Our Riding Ware

Jumat, 10 Oktober 2014

Meraba Bukit Kaba

Hari ke empat (7/10/2014) di provinsi Bengkulu ini adalah saat yang tepat untuk melakukan perjalanan dengan roda dua, pikir saya saat itu. Tepatnya di desa Sambirejo, kecamatan Selupu Rejang, kabupaten Rejang Lebong saya singgah selama total 5 hari. Sebenarnya tujuan utama ke kota ini adalah menghadiri pernikahan saudara sepupu, yang kebetulan saya belum pernah sama sekali berkunjung/silahturahmi dirumah paman atau yang biasa saya sebut paklik ini. Jadi ini adalah perjalanan pertama di daerah yang pernah menjadi tempat pengangsingan presiden pertama, Ir. Soekarno.

Untuk mencapai kota ini diperlukan waktu dua sampai tiga jam perjalanan darat dari ibukota Bengkulu. Lebih lama daripada penerbangan yang saya lakukan dari bandara Soekarno-Hatta ke bandara Fatmawati, Bengkulu yang hanya memakan waktu satu jam. Tidak seperti di kota besar di pulau Jawa, transportasi umum seperti bis antar kota tidak akan di temui, apalagi taksi. Kami harus memesan beberapa hari sebelumnya untuk memastikan mobil 'travel' bisa menjemput kami dibandara.
sebatang dulu sebelum terbang
Halo Bengkulu:
 photo 2copy_zps1c6b3f87.jpg
Kembali ke rencana awal untuk berkendara di kota ini, tidak banyak persiapan yang dilakukan. Untuk motor, saya pinjam dari sepupu. Sebuah motor sport 150 cc yaitu Yamaha Vixion akan menemani perjalanan kali ini. Perlu diketahui, kecamatan ini adalah dataran tinggi dengan di hiasi pemandangan perbukitan, perkebunan sayuran dengan suhu udara berkisar 20-25 derajat celsius. Sering tampak petani mengangkut hasil kebunnya dengan motor di modifikasi menyerupai jenis trail, tampak dari ban 'tahu' dan velg yang lebih besar dari standar pabrikan.
Mengangkut sayuran:
 photo 48copy_zpsfe5e4a3f.jpg
Ban tahu & Pertamini:
 photo 49copy_zpsd7ba87ee.jpg
Tadinya saya akan dipinjami motor jenis trail tersebut, karena menurut orang setempat, medan yang akan saya jelajahi lebih cocok dengan jenis motor tersebut. Tapi karena motor yang sedianya akan saya pakai sedang tidak sehat maka saya gunakan motor seadanya saja. Saya termasuk orang yang tidak mau ambil pusing dengan motor apa yang akan saya gunakan, toh itu hanya sebagai sarana. Saya lebih berpikir bagaimana cara untuk bisa menikmati perjalanan serta mencapai lokasi. 

Bukit Kaba adalah tujuan kali ini. Jika dilihat dari peta, jaraknya tidak lebih dari 50 kilometer dari tempat saya akan berangkat. Minimnya informasi untuk menuju kesana dengan roda dua tidak mengurungkan niat, tidak ada partner perjalanan alias tidak ada mengantar ke lokasi juga tidak menjadi halangan berarti. Saya termasuk penikmat solo riding akut, atau bisa sangat menikmati melakukan perjalanan seorang diri.

Depan rumah tempat saya singgah adalah termasuk jalan utama akses Bengkulu-Curup-Lubuk Linggau. Mulai mengelindingkan roda motor pukul 9.30 pagi, pagi itu sangat cerah setelah hari sebelumnya kota ini diselimuti kabut, informasi lain menyebutkan jika kemarin itu bukan kabut, melainkan asap kebakaran hutan di provinsi tetangga.

Seperti biasa untuk mengetahui rute, selain mengandalkan peta yang ada di handphone saya juga melihat petunjuk arah papan berwarna hijau, atau jika tidak ada juga petunjuk arah dari tulisan papan maka bertanya warga setempat adalah solusinya. Kesasar juga merupakan kenikmatan tersendiri, karena akan menemukan hal-hal baru, dan bisa belajar untuk keluar dari zona aman.

