Our Riding Ware

Jumat, 14 September 2012

Melintasi Tapal Kuda (bagian 1)



Tapal Kuda, adalah nama sebuah kawasan di provinsi Jawa Timur, tepatnya di bagian timur provinsi tersebut. Dinamakan Tapal Kuda, karena bentuk kawasan tersebut dalam peta mirip dengan bentuk tapal kuda. Kawasan Tapal Kuda meliputi Pasuruan (bagian timur),Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi(sumber :wikipedia)

Rencana untuk melakukan perjalanan pada liburan lebaran taun 2012 ini sudah terbesit sejak sebelum bulan ramadhan. Setelah diskusi dengan boncenger, ditentukanlah untuk menuju kawasan tapal kuda di Jawa Timur seperti yang sudah sedikit di uraikan pada paragraph pertama.

Kawasan ini mempunyai beberapa potensi wisata alam yang luar biasa, dalam perjalanan ini kami berencana mengunjungi sebagian tempat - tempat tersebut. Apa saja tempat itu? akan coba ceritakan disini beserta cara menempuh perjalanan kesana.

Perjalanan dimulai dari Jogja, tempat saya pulang kampung. Bishop sengaja diajak mudik, untuk melakukan perjalanan ini. Alhamdulillah perjalanan single riding Jakarta – Jogja lancar, mungkin karena waktu itu saya berangkat ketika belum arus puncak mudik.

Hari #1
Tanggal 21 Agustus 2012 perjalananpun dimulai menuju timur Jawa. Sedikit cerita, malam sebelum hari keberangkatan saya mengalami kecelakaan, yaitu menabrak sesama motor yang dikendarain oleh remaja wanita yang memotong jalan secara tiba2 ketika bishop melaju agak kencang, seinget saya pada waktu kecepatan 90 kpj. Sekilas di lihat kondisi bishop tidak ada masalah pada malam itu, tapi saat di kendarakan ada yang beda yang dirasakan.

Benar saja, paginya di amati lebih teliti, ternyata piringan cakram rem depan tidak rata lagi, engine guard bengkok. Nah,,yang jadi masalah adalah si piringan ini, sepeertinya tidak  mungkin  pegi jarak jauh tanpa rem depan? Sedikit kebingungan, karena waktu itu masih masa liburan lebaran, dealer untuk mendapatkan si piringan pun tentu belum ber operasi.

Teringat dengan om Julianto Sasongko, yang kebetulan lagi berdomisili di Jogja, dan punya motor sejenis dengan bishop. Setelah mengutarakan pemasalahannya lewat telepon, om Juli langsung merespon, seperti gayung bersambut, beliau ternyata menyimpan barang yang saya cari, yang tadinya kata beliau mau dipakai, tapi karena alasan tertentu tidak jadi dipake. Alhamdulillah…..bishop bisa normal lagi. Terimakasih banget om Julianto atas batuannya dan supportnya.

Dihari yang sama setelah selesai memasang si piringan, di bantu om Juli pula, perjalanan pun dimulai. Start dari rumah orang tua didaerah Tempel, Sleman, pada pukul 11 pagi  melewati rute Turi, Pakem,  tembus Prambanan (Jln Jogja – Solo) jalur ini adalah jalan alternatif kalau tidak lewat jalan Magelang – Jogja.(map bisa klik di sini)

Alternatif jika ingin tidak menemukan lampu merah dan menginginkan perjalanan dengan suasana desa, dengan kanan kiri jalan adalah kebon salak pondoh dan sesekali hamparan sawah. Dan memasuki jalan raya Jogja – Solo sudah diramaikan oleh pemudik, terlihat dari plat nomor kendaraannya yang kebanyakan dari luar kota Solo maupun Jogja. Di kota Klaten bishop di isi bensin full tangkinya, langsung melaju di padatnya lalu lintas, antrian panjang ketika menunggu lampu lalu lintas berganti menjadi warna hijau, sebagaimana di ketahui, kota ini jarak antar lampu merah relatif dekat. 

