Our Riding Ware

Rabu, 28 Agustus 2013

Go Home



"Four wheels move the body,  two wheels move the soul"-unknown-
Seperti biasa, libur lebaran kali ini adalah saat yang dinanti-nanti. Disamping karena sudah terbayang akan momen saat berkumpul dengan keluarga, saat kepulangan ke kampung halaman yaitu Yogyakarta adalah kesempatan untuk melakukan perjalanan dengan Bishop (nama motor saya). 

Tiga tahun terakhir ini kami selalu menggunakan roda dua untuk melakoni perjalanan mudik. Walaupun perusahaan tempat saya bekerja menyediakan kendaraan untuk mudik gratis untuk pergi-pulang, tetapi fasilitas tersebut tidak pernah saya gunakan. Kenapa?Ya  dengan berbagai alasan  karena dengan jenis kendaraan ini kami bisa bebas mengatur sendiri kemana rutenya, waktu/lama perjalanan, menjangkau berbagai daerah yang kami mau yang mungkin tidak terjangkau dengan moda transportasi lain dan yang terakhir karena ada perasaan yang tidak bisa diceritakan ketika melaju di atas dua roda ini, yang jelas kami sangat menikmatinya.

Bukan anti dengan jenis kendaraan lain, diakhir cerita perjalanan ini pun saya pulang dari Jogja tidak dengan Bishop karena alasan kesehatan, akan tetapi tidak bisa menikmati perjalanan dan hanya tertidur selama 50 menit sudah sampai di Jakarta. Sedangkan saat perjalananan ke Jogja, butuh waktu 5 hari dengan bermacam cerita dan bonus perjalanan berupa keindahan alam nusantara.

"A good traveler has no fixed plan, and is not intent on arriving"-Lao Tzu- 
Terus terang saja saat akan memulai perjalanan, saya tidak mempunyai rencana perjalanan atau yang lebih kerennya disebut itinerary yang detail. Mau lewat mana, mau berhenti dimana saja, dan rencana tepat lainnya. Hanya secara umum berencana melewati jalur pesisir selatan pulau Jawa. Hanya berbekal google map yang ada di ponsel untuk menentukan arah, rute pun bisa merubah ditengah perjalanan,  dan lama waktu perjalanan tidak dipatok harus selesai pada hari tertentu. 

Ya.. kami tidak sedang melakukan ekpedisi yang misalnya sudah janjian dengan pihak sponsor di tempat tertentu, atau mempunyai target harus mengunjungi tempat yang sudah direncakan sebelumnya. Kami hanya melakukan perjalanan sederhana yang mempunyai hikmah dan cerita buat kami sendiri khususnya. Yang coba kami bagikan juga lewat cerita dan foto yang kami ambil selama perjalanan ini.

Cerita di mulai Jumat (2/8/2013) saat Cikarang masih pagi buta, saat waktu sahur tiba, di temani kekasih tersayang yang jauh hari sudah merengek hendak turut dalam perjalanan ini, karena kerinduan yang mendalam untuk menikmati keindahan alam nusantara dengan menempuh jarak dan waktu bersama Bishop juga tentunya. Dengan kamera andalan yang sudah dianggap anaknya sendiri, siap membidik setiap objek dan momen dari atas tempat duduk boncenger, dibelakang saya tepatnya.

Jalan di sekitaran Cikarang utara tidak jauh dari tempat saya tinggal sudah terlihat ramai pemudik dengan sepeda motor dengan bawaan di luar kewajaran ditopang dengan bambu/kayu yang terlihat tidak permanen. Melihat sinyal seperti itu, saya menghindari jalur utama para pemudik, yaitu Cikarang-Karawang-Cikampek dan seterusnya. Akan tetapi lebih memilih rute Cikarang-Cibarusa-Jonggol-Cariu-Cikalong kulon.

Dengan kecepatan rata-rata 60km/jam bishop dipacu pagi buta kala ini, minimnya penerangan jalan membuat saya tidak berani menarik gas lebih dalam, walaupun saat itu jalan tampak lengang dan sesuai harapan yaitu tidak berebut jalan dengan maraknya pemudik.

Saat memasuki Cikalong kulon matahari sudah menampakan wajahnya, saat itu juga boncenger meminta untuk menepi, saat ditanya "mau ngapain?" dia menjawab "ngantuk, pengin tidur sebentar dulu". Sayapun menepikan bishop ke sebuah tempat yang tampak seperti warung sederhana dengan berdinding anyaman bambu, lengkap bale-bale yang cocok untuk rebahan ataupun tidur.

Setelah kami melahap mie instan di tempat yang sama, boncenger pun tertidur. Sedangkan saya menunggunya hingga dia bangun. Kurang lebih setengah jam sudah disini, perjalananpun dilanjutkan. Masih melewati jalan raya Jonggol-Cariu. Ada yang terasa tidak nyaman dengan bishop, ketika lampu sein tidak berfungsi alias padam. Rasanya tidak lucu jika saya harus melambaikan tangan setiap mau belok sebagai tanda, dari sini sampai Jogja. Demi faktor keamanan dan kenyamanan maka berniat untuk mengganti flasher sebelum sampai Jogja tentunya.

Tebakan saya kerusakan pada flasher, yaitu alat yang langsung berhubungan dengan lampu sein itu. Sampai menemukan bengkel kedua setelah yang pertama tidak tersedia apa yang dicari. Tidak jauh dari pertigaan yang jika belok ke kanan adalah mengarah ke obyek situs Gunung Padang, Cianjur yang merupakan peninggalan kebudayaan megalitikum di Jawa Barat.

ganti flasher:
 photo 16rr_zps125efd9d.jpg

Setelah menemukan flasher di bengkel ini dan memasangnya, bishop diajak kembali menelusuri jalan berikutnya, memasuki wilayah Cianjur, daerah perbukitan dengan pemandangan perkebunan teh, menambah gairah ketika berkendara. Memasuki kecamatan Pagelaran, Cianjur, sekilas melihat di sebuah pertigaan petunjuk arah yang bertuliskan "Curug Citambur (17km)". Setelah melewatinya, sempat terjadi obrolan dengan boncenger, untuk balik lagi dan mencoba ke curug Citambur. Deal! kami pun merubah rute, alias balik lagi menuju pertigaan tadi, yang tadinya akan langsung menuju ke arah selatan.

Setelah ini, memasuki kecamatan Sukanagara, Cianjur,  melewati jalan yang di penuhi dengan pemandangan hijau kebun teh yang tentu saja menyejukan, walau saat itu matahari cukup terik. Jalan yang berkelok-kelok, beberapa kali berpapasan petani teh yang tampak memanen.

Jalan yang menanjak dengan lebar sekitar 2 meter dengan pemandangan persawahan dan perbukitan mengiringi kami saat ini, walau sudah lumayan sering melihat pemandangan seperti ini, tetap saja mengungkapan kegembiraan dengan teriakan-teriakan yang mewakili perasaan kami. Pukul 11.00 sudah lewat, perut sudah terasa keroncongan, agak sulit untuk menemukan warung makan, karena memang pemukiman yang jarang ditemukan.

Melewati pasar yang sudah sepi, melihat papan bertuliskan 'warung nasi'  Bishop segera berhenti di tempat ini. Warung yang sangat sederhana, dengan dinding dari anyaman bambu, lantai masih tanah langsung, dengan menu seadanya. Sehabis menyelesaikan makan siang, di lanjutkan dengan obrolan dengan bapak pemilik warung, saya melontarkan beberapa pertanyaan tentang jalan yang rencananya akan kami lalui. Beliau menjawab dengan antusias dengan logat bahasa sunda yang kental, tapi cukup menjawab pertanyaan.

didepan warung:
 photo 22rr_zps74d030b3.jpg

Setelah semakin jelas tentan rute ke depan, kami pamitan dan melanjutkan perjalanan. Dengan jalan yang relatif hampir sama, tetapi perbukitan  lebih mendominasi kali ini, kami seperti di kelilingi bukit nan hijau. Bishop dipacu kecepatan sedang untuk menikmati perjalanan ini. Tak kurang dari 30 menit dari warung nasi tadi sampailah di depan pintu masuk gerbang masuk lokasi curug Citambur.

menuju Citambur:
 photo 24rr_zps2441fb1d.jpg

Terdapat loket pembayaran retribusi masuk, tetapi tidak ada petugas di dalamnya. Bangunan loketpun sudah tampak rusak, dengan temboknya sebagian runtuh, sangat jelas terlihat tidak ada perawatan. Kami pun masuk dengan bebas, dengan jalan masuk yang hanya terdiri dari tatanan batu, seperti akan dilapisi aspal tetapi tidak jadi. Otomatis bishop dipacu pelan saja, kurang dari 1 kilometer dari loket tadi sampailah kami di tempat terakhir motor bisa akses ke tempat ini. Tumpahan air dari tebing bukit sudah terlihat dari sini. Kesejukan sangat terasa disini. Inilah curug Citambur. Dan kami harus berjalan sekitar 200 meter untuk lebih mendekat ke curug ini.

Pintu masuk curug Citambur:
 photo 26rr_zps818a4677.jpg

tempat parkir bishop sebelum jalan kaki
Secara administratif curug ini berada di desa Karang Jaya, Pagelaran, Cianjur Selatan. Sedangkan di aplikasi ponsel saya tercatat di koordinat S 7°12’33.6456” E 107°12’56.5812” Ketika berada disini kami disuguhi pemandangan dengan landskap yang berbeda dengan kebanyakan curug. Dengan tinggi yang menjulang, saya perkirakan setinggi 100 meteran, bukit hijau yang memanjang, dari kejauhan juga tampak curug lain, yang tidak ketahui namanya. Percikan air yang tumpah terbawa angin seakan seperti gerimis, membuat sering mengusap lensa kamera karena air yang menempel. Hanya terlihat sekitar empat remaja yang juga menikmati curug ini.

lebih dekat dengan curug Citambur
Sebenarnya masih betah disini, tak terasa ternyata kami sudah menghabiskan waktu satu jam lamanya menikmati curug Citambur. Untuk selanjutnya berkemas. Setelah melihat peta di layar ponsel, rute telah terpilih selanjutnya kami tinggal mengikutinya. Walau kadang petanya masih menyesatkan, maka pilihannya selanjutnya menggunakan intuisi atau tanya orang yang di temui. Karena di google map tidak menjelaskan tentang kondisi jalannya, maka tidak jarang kami terkejut dengan kondisi jalan yang dilalui, tak mengapa toh kami menikmatinya.

Setelah ini masih di hiasi dengan pemandangan yang hijaunya pepohonan. Memasuki daerah Cipelah, perkebunan teh mendominasi penglihatan kami. Sangat menyegarkan, apalagi diiringi dengan ritik hujan, tetapi kami abaikan toh jaket kami masih tahan air kalau hanya untuk hujan ringan seperti ini. Tidak terasa sudah pukul 15.00, terlihat gapura dengan tulisan 'Situ Pantenggang'. Setelah berdikusi sebentar dengan boncenger, akhirya masuk ke obyek wisata ini setelah mebayar retribusi masuk sebesar lima belas ribu rupiah.

green day!
kebun teh dan tikungan
Situ yang berlokasi di desa Patengan, kecamatan Rancabali, kabupatean Bandung ini tampak tidak terlalu ramai, Bishop saya ajak berkeliling mengitari situ, tampak danau yang luasnya mencapai 150 hektar yang ditengah terdapat pulau kecil, untuk mencapai pulau itu bisa menggunakan perahu yang tampak di pinggir situ. Lokasi yang tampak asri, dengan pemandangan kebun teh Rancabali dan kawasan hutan Pinus. Sarana wisatanya pun tampak lengkap, sepanjang kawasan situ terlihat beberapa warung makan, penjual souvenir, dan sarana  mandi-cuci-kakus. Kami mampir ke sebuah warung, untuk makan siang sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

salah satu sudut siut Patengan
Hanya setengah jam disini dan Bishop diajak untuk mengikuti rute selanjutnya, masih di kawasan Rancabali yang dipenuhi perkebunan teh Nusantara, Bishop sengaja tidak dipaksa kencang, karena pemandangan yang sayang jika dilewatkan, walaupun jalannya cukup mulus. Semakin lama jalan semakin menanjak dan berkelok, kabut pun mulai turun dengan di iringi gerimis, jarak pandang yang hanya sekitar sepuluh meter membuat kecepatan bishop dipacu sekitar 30 km/jam. Ternyata daerah ini bernama Naringgul yang secara administratif masih termasuk Cianjur selatan. Yang dikenal dengan 'tanjakan 1000' nya, pantas saja karena memang didominasi tanjakan yang serasa tidak habis-habisnya, saya sampai bilang ke boncenger "lumayan membutuhkan energi untuk melewati jalan seperti gini".

kabut turun
Selepas Naringgul wajah jalanya berubah drastis, di penuhi lubang, kerikil, dan gundukan tanah tidak beraturan walau kedua tangan sudah terasa pegal untuk menarik tuas kopling, rem depan juga handling dengan beban lebih ketika jalan menurun, tapi semua itu tidak terlalu saya hiraukan harus tetap fokus degan jalan yang ada di depan. Beberapa kali juga melewati jalan tanah yang tampak alat-alat berat sedang melakukan pengerukan dan pelebaran jalan. Saya mengira kalau daerah ini juga rawan longsor, maka jalannya sedang diratakan dengan alat berat tersebut.

jalan bekas longsor:
 photo P_zps52f80a31.jpg

Hari sudah menjelang malam, sekitar pukul 5 sore saat itu. Tapi garis horizontal samudera sudah tampak dari kejauhan, itu berarti sebentar lagi kami sampai di pesisir selatan.  Benar saja saat menjelang magrib, tampak pertigaan yang sebelumnya ada papan petunjuk yang kalau belok kiri ke arah Wisata Jayanti, Mekarjaya, Rancabuaya, Garut sedangkan jika ke kanan ke arah Sindangbarang. Dan tentu saja bishop dibelokan ke kiri.

Empat kilometer dari pertigaan tadi Bishop masuk ke pantai Jayanti, Cidaun. Langsung menuju pantai, dan karena sudah gelap, kami pun balik arah untuk mencari tempat istirahat, di kawasan pantai terdapat beberapa penginapan, salah satunya yang kami hampiri memasang tarif 120 ribu permalam. Karena badan sudah butuh istirahat, sudah menjadi kebiasaan saat melakukan perjalanan ketika gelap tiba saya usahakan untuk menggunakan waktu istirahat. Karena untuk alasan stamina tubuh, lagipula sudah tidak efektif jika berkendara saat malam, disamping karena mata saya minus dan mempunyai kendala penglihatan saat gelap hari, juga karena alasan tidak bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan kala malam hari. Karena kami juga bukan sopir angkot yang harus tiba diwaktu tertentu karena mengejar setoran.

Baca juga
Go Home #2
Go Home #3
Go home #4



Rute selengkapnya untuk hari ke #1 : klik disini  








3 komentar:

  1. laik dis,.. makin halus.
    jaket oh jaket !!

    BalasHapus
  2. .... Terinspirasi Suyut ... ijin contek style :D ...

    BalasHapus
  3. Om Suyut emang joosss... msh dlm tahap belajar :D

    BalasHapus