Sepanjang jalan akan disuguhi pemandangan barisan bukit yang seakan mengelilingi kota ini, juga hamparan kebun sayur-sayuran yang menyejukan mata dan pikiran. Jika hari-hari saya dipenuhi oleh hiruk pikuk kota industri, beserta kesemrawutannya, apa yang saya lihat di perjalanan ini seakan menjadi tombol reset, yang mengembalikan gairah dalam diri.

Lurus, Lubuk Linggau. Kanan, Bukit Kaba:
 photo 50copy_zpsbe717b5c.jpg
Desa Siaga Bencana
Belum genap 20 menit dengan kecepatan rata-rata 40 kpj terlihat gerbang selamat datang menandakan telah memasuki desa Siaga Bencana. Seperti yang saya baca dari berbagai sumber, Gunung Kaba yang warga lokal menyebutnya bukit Kaba (1937 mdpl), dipuncaknya terdapat kawah aktif yang menyemburkan asap mengandung sulfur. Terdapat beberapa  kawah/puncak lainnya yaitu, Bukit Itam (1893 mdpl)  dan Bukit Malintang (1713 mdpl).

Tidak jauh dari gerbang, terdapat pos pendakian ke bukit. Saya berhenti sejenak disini. Lebih dikenal dengan sebutan Posko Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) terdapat bangunan rumah yang seharusnya digunakan untuk mendapatkan informasi tentang pendakian ke bukit Kaba, dan juga untuk melaporkan diri jika akan mendaki. Ini sangat penting sebenarnya, karena jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kan lebih mudah untuk melacaknya. Tapi ironisnya disini tidak di temukan satu orang pun yang bisa dimintai keterangan. Pintu posko terkunci rapat.

Hanya berbekal peta lokasi yang ada didepan posko, saya mengamati jalur pendakian. Terdapat dua jalur, yaitu jalur pertama adalah untuk pejalan kaki yang jalannya bisa dimulai dari belakang posko berupa jalan setapak tentunya, sedangkan jalur kedua adalah terdapat jalan aspal berukuran tidak lebar, saya pikir jalur kedua ini adalah yang bisa dilalui sepeda motor. Tidak lama disini saya langsung tancap menuju jalur kedua.

Posko
katakan peta..peta!
Terdapat dua jalur pendakian:
 photo 6copy_zps02030c01.jpg
Sekitar 3 kilometer dari posko akan dijumpai gerbang menandakan jika akan memasuki Bukit Kaba, ini lah pintu masuk jalur kedua. Disambut oleh jalan aspal tidak begitu mulus selebar 1,5 meteran dengan kanan kiri pepohonan lebat berbagai jenis, dari tumbuhan merambat sampai berbatang besar. Semua tampak alami.  Memang lokasi ini merupakan salah satu hutan lindung. Sebagai informasi tambahan , jika jalur ini letaknya  di sabuk bukit, layaknya ikat pinggang yang melingkari tubuh, sebelah kiri adalah jurang dengan jarak 2-5 meter dari jalan.

gerbang masuk
Semakin jauh jalannya semakin variatif dan cenderung menyempit, dan aspal semakin rusak malah ada yang bebatuan, belokan patah dan menanjak banyak ditemui disepanjang jalan. Tidak ada orang lain atau berpapasan dengan pengunjung lain, benar-benar sepi. Hanya terdengar sesekali bunyi serangga, kadang terkihat kupu-kupu yang tiba-tiba terbang memotong jalan. 
jalan setelah gerbang:
 photo 9copy_zps699366ec.jpg
jalannya berubah:
 photo 11copy_zps30b4c733.jpg
so what??just enjoy de road
Setiap melakukan perjalanan saya selalu berusaha untuk bepirkir positif, menghilangkan sugesti dan pikiran negatif. Tetapi ketika melewati jalur ini sesekali ada perasaaan tidak enak, kadang timbul rasa kekhawatiran yang tidak jelas datang dari mana. Benar adanya, ketika melakukan perjalanan seorang diri akan lebih sensitif terhadap apa yang disekeliling kita. Kita akan lebih banyak melakukan dialog dengan diri sendiri, dan tentu saja itu menjadi refleksi diri. Saya akan lebih mengenal siapa saya. "I think one travels more usefully when they travel alone, because they reflect more." - TJ-