Lepas dari Solo, memasuki Karanganyar jalan tidak seramai sebelumnya, tapi sepetinya perut sudah ramai dengan bunyi tidak karuan, yang berarti saya lapar. Menemukan warung makan dengan menu bebek goreng, tidak saya sia2kan untuk menepikan bishop. dan melahap bebek goreng.

Tancap gas menuju Tawangmangu, suasana pegunungan mulai terasa disini, lalu lintas mulai padat dengan wisatawan yang sepertinya akan menuju kawasan ini, seperti diketahui kawasan ini ada beberapa objek wisata, salah satunya adalah Grojogan Sewu.

Memasuki desa Gondosuli, Tawangmangu kemacetan semakin menjadi-jadi, jalan yang tidak terlalu lebar, tanjakan, tikungan khas pegunungan menambah macet kali ini semakin parah. Mulai tercium oleh bau aneh, saya menebak beberapa kendaraan tidak kuat nanjak dan dipaksakan, sehingga kampas koplingnya terbakar.

Benar saja, tiba2 ada pemuda yang menghampiri disela-sela kemacetan,  dia bermaksud meminjam tools/kunci kepada saya untuk membongkar motornya yang sedang didorong. Dia membongkar, dan benar kampas koplingnya terbakar. Hampir satu jam menunggu tools dipinjam, sembari saya bisa  istirahat juga.


bongkar kampas
Sehabis ini mellanjutkan perjalanan lagi, beberapa melewati tanjakan, terlihat korban-korban tanjakan dan kemacetan ini, beberapa ada yang hingga di tarik dengan mobil patroli polisi. Memasuki propinsi Jawa timur kemacetan sudah hilang. Jalan kelak kelok, relatif mulus dengan latar belakang gunung Lawu menambah semangat setelah penat dengat kemacetan tadi.


korban tanjakan
Memasuki Sarangan, dari posisi yang lebih atas terlihat Telaga Sarangan. Saya berniat menuju kesana, dengan mengikuti petunjuk  yang ada, bishop diarahkan kesana. Sesampainya di lokasi terlihat sangat ramai dengan pengunjung, maka saya urungkan niat sebelumnya untuk masuk ke dalam telaga. Karena saya merasa tidak nyaman jika terlalu banyak orang untuk menikmati suatu objek keindahan alam. 

Melanjutkan perjalanan kembali, melewati kota-kota selanjutnya, yaitu Magetan dan Nganjuk. Tidak banyak yang bisa di ceritakan dari kedua kota ini, lalu lintas lancar walau kadang-kadang padat merayap di pusat keramaian seperti pasar.


telaga Sarangan terlihat dari atas
Menjelang magrib, saya tiba di Caruban. Karena perut juga sudah terasa lapar, berhentilah diwarung makan dengan menu pecel, menu ini terasa tidak bosan-bosan untuk di santap, rasa sambel pecelnya beda dari daerah lain diluar Jawa Timur mungkin salah satu kenapa saya ketagihan dengan menu ini

Sekitar pukul 19.00 memasuki kota Nganjuk, lalu lintas terlihat padat merayap, jalan kebanyakan di penuhi dengan kendaraan ber plat nomor dari luar daerah, hal ini bisa di maklumi karena masih suasana mudik lebaran.

Rehat sebentar di sebuah mini market untuk membeli keperluan logistik, dan istirahat sambil memikirkan apa rencana setelah ini, akhirnya saya memutuskan untuk bermalam di kota ini. Selepas dari sini, bishop saya pacu dengan kecepatan sedang 60 – 80 kpj, karena untuk memperhatikan disetiap pinggir jalan apakah ada penginapan, Setengah jam kemudian akhirnya menemukan penginapan dengan tarif seratus ribu rupiah. Alasan utama saya untuk bermalam di penginapan adalah demi keamanan barang yang dibawa, karena pada perjanan kali ini bishop hanya di lengkapi dengan side bag dan tank bag untuk membawa barang-barang keperluan selama perjalanan, yang tentu saja dari segi keamanan kurang terjamin.

