajak berkeliling di pantai ini dengan berbagai gaya dengan mempertimbangakan faktor keamanan berkendara tentunya, rasa riang gembira bersama kami saat Bishop di ajak melibas pasir pantai, pasir yang basah memudahkan roda bishop bebas membuat jejaknya.

Menuju sisi kanan pantai melewati batu karang, dan terhenti laju Bishop di depan karang yang membentuk seperti kubangan, selanjutnya kami menikmati suara ombak, serta dasyatnya ketika menghantam batu karang. Begitu tenang dan asri suasana disini, membuat kami lupa akan rasa lapar dan tujuan selanjutnya untuk mencari warung makanan. Tapi kami hanya setengah jam disini, untuk selanjutkan keluar dari pantai ini. Tampaknya terlalu mainstream jika menyebutnya tampat ini 'surga tersembunyi' dan bahasa sejenisnya, beberapa foto yang Neni ambil sepertinya bisa menggantikan untuk mendefinisikan tempat ini.

bermain di halaman belakang
enjoy the show

sisi kiri
sisi kanan

we was here
nice to meet you, Cicula
Tidak ada kemacetan mudik lebaran disini, seperti apa yang dikeluhan lewat media sosial, tapi walau tidak macet Bishop juga tidak bisa dipacu melebehi 40 km/jam karena kondisi jalan. Debu jalan sedikit mengganggu pandangan ketika berada di belakang truk, kerikil-kerikil terpental saat roda Bishop melindasnya, sambil tengak tengok mencari sarapan pagi, padahal waktu itu sudah pukul sepuluh pagi.

Jarak 5 kilometer dari pantai Cicula, kami pun menemukan warung makan. Kami kira tempat ini menyediakan menu ikan laut seperti apa yang tertulis pada papan petunjuk di depan warung ini. Ternyata di sini hanya menyediakan ikan mentah saja, tanpa bisa memasaknya. Pilihan menu selanjutnya hanya terdapat mie instan. Sesudah makan kami istirahat di warung ini, dari sini terlihat garis pantai, angin semilir lumayan kencang, kami pun rebahan hampir tertidur di samping warung dengan lantai dari kayu lembaran.



Baca juga:
Go Home 
Go Home #2
Go Home #3
Go Home #5


Selasa, 03 September 2013

Go Home #3

“Getting lost is just another way of saying 'going exploring.” ― Justina Chen
Mentari pagi menemani ketika menyusuri jalan selepas dari pantai Ranca Buaya. Seolah sinarnya memberi petunjuk untuk mengikuti kemana harus menuju. Memang kami sedang mengarah ke timur. Setelah menikmati aspal mulus pada akses menuju Ranca Buaya, kini kami menemui hamparan batu kerikil di sepanjang perjalanan. Sempat melesat  dalam pikiran bahwa jalan mulus tersebut hanya untuk menuju pantai Ranca Buaya, karena daerah tersebut adalah salah satu sektor andalan pariwisata pemerintah daerah setempat. Padahal setelah ini banyak potensi wisata lainnya yang tidak kalah menarik. Hanya saja dari segi akses menuju kesana perlu usaha  lebih. Sedangkan kalau dilihat dari sisi lain, pantai-pantai setelah ini lebih tampak alami, tidak kotor oleh sampah pengunjung, ataupun warung-warung yang kadang terlihat mengganggu pemandangan.
lights will guide you home
jalan kerikil:
 photo S27_zps96d52853.jpg

Bishop dibawa dengan kecepatan rata-rata 30-40 km/jam selain untuk menghindari tergelincir dari kerikil juga untuk melihat dan menikmati pemandangan sekitarnya. Disebelah kiri jalan adalah perbukitan memanjang sedangkan dikanan jalan terlihat garis pantai. Layaknya balita yang baru saja bisa berjalan, ingin mencoba menuju tempat yang baru ditemui. Begitu juga dengan kami, ingin mencoba setiap tempat baru. Kadang terlihat konyol setelahnya, belok semaunya sendiri atau menyasarkan diri untuk menuju sebuah bukit, maksud hati ingin melihat dengan pandangan yang luas, melihat hamparan samudera ataupun hijauan perbukitan. Tentu akan menjadi kepuasan tersendiri ketika mencapainya.