Jalan semakin menanjak, lebih banyak ditemui jalan aspal yang berubah menjadi bebatuan. Sampai akhirnya setelah lewat satu tikungan saya terkejut dengan jalan yang tepat didepan. Jalan ambles, membentuk seperti sungai dengan kedalaman setinggi motor, dengan lebar sedikit lebih panjang dari setang motor, dengan posisi menanjak kemiringan sekitar 20-25 derajat, sepanjang kira-kira 10 meter. Berhenti sejenak, turun dari motor dan melihat kondisi jalan yang ambles itu sampai akhir ketemu aspal lagi. 

jalan apaan ini???:
 photo 12copy_zps20139250.jpg
survey jalur:
 photo 13copy_zps85b38117.jpg
Lagi-lagi saat berdialog dengan diri sendiri, kira-kira sanggup tidak melewati ini. Setelah berpikir gimana caranya untuk melewatinya. Motor saya starter dan coba melaju untuk menanjak, sekitar jalan 2 meter motor mati mesinnya setelah kehilangan torsi atau tenaga. Tidak ada ruang untuk mengambil ancang-ancang membuat keadaan ini wajib mengandalkan putaran bawah dari mesin motor. Saat-saat ini saya kangen Bishop untuk melakukannya. Tapi kerinduan itu segera dihilangkan dan harus menghadapi kenyataaan yang ada. Saya coba beberapa kali dengan cara yang sama. Tapi tidak berhasil. Sementara saya juga harus menjaga keseimbangan karena jika miring kekanan/kikiri motor akan menyerempet dinding tanah. 

Kembali berpikir sejenak, entah darimana saya mendapat ide untuk melakukan cara ini, yaitu kaki saya berpijak ditanah posisi paling tinggi pada kanan-kiri nya. Sedangkan tangan tetap memegang setang. Posisi tubuh saya seperti kuda-kudaan ketika keponakan saya akan menunggangi punggung. Logikanya dengan cara ini akan mengurangi beban motor, dan tujuannya adalah mendongkrak tenaga awal si mesin. Entah benar apa tidak logika saya saat itu, tapi ketika dicoba motor berhasil menanjak walau dengan sedikit kepayahan. 

what a style?
Layaknya bermain game konsole bergenre petualangan, yang semakin tinggi level game itu semakin susah melewatinya. Di tanjakan ini adalah bagian paling susah bagi saya yang masih hijau pengalamaan kegiatan, ya sebut saja motorcycle adventure ini. Ketika berhasil melewati, sontak saja kegirangan dalam hati tidak bisa dipungkiri lagi. Tetapi sesudahnya terasa sangat lelah dengan nafas putus-putus, teringat dengan hukum alam, semakin tinggi posisi dari permukaan laut maka kadar oksigen semakin menipis, mungkin itu juga yang membuat nafas saya seakan mau habis.

Menanjak sekitar 200 meter, jalan semakin melebar, di akhir tanjakan saya terperangah melihat di 100 meter didepan mata, mirip tembok memanjang berwarna hijau ditumbuhi rerumputan, terlihat tangga terbuat dari beton menjulang naik. Disini juga terdapat tanah lapang, mirip tempat parkir kendaraan, berdasarkan informasi yang saya dapat, dulu memang jalan yang telah saya lalui bisa dilewati mobil sekalipun, tapi karena longsor dan perubahan kondisi alam lainnya maka jalannya berubah seperti yang telah diceritakan sebelumnya. Motor diberhentikan, memandang sekeliling, seketika kegembiraan diluapkan dalam hati. Saya tahu itu adalah apa yang menjadi tujuan setelah melewati jalur kedua. 

kegembiraan
Informasi dari saudara, jika sudah terlihat tangga seribu, berarti kawah bukit berada di baliknya. Ya mereka menyebutnya tangga seribu karena jumlah anak tangganya konon mencapai hampir seribu buah, ada mitos juga jika menghitung jumlah anak tangga beberapa kali, hasilnya tidak pernah akan sama dari setiap orang, atau setiap kesempatan menghitung. Seketika saya teringat dengan tangga menuju makam kerajaan Imogiri - Jogja, mitosnya serupa.

Sementara jika berbalik badan, maka akan terlihat sejauh mata memandang adalah rimbunnya hutan alami, sebagian telah terlewati ketika menuju kesini. Pemukiman warga Rejang Lebong juga terlihat sangat mungil atapnya. Saya pun mengabadikan beberapa gambar dari kamera poket yang dibawa. Sebelum menaiki tangga seribu tentunya. 

balik badan, dan pemandangan
Tidak lama terdengar raungan knalpot sepeda motor dari arah bawah, kemudian mucul dihadapan dua motor jenis bebek dengan pengendara membawa senapan angin. Di duga mereka adalah warga sekitar bukit Kaba, jika melihat apa yang dipakai, dan tanpa memakai helm. Saya pun menyapanya.

