Selasa, 27 November 2012

Only Strange Road in Our Journey


'It's not about destination, but the journey'. Ungakapan yang sering kita baca atau dengar itu tampaknya tak berlebihan dan benar adanya termasuk dalam perjalanan kami kali ini. Ya dataran tinggi Dieng, tepatnya di Telaga Cebong, di desa Sembungan, kecamatan Kejajar, kabupaten Wonosobo, Jawa tengah ini adalah tujuan perjalanan kami yang akan ditempuh. 

Lokasi ini pernah kami kunjungi sebelumnya pada bulan Juni ditahun yang sama (cerita perjalanannya klik di sini), bagi kami perjalanan ini penuh tantangan dan sangat berkesan tentunya. Antusiasme kami yang besar untuk bertemu teman-teman di event Nusantaride National Rally Dieng 2012 (NNDR 2012) membuat perjalanan kami terasa menyenangkan walau harus mendaki gunung, melewati lembah, menyeberangi sungai. Segala persiapan sudah dilakukan seperti servis motor seminggu sebelum berangkat, dan karena akan mendirikan tenda alias kemping sesampai disana, membawa tenda, matras, sleeping bag wajib hukumnya. 

Hari #1
Berangkat dari Cikarang jam 09.00 (15/11/2012), agak siang memang karena boncenger (orang yang  membonceng) hari sebelumnya kerja sampai malam untuk bisa mengejar kerjaannya selesai, karena jika tidak selesai maka  jumatnya harus masuk, dan itu tidak boleh terjadi, karena boncenger sudah sangat ingin ikut berangkat ke acara ini.

Okelah..gas bishop (nama motor saya) langsung ditancap menuju jalur utara Jawa. Sebenarnya masih belum fix mau ambil jalur mana ketika akan berangkat sekalipun, karena bayangan saya pasti akan membosankan melewati jalur ini, sedangkan jika lewat jalur selatan jawa pasti jarak dan waktunya akan lebih panjang, sementara official rundown event acara tersebut sudah terekam di otak, kapan acara di mulai dan berakhir. 

Dengan sedikit gerimis perjalanan di mulai, Cikarang - Krawang - Cikampek dilalui dengan dengan lancar. Memasuki daerah Ciasem, Subang, bosan sudah merasuki otak saya, terpikirlah untuk membelokan bishop ke kanan dengan mengambil jalur tengah. Aaah..sedikit bervariasi jalur ini dari jalan dengan kanan kiri sawah, pedesaaan, jalan berlubang, setidaknya membuat kami tidak ngantuk ketikan melakoni perjalanan ini, walaupun sering kali kami melihat google map di ponsel atau bertanya dengan penduduk setempat ketika kami merasa salah arah atau ragu-ragu mau ambil jalan yang mana.


masuk Ciasem
Ciasem-Rancabango-Pasirmuncang-Pagaden-Haurgeulis berhasil kami lalui dengan tidak lancar, karena harus kesasar beberapa kali, tapi kami bisa menikmatinya. Sesampainya di Haurgeulis waktu menunjukan pukul 13.00, saatnya makan siang. Berhenti di alun-alun Haurgeulis, untuk menyantap ayam goreng sambil merencakanan mau ambil jalur mana lagi, karena hampir sore maka kami tidak menerusakan dengan jalur tengah. 

Dengan pertimbangan menyingkat waktu kami putuskan ambil jalur utara kembali, dari Haurgeulis tembus ke Indramayu. Jalur ini memang membuat gatel tangan untuk menarik kabel gas bishop lebih dalam, karena emang jalannya relatif lurus, agak sepi pada waktu itu, walau harus tetap hati-hati dan waspada. 

Jam 16.30 memasuki kota Cirebon, sadar lampu utama bishop padam, saya berpikir untuk cari bengkel, untuk membeli dan memasangnya. Setengah jam di sini lanjut lagi perjalanan, seperti biasa tidak yang bisa di ceritakan di jalur ini kecuali harus 'melawan' bis, kontainter, truk yang mendominasi jalanan.


ganti lampu depan
Menjelang magrib kami sampai di Tegal, melipir dulu untuk makan malam dan istirahat sebentar. Sesudah ini lanjut lagi, menuju kota berikutnya. Di temani gerimis membuat saya extra hati-hati apalagi hari semakin gelap, tubuh dan mata sepertinya sudah butuh istiahat untuk bisa melanjutkan perjalanan esok harinya. Jam 20.00 masih di kota Tegal kami istirahat alias bermalam.

