Jumat, 21 Oktober 2011

NAPAK TILAS PASCA ERUPSI 2010 (bag.2)

Okelah..lanjut ke penulusuran pasca erupsi selanjutnya, setelah ga kesampaian sampai ujung sungai, tujuan selanjutnya adalah dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, kecamatan Cangkringan, Sleman. Yang pada saat itu menjadi pusat perhatian ketika erupsi Merapi terjadi, karena sang juru kunci alm. Mbah Maridjan tinggal disana, dan meninggal dunia ditempat yang sama saat terjadi erupsi.
Menuruni trek yang berbeda saat naik kearah Kaliadem ternyata lebih susah untuk seorang new bie seperti saya, selain harus menyimbangkan badan di medan berpasir, berkali harus nge-rem, menahan berat motor yang emang sudah berat, ditambah boncenger, ga jarang slip pun terjadi, tapi alhamdulillah ga sampe jatuh, horeee! :D

akhirnya sampe jalan keluar Kaliadem dg trek 'jahanam'
Berhenti sebentar di sebuah warung minuman, seperti melihat oasis dipadang pasir karena kehabisan bekal minum, untung ga sampe minum bensin :D

Bishop....kamu haus juga?

Setelah puas melepas dahaga, dan melepas asap (baca:merokok) :D Bishop lansung di gas menuju tujuan, ga berapa lama sampailah di Kinahrejo, setelah menempuh 5-7 km dari Kaliadem tadi. Kawasan ini sudah seperti tempat wisata baru, dan udah dikomersilkan :D Bishop langsung diarahkan ketempat parkir yang ada. Untuk bisa mencapai kediaman alm. mbah Marijan, disediakan ojek dengan membayar 20 ribu PP, ato nyewa motor 50 ribu untuk 30 menit, komersil kan? :D
Kami memilih jalan kaki untuk kesana, karena saya tau kalo jarak kesananya ga terlalu jauh, ga sampe 1 km. Tapi lumayan menguras keringat, karena harus beberapa tanjakan yang curam :D
Sebelum jalan ke tempat bekas kediaman alm. mbah Maridjan, kami bertemu dengan seorang bapak, yang tiba berhenti dan mengajak ngobrol, saking asyiknya ngobrol sampe lupa nanya nama beliau. Beliau bercerita panjang lebar, dari proses relokasi warga setempat pasca erupsi sampai tentang semasa hidupnya mbah Maridjan. Terlihat dari raut wajahnya ga ada beban pikiran yang terlalu mendalam, Walaupun beliau kehilangan tempat tinggal, sumber nafkah, harus memulai lagi dari nol. "saya tetep nyantai walaupun sapi saya 3 mati semua, rumah ga ada bekasnya, semua itu sudah ada yang ngatur, saya tetap besyukur" ujarnya dalam bahasa jawa yang sangat kental. Ada kata2 beliau yang selalu saya ingat: "uwong niku dereng cukup nak dereng cungkup" dalam bahasa Indonesia : orang itu belum cukup kalo belum cungkup (baca : cungkup adalah rumah untuk orang mati). Saya seperti di ingatkan untuk tetap bersyukur ketika beliau berbicara sperti itu, apa yang terjadi di desa saya tidak ada apa2nya dengan apa yang harus penduduk Kinahrejo dan sekitarnya rasakan. Makasih atas 'bonus' perjalanan yang didapat dari bapak berkaos partai pada saat itu.


"uwong niku dereng cukup nak dereng cungkup"


Baiklah...lanjut jalan kaki ke arah utara lagi melewati beberapa tanjakan, setelah kurang dari 1 km jalan kaki sampailah di rumah alm. mbah Maridjan yang sekarang tinggal dikasih tanda atau dalam bahasa jawa disebut 'tetenger' , bahwa tempat ini adalah tempat alm. mbah Maridjan dulu tinggal, dan ga jauh dari situ terdapat bangkai mobil Suzuki APV, yaitu satu2nya mobil yg digunakan evakuasi pada saat itu.

