Kamis, 27 September 2012

Selamat pagi, Slamet!

Perjalanan mudik lebaran tahun 2012 ini saya lakukan dengan menunggangi Bishop seperti tahun lalu. Ya ..ini kedua kalinya saya menggunakan bishop untuk pulang kampung yaitu ke Jogja, dengan memilih jalur tengah (map klik disini) , lalu lintas saat itu relatif lancar, mungkin karena saya berangkat satu hari lebih awal dari prediksi arus mudik puncak lebaran.

Saya tidak akan bercerita secara detail tentang perjalanan mudik taun ini. Hanya akan sedikit menggambarkan bagaimana pengalaman 'get lost' di suatu tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Di hari pertama (15/08/2012) pukul 16.00 saya tiba kota di Purwokerto, setelah berangkat dari Cikarang jam 04.00,  sebenarnya tidak ada maksud untuk masuk kota ini, tapi karena ke-sok tauan saya yang tidak mau mengikuti papan berwana hijau di pinggir jalan, yang menunjukan arah ke kota Jogja, akhinya terdampar di kota ini. 

Tapi ketika tiba di pusat kota, saya teringat akan teman sewaktu kuliah kalau punya teman di daerah ini. Coba saya telpon, dan akhirnya teman saya yang bernama Aji ini ada di rumah, dan ga lama kemudian dia datang untuk menjemput di tempat saya menunggu. 

Karena udah lama tidak bertemu dan masih kangen, saya di anjurka utntuk menginap di sini. Cerita berbagai macam hal dengan Aji, sampai cerita tentang Baturaden yang kebetulan hanyak berjarak 5 km dari rumah Aji.

Jam 05,. sehabis bangun dan siap-siap berangkat kembali ke Jogja saya pamitan dengan Aji. Kali ini saya berencana menuju ke kawasan Baturaden. Berangkat masih dalam keadaan gelap dan dingin tidak menyurutkan semangat untuk menjelajahi tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya ini.

Memasuki kawasan Baturaden terlihat berderet beberapa tempat penginapan, vila, dsb. Mengingatkan saya akan Kaliurang, kawasan wisata di Gunung Merapi , Jogja. Ya cuma beda gunung saja, kalo di sini di kawasan Gunung Slamet. 

Jalan sepi dan tidak terlalu lebar bishop lalui dengan perlahan, semakin naik kelap kelip lampu kota Puwokerto pun terlihat dari sini. Dan ketikan subuh akan berakhir, Gunung Slamet mulai terlihat walaupun agak berkabut. dari berbagai sumbe yang coba saya rangkum, Gunung ini memunyai ketinggian 3.428 meter dpl, termasuk gunung tertinggi di Jawa Tengah. Untuk lokasinya yaitu Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten BrebesBanyumas,PurbalinggaKabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, (koordinat 7°14′30″LS,109°12′30″BT) . Sekilas banyak objek wisata yang bisa di kunjungi di sini, tetapi karena hari masih gelap saya melewatkan objek-objek tersebut. 

Saya hanya menikmati suasan kaki Gunung Slamet ini saja, dengan melihat aktifitas warganya, melihat sinar matahari yang akan perlahan muncul dari tempat saya dan bishop berhenti. Ini sudah cukup untuk merefresh fisik dan psikis saya sebelum menuju Jogja. Tak lupa dengan bermodalkan kamera poket dan tripot yang dibawa, saya abadikan momen-momen ini.

selama pagi
membuat tali dari bambu, untuk mengikat rumput yang akan dicari
narsis taiim..
petani lain
Alhamdulillah, saya sampai Jogja pukul 16.00 dengan selamat dan perjalanan single riding yang sangat mengasyikan tentunya, sedikit berbeda dengan berita di tivi tentang kepadatan dan serba serbinya arus mudik.


Minggu, 23 September 2012

Melintasi Tapal Kuda (bagian 3)

Di hari ke 4 ini, bangun tidur badan terasa segar kembali,  lebih nyenyak tidurnya dibandingkan dengan malam sebelumnya ketika tidur di "kulkas", hehe.. Setelah mandi, ngobrol ngalor ngidul dengan pemilik rumah, dan jamuan sarapan yang maknyus. Kami packing kembali untuk perjalanan selanjutnya. Pukul  9.00, setelah berpamitan dan mengucapkan terimakasih pada tuan rumah, bishop saya gas untuk mengantarkan kami ke tujuan berikutnya.

