Minggu, 17 Maret 2013

50 Km dari Kota Industri

Antara Bekasi dan Karawang yang lebih sering terdengar dengan kawasan industrinya, serta hiruk pikuk didalamnya yang semakin disesaki dengan para kaum urban yang mengais rejeki. Termasuk saya sendiri yang tinggal di antara ke dua kota tersebut, Cikarang. Disaat akhir pekan, beberapa dari mereka membutuhkan tempat untuk menyatu dengan alam sebagai sarana penyegaran. 

Adalah curug Cigentis, yang terletak di desa Mekar Buana, kecamatan Tegalwaru, kabutaten Karawang bisa dijadikan tempat untuk tujuan diakhir pekan. Lokasinya yang ada di gunung Loji, dibawah kaki gunung Sanggabuana, sebagai layaknya daerah pegunungan maka akan ditemui banyaknya hijau pepohonan, dan sejuknya udara ketika tiba di lokasi.

Hari Minggu (24/02/2013) saya dan boncenger melakukan pejalanan ke lokasi tersebut. Dengan rute yang dilihat sebelumnya di google map kami berangkat dari Cikarang saat menjelang siang. Diketahui dari map jarak yang akan ditempuh 50 kilometer (rute klik disini). Panas terik matahari mengiringi keberangkatan perjalanan kami. Tapi situasi itu tidak terlalu berpengaruh terhadap kenyamanan berkendara kami, karena jaket yang kami kenakan mempunyai sistem air flow dengan adanya Mesh Panel (bagian bahan kain yang memungkinkan angin masuk dengan maksud menyejukan badan) dibagian lengan/samping jaket.

Memasuki daerah Jatilaksana, hamparan sawah yang menguning tampak menghiasi perjalanan, untuk memastikan rute yang ditempuh menuju curug Cigentis, penjaga warung dipinggir memberi petunjuk ikuti saja jalan ini, jika sudah ketemu pasar Loji lalu belok kanan, setelah mendapat jawaban atas pertanyaan dari penjaga warung, behenti sejenak sambil memandang hamparan sawah yang di latarbelakangi pemadangan pegunungan.

Setelah menenggak air mineral yang dibeli diwarung yang sama, Bishop dipacu kembali. dengan kecepatan sedang, 60-70 kpj. Tiba di pasar Loji, beberapa persimpangan jalan terdapat petunjuk bertuliskan 'Curug Cigentis'. Memang curug ini salah satu andalan objek wisata di Karawang. Perbukitan semakin jelas terlihat seakan sambung menyambung dengan gunung Sanggabuana. Sampai di pos penarikan retribusi kendaraan ketika memasuki wilayah wisata curung Cigentis. Setelah menyulurkan lembaran Rp 5000,-  semakin dekat dengan yang kami tuju, dan jalan yang di lalui semakin tidak sebagus sebelumnya, mulai dai sini bagi yang berkendara roda 4 atau lebih tidak bisa melanjutakan perjalanan dengan kendaraannya dan harus jalan kaki sekitar 1,5 kilometer. Jalan bebatuan, gravel, jalan aspal yang tidak tidak rata. Semakin lama semakin menanjak ekstrem, boncenger sempat ingin turun dari bishop, tapi saya cegah karena berpikir masih bisa melewatinya. Beberapa pengunjung lain terlihat menurunkan boncengernya ketika hendak menanjak.  Kira-kira 2 kilometer dari pos retribusi sampai tiba di lokasi curug.

jalan 2 km sebelum curug
Sampai tempat parkir terakhir, kami berjalan kaki sejauh 200 meter sampai benar-benar bisa melihat curug. Jalan batu yang ditata tidak begitu rapi, beberapa penjual sovenir tanda mata curug Cigentis kami temui. Semakin dekat dengan curug, penjual makan/minum bahkan jagung bakar banyak terlihat. Dan akhinya curug Cigentis gagah terlihat, ramai pengunjung yang berkumpul dibawah curug yang saya perkirakan tingginya 10-20 meter dengan lebar 5 meteran. Segarnya air yang mengalir dari curug, udara yang sejuk, tempat ini bisa dijadikan untuk menyegarkan pikiran.