'tetenger' kediaman alm. mbah Maridjan


bangkai APV


Disebelah 'bangkai' mobil APV dipampang semacam baligo yang menceritakan kronologis tentang mobil tersebut. Kurang lebih tulisan tersebut :
26 oktober 2010
Jam 17.30
Agus wiyanto, Tutur priyanto (relawan PMI) dan Yuniawan (wartawan Vivanews) tiba di Kinahrejo untuk memberi tau warga bahwa telah terjadi erupsi Gunung Merapi ke arah barat. saat itu warga Kinahrejo,tampak ayem tentrem tidak mengetahui adanya ancaman tsb.
Jam 18.15
sirene taanda bahaya berbunyi, saat itu warga sedang menjalankan solat magrib. Mobil Suzuki APV, menjadi satu2nya kendaraan yg digunakan utk mengevakuasi warga Kinahrejo, krn keterbaasan kendaraan evakuasi, banyak warga yg tdk terangkut
Jam 18.40
Setelah menrunkan warga di barak pengungsian di Umbulharjo, Tutur dan Yunawan kembali naik menuju Kinahrejo utk menyelamatkan lbh bnyk warga.
Jam 19.30
Tutur Priyanto dan Yunawan gugur bersama mobil evakuasi(ditempat ini) halaman rumah mbah Maridjan, diterjang awan panas dlm upaya menyelamatkan lebih bnyk lagi nyawa manusia.

Seperti kisah heroik di filim yak?yang sudah jarang di temukan di kehidupan nyata. Sudah lumayan sore, jam tanganku menunjukan jam 4 sore. Segera bergegas turun. Menuju parkiran, jemput Bishop dan turun...

parkiran

Turun gunung dengan Bishop via jalan Kaliurang, dengan perut keroncongan tujuan berikutnya adalah tempat makaaaan! :)
Bishop langsung saya arahkan ke daerah Pandowoharjo, Sleman, Yogya untuk menikmati menu2 jamur. Sampai kami di Jejamuran pas magrib. Solat sambil pesen makanan sate jamur dan makaaan :)
Setelah kenyang dan istirahat agak lama, si boncenger yg dari Jakarta itu ingin menikmati suasana kota pada malam hari, sebagai 'tukang ojek' saya turuti saja maunya :p
 Menuju Tugu, sebagai icon Jogja, dan dia mengambil beberapa gambar disini.



Lelah muter2 Jogja, yang lumayan macet kalo musim mudik pada saat itu. Mending ke angkringan aja duduk sambil menikmati kopi joss, yang letak angkringannya di sebelah stasiun Tugu , bukan di Sarkem lho ya :) Wah ternyata sudah rame banget, untuk nyari tempat parkir agak susah, walaupun akhirnya ditemukan tempat yang nyaman buat Bishop :)Kurang lebih satu jam disini, kami memutuskan untuk pulang. Saya antar sang boncenger kerumah saudaranya untuk menginap disana. Dan saya sampe rumah sekitar jam 22.00.Itu aja RR (riding report) yg mampu saya ketik dengan segala kekurangannya.


Makasih sang boncenger Neni Apriyani, yg sudi jauh2 dr Jakarta untuk menjadi potograper perjalanan ini :) mengambil setiap momen, dan semoga bisa di publish di blog mu atao apapun itu, biar dunia tau kalo Jogja tetep Istimewa :)












Senin, 03 Oktober 2011

NAPAK TILAS PASCA ERUPSI 2010 (bag.1)

Waah..baru sempet update blog saya lagi. Perjalananya ini saya lakukan ketika mudik lebaran 2011, saya mudik dengan Bishop dan boncenger, tepatnya pada Jumat, tanggal 26 Agustus 201, berangkat dari Jakarta jam 2.30 dini hari. Dan sampe Jogja sabtu,17 Agustus 2011 skitar jam 23.00, lama juga yak? :)  Sekedar info ini adalah mudik pertama menggunakan roda 2 dengan menempuh jarak 600 km sekali jalan :)


subuh di daerah Karawang-Bekasi

kebanyakan istirahat, makanya JKT-Jogja 20 jam :)


                                                       

Posting kali ini saya ga akan nulis detail tentang perjalanan mudik (ntar kepanjangan :D ) Tapi tentang 'kunjungan' saya dengan Bishop ke daerah pasca erupsi Merapi taun 2010 lalu.
Well... bermula dari kedatangan teman dari Jakarta yang ingin ke Merapi dan mencoba 'mainan' barunya yaitu kamera Nikon D 90. Sesuai saya jemput sang teman distasiun Tugu, Yogya. Balik sebentar, mandi,sarapan dan persiapan lalu tancap gas Bishop menuju arah Merapi. Kebetulan rumah saya ga terlalu jauh dari merapi. Kalo diliat dari google map, dan ditarik garis lurus desa saya ke merapi jaraknya 13 km. 
Jalan kaliurang adalah akses yang saya pilih menuju kesana, tujuan kami pertama adalah daerah Kaliadem, sebelum kesana kami melewati kali Bendo yang saat erupsi menjadi akses material muntahan merapi.

kali Bendo


Bishop @ kali Bendo
Dan sesi foto2 dimulai *sebenarnya saya sudah berusaha untuk tidak mengikuti aliran narsisme, tp karena 'paksaaan' dari sang tukang poto ya..apa boleh buat?!hahaha..

 Setelah puas melakukan poto2 kami pun melanjutkan perjalanan ke tujuan semula. Setelah menemui tanda arah ke arah Kaliadem saya pun mengarahkan Bishop kesana.
 Setelah jalan skitar 3 km kami ketemu dengan jembatan, tapi kondisi jembatan itu sudah patah, karena terjangan material muntahan erupsi Merapi yang dasyat itu. Berhenti lalu , ambil foto2nya lalu mencoba mencari jalan lain menuju tujuan kami.




melongo meliat ketinggian jembatan


terbang ga ya...*&^%$&%$
Setelah mecoba - coba dan sempet kesasar, akhirnya menemukan jalan menuju kebenaran..eh ke Kaliadem. Disambut dengan tulisan "Kuburan massal 40 m lagi" saya pun yakin kalo dijalan yang benar :D

Sampailah kami di area bekas perkampungan yg habis oleh muntahan erupsi Merapi..

Serasa dejavu akan setaun yang lalu ketika erupsi, saya waktu itu menyempatkan pulang dari Jakarta untuk membujuk orang tua untuk tinggal sementara di Jakarta, pada waktu itu desa saya sudah kosong, dan sudah tidak beraturan pohon2, dan benda2 yang tidak kuat menahan berat abu, pasir yang turun terus menerus selama beberapa hari. Kondisi desa saya setelah pasca erupsi : klik disini.
 Sehabis dari sini kami meneruskan perjalanan, ga tau kearah mana tp gas Bishop aku tarik menuju utara kearah Merapi.


menuju utara
Sampailah kami pada suatu tempat dimana para pengunjung yang mau ke Kaliadem berhenti disini dengan kendaraannya. Oya..ada penyewaan mobil jenis Jeep untuk bisa kesini juga.


Menurut seorang bapak yang tiap hari standby di lokasi ini, tempat ini lebih tinggi 2 - 3 meter dari sebelum erupsi karena muntahan material erupsi yang menimbunnya. Lalu saya nanya "motor bisa naik lagi, pak?" beliau jawab "wah..bisa tapi medannya sulit, cuma jalan setapak dan itupun berpasir dan berbatu". Masih keterangan dari beliau, kalo ujung dari jalan itu adalah ujung dari Kaliadem, yang merupakan percabangan kali Opak dan kali adem.
Saya makin malah tambah penasaran untuk bisa kesana dengan Bishop. Dan...akhirnya saya putuskan untuk kesana :) Pertama mengelindingkan agak kaget juga, ban Bishop agak kerepotan, dan agak susah menyeimbangkan berat motor + boncenger di medan ini :)

ga tau saya harus menyebut gaya berkendara apa ini :)

watdehel!!ini jalan berbatu, ato batu berjalan?
Setelah melewati jalan jahanam itu sekitar 5 km kami berhenti sebentar sambil istirahat, ditempat ini terdapat seperti piramid terbuat dari bambu, setelah diperhatikan, diatas piramid terdapat tampungan air hujan, yang airnya disalurkan ke bambu2 penyangga yang telah dibentuk dan ditanamin bibit tanaman. Mungkin untuk penghijaun dan tanda suatu tempat, karena setelah erupsi hampir ga ada tanaman yang tumbuh, dan dibuat piramid yang tinggi untuk tanda.

piramid
Istirahat skitar 30 menit, ambil foto2 dan lanjut perjalanan lagi, baru jalan skitar 1 km ada tanjakan sekitar 1,5 meter dengan kemiringan 90 derajat. Weleh...udah deh mentok disini Bishop mengantarkan majikannya :D

sampai disini

Karena penasaran dengan namanya ujungnya kaliadem, yang jg bercabang yang namany kali Opak. Bishop diparkir, dan berjalan menuju ujung kali.

menuju utara mencari kitab suci eh,,ujung kali
Karena alesan keselamatan diri, saya tidak lanjutkan jalan kakinya sampe ujung sungai, medan yang dilalui yang bepasir dan batu tidak tau kapan longsor saat kaki menginjaknya, itu yang jadi pertimbangan saya.

alesan kenapa menghentikan langkah *belum nikah euy :D



Wuaah..kayaknya harus ada istilah 'to be continued' posting kali ini, krn abis ini mau lanjut ke desa Kinahrejo, tempat alm. mbah Marijan...

sang boncenger + potograper


klik disini untuk lanjut ke 'Napak tilas pasca Merapi bag.2'

Tulisan ini, Pemenang Lomba Ekspedisi Cincin Api Periode IV (Maret-April 2012)