Hari #2
Bangun pukul 5.00, badan terasa lebih segar setelah riding Jogja – Nganjuk hari sebelumya. Segera berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Pagi itu terasa dingin membuat saya merangkap jaket dengan rompi lagi, sinar matahati terbit mengiringi perjalanan  saat itu. Jalanan terlihat sepi , tapi bishop pun tidak lantas di geber dengan kecepatan tinggi, selain masih gelap saya belum mengenal medan jalan yang di laluin, karena ini baru pertama kalinya melintas disini.

Tujuan pagi ini adalah menuju kota Malang, tepatya di stasiun kereta api Malang. Karena disana saya sudah janjian dengan boncenger yang datang dari Jakarta dengan menggunakan alat transportasi tersebut, dan semoga saja sampai Malang tidak terlambat, begitu juga dengan keretanya, hehe..

Tidak banyak warung makan yang buka pada pagi itu, padahal perut sudah menagih untuk sarapan. Sampai akhirnya menemukan warung nasi pecel/tumpang, lagi-lagi menu kali  ini adalah pecel, hehe.. Rampung menikmati pecel dan segelas kopi hitam, bishop di gas kembali menuju ke timur.


nasi tumpang/pecel
Hari semakin terang, jalan mulus tampak di depan mata, dan perut terisi sudah, membuat gatal tangan ini menarik handle gas lebih dalam, kecepatan 90 – 100 kpj membuai saya, walau tetep harus waspada.  Melibas jalan raya Baron, selanjutnya ambil arah Malang dengan belok di Purwoasri (map klik di sini).

Dan akhirnya menemukan gerbang atau gapura ‘selamat datang di kab. Malang’, berhenti sebentar untuk mengambil foto disini, ini adalah perbatasan antara Kediri – Malang (cmiiw). Menurut saya pagi yang indah saat itu, matahari tampak cerah, tapi  tidak membuat gerah karena saya berada di daerah pegunungan, beberapa masih ditemui beberapa pemudik dengan barang bawaan yang melebihi normal.


gapura
Bishop kali diarahkan menuju Batu, Malang yang terkenal dengan beberapa objek wisatanya juga, saya pernah ke Batu saat masih SLTA, teringat kala itu mengunjungi kebun strawberry, dan selebihnya saya lupa, karena udah lumayan lama.  Antara daerah Jombok – Ngatang dari posisi yang lebih atas terlihat ada genangan air yang cukup luas, saya menebak mungkin itu telaga, atau waduk.  Objek itu menarik perhatian, bishop pun di arahkan kesana.

Akhinya menemukan petunjuk dengan tulisan mengarah ke kanan jalan “waduk Selorejo, 3 Km”, setang bishop dibelokan kesana. Benar saja, 3 kilometer kemudian ditemukan loket tiket untuk masuk waduk, tapi beruntung saat itu, karena masih pukul 7.15 dan penjaga loket belum ada atau belum bangun mungkin, hehe.. Berhasil menerobos masuk dan tidak lama kemudian hamparan air yang cukup luas, dengan dikelilingi pegunungan, yaitu gunung Kelud, Anjasmoro dan Kawi, terlihat di depan mata. Keindahannya terlihat sudah, dengan udara sejuknya membuat saya betah di sini, untuk sekedar duduk di tepi waduk, mengamati kegiatan pagi disana, ngobrol dengan nelayan yang sedang mempersiapkan perahunya, yang bisa juga di sewa untuk keliling waduk.


waduk Selorejo

sisi lain

aktifitas waduk
Tapi  tidak bisa berlama lama di sini jika mengingat jadwal kereta yang akan datang dari Jakarta. Segera ke tujuan semula yaitu kota Malang.  Akhirnya memasuki kota Batu, tapi tidak berniat untuk mengunjungi objek-objek wisata disini karena alesan waktu. Cuaca dingin kadang membuat saya lebih cepat lapar, dan bebeapa kali berhenti untuk buang air kecil,hehe… Mampir diwarung makan di Batu ini untuk menyelesaikan permasalahan tadi.

Setengah jam saya di sini, wah..lumayan lama juga, mungkin karena tempat makannya lesehan membuat badan tidak bisa menolak untuk diajak rebahan. Jam tangan menunjukan pukul 9.30, harus bergegas menuju stasiun karena jadwalnya datang jam 10, walaupun di duga akan molor seperti biasa.