Kali ini kami akan mengunjungi nenek dari boncenger di Bondowoso. Masih di jalur Tapal Kuda, perjalanan pun lancar di lalui, karena ini jalan utama yang tentu saja petunjuk jalannya jelas. Memasuki kota Bondowoso setelah 45 perjalanan, ada hal unik yang kami lihat, masih adanya lori/kreta pengangkut tebu, sempat berhenti karena ada palang pintu ketika kereta melintas, sempat membaca name plate yang nempel di lokomotif kereta tersebut, berketerangan di buat oleh negara Jerman, tahun awal 1900an. Wah..udah tua juga ternyata ini kereta, tidak lama kemudian melewati gedung kuno, di depan gerbang bertuliskan PG Prajekan, pada saat itu saya menebak kalau PG itu kepanjangan dari Perusahaan Gula.


pengangkut tebu
Sampai di rumah nenek jam 10.30, di sini beliau tinggal sendiri, dan ketika kami datang beliau sedang asyik memasak. Walau sudah dipaksa tinggal dengan putra/putrinya beliau tetap bersi keras untuk tinggal dirumahnya, saya sendiri salut dengan nenek ini walaupun sudah berumur lebih dari 85 tahun ini tidak mau merepotkan orang lain dan terlihat sehat sekali. Lagi-lagi disini serasa di dunia lain dengan bahasa Madura yang nenek ucapkan, beliau sama sekali tidak bisa pakai bahasa lain, kami hanya menggunakan bahasa isyarat untuk bekomunikasi dengan beliau, sesekali perlu menggunakan jasa translater dengan menyeret tetangga untuk bisa mengerti apa yang di ucapkan nenek, hehe


nenek
Sehabis sholat Jumat, pamitan dengan nenek untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya, dengan sedikit memaksa, nenek menyuruh kami membawa bekal beberapa kue lebaran, telur rebus, dan tentunya doa semoga selamat sampai tujuan. Kemana tujuan kami selanjutnya?? Ya Taman Nasional Baluran yang terletak di Banyuputih, SitubondoJawa TimurIndonesia (koordinat 7°55'17.76"S dan 114°23'15.27"E) adalah tempat impian kami selanjutnya.

Masih mengadalkan Gmap di ponsel untuk menuju kesana, tidak ada kesulitan yang berarti untuk menuju kesana. Sampai jalur pantai utara Jawa, bishop di pacu lebih diatas rata2 karena jalan yang rata-rata lurus,   lagipula tidak terlalu ramai walaupun saat itu masih suasana mudik lebaran. Pukul 15. 15 kami berhenti di pinggir jalan, karena melihat tulisan  "Tn. Baluran"  lumayan besar, kami kira sudah sampai pada tujuan kami, tapi setelah mencari-cari gerbang masuk taman nasional itu, ternyata tidak di temukan. Setelah cari info lagi di internet lewat HP boncenger, ternyata kami harus menempuh beberapa kliometer untuk sampai kesana.


serasa dimana gitu 
Jarak 20 - 25 kilometer harus kami lalui dengan kanan kiri terlihat hutan dengan pepohonan yang tinggi  mengering, jalan antar provinsi nan lebar pun di libas bishop, lalu lintas saat itu lebih di dominasi oleh kendaraan besar, mengaharuskan bishop mengalah untuk berebut jalan. Pukul 15.45 akhirnya tiba di gapura bertuliskan "Selamat Datang Taman Nasional Baluran" . Tapi setengah terkejut, karena ada palang pintu yang menghalangi kami masuk, terlihat beberapa bangunan rumah disana yang mungkin buat kantor dari taman nasional pun tidak ada orang.


kering
Setelah berkeliling di sekitar situ, ternyata kami masuk di pintu yang salah, sekitar 50 meter dari gerbang pertama ternyata ada pintu masuk lagi. Langsung menemui petugas yang kebetulan masih bertugas, saya pun bertanya-tanya tentang taman nasional ini, beliau dengan antusias menjawab setiap pertanyaan, dan sesekali berganti bertanya kepada kami, sambil terheran-heran dengan cara menempuh taman ini, yaitu dari Jakarta dengan roda dua, hehe...