souvenir
selalu ramai di akhir pekan
curug
pilih sendiri tempat untuk menikmatinya
was here
2 jam disini, kami segera beranjak untuk pulang. Langit tampak gelap, kabut mulai turun, hujan pun tidak lama turun sebelum kami benar-benar meninggalkan obyek wisata ini. Sepanjang perjalanan pulang, menikmati ritikan hujan, sore yang menakjubkan sesudah hujan dengan langit berawan diselingi warna merah jambu. Kami pun sangat menikmati ini.

kabut turun
enggan pulang 
perjalanan pulang
bermain air sebelum meneruskan perjalanan pulang
sampai jumpa kembali....


klik foto lebih banyak di sini

Senin, 11 Maret 2013

So give me Coffee and Bike

Kerinduan sang boncenger untuk melakukan suatu perjalanan dengan ber-motor sudah dilontarkan beberapa bulan yang lalu, tapi karena beberapa kesibukan pekerjaan akhirnya pada 23 Februari 2013 baru bisa terlaksana. Destinasi kali ini adalah daerah bumi priangan, Bandung-Jawa barat. Kebetulan rencana untuk silahturahmi ke salah satu produsen perlengkapan berkendara roda dua, mas Arif Gampang Utomo selaku pemilik brand Respiro, bisa di realisasikan pula dalam perjalanan kali ini.

Kediaman mas Arif di Cimahi, awal tujuan kami. Berangkat sabtu pagi dari Cikarang, dengan rute Cikarang - Purwakarta-Cikalong Wetan-Padalarang-Cimahi. Guyuran hujan ketika berangkat tidak menyurutkan niat kami untuk memulai perjalanan ini. Sampai Purwakarta hujan baru reda, dinginnya kaki terasa karena sepatu tidak waterproof .  Untuk mengihilangkan rasa dinginnya kaos kakipun diganti dengan kantong plastik. Untuk mencapai Cimahi tidak mengalami kesulitan dengan rutenya, karena ini adalah kedua kalinya, kami ke kota ini. 5 jam waktu untuk menempuh perjalanan ke kota Cimahi ini, karena sudah pukul 11.00 dan perut sudah terasa lapar. Kami pun mencari warung makan. Sambil makan siang saya menghubungi mas Arif, ternyata beliau tidak sedang dirumah. Memang kedatangan kami lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Sambil menunggu kami manfaatkan menjemur beberapa perlengkapan yang keujanan tadi. Cimahi ternyata saat itu sangat terik. Dan juga mencuci bishop ditempat pencucian motor karena warnanya sudah berubah kecoklatan.

Hampir 2 jam menunggu, kami dapat info jika mas Arif sudah di rumah. Terlihat sebuah motor Kawasaki Versys di garasi, menadakan itu rumah yang dimaksud, karena sebelum kami kesini, mas Arif bilang jika sedang menguji motor ini yang belum genap satu bulan di belinya. Disambut oleh tuan rumah dengan hangat, saya masih di garasi memperhatikan motor berkapasitas hampir 650 cc ini, dengan reflek saya langsung menungganginya, mas Arif pun segera mengambil kunci motor ini, dan mempersilakan untuk mencoba mengendarainya. Dengan senang hati, saya terima tawarannya untuk segera menghidupkan mesinnya. Dengan tinggi saya yang kira-kira 178 cm, untuk menapakan kaki ketika motor berhenti masih kesusahan. Masih dengan posisi kaki jinjit, layaknya penari balet. Melewati jalan komplek perumahan, sudah cukup merasakan akselerasi dan torsi yang sangat mewah dengan motor ini.

di garasi mas Arif
Obrolan dengan mas Arif pun semakin menghangat, banyak wawasan yang diterima dari beliau, dari perjalanan merintis usaha perlengkapan berkendara roda dua ini. Dari beliau bekerja sebagai staff ahli di sebuah perusahaan textil ternama, hingga di kirim tugas ke beberapa negara manca. Beberapa merk terkenal di Eropa dan Amerika seperti Dainese, Alpine Star perhah terlibat dalam tugas/perkerjaannya. Dengan berbekal pengalaman tersebut, beliau memutuskan resign dari perusaaan textilnya dan membuat trading fabric & garment  sendiri. Dengan produk dengan nama merk Respiro ini, beliau membuat berbagai keperluan bekendara sepeda motor, dengan memperhatikan keamanan dan kenyamanan. Sejak tahun 2008 keberadaan Respiro dimulai dengan pengembangan produk jaket yang waterproof dan windproof untuk beberapa merk diluar negeri dan merk produk outdoor terkenal dalam negeri. Mungkin jika dikisahkan keseluruhannya butuh waktu berhari-hari, tak terasa kami hampir 2 jam disini, dan segera pamit ke tuan rumah untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Bishop di arahkan ke daerah Pangalengan, Bandung selatan. Melihat jalur di google map di layar ponsel, perkiraan jaraknya adalah 50 km. Walau sempat kebingungan dan beberapa kali melewati jalan yang sama di kota Cimahi ini, karena beberapa ruas jalan hanya untuk satu jalur saja. Akhirnya bisa keluar dari kota ini. Entah apa karena saat itu bertepatan dengan malam minggu, sehingga lalu lintas terlihat padat, terutama ketika melewati kawasan pasar dan pertokoan. Memasuki daerah Banjaran hawa dingin pegunungan mulai terasa, dengan jalan yang khas pula, menanjak dan banyak tikungan.

Sebelum melakukan perjalanan ini, saya mencari beberapa referensi tentang daerah Pangalengan ini. Entah mengapa memilih daerah ini, saat itu cuma iseng lihat peta, dan kebetulan belum pernah menggelindingkan roda bishop ke daerah ini. Salah satu daya tarik daerah ini adalah situ Cileunca. Memasuki Pangalengan, bersamaan dengan gelapnya hari. Beberapa kali berhenti untuk memastikan jalur yang ditempuh benar, lewat layar ponsel, untuk membuka google map. Sekitar pukul 19.00 saat itu, jalan yang mimin lampu penerangan membuat saya memacu Bishop dengan kecepatan rendah, sesekali menengok kanan kiri untuk mendapatkan petunjuk kearah situ. Tampak samar-samar genangan yang luas pada posisi yang lebih rendah dari bishop melaju, belum bisa mengira-ira berapa luasnya karena saat itu hanya gelap.

Akhinya kami menemukan gerbang menuju situ. Dengan minimnya penerangan kami coba masuk perlahan, tampak sebuah warung yang menjual makan/minum, setelah parkir didepan warung, teh hangat pun kami pesan dari sang penjual. Seorang ibu dengan logat bahasa sunda yang kental. Sambil menikmati teh hangat, saya bertanya tentang penginapan atau tempat mendirikan tenda di sekitar situ kepada pemilik warung. Beliau tidak menyarankan untuk mendirikan tenda di sekitar tenda, dengan tidak menjelaskana alasannya. Malah menyarankan untuk menginap di tempat warung yang terdapat kamar, dengan menawarkan harga Rp 150.000,- permalam. Tidak beberapa lama, kami pamit dari warung untuk melihat situasi situ, sambil mencari alternatif tempat untuk bermalam. Menyusuri jalan pinggir situ yang tidak ada penerangan membuat kami tidak menemukan apa yang dicari. Hanya rumah pendududuk, dan itu pun sebagian pintunya sudah tertutup. Semakin jauh kami meninggalkan situ, semakin tidak ada pemukiman dan hanya gelap gulita disekitarnya.

Kami pun kembali ketempat awal datang ke situ. Tepat dipinggir jalan Pulosari-Wanasari, ada sebuah warung makan yang sederhana, tampak beberapa beberapa pengunjung sedang yang lain sedang menonton televesi, kami pun segera memesan 2 porsi makan malam. Setelah selesai makan, saya tanya kepada pemilik warung tentang penginapan, beliau dengan segera menjawab jika ada tempat menginap disebelah warung ini, sebuah rumah yang memang sengaja di peruntukan tamu yang ingin bermalam. Saya pun segera melihat keadaan rumahnya, sebuah bangunan dengar dinding dari anyaman bambu, terdiri dari 2 buah kamar tidur, 1 ruang tamu yang juga terdapat tempat tidur, sebuah ruang tv, lengkap dengan kamar mandi. Tampak sederhana memang, tapi cukup untuk menampung satu keluarga, yang terlalu besar untuk menginap kami berdua. Segera menanyakan harga, beliau menjawab "biasanya ini memang buat menginap keluarga, harganya tiga ratus ribu, tapi karena untuk berdua saja saya kasih harga 150 ribu deh". Setelah saya tawar, akhirnya 120 ribu harga yang kami sepakati.

Setelah rumah selesai dirapikan oleh pemiliknya, kami memasukan barang-barang dan Bishop kedalam. Entah mengapa ada perasaan yang tidak nyaman disini, itu juga saya lihat di wajah boncenger. Yang biasanya tidak pernah minta di antar ke kamar mandi, kali ini saya di suruh menunggu di sebelah pintu kamar mandi. Memang menurut beberapa referensi yang saya baca sebelumnya, jika daerah situ Cilenuca ini memeliki beberapa cerita mistis. Tapi hal itu tidak saya ceritakan kepada boncenger. Tetapi sepertinya boncenger merasakannya saat berada di lokasi. Kami pun sepetinya mengerti untuk tidak mengungkapkan ha-hal yang berbau mistis disini, untuk menjaga mood tetap positif. Hal mistis malah diungkapkan boncenger disela perjalanan pulang, jika melihat hanya kepala selain kita berdua dirumah itu. Saya bertanya "kok kamu ga teriak tau ngomong?" dia pun hanya tersenyum, dengan raut muka sedikit jengkel ke saya, karena tidak cerita jika daerah situ ada cerita mistisnya.

Terbangun jam 5 pagi dari ruangan tamu dengan jendela tidak bekorden, segera memasukan barang-barang ke side bag. Pagi itu terasa dingin, terlebih ketika mencuci muka, layaknya air es. Sayapun mengurungkan niat untuk mandi pagi. Keluar dari rumah ini menyusuri jalan yang letaknya memang dipinggir situ Cileunca itu sendiri, langit dengan awan mendominasi, seakan hendak turun hujan. Menepikan bishop dibahu jalan untuk sekedar menikmati suasana pagi , dan melihat pemandangan disekitar situ. Situ Cileunca yang merupakan danau buatan ini seluas 1.400 hektar ini dibuat diatas tanah milik orang kebangsaan Belanda, bernama Kuhlan. Selama tujuh tahun situ ini dibangun, dari tahun 1919. Situ yang berada di ketinggian 1550 mdpl ini, lokasi tepatnya berada di desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, di kelilingin oleh perkebunan teh Malabar dengan latabelakang pemandangan gunung Malabar.

Awan tebal menyelimuti diatas situ Cileunca, gerimis pun mulai turun, kami pun bergegas meninggalkan tempat ini, Bishop dipacu perlahan mengelilingi situ, menikmati hembusan udara dingin menembus lewat ventilasi helm merupakan kebahagian tersendiri yang dirasakan. Masih di sekitar situ, saya melihat ada jalan menuju sebuah perkampungan, setelah berunding sebentar dengan boncenger, bishop pun di belokan kejalan tersebut. Jalan pedesaan yang tidak mulus, dengan aspal yang rusak, kadang jalan tanah. Rumah penduduk berjejer tidak berjauhan. Dari rumah yang sederhana sampai rumah mewah kami temui di desa ini, yang setelahnya kami ketahui adalah desa Margasari, kecamatan Pangalengan. Kami terus menyusuri jalan ini, karena belum berujung. Bertemu dengan truk-truk besar, karena rasa penasaran, saya ikuti kemana arah truk tersebut. Ternyata, berhenti disebuah bangunan yang mirip pabrik dengan pagar beton setinggi 2 meter. Ada bau yang menyengat, dan ternyata itu adalah bau kotoran sapi.

situ Cileunca pagi hari yang berawan
karpet hijau Pangalengan
jalan menuju awan
menikmati udara pagi di Pangalengan
Didepan bangunan tersebut bertuliskan perusahaan susu terkenal, yang kebetulan merk susu kotak kegemaran saya. Ternyata bangunan ini adalah pertenakan sapi dengan fasilitas dan operasional berstandar internasional,  mengelola 2.900 sapi impor dari Australia yang dibesarkan di sini dengan melibatkan peternak lokal untuk memenuhi kebutuhan produksi susu merk tersebut. Memang, daerah Pengalengan merupakan penghasil susu yang sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Situ Cileunca hampir kelihatan seluruhnya, karena posisinya yang lebih tinggi. Sambil mengendarai bishop, kami mencoba melalui jalan desa dengan pemandangan perkebunan sayur mayur, berlatar belakang gunung Malabar yang pucuknya diselimuti awan tebal. Jalan semakin menyempit dan menurun, ternyata sampai ditepi situ, dengan ada perahu yang entah digunakan sebagai apa. Tidak lama disini, kami balik arah menuju saat masuk jalan ke desa ini kembali.

tampak dibelakang adalah peternakan sapi
lebih dekat dengan situ Cileunca
balik arah dari pinggir situ
Ditengah perjalanan, masih ditengah desa Margasari, perut kami terasa lapar, tampak kerumunan warga sedang mengantri pedagang bubur ayam, segera memberhentikan bishop dan bergabung bersama mereka. Sambil menunggu bubur ayam disajikan, saya ngobrol dengan salah satu warga. Dengan logat sunda yang sangat kental dari ucapannya, warga ini menerangkan kehidupan desa ini yang rata-rata perkejaannya adalah sebagai petani sayur mayur, dan sebagian peternak sapi.  Sambil berdiskusi pula dengan boncenger, untuk tujuan selanjutnya. Saya menawarkan untuk ke suatu desa yang masih berada di kecamatan Pangalengan, desa tersebut terkenal dengan olahan kopi Luwak-nya.

sarapan bubur
Setelah melihat peta di layar ponsel, Bishop diarahkan menuju kampung Pasirmulya, desa Margamulya, kecamatan Pangalengan. Lokasi ini saya dapat dari berbagai referensi di internet. 7 kilometer dari situ Cileunca, di jalan raya Pangalengan, ada papan petunjuk bertuliskan "Kopi Malabar", yang terdapat keterangan berjarak 2 kilometer ke lokasi.  Jalan perkampungan selanjutnya kami lalui dengan aktifitas warganya didalamnya, beberapa kali papasan dengan warga yang mengendarai sepeda motor dengan kanan kirinya seperti tabung penampung susu. Benar saja, tidak lama kemudian melihat beberapa warga kumpul di tempat penampungan hasil susu perahan mereka.

Karena tidak ada petunjuk jalan lagi, kami bertanya kepada penduduk untuk menuju lokasi yang kami maksud. Penduduk memberi arah jalan berikut menyebut nama pak Nuri sebagai pemilik olahan kopi Luwak tersebut. Sesuai petunjuk akhirnya menemukan papan berwana hijau bertuliskan "Kopi Luwak Malabar". Kenapa namanya Malabar, saya coba menebak sendiri karena lokasi ini terletak di kaki gunung Malabar. Tidak jauh dari Bishop parkir, berdiri seorang pemuda. Segera saya tanyakan tentang maksud kedatangan kami. Pemuda yang bernama mas Irfan ini kebetulan adalah pegawai dari pak Nuri yang biasa melayani tamu ketika berkunjung kesini. Pak Nuri sendiri kebetulan tidak sedang disini.  Mas Irfan segeran menunjuk sebuah bangunan, dan mempersilakan kami masuk. Pada saat kami datang, pintu berpagar besi, kemudian pintu kaca mirip bangunan rumah toko belum dibuka. Setelah masuk dibangunan difungsikan untuk menerima tamu ini, terdiri dari kursi dan meja panjang dari kayu tebal, setiap ruangan terlihat bersih dan rapi, disebelah ruang tamu terdapat ruang yang di pisah dengan kaca bening, yang didalam terdapat beberapa toples besar terbuat dari kaca yang isinya biji kopi, serta ada juga mesin yang digunakan untuk mengsangrai biji kopi sebelum disajikan.

akhirnya sampai
setelah di sangrai
siap dinikmati
Mas Irfan segera memulai proses pembuatan kopi, memasukan biji kopi kesebuah mesin, dan tidak lama kemudian kopi luwak Malabar panas tersaji sudah.Rasa kopi yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, aroma kopinya sangat menyengat, ketika diteguk pahit kopi sangat terasa, seakan rasa kopinya menempel di lidah dan disemua organ tubuh yang dilewati aliran kopi. Mas Ifan menyarankan menambahkan gula yang terbuat dari aren jika merasa pahit. Sambil menikmati kopi mas Irfan bercerita tentang pengolahan kopi, dan menjawab dengan antusias setiap pertanyaan yang kami lontarkan. Kopi disini berjenis Arabika,  ketinggian lokasi perkebuna kopi yang 1800 meter dari permukaan laut dengan suhu sejuk bekisar 15-21 derajat sangat cocok untuk budidaya jenis kopi ini.

silahkan pilih sesuai selera dan dana
sang luwak
baru saja keluar
Mas Irfan juga bercerita, jika belum lama ini kedatangan beberapa tamu dari negeri Belanda untuk belajar cara pengolahan kopi luwak. Memang Kelompok tani yang bernama 'Kopi Rahayu Tani"  disini menyediakan pelatihan untuk mempelajari bagaimana memproduksi kopi luwak dari awal sampai menjadi segelas kopi yang siap saji. Disini tersedia kopi yang dikelompokan berdasarakan lokasi penanaman pohon kopi dan pengolahannya, itu juga yang nantinya mempengaruhi harga jualnya. Jenis Speciality adalah hasil kopi dari ketinggian kurang dari 1000 mdpl, sedangkan jenis Gourmet  diatas 1000 mdpl, untuk kopi Luwak kopi hasil dari proses cerna dari binatang Luwak (Paradoxurus hermphrodirus), yang secara insting Luwak itu sendiri memilih kopi yang memiliki citarasa khas. Bulan ke 4 - 5 adalah musim panen kopi dan saat itu Luwak diberi makan kopi, dan dikeluarkan masih berbentuk kopi bersama kotorannya. Setelah melalui proses pencucian hingga sangrai (dimasak didalam tungku/mesin  dengan panas tertentu), sehingga kebersihan nya terjamin. Kelompok tani yang bekerja sama dengan PUM Netherlands Expert Coffe ini juga telah memilik Standar Mutu Biji Kopi serta telah menyandang '"Citarasa Tiga Terbaik se-Indonesia" sertifikasi dari Puslitkoka (Pusat Penelitian Kopi dan KakaoIndonesia), di Jember tahun 2011.

Kopi seharga 25 ribu rupiah percangkir ini tidak terasa sudah habis. Konon jika beli dicafe-cafe harganya bisa mencapai 200 ribu rupiah percangkir. Kami bertanya ke mas Irfan, "apakah bisa melihat kandang luwaknya?". Beliaupun menyanggupi dengan syarat tidak boleh mengambil gambar dengan kamera saat didalam kandang. Letak kandang letaknya 300 meter dari tempat minum kopi tadi. Memasuki lahan yang dikelilingi tembok setinggi 3 meter, didalamnya ada bangunan lagi untuk menempatkan kandang Luwak. Sekitar 40 kandang berada didalam bangunan itu, satu kandang dengan luas 1,5 meter persegi terdapat satu ekor Luwak. Karena binatang yang sangat sensitif dan mudah stres, kandang tidak boleh kotor. Maka setiap pagi dan sore selalu dibersihkan. Disela-sela ceritanya mas Irfan, entah mengapa beliau memperbolehkan  mengambil gambar dengan kamera yang boncenger bawa. Setelah sebelumnya saya 'merayu' jika nantinya fotonya akan dipampang di blog dan secara tidak langsung menjadi ajang promosi untuk kopi uwak itu sendiri, hehe..

bersama mas Irfan sepulang dari kandang luwak
Tak terasa 2 jam sudah kami disini, jam 9.30 berpamitan dengan mas Irfan dan mengucapkan terimakasih yang telah besedia 'menjamu', memberikan wawasan baru tentang salah satu komoditas yang membanggakan daerah ini dan Indonesia. Perjalanan pulangpun dimulai.Dengan menempuh rute yang agak berbeda dari saat keberangkatan, yaitu Pangalengan-Cililin-Saguling-Cikalong Kulon-Cikarang. Alhamdulillah tiba di rumah dengan zero accident & trouble. 


foto lebih banyak klik disini