Layaknya orang yang baru ketemu, kami pun saling mengenalkan diri. Heri dan Riki adalah namanya. Warga desa yang terletak tidak jauh dari posko pendakian. Sebagai orang lokal tentu mengenal lebih jauh tentang bukit Kaba. Mereka kesini tujuan utamanya adalah berburu satwa disekitar bukit terutama jenis burung. Heri bercerita, jika bukit Kaba selain sebagai tempat wisata pelepas penat, juga untuk berbagai keperluan seperti melunasi nadzar, yaitu melaksanakan apa yang telah dijanjikan jika apa yang dimohon terkabulkan. Kebanyakan yang kesini dengan melepas burung merpati atau kambing untuk melaksanakan nadzar mereka. Memang saya temui ada beberapa ekor burung merpati disini, mungkin jika saya temui kambing akan saya bawa turun kebawah untuk dijual kembali. 

Atau cerita berbau mistis, ada salah satu dusun bernama Curup yang jika warganya mendaki ke bukit ini akan mendapat celaka diperjalanan, entah itu hilang atau malah ditemukan sudah tidak bernyawa. Heri juga berpesan untuk menjaga ucapan dan perilaku selama disini, karena sudah banyak kejadian aneh diluar logika jika tidak bisa menjaga hal tersebut.

Heri juga mengatakan jika saya beruntung bisa menemui langit cerah tanpa ditutupi kabut. Karena mereka sendiri sering kesini, tetapi jarang sekali menemukan cuaca seperti ini.

Heri dan Riki pun naik keatas duluan dengan meniti tangga seribu. Sementara saya berhenti sejenak untuk sekedar menenggak minum. Oya jika kesini hendaknya membawa air minum dari bawah, karena disini tidak ditemui pedagang makan/minuman.

tempat parkir, tangga seribu, Heri & Riki yang naik duluan
Setelah mereka hampir sampai atas, saya menyusul naik. Kemiringan tangga hampir 45 derajat, membuat energi terkuras, beberapa kali berhenti buat menyelesaikan nafas yang terputus-putus. Penuh hati-hati menapaki anak tangga, karena tidak ada pengangan disisinya, keseimbangan tubuh harus tetap terjaga. Konon juga sering terjadi kecelakaan ketika pengunjung menaikinya, tentu celaka ketika jatuh dan megelinding kebawah.

Akhirnya sampai atas, diujung tangga dibatasi pagar berbeton yang hampir mengelilingi kawah, beberapa pagar sudah rusak dan rubuh. Sementara sesekali melongok kebawah kawah untuk memperhatikan kepulan asap sulfur yang berhembus dari permukaan tanah. Terdapat jalan setapak juga jika ingin turun kebawah kawah, tapi saya tidak melakukannya karena jaraknya lumayan jauh. Saya lebih memliih berada dipinggir kawah memperhatikan sekelilingi. Terus terang baru pertama kali ini menjumpai pemandangan seperti ini, berada di ketinggian sekitar 1938 meter dari permukaan laut, dengan berdapingan mulut besar kawah yang masih aktif.

bersama Heri dan Riki samapi puncak :)

Walau saya saat itu berada diketinggian tapi kenapa dalam hati bergumam bahwa betapa 'rendahnya' atau kecilnya manusia dibandingkan dengan ciptaan Nya terahampar dihadapan. Gusti Allah memang Maha Keren!

Saya semakin mendekat ke bibir kawah, harus hati-hati, lengah sedikir saja bisa terjun bebas ke dasar. Saya perkirakan dalamnya sekitar 100 meter. Bau belerang menyengat tidak bisa di hindari, entah efek bau tersebut atau bukan  kepala sedikit pusing. Berjalan mengelilingi pinggir kawah walau tidak satu lingkaran penuh, hanya berjalan yang bisa djangkau, karena beberapa bagian adalah tebing terjal. Mengabadikan beberapa gambar dengan kamera seakan wajib hukumnya, sesekali narsis dengan tripot dan selftimer menjadi solusi ketika berpergian sendirian.