siap-siap melewati 12 km ke pos Bekol
Petugas menjelaskan, kami harus menuju pos Bekol dengan menempuh jarak 12 km, disana juga tersedia penginapan dengan harga Rp 35.000,-/orang, di kawasan ini tidak diperkenankan mendirikan tenda, dan kami merasa beruntung karena tempat menginap masih ada yang kosong. Disini juga ada Peta Wisata TN. Baluran, yang menvisualisasi tempat-tempat yang bisa di kunjungi dengan cara tempuhnya. 


mari kita pelajari lokasinya
Setelah menerima tiket masuk seharga Rp 2.500,-/ orang dan motor Rp 3.000,- , Kami segera menuju pos Bekol, dengan aspal yang tinggal batu-batunya, beberapa sudah bukan jalan aspal lagi, membuat kecepatan bishop di panteng 20 - 30 kpj, saat itu jalan ini sangat sepi sekali, hanya beberpa kali menemui tukang ojek yang menuju pulang mengantar wisatawan, sambil menikmati sekeliling jalan, yang tentu pepohonan yang sebagian mengering, sering melihat kawanan burung yang terbang dari asapal ketika kami melintas, dan sekali melihat hewan seperti monyet, tapi kali ini warnanya hitam legam, setelah saya tanyakan dengan petugas sesampainya di Bekol ternyata itu Lutung. Waah...kami merasakan sensasi berkendara yang berbebeda, serasa bukan di Indonesia, ya..kawasan ini emang terkenal dengan juluka Africa van Java. 


lukisan sore
sangat menikmati 12 km itu
Melihat odometer bishop kami hampir melalui 12 kilometer itu, tapi kami berhenti di suatu padang rumput yang mengering dengan pohon besar di tengahnya, tentu saja menarik perhatian dan wajib hukumnya untuk melakukan photo sesion, dengan  Gunung Baluran yang terlihat berdiri gagah di sini, suatu tempat yang belum pernah kami temui sebelumnya. Sampai akhirnya mendapat teguran dari petugas taman kalau motor tidak boleh masuk di savana ini. Oya,,yang tempat ini adalah Savana Bekol,  ada beberapa savana di sini dengan nama berbeda seperti yang dilihat di peta lokasi tadi.

welcome to Africaaaa...!
cheeers!
Setelah meminta maaf ke petugas, karena memang kami tidak tahu, bishop saya tarik menuju pos Bekol yang sudah dekat itut. Terlihat petugas, langsung kami hampiri untuk menanyakan beberapa hal, terutama masalah penginapan, di tunjukan sebuah rumah tingkat terbuat dari kayu untuk menginap kami, setelah membayar Rp 70.000,- kami diantar kesana untuk menaruh barang-barang, petugas tadi juga mengatakan kalau aliran listrik di sini hanya beroperasi dari  pukul 18.00 - 22.00, kata beliau juga kalau di tempat ini tidak ada warung makan, tapi kalo mau makan mie ada kantin di pos, sempat kaget juga mendengar itu, karena petugas di gebang utama tadi bilang kalau ada kantin, ternyata petugas kantinnya sudah pulang. Okelah,,,menu kita mala ini adalah mie instan, hehe..


Setelah unloading barang-barang, kami menuju menara yang menurut info dari petugas bisa melihat kawasan TN. Baluran dari atas sana, dan melihat terbenamnya matahari di belakang Gunung Baluran. Segeran menuju kesana, dengan menapaki beberapa anak tangga, berhasil membuat napas ngos-ngosan. Tapi semua itu hilang ketika mencapai menara pandang ini, dengan angin yang cukup kencang membuat rambut ini acak-acakan.


dari atas


sunset
jepret
Hari semakin gelap, segera  turun dari sini menuju pos lagi, ketemu dengan petugas lagi, ngobrol-ngobrol dengan beliau, ada hal yang menarik yang dikatakan bahwa kalau menjelang malam seperti ini, ada baberapa kawanan kerbau atau  banteng yang menuju ke kubangan air yang sediakan oleh pengelola taman ini untuk minum hewan-hewan tersebut, kebetulan kubangan itu letaknya tidak terlalu jauh dari pos ini.

