Our Riding Ware

Kamis, 10 November 2016

Hampir Pungli di Candi Jiwa , Karawang


Kebetulan lokasi yang tidak begitu jauh dari Cikarang, tempat saya berdomisili. Sore itu saya arahkan Bishop menuju Candi Jiwa, di kota Karawang. Candi agama Budha yang konon lebih tua dari candi Borobudur ini hanya berjarak sekitar 50 kilometer dari tempat tinggal saya yang di Cikarang. Jika dari jalan Cikarang - Karawang, sebelum kota Karawang bisa ambil arah kesana dari pertigaan menuju Rengasdengklok, dari sini ada beberapa petunjuk menuju lokasi, dengan teknologi google map pun akan lebih mudah mengarah kesana.

Tujuan kesini salah satunya adalah untuk mengambil video aerial, kebetulan saya lagi gandrung dengan kegiatan ini dengan pesawat tanpa awak atau biasa disebut drone berkamera ini. Candi Jiwa ini akan menjadi objek untuk melatih jari saya menggerakan tuas remote drone, dengan mengambil berbagai sudut pengambilan gambar. 

Tiba di lokasi setelah membayar retribusi sebesar lima ribu rupiah, Bishop saya parkir untuk selanjutnya saya berjalan kaki ke lokasi candi yang hanya berjarak seratus meter dari parkiran. Candi terletak ditengah hamparan luas persawahan padi yang sedang menghijau, seakan mempertegas jika Karawang masiih menjadi lumbung padi. Angin sepoi-sepoi berhembus seakan menyambut ramah kedatangan saya. Tidak banyak pengunjung saat itu, hanya terlihat sekumpulan pemuda yang jumlahnya tidak lebih dari tujuh orang.

Saya pun langsung menuju bawah pohon rindang di sudut dari lokasi Candi Jiwa ini. Sambil bersentai dengan menengguk air mineral, bertegur sapa dengan pengunjung lain yang kebetulan tidak jauh dari saya duduk. Sekitar setengah jam saya bersantai dibawah pohon sebelum mengeluarkan alat dokumentasi berupa drone.

Ketika mengeluarkan beberapa bagian dari drone, datanglah 3 orang yang sebelumnya sudah terlihat sejak saya tiba dilokasi. Terjadilah percakapan setelahnya : 

Mereka 1 : dari mana , mas?
Saya         : dari Cikarang, pak. 
Mereka 1: mau ngambil video/gambar ya? ntar bicara dengan bapak ini, dia petugas/penjaga lokasi ini (sambil menunjuk orang disampingnya)

*saya berkata dalam hati jika gelagatnya mereka akan melakukan pungutan liar karena saya akan mendokumntasikan lokasi ini.

Mereka 2 : ini pribadi atau dari instasi, mas?

*karena sudah terlihat gelagatnya saya menyiapkan satu jurus untuk menjawabnya.

Saya : pribadi, pak..oya saya punya web/blog pribadi yang pengunjung nya ribuan perhari (kalo ini bohong, padahal cuma bisa dihitung dengan jari pengunjung blog saya) , jadi dengan mendokumentasikan lokasi ini lalu menayangkannya di blog, tempat ini akan semakin dikenal dan akan semakin banyak pengunjungnya , dengan begitu akan menjadi tambahan pemasukan dana juga untuk pengurus/warga sekitar. Tapi tolong awasin pengunjung untuk menjaga tempat ini ya, pak?
Jadi saya boleh menerbangkan drone disini, pak?

Mereka 2 : Ooh..silahkan , boleh kok..

Saya  : terimakasih, pak

Dan saya pun menerbangkan drone dengan bahagia disaksikan ketiga bapak - bapak tadi. 




Minggu, 02 Oktober 2016

Kembali ke Cisoka

Jika pulang kampung ke Jogja tidak memungkinkan dengan waktu tempuh jika hanya memanfaatkan hari libur sabtu-minggu, saya punya beberapa pilihan lokasi untuk menggantikannya. Paling tidak akhir pekan saya dilewati oleh suasana sejuk serta dinginnya pegunungan, sepi dari berisiknya kota industri, keramahan warganya, serta dengan segala keserdehanaanya, bagi saya itu bisa sebagai ajang mensyukuri segala nikmat yang diberikan Nya.