Melihat jalan aspal menuju keatas bukit, membuat rasa keingintahuan akan pemandangan apa yang akan ditemui nanti membuat kami berusaha agar sampai ke tempat tersebut. Walau tampak terpotong jalannya, kami tetap mencoba melewatinya. Akan tetapi, ketika mau mulai menuju kesana sudah terhadang oleh jalan tanah dan aspal berjarak beberapa centimeter mengakibatkan Bishop tidak dengan mudah melewati, saya sampai harus mengganjal dengan sebongkah batu, setelah sedikit mengeluarkan keringat, akhirnya bisa menapak aspal. Tanpa pikir panjang bishop langsung tancap gas, tapi itu hanya beberapa meter saja karena didepan jalannya putus. Dengan sedikit tertawa saya bilang ke Neni yang masih nunggu di bawah tentang kondisi jalan

make your own road
akhirnya bisa naik ke aspal:
 photo S25_zps3ead8432.jpg

Kembali ke jalan utama, kami melihat jalan setapak, tampak juga seperti bangunan menghadap laut. Setelah bercakap sebentar dengan Neni, jalan itu pun disusuri. Disela-sela rumputan, ilalang setinggi satu meteran Bishop melaju dengan pelan. Hanya mengikuti jalan setapak ini, ternyata di tengah jalan kami menemui seorang setengah baya, sedang memegang alat pemotong rumput. Astaga..! ternyata beliau sedang membersihkan rumput diantara batu nisan. Walaupun hanya beberapa batu nisan , tapi ini sudah merupakan komplek pemakaman. Kami pun bertanya ke bapak tersebut, apakah ada jalan menuju rumah itu dari jalan ini. Beliau menjawab, tidak ada. Untuk menghormati penduduk lokal, kami mengurungkan niat untuk segeran balik kearah ketika kami menuju kesini. Mungkin kalau tidak ada bapak tadi, saya tetap meneruskan sampai jalan setapak itu berakhir.

kuburan, balik kanan
padahal sudah nampak garis pantainya:
 photo S26_zps59df2f2a.jpg

Tak apalah dua kali usaha kami tidak mendapatkan apa yang di harapkan. Sekitar tiga kilometer dari Ranca buaya, disebelah kanan jalan terlihat papan membentang di antara sepasang gapura bertuliskan "Selamat Datang. Di Objek Wisata Puncak Guha". Di balik gapura terdapat loket karcis masuk, terlihat sudah tidak terawat, kacanya di depannnya sudah pecah. Lagi-lagi tidak ada petugas disana, otomatis kami langsung menerobos masuk.

Melewati jalan tanah sedikit bergelombang, serta di sebelah kanan kiri hamparan padang rumput ilalang tampak mengering, seketika kami berhenti disini, terlihat hamparan samudra hindia dari sini. Rasa takjub walau tidak terucap, senyum bahagia melihat ini sudah merupakan rasa syukur, telah dipertemukan keindahan alam nusantara ini. Selanjutnya kami menuju ke tebing yang langsung menghadap laut lepas. Selanjutnya saya dengan Bihsop berkeliling padang rumput ini, tapi harus hati-hati karena permukaan padang ini miring alias tidak rata terlebih jika sudah sampai pinggir tebing, karena gaya untuk turun ke tebing akan lebih besar.
touch down!:
 photo S51_zps4e802cb1.jpg

what a beautiful place! 
tetap harus hati-hati
Wisata Puncak Guha, tepatnya berlokasi di desa Sinarjaya, kecamatan Bungbulang, kabupatean Garut, tercatat di aplikasi android saya berkoordinat  S7°37’37.4628”  E107°40’28.9992”. Puncak Guha merupakan semenanjung kecil, kami bisa melihat samudra hindia secara bebas tanpa penghalang apapun, disini juga terdapat gua lebih mirip sumur besar (karena saya harus menengok kebawah untuk melihat ke lubang tersebut) menghadap laut didalam sangat ramai dengan suara kelelawar, saya baru mengerti maksud gambar kelelawar di papan masuk tadi setelah melihat gua ini.


Disebelah kanan (kalau menghadap laut) terdapat muara sungai, terlihat dari atas para nelayan membawa jaring entah sedang mencari apa di pertemuan sungai dan laut ini, sungai yang terlihat dari atas tempatkami berdiri merupakan perbatasan antara kecamatan Bungbulang dan Caringin.

menjaring rejeki
Hamparan hijau rumput mirip dengan rumput sintentis lapangan futsal, tidak banyak sampah bungkus makanan/minuman. Beberapa kali kami merebahkan tubuh ini, angin semilir sedikit kencang, hanya ada suara ombak dan angin yang berhembus, sangat tenang. Ada beberapa gazebo untuk berteduh walau sebagian gentingnya sudah rontok. Tapi kami masih bisa berteduh dari bayangan bangunan gazebo itu. Dan jangan harap menemukan warung atau penjaja makanan disini seperti tempat wisata lain.

view sebelaha kanan
view sebelah kiri
karpet rumput
pose yang aneh
dan tertidur
Kurang lebih dua jam disini, walau masih terasa kurang lama menikmati tipe pantai yang berbeda dengan kebanyakan. Dalam hatipun saya bergumam untuk suatu saat kembali lagi kesini, untuk sekedar mendirikan tenda dan bermalam, menunggu sunset pulang ke peraduaannya. Semoga saat kembali nanti  wajah pantai ini tidak banyak berubah dan tetap eksoktis.

sampai jumpa kembali si eksostik


Baca juga:
Go Home
Go Home #2
Go Home #4
Go Home #5



Minggu, 01 September 2013

Go Home #2

"Once a year, go someplace you've never been before"-Dalai Lama 
Pukul 04.00 kami mulai berkemas, dari menata kembali barang bawaan sampai memasang panniers ke samping kanan kiri Bishop. Pagi masih gelap, angin berhembus kencang, terdengar melalui ventilasi helm mengawali perjalanan dihari ke dua ini. Sekitar 1 kilometer dari tempat berangkat tadi, sampailah dijalan utama, biasa disebut jalur pesisir selatan Jawa. 