Setelah menunggu beberapa lama ternyata yang di tunggu tidak muncul, ya mungkin belum saatnya kami melihat kawanan hewan itu. Tapi tidak menghilangkan daya tarik lain, setelah melihat awan yang yang berubah menjadi warna merah jambu, terlihat diatas Gunung Baluran, wuiiih.....

penjaga pos yang masih tersisa
lanngit merah jambu
Hari semakin gelap, perutmu terasa lapar, menuju kantin untuk membeli mie instan, kami kira ketika beli mie instan sudah siap saji, ternyata harus memasak sendiri di dapur umum yang ada di sini. Dapur dengan kondisi terlihat tidak terurus, tapi yang penting ada panci dan kompor gas di sini sudah membuat kami lega. Usai makan kami beranjak untuk istirahat.


mendadak master chef
Bangun jam 04.00 dengan situasi gelap gulita, karena seluruh lampu penerangan di sini padam, dengan alat penerangan yang di bawa, kami siap-siap untuk menuju pantai Bama, dengan maksud mendapatkan matahari terbit disana. Jarak pantai Bama dari pos Bekol adalah 3 kilometer. Ditengah kegelapan dinihari,  dengan hembusan angin yang lumayan kenceng, sampai suaranya terdengar sangat jelas mendesis angin disini, bishop dipacu dengan speed 20 - 30 kpj, karena kondisi gelap serta jalan yang rusak parah, harus extra hati-hati disini, jika tidak bebatuan sebesar kempalan tangan orang dewasa siap menggelincirkan siapa saja yag lewat sini. Sempat terpikir, bagaimana kalau ada hewan yang tiba-tiba lain, atau kejadian yang tidak di duga di tengah kegelapan ini, karena waktu itu hanya kami yang melintas, tapi pikiran itu saya buang jauh-jauh dan berganti dengan kenikmatan melaju di atas roda bishop.

Jam 4.45 tiba di pantai yang di maksud, lalu memarkir bishop, sempat clingak clinguk di sini, karena memang tidak ada orang yang bisa kami tanya, hanya mengikuti dimana bunyi desiran ombak yang begitu terdengar, akhirnya saya menemui pantai yang dimaksud, jarak tempat parkir dengan pantai sekitar 30 meter. Tadinya berpikir hanya kami ber dua di pantai ini, ternyata ada pengunjung yang tampaknya sudah bermalam di sini, tidak lama kemudian datang lagi 2 orang wisatawan mancanegara.


mulai terang
Boncenger siap dengan 'mainannya' untuk membidik sang surya yang sebentar lagi muncul, dan saya duduk manis melihat cahaya langit yang mulai tampak kebiruan dengan aksen warna orange. Jujur saja, ini baru kali pertama saya akan menyaksikan proses terbitnya matahari dari pantai, seakan tidak berkedip mata ini untuk menyaksikan pertujukan ini. Semakin lama biru tadi berubah menjadi lebih terang, saya kira akan melihat matahari yang bulat seperti yang pernah di lihat di foto-foto. Setelah menunggu beberapa tidak muncul, kami pun menuju parkiran untuk kembali ke pos Bekol.

Tapi ketika sampai parkiran, menengok kearah pantai, kami histeris karena melihat sesutau yang kami tunggu. Bulatan seperti kuning telur perhalan naik dari garis pantai, kami pun lari lagi ke pantai. Dan tidak henti-hentinya kami mengelurkan kata-kata yang tekesan norak, ketika melihat sesuatu untuk pertama kalinya. Tentu saja tidak lupa untuk mengabadikan momen-momen ini dengan kamera.






aku dataaaaaang!

Proses ini berlangsung setengah jam, sampai matahari meninggi, tidak terlihat kekuningan ataupun bulat. Setelah ini terlihat gerombolan monyet yang mencari makan, keluar dari hutan di sekeliling pantai, bibir pantai ini emang tidak terlalu lebar, selebihnya hutan yang mengelilinginya. Kami memperhatikan tingkah para monyet yang lucu, yang masih malu atau lari ketika didekati kami. Oya disini juga ada penyewaan alat snorkeling, cuma karena tidak ada pembibing untuk melakukan ini, saya urungkan kenginnan untuk bersnorkeing, karena memang belum pernah melakukannya sama sekali.


saya lebih melihatnya sebagai monyet yang lucu 
Saatnya kembali ke pos Bekol, setelah di kejutkan dengan tapak kaki monyet di jok bishop ditempat parkirnya. Jadi lain kali harus hati-hati parkir, untung saja kabel gas atau koplingnya tidak ditarik-tarik oleh makhluk kecil itu. 