Hari #2
Jam 3 pagi terbangun, rasanya udah segar kembali untuk melanjutkan perjalanan. Dinginnya pagi terasa saat memulai perjalanan di hari kedua ini, jalan relatif sepi, hanya ada beberapa kendaraan besar yang menemani di jalan. Beberapa ruas jalan terdapat perbaikan, sempat membuat kami kaget ketika beberapa kilometer dari pom bensin Muri Tegal, jalan sebelah kiri bergelombang bekas kerukan alat berat.

Memasuki kota Pekalongan, dinginnya pagi membuat lapar ini menjadi-jadi, dicarilah warung seketemunya, menu mie goreng sangat nikmat waktu itu. Sambil liat google map sehabis makan untuk menentukan rute selanjutnya, saya bermaksud menghidari jalur Kajen, karena sudah pernah melewati ketika perjalanan ke Dieng sebelumnya.

Oke..menembus lagi gelapnya pagi, papan hijau petunjuk arah ke Kajen saya lewati saja, mencari jalan setelahnya untuk belok ke arah kanan. Map menunjukan arah ke Karanganyar, kami iktui saja arah itu, menurut saya, selama ada garis di map yang itu menunjukan suatu jalan itu bisa ditempuh untuk menuju tempat, walaupu belum tahu akan seperti apa kondisi jalan yang akan di lalui.

Jalan pedesaan yang begitu lebar dengan beberapa rumah penduduk, diselingi pohon tinggi nan rindang menjadi pemandangan ketika memasuki Karanganyar. Memasuki daerah Lebakbarang jalan semakin sepi, dan berkelok kelok khas perbukitan, saya tahu kalau kawasan ini adalah salah satu hutan lindung habitat kera ekor panjang (Macaca fascicularis) setelah melihat papan larangan berburu hewan langka tersebut milik Perhutani Pekalongan Timur.

Sempat berhenti ketika ada air terjun yang menarik perhatian kami, paling tidak untuk istirahat dan menikmati ciptaanNya, bunyi gemericik air, kicauan burung membuat kami betah disini. Dipinggir sungai ditemukan belahan buah durian, memang disekitar sungai terdapat pohon durian, tapi saya berusaha mencari durian yang runtuh, teranyata tidak ditemukan, hehe..


air terjun pertama
Melanjutkan perjalanan kembali, masih dengan pemandangan hutan lindung kami melaju pelan memperhatikan setiap ada hal yang menarik, salah satunya kami melihat seperti ada tugu, yang terdapat 2 patung pejuang yang satu sedang memegang bendera dengan tiangnya. Kami berhenti untuk masuk kekawasan tersebut, tidak ada orang disana, mungkin karena masih terlalu pagi, sehingga minim informasi yang kami dapat. Hanya tertulis 'Monumen Perjuangan Pemerintah Darurat Karesidenan dan Kabupaten Pekalongan di Lebakbarang tahun 1947.

Karena rasa penasaran saya malah cari info dari google, hehe.. Diterangkan di sebuah situs bawa : "Monumen Lebakbarang yang terletak di belakang kantor Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan ini menyimpan sejarah perjuangan masyarakat, pejabat pemerintah, dan militer di Karesidenan Pekalongan tatkala melawan penjajahan Belanda pada tahun 1947. Pada tahun 1947, Kecamatan Lebakbarang dijadikan tempat pengungsian dan pusat pemerintahan darurat Karesidenan Pekalongan. Lebakbarang terisolir dari Kecamatan Karanganyar, aksesnya, masih berupa jalan setapak sepanjang 17 km, dengan wilayah berupa hutan..." (sumber : http://kecamatanlebakbarang.blogspot.com )


yang memakai helm bukan termasuk patung, hehe
Selalu menarik untuk mengetahui kisah-kisah heroik untuk merebut kemerdekaan negara ini, tapi kami harus melanjutkan perjalanan kembali. Pagi yang cerah, pemadangan khas pegunungan, kami menemukan pemukiman kembali dengan aktifitas penduduknya, terutama jalan banyak ditemukan anak-anak yang berangkat sekolah dengan jalan kaki, maupun naik motor tanpa helm, ya..mungkin disana jarang ditemukan polisi yang akan me-razianya.

Sempet berhenti di suatu jembatan, ya..salah satu cara kami menikmati perjalanan adalah sering berhenti untuk menikmati pemandangan yang ada, mengambil beberapa foto, dan sedikit ber interaksi dengan penduduk setempat. Beberapa penduduk ramah menyapa dengan muka heran melihat kami, anak-anak sekolah yang malu ketika diajak untuk berfoto bersama, kami pun meng-candid beberapa wajah polos mereka.


lukisan pagi
jembatan

Semakin jauh jalan yang di lalui semakin aneh menurut kami, jalan semakin menyempit dengan gravel, berbatuan, kadang jalan tanah lembek sehabis tersiram air hujan. Beberapa kali kami menanyakan ke penduduk untuk memastikan apakah jalan di depan kami bisa tembus ke Dieng? beberapa kali juga penduduk yang kami tanya menjawab 'bisa', tapi ya jalannya seperti itu, mungkin maksudnya jalannya sulit untuk dilalui motor, mereka juga menyarankan jika ada tanjakan ekstrem agar bonceger turun dari jok motor.


bertanya kepada siapaun kemana jalan yang benar

Benar saja, apa yang dikatakan penduduk, kami menemukan jalan itu, single track yang lebih cocok untuk jalan kaki saja, dengan tanjakan ektrem. Dan kami terjatuh (saya dan bishop) saat menaiki suatu tanjakan, mungkin karena tanjakan ini terdiri dari bebatuan yang licin, membuat saya susah mengontrol dengan beban bishop yang berat kosongnya saja 3 kali lipat dari berat tubuh saya, hehe..


masih ragu-ragu, benar jalan ini?
ini baru permulaan
Beberapa kali dicoba untuk melewati tanjakan ini, tapi bishop berhenti ditengah lagi dan malah mesinnya mati, rem tangan dengan sigap saya tekan, walaupun masih bergerak mundur juga roda bishop. Cukup menguras tenaga memang, tapi tetap harus berpikir positif untuk bisa melalui tanjakan ini walaupun ditengah hutan ini sangat sulit untuk mencari bantuan jika terjadi apa-apa dengan bishop.

Ketika saya berusaha melewati tanjakan ini, datang seorang penduduk dengan anjing yang mengikutinya, dengan segera dia menawarkan bantuan untuk membantu mendorong bishop. Dan bishop akirnya bisa melewatinya. Arrgh,,seperti terbebas dari penjara walaupun saya belum pernah di penjara bisa melewatinya, terimakasih ke penduduk yang membantu kami, beberapa kali riding didaerah pedalaman peduduk setempat menjadi 'dewa penolong' bagi kami, tak lupa juga kami mengucap syukur kepadaNya.


walaupun single riding selalu ada teman di hutan sekalipun :) 
Menemukan desa kembali bernama Timbangsari, sedikit membuat kami lega. Dan tidak lama kemudian dibuat ragu-ragu kemabali ketika menemukan jalan setapak, kami lagi-lagi tanya penduduk setempat, dengan petanyaan yang sama dengan sebelumnya, apakah jalan ini bisa tembus ke Dieng? apakah bisa dilalui dengan motor? mereka menjawab 'bisa'.


jalan ini bisa tembus ke Dieng?
Jika diperhatikan jalan ini, kami seperti mengitari suatu pinggir suatu bukit, karena jalan setapak ini, pinggirnya sudah jurang yang siap menampung kami jika tergelincir. Ketika melewati jalan yang menurut saya sangat beresiko, boncenger di suruh untuk turun dan jalan kaki dulu. Bersyukur karena boncenger mau berjalan kaki beberapa puluh meter, dan tidak mengeluh, ya anggap saja seperti naik gunung, seperti hobinya dulu waktu kuliah, hehe..


let's go get lost
100% fun!
Menahan keseimbangan bishop dan sempat bishop jatuh lagi, banyak menguras energi saya, sedangkan pesediaan air mineral yang dibawa hampir abis, tenggorokan  kering kerontang, tapi kami menemukan air terjun mini, berhenti untuk mengambil airnya kemudian menenggaknya, arrrgh..segar sekali rasanya, walaupun rasa air itu sendiri agak aneh.


ceritanya survival 
Selepas melepas dahaga dengan air mentah, kami masih dihadapkan dengan jalan setapak yang beberapa centi saja jurang tebing sudah menanti kami jika meleset sedikit saja. Boncenger saya suruh turun dari jok motor demi keamanan, ya paling tidak jika ada apa-apa tidak semua celaka, haha. 


what a strange road?
Itu sebagian dari petulangan dan kami sangat menikmatinya, beberapa kali ketemu peduduk yang akan menyari rumput untuk pakan ternaknya, ramah tamah selalu terjadi saat itu, kami sempatkan untuk mengobrol dan juga menanyakan jalan yang kami tempuh, mereka menjelaskan setelah ini akan ada daerah bernama Songgowedi kemudian akan menemuka aspal kembali setelah sampai di Petung Kriono.


Dari aspal Karanganyar sampai mungkin Petung kriono mungkin tidak ada 5 kilometer jaraknya, tapi membuat adrenalin kami terpacu seperti harus riding beberapa ratus kilometer, dan yang jelas menguras tenaga, haha... Di Songgodadi kami menemukan warung minuman, seperti menemukan oase di padang pasir, kami langsung menuju ke sana, dan memesan 2 gelas minuman. Coba bercakap cakap dengan pemilik warung dengan menggunakan bahasa Jawa, ke ingintahuan penduduk yang ada diwarung dengan senang hati kami menjawab pertanyaan mereka, transfer wawasan terjadi di sini.

depan warung
sekitar warung
Selepas dari sini kami mengarah ke Petung Kriono, dan benar apa yang dikatakan penduduk tadi, kami menemukan aspal lagi, ingin rasanya sujud syukur disini, tapi saya urungkan karena buru-buru untuk tancap gas bishop menuju tujuan kami, selanjutnya kami akan menuju Batur, Dieng, dan Telaga cebong tentunya.


menemukan jalan aspal kembali
Memasuki Batur gerimis dan kabut tebal membuat bishop dipacu dengan kecepatan pelan, sambil menikmati pemandangan yang indah tentunya. Jam 12 kami sampai di Dieng, berhenti di warung makan untuk mengisi perut yang sudah nagih dari tadi. Sempat tertidur juga di meja makan warung, paling tidak untuk memulihkan tenaga kembali dan menunggu rintik hujan berhenti.

Sehabis ini saya langsung buka layar ponsel, untuk melihat google map dan mencari lokasi tempat berlangsungnya acara NNDR 2012. Tidak terlalu sulit untuk menemukaan lokasinya karena belum genap setahun yang lalu kami sudah pernah kesana.

Sesampainya di lokasi sudah ada beberapa teman yang telah tiba dahulu di pinggir Telaga Cebong, beberapa sibuk mendirikan tenda dome, suasana sejuk terasa disini, dengan sedikit berkabut. Dengan arahan seorang teman yang ditemui, kami diajurkan untuk segera mendirikan tenda yang kebetulan memang sudah kami persiapkan dari rumah.

Selesai mendirikan tenda, dilanjutkan dengan ramah tamah dengan teman-teman yang ada di lokasi, beberapa wajah sudah pernah saya lihat, tapi lebih banyakan yang belum pernah ketemu di darat, biasanya hanya lewat dunia maya atau di forum online.

Sesuai tagline acara ini "There are no strangers here, only friends you haven't met yet" benar-benar terasa pada waktu itu. Beberapa teman yang belum yang belum pernah bertatap muka langsung, sangat 'hangat' lewat obrolan-obrolan, walaupun desa Sembungan pada waktu itu lumayan dingin dan berkabut.

Beberapa tokoh pelaku wisata dengan menggunakan roda dua yang sudah tidak asing juga hadir di sini, dan berbagi pengalamannya masing-masing. Dalam 2 hari itu, berturut-turut para tokoh berbagi pengalamannya.

Di awali dengan om Farid Gaban dengan cerita ekspedisinya, bernama Zamrud Khatuliswa. Bersama Ahmad Yunus yang kebetulan berhalangan hadir di acara ini, telah mengelilingi Indonesia dengan menggunakan motor Honda win 100cc. Didalam perjalanananya dengan modal dari patungan dari ke dua tokoh tersebut, telah merekam lewat foto dan tulisan, saya sendiri pernah membaca tentang perjalanannya lewat bukunya 'Meraba Indonesia'. 

Tamu kedua ada adalah om Maman Firmasyah, yang dikenal lewat RR (riding report) atau cerita perjalanannya di forum Nusantaride (RR nya bisa klik disini). Dengan ID : hedonesia, beliau bercerita tentang perjalanannya mengeksplore pulau Sumatra, dengan gaya yang kocak dan apa adanya membuat RR ini serasa wajib untuk di ikuti alias dibaca. Pada event ini juga Maman diberi kesempatan untuk menceritakan secara 'live', dengan dadanan yang nyentriknya, malam itu dia memakai dasi kupu-kupu, hehe. Saat mendengarkan ceritanya saya malah merasa menonton acara "stand up comedy', seperti halnya RR nya yang kocak dan lucu.

Setelah kedua tokoh tesebut sharing pengalamannya, diteruskan dengan acara kesenian asli desa Sembungan.Diiringi dengan membuat api unggun di depan panggung tempat kesenian berlangsung untuk mengahangatkan malam yang memang dingin, disertai gerimis.

Hari itu desa Sembungan di guyur hujan sejak kami tiba, padahal menurut info dari warga Sembungan sendiri, hari-hari sebelumnya tidak turun hujan sama sekali. Tapi hujan malah menambah serunya acara pada waktu itu, sekitar jam 23.00 masuk tenda, mungkin karena lumayan lelah dengan track selama perjalanan tadi saya langsung terlelap, walau kadang terbangun karena rembesan air hujan dari tenda membasahi sleeping bag saya, tidak mengapa toh menambah keseruan dan lebih menyatukan kami dengan alam.





Hari #3
Bangun kesiangan jam 5.30, rencana menyaksikan golden sunrise di puncak gunung Sikunir pun gagal. Pagi itu sekitaran Telaga Cebong cerah dan sedikit bekabut, dengan tetap sejuk dan dingin. sambil menunggu acara selanjutnya waktu kami manfaatkan untuk berbagai hal, menjemur barang-barang yang basah karena rembesan air hujan dari tenda, mengobrol dengan teman di sekitaran tenda.



Terdapat obrolan yang menarik dengan Mario Iroth yang kebetulan tendanya bersebelahan dengan tenda  kami. Sekitar bulan Februari 2013, Mario ini akan melakukan perjalanan dengan Kawasaki KLX 150 nya Bali - Kamboja, dengan perjalanan ini berkonsep charity, untuk memberikan bantuan di negara Kamboja, dan sepanjang perjalanannya. Mario sharing kepada kami dari persiapan untuk melakukan survey ke negara yang akan dilewati (7 negara) yang memakan waktu 2 tahun, dalam surveynya bukan hal yang mudah, Mario pernah diacungkan senjata api oleh kelompok Khmer Merah di Kamboja, serta di lucuti semua barang bawaannya, kamera sampai uang semuanya di ambil. Dengan berbagai simpati dari berbagai kalangan yang mengerti kejadian ini, akhirnya Mario bisa kembali lagi ke Indonesia. Oya..Mario melakukan perjalanan ini mendapatkan sponsor dan support dari berbagai brand, salah satu yang menarik adalah jaket yang akan di pakai ke Kamboja sama dengan jaket yang saya kenakan. Ya salah satu brand lokal yang mensupport Mario adalah dari Respiro sebagai produsen riding ware yang namanya sudah tidak asing lagi  khususnya produk jaket untuk berkendara roda dua.


Mario Iroth 



minjem kompornya Mario
Acara dilanjutkan dengan Off Road Riding Course dan Safety Riding Course yang dbawakan oleh om Andry Berlianto dan om Jack Xventure. Course ini sangat bermanfaat bagi khususnya bagi saya sendiri yang masih awam tentang ini. Dengan mempraktekan langsung di atas motor Jack semakin jelas menerangkan kepada kami cara berkendara secara off road, ini akan sangat berguna seperti saya yang suka blusukan dan get lost yang jalannya tidak di dominasi oleh aspal mulus.


om Jack dengan pembawa acara Maman Firmansyah
Setelah itu ada sharing dari om Youk Tanzil selaku pimpinan ekspedisi Ring of Fire Anventure, yang sudah tidak asing pula di dunia pelaku wisata beroda dua, acara Ring of Fire Adventure yang di siarkan di televisi swasta nasional ini sekarang sudah memasuki stage ke dua dengan lokasi di pulau Sulawesi. Saya sendiri pernah mengahandiri finish stage 2 di Rolling Stone cafe, Jakarta. Meliat video dokementer selama perjalanan ekspedisi ini selalu menggugah ke inginan untuk mengeksplore dengan alam nusantara dengan roda dua lagi dan lagi.

Selain Ring of Fire Adventure, ekpedisi serupa yaitu Indonesia Exploride yang di pimpin oleh Wulung, yang hadir dicara ini. Dengan motor BMW GS seriesnya beliau mengeskplore keindahan dan kekayaan Indonesia dari segi alam maupun budayanya.

Satu lagi tokoh dalam event ini, yaitu om Reza. Dibawah pimpinan kepanitiaan beliau acara dapat berlangsung dengan lancar dan meriah.  Mempertemukan berbagai kalangan, komunitas, club roda dua dengan dengan misi utamanya memperkenalkan potensi wisata di nusantara ini. Tak lupa salute juga kepada teman-teman yang membantu secara langsung maupun yang memeriahkan acara ini yang datang dari berbagai berbagai daerah, setahu saya ada yang paling jauh datang dari Lombok, Palembang dengan roda dua tentunya untuk menuju Dieng.


om Reza mencoba motor yang di pakai ekspedisi Ring of Fire
Kira-kira sudah jam 12, kami pun berkemas untuk kembali ke Jakarta. Sebenarnya masih ada acara satu lagi yaitu Rally Curug Sikarim, tapi karena waktu itu gerimis dan berkabut pula maka saya memutuskan tidak ikut. Sambil menunggu hujan aga reda, kami masih ngobrol ngalor ngidul, guyonan, dengan teman-teman disana, sebelum akhirnya kami pamitan. Pada pukul 14.00 kami meninggalkan Telaga Cebong dengan membawa kesan tersendiri.


sebelum pulang, ngopi dulu
foto keluarga yang sempat ke foto 
Memilih jalur selatan Jawa untuk kepulangan yaitu Dieng-Banjar-Purwokerto-Wangon-Ciamis-Bandung-Purwakarta-Cikarang. Hampir selama perjalanan ditemani gerimis sampai hujan lumayan deres. Bermalam di Wangon dan melanjutkan perjalanan kembali pada pukul 5 pagi. Hal baru dalam perjalanan pulang ini adalah lewat lingkar selatan Nagreg yang jalannya mirip tol dengan pemandangan bukit-bukit nan hijau, dan ditutup dengan makan sate Maranggi Cibungur, Purwakarta yang terkenal kelezatannya itu.


lingkar Nagreg
Alhamdulillah sampai rumah jam 20.00 dengan selamat dan sedikit basah terguyur hujan, walaupun sudah pakai rain coat. Tidak mengapa, semua itu terbayar dengan pengalaman perjalanan yang sangat berkesan dan bertemu dengan orang-orang yang sangat menginspirasi dan bersahabat walaupun belum pernah bertatap muka sebelumnya. Saat sepeda motor hanya menjadi alat untuk mengenal tiap keindahan dan kekayaan nusantara, dan berbagi cerita setelahnya. Saat tidak memepermasalahkan asal klub/komunias dari mana, dari penjuru nusantara sebelah mana, latar belakang si pelaku, semua menjadi satu dengan passion yang sama, untuk berbuat sesuatu untuk nusantara tercinta. Semoga acara serupa dapat di gelar kembali. 

Terimakasih atas perjalanan in, kepada : 
1. Allah SWT yang memberikan perlindungan dan kelancaran selama perjalanan dengan tantangannya
2. Partner perjalanan merangkap motographer, Neni
3. Respiro untuk support jaket yang kami kenakan
4. Seluruh teman yang kami temui di perjalanan dan di lokasi.
















8 komentar:

  1. mantab tuh yang nerabas lewat hutan xixi pasti paling deg deg an ya disitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. sedikit deg2annya :)banyak takutnya, hahaha...

      Hapus
  2. Balasan
    1. suka sama siapa nih?hehe..
      makasih telah berkunjung..

      Hapus
  3. hehehe.. untungnya boncengernya gak rewel selama perjalanan, kalau istri saya mah, sudah ngomel kalau dilewatin jalan jelek kayak begitu.. akhire ya fun riding saja, gak adventure riding.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. boncengernya malah seneng kok..lha wong dulu boncengernya jg hobi naik gunung :)

      Hapus
  4. AHA...ketemu neh RR...monggo mbah punya saya jg dijalur situ....sekarang udah banyak pengerasan jalan lho... :)
    http://yogobark.blogspot.com/2014/05/rute-curug-pekalongan-waterfall-road.html

    BalasHapus