Minggu, 15 Desember 2013

South Coast Daendels Beach?

Hanya satu hari di Jogja untuk selanjutnya kembali ke tempat aktifitas keseharian, yaitu daerah Cikarang. Sesudah subuh saya berpamitan dengan kedua orang tua, saat itu belum menentukan akan menempuh jalur selatan atau utara. Tetapi ketika beberapa kilometer dari halaman rumah yang membesarkan saya, dipilih lah jalur selatan. Bishop dipacu mantab, ke arah Wates, Purworejo.

Sesampainya Purworejo disuatu persimpangan saya mengalihkan setang Bishop kearah jalan Daendels. Jalan yang dibangun oleh Herman Willem Daendels seorang Gubernur Jendral keturunan Prancis pada masa kolonial ini menghubungkan Yogyakarta dan Cilacap sepanjang kurang lebih 117 km. Jalan ini akan menyajikan pemandangan yang berbeda dengan jalur pantai utara Jawa. Ada apa di jalur ini, mungkin beberapa foto yang saya ambil sepanjang perjalanan bisa menarasikannya.

jalan Daendels
Pada salah satu jalan tembus dari alteri Jogja-Purworejo, sejauh mata akan melihat pemandangan sawah menghampar dengan aktifitas para petani sedang sibuk menyiangi padinya, beberapa kali berpapasan berkendara sepeda kumbang berangkat menuju lahan kerjanya. Membuat pikiran saya melayang untuk bercita-cita kembali ke desa, pergi dari hiruk pikuk di kota industri tempat saya mencari nafkah saat ini

jalan tembus
Sesampainya di jalan Daendels, situasinya tidak jauh berbeda dengan jalan sebelumnya, cuma pemukiman lebih banyak terlihat. Tidak perlu memacu kecepatan motor di atas rata-rata, lalu lalang warga sepanjang jalan ini alasan kenapa Bishop tetap harus menjaga kecepatan aman. Sebaiknya mengisi tangki motor ke level full, karena jalan ini tidak akan menemui SPBU, kecuali pedagang eceran bensin. Beberapa kali melihat papan petunjuk arah ke pantai, ketika harus istirahat untuk sekedar menenggak air mineral yang dibawa, salah satu pantai menjadi pilihan saya saat itu.

Pantai Bocor namanya, jarak dari jalan raya hanya sekitar 1 kilometer. Pantai yang teletak di desa Setrojenarm kecamatan Bulus Pesantern, kabupaten Kebumen ini cukup lumayan untuk melepas rasa ngantuk ketika diatas motor dengan melihat ombak bergulung-gulung dipantai ini, dan semilir anginnya.  Ramai oleh pengunjung karena bertepatan dengan libur nasional, yaitu tahun baru Islam tidak mengurangi kenikmatan waktu istirahat walau hanya 15 menit disini.

Pantai Bocor
Meneruskan perjalanan kembali masih menyusuri jalan Daendels, ditengah perjalanan terlihat gapura yang melintang diatas jalan bertuliskan "Desa Wisata Suwuk", desa ini memiliki pontensi pariwisata berupa pantai yang bernama sama dengan desanya. Saya hanya melewati saja pantai Suwuk ini, entah mengapa tidak begitu tertarik untuk masuk kelokasi pantai yang sudah tampak ramai oleh pengunjung maupun bangunan-bangunan permanen pendukung sarana wisata, seperti berjejernya beberapa warung makanan.

Tidak jauh dari lokasi pantai, Bishop diberhentikan ditengah jembatan. Sungai yang bermuara ke pantai Suwuk memotong dibawah sebuah jembatan, tampak air sungai kehijauan, ditepinya berpemandangan bukit berjejer yang refleksinya memantul jelas dipermukaan sungai. Perahu berpenumpang tampak muncul dari arah pantai kemudian mendekat kearah jembatan dan masuk dikolongnya, sampai terlihat lagi di lawan sisi jembatan, tidak jauh kemudian perahu itu memutar balik kearah pantai lagi. Perkiraan saya perahu tersebut sengaja disewakan untuk wisatawan pantai Suwuk berkeliling menikmati pemandangan sekitar sungai yang memang tampak menarik.

muara







sisi lain
dari jembatan
Sekitar 2 kilometer dari jembatan menemukan pertigaan, jika belok kanan ke arah jalan Kebumen-Cilacap, sedangkan ke kiri adalah ke arah pantai Karang Bolong. Saya memilih belok kiri. Menemukan petunjuk ke pantai Karang Bolong, saya belokan Bishop mengikuti petunjuk. Sampai lagi di sebuah pantai, sesuai dengan namanya tempat ini terdapat karang atau tebing yang berlubang mirip sebuah gua, tapi diujung lubang sudah terlihat ombak dari pantai. Di muka karang ini terdapat warung kopi/makanan, saya singgah sebentar disini sambil menyeruput kopi hitam.

luar karang bolong
hampir masuk karang bolong
Menuju pantainya terlihat beberapa orang sedang memainkan kailnya berharap ada ikan yang tersangkut. Tepi pantai berbatasan dengan hamparan karang, tidak seperti pantai kebanyakan yang berpasir. Mengambil beberapa foto lalu keluar dari lokasi ini tentunya untuk melanjutkan perjalanan kembali.