kota Curup kelihatan dari sini:
 photo 61copy_zps8468a641.jpg
pagar kawah:
 photo 62copy_zpsf048abc4.jpg
lebatnya hutan lindung:
 photo 58copy_zpsd9eb1e9c.jpg
jalan turun menuju kawah:
 photo 52copy_zpse0145434.jpg
sisi lain:
 photo 60copy_zpsa792d7f8.jpg
kepulan asap sulfur:
 photo 56copy_zps10ef891f.jpg
mengelilingi bibir kawah:
 photo 54copy_zps820631da.jpg


Tidak ada orang lain selain saya sendiri setelah Heri dan Riki pamit turun duluan. Begitu hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Walaupun saat itu sangat terik, tapi udara gunung tidak membuat tubuh ini berkeringat.

Keheningan pecah saat terdengar suara satwa jenis kera, saya menebak itu suara simpanse atau sejenisnya, karena pernah mendengar ketika berkunjung ke kebun binatang, arah suara dari hutan dibawah, sangat keras suaranya. Sedikit membuyarkan kosentrasi. Tidak lama kemudian saya turun menuju parkiran.

mereka mengaku dari kota Pahiang. Dan latar belakang tembok penuh vandalisme seolah menjadi ciri tidak baik bangunan di negeri ini. Semoga generasi ini tidak melakukan hal serupa

Tadinya mau tancap gas kembali pulang, tapi dekat tempat parkir saya jumpai beberapa anak muda disana. Saya hampiri dan mulai mengobrol. Mereka sekitar delapan orang telah menginap disini dengan cara berkemah, dan mendaki ketika menuju kesini. Tentu dengan jalur pendakian. Tidak lama mengobrol disini, sayapun pamit turun. Tidak ada halangan berarti ketika jalan kebawah sampai gapura pintu masuk jalur kedua bukit Kaba. Alhamdulillah.

Disini saya mendapat "message in a bottle" bahwa gusti Allah masih sayang pada saya, dengan masih melindungi selama dan setiap perjalanan. Semoga. Amin.



**************

Kamis, 21 Agustus 2014

3 in 1 Day Trip w/ Akmal #Candi_Abang

"Om..yuk adventuran kayak om gitu, kemana kek..aku pengen ke candi, tapi selain Borobudur dan Prambanan" celetuk Akmal

Belum genap satu jam saya tiba dirumah setelah melakukan perjalanan mudik (klik disini untuk cerita perjalannanya), keponakan dari Bogor yang lebih dulu tiba di Jogja, mengajak untuk bepergian ke suatu tempat. 

Ajakan keponakan yang baru saja masuk SMU ini saya sanggupi. "Tapi setelah lebaran aja yak" jawab saya  tanda sanggup. Saya merasa senang juga karena keponakan saya mempunyai antusias untuk travelling, adventuran atau apalah disebutnya, berpergian di alam terbuka, menikmati udara yang masih segar tentunya lebih baik dari pada menikmati gas freon hembusan dari mesin pendingin di pusat perbelanjaan. Selain efek lain yang cenderung akan menjadi konsumtif jika sering bepergian ke mall

Lebaran hari kedua Akmal menagih janji, dengan semangat pula dia segera bersiap saat pagi tiba. Saya sudah merencanakan suatu tempat sesuai yang di maksud Akmal, pergi ke suatu candi yang konon peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. 

Letaknya tidah begitu jauh dari rumah orang tua tempat kami singgah selama mudik di Jogja. Masih satu kabupaten yaitu Sleman. Berbekal informasi dari google, saya arahkan peta yang di ponsel untuk menuju lokasi. Tepatnya berasa di dusun Candiabang, Kelurahan Jogotirto, kecamatan Berbah (koordinat: 7°48′37″LS 110°28′12″BT)

Di zaman yang serba memanfaatkan teknologi ini tidak terlalu sulit untuk menemukan lokasi. Eiiits..tunggu dulu, kami sempat berputar-putar didaerah Berbah, karena saat tiba ditujuan  google map sedikit menyimpang. Bertemu dengan salah satu penduduk setempat untuk bertanya lokasi candi Abang, dengan ramah dan berbahasan jawa penduduk tersebut menjelaskan arah kesana dengan bahasa tubuh, menggerakan tangan sebagai isyarat belok kanan atau kiri.