Mengikuti rute yang di tunjukan oleh google map menuju stasiun Malang, tidak banyak kendala menuju ke sana, tapi kadang masih bertanya dengan orang di pinggir jalan, untuk memastikan rute yang ditempuh benar. Alhamdulillah tanpa dirancang secara tepat, akhirnya sampai stasiun pukul 10.00, jam yang sama dengan kedatangan kereta (harusnya). Segera cek posisi boncenger dengan fasilitas latitude yang ada di ponsel, ternyata posisinya masih di daerah Blitar.


depan stasiun Malang
Menunggu di depan stasiun yang kebetulan ada warung minuman, di temani dengan segelas kopi, saya coba menghubungi  om Awan, beliau ini adalah ketua Prides (Pulsar rider society) chapter Malang. Sekedar chat via ponsel, beliau pun mempersilahkan untuk mampir ke kediamannya. Kebetulan lagi, kalau di lihat dari koordinat yang beliau berikan untuk mencapai ke kediamannya tidak lah jauh dari stasiun, kira-kira  1 kilometer.

Satu jam menunggu kereta yang dinanti akhirnya tiba. Bonceger datang dari Jakarta tidaklah sendiri, melainkan bersama rombongan komunitas Bakmi (Barisan kelana bumi) yang kebetulan beberapa dari anggotanya adalah sahabat saya. Mereka berencana mendaki gunung Semeru.

Setelah berbincang-bincang, bercengkrama, akhirnya saya dengan boncenger pamit dari teman-teman Bakmi. Sesuai rencana sebelumnya, untuk bersilahturahmi dengan om Awan. Tidak sulit menemukan ‘markas’nya om Awan, ternyata beliau sudah menunggu di depan gang, sepertinya beliau memantau posisi kami dengan latitude sehingga tahu kalo kami sudah bergerak ke rumahnya.

Sambutan hangat diterima walaupun kami belum pernah bertatap muka secara langsung.  Obrolan hangatpun terjadi, dari masalah komunitas motor sampe tempat2 di Jatim, ya semacam briefing singkat tentang daerah di Jatim, info yang beliau berikan sangat bermanfaat untuk melanjutkan perjalanan kami selanjutnya. Disini kami juga numpang mandi dan packing ulang barang bawaan kami.
Hampir satu jam disini, waktu pun sudah menunjukan pukul 13.30, dan saat nya pamitan dengan om Awan, walau masih betah disini untuk ngobrol-ngobrol, mungkin karena suara om Awan yang enak di dengar seperti penyiar radio kalau kata boncenger, hehe..Terimakasih om Awan atas jamuannya.


bersama om Awan didepan kediamannya
Pamitan dengan Om Awan, kali ini tujuan selanjutnya adalah kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Entah mengapa kami merasa kangen untuk mengunjungi tempat ini, setelah hampir setahun lalu untuk pertama kalinya menggelindingkan roda bishop ke kawasan ini. (cerita perjalanannya klik disini)

Bromo seperti menjadi daya tarik pertama untuk mengunjungi tempat selajutnya di timur jawa ini. Untuk kesana, kali ini memilih rute yang berbeda dari perjalanan ke Bromo sebelumnya, rutenya yaitu Malang – Tumpang – Ngadas – Njemplang  (map klik disini). Lagi2 mengikuti rute yang di tunjukan google map, kami menuju ke Bromo. 

Jalur ini tidak begitu sulit untuk ditempuh walaupun baru pertama kali, karena ketika sampai Tumpang setiap persimpangan ada petunjuk jalan menuju Bromo dengan jelas. Akhirnya kami sampe di rest area Poncokusumo, di sini terdapat tanah lapang yang mungkin buat tempat parkir. Di sini pula kami sempat berhenti untuk istirahat dan menikmati bakso Malang.

Lanjut lagi perjalanan, jalan yang di tempuh semakin nanjak dengan kanan kiri tebing yang dalam, dan tentunya di sertai pemandangan yang indah. Tapi harus extra hati-hati, karena lebar jalan yang hanya sekitar 2,5 meter.