Melewati jalan yang sama dengan suasana berbeda, ya tentu saja berbeda karena kali ini apa yang sebelumnya tidak terlihat, kini sangat jelas. Pepohonan, rerumputan, yang mencoklat, dengan gerombolan monyet dengan tingkah lakunya yang membuat saya tersenyum. Ditengah perjalanan ke pos Bekol berpapasan dengan motor, sepertinya itu adalah penjual yang akan buka lapak di pantai Bama, karena belum sarapan, kami pun balik arah ke Bama ditengah perjalanan untuk sarapan di sana.

Kembali lagi ke Bekol, sepanjang jalan kami di suguhi pemandangan yang belum pernah kami lihat sebelumnya, serasa bukan di Indonesia, julukan Africa van Java kiranya tidak berlebihan. Di sebelah kanan jalan adalah savana Bama, dan di kiri savana Bekol. Seketika saya teringat sebuah postingan di suatu blog (klik di sini untuk blog) , tentang perjalanan Ziggy Maley, Rohan Marley dan Robbie Marley di tanah kelahirannya, Afrika. Beberapa kali berhenti untuk sekedar melihat kawanan Kijang, Rusa , yang setiap kami dekati langsung berhaburan entah kemana. Di di savana Bekol kami berhenti lagi untuk mengambil beberapa photo, hamparan padang rumput kering yang luas dengan latar belakang Gunung Baluran sangat menarik hati untuk berlama-lama disini, matahari terik saat itu tidak membuat kami gerah, karena angin yang berhembus cukup kencang dan membuat rambut kami acak-acakan, hehe..


sebelah kanan savana Bekol, kiri savana Bama
manusia alien mendarat ke bumi
saking kencengnya angin berhembus
Sesampainya di pos Bekol kembali, siap-siap untuk kembali ke Jakarta. Sempat terpikir untuk menggunakan jasa paket untuk mengirim bishop ke Jakarta, atau menuju Tanjung Perak, Surabaya naik kapal laut dengan bishop pula. Karena pada waktu hari itu adalah sabtu (25/08/2012), sementara saya sendiri hari senennya sudah harus masuk kerja kembali. 


ini letaknya di pos Bekol juga, tapi jangan harap akan menemukan satu kepala yang aneh itu, ini hanya ada ketika kami disana
Pukul 11.00 kami meninggalkan Africa van Java ini, di tengah perjalanan rencana berubah dan tetap menunggangi bishop sampai Jakarta. Keinginan lewat jalur selatan pulau Jawa, tapi karena waktu yang memungkinkan maka saya memilih jalur tengah, karena dari jarak jalur selatan lebih panjang. Jalur yang kami tempuh untuk kembali ke Jakarta adalah : Baluran - Probolinggo - Mojokerto - Surakarta - New Selo - Temanggung - Purwokerto - Tegal - Cikarang  . Memakan waktu 2 hari untuk sampai Jakarta/ Cikarang, sempat bermalam di Mojokerto di hari sabtu dan di Wonosobo di hari minggunya. Hal yang unik di jalur ini kami melewati ditengah-tengah 2 gunung, yang pertama melewati diantara gunung Merapi dan Merbabu, dan yang kedua melewati diantara gunung Sumbing dan Sendoro. 


di Blabak, Magelang dengan kupat tahunya yang maknyus


minggu menjelang magrib, terlihat gunung Sumbing
Alhamdulilah sampai kembali di Cikarang jam 23.00 (27/08/2012) dengan selamat dan tentu pengalaman perjalanan yang sangat luar biasa. Terimakasih kepada Allah yang telah memberi kelancaran selama perjalanan ini, semua pihak yang membantu yang tidak bisa disebutkan satu-satu. Satu lagi mimpi yang terkabul untuk melakukan perjalanan di kawasan Tapal Kuda ini, sedikit betambah wawasan kami akan kekayaan negeri tercinta ini, khusunya dari segi budaya dan keindahan alamnya. Semoga selalu diberi kesehatan dan kemampuan untuk terus mengeksplore kekayaan ini dengan roda dua. 


Karena waktu itu masih suasana hari Lebaran, walaupun postingan cerita perjalanan ini telat launching karena beberapa hal, tapi tidak ada kata telat untuk mengucapkan Mohon Maaf Lahir Batin dari kami bertiga jika selama ini banyak kesalahan di dunia maya ataupun di dunia nyata :)
  


foto lebih banyak klik di sini.....