Sedikit terkejut dengan apa yang kami lewati dengan diriingi penerangan lampu depan Bishop, saya harus memilih jalan yang sedikit layak untuk kami lewati. Diantara lubang besar atau kubangan batu kerikil. Jika ada istilah di lagu-lagu bertemakan cinta, "Mencintai apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan"  maka dalam  hal ini, kami harus menerima keadaan jalan tersebut, hanya untuk bisa menikmati keindahan  alam nusantara. Sekali lagi, toh kami sangat menikmatinya. 

Jalur selatan ini pertama kalinya kami lalui, walaupun pernah mencicipi jalur selatan pada sisi lain yaitu antara Yoyakarta-Pangandaran. Salah satu alasan saya memilih rute tersebut karena belum pernah mencobanya, akhirnya mempunyai kesempatan pada liburan lebaran kali ini. Pada lebaran tahun kemarin kami mencoba jalur “Tapal Kuda” di Jawa Timur (klik disini untuk cerita perjalanannya). Kami melakukan ritual “perjalanan tahunan”. Kondisi pekerjaan saya sebagai buruh dengan sangat minim mempunyai kesempatan libur dan melakukan perjalanan lebih dari satu hari akan mengenalkan kepada saya lebih jauh tentang negeri ini. Semoga memberi dampak semakin cintanya ke tanah air.

Kembali ke jalan utama, hari semakin terang. Sekitar 4 kilometer sebelum petunjuk arah ke Pantai Ranca buaya, akhirnya kami menemukan jalan aspal yang mulus. Tanpa disuruh gas Bishop saya tarik lebih dalam. Setelah melihat tulisan 'Ranca Buaya' yang anak panahnya menunjuk ke kiri, Bishop dibelokan ke arah sana. Sekitar 1 kilometer dari jalan utama tadi, kami sampai digerbang masuk pantai ini. Tampak sepi, beberapa tempat penginapan dengan berbagai kelas sudah menghiasi kawasan, diikuti dengan warung-warung makanan, toilet/kamar mandi sebagai pelengkap suatu lokasi wisata.
belok kanan
Tidak banyak orang lalu lalang di sini, mungkin karena saat itu masih pukul  enam pagi, kami menyusuri pantai sebelum akhirnya menemukan tempat yang bisa diakses Bishop sampai bibir pantai. Pantai ini secara administatif masih termasuk kecamatan Caringin, kabupaten Garut, Jawa barat.  Tampak beberapa batu karang yang seakan terdampar dari tengah lautan lepasdan air pantai yang  jernih diantara bebatuan. Saya bepikir untuk menyegarkan tubuh dengan menyeburkan diri di dalamnya. Tak lama setelah itu, jadilah kenyataan untuk mandi di sini, air tidak terlalu dingin tapi cukup menyegarkan membuat tubuh ini seperti mendapatkan energinya kembali. Sedangakan Neni mengabadikan dengan kameranya beberapa landskap disini.

deretan warung:
 photo S1_zpsbd4cade0.jpg

selamat pagi burung!
bishop parkir
Lima belas menit berendam ternyata menghasilkan badan yang mengigil, sedikit kebingungan mencari kamar mandi untuk salin pakaian ataupun membilas badan ini dari pengaruh air asin, karena sebagian masih tutup. Setelah berjalan dengan hanya bercelana pendek menyusuri beberapa tempat  bertulisakan 'WC/Toilet'. Akhirnya saya  menemukan tempat membilas.

mari mandi
Cemburu pada samudera yang menampung segala, cemburu pada sang ombak yang selalu bergerak. (fals)
Setelah ini sempat menikmati debur ombak lagi, di tempat dekat Bishop parkir. Suasana masih belum banyak pengunjung, ratusan burung bertebangan diatas kami menambah suasana yang tidak bisa di definisikan dengan kata. Susana agak terganggu dengan kedatangan orang yang tampak sakit jiwa, bercelana pendek sobek, bertelanjang dada, dan juga rambut gimbalnya. Neni pun tampak ketakutan dan segera menarik tangan saya. Tidak lama setelah orang itu mendekat ke tempat kami duduk, saat itu pun bergegas untuk meninggalkan pantai ini.

talk
free as bird


Baca juga:
Go Home
Go Home #3
Go Home #4
Go Home #5