Sabtu, 12 Mei 2012

5 days trip [Jkt-Bandung-Batukaras-Jogja-Merapi-Jkt] #5 day

Di hari ke-5 saatnya pulang ke Jakarta, di mulai dengan packing2 dan ngecek kondisi bishop, pertama distarter  agak susah lagi, walaupun akhirnya bisa hidup mesinnya. Timbul sedikit kekhawatiran kalo bishop trouble dijalan, tp ride must go on. Jam 5.30 pamit dengan bapak, ibu..dan dimulai lah perjalanan ke Jakarta.

Bapak packing oleh2 khas Trumpon
Jalur kepulangan adalah jalur utara jalurnya bis malam :) , jalur ini sebenarnya sedikit membosankan bagi saya, ga banyak yang bisa diceritakan dari sini, cuma berhenti beberapa kali di mini market saat haus, pengen leyeh2 meluruskan kaki, dan makan pun di sini, karena udah di bawain bekal sama ibu. Sempet berhenti juga di Pekalongan untuk membeli beberapa lembar baju batik, untuk oleh2.

jam 6.00 di Magelang, dan perjalanan pun dimulai

mini market
Jam 4.30 memasuki Cirebon, karena perut udah nagih untuk di isi, mampirlah di tempat makan yang menunya adalah makanan khas Cirebon, Empal Gentong. Selesai menyelesaikan makan, lanjut lagi perjalanan, keluar Cirebon malah ga sengaja lewat bukan jalur utama alias kesasar :) , tapi jalan menuju arah Majalengka. Tanya2 dengan orang di pinggir jalan, dan di arahkan menuju jalan utama arah Jakarta, tapi sebelum ketemu jalan tersebut bishop harus melewati jalan potong, yang melewati desa2, dengan sesekali pemandangan persawahan, karena waktu itu menjelang matahari terbenam, maka momen ini ga saya lewatkan dengan sering berhenti menikmati sunset di pinggir sawah.

arah Majalengka
enjoy de show with your drink 

Ketemu jalan utama, langsung gas mengikuti plat hijau yang menunjukan ke arah Jakarta, dan singkat cerita kami sampai kos Ciracas, jam 12 malam.
Sekian cerita perjalanan bishop, semoga berkenan. Alhamdulillah telah sampai tempat semula dengan selamat, terimakasih kepada semuanya yang telah membantu selama 5 hari perjalanan yang sangat berkesan ini. Sampai jumpa di cerita perjalanan Bishop selanjutnya.....

5 days trip [Jkt-Bandung-Batukaras-Jogja-Merapi-Jkt] #4 day

Bangun pagi, masih belum tau pasti bishop mau dibawa ke bengkel mana, coba cari info lagi dengan om Julianto, setelah dapat arahan dari beliau via telpon, maka ditentukan kalo bishop akan di bawa ke om Londo TRB. Karena kepikiran kalo bishop akan di tinggal di bengkel, maka saya ngajak Arifin untuk menemani supaya bisa pulang bareng kalo emang benar2 bishop ditinggal. 
Ambil bishop di penitipan motor, dan coba di starter dan bisa 'hidup' mesinnya, tapi saya ga mau ambil resiko dengan tetep mau bawa bishop ke bengkel, karena besoknya harus balik ke Jakarta, dan ga mau terjadi trouble dengan bishop saat kepulangan ke Jakarta.
Dari Tempel, langsung menuju Kalasan, Sleman. Sebenarnya belum tau pasti alamat bengkelnya, lewat jalur alternatif kalo mau ke Solo, yaitu : TempelPakemCangkringanKalasan, jalur ini di kanan kiri didominasi oleh perkebunan salak pondoh, dan udara sejuk khas pegunungan, maklum jalur ini dari puncak Merapi berjarak 13 -15 kilometer.
Sempet tanya2 lagi karena dari Kalasan masih nyari alamat bengkelnya. Dan akhirnya ketemu bengkelya, disambut oleh om Bambang TRB, dan ga lama sang om Londo muncul, sekedar informasi bahwa om Londo ini adalah mechanic yang cukup recommended, dan 'karya2'nya telah diakui oleh para penikmat roda 2.  
Tanpa basa basi om Londo langsung gecek kondisi bishop, emang masalah yang timbul kondisinya 'kadang2', dan kebetulan pas di cek om Londo, bishop malah ga trouble, kecurigaan sumber masalah adalah dari sistem kelistrikannya, dan waktu itu sama om Londo di cek dan lebih penanganan preventive, paling ga bisa nyampe Jakarta. Sebenarnya pengen sampe ketemu sumber masalah yang buat bishop kadang2 susah distarter, tapi karena waktu itu udah bisa hidup, dan besok saya harus pulang ke Jakarta. Maka bishop ga jadi saya tinggal di bengkel, dan segera minta pamit sama om Londo dan om Bambang. 