Adalah kampung Cisoka, yang berjarak hanya sekitar 11 kilometer dari pusat kota Sumedang. Tapi jangan harap bisa menikmati jalan mulus menuju kampung ini, aspal terkelupas, bebatuan lepas akan disuguhkan ketika menuju kampung yang berada ditengah hamparan kebun teh. Untuk pengendara motor seperti saya jalan seperti ini cukup menyenangkan, paling tidak untuk mengusir rasa mengantuk setelah terbuai dengan halusnya aspal perkotaan, berganti dengan adrenalin yang terpacu.

Berkunjung ke kampung ini pertama kali saat bersama teman-teman dari Kartala dengan Perjalanan Cahaya-nya, dengan misinya membantu memberikan penerangan lampu dengan sumber energi dari panel surya. Dan jika kami rindu akan suasana Cisoka bisa berkunjung kapan saja, seperti apa yang terjadi akhir pekan kemarin (2/10/2016). Saya , Dadang dan Asep mengunjungi Cisoka kembali.

Foto-foto dibawah ini yang diambil dari atas dengan pesawat tanpa awak, semoga bisa mendeskripsikan suasana kampung Cisoka.


















---**--

Senin, 19 September 2016

Terbang dan berkendara di Purwakarta

Selain  'Alhamdulillah' ada kata pengganti untuk ber ucap rasa syukur atas segala yang diberikan Nya, yaitu 'untung', ya saya merasa beruntung domisili tidak jauh dari kota bernama Purwakarta. Melepas hiruk pikuk dari kota industri Cikarang, kota tetangga Purwakarta menjadi pilihan karena jarak yang hanya sekitar 70 km dan tawaran keindahan alamnya, sejuknya bebas dari polusi. 

Bebekal sepeda motor dan peta online cukup untuk menjelejahinya tidak perlu takut kesasar walau bepergian sendiri, hal atau tempat baru seakan menjadi rasa kecanduan untuk melakukan lagi dan lagi. Oya..saya kali ini juga di bekali wahana untuk mengambil foto dari ketinggian, yaitu sebuah pesawat tanpa awak atau lebih lazim disebut drone, saya merakitnya dengan metode DIY (do it yourself) beberapa waktu yang lalu. Sekitar waduk Jatiluhur, gunung Parang, gunung Bongkok menjadi jalur perjalanan kali ini, 

Ada kesan berbeda ketika mengabadikan foto lewat udara, kebesaran sang pencipta atas karya Nya, semakin bisa dirasakan. makluknya dengan segala kebesaran egonya pun tidak terlihat setitik pun, dan tentunya tidak artinya sama sekali.

Ya..perjalanan selalu memberikan pemahaman baru. 













Rabu, 02 September 2015

Bermalam di Ciheras




Kendaraan roda dua kami dipacu lebih kencang dari sebelumnya, mengingat hari semakin gelap, lagipula waktu berbuka puasa akan segera tiba. Sebentar lagi kami akan tiba di paling tepi selatan Jawa, setelah keluar dari kota Tasikmalaya.


Dipertigaan Cipatujah, sempat saling bertanya, "ambil jalan yang mana nih?". Salah satu dari kami menyaut, "ambil kanan aja!". Matahari membulat berwarna jingga akan tenggelam di horizon samudera tampak samar dari kaca helm. Dadang saya salip karena tidak sabar untuk melihat sunset di pantai. Jalan setapak arah pantai nekat diambil untuk tujuan itu. Sedikit kecewa karena mentari sembunyi dari balik awan setelah kami sampai di hamparan pasir pantai.

menyasar memasuki pantai selatan
Kembali lagi menuju jalan aspal, menyusuri lengangnya dan mulusnya jalur selatan Jawa, seolah lupa akan sehari-hari dikemacetan kota industri, motor kami pacu sampai melebihi ambang batas aman. Sedikit menurunkan kecepatan setelah dari kejauhan terlihat beberapa tiang dengan baling-baling layaknya kincir angin. 

Sesuai wacana kami sebelum berangkat, untuk mengunjungi salah satu tempat yang menurut kami sangat inspiratif, adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga angin yang di pimpin oleh seorang bernama Ricky Elson. 

Warung makan tidak jauh dari 'markas' Ciheras, menjadi tempat pemberhentian. Selang beberapa menit kemudian azan berkumandang tanda berbuka puasa. Setelahnya kami beristirahat disini setelah menempuh Bekasi-Karawang-Ciheras sejak berangkat sehabis sahur.

