Our Riding Ware

Senin, 17 September 2012

Melintasi Tapal Kuda (bagian 2)

Hari #3

Bangun jam 5 pagi, tidur nyenyak berlangsung 2 jam saja, saatnya untuk bersiap untuk turun menuju lautan pasir Bromo. Ketika akan kekamar mandi yang memang letaknya terpisah dari tempat kami tidur, melewati tempat parkir motor, di sini sedikit terkejut dengan apa yang di lihat, di atas jok motor terlihat kristalan berwarna putih, coba di dekati dan di raba, ternyata itu adalah embun yang sudah membeku. Ternyata benar, saya di dalam "kulkas" ini dan tidak sedang bermimpi.

tinggal nyari sirup :)
Setelah selesai bekemas kami pamitan dengan teman-teman Bakmi, yang rencananya akan mendaki Gunung Semeru pagi itu juga. Melewati jalan yang sama sampai pertigaan Njemplang, terlihat aktifitas pagi warga Tengger, bishop di pacu dengan kecepatan 30 kpj, sambil menimakti pagi yang indah itu. 
Sesampainya di Njemplang kami berhenti untuk melihat dari atas lautan pasir Bromo, terlihat begitu megah apa yang kami lihat, lautan pasir dengan di kelilingi perbukitan, dengan warna kecoklatan tumbuhan disana.

sebagian teman-teman Bakmi
sebelum berangkat kembali
Ranu Pani pagi
warga Tengger
dari atas
Setelah dari sini, kami menuruni jalan beton yang sebagian rusak menuju lautan pasir, setelah ini tiba saatnya roda bishop menggelindingkan ke pasir, kesan pertama bishop begitu sulit di kendalikan, roda seperti malas menapak dengan tetap, roda masuk kedalam pasir yang lembut, membuat bishop sangat kepayahan berakselarasi, sesekali handle gas di putar maksimalpun tidak membuat bishop beranjak, perlu bantuan dengan dorongan tubuh dari saya.

what a wonderful  road
deru deru debu
Hasil dari semua itu bishop akhirnya tersungkur ke pasir,  kami terlempar dari posisi duduk dari atas bishop. Tidak ada kerusakan atau cidera pada kami, karena emang laju bishop tidak kencang, terjatuh  memang karena bishop sulit dikendalikan di medan pasir seperti ini.

Berusaha membangunkan bishop dengan trik tertentu (nanti bisa dilihat photo dibawah tulisan ini), berat  bishop yang 140 kg lebih berhasil saya dirikan dengan mudah. Berhenti sebentar, sekedar untuk istirahat dan menangkan diri setelah jatuh tadi, tiba2 ponsel bedering, ada SMS masuk setelah di Ranu Pani memang tidak ada sinyal telepon sama sekali. SMS dari om Reza, salah satu penggiat forum Nusantaride yaitu forum di dunia maya untuk berbagi pengalaman berkendara dengan keindahan2 Nusantara di dalamnya, isi SMS tersebut memberi kabar kalau om Reza kemarin baru melintasi lautan pasir Bromo juga dan mengalami kerusakan pada motor beliau, yang mengakibatkan tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi, motor sampe harus di bawa dengan mobil.

sedikit trik
whispering sands
lebih baik mengalah daripada Jeep kedua menabrakmu :D
Dengan berita tersebut sedikit menjadi perhatian buat saya, tapi setelah di ceritakan ke boncenger, raut wajahya sedikit agak panik,hehe.. Setelah boncenger tenang, perjalananpun dilanjutkan, masih dengan situasi yang sama, berkendara dengan posisi berdiri di footstep juga saya lakukan pada waktu itu, tapi setelah beberapa ratus meter melaju, bishop ambruk lagi, tentu saja bersama kami untuk kedua kalinya.

Bagi saya seperti ini malah sesuatu yang fun, di selingi dengan senyum2,kadang tertawa kecil setelah behasil membangunkan bishop kembali. Tetapi ini tidak berlaku pada boncenger, apa lagi mengetahui barang kesayangannya, yaitu kameranya sedikit ada perubahan setelah jatuh ini, yaitu lensanya agak seret ketika di putar. Sampai boncenger ber ujar 'apa kita ikut Jeep aja?biar bishop juga ditarik Jeep itu?', saya hanya tertawa, dan saya jawab "ya udah di coba dulu, ntar kalo bener--benar sudah tidak bisa baru usulmu diterima.