Senin, 17 September 2012

Melintasi Tapal Kuda (bagian 2)

Hari #3

Bangun jam 5 pagi, tidur nyenyak berlangsung 2 jam saja, saatnya untuk bersiap untuk turun menuju lautan pasir Bromo. Ketika akan kekamar mandi yang memang letaknya terpisah dari tempat kami tidur, melewati tempat parkir motor, di sini sedikit terkejut dengan apa yang di lihat, di atas jok motor terlihat kristalan berwarna putih, coba di dekati dan di raba, ternyata itu adalah embun yang sudah membeku. Ternyata benar, saya di dalam "kulkas" ini dan tidak sedang bermimpi.

tinggal nyari sirup :)
Setelah selesai bekemas kami pamitan dengan teman-teman Bakmi, yang rencananya akan mendaki Gunung Semeru pagi itu juga. Melewati jalan yang sama sampai pertigaan Njemplang, terlihat aktifitas pagi warga Tengger, bishop di pacu dengan kecepatan 30 kpj, sambil menimakti pagi yang indah itu. 
Sesampainya di Njemplang kami berhenti untuk melihat dari atas lautan pasir Bromo, terlihat begitu megah apa yang kami lihat, lautan pasir dengan di kelilingi perbukitan, dengan warna kecoklatan tumbuhan disana.

sebagian teman-teman Bakmi
sebelum berangkat kembali
Ranu Pani pagi
warga Tengger
dari atas
Setelah dari sini, kami menuruni jalan beton yang sebagian rusak menuju lautan pasir, setelah ini tiba saatnya roda bishop menggelindingkan ke pasir, kesan pertama bishop begitu sulit di kendalikan, roda seperti malas menapak dengan tetap, roda masuk kedalam pasir yang lembut, membuat bishop sangat kepayahan berakselarasi, sesekali handle gas di putar maksimalpun tidak membuat bishop beranjak, perlu bantuan dengan dorongan tubuh dari saya.

what a wonderful  road
deru deru debu
Hasil dari semua itu bishop akhirnya tersungkur ke pasir,  kami terlempar dari posisi duduk dari atas bishop. Tidak ada kerusakan atau cidera pada kami, karena emang laju bishop tidak kencang, terjatuh  memang karena bishop sulit dikendalikan di medan pasir seperti ini.

Berusaha membangunkan bishop dengan trik tertentu (nanti bisa dilihat photo dibawah tulisan ini), berat  bishop yang 140 kg lebih berhasil saya dirikan dengan mudah. Berhenti sebentar, sekedar untuk istirahat dan menangkan diri setelah jatuh tadi, tiba2 ponsel bedering, ada SMS masuk setelah di Ranu Pani memang tidak ada sinyal telepon sama sekali. SMS dari om Reza, salah satu penggiat forum Nusantaride yaitu forum di dunia maya untuk berbagi pengalaman berkendara dengan keindahan2 Nusantara di dalamnya, isi SMS tersebut memberi kabar kalau om Reza kemarin baru melintasi lautan pasir Bromo juga dan mengalami kerusakan pada motor beliau, yang mengakibatkan tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi, motor sampe harus di bawa dengan mobil.

sedikit trik
whispering sands
lebih baik mengalah daripada Jeep kedua menabrakmu :D
Dengan berita tersebut sedikit menjadi perhatian buat saya, tapi setelah di ceritakan ke boncenger, raut wajahya sedikit agak panik,hehe.. Setelah boncenger tenang, perjalananpun dilanjutkan, masih dengan situasi yang sama, berkendara dengan posisi berdiri di footstep juga saya lakukan pada waktu itu, tapi setelah beberapa ratus meter melaju, bishop ambruk lagi, tentu saja bersama kami untuk kedua kalinya.

Bagi saya seperti ini malah sesuatu yang fun, di selingi dengan senyum2,kadang tertawa kecil setelah behasil membangunkan bishop kembali. Tetapi ini tidak berlaku pada boncenger, apa lagi mengetahui barang kesayangannya, yaitu kameranya sedikit ada perubahan setelah jatuh ini, yaitu lensanya agak seret ketika di putar. Sampai boncenger ber ujar 'apa kita ikut Jeep aja?biar bishop juga ditarik Jeep itu?', saya hanya tertawa, dan saya jawab "ya udah di coba dulu, ntar kalo bener--benar sudah tidak bisa baru usulmu diterima.