Waktu istirahat pun berlanjut sampai sempat memesan makan malam. Pemilik warung menjadi nara sumber ketika kami melontarkan beberapa pertanyaan,  tentang kegiatan apa saja di tempat penghasil energi listrik tenaga angin tersebut, apakah bisa menerima kami yang belum pernah sama sekali berkunjung, dan pertayaan lainnya yang dijawab dengan antusias oleh pemilik warung asal Jawa Tengah  ini.

Kurang lebih dua jam disini, kami bergegas untuk menuju tempat yang sudah menjadi rencana. Letaknya berada beberapa puluh meter dibelakang warung ini. Dengan mengandalkan lampu penerangan dari lampu motor kami melaju di jalan berpasir yang tidak begitu lebar.

Sesampainya lokasi ditandai dengan tampaknya menara-menara penyangga kincir angin. Motor kami parkir pada kumpulan motor yang sudah ada sebelum kami datang. Terdapat bangunan-bangunan rumah semi permanen beratap asbes disini. Terlihat sepi, tidak ada seorangpun yang lalu lalang. Setelah sejenak memperhatikan sekeliling, penglihatan kami tertuju ke salah satu bangunan yang terbuka pintunya, terlihat beberapa orang sedang melakukan ibadah sholat, jika dilihat dari waktunya sedang melaksanakan sholat tarawih.

Pintu lain terlihat terbuka, letaknya paling ujung dekat dengan menara kincir, ketika dihampiri ada seorang sedang asyik didepan laptopnya beserta tumpukan buku-buku disampingnya. Setelah saling menyapa kami pun berbicang. Adalah bernama Theo, seorang mahasiswa dari salah satu kampus di Bandung yang sedang melakukan kerja praktek di Ciheras ini. Tempat ini memang akhir-akhir ini digunakan oleh beberapa mahasiswa dari berbagai daerah untuk kerja praktek, atau untuk singgah untuk menggali pengetahuan tentang apa yang dilakukan bang Ricky Elson.

Terlihat jamaah sholat tarawih sudah keluar dari mushola, kebanyakan jamaahnya adalah mahasiswa praktek disini yang di imam-i oleh bang Ricky sendiri. Tidak selang begitu lama, kami dipanggil oleh bang Ricky dari depan mushola. Dan dipersilahkan masuk.

Dengan sambutan ramah dari beliau yang masih mengenakan sarung sehabis tarawih, dengan logat Jepang yang masih terdengar kental. Seperti diketahui dari berbagai media, bahwa bang Ricky pernah tinggal di negeri sakura sekitar 14 tahun untuk menempuh pendidikan tingginya dilanjutkan dengan bekerja disana, sebelum memutuskan untuk pulang ke Indonesia.

Bertiga kami duduk bersila, tuan rumah membuka obrolan dengan pertanyaan tujuan kami kesini. Sempat bingung juga menjawabnya, kami serasa grogi bertemu dengan orang mengisnpirasi ini dengan karya teknologinya, pada mulanya kami memang menuju Ciheras ini karena rasa penasaran tempat yang biasa kami lihat di berbagai media, selama kami hanya bisa memencet like sebagai tanda bahwa postingan-postingan beliau di media sosial tentang cerita sehari-hari di Ciheras sangat menggugah serta membuka mata  dan wawasan untuk berbuat sesuatu untuk negeri ini.

Saya urungkan bertanya detail masalah teknis kepada beliau, karena terlalu banyak pertanyaan di kepala karena ketidak tahuan kami tentang teknologi yang beliau kuasai, tidak cukup satu malam untuk itu. Bang Ricky memberi beberapa gambaran dan arahan, ada satu kalimat yang masih saya ingat, beliau berkata, "cintailah negeri dengan apa adanya". Dengan polosnya saya bertanya, "gimana caranya, bang?". Beliau menjawab, "dengan menulis". Belum sempat saya bertanya lagi, beliau melanjutkan kalimatnya, "tulislah apa saja, yang kamu sukai tanpa orang lain berkata apa, dan juga tulis yang orang lain sukai, sesuatu hal yang positif." Dengan menulis menurut beliau kita bisa berkomitmen dengan apa yang telah tertulis untuk diwujudkan secara nyata, Bang Ricky juga cerita, jika sedari tinggal di Jepang mulai rutin menulis dalam bentuk apapun, tentang mimpi-mimpinya, dan sekarang sudah tampak terwujud.

Beliau juga berpesan agar tidak mudah mencaki tentang apapun, amarah cuma akan menjauhkan dari hal positif, maraknya berita media yang membuat emosi dan provokatif serta belum tentu kebenarannya tidak perlu ditanggapi dengan caci makian, pesan bang Ricky. Diberikannya analogi sederhana, jika disuatu terminal bis ada seseorang teriak "maliiiing" dan menunjuk orang, apa yang terjadi? tentu sebagian besar yang ada diterminal akan mengejar orang yang ditunjuk tadi, padahal belum tentu dia malingnya".

Masing masing gelas kopi sudah mulai menipis, kami sepertinya juga sudah perlu istirahat. Bang Ricky mempersilahkan kami jikan ingin segera tidur, ditunjukan bangunan belakang mushola. Disana terdapat kamar-kamar yang memang diperuntukan tamu atau mahasiswa kerja praktek. Tidak lama kemudian bang Ricky mengambilkan alas tidur lalu mengantarkan kami untuk memilih kamar yang kosong. Sebelum meninggalkan kami, bang Ricky berkata, "entar saya bangunkan kalo waktu sahur tiba ya?". Tentu saja kami iyakan.


b e r s a m b u n g . . . .



**Cerita selanjutnya, kami juga diajak mengikuti beberapa kegiatan di Ciheras bersama teman-teman mahasiswa......







Senin, 29 Juni 2015

[sambungan#3] Bermain di Bawah Bromo, Terseok-seok Menuju Puncak B29 [Selesai]

Cerita sebelumnya klik disini

Awalnya tidak curiga apa yang terjadi dengan Bishop, tapi setelah diperhatikan dengan seksama ada hal janggal. Handle koplingnya lepas dari lubang pengaitnya, dan ujungnya patah. Sama sekali tidak bisa digunakan sesuai fungsinya. Sempat terjadi panik sebentar, sempat terpikir gimana melakukan perjalanan pulang jika untuk menjalankan Bishop saja tidak bisa, terlebih medan jalannya ang tidak biasa pada umumnya.

Mencoba tenang sambil membuka tempat peralatan, kunci pas serta yang lain. Selalu saya bawa, untuk mengantisipasi kondisi seperti ini. Sepertinya percuma untuk menyiarkan keadaan ini lewat media sosial dengan pesan "mayday..mayday..". Tukang ojek yang bisa lewat jalan menuju kesini pun enggan, apalagi orang lain akan sengaja membawa untuk sebuah apa yang dibutuhan Bishop saat itu. Terlihat bungkusan kabel tie atau pengikat kabel. Di coba melakukan beberapa ikatan pada handle kopling.

Berasa seperti tokoh film  MacGyver, kali ini saya berhasil memfungsikan tuas kopling ini kembali, paling tidak untuk sementara dan bisa sampai kota Malang, untuk membeli tuas yang baru nantinya. Arrgh..leganya.

patah
Sambil menikmati pemandangan dari ketinggian +/- 2900 mdpl ini saya mencari infromasi tentang jalur kepulangan, yaitu jalur menuju Ranu Pani lalu arah Malang. Kalau jalur ke Malang sama dengann jalur saat berangkat. Tapi, jalur ke arah Ranu Pani ini masih perlu banyak informasi, karena tidak ada petunjuk jalan yang jelas mengarah kesana, serta konon medan jalan yang terbilang lumayan ekstrim.

Tadinya ada seorang warga setempat yang berkenan mengantar sampai Ranu Pani, tetapi warga tersebut akan turun dulu untuk mengantar wisatawan. Setelah ditunggu cukup lama, pe-ngojek tersebut tidak muncul juga. Baiklah, saya akan mencari penggantinya dengan beberapa tukang ojek yang masih beberapa terlihat disini.

Bertanya dengan seorang pengojek yang sedang menunggu wisatawan untuk memakai jasanya. Setelah sedikit berbasa basi, saya menuju pada pertanyaan, "berapa tarif jika akan memakai jasanya untuk mengantar sampai Ranu Pani" dijawabnya dengan menyebut nilai rupiah enam puluh ribu. Sedikit tersentak dengan jawabannya. Mencoba menawarnya dengan maksud tarif bisa turun, tetapi usaha saya tidak berhasil. Dia tetap kuat pendiriannya dengan harganya.

Malah ditambah dengan perkataan menakut -takuti, katanya "jalurnya sangat sulit, ada beberapa ruas jalan hanya setapak yang pinggirnya adalah jurang dalam, serta ada beberapa persimpangan akan sangat membingungkan".

Apa yang disebutkan tukang ojek itu tidak lantas membuat saya berniat memakai jasanya, tapi justru sebaliknya saya segera meninggalkan dia menuju ke tempat Bishop dan segera berkemas. Bukan alasan karena didompet hanya tersisa tiga puluh rupiah, walau ada mesin ATM disini tetap tidak akan keluarkan untuk membayarnya. Tapi, lebih untuk tidak membiasakan warga setempat untuk "memalak" para pelancong dari luar daerah untuk menikmati objek B29 ini.

Dengan modal hanya mengetahui jalan masuk ke rute ini dengan tidak adanya informasi lengkap, Bishop segera dipacu. Melewati jalan perkebunan dengan lebar satu meteran, yang biasa digunakan warga menuju ladang sayur mayur mereka.

Jalan semakin menyempit bisa dikatakan berubah menjadi jalan setapak atau seroda. Terdapat persimpangan berbentuk huruf "Y" , sempat berhenti disini untuk menentukan akan mengambil jalan yang mana. Ditengah kebingungan, seperti mendapat pertolongan dari langit, tidak jauh dari Bishop berhenti, terlihat kerumunan remaja sedang berkumpul dengan masih duduk di sepeda motornya. Saya tanyakan tentang arah tujuan saya. Mereka menunjukan arahnya. Salah satu dari mereka menawarkan untuk berkendara bareng hingga Ranu Pani, karena kebetulan remaja ini akan pulang menuju Ranu Pani juga. Alhamdulillah.

Remaja ini mengenalkan dirinya dengan nama Endi. Saya disuruh melaju lebih dulu, sementara endi membututi dari belakang, "ntar kalo ada persimpangan, saya bilangin arahnya, mas" celetuk dia dari belakang. Dan tantangan dimulai, melewati jalan sempit dengan beragam kondisi merupakan keseruan yang mendebarkan.

Mengatur kecepatan Bishop untuk pelan dan menjaga kesimbangan ketika disebelah kanan adalah jurang dalam, terlihat padang pasir Bromo dibawah dari saya berkendara. Atau memutar handle gas Bishop lebih dalam ketika   menemui kubangan air menggenang sehabis hujan, serta menenggelamkan setengah dari roda, menambah kecepatan pada situasi seperti ini diperlukan untuk menambah torsi sehingga bisa terbebas dari lumpur yang seakan tidak mau melepaskan roda untuk melaju.

jalan seroda
kubangan
jurang
Ditengah perjalanan saya mempersilahkan Endi melaju lebih dulu, salah satu alasannya saya akan lebih leluasa mengambil foto dengan ponsel berpiksel rendah ini, setelah kamera poket lowbat sejak di B29. Jalan bertambah variasi, kini tanjakan sempit denga licin sehabis hujan sempat membuat saya dan Bishop ambruk. Endi menghampiri dan membantu mengangkat Bishop setelah mendengar jatuhnya Bishop. Juga melewati pepohonan ilalang dari sisi kanan-kiri yang dahannya membentuk terowongan, membuat saya berkendara sambil menundukan badan serta menutup kaca helm demi keamanan, terutama mata yang tidak mau tersambar ranting.

jalan licin
terowongan
Kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika melewati jalan selebar 1 meteran dengan kanan kiri tebing, mirip trek mainan Tamiya atau Hotwheels, kesimbangan mengendalikan Bishop mutlak diperlukan disini, tapi entah karena sudah sedikit lelah atau hilang kosentrasi, roda Bishop tergelincir ketika melewati permukaaan jalan yang tidak rata.

Braaak!!  Bersama saya, Bishop ambruk kekiri. Tebing menahannya, tapi ada hal tidak diduga. Footstep atau pijakan kaki bagian depan, menjepit bagian kaki saya, tepatnya di sebelah bawah dengkul. Kaki saya seperti di paku dengan tebing dengan tekanan seberat Bishop. Tidak bisa bergerak sama sekali, mencoba berontak tidak mengubah keadaan, saya cuma bisa berteriak sekencang-kencangnya, dengan suara kencan kesakitan dan terselip kata 'tolong-tolong'. Dengan maksud Endi yang sudah melaju duluan mendengar, dan kembali mundur. Sekitar 3 menit, Endi tampak dan segera membagunkan Bishop. 

Bekas tusukan  footstep sampai sekarang saat menulis cerita perjalanan ini masih membekas hitam. Setelah meneguk air mineral, dan menangkan diri kami melanjutkan perjalanan. Entah apa yang terjadi jika tidak ada Endi, remaja ini seperti dikirim dari lagit oleh Tuhan untuk menyelematkan saya, agar bisa melanjutkan perjalanan dan hidup ini. 

keluar dari jalan maut
Endi, hero of the day..!
view sebelum keluar dari jalur B29 - Ranu Pani
Endi berkata,  "sebentar lagi udah sampai jalan yang ke Ranu Pani kok, mas". Benar saja, tidak lama kemudian tibalah di jalan akses antara Jemplang dan Ranu Pani. Kami muncul di pertigaan yang terdapat Pura kecil, pertigaan ini sudah saya akan masuki sehari sebelumnya, dan ragu-ragu untuk melewatinya karena melihat tanjakan dan lebar jalan yang tidak memungkinkan rasanya jika melaluinya bersama Bishop.

Setelah mengucapkan banyak terimakasih kepada Endi serta memberikan sekedar uang saku kepadanya, saya pamit menuju pulang, kali ini mengarah ke Jogja dan melewati Malang kembali. Suatu saat jika kembali ke kawasan Tengger-Bromo-Semeru ini, semoga saya bisa menemui Endi kembali. Semoga dia masih ingat dengan saya. 


Penutup

Beberapa pejalan, pelancong atau apalah isitilahnya melakukan perjalanan seorang diri dipercaya sebagai ajang meditasi, banyak renungan-renungan terjadi didalamnya, terkait kejadian didalam perjalanan. Banyak melakukan monolog atau bicara sendiri kepada dalam diri untuk suatu keputusan, dengan begitu kita akan lebih mengenal diri sendiri dan menjadi diri sendiri juga tentunya. Sifat mandiri mutlak diperlukan disini. Tetapi percaya jika Tuhan tidak tidur, Dia banyak mengirimkan bala bantuan ketika hambanya merasa memerlukan. Dipertemukan dengan orang-orang baik yang baru ditemui menjadikan kesan tersendiri. Walau harus tetap waspada terhadap marabahaya yang akan terjadi, dan semua ada resiko yang selalu siap dihadapi. Alhamdulillah selalu dalam lindungan Nya.


-SELESAI-

Senin, 08 Juni 2015

[gallery] Bermain di Bawah Bromo, Terseok-seok Menuju Puncak B29

Cerita sebelumnya dapat di klik disini

Setelah cukup mengeringkan keringat sehabis 2 kilometer yang melelahkan, layaknya pelancong yang lain, saya mengambil beberapa foto disini, sedikit sial karena kamera poket habis energi baterainya alias lowbat ketika baru mengambil beberapa gambar dilokasi ini, hanya menggunakan kamera dari handphone dengan resolusi gambar tidak seberapa sebagai perekam dokumentasi, paling tidak gambar-gambar ini memang tidak layak di ikutkan kontes photography.

yuhuu..negeri diatas awan eh kabut!
sisi sebelah timur, puncak Argapura terlihat. Arrrgh..syahduu!
saya gak tau, apakah foto siluet termasuk kategori selfie?tapi yang sedang berdiri itu saya, haha (foto by timer)
sisa tanah masih menempel
entah kabut atau awan
sudah mulai menyingkir, dan tampak segara wedi
sehari sebelumnya, saya melewati apa yang terlihat dibawah. Dan perjalanan adalah sebuah proses
tidak banyak yang dilakukan disini, tidak berpindah-pindah mencari view berfoto, karena masih butuh untuk menyisakan energi untuk pulang
Cerita selanjutnya, selain mendokumentasikan apa yang terlihat disini, juga ada hal penting yang harus dikerjakan disini, dan tentu cerita perjalanan turun dari sini.


Bersambung............

Jumat, 29 Mei 2015

[sambungan#2] Bermain di Bawah Bromo, Terseok-seok Menuju Puncak B29

Cerita  sebelumnya bisa klik disini

Terbangun pukul 3.15 pagi, kali ini alarm ponsel terlambat karena saya mengaturnya pukul 4.00. Keluarga pak Taufik pun belum terbangun. Sementarta saya sudah bersiap kembali dengan mengemasi semua barang bawaan, menata kembali supaya lebih ringkas. 

Setengah jam kemudian saya keluar dan  menyiapkan Bishop untuk menanjak ke puncak. Pak Taufik sudah terbangun, karena beberapa wisatawan sudah lewat depan rumahnya, mereka berjalan kaki dari bawah setelah menginap di rumah-rumah penduduk. Pak Taufik melaksanakan tugasnya sebagai penerima retribusi, dengan karcis seharga lima ribu rupiah. 

Selesai semua persiapan selesai saya ijin pamit ke Pak Taufik, ketika ditanya berapa tarif menginap semalam, beliau menolak untuk diberi beberapa lembar uang. Arrrgh...sesuatu yang membuat heran, kenapa orang pelosok tidak terlalu doyan duit? Berpesan hati-hati ketika nanjak karena masih licin sehabis hujan, pak Taufik melepas saya dari kediamannya.

Penerangan jalan hanya mengandalkan lampu depan dan LED tambahan dari Bishop, kabut masih menyelimuti kawasan ini membuat jalan yang dilalui menjadi remang-remang ditengah gelapnya subuh, jarak pandang hanya seperkian meter. Ini adalah tantangan awal sebagai pengguna kacamata minus. 

Benar saja, baru sekitar dua puluh meter keluar dari rumah pak Taufik, Bishop salah mengambil jalur ke jalan yang lebih rendah, mirip kubangan. Karena sedikit kaget karena kubangan itu tidak terlihat sebel;umnya, Bishop jatuh untuk pertama kali hari itu, seakan mengawali perjalanan ini dengan buruk. Entah kenapa Bishop semakin terasa berat, perlu tenaga ekstra untuk mengangkatnya tidak seperti biasanya. Pijakan kaki saya juga terlalu licin untuk menjadi tumpuan ketika akan mengangkatnya, beberapa kali kepleset.

Dari arah rumah pak Taufik berlari tergopoh-gopoh dengan terlihat sinar senternya, menghampiri kami. Tidak pakai basa-basi segera membantu mendirikan Bishop. Setelah sempat berkenalan sebelumnya, beliau bernama pak Sampurna, salah satu warga sini yang merupakan tetangga pak Taufik. Sambih ngos-ngosan untuk mengatur nafasnya, pak Sampurna menyarankan saya untuk menitipkan Bishop dirumahnya, dan jalan kaki menuju puncak. 

bangun setelah jatuh pertama
Lagi-lagi saya bersikeras untuk mengajak Bishop naik keatas, dengan alasan ingin pulang lewat jalan berbeda, yaitu jalur yang bisa tembus ke Ranu Pani. Saya juga minta tolong ke pak Sampurna untuk bisa menemani perjalanan saya ke puncak, untuk menunjukan jalan yang layak dilewati. Karena jalurnya sudah bisa terbaca ketika Bishop jatuh diawal pagi ini, maka saya akan habis energi jika harus melewati jalan ini sendiri dengan berat Bishop seperti itu.

Pak Sampurna menyanggupi untuk mengantar saya. Bishop tancap gas kembali, pak Sampurna berjalan didepan, sambil membawa senter. "ambil kiri, mas!" sambil menunjukan dengan sinar senter beliau mengarahkan jalurnya yang paling layak dilewati. Begitu seterusnya beliau memberi aba-aba, tergantung arah yang menurutnya pantas dilalui Bishop.

"lewat sini, mas!" ujarnya
Tapi karena memang jalurnya super licin, lagi-lagi Bishop terpeleset. Pak Sampurna kembali mundur untuk bersama mengangkat Bishop. Beberapa ruas jalan sengaja disiapkan oleh warga setempat karung-karung berisi pasir, fungsinya adalah ketika licin seperti ini, pasir ditaburkan kejalan untuk meminimalisir slip roda. Pak Sampurna beberapa kali juga melakukan tabur pasir ketika Bishop akan lewat.

 tabur pasir
Pasir yang disebar terutama pada bagian jalan sangat licin membantu traksi roda untuk bisa maju walau harus tetap dibantu dorongan. Memang cukup membuat ngos-ngosan kegiatan dorong mendorong ini, apalagi lokasi ini berada di ketinggian sekitar dua ribu meter dari permukaan laut, itu berarti kadar oksigen tidak sebanyak didataran yang lebih rendah.

Setiap beberapa dorongan saya duduk untuk isitirahat dipinggir jalan sambil meneguk air mineral,500 ml air harus berbagi dengan pak Sampurna, saya sedikit menyesal tidak membeli botol mineral lebih banyak sebelumnya. Ketika sedang melepas lelah, pak Sampurna segera mengingatkan saya untuk segera melanjutkan penanjakan. Alasannya, karena jika terlalu lama akan semakin banyak pengunjung lain yang menggunakan jalan ini, itu berarti akan menyusahkan karena jalan ini tidak terlalu lebar. Apalagi sebelah kanan jurang menjulang, siap menampung jika terjadi kecerobohan atau hal naas.

Memang benar, di bawah sudah terlihat beberapa sinar penerangan senter dari pengunjung yang berjalan kaki. Menurut pak Sampurna, biasanya malah banyak tukang ojek yang sudah naik dengan membocengkan para wisatawan, tapi karena medan jalan basah sehabis hujan maka pengojek memilih tidak beroperasi.

Entah Bishop ambruk berapa kali,  sudah tidak sempat menghitung. Engine guard yang berada di samping kiri-kanan terbuat dari pipa besi sudah bengkok tidak beraturan karena menopang motor  buatan India ini. Beberapa ratus meter terakhir, semburat sinar mentari mulai menampakan warna merahnya. Sementara tenaga sudah semakin kepayahan.

Pak Sampurna menyarankan untuk meninggalkan barang bawaan Bishop berupa dry bag 60 liter, dan tank bag. Tentunya dengan maksud meringankan beban, dan bisa naik dengan lebih leluasa. Pak Sampurna berjanji akan menyusul dengan membawa bawaan tadi, sementara saya disuruh melaju duluan.Kali ini saya melaju tanpa pak Sampurna, memang Bishop lebih mudah menanjak dari sebelumnya, tapi ketika salah milih jalur berlubang, saya harus dorong-mendorong sendirian.

Tibalah di percabangan jalan, arah kiri adalah jalan lebih sempit tapi bisa untuk motor serta jaraknya lebih pendek, sedangkan sebelah kanan sebaliknya, lebih lebar dan jaraknya lebih panjang. Saya ambil sebelah kiri, tapi setelah beberapa meter, pengunjung yang kebetulan melihat saya, menyarankan untuk ambil sebelah kanan saja, karena lebih landai, sedangkan sebelah kiri terdapat tanjakan dengan kemiringan curam. Saya ikuti saran pengunjung tersebut, sempat ambruk kembali ditikungan tanjakan ini.

"oh...sh*t..!"  berkarta dalam hati ketika menarik handle gas terakhir ditanjakan pamungkas, sebagai tanda bebas dari tantangan menanjak sepanjang 2 kilometer dengan terseok-seok. Bishop langsung saya parkir. Terdapat tulisan Puncak B29, menandakan saya sudah sampai. Tidak banyak yang dilakukan untuk beberapa menit kemudian, saya lebih banyak berdiam sambil melepas lelah, memerhatikan sekitar yang tampak samar-samar karena masih belum terang hari.


Berada disini ibarat dongeng Jack dan bijij kacang, menaiki pohon kacang setelah ditanam dan berada diatas awan setelah sampai diujung pohon. Lokasi B29 merupakan semacam bukit, dari sini saya dapak melihat gunung Bromo di sebelah barat, lautan pasir atau segara wedinya belum terlihat karena ditutup awan tebal nan putih,  sedangkan sebelah timur adalah bukit-bukit hijau perkebunan, serta pucuk gunung Argapura terlihat, bagian bawahnya tertutup awan pekat. Membuat merinding!

Lima belas menit kemudian pak Sampurna tiba, dengan barang bawaan serta helm saya. Rasanya ucapan terimakasih tidak cukup untuk mengapreasi kebaikan beliau. Walau kami baru kenal beberapa jam, tapi seakan sudah menjadi sebuah tim solid, yang bahu-mebahu untuk meyelesaikan tantangan ini. 

Jujur saja, saya terharu setelah sampai atas dan melihat jalan yang barusan dilewati.
Pak Sampurna tiba
Emosi kami tidak terbendung, rasa senang, puas, terharu bercampur aduk menjadi satu

Bersambung..............