Our Riding Ware

Senin, 22 Juli 2013

[7wonders] Kinahrejo Saksi Kedasyatan Erupsi Merapi

Saat itu masih dalam suasana liburan lebaran, masih terekam jelas di otak saya perjalanan Jakarta - Yogyakarta dengan sepeda motor kesayangan. Ini merupakan perjalanan yang sangat mengesankan karena baru  kali pertama bekendara menempuh jarak 600 kilometer dengan roda dua. 

Ya..kota Yogyakarta sebagai tujuan mudik saya. Posisi rumah tinggal orang tua, tidak jauh dari kawasan gunung Merapi, jika ditarik garis  di google map berjarak 13 kilometer. Gunung ini pada tahun 2010 mengalami letusan hebat dan berdampak pada jatuhnya korban jiwa yang sampai mencapai  sekitar 200 orang. 

Kawasan Merapi seakan menjadi destinasi wajib saat saya kembali kekampung halaman, disamping karena jaraknya tidak terlalu jauh, pesona Merapi selalu menarik hati untuk selalu datang menemuinya. Kesejukan khas pegunungan, pemanandangan alam yang selalu menjadi obat penyegaran jiwa, kehidupan masyarakatnya yang bersahaja.

Perjalanan saya dengan salah satu teman yang bernama Neni yang sengaja datang dari Jakarta untuk melihat kegagahan Merapi, sekitar bulan Agusutus 2011, jadi hampir bertepatan setahun setelah erupsi tahun 2010 yang terjadi pada bulan Oktober. Setelah menjemput Neni di stasiun Tugu masih dengan sepeda motor langsung saya antar menuju Merapi, jalan Kaliurang adalah akses pertama menuju kesana.

Sebelum menuju dusun Kinahrejo, dimana tempat itu menjadi pusat perhatian ketika letusan terjadi karena sang juru kunci Merapi ikut menjadi korban dan meninggal kediamannya di dusun tersebut. Saya arahkan motor ke Kaliadem. Wilayah ini adalah kawasan hutan pinus seluas 25 hektare pada ketinggian 1100 diatas permukaan laut, yang secara administratif berada di desa Kepuharjo, kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Beberapa kilometer sebelum sampai di Kaliadem kami melihat pemandangan keganasan letusan Merapi, jembatan untuk akses menuju kesana telah putus akibat terjangan lahas dingin yang dashat. Terpaksa kami mencari jalan lain.

jembatan yang terputus
Setelah beberapa kali memilih jalan yang salah, dan tanya beberapa penduduk setempat, akhinya kami sampai di Kaliadem disambut dengan papan tulisan bertuliskan "Kuburan Massal 40 M Lagi", jalan berpasir yang akan timbul debu-debu ketika di lintasi, pemandangan yang jauh dari kata hijau lagi, tidak seperti sebelumnya yang di penuhi berbatang batang pohon pinus, rumah-rumah penduduk yang tinggal puing-puing dan tentu saja sudah tidak bertuan.

Seketika kulit terasa merinding, dejavu dengan apa yang saya dan keluarga alami sewaktu kejadian letusan Oktober 2010. Jarak 13 kilometer antara rumah kami dan puncak Merapi saja sudah mengalami kekacauan yang tidak biasa kami alami. Saat itu seleuruh desa mengungsi ketempat radius aman Merapi yang sudah di tentukan oleh pihak berwenang, desa di penuhi oleh abu vulkanik muntahan dari Merapi, pohon-pohon ambruk tidak beraturan menahan berat material vulakani dari pasir dan debu, desa kami seperti desa mati, isak tangis menghiasi warga ketika mencoba menengok rumahnya dan kebunnya sepulang dari pengungsian.

Tentu yang kami alami tidak seburuk yang warga Kaliadem karena jaraknya lebih dekat dari puncak Merapi yaitu sekitar 5-6 kilometer. Sepanjang jalan yang kami susuri sudah jarang ditemui penduduk asli, kebanyakan malah terlihat para pengunjung dari daerah lain yang sengaja datang untuk melihat efek dari kedasyatan Merapi.

yang tersisa
pengunjung dari luar daerah

Selajutnya kami menuju Kinahrejo, jarak dari Kaliadem sekitar 5-7 kilometer. Tidak terlalu sulit menemukan lokasi ini ketika sudah berada disekitar jalan Kaliurang, banyak petunjuk jalan yang mengarahkan kesini. Maklum semenak erupsi Merapi 2010, lokasi ini seperti menjadi obyek wisata baru dengan daya tertariknya.

Kami langsung di hadang oleh petugas parkir sebelum memasuki lokasi. Yang lokasi tersebut berupa petilasan (bekas kediaman) almarhum mbah Marijan sang juru Merapi yang gugur/meninggal dunia saat erupsi Merapi itu. Tidak ada tiket masuk waktu itu, hanya tarif parkir saja yang di minta oleh petugas. Jika ingin tidak jalan kaki ke lokasi yang berjarak sekitar 1 kilometer sebelum masuk pengunjung akan di tawari jasa ojek motor dengan tarif dua puluh ribu rupiah untuk pergi-pulang ke lokasi, atau jika bisa mengendarai motor disana juga ada penyewaan motor jenis trail dengan tarif lima puluh ribu untuk durasi sewa 30 menit.

Tidak memilih kedua jasa tersebut, kami melangkahkan kaki ke lokasi, walaupun jalan menanjak dan cukup membuat keringat bercucuran di tubuh, tidak mengurangi semangat untuk melihat saksi  dari peristiwa yang cukup dasyat saat itu.

Ditengah perjalanan sambil isitirahat sejenak kami bertemu dan mengobrol dengan penduduk setempat, yang tampak mencari sesuatu, ternyata beliau melihat bekas rumahnya yang telah rata dengan pasir Merapi. Seorang bapak dengan kirasan umur 50 tahun, dengan kaos belambang partai politik, bercelanana pendek tanpa alas kaki, sangat antusias bercerita kepada kami.

Beliau bertutur berbagai macam hal, dari proses relokasi warga setempat setelah bencana sampai cerita semasa hidup almarhum mbah Marijan. Kebetulan beliau ini masih ada hubungan saudara dengan sang juru kunci Merapi itu. Terlihat diwajahnya tidak ada beban yang terlalu mendalam  dan terlihat tegar walaupun beliau ini sudah kehilangan harta bendanya beserta kenangannya yang ikut terkubur di pasir Merapi. Dan harus memulai dari nol lagi untuk bisa memulai hidupnya secara normal seperti sebelum terjadinya bencana ini.

Beliau mengatakan dengan bahasa jawa, kira terjemahan dalam bahasa Indonesia seperti ini "saya tetap santai walaupun sapi milik saya yang berjumlah 3 ekor mati semua, rumah sudah tidak ada bekasnya lagi, semua sudah ada yang mengatur, saya tetap bersyukur". Dan beliau juga berprinsip yang dikatakan dalam bahasa Jawa juga "uwong niku dereng cukup nak derang cungkup". Yang bisa diartikan, orang itu belum merasa cukup  jika belum meninggal dunia. Sungguh prinsip yang patutu dicontoh dalam kondisi apapun apalagi dalam situasi bencana seperti ini. Tidak heran jika beliau terlihat begitu 'kuat' menghadapi cobaan ini.

"uwong niku dereng cukup nak derang cungkup" ujarnya.
Setengah jam lebih kami mengobrol, dan akhirnya harus pamitan dan melanjutkan perjalanan kembali. Akhirnya sampai di lokasi. Sebuah hamparan tanah lapang yang luasnya hampir seperti lapangan sepakbola, beberapa penjual makan/minum dan souvenir khas daerah ini sebagai tanda mata jika sudah mengunjugi tempat ini berupa kaos, foto-foto sewaktu bencana. Tidak ada bangunan lagi disini, semua sudah tertimbun dengan pasi muntahan Merapi, yang ada hanya tetenger (tanda) berbentuk gubuk kecil dengan atap genting tanpa dinding sebagai tanda bahwa disini adalah dulunya adalah pernah tinggal seorang Mas Penewu Surakso Hargo yang lebih di kenal sebagai mbah Maridjan.

sebelum ke lokasi 
Seorang yang di tunjuk dari pihak Keraton Yogyakarta sebagai juru kunci Merapi sejak tahun 1982, yang meninggal  dunia di kediamannya di lokasi ini tanggal 26 Oktober 2010, saat awan panas meluncur ke desa ini dan melululantahkan semua yang dilewatinya, desa   Kinahrejo termasuk didalamnya yang disapu oleh awan panas itu.

tetenger
Tidak jauh dari tetenger terdapat bangkai mobil yang digunakan untuk evakuasi beberapa warga yang masih di kawasan bahaya Meapi saat itu. Mobil itu terlihat kecoklatan tanda bahwa mobil itu terkena panas yang lua biasa. Tetapi karena kejadian bencana yang begitu cepat, sehingga mobil dan orang yang dia dalamnya ikut menjadi korban.  Posisi mobil saat kejadian bencana sebenanya bukan di lokasi ini, tetapi beberapa kilometer dibawah dari lokasi ini, untuk lebih memudahkan pengunjung melihatnya, maka dibawa kesini.

bangkai mobil
Tepat di samping bangkai mobil terdapat baligo yang bertuliskan kronologis kejadian saat itu, kurang lebih isinya seperti ini:
26 oktober 2010 
Jam 17.30
Agus wiyanto, Tutur priyanto (relawan PMI) dan Yuniawan (wartawan Vivanews) tiba di Kinahrejo untuk memberi tau warga bahwa telah terjadi erupsi Gunung Merapi ke arah barat. saat itu warga Kinahrejo,tampak ayem tentrem tidak mengetahui adanya ancaman tsb. 
Jam 18.15 
sirene tanda bahaya berbunyi, saat itu warga sedang menjalankan solat magrib. Mobil Suzuki APV, menjadi satu2nya kendaraan yang digunakan untuk mengevakuasi warga Kinahrejo, karena keterbatasan kendaraan evakuasi, banyak warga yang tidak terangkut
Jam 18.40
Setelah menurunkan warga di barak pengungsian di Umbulharjo, Tutur dan Yunawan kembali naik menuju Kinahrejo utk menyelamatkan lebih banyak warga.
Jam 19.30
Tutur Priyanto dan Yunawan gugur bersama mobil evakuasi(ditempat ini) halaman rumah mbah Maridjan, diterjang awan panas dlm upaya menyelamatkan lebih banyak lagi nyawa manusia.



Tulisan itu mengingatkan saya pada film yang tokohnya adalah pahlawan di dalam ceritanya. Tapi cerita ini bukan sekedar dalam film yang fiktif karena benar-benar terjadi. Hari menjelang sore, dan kami pun meninggalkan tempat ini untuk kembali turun dan pulang. Setelah mendapatkan pegalaman dari perjalanan ini yang sangat berkesan.




ayo ikutan juga!

5 komentar:

  1. Salam

    Berbagi Kisah, Informasi dan Foto

    Tentang Indahnya INDONESIA

    http://www.jelajah-nesia.blogspot.com

    BalasHapus
  2. akhirnya update juga blog nya mas.
    saya adalah penyimak setia sampean.

    saya tunggu FR2 menarik lainya lho mas.

    BalasHapus
  3. Sebelumnya saya turut berduka cita atas bencana Merapi tersebut. Semoga saudara-saudara kita yang menjadi korban dari bencana tersebut diberi ketabahan, kesabaran, dan kekuatan untuk menghadapi musibah ini. Amin.
    Reviewnya cukup bermanfaat nih apalagi buat para traveler indonesia yang ingin lebih mengetahui kondisi kawasan tersebut setelah musibah tersebut terjadi.
    Permisi saya mau share info tujuan wisata nih , di mohon komentarnya yang membangun. http://resturamadhandream.blogspot.com/2013/08/7-wonders-plengkung-alas-purwo.html

    BalasHapus
  4. Haloo Vloggers,

    Saya putri dari VIVAlog, meminta biodata lengkap lomba blog "Jelajah 7 Keajaiban Nusantara" #terios7wonders berhubung email masuk banyak dan mungkin ke skip jadi di minta untuk mengirim data lagi dengan Subject : DATA LOMBA BLOG TERIOS7WONDERS (CAPSLOCK) , sebagai berikut:

    Nama lengkap:
    Username VIVAlog:
    Alamat lengkap:
    No Hp:
    Link Blog:

    kirim ke email: putri.megasari@viva.co.id

    Karena hari ini adalah hari penjuarian, diminta untuk secepatnya mengirim data.


    Regrads,
    Putri

    BalasHapus