Melaju kembali diatas pasir ini, kadang kami harus mengalah dan berhenti dengan Jeep yang lalu lalang di jalan yang sama, debu yang di hasilkan setelah Jeep lewat membuat jarak pandang terganggu. Akirnya kami sampe dan Ngadisari, terlihat gunung Batok dari sini, tapi kami tidak menuju ke gunung itu, lebih memilih naik ke arah Cemorolawang, dengan bermaksud mencari sarapan di sana. Tapi lagi-lagi, bishop terjatuh untuk ke tiga kalinya di pasir ketika beberapa meter lagi jalan naik ke Cemorolawang sudah tampak.

where am I?
Di sebuah warung makan di Cemorolawang, kami dengan lahap menyantap nasi goreng, setelah energi lumayan terkuras di lautan pasir tadi. Sehabis ini kami berencana untuk menemui om Reza di Pananjakan,  tetapi ada hal tidak di duga terjadi, ketika akan menghubungi beliau lagi, ponsel saya sudah tidak ada di tempat semula, alias hilang. Kemungkinan jatuh di lautan pasir bersama bishop tadi.

Kami urungkan niat ke Panajakan karena lost contact dengan om Reza, setelah diskusi mau kemana  setelah ini, kami pun sepakat untuk mengunjungi air terjun Madakaripura. Ya...kami tidak pernah merencanakan ketempat ini sebelumnya, hanya spontanitas saja, mungkin karena karena pada perjalanan sebelumnya ke Bromo objek ini terlewatkan, karena alesan keamanan pada waktu itu. Pada saat itu adalah musim hujan (bulan Desember 2011), menurut berbagai informasi yang diperoleh ada resiko banjir dan longsor jika mengunjungi air terjun pada musim hujan.

Jam 11 beranjak dari tempat makan, untuk menuju ke Madakaripura. Bermodalkan koordinat posisi  (S7.844590 - E113.017459tempat tujuan yang saya googling sewaktu makan tadi, bishop di arahkan menuju kesana. Walaupun sudah mempunyai koordinat tersebut, masih saja bertanya dengan penduduk sekitar ketika jalan yang di lalui terasa janggal, atau ragu-ragu. Menurut informasi yang kami tanyakan sebelumnya dengan orang yang kami temui, setelah pasar Lumbang belok kanan, disana pun ada petunjuk arah ke arah Madakaripura.

Setelah ini jalan yang kami lalui adalah yang sempit, perkiraan hanya 2 meteran dengan kanan kiri terliihat pohon Jati yang kering. Kami pun setengah ragu-ragu, benar tidak jalan yang di tempuh ini, karena untuk tujuan wisata sepertinya kurang memadai, paling tidak ada petunjuk jalan yang jelas, kami sampai bertanya beberapa kali dengan penduduk setempat untuk mecari tahu jalan menuju kesana.

beberapa kilometer setelah pasar Lumbang
patung Mahapatih Gajahmada

Satu jam perjalanan, akhirnya sampai di desa Sapih, kecamatan Lumbang, kabupaten Probolinggo, disinilah air terjun Madakaripura terletak. Terlihat arca/patung Mahapatih Gajahmada sedang berpose mengacungkan sebilah keris, beberapa meter dari patung itu terdapat loket tiket masuk Madakaripura. Membayar Rp 8000/orang, bishop langsung menuju tempat parkir. Disambut dengan remaja tanggung yang menawarkan untuk mencuci bishop, tapi kami tolak, dan tidak lama kemudian datang lagi pemuda yang menawarkan untuk menjadi guide mengantar ke lokasi air terjun, menurut guide tersebut dengan nada sedikit memaksa, bahwa jalur untuk menuju ke sana susah dan perlu di dampingi guide, tapi kami tolak juga tawarannya. Karena berpikiran pada waktu itu lumayan ramai dengan pengunjung yang lain, ya.. tinggal ngikutin yang didepan saja, lagi pula secara logika, mengikuti arah sungai saja karena air sungai besumber dari tumpahan air terjun Madakaripura.