Di jalur ini pula melewati objek wisata lain, yaitu wana wisata Coban Pelangi, yaitu sebuah air terjun bisa kita lihat disana, tapi kami sendiri tidak masuk kesana mengingat waktu yang semakin sore. Tancap gas terus menuju Bromo, tidak  lama kemudian terlihat gerbang/gapura "Taman Nasional Bromo Tengger Semeru", yang disamping gapura terdapat loket tiket, di sini kami bayar Rp 2500/orang.

Jalan semakin terjal saja, dan bervariasi, kadang beton halus, dan lebih sering yang rusak, malah kadang hanya tanah/pasir, membuat bishop dipacu kecepatan rendah 30-40 kpj. Tikungan tajam kadang mengagetkan kami, ketika tiba2 ada kendaraan yang muncul dari tikungan tersebut.

Menemukan pertigaan, jika ke arah kiri adalah objek wisata Coban Trisula dan jika lurus ke Bromo, kami pun memilih yang lurus. Akhirnya pukul 16.30 kami tiba di Njemplang, disini terdapat pertigaan, yang arah lurus ke Ranu Pani. Berhenti di sini, berdiskusi dengan boncenger untuk mentukan mau turun ke lautan pasir Bromo atau ke Ranu Pani, setelah diskusi alot akhirnya ditentukan ke Ranu Pani dengan alasan kami belum pernah kesana.

Jarak Njemplang - Ranu Pani menurut penjual bakso yang kami tanyai adalah 5-6 kilometer dari Njemplang. Akhirnya kamipun menempuh 6 kilometer tersebut, dengan jalan yang hampir dengan sebelumnya, terlihat dari sini juga lautan pasir Bromo yang terlihat coklat, kering dan sedikit berkabut, di sini kami berhenti sejenak untuk mengambil gambar/photo.

lautan pasir Bromo terlihat dari jalan menuju Ranu Pani
jalan menuju Ranu Pani
Akhinya menemukan perkampungan, ya..perkampungan suku Tengger dengan wajah yang khas dan sarung menempel di badan para prianya seakan sudah trademark dari suku ini. Tidak lama kemudian kami melewati Ranu Pani, sebuah telaga/danau terlihat tidak begitu luas dengan air yang terlihat surut.

Ranu Pani terlihat surut dan kotor
warga Tengger di pinggir ranu
Di Ranu Pani ini terdapat pos pendakian Semeru, disini adalah tempat memulai pendakian ke Semeru dan juga pengurusan administrasi setiap calon pendaki. Disini ketemu lagi dengan teman-teman Bakmi yang ketemu di stasiun Malang tadi. Terlihat rame dengan para calon pendaki Semeru, mungkin mereka memanfaatkan libur lebaran untuk melakukan pendakian ini.

Ngobrol dengan teman-teman Bakmi, melihat/menikmati Ranu Pani yang saat itu suhunya sangat dingin,  di pinggir ranu terdapat beberapa warga Tengger yang sedang memancing ikan, menurut keterangannya kalau ranu ini beberapa bulan yang lalu sempat di keruk karena mengalami proses pendangkalan, ranu ini  juga terlihat agak kotor dengan sampah sisa minuman/makanan.

Tidak terasa hari semakin gelap. Teman Bakmi pun menawarkan untuk bemalam bersama mereka di pos ini. Setelah diskusi dengan boncenger, kami menerima tawaran itu. Semakin malam disini dinginnya semakin menggila, saya merasa masuk didalam lemari es, menggunakan apa saja untuk mengahangatkan tubuh, tetep saja dinginnya masuk hingga tulang, hehe.. Saya sendiri menggunakan kaos kaki rangkap 3, dengan sepatu untuk tidur, tapi tetap saja susah tidur. Kebetulan boncenger tidak bawa sleeping bag, yang biasanya bawa, sleeping bag pun saya berikan ke boncenger. Bisa tidur pun tidak nyenyak, lebih sering terjaga, dini hari tiba-tiba ada yang melempar sleeping bag ke tubuh saya, mungkin itu boncenger yang melemparnya, dan mulai itu saya pun bisa tidur lebih nyenyak, hehe..

bersambung ke bagian 2...

2 komentar: