Rabu, 13 Februari 2013

Water Dragon Sunday Ride

When You Ride You should try and forget everything else. Dont think about the rest of your life ot the rest of the world. Try to forget all that and think only of the road or the track and the bike. It's not always easy to stay focused on the bike, sometimes you feel that one part of the brain rides the bike, thinks about the tyre, sees the road, but maybe the other part is thinking about a girl, a friend, a song” – Valentino Rossi

Walaupun tidak sedang berkendara di sirkuit internasional, dengan kecepatan diatas 200 km/jam, ungkapan pembalap Moto GP asal Italia diatas, saya rasakan di dalam perjalanan kali ini. Perjalanan dengan jarak tidak lebih dari 250 km (pergi-pulang), dengan jalur yang tidak lazim untuk sepeda motor yang kami kendarai, ketegangan saat melewatinya, terlempar dari motor saat terlena, sampai tertawa bahagia ketika mencapai klimaks melihat terbenamnya sang matahari di tempat betemunya sungai-samudra dengan mengendarai perahu nelayan, akan menjadi cerita dalam perjalanan kami ini.

Kami?ya.. perjalanan ini diikuti oleh empat orang, yaitu om Hendra, om Sigit, om Rustam dan saya sendiri, pada hari minggu, 10 Februari 2013. Melihat postingan Facebook dengan nama akun 'Menembus Batas' yang isinya akan mengadakan perjalanan sehari, saya tertarik untuk mengikutinya. Jika membaca beberapa cerita perjalanan bermotor  Menembus Batas ini, dalam menempuh pejalanannya lebih didominasi oleh jalur-jalur yang jauh dari kata jalan aspal mulus. 

Setelah melakukan obrolan dengan pemilik akun ini yang setelahnya saya ketahui pemiliknya adalah om Hendra yang berdomisili di Cibinong-Bogor, saya pun siap sedia untuk mengikuti perjalananya. Tidak banyak bertanya kepada beliau, yang penting sudah disepakati titik kumpul dan jam keberangkatannya, untuk jalur dan tujuannya sengaja tidak ditanyakan secara detail karena akan saya jadikan sesuatu yang menjadikan rasa penasaran. 

Jam 08.00 di sekitaran Mal Metropolitan-Bekasi adalah titik kumpulnya, saya sendiri datang kepagian jam 7.10, saya gunakan waktu tunggu ini untuk sarapan. Setelah satu jam kemudian om Hendra tiba ditemani oleh om Sigit, saya baru pertama kalinya bertatap muka dengan kedua beliau  ini. Om Hendra bilang jika menunggu salah satu teman lagi yang akan ikut dalam perjalanan ini, yaitu om Rustam yang berangkat dari Cibinong juga tetapi mengalami masalah dengan tunggangannya. Hampir 2 jam kami menunggu om Rustam ditemani beberapa gelas kopi di jalan Kalimalang ini, waktu tunggu tidak terasa karena obrolan yang asyik dan menarik. Cerita om Hendra yang masih tergabung di komunitas 'Bikepacker Indonesia' tentang perjalanan seorang diri mengayuh sepeda Bogor-Aceh, atau terombang-ambing di tengah laut selama 4 hari dalam perjalanan ke Sulawesi dengan sepeda motornya sangat seru diceritakan sampai akhirnya om Rustam tiba.

menunggu
Dan perjalanpun di mulai, dengan om Hendra di posisi depan sebagai penunjuk jalan sekaligus memimpin grup. Sekedar info juga jika perjalanan ini bagi om Hendra adalah seperti napak tilas, karena sebelumnya beliau pernah mengayuh sepedanya ke tempat yang akan kami tuju kali ini. Sinar matahari yang terik serta kemacetan kota Bekasi kami nikmati diawal perjalanan. Tak lupa mengisi bensin di SPBU dalam kota, sebagai antisipasi kesusahan mencari bahan bakar untuk motor di sana. Selepas Babelan jalan tidak sepadat sebelumnya, kami sempat berhenti di sebuah jembatan, terlihat 2 buah kapal yang terdampar dari tempat kami berhenti.



Melanjutkan perjalanan menyusuri pedesaan, dengan aspal tidak semulus di kota, kadang timbul debu ketika kami melewatinya. Sampai akhirnya kami sampai pada lokasi yang tidak kamu temui rumah-rumah penduduk, hanya terlihat beberapa genangan air mirip kolam, serta rawa-rawa yang di sekitar. Karena terlihat sepi gas pun dibuka lebih lebar, motor kami pacu lebih kencang. 

the captain
we are many, we are funny
Walaupun motornya om Hendra sudah di pasang GPS, beliau juga sudah pernah melewati jalan ini, untuk ke tujuan ternyata harus bertanya kepada penduduk local yang ditemui. Sampai akhirnya tiba di kampung Baru Setia, Desa Huripjaya, Kec. Babelan- Bekasi. Disini, sejauh mata memandang hanya terdapat kolam-kolam yang dibatasi oleh tanggul dari tumpukan tanah, yang tinggginya 1-2 meter, sedangkan lebarnya antara 30 sampai 50 centimeter. Ya kolam-kolam tersebut lebih umum disebut tambak.

Om Hendra pun segera menunjuk jalan diantara tambak, sekilas agak kaget dengan apa yang di bilang beliau “ini jalannya!”. Dan kami pun langsung mengikutinya, melewati tanggul tambak ini perlu extra hati-hati, menemukan tanah yang berkubang dengan tanah agak basah habis terguyur ujan, kami agak kesusahan melewatinya, dengan bergatian melewatinya, dibantu dorongan dari teman yang menunggu untuk melewatinya, akhirnya kami semua bisa melewatinya.

Masih melewati jalan serupa, kami masih bisa melewatinya dengan tetap fokus terjaga. Tahun Baru China atau Imlek saat itu serasa kehilangan mitosnya, karena terik mahatari serasa menyengat tubuh. Tidak disadari jalan semakin menyempit. Kami disadarkan ketika om Hendra yang berada paling depan, tiba-tiba berhenti. Tidak ada prasangka apa-apa saat itu, saya kira om Hendra sengaja berhenti atau sekedar mengambil napas untuk istirahat, tetapi setelah diperhatikan dari belakang sepertinya beliau sedang kesusahan menarik mundur motornya, roda depan yang ternyata melenceng beberapa centimeter saja dari tapak jalan. Tambak yang konon 4 meter kedalamannya ini siap menampung motornya jika diteruskan maju beberapa centimeter saja.

jalur punggung naga
antara menangis dan tertawa
Kami melewati jalan yang lebarnya hanya lebih sedikit dari lebar motor. Dengan tinggi 1-2 meter dari permukaan air tambak. Otomatis bagian tanah yang keras hanya selebar tapak ban saja, jika berhenti saya sendiri merasa bingung untuk menapakan kaki, karena tanah yang di pijak sangat gembur dan cenderung akan longsor. Kebingungan lagi, karena om Hendra belum berhasil menarik motornya. Tapi saat-saat seperti yang dibutuhkan adalah ketengangan untuk berpikir. Dari anggota grup yang berada di belakangnya om Hendra, Om Rustam yang berhasil mestandarkan motornya dan maju ke depan membantu om Hendra. Saya sendiri berusaha mendirikan motor dengan standar samping, tetapi tanahya tidak cukup keras untuk menopangnya, cenderung ambles.

Dengan agak kesusahan akhirnya motor berhasil ditarik menuju jalur yang benar. Benar-benar saya merasa sedang bemain sirkus, untuk menjaga keseimbangan, mengatur kecepatan motor, menekan tuas rem akan menjadi mimpi buruk , karena akan tambah sulit menahan berat motor dengan kaki yang berpijak ditanah yang labil. Tetap fokus dijalan yang tidak lebar ini, lengah sedikit saja akan tahu akibatnya. Pikiran akan jatuh, mengambil motor jika sudah kecebur ke tambak , dan lain-lain akan semakin memperburuk keadaan, harus dibuang jauh-jauh pikiran seperti itu.

Setelah melaju beberapa meter, om Sigit mengalami hal sama dengan om Hendra sebelumnya, dan berhasil juga di tarik dengan bantuan yang lain. Di tengah situasi seperti ini, om Hendra coba mengibur dengan berkata “itu sudah terlihat rumah, disitu ada warung!”. Memang saat itu tenggorokan terasa kering, dengan napas terengah-engah, sehabis menarik beberapa motor. Perjalanan dilanjutkan, dengan tetap kosentrasi, pandangan tetap fokus 3-5 meter kedepan. Karena kejadian roda melenceng ketika pandangan kita hanya berputar beberapa derajat saja.

Rumah yang dikatakan om Hendra semakin terlihat, kamipun sampai . Terpancar wajah gembira dari teman-teman. Disambut oleh 2 orang bapak pemilik rumah, rumah bedinding papan kayu, beratap asbes ini adalah tempat kedua bapak ini untuk menunggu dan ber-kegiatan lain mempelihara ikan yang ada tembak-tambak di sekitarnya. Kamipun memesan air minum, walaupun ini bukan warung tapi pemilik rumah segera menyediakan apa yang kami pesan. Karena sudah siang, perutpun merasa perlu di isi dengan makan siang. Setelah mengungkapan keinginanan kami, bapak itu dengan sigap mengambil kayu bakar, untuk memanggang ikan bandeng yang sudah ada. Ya..tambak disini salah satu penghasil bandeng. Menunggu beberapa lama, ikan dengan gosong dibagian luarnya sudah siap tersaji. “yang bagian luarnya jangan dimakan ya!” pesan bapak yang perkiraan saya ber umur 50 tahun.

rumah di tengah tambak
bakar bandeng
Tanpa berpikir lama kami menyantapnya dengan lahap, dengan nasi plus sambal. Hampir 1,5 jam kami disini, sekedar untuk menghimpun tenaga kembali. Walaupun jalur ini tidak panjang, tetapi cukup menguras tenaga dan pikiran. Kami pun pamitan, tak lupa kami membayar apa yang telah disajikan tadi. Ketika ditanya berapa tarif semuanya, bapak itu menjawab “terserah saja mau berapa!” . Setelah menyerahakan beberapa lembar uang, kami mengucapkan terima kasih dan meninggalkan tempat ini.

Selepas dari sini, masih menyusuri jalan yang tidak jauh beda dengan sebelumnya, tetapi lebih lebar beberapa centimeter, tetap harus extra hati-hati. Saya sendiri merasa sedikit pusing kepala, mungkin karena mata harus fokus di satu titik, tidak menoleh kanan-kiri, hanya melihat 3 meter yang ada didepan. Kadang betemu dengan petani tambak yang mebawa muatan hasil tambak, memakai keranjang yang sematkan disebelah kanan & kiri motor mereka. Atau berpapasan dengan pemancing, terlihat dari alat pancing yang mereka bawa. Om Hendra sedikit ragu-ragu, karena memang jalannya membingungkan dengan banyak cabang jalan. Untuk memastikan jalan yang benar, om Hendra tanya kepada penambak yang kebetulan lewat, “jalan menuju Muara Gembong dimana ya,pak?” tanyanya. Dan bapak tersebut menjawab,” nanti lurus terus, setelah ada pertigaan yang ada warungnya, belok kiri!” jawabnya.

“Muara Gembong yang berada sangat jauh dari hiruk pikuk kota Bekasi sendiri dikelilingi oleh lahan perairan laut Jawa yang luas dan terhimpit di antara Jakarta Utara dengan Kabupaten Karawang. Kecamatan ini terletak 64 km dari pusat Kota Bekasi. Tak kurang dari empat jam diperlukan untuk menempuh perjalanan dari kota Jakarta dan sekitar dua setengah jam dari Kota Bekasi. Sebagian besar penduduk Muara Gembong bermatapencaharian sebagai nelayan, menangkap ikan, kepiting dan juga udang untuk dijual ke Jakarta khususnya ke daerah Cilincing, Ancol, dan Muara Angke Kecamatan ini terdiri dari enam desa, Jayasakti seluas 220 hektare (Ha), Pantai Mekar 235 Ha , Pantai Sederhana 65 Ha, Pantai Bahagia 265 Ha, Pantai Bakti 2,90 Ha, dan Pantai Harapan Jaya dengan lahan terluas 275 Ha. Kawasan pemukiman penduduk pinggir laut dengan luas lahan keseluruhan 14.009 hektar tersebut didominasi oleh lahan perairan. Tambak perikanan yang mencakup lahan seluas 10.125 Ha menjadi mata pencaharian utama 60 persen dari total kepadatan penduduk 36.181 jiwa. Sisanya bekerja dengan menjadi petani darat, mengelola lahan pertanian kering seluas 60 Ha. Lahan kritis di Muara Gembong telah dolah dengan budidaya pertanian seluas 512 Ha. Muara Gembong terkenal dengan potensi alamnya, muara ini adalah habitat ikan bandeng yang sangat diminati oleh warga Jakarta karena dagingnya yang tidak bau, hal itu dikarenakan “bandeng gembong” diberikan pakan ikan yang alami. Selain bandeng, kepiting dari Muara Gembong juga terkenal di Jakarta, kemudian “Terasi Jembret”, terasi yang diolah secara alami oleh beberapa penduduknya. Beberapa istri nelayan mengolah udang rebon yang didapat dari laut untuk dijadikan terasi. Penduduk di Kecamatan Muara Gembong didominasi dengan etnis Jawa, kebanyakan mereka menggunakan bahasa Melayu. Bahasa Sunda juga menjadi bahasa sehari-hari mereka, selain bahasa Melayu. Di Desa Pantai Mekar saja sudah terdapat Puskesmas dan Kantor Dinas Kesehatan, selain itu tiga buah gedung Sekolah Dasar Negri (SDN), satu gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan dua buah gedung Sekolah Menengah Atas (SMA) juga telah mendukung dan melengkapi aspek pendidikan warganya “. (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Muara_Gembong,_Bekasi 

Apa yang ditunjukan bapak tadi benar. Mendapatkan pertigaan yang dimaksud. Jalannya lebih lebar dan lebih ‘manusiawi’. Saya merasakan seperti anak sekolah yang baru saja lulus ujian, dengan gembira merayakannya, saking girangnya Bishop (nama motor saya) dipacu dengan kecepatan 60-70 km/jam. Diatas tanah yang akan menimbulkan debu-debu, dengan pemandangan tambak di sekitarnya. Terlebih om Hendra mempersilahkan untuk saya berada di depan, untuk kerperluan dokumentasi, karena di depan motornya om Hendra terpasang perekam video. Tidak memperhatikan teman yang dibelakang, terlalu asyik dengan menarik handel gas. Sampai hal yang tidak di inginkan pun terjadi. Ada kubangan didepan, saya pikir saat itu dapat melewati dengan kecepatan agak tinggi (saat itu 70km/jam), entah lagi teledor. Ketika melewatinya, dengan cepat bishop ‘melempar’ tubuh saya. Tidak ingat kronologis secara tepat, Cuma yang di ingat, hanya guncangan yang mengenai helm yang lumayan cukup keras. Dengan spontan pula, langsung mengangkat bishop dan melihat keadaannya.

Disini baru mengerti manfaat alat pelindung diri yang menempel di motor ataupun di tubuh. Engineguard (besi pipa yang berada disisi kanan/kiri mesin hampir berbentuk huruf ‘U’) menjadi bengkok telah melindungi saya dari motor yang akan menimpa tubuh terutama kaki, jaket terdapat pelindung siku dan pundak yang kata pembuatnya sudah berkualitas CE atau ConformitĂ© EuropĂ©enne untuk memenuhi standar EN 1621-1 yaitu standar perlindungan internasional terhadap dampak mekanis, bekerja dengan baik, hanyak sedikit lecet dibagian lutut karena memang saat itu tidak mengunakan pelindung kaki.

bengkok
Sempat bercanda setelah ini, “wah..sayang sekali om Hendra jauh dibelakang, jadi ga kerekam deh. Perlu diulang adegan jatuhnya?” tanya saya sambil tertawa. Setelah agak tenang, perjalanan dilanjutkan. Dengan kecepatan motor diperlambat, setelah 20 menit kami sampai disebuah desa, bernama Pantai Mekar, di kecamatan Cabangbungin. Jam 15.00 saat itu masih terasa menyengat, om Hendra berhenti di sebuah warung, untuk istirahat. Sambil menenggak minuman, kami ngobrol dan evaluasi selama perjalanan. Dan tentunya membahas jatuhnya saya.

warung
Kurang lebih 20 menit disini, dan bergegas menuju ke desa Pantai Bahagia. Tidak jauh dari sini terdapat sungai yang bermuara ke laut Jawa. Muara Bendera adalah tujuan kami selanjutnya. Menyusuri pinggir sungai, dengan jalan setapak yang jika berpapasan dengan sesama motor, harus berhenti salah satu untuk memberikan jalan. Jarak dari sungai tidak lebih dari 3 meter ke jalan yang kami lalui. Sekitar 20 menit kami berhenti di pinggi sungai, untuk menyebrang sungai. Terlihat perahu kayu, yang kedua ujung perahu terdapat tali yang dikatikan tali yang melintang sepanjang sungai. Perahu ini yang biasa disebut dengan nama “eretan” ini memang di gerakan dengan menarik tali tersebut untuk menuju seberang sungai. Karena air sungai saat itu lebih deras dari hari biasanya, maka hanya 2 motor saja yang bisa dimuat, untuk itu kami bergantian menyebranginya.


Menemukan sensasi tersendiri ketika menaiki eretan dengan motor diatasnya. Karena memang jarang melakukannya, seperti akan menuju daerah pedalaman pelosok negeri, padahal hanya berjarak 60 kilometer dari Jakarta sebagai ibukota negara. Tidak lama kami sampai di sebuah warung kelontong. Dengan hangat kami disambut oleh pemilik warung. Ternyata ini adalah tempat yang dijadikan oleh om Hendra untuk menginap sewaktu mengayuh sepedanya ke tempat yang sama. Sambil minum teh botol dan pesan mie rebus, obrolan hangat terjadi. Warga disini menggunakan bahasa jawa banten, walaupun saya sendiri menggunakan bahasa jawa, tetapi bahasa yang mereka lontarkan tidak seperti bahasa jawa yang biasa saya gunakan.

eretan
ride the boat!
Om Hendra menawarkan kepada kami untuk menyewa perahu nelayan, menuju pantai/laut menyusuri muara Bendera ini. Kebetulan waktunya tepat dengan akan terbenamnya matahari. Kami pun meng-iyakan tawarannya om Hendra. Segera perahu datang dan segera berangkat. Sungai yang lebarnya tidak melebihi 100 meter, dengan arus sungai yang tidak se-tenang biasanya (kata operator perahu), kanan kiri berjejer bangunan rumah yang kebanyakan digunakan sebagai dermaga mini untuk keperluan nelayan. Kami sangat gembira, terlihat jiwa kanak-kanaknya muncul kembali disini. Tak mengapa, toh ini perasaaan alami yang tidak bisa ditahan-tahan. Saking hebonya, mondar-mandir diatas perahu, mengambil beberapa foto matahari yang mulai turun, 4 orang berada dipaling depan perahu, yang tidak kami ketahui ternyata itu membuat perahu kehilangan keseimbangan, dan melenceng ,menuju sisi kanan kali, dan tidak bisa dihindari perahu berhenti karena tertahan pinggir sungai yang terdiri dari tanah menyerupai lumpur. Bagian depan perahu menyangkut pepohonan. Dengan sedikit menahan tawa, karena tidak enak hati oleh kedua ‘nahkoda’, kami berusaha membantu menarik perahu ke jalur sungai. Dengan segala usaha, dari menggoyang-goyangkan perahu, sampai mendorong perahu dengan tumpuan pohon yang menyangkutkan, akhirnya perahu bisa terbebas.

membebaskan perahu
Hari semakin gelap, matahari semakin menguning memantul dari permukaan sungai, suara motor berbahan solar penggerak perahu yang lumayan berisik, tapi tidak menghilangkan kekhusyukan untuk menikmati pemandangan dan situasi yang ada. Sampailah tempat bertemunya aliran sungai dan laut lepas, beberapa kali berpapasan dengan perahu nelayan yang lain sepulang melaut, merupakan pengalaman pertama kali bagi saya. Sang surya yang sedikit malu-malu tertutupi awan tipis. Semakin turun malah semakin terlihat bundar kuning telur. Seakan perjalanan yang menegangkan, terlempar dari bishop , hilang seketika berganti dengan decak kagum pemandangan yang dihadapan. Kami sontak kegirangan ketika matahari terlihat jelas setengah digaris horizontal laut, terlihat siliuet sebuah kapal didepan pandangan kami. Serasa perjalanan kami terbayar lunas, dapat bonus pula.

Muara Bendera (photo by : Menembus Batas)
ride for the sun (photo by : Menembus Batas)
here comes the sun (photo by : Menembus Batas)
Setelah matahari benar-benar hilang dari pandangan, sang nahkodapun memutar kemudinya menuju awal kami berangkat tadi. Melawan arus sungai membuat laju perahu melambat. Sesekali tercium mesin perahu yang terlalu panas, sempat menepi sebentar karena baling-baling penggerak perahu terdapat rerumputan yang menghambat putarannya. Sampai ditempat semula, om Hendra segera bernego tentang harga sewa perahu, akhirnya disepakati harga 200 ribu rupiah untuk sewa satu perahu. Pak Harto menyambut ketika turun dari perahu, om Hendra terlihat begitu akrab dengan pak Harto, karena sebelumnya pernah ketemu ketika om Hendra mengayuh sepedanya ke tempat ini, dan sempat menginap disini pula. Sambil istirahat kami mendengarkan berbagai cerita dari pak Harto yang juga sebagai ketua RW di desa ini.

Sekitar jam 20.00 kami pun berpamitan. Jalan pulang pun tidak kalah serunya, sedikit berbeda dengan keberangkatan, melewati Pakis-Muara Bakti-Babelan-Bekasi. Didaerah Pakis jalan didominasi oleh gundukan-gundukan tanah sehabis hujan, jalan aspal yang berlubang, debu dari tanah yang timbul ketika terlewati roda cukup menyesakan nafas, penerangan jalan yang hampir tidak ada menambah seru saat kepulangan. Diakhiri dengan makan disekitaran MM Bekasi. Saya memisahkan untuk kembali ke Cikarang.

Terimakasih kepada Allah SWT yang sudah melindungi selama perjalanan pendek ini. Teman-teman seperjalanan, Om Hendra, Om Sigit, Om Rustam. Walaupun perjalanan ini relatif berjarak pendek, total pergi-pulang sekitar 200 kilometer. Tetapi saya bisa merasakan sensasinya, dan sangat mengesankan. Menemukan kawan dan hal baru.

[video by Menembus Batas]