om Londo dan bishop :)
Saya dan Arifin sebenarnya sebelumnya sudah merencakan melakukan perjalanan dengan motor kembar kami :) tapi karena ada masalah dengan bishop jadi agak tertunda, dan karena hari masih siang maka kami bisa mewujudkan rencana kami. Setelah berembug, akhirnya disepakati tujuannya adalah gunung Merapi, tapi kali ini jalur Boyolali adalah pilihan kami, dan ini baru pertama kalinya bishop akan melewatinya. 

Jalurnya: 
Lihat Peta Lebih Besar

here we go...
no gps, tanya pencari rumput
Dan ketika memasuki daerah Selo berhenti karena mendapatkan spot pemandangan yang menarik, tapi sayangnya ketika akan mengambil gambar dengan kamera poket, ternyata low bat. Ahasil..dengan mengambil gambar dengan kamera HP jadul, dan harap maklum kalo hasilnya ga sesuai harapan, yang penting gambar ini menunjukan kalo cerita ini ga hoax,hehe..

awal memasuki Selo
Dan berhenti di suatu tempat, masih di Selo, terdapat tempat parkir, warung2, dan menara. Tempat ini di apit oleh dua gunung, yaitu Merapi dan Merbabu. Sambil menikmati segelas kopi, melihat pemandangan yang indah khas pegunungan, kami menikmatinya di selingi dengan obrolan penduduk setempat. Dan dari obrolan itu, kami jadi tahu kalo tempat ini adalah jalur pendakian ke Merapi satu2nya yang tersisa, setelah sebelumnya ada juga yang di Kinahrejo, tapi semenjak erupsi Merapi 2010, jalur pendakian yang di Kinahrejo rusak dan tidak bisa di gunakan lagi. Jarak tempat bishop parkir ke puncak merapi menurut penduduk 2,5 km, dan ke Merbabu 8 km. Merapi seperti tempat yang wajib saya kunjungi, hampir setiap mudik selalu mengunjunginya. Cerita bishop pertama kali ke Merapi bisa di cek disini : Napak tilas Merapi bag 1, dan foto2 tentang Kinahrejo yang pada waktu itu masih bisa di lewati jalur pendakian :Foto2 Kinahrejo

puncak Merapi terlihat jelas disini
Merbabu yg malu2 tertutup kabut
Hari semakin sore, sekitar satu jam kami disini, dan saatnya pulang. Melalui jalur yang berbeda seperti terlihat peta diatas, kami hampir mengelilingi Merapi. Dan skitar satu jam kemudian kami sampe dirumah.

jalan pulang masih dengan background merapi

Rabu, 09 Mei 2012

5 days trip [Jkt-Bandung-Batukaras-Jogja-Merapi-Jkt] #3 day

Hari ke 3 lebih banyak waktu dihabiskan untuk istirahat, becengkerama dengan keluarga, tetangga, teman yang ada di sekitar rumah. Oya..saya akan bercerita sedikit tentang desa tempat orang tua tinggal. Sebuah lokasi yang berada di dusun Trumpon, desa Merdikorejo, kecamatan Tempel, kab. Sleman, Yogya (koordinat: 7°37'7"S   110°21'41"Eini sebenarnya adalah sebuah desa  sedang dirintis dan dalam proses pegembangkan untuk desa wisata oleh Pemda Sleman. Untuk informasi detail tentang dusun Trumpon bisa googling dan ada beberapa link: gudeg.netdesawisatasleman.wordpress.com, melayuonline.com, dll.

pemandangan pagi di dusun Trumpon
Dan lanjut cerita tentang '5 days trip' lagi, di hari ke tiga pada siang hari saya berniat ketemu dengan adik yang tinggal di jalan Solo, Yogya dan muter2 kota Jogja, kebetulan ada beberapa titipan dari temen2 di Jakarta yang mau saya carikan di kota ini.

Dagadu Djokdja, di Jl. Pakuningratan 15 Yogyakarta
Tapi kenikmatan muter2 kota Jogja kali ini terganggu oleh 'ngambeknya' bishop, beberapa kali setelah diparkir dan akan di starter mesinnya mengalami masalah dan perlu waktu lama untuk bisa hidup mesinnya. Dan kebetulan pada hari itu adalah minggu, maka agak sulit untuk menemukan bengkel motor, maka muter2 Jogja kali ini terhenti oleh ulah bishop.
Sekitar jam 7 malem, kira2 kurang 5 kilometer dari rumah tepatnya di pasar Tempel, bishop tiba2 mati mesinnya, dan berulang2  distarter, di dorong pun tetep ga mau 'hidup'. Dan setelah saya cek sebisanya dengan alat seadanya, tetep ga ada hasilnya. Akhirnya saya telpon kakak saya untuk menjemput, dan bishop  di inapkan di penititipan motor yang kebetulan ga jauh dari lokasi.
Sesampainya dirumah saya ngobrol sebentar dengan kakak, dan kemudian dapet SMS dari temen untuk mampir kerumahnya yang kebetulan masih satu desa, untuk mampir kerumahnya, sebelumnya saya emang juga udah telpon dia untuk menanyakan tentang bengkel. Kebetulan teman saya ini, sebut saja Arifin juga punya motor yang sama persis type, modelnya dengan bishop.
Dan jadilah kami ngobrol ngalor ngidul sampe tengah malam, karena Arifin ini adalah pemilik ternak ayam potong dan kebetulan lagi ngurusin ayamnya, maka ngobrolnya dkandang ayam, hehehe...

dikandang ayam,xixixi...



Senin, 07 Mei 2012

5 days trip [Jkt-Bandung-Batukaras-Jogja-Merapi-Jkt] #2 day

Bandung, Pangandaran, Batu Karas, Banyumas, Purworejo, Yogyakarta
Dwi membangunkan saya tepat jam 12 malam, setelah melakukan persiapan, perjalananpun di lanjutkan. Saya dianter Dwi sampe jalan arteri menuju Tasikmalaya, Garut dan seterusnya. Sebelumnya Dwi sempet menujukan  gedung Sate, dan mengajak sarapan sebelum kami berpisah.

didepan gedung Sate
Lanjut lagi perjalanan sekitar jam 1 pagi, jalanan didominasi oleh kendaraan2 besar membuat bishop harus mencari celah2 supaya bisa melewati 'musuh'nya dijalan. Oya...tujuan bishop kali ini adalah menuju Pangandaran, karena ada temen Nusantaride yang lagi ada acara. Ketika subuh menjelang bishop telah sampe didaerah Banjar, dan ketemu sun rise disini *pengennya sih subuh udah nyampe pantai :)

sun rise di Banjar
Sekitar jam 8 pagi sampailah di Pangandaran, tadinya saya masuk ke pantainya, tapi sebelumnya telpon dulu salah satu teman Nusantaride, yaitu om Gunawan Mbot  yang sudah tiba dilokasi duluan, setelah telpon diketahui  ternyata lokasi nya bukan di pantai Pangandaran, tetapi di pantai Batu Karas. Dari Pangandaran langsung tancap gas menuju lokasi mengikuti petunjuk jalan yang ada, menurut petunjuk jalan juga bahwa Batu Karas masih 35 kilometer dari pantai Pangandaran.
Dan Jam 09.00 sampailah di pantai Batu Karas, dan dipantai saya ketemu om Reza salah satu penggiat Nusantaride senior, setelah ngobrol sebentar dengan beliau menujukan tempat menginap temen2 Nusantaride yang lain, sedangkan beliau lanjut mau membeli sarapan.
Ketemu penginapannya, ngobrol2 sebentar, saya langsung menuju pantai Batu Karas untuk melihat keindahannya.


Pantai lumayan ramai pengunjung, mungkin emang karena long weekend. Setelah menikmati dan bermain banana boat di pantai disini. Saya kembali ke penginapan dan disana sudah ramai oleh teman2 yang lain, ngobrol2 dengan beliau2 ini, dan om Reza memberi informasi kalo ada tempat yang patut dikunjungi selain pantai Batu Karas, yaitu pantai Batu Nunggul ((Lat: 7°44’57.53″S  Lon: 108°29’57.03″E) yang berada ga jauh dari batu Karas. Karena jalan akses ke pantai masih jalan setapak dan harus menaiki bukit, jadi pantai ini jarang di kunjungi dan membuat pantai ini lebih private dan masih alami banget.

jalan menuju batu Nunggul, motor ga bisa naik karena licin dan sempit  jalannya
akhirnya sampai
hidden beach
batunya
Sebenarnya belum puas menikmati pantai yang menurut saya masih 'perawan' ini, tapi karena masih ada perjalanan lagi ke Jogja, maka saya pun balik penginapan, siap2, dan pamitan dengan teman2 yang lain, maka berangkatlah ke Jogja. Sesuai rute yang sudah di posting sebelumnya, bishop saya arahkan ke rute ini. Karena rute ini adalah pertama kalinya maka, bishop saya pacu dengan kecepatan sedang, dengan di selingi bertanya kepada siapapun, ketika bishop kehilangan arah. Sempat berteduh karena hujan dan makan malam didaerah Banyumas. Sehabis makan, dilanjutkan lagi perjalanan, ga lama kemudian saya mampir dulu ke sebuah toko untuk membeli  oleh - oleh buat ibu saya. 
Setelah selesai transaksi di toko itu, dan packing oleh - oleh, ditempat yang sama, datanglah dengan sepeda onthelnya, seseorang yang menurut saya sudah berumur, dan cukup nyentrik. Karena rasa penasaran, dan saya hampiri beliau untuk bertanya2. Woow....ternyata beliau yang mengaku bernama Mbah Boncel asal Srandakan, Bantul, Yogya ini adalah 'pe-turing' juga, dengan sepeda onthelnya beliau sudah keliling Indonesia, dan mendapat sertifikat rekor MURI. Sekitar setengah jam saya ngobrol2 dengan beliau, yang semangat menceritakan perjalanannya waktu keliling Indonesia, dan menunjukan bukti/sertifikat kalo telah mengunjungi daerah2 di pelosok nusantara. Terlepas dari apa visi misinya, saya salut dengan mbah Boncel ini, walau sudah ber umur lanjut tapi masih semangat melakukan passionnya. 

mbah Boncel dengan onthelnya
Pamit sama mbah Boncel, tancap gas lagi menuju Jogja. dan alhamdulillah saya sampai rumah pada jam 12 malam, disambut oleh ibu yang sebenarnya sudah menunggu dari siang dan memasak menu spesial untuk anaknya :) * maap bu, datengnya kemalaman..

Minggu, 06 Mei 2012

5 days trip [Jkt-Bandung-Batukaras-Jogja-Merapi-Jkt] #1 day

Tepatnya 2 minggu setelah perjanan ke Danau Ranau saya merencanakan akan melakukan perjalanan ke Jogja. Dan karena waktu itu adalah long weekend, Jumat (06/04/2012) tanggal merah, maka saya mengajukan cuti untuk hari senin,dan selasa kebetulan jatah libur saya, maka 5 hari adalah waktu yang saya rasa cukup utnuk melakukan perjalanan ini. Dan perjalanan kali ini saya lakukan sendiri, tidak dengan boncenger, tukang photo, seperti biasanya :D

Lihat Peta Lebih Besar


Hari #1
Ciracas -  Jonggol - Waduk Cirata - Lembang - Dago, Bandung
Rute kali ini belum pernah bishop lewati sebelumnya, biasanya kebanyakan orang menyebutnya rute ini jalur selatan. Berangkat dari Ciracas sekitar jam 9 pagi setelah malamnya masih masuk kerja, tapi rasa kantuk serasa ga terasa ketika akan melakukan perjalanan ini. Dengan mengikuti jalur yang ditunjukan oleh GPS yang ada di HP android,  jalur2 yang diatur sebelumnya dilalui dengan lancar. Dan jam sekitar jam 11 bishop memasuki kawasan  waduk Cirata, dan bishop saya arahkan menuju kesana, memasuki sebuah desa, dan sampailah di bibir waduk, yang oleh penduduk setempat dimanfaatkan untuk tambak ikan.

tambak ikan
Lanjut lagi perjalanan, ga jauh dari tambak tadi, bishop berhenti lagi di PLTA Cirata, yang memanfaatkan waduk untuk pembangkit listrik

PLTA
Pemandangan asri dan hijau disekeliling waduk membuat efek sejuk walaupun saat terik matahari lumayan menyengat. Puas disini, lanjut lagi perjalanan. Memasuki Wanayasa terdapat situ (semacam danau kecil), karena perut sudah nagih untuk di isi, dan di depan situ ada tempat makan, berhentilah di tempat tersebut. Sehabis makan, efek ngantuk nya terasa apalagi malamnya saya masih kerja, jadilah tempat makan berubah fungsi menjadi tempat tidur yang nyaman.

makan terus tidur
Sekitar 1 jam saya disini, dan lanjut lagi. Langsung mengikuti jalur yang ditunjukan oleh google map yang di android yang dibawa. Ketika memasuki daerah Ciater hujanpun mengguyur lumayan deras, dan demi untuk kenyamanan riding perlengkapan anti hujanpun dikenakan.

masih mendung antara Ciater - Lembang
Antara  Ciater - Lembang pemandangan yang sebagian besar adalah kebu teh dikanan kiri jalan mengiringi perjalanan bishop. Dan diantara daerah ini kebingungan terjadi, saya sudah merasa mengikuti jalur yang ditujukan dilayar HP, tapi serasa ga sampe daerah yg dituju, kadang2 malah hilang jalurnya, dan kali ini 'get lost' beneran. Setelah hampir satu jam bolak balik, keluar masuk daerah yang tentunya sangat tidak saya ketahui, akhirnya saya memutuskan untuk merubah dari rencana jalur yang sebelumnya direncanakan, dan memilih untuk masuk kota Bandung.

get lost
Kali ini GPS ga saya gunakan lagi, dan lebih banyak bertanya kepada siapapun yang ditemui saat saya bingung arah jalan yang akan di tuju. Keluar dari Lembang, saya berpikir tujuan selanjutnya adalah Garut dulu, setelah bertanya beberapa kali orang dipinggir jalan, disarankanlah menuju arah Dago, Bandung. Sebenernya saya bener2 masih buta akan daerah ini, tapi salah satu kenikmatan perjalanan adalah ketika mengetahui daerah2 baru, dan kesasar,hehe..
Dan saat magrib menjelang bishop melewati jalan naik turun khas perbukitan, setelah beberapa kilometer baru saya sadari bahwa jalan yang saya laluin adalah jalan Dago, Bandung. Dan tanpa sengaja saya lihat plang tulisan "Politeknik Manufactur Negeri Bandung" saat itu juga langsung teringat dengan salah satu kawan yang bernama Dwi, kebetulan dia pernah kerja praktek (magang) di tempat kerja saya. Saat itu lapar sudah melanda, maka berhenti lah disuatu tempat makan, sambil mencoba menghubungi Dwi yang kuliah di Politeknik tersebut.
Tempat kos Dwi tidak jauh dari tempat makan saya, dia menjemput dengan Vespanya yang kemudian mengajak mampir ke tempat kosnya. Niat saya emang mau istirahat/tidur dulu, sebelum melanjutkan perjalanan lagi. Setelah berpesan kepada Dwi untuk membangunkan tidur jam 12 malam, sayapun tertidur nyenyak.

Dwi menjemput di jalan Dago



poto2 lebih banyak klik disini