Menurut informasi yang didapat, bahwa untuk ke air terjun dilalui dengan jalan kaki sejauh kira-kira 800 meter. Berjalan kai dengan melewati jalan setapak yang sudah dipaving walaupun sebagian sudah rusak, beberapa kali juga harus menyebrang sungai. Setengah jam perjalanan kemudian sumber ai terjun sudah tampak, pertanda jika sudah dekat dengan lokasi yang di tuju.

Lokasi ini tertutup bukit kecil, setelah melewatinya, disambut dengan tukang ojek payung dan guyuran air terjun. Woow..sungguh suguhan keindahan alam yang tidak kami duga sebelumnya, air mengalir dari tebing yang hijau, membentuk seperti tirai, deras mengalir. Kami memang sengaja tidak menyewa payung yang di tawarkan sebelumnya, untuk menikmati guyuran air ini. Plastik atau drybag sangat perlu  disini untuk melindungi alat elektronik.

Sehabis mengambil beberapa photo di sini, jalan lagi menuju sumber air yang lain, melewati tebing bebatuan yang licin tentunya, membuat kami extra hati-hati untuk melewatinya. Tapi semua itu terbayar dengan apa yang kami lihat setelahnya. Kami serasa berada didalam tabung raksasa, disalah satu tepi tabung itu mengalir air. Sungguh type air terjun yang kami belum pernah temui sebelumya, tentu saja terkagum kagum dengan ini semua. Dibawah terdapat seperti kolam dengan air berwarna hijau, mirip dengan  warna air di Green Canyon, Cijulang, Jabar. Oya.. konon Mahapatih kerajaan Majapahit Gajah Mada bertapa di sini setelah menjalankan tugasnya sebagai Mahapatih Majapahit.

tirai air

tabung itu


terkihat lebih tinggi
kolam tumpahan
Berangkat dari tempat parkir jam 16.15, kali ini tujuan kami adalah Jember. Kenapa Jember? boncenger pernah kuliah di kota ini, kami ingin berkunjung ke kerabat boncenger yang waktu kuliah tinggal disana. Dengan jalur rute Lumbang - Leces - Lumajang - Jember, bihsop di pacu mengikuti rute ini, tapi baru beberapa kilometer rasa ngantuk mulai menyerang, mungkin karena malamnya kurang tidur. Cari tempat untuk sekedar rebahan, ditemukanlah warung dengan kursi panjang didepannya. Disini saya baru tahu kalo kebayakan warga sini menggunakann bahasa Madura, setelah mendengar pemilik warung becakap-cakap dengan keluarganya. Agak asing bahasa ini, karena saya baru mendengarkannya. Tidur yang sebelumnya direncanakan, malah berganti asyik mendengarkan bahasa Madura yang unik ini, hehe..

pemilik warung
Setengah jam di sini, hari juga semakin gelap, pamitan dengan pemilik warung untuk langsung menuju Jember. Tidak banyak yang bisa di ceritakan di jalur ini karena memang hari sudah semakin gelap, setelah melewati Leces, aspal mulus kami temui di sini, lalu lintas lancar, dan udara terasa semakin dingin, tampak samar-samar Gunung Argopuro di kejauhan. Karena udah waktunya jam makan malam, saatnya mulai melirik pinggir jalan untuk mencari dimana ada warung makan, sepanjang jalan banyak temui penjual bakso, padahal kami menginginkan makan nasi. Didaerah Sumber Baru barulah ditemukan penjual sate, bishop berhenti disini.

Sehabis ini lanjut perjalanan lagi menuju Jember tentunya, jam 21.00 memasuki kota Jember, saya melihat kota ini untuk pertama kalinya, terlihat kota yang rapi dan teratur. Sampai di kecamatan Patrang,  boncenger mulai memberi aba-aba untuk merunkan speed bishop, karena menurutnya sudah dekat dengan rumah kerabatnya. Walau sempat kesasar, akhirnya sampai juga di kediaman beliau, sambutan yang ramah pun kami terima, diselingi dengan petanyaan dengan nada agak terkejut, "naik motor dari Jakarta?". Ya pertanyaan yang sering diterima ketika bertandang/mampir ketempat siapapun yang belum biasa melihat kami seperti ini (melakukan perjalanan dengan motor dalam jarak jauh).

Setelah beramah tamah, sementara boncenger bernosatalgia dengan pemilik rumah, saya pun undur diri untuk istirahat, di kamar yang telah disediakan.

bersambung...