Our Riding Ware

Senin, 03 Oktober 2011

NAPAK TILAS PASCA ERUPSI 2010 (bag.1)

Waah..baru sempet update blog saya lagi. Perjalananya ini saya lakukan ketika mudik lebaran 2011, saya mudik dengan Bishop dan boncenger, tepatnya pada Jumat, tanggal 26 Agustus 201, berangkat dari Jakarta jam 2.30 dini hari. Dan sampe Jogja sabtu,17 Agustus 2011 skitar jam 23.00, lama juga yak? :)  Sekedar info ini adalah mudik pertama menggunakan roda 2 dengan menempuh jarak 600 km sekali jalan :)


subuh di daerah Karawang-Bekasi

kebanyakan istirahat, makanya JKT-Jogja 20 jam :)


                                                       

Posting kali ini saya ga akan nulis detail tentang perjalanan mudik (ntar kepanjangan :D ) Tapi tentang 'kunjungan' saya dengan Bishop ke daerah pasca erupsi Merapi taun 2010 lalu.
Well... bermula dari kedatangan teman dari Jakarta yang ingin ke Merapi dan mencoba 'mainan' barunya yaitu kamera Nikon D 90. Sesuai saya jemput sang teman distasiun Tugu, Yogya. Balik sebentar, mandi,sarapan dan persiapan lalu tancap gas Bishop menuju arah Merapi. Kebetulan rumah saya ga terlalu jauh dari merapi. Kalo diliat dari google map, dan ditarik garis lurus desa saya ke merapi jaraknya 13 km. 
Jalan kaliurang adalah akses yang saya pilih menuju kesana, tujuan kami pertama adalah daerah Kaliadem, sebelum kesana kami melewati kali Bendo yang saat erupsi menjadi akses material muntahan merapi.

kali Bendo


Bishop @ kali Bendo
Dan sesi foto2 dimulai *sebenarnya saya sudah berusaha untuk tidak mengikuti aliran narsisme, tp karena 'paksaaan' dari sang tukang poto ya..apa boleh buat?!hahaha..

 Setelah puas melakukan poto2 kami pun melanjutkan perjalanan ke tujuan semula. Setelah menemui tanda arah ke arah Kaliadem saya pun mengarahkan Bishop kesana.
 Setelah jalan skitar 3 km kami ketemu dengan jembatan, tapi kondisi jembatan itu sudah patah, karena terjangan material muntahan erupsi Merapi yang dasyat itu. Berhenti lalu , ambil foto2nya lalu mencoba mencari jalan lain menuju tujuan kami.




melongo meliat ketinggian jembatan


terbang ga ya...*&^%$&%$
Setelah mecoba - coba dan sempet kesasar, akhirnya menemukan jalan menuju kebenaran..eh ke Kaliadem. Disambut dengan tulisan "Kuburan massal 40 m lagi" saya pun yakin kalo dijalan yang benar :D

Sampailah kami di area bekas perkampungan yg habis oleh muntahan erupsi Merapi..

Serasa dejavu akan setaun yang lalu ketika erupsi, saya waktu itu menyempatkan pulang dari Jakarta untuk membujuk orang tua untuk tinggal sementara di Jakarta, pada waktu itu desa saya sudah kosong, dan sudah tidak beraturan pohon2, dan benda2 yang tidak kuat menahan berat abu, pasir yang turun terus menerus selama beberapa hari. Kondisi desa saya setelah pasca erupsi : klik disini.
 Sehabis dari sini kami meneruskan perjalanan, ga tau kearah mana tp gas Bishop aku tarik menuju utara kearah Merapi.


menuju utara
Sampailah kami pada suatu tempat dimana para pengunjung yang mau ke Kaliadem berhenti disini dengan kendaraannya. Oya..ada penyewaan mobil jenis Jeep untuk bisa kesini juga.


Menurut seorang bapak yang tiap hari standby di lokasi ini, tempat ini lebih tinggi 2 - 3 meter dari sebelum erupsi karena muntahan material erupsi yang menimbunnya. Lalu saya nanya "motor bisa naik lagi, pak?" beliau jawab "wah..bisa tapi medannya sulit, cuma jalan setapak dan itupun berpasir dan berbatu". Masih keterangan dari beliau, kalo ujung dari jalan itu adalah ujung dari Kaliadem, yang merupakan percabangan kali Opak dan kali adem.
Saya makin malah tambah penasaran untuk bisa kesana dengan Bishop. Dan...akhirnya saya putuskan untuk kesana :) Pertama mengelindingkan agak kaget juga, ban Bishop agak kerepotan, dan agak susah menyeimbangkan berat motor + boncenger di medan ini :)

ga tau saya harus menyebut gaya berkendara apa ini :)

watdehel!!ini jalan berbatu, ato batu berjalan?
Setelah melewati jalan jahanam itu sekitar 5 km kami berhenti sebentar sambil istirahat, ditempat ini terdapat seperti piramid terbuat dari bambu, setelah diperhatikan, diatas piramid terdapat tampungan air hujan, yang airnya disalurkan ke bambu2 penyangga yang telah dibentuk dan ditanamin bibit tanaman. Mungkin untuk penghijaun dan tanda suatu tempat, karena setelah erupsi hampir ga ada tanaman yang tumbuh, dan dibuat piramid yang tinggi untuk tanda.

piramid
Istirahat skitar 30 menit, ambil foto2 dan lanjut perjalanan lagi, baru jalan skitar 1 km ada tanjakan sekitar 1,5 meter dengan kemiringan 90 derajat. Weleh...udah deh mentok disini Bishop mengantarkan majikannya :D

sampai disini

Karena penasaran dengan namanya ujungnya kaliadem, yang jg bercabang yang namany kali Opak. Bishop diparkir, dan berjalan menuju ujung kali.

menuju utara mencari kitab suci eh,,ujung kali
Karena alesan keselamatan diri, saya tidak lanjutkan jalan kakinya sampe ujung sungai, medan yang dilalui yang bepasir dan batu tidak tau kapan longsor saat kaki menginjaknya, itu yang jadi pertimbangan saya.

alesan kenapa menghentikan langkah *belum nikah euy :D



Wuaah..kayaknya harus ada istilah 'to be continued' posting kali ini, krn abis ini mau lanjut ke desa Kinahrejo, tempat alm. mbah Marijan...

sang boncenger + potograper


klik disini untuk lanjut ke 'Napak tilas pasca Merapi bag.2'

Tulisan ini, Pemenang Lomba Ekspedisi Cincin Api Periode IV (Maret-April 2012)

6 komentar:

  1. maknyus *kata pak Bondan
    kebanyakan kata "saya"nya orang sunda nya?

    BalasHapus
  2. makasih sarannya :)
    saya teh orang jogja :D

    BalasHapus
  3. ditunggu kenarsisan bishop selanjutnya..^_^. getting lost is the art of adventure..

    BalasHapus
  4. @etsentio : bishop : bajaj item suyut hutomo punya!hahaha..ga dink, itu nama tokoh salah satu film..
    @Dreamy Backpacker : penunggang bishopnya ditunggu ga? :P

    BalasHapus
  5. kalo yang itu gak perlu ditanya lagi.. :P

    BalasHapus