Melaju kembali diatas pasir ini, kadang kami harus mengalah dan berhenti dengan Jeep yang lalu lalang di jalan yang sama, debu yang di hasilkan setelah Jeep lewat membuat jarak pandang terganggu. Akirnya kami sampe dan Ngadisari, terlihat gunung Batok dari sini, tapi kami tidak menuju ke gunung itu, lebih memilih naik ke arah Cemorolawang, dengan bermaksud mencari sarapan di sana. Tapi lagi-lagi, bishop terjatuh untuk ke tiga kalinya di pasir ketika beberapa meter lagi jalan naik ke Cemorolawang sudah tampak.

where am I?
Di sebuah warung makan di Cemorolawang, kami dengan lahap menyantap nasi goreng, setelah energi lumayan terkuras di lautan pasir tadi. Sehabis ini kami berencana untuk menemui om Reza di Pananjakan,  tetapi ada hal tidak di duga terjadi, ketika akan menghubungi beliau lagi, ponsel saya sudah tidak ada di tempat semula, alias hilang. Kemungkinan jatuh di lautan pasir bersama bishop tadi.

Kami urungkan niat ke Panajakan karena lost contact dengan om Reza, setelah diskusi mau kemana  setelah ini, kami pun sepakat untuk mengunjungi air terjun Madakaripura. Ya...kami tidak pernah merencanakan ketempat ini sebelumnya, hanya spontanitas saja, mungkin karena karena pada perjalanan sebelumnya ke Bromo objek ini terlewatkan, karena alesan keamanan pada waktu itu. Pada saat itu adalah musim hujan (bulan Desember 2011), menurut berbagai informasi yang diperoleh ada resiko banjir dan longsor jika mengunjungi air terjun pada musim hujan.

Jam 11 beranjak dari tempat makan, untuk menuju ke Madakaripura. Bermodalkan koordinat posisi  (S7.844590 - E113.017459tempat tujuan yang saya googling sewaktu makan tadi, bishop di arahkan menuju kesana. Walaupun sudah mempunyai koordinat tersebut, masih saja bertanya dengan penduduk sekitar ketika jalan yang di lalui terasa janggal, atau ragu-ragu. Menurut informasi yang kami tanyakan sebelumnya dengan orang yang kami temui, setelah pasar Lumbang belok kanan, disana pun ada petunjuk arah ke arah Madakaripura.

Setelah ini jalan yang kami lalui adalah yang sempit, perkiraan hanya 2 meteran dengan kanan kiri terliihat pohon Jati yang kering. Kami pun setengah ragu-ragu, benar tidak jalan yang di tempuh ini, karena untuk tujuan wisata sepertinya kurang memadai, paling tidak ada petunjuk jalan yang jelas, kami sampai bertanya beberapa kali dengan penduduk setempat untuk mecari tahu jalan menuju kesana.

beberapa kilometer setelah pasar Lumbang
patung Mahapatih Gajahmada

Satu jam perjalanan, akhirnya sampai di desa Sapih, kecamatan Lumbang, kabupaten Probolinggo, disinilah air terjun Madakaripura terletak. Terlihat arca/patung Mahapatih Gajahmada sedang berpose mengacungkan sebilah keris, beberapa meter dari patung itu terdapat loket tiket masuk Madakaripura. Membayar Rp 8000/orang, bishop langsung menuju tempat parkir. Disambut dengan remaja tanggung yang menawarkan untuk mencuci bishop, tapi kami tolak, dan tidak lama kemudian datang lagi pemuda yang menawarkan untuk menjadi guide mengantar ke lokasi air terjun, menurut guide tersebut dengan nada sedikit memaksa, bahwa jalur untuk menuju ke sana susah dan perlu di dampingi guide, tapi kami tolak juga tawarannya. Karena berpikiran pada waktu itu lumayan ramai dengan pengunjung yang lain, ya.. tinggal ngikutin yang didepan saja, lagi pula secara logika, mengikuti arah sungai saja karena air sungai besumber dari tumpahan air terjun Madakaripura.

Menurut informasi yang didapat, bahwa untuk ke air terjun dilalui dengan jalan kaki sejauh kira-kira 800 meter. Berjalan kai dengan melewati jalan setapak yang sudah dipaving walaupun sebagian sudah rusak, beberapa kali juga harus menyebrang sungai. Setengah jam perjalanan kemudian sumber ai terjun sudah tampak, pertanda jika sudah dekat dengan lokasi yang di tuju.

Lokasi ini tertutup bukit kecil, setelah melewatinya, disambut dengan tukang ojek payung dan guyuran air terjun. Woow..sungguh suguhan keindahan alam yang tidak kami duga sebelumnya, air mengalir dari tebing yang hijau, membentuk seperti tirai, deras mengalir. Kami memang sengaja tidak menyewa payung yang di tawarkan sebelumnya, untuk menikmati guyuran air ini. Plastik atau drybag sangat perlu  disini untuk melindungi alat elektronik.

Sehabis mengambil beberapa photo di sini, jalan lagi menuju sumber air yang lain, melewati tebing bebatuan yang licin tentunya, membuat kami extra hati-hati untuk melewatinya. Tapi semua itu terbayar dengan apa yang kami lihat setelahnya. Kami serasa berada didalam tabung raksasa, disalah satu tepi tabung itu mengalir air. Sungguh type air terjun yang kami belum pernah temui sebelumya, tentu saja terkagum kagum dengan ini semua. Dibawah terdapat seperti kolam dengan air berwarna hijau, mirip dengan  warna air di Green Canyon, Cijulang, Jabar. Oya.. konon Mahapatih kerajaan Majapahit Gajah Mada bertapa di sini setelah menjalankan tugasnya sebagai Mahapatih Majapahit.

tirai air

tabung itu


terkihat lebih tinggi
kolam tumpahan
Berangkat dari tempat parkir jam 16.15, kali ini tujuan kami adalah Jember. Kenapa Jember? boncenger pernah kuliah di kota ini, kami ingin berkunjung ke kerabat boncenger yang waktu kuliah tinggal disana. Dengan jalur rute Lumbang - Leces - Lumajang - Jember, bihsop di pacu mengikuti rute ini, tapi baru beberapa kilometer rasa ngantuk mulai menyerang, mungkin karena malamnya kurang tidur. Cari tempat untuk sekedar rebahan, ditemukanlah warung dengan kursi panjang didepannya. Disini saya baru tahu kalo kebayakan warga sini menggunakann bahasa Madura, setelah mendengar pemilik warung becakap-cakap dengan keluarganya. Agak asing bahasa ini, karena saya baru mendengarkannya. Tidur yang sebelumnya direncanakan, malah berganti asyik mendengarkan bahasa Madura yang unik ini, hehe..

pemilik warung
Setengah jam di sini, hari juga semakin gelap, pamitan dengan pemilik warung untuk langsung menuju Jember. Tidak banyak yang bisa di ceritakan di jalur ini karena memang hari sudah semakin gelap, setelah melewati Leces, aspal mulus kami temui di sini, lalu lintas lancar, dan udara terasa semakin dingin, tampak samar-samar Gunung Argopuro di kejauhan. Karena udah waktunya jam makan malam, saatnya mulai melirik pinggir jalan untuk mencari dimana ada warung makan, sepanjang jalan banyak temui penjual bakso, padahal kami menginginkan makan nasi. Didaerah Sumber Baru barulah ditemukan penjual sate, bishop berhenti disini.

Sehabis ini lanjut perjalanan lagi menuju Jember tentunya, jam 21.00 memasuki kota Jember, saya melihat kota ini untuk pertama kalinya, terlihat kota yang rapi dan teratur. Sampai di kecamatan Patrang,  boncenger mulai memberi aba-aba untuk merunkan speed bishop, karena menurutnya sudah dekat dengan rumah kerabatnya. Walau sempat kesasar, akhirnya sampai juga di kediaman beliau, sambutan yang ramah pun kami terima, diselingi dengan petanyaan dengan nada agak terkejut, "naik motor dari Jakarta?". Ya pertanyaan yang sering diterima ketika bertandang/mampir ketempat siapapun yang belum biasa melihat kami seperti ini (melakukan perjalanan dengan motor dalam jarak jauh).

Setelah beramah tamah, sementara boncenger bernosatalgia dengan pemilik rumah, saya pun undur diri untuk istirahat, di kamar yang telah disediakan.

bersambung...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar