Our Riding Ware

Kamis, 21 Agustus 2014

3 in 1 Day Trip w/ Akmal #Candi_Abang

"Om..yuk adventuran kayak om gitu, kemana kek..aku pengen ke candi, tapi selain Borobudur dan Prambanan" celetuk Akmal

Belum genap satu jam saya tiba dirumah setelah melakukan perjalanan mudik (klik disini untuk cerita perjalannanya), keponakan dari Bogor yang lebih dulu tiba di Jogja, mengajak untuk bepergian ke suatu tempat. 

Ajakan keponakan yang baru saja masuk SMU ini saya sanggupi. "Tapi setelah lebaran aja yak" jawab saya  tanda sanggup. Saya merasa senang juga karena keponakan saya mempunyai antusias untuk travelling, adventuran atau apalah disebutnya, berpergian di alam terbuka, menikmati udara yang masih segar tentunya lebih baik dari pada menikmati gas freon hembusan dari mesin pendingin di pusat perbelanjaan. Selain efek lain yang cenderung akan menjadi konsumtif jika sering bepergian ke mall

Lebaran hari kedua Akmal menagih janji, dengan semangat pula dia segera bersiap saat pagi tiba. Saya sudah merencanakan suatu tempat sesuai yang di maksud Akmal, pergi ke suatu candi yang konon peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. 

Letaknya tidah begitu jauh dari rumah orang tua tempat kami singgah selama mudik di Jogja. Masih satu kabupaten yaitu Sleman. Berbekal informasi dari google, saya arahkan peta yang di ponsel untuk menuju lokasi. Tepatnya berasa di dusun Candiabang, Kelurahan Jogotirto, kecamatan Berbah (koordinat: 7°48′37″LS 110°28′12″BT)

Di zaman yang serba memanfaatkan teknologi ini tidak terlalu sulit untuk menemukan lokasi. Eiiits..tunggu dulu, kami sempat berputar-putar didaerah Berbah, karena saat tiba ditujuan  google map sedikit menyimpang. Bertemu dengan salah satu penduduk setempat untuk bertanya lokasi candi Abang, dengan ramah dan berbahasan jawa penduduk tersebut menjelaskan arah kesana dengan bahasa tubuh, menggerakan tangan sebagai isyarat belok kanan atau kiri.

Ternyata lokasinya sudah tidak terlalu jauh, tidak ada petunjuk yang biasanya berbentuk papan, kami benar-benar mengandalkan informasi dari penduduk tadi. Memasuki jalan offroad  dan sedikit menanjak menanandakan lokasi semakin dekat, karena menurut informasi, letak lokasi candi Abang ada diatas bukit.

Akhirnya kami menemukan petunjuk papan yang menerangkan jika candi Abang tinggal berjarak 100 meter lagi. Melewati jalan semakin terjal, berbatuan kapur dengan sekeliling pepohonan kayu jati. Membuat bishop saya pacu pelan saja.

kurang 100 meter lagi
dalam 100 meter
touchdown
Tiba di lokasi padang rumput dengan beberapa kambing sedang digembalakan, entah di mana sang pengembala. Berjalan, melihat-lihat lokasi ternyata letak candi berada beberapa meter dari tempat saya memberhentikan bishop. 

Dengan sedikit menanjak, kami berjalan kaki menuju lokasi candi. Sempat tengok kanan-kiri, bertanya dalam hati, dimana candinya? Tampak disana seperti gubuk, duduk dua orang wanita yang sudah tampak berumur. Ternyata mereka lah si pegembala kambing-kambing tadi. Saya hampiri, dan bertanya tentang candi Abang. menurut keterangan dari ibu-ibu tersebut, jika candi yang dimaksud apa yang dilihat dihadapan, yaitu gundukan menyerupai bukit, dengan hamparan rumput dipermukaannya. Jika baca artikel-artikel tentang candi ini, disebutkan jika menyerupai bukit Teletubies, yang sering terlihat diacara serial televisi. 

mengobrol dengan pengembala kambing
ternyata ada jalan menuju pinggir candi dengan motor
itu dia candinya!!
Ternyata bukit itu tadinya adalah tumpukan batu bata merah yang dibentuk meyerupai pyramid. Kami pun menuju puncak candi ini, disana terlihat bagian candi memang terbentuk dari susunan bata merah, karena posisi lebbih tinggi, sebagian kota Sleman terlihat dari sini, barisan bukit Gunung Kidul tampak juga. 
(informasi lain candi Abang bisa klik di sini)

Akmal sampai atas
dan mengerti kenapa disebut candi Abang
Hari yang cukup cerah, angin sepoi-sepoi membuat kami sedikit betah disiini. Sampai akhirnya kami meninggalkan lokasi setelah kurang lebih satu jam lamanya disini. Karena akan melanjutkan perjalanan lagi. Oya masih ada dua lokasi lagi yang kami kunjungi, itu mengapa judul postingan ini 3 in 1 Day Trip

dari atas
masih dari atas
pemandangan lain 

travel mate
bersambung.........










Rabu, 13 Agustus 2014

Sepenggal Cerita dari Selatan Jawa

Terbangun dipagi hari (26/04/2014) saat hujan belum reda, saya beranjak dari penginapan di kawasan pantai Pangandaran setelah menempuh perjalanan dua hari saru  malam menempuh rute Cikarang-Cidaun- - Pangandaran melewati pinggir pulau Jawa selatan, bersama seorang teman bernama Dadang.

Kami berpisah di Pangandaran sore harinya, untuk kemudian Dadang menuju Cirebon, kampung halamannya. Ya, perjalanan kami ini memang dalam rangka pulang kampung alias mudik dalam rangka hari raya Idul Fitri, 2014. Saya sendiri akan melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta, kota tujuan mudik. Karena disana lah orang tua saya tinggal.

Cerita perjalanan ini saya mulai saat dari Pangandaran sampai Jogja, karena cerita dengan rute Cikarang-Pangandaran akan dibuat oleh Dadang. Saya sendiri setahun sebelumnya menempuh rute yang sama dan pernah menuliskannya di blog ini pula. (klik disini untuk cerita perjalanannya)

Gerimis tidak berhenti menemani saya mulai dari Pangandaran, memakai celana tahan air serta membiarkan jaket tetap dipakai, karena bahannya kedap air untuk hujan ringan.

Baru menempuh jarak sekitar 13 kilometer dari Pangandaran, saya temui petunjuk mengarah ke suatu pantai. Pantai Karapyak di sebutnya. Jalan pedesaan berbatu kapur, dikombinasi dengan aspal berlubang menyambut. Masih gerimis, lengkap dengan kabut pagi menambah mengigilnya tubuh ini. Tapi tidak begitu masalah, suasana pagi membuat saya tetap semangat berkendara.

Benar saja, hanya berjarak 4 kilometer dari papan petunujuk tadi, saya temui hamparan laut luas, hanya berjarak 10 meteran dari aspal jalan. Bishop saya dekatkan kebibir laut, yang dibatasi dengan tanggul berbeton.

touch down
Pantai Karapyak yang berada di desa Bagolo, kecamatan Kalipucang pagi itu masih tergolong sepi, entah karena masih terlalu pagi, saat itu saya tiba dipantai ini pukul tujuh. Berderet rumah warga menghadap ke pantai, beberapa juga tampak penginapan kelas melati, tidak banyak warung makan/minum disini, suasananya masih sangat asri.

Beberapa tempak duduk terbuat dari beton juga tersedia, langsung menghadap ke laut lepas. Tapi sangat disayangkan ulah tangan jail, mencoret beberapa tempat duduk ini dengan cat semprot, sedikit menganggu keindahaan pantai. Mirip taman kota, dengan hamparan rumput gajah nan hijau menambah betah jika berada disini.

'karpet hijau' dan deburan ombak










“I think one travels more usefully when they travel alone, because they reflect more." ― Thomas Jefferson



Stop Vandalisme!:
 photo 25copy_zpsc2227c56.jpg
Jika saja tidak sedang gerimis saya akan berlama-lama disini. Hanya sekitar setengah jam dsini, perjalanpun dilanjutkan. Saya memang berniat dan penasaran untuk menelusuri jalan paling pinggir selatan Jawa. Ketika Google map menunjukan percabangan jalan, saya sempat berhenti untuk menengok kembali peta di layar ponsel. Jika kekanan akan menjauhi pinggiran Jawa, sedangkan ke kiri adalah mendekati ke laut selatan Jawa. Baiklah, saya mantap memilih belok kiri.

salah satu pemandangan setelahdari pantai Karapyak
Jalan aspal sudah tidak ditemui lagi disini, berganti dengan bebatuan kapur, sedikti licin karena hujan yang turun, beberapa kali ban bishop slip ketika saya mengeremnya. Kadang juga berganti jalan tanah merah. Terdengar suara ombak terdengar dari seberang tebing yang tertutup pepohonan. Sementara jalan semakin menyempit, melihat kedepan radius seratus meter. terdapat jalan setapak dan menanjak, Bishop pun saya berhentikan, dengan jalan kaki mendekat ketanjakan tersebut, untuk memperkirakan apakah bisa dilalui oleh Bishop.

balik kanan setelah melihat jalan didepan
Ternyata jawabnya 'tidak', dengan berat kosong Bishop yang mencapai 140 kilograman, jalan setapak dengan kemiringan sekitar 30 derajat, serta bertanah licin serasa tidak mungkin melewatinya. Memang jalan ini berbatasan tebing, yang jika saya melongoknya sudah terlihat hamparan laut selatan.

Masih ditemani gerimis, saya balik arah. Ternyata tantangan baru di depan mata, ketika sebelumnya saya melewati sebuah turunan dengan kondisi jalan tanah merah, biasanya disebut tanah keramik karena saking licinnya. Tentu saja ketika balik arah, menjadi tanjakan yang menguras energi untuk melewatinya.

Saya turun dari jok, menuntun Bishop diawal tanjakan, menarik handel gas dengan sedikit mendorongnya, tetap saja roda tidak bergerak maju sedikitpun hanya berputar-putar ditempat, sementara spakbor depan sudah terisi penuh oleh tanah, semakin menghambat laju roda.

Sampai akhirnya berhenti sejenak untuk sekedar mengambil nafas, dan memikirkan bagaiman bisa melewati tanjakan dengan kemiringan sekitar 25 derajat penuh tanah ini. Suara ombak dan kicauan burung sedikit menenangkan, ada rasa panik sedikit sebelumnya karena saya disini seorang diri, jauh dari pemukiman.

Tool kits saya keluarkan dari tank bag untuk mencopot spakbor depan, dengan tujuan agar memperlancar laju roda yang sudah penuh dengan tanah diantara ban dan spakbor depan. Terus terang saya belum pernah melakukan mencopot spakbor, setelah dicoba ternyata melepas baut dibagian dalam spakbor tidak mungkin dilakukan, jika tidak melepas roda depan terlebih dahulu.

Situasinya semakin sulit karena tempat berdiri bishop dipenuhi tanah untuk mencopot ban depan tentu saja akan kehabisan tenaga. Kepikiran untuk menghancurkan paksa spakbornya. Entah datang dari mana, saya mendapatkan ide untuk mengurangi tekanan angin ban depan dan belakang, konon bisa menambah traksi atau daya cengkram antara ban dan tanah. Setelah dikurangi tekananya, saya coba usaha mengeluarkan bishop dari tanjakan ini, dan akhirnya berhasil.

akhirnya bisa keluar
ada yang pesen donat?
Diujung tanjakan sambil nafas tersendat-sendat, saya bersyukur bisa keluar dari tanjakan jahanam itu. Dan mengambil pelajaran, bahwa tantangan dipejalanan diberikanNya bedasarkan batas kemampuan dari tiap-tiap orang yang diberi tantangan.

Menyusuri kembali jalan yang lebih layak karena terdapat beberapa pemukiman. hujan semakin deras, dingin membuat semakin mengigil, saya sadar bahwa jaket yang saya kenakan sudah dari kemarin terkena hujan dan airnya mulai meresap menyentuh kulit. Sambil mencari tempat kosong untuk ganti jas hujan dan berteduh sejenak. Akhirnya saya menemukan teras bengkel otomotif yang sedang tidak beroperasi. Hampir menghabiskan setengah jam disini, untuk ganti kostum dangan jas hujan dan perlengkapan lainnya supaya kedap air.

meneduh
perlengkapan kedap air 
Hujan tidak reda juga, perjalananpun dilanjutkan. Masih di kecamatan Kalipucang- Cilacap. Melalui jalan pedesaan berkendara ditengah rintik hujan sambil mendengarkan lagu kesukaan yang bergema didalam helm merupakan kesenangan tersendiri bagi saya. Oya sebelumnya google map navigasi saya arahkan ke pulau Nusa Kambangan. Ya..saya sudah merencanakan ketika diperjalanan untuk mendatangi pulau yang terkenal sebagai tempat beberapa Lembaga Pemasyarakat berkeamanan tinggi di Indonesia. Pulau tersebut juga kadang di juluki 'Alcatraz' nya Indonesia.

seberang sungai adalah pulau Nusa Kambangan
Hamparan sawah padi terlihat luas, berbatasan dengan sungai lebar menuju laut. Sedangkan di seberangnya lagi terdapat dataran. Jika melihat google map di ponsel, saat posisi saya berada, dataran yang terlihat itu adalah pulau Nusa Kambangan. Baru pertama kalinya saya berada disini. Tidak seperti bayangan saya sebelumnya,  ketika dahulu pernah mendengar tentang pulau ini. Sebelumnya saya kira,  dari mulai pinggir pulau sudah dipagari layaknya penjara-penjara yang pernah saya lihat.

Sampai akhirnya laju roda bishop terhenti ketika saya melihat papan besar bertuliskan "Pelabuhan Penyebrangan Majingklak" setelah mengambil foto di depan gerbang pelabuhan, saya beranikan untuk masuk ke kawasan ini. Disambut seorang wanita, jika dilihat dari penampilannya beliau adalah seorang ibu rumah tangga.

didepan gerbang pelabuhan
"Permisi bu, boleh saya tanya-tanya?"  saya membuka percakapan setelah melepas helm
"Oh..silahkan, mau tanya apa, mas?"jawab ibu itu menyambut hangat
"Begini bu, kalo saya mau ke Nusa Kambangan apakah benar bisa melalui pelabuhan ini? saya bertanya lagi.
"Iya benar, mas. Tapi coba saya tanya bapaknya (suami ibu tersebut)" seusai menjawab, beliau menuju rumah disebelah pos, sambil memanggil suaminya.
Tidak lama, sang suami keluar  sambil mengajak saya masuk kedalam rumah tersebut, kata bapak tersebut "supaya enak ngobrolnya"

disambut
Adalah bapak Abdullah yang mengajak saya masuk sebuah rumah seukuran kira-kira enam puluh meter persegi. Tampak masih dalam perbaikan, pak Abdul juga menjelaskan diawal obrolan jika ini adalah rumah dinas yang baru dibangun untuk menjalankan tugasnya sebagai pengawas di PT. ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyebrangan). Beliau sudah mengabdi di ASDP sekitar 11 tahun, berpindah-pindah tugas di beberapa provinsi termasuk pernah bertugas di Papua. Beliau kelahiran dan besar di kota Bandung, dari logat bahasanya sudah bisa saya tebak sebelumnya.

Setelah mengutarakan maksud saya, pak Abdul menjelaskan jika ingin menyeberang ke pulau Nusa kambangan dapat menggunakan perahu yang bisa disewa seharga kisaran empat puluh sampai lima puluh ribu rupiah. Untuk mencapai pulau itu memakan waktu tidak lebih dari setengah jam. Jika ingin kembali, tinggal hubungi aja operator perahu yang disewa tadi via telepon, makan akan dijemput kembali. Pak Abdul menjelaskan segala sesuatu info yang saya butuhkan secara detail. Sambil ditemani kopi panas, obrolan pun semakin hangat.

Hujan juga tidak semakin reda, malah deras. Pak Abdul bercerita panjang lebar. Saya merasa menjadi pembawa acara talk show tokoh inspiratif. Kenapa demikian?saya lebih banyak mendengarkan cerita dari pak Abdul tentang berbagai hal. Bahwa ternyata beliau punya hobi mengendarai motor yang lebih umum di sebut touring dengan berbagai komunitasnya. Tapi sudah ditinggalkan hobinya tersebut, sekarang lebih sering masuk keluar hutan dengan menggunakan motor jenis trail yang beliau modifikasi/membuat sendiri.

Keahlian meracik jenis motor trail yang dari awalnya motor bebek atau batangan biasa ini, akhirnya beliau memutuskan untuk mendirikan bengkel modifikasi di kecamatan Kalipucang ini. Dengan merekrut pemuda-pemuda yang awalnya menganggur, bengkel tersebut bisa menajadi lahan nafkah bagi para pemuda yang bekerja disana. Beliau sendiri tidak ber-orientasi pada keuntungan materi atas bengkel itu. Baginya, bengkel itu sudah bisa beroperasi, bisa menyalurkan kegiatan postif dilingkungannya sudah cukup. Sungguh niat yang mulia.

bersama pak Abdul
Sudah satu jam lebih saya bersama pak Abdul, hujan juga malah semakin deras. Sedangkan waktu sudah menunjukan hampir pukul 12 siang. Saya memutuskan untuk tidak menyeberang ke pulau Nusa Kambagan karena lasan cuaca dan waktu. Mungkin lain waktu bisa mempunyai kesempatan lagi kesana. Sayapun berpamitan dengan pak Abdul beserta istri seraya mengucapkan banyak terimakasih atas informasi dan kehangatan sambutannya.

Mengingat waktu yang semakin siang, saya fokus untuk samapi Jogja hari ini. Rute yang ditempuh selanjutnya adalah Kalipucang-Cilacap-Kebumen-Jalan Daendels-Yogyakarta. Alhamdulillah saya tiba dirumah orang tua (Tempel-Sleman) saat waktu menunjukan pukul sembilan malam.
Bapak dan Ibu, maafkan anakmu yang pulang telat (lagi).

melewati daerah Kawunganten, Cilacap. Tidak serasa sedang mudik. Tidak macet. 
masuk kota Kebumen, dan melewati perbukitan itu
istirahat dipinggir jalan Daendels
ba'da magrib melewati kota Ambal-Kebumen, menyantap makanan kesukaan yaitu sate Ambal,
 warung milik pak Kasman


**********











Minggu, 22 Juni 2014

Sudah Jatuh, Tertimpa Motor Pula

Alarm dari handphone tidak terdengar saat terbangun pagi Sabtu (24/05/2014), rencana akan berangkat pukul  03.00 dinihari pun telat hingga kami berangkat ketika jam tangan menunjukan pukul 05.00 pagi. Sudah lama saya tidak merasakan syndrome pra perjalanan, biasanya indikasinya susah tidur sebelum berangkat melakukan perjalanan. Tapi malam itu saya tidur sangat nyenyak. 

Saat melaju diawal-awal kilometer masih bingung mau lewat jalur yang mana, antara jalur utara Jawa atau selatan. Masih teringat 2 minggu sebelumnya, ketika saya pulang ke Jogja dengan menggunakan bis, masih banyak perbaikan jalan di jalur Pantura. Akhirnya saya memetuskan lewat selatan. 

Entah kami akan kemana, tapi yang jelas nantinya sampai Jogja, mampir di rumah orang tua, setelah disana baru menentukan mau kemana lagi. Kami punya waktu 6 hari untuk perjalanan kali ini setelah mengabil jatah cuti 2 hari, ditambah libur tanggal merahnya.

pagi di Jonggol
Sarapan bubur Cianjur:
 photo buburcopy_zpsd1ccefe0.jpg

Saya dan Neni yang duduk manis di jok belakang melewati rute Cikarang-Jonggol-Cianjur tidak mengalami hambatan berarti, cuma terlihat matahari sudah mulai naik, menandakan bahwa kami kesiangan ketika berangkat. Tapi tak mengapa, toh kami tidak terburu-buru untuk menikmati perjalanan ini. Sekitar pukul 08.00 kami tiba di kota Cianjur, seketika berhenti ketika melihat penjual bubur ayam. Dan melakukan ritual sarapan disini. 

Melanjutkan rute selajutnya, Padalarang-Cimahi dan Bandung, panas menyengat matahari semakin terasa, apalagi kemacetan di jalan Soekarno-Hata, Bandung sudah dimulai. Kecepatan Bishop tidak bisa dipacu kencang, harus beberapa berhenti karena berebut jalan dengan kendaraan lain, dan juga lampu merah yang memaksa saya menarik tuas rem.

Masih dijalan Soekarno-Hatta, saya melihat motor yang tidak asing, lengkap stiker logo suatu forum komunitas sepeda motor. Dia adalah om Adrian salah satu ketua chapter, Prides. Sempat mengobrol sebentar ketika lampu merah menyala, bahwa tujuan beliau akan melakukan perjananan ke arah timur, Surabaya-Madura bahkan samapai Bali jika waktunya cukup, katanya. Sesudah lampu hijau menyala, dengan Kawasaki 250 cc nya, om Adrian melesat hilang ditengah kemacetan, karena memang sudah ditunggu salah satu rekannya yang akan bersama melakukan perjalanannya.

Mungkin karena semua berpikiran bahwa jalur utara akan menimbulkan kemacetan seperti yang kami pikirkan, dan memilih jalur selatan. Maka yang terjadi malah sebaliknya. Kami harus selap-selip diantara mobil, truk dan bis. Kawasan Nagreg yang penuh tanjakan juga tidak luput dari antrian panjang kendaraan, karena kendaraaan berat/besar kepayahan menanjak. Sekitar jam 12 siang, kami baru keluar dari Nagreg. Segera mencari tempat makan siang. Kemacetan ternyata membuat perut kami semakin kencang berkeroncong.

Macet dimana-mana:
 photo macetcopy_zpsa7ed6c46.jpg

Setelah kenyang dan isitirahat di rumah makan yang berlokasi selepas Nagreg, perjalanan dilanjutkan menembus teriknya sinar mentari. Walau tidak sampai dehidrasi, kami beberapa kali untuk sekedar beli air minum, sekalian numpang istirahat di terasnya.

Tepatnya disebuah minimarket daerah Ciamis dengan tidak disengaja, tiba-tiba datang dua sepeda motor, salah satunaya adalah om Adrian yang ketemu di Bandung tadi, diikuti dengan om Salum. Walaupun belum pernah betatap muka dengan om Salum secara langsung, tapi kami pernah ber inetraksi lewat forum Prides-Online.com maupun di media sosial. Sambil isitrahat, om Salum bercerita, ketemu om Andrian setelah kesasar beberapa kilometer dari jalan seharusnya, maklum saja ini pertama kali beliau menyusuri jalur selatan jawa ini.

Selanjutnya kami sepakat untuk berkendara bersama, karena arah tujuannya sama. Cukup menyenangkan berkendara dengan mereka, sebelumnya beberapa kali saya pernah ikut turing bersama dengan komunitas Prides. Tidak seperti yang sering saya lihat, ketika beberapa klub/komunitas motor berkonvoi, dengan meminta jalan ke pengguna jalan lainnya, menghidupkan sirene/lampu strobo, atau meperlihatkan arogansinya. Oya..di Prides ini juga, jika ada anggotanya mengunakan atau memasang sirine/strobo, dan sudah diperingatkan tetap mengunakannya akan di non-aktifkan ID-nya  (banned) dari forum online.

Walau kedua nya mengendarai motor berkubikasi lebih besar (250 cc) dari Bishop, kami bisa membuat group riding dalam satu irama dan ritme, walaupun bishop cukup kewalahan meladeni ketika menikmati kecepatan roda di atas rata-rata, ketika jalan raya memungkinan untuk menambah kecepatan. Beberapa kali Neni berucap, "udah, pelan-pelan saja" mencoba memperingatkan ketika saya sudah menarik trotel gas maksimal.

dengan 250cc:
 photo duetninjacopy_zpsb4cd9bd7.jpg

Selepas magrib, tiba di Purwokerto kami berpisah, karena saya dan Neni akan menuju Wonosobo, dan om Adrian serta om Salum akan ke Jogja via Kebumen-Purworejo.

Malam semakin menjelang, bishop diarahkan ke Banjarnegara lalu Wonosobo. Kami memang merencanakan bermalam didaerah pegunungan sekitar Wonosobo, karena kami sudah membawa lengkap peralatan berkemah.

Rencana yang diangan-angan seketika buyar ketika kecelakaan menimpa kami. disekitaran jalan raya Banyumas - Banjanegara, kejadiannya begitu cepat terjadi ketika Bishop sudah berbaring, dan menimpa tubuh kami. Setelah disadari kejadian itu akibat saya berpindah jalur, karena didepan kami jalannya dialihkan akibat adanya pengerjaan perbaikan jalan. Karena jalan disini kurang penerangan, ketika Bishop pindah jalur, ternyata tinggi permukaan jalan tidak rata, selisih sekitar 10 centimeter, akibatnya  roda depan tergelincir dan saya tidak bisa mengendallikannya.

Berdatangan beberapa orang sekitar, dari penduduk sekitar sampai pekerja proyek jalan. Mereka berusaha menolong kami, dengan memindah bishop kepinggir jalan. Salah satu warga juga ada yang mebawa air minum dan berusaha menenangakan keadaan. Setelah saya bertanya keadaan Neni, sedikit memar dibagian lutut, tapi dia bilang "gak papa" sedikit membuat saya lega. Sementara saya sedikit menahan sakit di lutut kaki, setelah melihatnya ternyata lutut sudah terluka dan celana sobek di bagiannya yang sama. Saat itu memang kami tidak memakai alat pelindung dibagian tubuh itu. Bagian siku tangan terlindungi karena jaket Respiro Bravent yang kami kenakan sudah terdapat pelindung terbuat dari karet bersertifikasi CE.

Tidak lupa saya memeriksa keadaan Bishop, terlihat setangnya sudah tidak pada bentuk normal lagi. Tak begitu masalah karena mesin masih bisa menyala. Kami istirahat sambil mengobati luka yang dilutut. Terdengar obrolan di kerumunan waarga, salah satu orang berkata: "jika kecelakaan seperti ini sudah terjadi sekitar  lima kali". Apa???berkata dalam hati saya menyela, pengerjaan proyek seperti ini tidak diberi rambu-rambu atau penerangan yang cukup, memang cukup efektif memberi 'jebakan' setiap pengguna jalan ketika melintas pada malam hari.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan, untuk selanjutnya mencari tempat makan malam. Tidak lama kemudian, menemukan warung nasi goreng dipinggir jalan. Makan malam disini sambil berunding, rencana setelah ini dengan keadaan tubuh yang mulai lelah dengan sedikit luka, dengan kedua alasan itu, maka kami memutuskan untuk menginap, jika menemukan penginapan. Setelah menyelesaikan makan, kami bergegas, untuk mencari tempat beristirahat. Di kota Banjarnegara, kami mendapatkan penginapan, dan istirahat disini

Pagi pukul 06.00, terbangun, segera menyiapkan untuk keberangkatan ke kota selanjutnya. Melewati kota Wonosobo, kami disuguhi pemandangan pengunungan, jalan yang kami lalui serasa diapit oleh dua gunung besar, yaitu Sumbing dan Sindoro, tampak jelas dipandangan kami gunung tersebut menjulang, walau kadang-kadang awan menyelimutinya. Udara segar, hari cerah memnambah semangat kami untuk berkendara, walau kadang menahan sakit luka di lutut ketika menginjak pedal rem, tapi rasa itu hilang ketika kami dengan riang berhenti, mengambil tripot, dan mengabadikan dalam kamera dengan latar belakang gunung Sindoro ataupun Sumbing.

gunung Sindoro nan gagah
Neni tampak mungil sekali :D
Sampai kami temui, gerbang bertuliskan "Welcome to Posong". Nama Posong beberapa kali saya baca lewat artikel. Daripada penasaran, kami masuk jalan yang mirip jalan menuju suatu kampung. Kami di cegat beberapa pemuda kemudian menyerahkan karcis tanda retribusi masuk kawasan ini, tiket seharga lima ribu rupiah kami bayar. Layaknya dataran tinggi, jalan menanjak kami lalui, dengan pemandangan persawahan tembakau.

pintu masuk Posong
Masih jalan menuju Posong :
 photo DSC_0892copy_zpsbc880179.jpg
Jalan terdiri dari batu yang ditata rapi, walaupun permukaan tidak mulus, tapi relatif mudah di lalui, beberapa kali kami juga menemui pengunjung mengendarai motor jenis matik. Jarak 3 kilometer dari pintu gerbang tadi sudah dilewati, kami tiba di parkiran pengunjung kawasan Posong ini. Terlihat terdapat gazebo, yang digunakan untuk beristirahat atau  melihat pemandangan di lokasi ini.

Oya..tempat ini menurut dari berbagai sumber informasi, adalah tempat atau pos yang digunakan pangeran Diponegoro, salah satu pahlawan kemerdekaan, ketika terdesak dari pasukan Belanda kala itu. Pangeran Diponegoro mendirikan beberapa pos di desa Tlahab, kecamatan Kledung ini. Posong ini menurut cerita kependekan dari kata Pos Kosong, alias pos yang sudah tidak digunakan lagi.

Kami tidak lantas menuju gazebo untuk istirahat, tetapi dari parkiran kami menyaksikan hamparan luas persawahan sepanjang mata memandang. Sayang sekali setengah dari gunung Sumbing tertutup awan, sedangkan gunung Sindoro tidak tampak sekali karena awan juga. Terdapat jalan setapak, ditengah-tengah persawahan. Setelah tanya petani tembakau yang kami temui, jika jalan ini bisa dilewati sepeda motor, tapi tidak bisa sampai bawah, alias buntu.

Tapi tidak merubah keinginan saya untuk turun kebawah bersama Bishop, sementara Neni tidak ikut, tetap memotret lansdkap di dekat parkiran. Tapi..apa yang terjadi??ketika melewati turunan pertama, Bishop tidak bisa dikendalikan, memanfaatkan engine break ataupun menekan dalam-dalam rem depan dan belakang tidak berpengaruh, Bishop terperosok bebas, kedua ban tidak ada traksi sama sekali terhadap tanah yang memang licin sehabis hujan.

nyungsep
Kanan jalan terdapat seperti sungai kecil buat pengairan sawahpun jadi pembehertian Bishop, dengan posisi ban depan dibawah, mungkin bisa di istilahkan "nyungsep". Sebelum akan masuk sungai saya sempat lompat dari Bishop, sehingga masih diberikan keselamatan diri. Beberapa petani yang tidak jauh dari lokasi, mendekat ke bishop, berusaha membantu menarik Bishop dari sungai. Tidak bisa dibayangkan jika tidak ada para petani yang membantu, sangat mustahil menarik Bishop yang berbobot sekitar 150 kg berdua dengan Neni. Kami mengucapkan banyak terimakasih kepada bapak petani tersebut setelahnya.

setelah jatuh, tetep turun
Sindoro malu-malu tertutup awan
Setelah mengecek keadaan bishop, dan mencobanya sebentar melewati sisa jalan persawahan ini. Ternyata, rangka bishop tidak lurus lagi, terlihat antara roda depan dan belakang sudang menyimpang. Segera memutuskan untuk segera meninggalkan tempat ini, dengan pertimbangan waktu, sehingga kami bisa tiba di Jogja tidak terlalu sore dan bisa ke bengkel buat perbaikan Bishop.
sebenarnya lukanya kecil, tapi lumayan terasa nyeri ketika mengijak pedal rem:
 photo DSC_0948copy_zps8140dff9.jpg

Melewati kota-kota selanjutnya, Parakan-Temanggung-Secang-Magelang akhirnya kami tiba dirumah orang tua yang berada di kecamatan Tempel, kabupaten Sleman sekitar pukul 15.00. Karena kondisi tubuh yang serasa remuk setelah jatuh sebanyak 2 kali, saya lebih memilih menghubungi tukang pijat langganan ketika sampai rumah, daripada pergi ke bengkel.


bersambung.....


















Kamis, 01 Mei 2014

Merapi Trail #3

Kaliadem yang terik 
Sesampainya di Kaliadem kami berhenti sejenak untuk sekedar menenggak air mineral, dan mengambil beberapa foto. Kawasan ini berada di selatan gunung Merapi, saya dapat melihat pucuk gunung dengan jelas, disamping karena cuaca yang cerah saat itu, ditempat kami istirahat hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari puncak Merapi. Tidak heran jika kawasan ini habis dilahap oleh awan panas saat erupsi. Tadinya tempat ini dipenuhi oleh hijauan pohon, sekarang telah menjadi hamparan pasir batu muntahan Merapi. 

Saya langsung menanyakan ke Bagas, tentang rute selanjutnya. Bagas menawarkan dua pilihan, bedasarkan tingkat kesulitan rute yang akan di lalui. Saya memilih pilihan kedua, yaitu rute yang lebih menantang daripada pilihan pertama. 

Tanpa membuang banyak waktu, Bagas saya ajak untuk melanjutkan rute selanjutnya. Kami pun segera turun dari Kaliadem. Karena jalannya menurun kami bisa leluasa memainkan kecepatan motor, terkadang 'terbang' ketika melewati gundukan. Seru!. Tetapi beberapa kali juga harus meperlambat laju motor ketika akan menyalip truk pegangkut pasir atau batu. Jalannya hampir dipenuhi oleh badan truk. Harus extra hati-hati menyalipnya karena permukaan jalannya tidak rata dan terdapat beberapa batuan. Jika motor goyang sedikit ke kanan atau kekiri akan celaka. 

Tiba-tiba Bagas menajak turun ke sebuah sungai yang airnya sedang tidak mengalir. Seperti apa medannya? Mari kita telusuri. Pertama sudah disambut dengan hamparan batu yang besarnya rata-rata lebih besar dari kepalan tangan orang dewasa. Perlu sedikit penyesuaian mengedalikan motor. Tetapi tidak lama berselang akhirnya saya bisa menyesuaikan. Beberapa kali juga melewati batu besar yang sepertiganya memenuhi lebar sungai. Kami lewat sela-sela, sedapat mungkin roda bisa masuk diantara batu-batu itu. 

sambutan selamat datang
batu dimana-mana:
 photo edit132of1copyjpgMARK_zpsb45d3751.jpg

menunggu giliran lewat:
 photo edit192of1copyjpgMARK_zps44051c37.jpg

Sungai ini bernama Sokarya, merupakan anak sungai dari Opak. Posisi sungainya di pagari oleh tebing menjulang, walaupun tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 10 meter menjulang. Tapi cukup membuat kami seperti di lintasan mobil mainan Tamiya. Kanan kiri pepohonan sudah tampak menghijau, sekali laju roda terhenti setelah melihat batang pohon seukuran paha kaki melintang di lebar sungai. Kami harus menundukan tubuh dan mematahkan beberapa ranting supaya bisa melintas. 

pohon tidur
Entah mengapa walaupun belum begitu jauh kami menyusuri sungai ini, tetapi napas seperti tersendat-sendat, cukup menguras energi. Setiap kejadian seperti itu, kami berhenti untuk isitrahat dan minum air mineral yang kami bawa, sesekali Bagas bercerita tentang kesehariannya menjadi pemandu tour motor trail seperti ini. Seperti cerita tentang peyewa yang kecelakaan sampai patah tulang tangannya karena jatuh dari motor dan terbentur batu, penyewa itu tidak kapok untuk datang lagi untuk menyewa trail lagi dan keliling kawasan Merapi. 

diantara tebing
Karena jalan sungai kering ini mengarah ke utara ini berarti kami posisi menanjak, walau tidak ektrim menanjaknya tapi cukup merepotkan, apalagi menenemukan rintangan dengan tanah yang posisi lebih tinggi, dan kami harus melewatinya. Cekungan atau lubang akibat terbentuk dari tekanan air sungai, cukup membuat berkeringat tubuh ini. 

menanjak

gilirannya Bagas:
 photo edit172of1copyjpgMARK_zps9366002d.jpg
Yang cukup mencengangkan, ketika Bagas berada di depan, tidak terlihat oleh saya karena masih berada di balik tikungan, pandangan saya pun terhalang tebing. Ketika lepas dari tikungan, saya mendapati Bagas sudah tersungkur diantara batu, motornya sebagian masuk kebongkahan batu besar. Sambil tersenyum saya menanyakan kondisi Bagas, ternyata dia dalam kondisi yang baik. Hanya luka kecil hasil gesekan batu dengan tangannya. Setelah kami bahu membahu menarik motor Bagas yang terjepit batu besar, akhirnya kami bisa tersenyum lega karena semua dalam kondisi yang baik untuk bisa melanjutkan perjalanan.

Bagas gubrak
Ada KLX di balik batu:
 photo edit152of1copyjpgMARK_zpse38d4b30.jpg
Sungai ini juga digunakan untuk mencari nafkah warga  terdekat untuk menambang pasir, seperti yang kami temui, dua orang ibu sedang menyaring pasir dari bebatuan menggunakan jaring kawat, dan mengumpulkannya kemudian menunggu truk yang datang untuk mengangkut pasirnya. Wanita-wanita perkasa beberapa kali kami temui sepanjang rute. Jika melihat ibu-ibu itu berjibaku dengan wadah pasir, pacul dan tampak begitu iklasnya menjalankannya, saya saat itu merasa menjadi orang yang paling manja se-dunia.

Wanita perkasa:
 photo edit222of1copyjpgMARK_zpsc748c3a1.jpg
Tidak terasa kami sudah sampai akhir rute, dan mengakhiri tour ini. Pengalaman yang cukup mengesankan. Walau dari segi jarak dan durasi tidak panjang, sekitar 20 - 30 kilometer dan lamanya kira-kira 2,5 jam. Terimakasih Bagas yang telah menemani perjalanan ini. Walaupun kita baru pertama ketemu tetapi bisa sangat menikmati tour ini. Semoga bisa ketemu di lain waktu, dan semoga cita-citamu memiliki KLX sendiri tercapai. Saran saya, jika sudah mendapat penghasilan cukup, teruskan pendidikanmu yang sekarang terhenti.
keluar sungai Sokarya:
 photo edit232of1copyjpgMARK_zps0a919708.jpg


-T A M A T-