Pantai karang Bolong

Ini kali kedua saya melintasi jalur setelah Karang Bolong - Pantai Ayah karena biasanya jika lewat jalan Daendels memilih masuk kearah kota Kebumen. Karena pertimbangan waktu saya masih cukup untuk melakukan perjalanan lebih panjang jaraknya daripada masuk kota.

Melewati perbukitan dengan jalan berkelok-kelok tentu mengasyikan bagi kebanyakan penikmat perjalanan roda dua tidak terkecuali bagi saya. Kepuasan melibas tikungan dengan tetap mempertajam kewaspadaan merupakan keasyikan tersebut. Kecepatanpun tidak dipacu kencang, menikmati hijaunya perbukitan juga tidak boleh dilewatkan dari pandangan. Di sebuah pertigaan sempat berpikir sebentar untuk memutuskan belok atau terus, ternyta tidak butuh lima menit untuk memutuskan belok kiri ke arah pantai Menganti. 

Karena sudah pernah ke pantai Menganti setahun yang lalu maka tidak ada halangan berarti ketika menuju sampai loket retribusi masuk lokasi yang masih berjarak sekitar 2 kilometer dari pantai, selesai membayar tiket seharga lima ribu rupiah perjalananpun dilanjutkan menikmati tingkungan dan turunan curam. Garis pantai mulai tampak dengan tebing kehijauan sejauh mata memandang.




Tiba di lokasi pantai Menganti saya berniat naik kebukit yang berada di sisi timur pantai. Tetapi ketika hendak kesana ditengah jalan dicegat oleh seorang petugas berseragam yang mengaku dari instasi Perhutani, digenggaman nya terdapat tumpukan lebaran tiket retribusi. "apa ini, pak?" tanya saya saat itu. Dia menjawab "jika ingin naik kebukit dikenai tanda masuk seharga lima ribu". Sedikit agak kesal saya menimpali " ya udah saya gak jadi kesana"  sambil memutar balik setang bishop meninggalkan petugas tadi. Sebenarnya kekesalan saya bukan masalah nilai rupiahnya, tetapi pertanyaan saya tentang kenapa harus dikenai tiket lagi, kenapa tidak dari loket pertama tadi langsung dikenai biaya sepuluh ribu, tidak bisa dijawab oleh petugas tadi.

Saya berpikir ada lokasi lain yang bisa dinikmati dengan tanpa kejengkelan, menyusuri pinggir pantai yang jalannya posisinya lebih atas sekitar satu meteran dari permukaan laut disebelah kiri, jalan tanah tampak baru saja dibuka alias dibuat, disebelah kanan tampak tebing menjulang, saya perkirakan tingginya seratus meteran. Semakin jauh jalan menyempit dan berubah menjadi setapak, saat itu lah bishop berhenti. Sebelum balik arah saya menikmati hamparan laut selatan ini dengan air lautnya bewarna kehijauan, berpasir relatif putih, tampak juga dari sini bukit yang tadinya akan saya kunjungi.

arah barat pantai
sampai sini yang bisa dilewati bishop?
Tidak lama disini, panas terik matahari cukup menyengat saat itu, tetapi tidak membuat lekas meninggalkan lokasi pantai ini, saya balik arah menuju tempat dimana berjejer beberapa perahu nelayan entah apa yang sedang ditunggu. Tampak juga beberapa nelayan, sedang saling mengobrol. Saya hampiri mereka, sapaan ramah di ucapkannya, pertanyaan stadar yang dilontarkan mereka ketika melihat orang baru, "dari mana?", "kesini dengan siapa?". Salah satu momen yang saya suka ketika melakukan perjalanan seorang diri, bertemu dengan orang-orang baru, menemui kearifan lokal yang kadang hanya ditemui saat melakukan perjalanan ke daerah pelosok.

view dari tempat ngobrol dengan nelayan
view sebelah kanan

Mendengar cerita nelayan tentang kekesalan serupa dengan pihak Perhutani, karena berbagai pungutan liar untuk kegiatan bernelayan salah satu cerita yang didengar dari salah satu nelayan yang sedang isitirahat siang. Beberapa nelayan disini menggunakan perahunya untuk menangkap ikan, menjaring lobster yang harganya bisa mencapai empat ratus ribu rupiah perkilogram, dan juga menyewakan perahunya jika ada pengunjung yang ingin mengarungi lautan menuju pantai sebelahnya, entah apa namanya pantai tersebut, karena untuk menjangkaunya lebih mudah mengunakan perahu. Di pantai Menganti ini menurut keterangan para nelayan juga sering digunakan sebagai ajang lomba macing, atau kompetisi berselancar.

beda kumis nelayan dan lobster :D
tempat berteduh  yang meneduhkan mata
Setelah berpamitan dengan para nelayan, saya meninggalkan pantai yang berlokasi di desa Karangduwur, kecamatan Ayah, Kebumen ini. Tapi setelah melewati pos penarikan tiket terdapat pertigaan, yang jika belok ke kiri menuju suatu tempat, jika tertulis di petunjuk arah bertuliskan "Sarang Burung" entah tempat seperti apa yang dimaksud. Karena di daerah ini adalah salah satu penghasil sarang walet, maka perkiraan saya saat itu adalah tempat sarang walet tersebut.

Menyusuri jalan pedesaan tidak ditemui lagi petunjuk arah, google map pun tidak bisa diandalkan. Berpapasan dengan penduduk desa, kesempatan tidak di sia-siakan untuk bertanya tempat yang di maksud. Tidak disangka penduduk tadi mengarahkan ke jalan setapak, karena yakin bisa melewatinya, bishop saya belokan menyusuri jalan yang lebarnya tidak lebih satu meter. Semakin menanjak, dan dari sini terlihat atap pemukiman penduduk. Belokan curam juga tidak sedikit disini, pengendalian Bishop dibutuhkan ekstra hati-hati.

bukan mau paralayang
lewatin bukit ini
jangan lupa belok dan rem

Panas terik matahari semakin menyengat, sesekali berhenti untuk menenggak minum, dan mengambil foto. Semakin jauh garis pantai semakin terlihat, hamparan padang rumput terlihat menghiasi. Andai saja panas tidak terlalu terik saya betah berlama-lama untuk menikmati keindahan luar biasa disini. Roda bishop saya gelindingkan lagi kedepan sampai jalan yang menurut saya tidak bisa dilalui lagi.

greatest view!
so what?
Sampailah pada tanah datar, bishop saya parkir disini. Tidak ada orang lain selain saya. Hanya bunyi hembusan angin yang terdengar. Begitu tenang, dengan pemandangan hijau padang rumput di perbukitan, berpadu dengan hamparan samudra berwarna kebiruan. Walaupun saya sendiri disini, tapi tidak merasa sendiri sedikitpun. Mencoba berdialog dengan diri sendiri tentang apa yang telah dilalui adalah termasuk proses refleksi diri itu sendiri. Dengan begitu akan lebih mengenal siapa saya.

touchdown!

another view
closer than
jump!anyone?
Karena hari semakin siang, saya balik arah dan kembali ke arah pulang. Jalan pulang pun tak kalah seru, sampai pantai Ayah jalan perbukitan dengan tikungan dan tanjakan curam membuat hati terasa bendendang gembira. Sesekali garis pantai terlihat dari balik pepohonan. Selepas pantai Ayah menuju kota Cilacap untuk mengikuti rute selanjutnya menuju Cikarang. Alhamdulilh saya sampai rumah dengan selamat dan membawa cerita yang coba dibagikanan lewat postingan kali ini. Terimakasih telah berkenan membaca.

jalan pulang




Jumat, 29 November 2013

Bayah dan Penambang Emas

Kebanyakan remaja seusianya menghabiskan waktu untuk rekreasi atau sekedar santai di saat libur dari sekolah. Tapi tidak untuk seorang anak muda di kecamatan Bayah, kabupaten Banten yang saya temui saat itu. Tepatnya di pantai tidak jauh tempat kami menginap. Setelah menempuh perjalanan Bekasi-Sawarna-Bayah. Setelah bangun pagi saya sengaja bergerak ke pantai untuk sekedar menghirup udara pantai pagi.

Pantai Bayah orang yang saya temui menyebutnya. Tentu saja tidak satu orang saja, disini terlihat aktifitas tidak umum seperti kebanyakan pantai. Dan tentu saja menarik perhatian bagi saya. Mencoba mendekati seorang pemuda itu, percakapan pun saya buka dengan menanyakan kegiatan yang mereka lakukan. Dengan logat bahasa sunda sangat kental, dia menjawab bahwa sedang menambang emas. Emas??Ya...saya sedang melihat dia sedang memegang alat mirip piring tapi terbuat dari bahan kayu, bentuknya lebih mengerucut. Lalu meletakan pasir pantai di piring setelah mengambilnya dengan pacul. Mencampur sedikit air ke adonan pasir tersebut, lalu melalukan gerakan memutar piring tersebut. Sedikit demi sedikit pasirnya ditumpahkan dari piring. Beberapa gerakan serupa di ulangi, sampai beberapa butir tersisa di bagian pucuk kerucut piring. Jika terlihat warna kuning keemasan, maka pasir yang mereka gali tersebut mengandung emas, dan layak untuk di proses lebih lanjut. Pada tahap awal ini bisa disebut sebagai survey.

survey
memasang tiang
pasir ini harus disaring dulu
Penambang emas disini terlihat berkelompok, biasanya mereka masih satu ikatan keluarga. Setelah proses survey, anggota lain mendirikan tiang tepat di bibir pantai. Dengan maksud supaya mudah mengambil air laut untuk proses selanjutnya. Setelah tiang berdiri di empat sisi, lalu dibentangkan sebuah lembaran anyaman bambu berbentuk persegi panjang, diletakan diatas ke empat tiang tadi, dengan kemiringan tertentu, Kemudian menyelimuti lembaran tersebut dengan plastik selanjutnya karpet yang sering terlihat di mushola berwarna hijau diletakan diatas plastik. Saya tidak terlalu mengerti untuk apa perlengkapan yang mereka persiapkan itu.

ekonomi rakyat?entahlah..
umur tidak menghalangi untuk mencari nafkah
Tetapi setelah mengamati, peralatan sederhana ini di gunakan menyaring butiran-butiran pasir. Ember plastik sudah terisi penuh pasir diambil dari lokasi yang di survey tadi. Berjalan sekitar sepuluh meter menuju saringan, menumpahkan isi ember setelah dicampur air dari posisi teratas saringan, dengan kemiringan posisi saringan tadi pasir mengalir deras. Beberapa kali kegitan ini berulang. Setelah rasa cukup menyaringnya, karpet di tarik, Serbuk emas yang di harapkan tertinggal di atas plastik. Kemudian diletakan ke dalam ember lain.

menjaring rejeki
Aktifitas itu di lakukan sepanjang hari hingga sore menjelang, dalam satu hari menurut keterangannya bisa mendapatkan setengah hingga satu gram serbuk emas, lalu di jualnya ke toko emas. Tentu saja harga dari serbuk itu jauh lebih murah dari per gram nya ketika sudah jadi dalam bentuk logam emas.

Tidak lama saya disini, hanya setengah jam untuk selanjutnya meninggalkan pantai ini karena ada keperluan di kota ini. Beranjak dari sini masih menyisakan beberapa pertanyaan dan harapan. Semoga tempat ini bisa tetap terjaga dan tidak ada eksploitasi oleh mesin perusahaan investor bermodal besar, seperti halnya yang terjadi di Tumpang Pitu, Banyuwangi, penambangan oleh perusahaan bermodal dengan menyisakan kontroversi, dengan warga sekitar dan lingkungan. Faktor pendidikan sepertinya tidak terlalu penting bagi penambang emas sekitar Bayah ini, terbukti beberapa remaja sudah putus sekolah untuk bisa membantu orang tua nya mencari nafkah di pantai ini. Apakah dunia pendidikan tidak bisa dinikmati disini?

Saya pun teringat pasal UUD '45 yang berbunyi, "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat", tetapi sepertinya tidak berlaku disini. Atau pasal 31 ayat 1 UUD '45, "Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan". Juga tidak terasa maknanya disini.

Bishop was here





Minggu, 24 November 2013

Perjalanan Darat Jelajah 7 Kejaiban Nusantara

"Perjalanan bukanlah semata untuk mencapai tujuan. Apa yang terasa di sepanjang jalan, itulah esesnsi yang sesungguhnya" -unknown- 
Suatu tujuan ketika kita travelling dapat dicapai dengan berbagai cara, lewat darat, udara maupun laut. Tentu semua itu mempunyai perbedaan keunikan tersendiri dalam menjalaninya. Dalam perjalanan Terios 7 Wonder  ini perjalanan darat medominasi untuk mencapai tempat 7 Keajaiban Nusantara. Dimulai dari Pantai Sawarna selanjutnya menuju Desa Kinahrejo, tanah Tengger, TN. Baluran, Desa Sade Rambitan, Desa Dompu dan terakhir Pulau Komodo di Flores.

Tidak kurang dari 2000 kilometer sudah di lalui oleh ke tujuh travel blogger yang turut dalam perjalanan ini, saya lebih tertarik untuk menyoroti apa saja yang mereka alami selama perjalanan, tujuan bagi saya merupakan bonus dari perjalanan itu sendiri. Empat dari tujuh tujuan Terios & Wonder kebetulan pernah saya lakoni dengan perjalanan darat, yaitu dengan mengendarai sepeda motor dari Jakarta, tujuan itu adalah Sawarna, Kinahrejo, Tengger, Baluran. Jadi alasan kenapa saya lebih tertarik untuk mengulas dari sisi perjalanan darat karena ketertarikan saya menemukan, meresakan apa saja selama di jalan.

Salah satu blog milik mas Wira Nurmansyah menjadi referensi untuk mengetahui apa saja yang para peserta jelajah ini rasakan dan alami.

[Cara Survive dari Roadtrip Panjang]

Bisa di pahami kebosanan melanda jika melakukan perjalanan darat dengan jarak 2000 kilometer lebih, apalagi sebagai penumpang. Keluhan serupa juga di lontarkan oleh mas Wira. Tetapi semua bisa disiati ditengah perjalanan, dengan berbagai cara antara lain mendengarkan musik, tetapi tidak semua orang mempunyai kesenangan yang sama juga untuk menyetel lagu kesukaan dari alat pemutar musik yang dibawa di perjalanan. Isitirahat yang cukup sangat diperlukan untuk mengusir rasa jenuh. Hal baru yang ditemui saat perjalanan untuk mengusir rasa bosan adalah dengan membuat lelucon-leucon tiap peserta 'Terios 7 Wonder'. Mereka dibekali dengan alat komunikasi handy talkie, sehingga bisa saling berkomunikasi dan mencairkan suasana lewat guyonan walaupun tidak berada dalam satu mobil. 

Beda penumpang, beda pula dengan yang dirasakan dengan pengemudi. Bang Ucok bertugas mengendalikan Daihatsu Terios pada mobil yang penumpangnya adalah salah satunya mas Wira ini, bercerita jika beliau ketika melakukan roadtrip panjang jarang menggunakan menggunakan GPS untuk mengetahui jalur yang akan ditempuh, tetapi lebih memilih sering berhenti melakukan interaksi dengan penduduk lokal yang ditemui diperjalanan, untuk sekedar mengobrol atau menanyakan jalan, dengan cara ini kebosanan selama perjalanan akan diminimalisir.  

Saya sendiri jika melakukan roadtrip panjang punya kebiasaan untuk berhenti minimal setiap 2 jam sekali, untuk sekedar istirahat walaupun cuma 10 menit, atau bisa lebih lama, tergantung kebutuhan saja. Dan juga berhenti semau hati jika akan mengambil foto-foto perjalanan, berinteraksi dengan penduduk lokal, menemukan hal-hal baru. Dengan cara itu saya bisa menikmati perjalanan dan terlepas dari rasa bosan. Disamping karena melakukan perjalanan darat dengan mengedalikan kendaraan sendiri adalah passion. Yup!gairah untuk melalui kilometer demi kilometer tidak kalah pentingnya jika akan melakukan perjalanan jauh. 

[On the Road Interview with Bang Ucok]

Adalah bang Ucok yang mengemudikan salah satu Terios dari 7 mobil keseluruhan. Beliau ini cukup berpengalaman dalam melakukan perjalananan darat sebagai pilot dari kendaraan roda empat ini. Terbukti dengan telah dilakukannya beberapa perjalanan dari Sumatera, Jawa-Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, bahkan pernah mencoba menjelajahi ke Manokwari ke Sorong.

Dari kutipan wawancara yang dilakukan mas Wira kepada bang Ucok ini bisa dirasakan jika beliau sangat suka melakukan aktifitas travellng. Berbagai cerita dan tips dibagikan dari jawaban yang terlontar ketika benbincang dengan mas Wira.  Jalan favoritnya yaitu dari arah Senggigi ke Bangsal yang berada di Lombok, beliau berujar jika jalan tersebut "mulus, cukup lebar, berkelok, tanjakan asoy, pinggir pantai, kadang pinggir jurang, dan langsung sisi gunung. Manjain mata banget!". Sangat bisa terlihat jika beliau sangat menikmati perjlanannya.

Keselamatan dan tingkah perilaku berkendara juga menjadi hal yang sangat penting bagi bang Ucok. Antara lain tentang jarak aman jika berkendara secara konvoi, kira 2 detik dengan kendaraan didepannya. Sebagai pengemudi beliau juga mengajurkan, ketika berkendara harus menjaga emosi, tidak boleh menonjolkan ego, misalnya memperlihatkan atau pamer ke pengemudi lain mengenai keahlihan mengendalikan mobil, dengan selap-selip tanpa memperhatikan keselamatan. Prinsip sampai tujuan dengan zero trouble dan  accident menjadi hal yang utama dalam berkendara.

Diakhir wawancara, bang Ucok sedikit mereview Daithatsu Terios yang digunakan selama perjalanan. Pada awalnya beliau kecewa dengan tarikannya yang kurang, tetapi itu saat permulaan jalan saja, setelah kira-kira berjalan 200 km, laju sang Terios baru terasa mumpuni. Dibuktikan juga dengan mudah melewati jalan berpasir di desa Kinahrejo, Merapi. Setahu saya jika kendaraan melewati jalan berpasir membutuhkan torsi dan tarikan yang berlebih untuk bisa lepas dari jalur pasir. Keterangan yang di berikan tentang mobil ini, bisa dikatakan cukup untuk mengatakan jika Daihatsu Terios adalah mobil yang tangguh serta siap diajak berpetualang menjelajahi nusantara.

[On the Road Landscape (part 1) (part 2)]

Seperti yang saya tulis di awal, cara untuk mengisi waktu selama perjalanan dan tentu saja bisa mengusir rasa bosan adalah dengan mengabil foto-foto perjalanan. Hal ini juga berlaku bagi mas Wira yang mengambil beberapa foto yang di ambil dari belakang dashboard Terios. Ruang gerak yang terbatas ketika mengarahkan fokus kamera, dan juga jeli mengamati momen menjadi hal menarik bagi saya jika melihat jepretan mas Wira. Beberapa foto hasil blogger yang pernah memenangkan "Best Travel Photo Blog"  versi Indonesian Travel Blog ini akan saya posting disini. Tentu saja tidak semua foto, hanya beberapa foto yang menjadi perhatian saya. Foto saat mobil beriringan menembus debu-debu jalanan di kawasan gunung Merapi, atau pemandangan mobil ketika melintas  pesisir selatan pantai Lombok menjadi sesuatu hal yang menarik bagi saya. Ini berkaitan dengan selera pribadi saya, yang selalu tertarik ketika melihat foto selama perjalanan bukan lanskap ketika sudah sampai tujuan, walaupun itu tidak kalah pentingnya. 

Seorang teman dari sebuah komunitas motor pernah mengatakan, sebuah kendaraan (dalam ini sepeda motor) bisa dikatakan layak dkatakan tangguh jika sudah menempuh perjalanan antara 2000-3000 kilometer dengan melewati berbagai medan.

Apakah Daihatsu Terios sudah bisa di katakan tangguh?dan bisa juga bisa menjadi sahabat dalam menjelajahi jalan-jalan khususnya di nusantara ini? Mas Wira sudah membuktikan sendiri, melakukan perjalanan selama 14 hari menempuh jarak lebih dari 2000 kilometer tentu pantas jika Terios menyandang predikat sahabat petualang.

Ada beberapa alasan yang diungkapan mas Wira. Pertama, dilihat dari bentuk dan desain Terios yang kecil alias tidak terlalu besar jika diandingkan dengan jenis mobil setipe, faktor ini semakin memudahkan untuk melibas berbagai medan. Kedua, berbagai medan sudah pernah dicoba dari medan pasir di Kinahrejo, tanjakan menuju Ranu Pani, dan kenyamanan sudah teruji ketika melintasi tepi pantai Sumbawa dengan beraspal mulus, walau mobil dipacu kecang tidak menimbulkan goyangan terutama di bagian belakang, tetapi mobil ini tidak diperuntukan full offroad atau lintasan enduro. Ketiga, kenyamanan untuk melakukan perjalanan jauh dibantu dengan leganya ruang di dalam mobil, sehingga bisa untuk  bisa meregangkan otot kaki supaya bisa tetap rileks dan isitirahat. Keempat, bicara pejelajahan tentu tidak bisa dilepaskan dari alat navigasi, mobil ini sudah dilengkapi dengan perangkat GPS (Global Positioning System) untuk mengetahui posisi dan menunjukan jalur menuju tujuan.

Penutup

Beberapa kali membaca postingan mas Wira di blog tentang perjalanan Terios 7 Wonder, yang dipikiran saya adalah kebahagiaan ketika bisa mengikuti perjalanan ini, menikmati keindahan dan keajaiban alam nusantara ketika tiba di lokasi dari 7 tujuan. Keakraban antar peserta, travelling memang terbukti bisa mempererat hubungan pertemanan, duka di perjalanan tergambar juga di tulisan mas Wira terutama masalah kejenuhan didalam mobil ketika melaju menuju tujuan, tapi hal itu bisa di siasati sendiri oleh beliau.

Pada akhirnya saya pribadi mengucapkan selamat kepada peserta yang telah berhasil menempuh perjalanan dari Sawarna (Banten) sampai Pulau Komodo. Dan Daithatsu Terios sudah membuktikan ketangguhan untuk melakukan perjalanan darat dan layak di sebut sebagai sahabat petualang.

Semoga di tahun berikutnya bisa diadakan perjalanan serupa, tetapi dengan cara yang berbeda dan lebih menarik. Misalnya para peserta hasil dari kompetisi mengemudikan sendiri Daihatsu Terios untuk merasakan sendiri ketangguhan mobil ini ketika mengendalikan setir, koplin dan rem. Tentu akan menjadi petualangan seru tentu dengan syarat dan ketentuan juga diberlakukan. Salam.

Selamat!! (foto:Wira)


********









Rabu, 20 November 2013

Menikmati Setiap Pergantian Warnanya



"When I admire the wonders of a sunset or the beauty of the moon, my soul expands in the worship of the creator" -Mahatma Gandhi-

Pasa suatu kesempatan kami pernah menghadiri acara workshop photography dengan sebagai pembicara adalah Arbain Rambey, bertemakan Travel Photography. Dalam salah satu bahasannya, beliau berujar jika salah satu dara tarik yang diburu dalam travelling ada menyaksikan proses terbenam atau terbitnya matahari. 

Ada beberapa faktor untuk bisa menyaksikan sunset atau sunrise, yaitu faktor waktu dan cuaca, hal itu diungkapkan oleh wartawan senior harian Kompas ini. Kebetulan kami mengalami hal itu, ini ketiga kalinya ke Pantai Sarwana yang berada di Bayah, Banten. Saat pertama kalinya kesini kami sudah malam ketika tiba di lokasi, sedangkan kesempatan kedua kami kurang beruntung karena saat itu awan gelap menyelimuti hamparan samudra ini. Layaknya mengikuti undian berhadiah, kesempatan ketiga kami merasa beruntung bisa mendapatkan kesempatan menyaksikan sunset di pantai yang menjadi salah satu tujuan pemburu foto lanskap ini.

Itupun tidak ada niat khusus untuk menuju pantai dengan pesona tanjung layarnya ini. Kami hanya singgah sekitar 30 menit di Sawarna dalam perjalanan menuju Bayah untuk menghadiri pernikahan salah seorang sahabat. Berangkat dengan tiga motor, enam orang melalui jalur Cikarang-Bogor-Sikidang-Pelabuhan Ratu-Bayah. Berangkat dari Cikarang pukul 9 pagi tiba di Bayah pukul 5 sore langsung menuju pantai dengan jembatan gantung sebagai ciri khas ketika masuk kawasan wisata desa Sawarna ini.

Kami langsung menuju Tanjung Layar, yaitu batu besar yang bentuknya menyerupai layar perahu. Tapi tidak terlalu mendekat, karena saat itu (12/10/2013) adalah long weekend, batu Tanjung Layar seakan menjadi ka'bah yang menjadi kerumunan para jamaah haji untuk mencium hajar aswad. Kami menghindari untuk berjubel dengan mereka dan lebih memilih memarkir motor beberapa meter dari batu tanjung layar, turun ke pantai mengambil beberapa foto, menikmati perubahan warna langit yang berakhir dengan hitam gelap, selanjutnya beranjak untuk mencapai tempat tujuan kami selanjutnya sehabis ini.

touchdown!

bishop not toy

and friend

another happy family

bye the day

all photos above taken by this girl :D

Selasa, 12 November 2013

Pagi di Talaga Bodas

Terbangun pukul 5, udara sekitar Pancuran Tujuh terasa dingin sekali, malam harinya saya tidur masih menggunakan sepatu, sleeping bag, jaket dan tutup kepala pun masih terasa seperti di dalam lemari es. Tapi terpaksa harus bangun pagi karena kami rencana pulang ketika pagi menjelang. 

Karena mengetahui sore harinya kami bisa masuk lokasi Talaga Bodas dengan motornya sekaligus, beberapa teman yang belum berkesempatan ke lokasi, mengajak kami menuju kesana. Jadilah tiga motor menuju kesana bersama, yaitu om Julianto, mas Joe, saya dan Neni tentunya. 

Tidak ada kesulitan menuju lokasi, karena ini kali kedua kami kesini, dengan berbekal izin dari petugas di depan portal dan pos penjaga pagi itu kami sampai lagi di bibir talaga. Masih dengan alasan yang sama, petugas memperbolehkan kami masuk, karena masih dalam masa perbaikan dan sebernarnya lokasi ini masih ditutup untuk umum. Mungkin jika lokasi wisata Talaga Bodas sudah beroperasi seperti biasa, motor tidak bisa masuk sampai pinggir talaga. Kami merasa beruntung saat itu.

tiba lagi di lokasi
Pagi itu sangat cerah. Matahari tidak ragu-ragu mencurahkan cahayanya. Pancarannya terhalang barisan bukit yang mengeliling telaga bodas. Lokasi talaga separuhnya mendapat cahaya matahari, sedangkan separuh lainnya masih terlihat lebih gelap. Guratan cahayanya sangat terlihat bagaikan membelah bukit yang ada di depan kami. Kami menikmati pemandangan ini dengan bau sulfur yang tidak terlalu menyengat.

ready to ride
Selagi memandang lanskap di pinggir talaga, om Julianto yang berada tidak jauh dari saya berdiri, bercerita bahwa beliau pernah menuju ke arah kiri talaga (jika menghadap ke telaga), semakin sampai ujung medannya semakin tidak bersahabat, batuan kapur menjadi jalan yang harus di lalui. Om Jul belum sempat menutup ceritanya, saya sudah menyalakan mesin bishop, dan menuju kearah yang beliau ceritakan.

Menyusuri tepat di bibir talaga yang terdiri seperti pasir lembut, roda bishop perlahan menapakinya. Saya sadar resikonya sangat besar, karena jika ada kesalahan dalam mengendalikan setang bishop, kemungkinan besar akan menuju arah talaga, bisa apa dibayangkan apa yang terjadi, walau belum tahu seberapa kedalaman talaga. Kenapa memilih mengendarai bishop jauh dari bibir talaga?karena menurut saya bagian lain adalah bebatuan dengan tingkat kemiringan yang tidak aman jika mengendarai motor dengan jenis seperti bishop seperti ini. Lebih menggunakan motor jenis trail.

here i go..
Benar saja, semakin menjauh dari tempat beranjak tadi, jalannya semakin berbatu dan terjal dengan kemiringan yang bervariasi saya perkirakan antara 20 sampai 30 derajat. Di perlukan kepercayaan diri untuk melalaui dengan kendaraan bermesin roda dua ini, dan tentu saja perhitungan yang matang. Sekali lagi resikonya cukup besar, karena jika terperosok maka luasnya talaga siap menampung jatuhnya motor beserta pengendaranya. Sebaiknya tidak lewat jalur ini jika tidak siap menanggung resikonya. Dan mungkin kami yang terakhir melalui jalan ini dan hampir mengelilingi luas talaga dengan sepeda motor, karena setelah pembanguan sarana prasarana wisata Talaga Bodas, kawasan ini akan di tutup untuk segala jenis kendaraan.

semakin terjal
semua dalam kendali, jika ragu-ragu lebih baik mndur
hampir sampai ujung
Karena sudah jalan buntu, ujung jalan adalah langsung dinding bukit bersentuhan dengan air sulfur yang memenuhi talaga ini, maka saya balik arah dan ke tempat semula ketika tiba di lokasi wisata Talaga Bodas. Bau sulfur atau belerang juga semakin menyengat, kosentrasi saya terasa semakin berkurang, seiring dengan kepala yang sedikit pusing ketika mencium bau belerang. Kepulan asap keluar dari bebatuan, menjadi sumber tambahan bau yang membuat kami harus meninggalkan tempat ini. Sementara om Julianto bersama mas Joe tidak sampai ujung jalan dan telah meninggalkan kami lebih dahulu menuju Pancuran Tujuh untuk bersiap-siap kembali pulang.

kepulan asap yang menyesakan
enjoy de show
Tinggalah kami berdua menikmati suasana pagi yang tampak tenang, eksotis dengan sinar matahari menyinari layaknya menyorot sebuah panggung pertunjukan musik. Kami tidak lupa mengabadikan momen-momen ini dengan bidikan kamera. Tidak lama menyusul teman-teman Nusantaride yang tiba di lokasi, beberapa orang jalan kaki dari Pancuran Tujuh.

sunday morning glory
Tidak lama setelah itu, kami berpamitan dengan teman-teman untuk kembali, menempuh perjalanan pulang ke Cikarang. Terimakasih atas alamNya di sekitaran Garut ini. Semoga tetap bisa lestari, dan kami bisa menikmati di lain kesempatan.

****

Baca juga rangkaian cerita sebelumnya :

  1. [bukan] Hangat dari Kopinya
  2. Sore di Talaga Bodas

Foto yang lain keindahan pagi di Talaga Bodas klik disini