Ternyata lokasinya sudah tidak terlalu jauh, tidak ada petunjuk yang biasanya berbentuk papan, kami benar-benar mengandalkan informasi dari penduduk tadi. Memasuki jalan offroad  dan sedikit menanjak menanandakan lokasi semakin dekat, karena menurut informasi, letak lokasi candi Abang ada diatas bukit.

Akhirnya kami menemukan petunjuk papan yang menerangkan jika candi Abang tinggal berjarak 100 meter lagi. Melewati jalan semakin terjal, berbatuan kapur dengan sekeliling pepohonan kayu jati. Membuat bishop saya pacu pelan saja.

kurang 100 meter lagi
dalam 100 meter
touchdown
Tiba di lokasi padang rumput dengan beberapa kambing sedang digembalakan, entah di mana sang pengembala. Berjalan, melihat-lihat lokasi ternyata letak candi berada beberapa meter dari tempat saya memberhentikan bishop. 

Dengan sedikit menanjak, kami berjalan kaki menuju lokasi candi. Sempat tengok kanan-kiri, bertanya dalam hati, dimana candinya? Tampak disana seperti gubuk, duduk dua orang wanita yang sudah tampak berumur. Ternyata mereka lah si pegembala kambing-kambing tadi. Saya hampiri, dan bertanya tentang candi Abang. menurut keterangan dari ibu-ibu tersebut, jika candi yang dimaksud apa yang dilihat dihadapan, yaitu gundukan menyerupai bukit, dengan hamparan rumput dipermukaannya. Jika baca artikel-artikel tentang candi ini, disebutkan jika menyerupai bukit Teletubies, yang sering terlihat diacara serial televisi. 

mengobrol dengan pengembala kambing
ternyata ada jalan menuju pinggir candi dengan motor
itu dia candinya!!
Ternyata bukit itu tadinya adalah tumpukan batu bata merah yang dibentuk meyerupai pyramid. Kami pun menuju puncak candi ini, disana terlihat bagian candi memang terbentuk dari susunan bata merah, karena posisi lebbih tinggi, sebagian kota Sleman terlihat dari sini, barisan bukit Gunung Kidul tampak juga. 
(informasi lain candi Abang bisa klik di sini)

Akmal sampai atas
dan mengerti kenapa disebut candi Abang
Hari yang cukup cerah, angin sepoi-sepoi membuat kami sedikit betah disiini. Sampai akhirnya kami meninggalkan lokasi setelah kurang lebih satu jam lamanya disini. Karena akan melanjutkan perjalanan lagi. Oya masih ada dua lokasi lagi yang kami kunjungi, itu mengapa judul postingan ini 3 in 1 Day Trip

dari atas
masih dari atas
pemandangan lain 

travel mate
bersambung.........










Rabu, 13 Agustus 2014

Sepenggal Cerita dari Selatan Jawa

Terbangun dipagi hari (26/04/2014) saat hujan belum reda, saya beranjak dari penginapan di kawasan pantai Pangandaran setelah menempuh perjalanan dua hari saru  malam menempuh rute Cikarang-Cidaun- - Pangandaran melewati pinggir pulau Jawa selatan, bersama seorang teman bernama Dadang.

Kami berpisah di Pangandaran sore harinya, untuk kemudian Dadang menuju Cirebon, kampung halamannya. Ya, perjalanan kami ini memang dalam rangka pulang kampung alias mudik dalam rangka hari raya Idul Fitri, 2014. Saya sendiri akan melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta, kota tujuan mudik. Karena disana lah orang tua saya tinggal.

Cerita perjalanan ini saya mulai saat dari Pangandaran sampai Jogja, karena cerita dengan rute Cikarang-Pangandaran akan dibuat oleh Dadang. Saya sendiri setahun sebelumnya menempuh rute yang sama dan pernah menuliskannya di blog ini pula. (klik disini untuk cerita perjalanannya)

Gerimis tidak berhenti menemani saya mulai dari Pangandaran, memakai celana tahan air serta membiarkan jaket tetap dipakai, karena bahannya kedap air untuk hujan ringan.

Baru menempuh jarak sekitar 13 kilometer dari Pangandaran, saya temui petunjuk mengarah ke suatu pantai. Pantai Karapyak di sebutnya. Jalan pedesaan berbatu kapur, dikombinasi dengan aspal berlubang menyambut. Masih gerimis, lengkap dengan kabut pagi menambah mengigilnya tubuh ini. Tapi tidak begitu masalah, suasana pagi membuat saya tetap semangat berkendara.

Benar saja, hanya berjarak 4 kilometer dari papan petunujuk tadi, saya temui hamparan laut luas, hanya berjarak 10 meteran dari aspal jalan. Bishop saya dekatkan kebibir laut, yang dibatasi dengan tanggul berbeton.

touch down
Pantai Karapyak yang berada di desa Bagolo, kecamatan Kalipucang pagi itu masih tergolong sepi, entah karena masih terlalu pagi, saat itu saya tiba dipantai ini pukul tujuh. Berderet rumah warga menghadap ke pantai, beberapa juga tampak penginapan kelas melati, tidak banyak warung makan/minum disini, suasananya masih sangat asri.

Beberapa tempak duduk terbuat dari beton juga tersedia, langsung menghadap ke laut lepas. Tapi sangat disayangkan ulah tangan jail, mencoret beberapa tempat duduk ini dengan cat semprot, sedikit menganggu keindahaan pantai. Mirip taman kota, dengan hamparan rumput gajah nan hijau menambah betah jika berada disini.

'karpet hijau' dan deburan ombak










“I think one travels more usefully when they travel alone, because they reflect more." ― Thomas Jefferson



Stop Vandalisme!:
 photo 25copy_zpsc2227c56.jpg
Jika saja tidak sedang gerimis saya akan berlama-lama disini. Hanya sekitar setengah jam dsini, perjalanpun dilanjutkan. Saya memang berniat dan penasaran untuk menelusuri jalan paling pinggir selatan Jawa. Ketika Google map menunjukan percabangan jalan, saya sempat berhenti untuk menengok kembali peta di layar ponsel. Jika kekanan akan menjauhi pinggiran Jawa, sedangkan ke kiri adalah mendekati ke laut selatan Jawa. Baiklah, saya mantap memilih belok kiri.

salah satu pemandangan setelahdari pantai Karapyak
Jalan aspal sudah tidak ditemui lagi disini, berganti dengan bebatuan kapur, sedikti licin karena hujan yang turun, beberapa kali ban bishop slip ketika saya mengeremnya. Kadang juga berganti jalan tanah merah. Terdengar suara ombak terdengar dari seberang tebing yang tertutup pepohonan. Sementara jalan semakin menyempit, melihat kedepan radius seratus meter. terdapat jalan setapak dan menanjak, Bishop pun saya berhentikan, dengan jalan kaki mendekat ketanjakan tersebut, untuk memperkirakan apakah bisa dilalui oleh Bishop.

balik kanan setelah melihat jalan didepan
Ternyata jawabnya 'tidak', dengan berat kosong Bishop yang mencapai 140 kilograman, jalan setapak dengan kemiringan sekitar 30 derajat, serta bertanah licin serasa tidak mungkin melewatinya. Memang jalan ini berbatasan tebing, yang jika saya melongoknya sudah terlihat hamparan laut selatan.

Masih ditemani gerimis, saya balik arah. Ternyata tantangan baru di depan mata, ketika sebelumnya saya melewati sebuah turunan dengan kondisi jalan tanah merah, biasanya disebut tanah keramik karena saking licinnya. Tentu saja ketika balik arah, menjadi tanjakan yang menguras energi untuk melewatinya.

Saya turun dari jok, menuntun Bishop diawal tanjakan, menarik handel gas dengan sedikit mendorongnya, tetap saja roda tidak bergerak maju sedikitpun hanya berputar-putar ditempat, sementara spakbor depan sudah terisi penuh oleh tanah, semakin menghambat laju roda.

Sampai akhirnya berhenti sejenak untuk sekedar mengambil nafas, dan memikirkan bagaiman bisa melewati tanjakan dengan kemiringan sekitar 25 derajat penuh tanah ini. Suara ombak dan kicauan burung sedikit menenangkan, ada rasa panik sedikit sebelumnya karena saya disini seorang diri, jauh dari pemukiman.

Tool kits saya keluarkan dari tank bag untuk mencopot spakbor depan, dengan tujuan agar memperlancar laju roda yang sudah penuh dengan tanah diantara ban dan spakbor depan. Terus terang saya belum pernah melakukan mencopot spakbor, setelah dicoba ternyata melepas baut dibagian dalam spakbor tidak mungkin dilakukan, jika tidak melepas roda depan terlebih dahulu.

Situasinya semakin sulit karena tempat berdiri bishop dipenuhi tanah untuk mencopot ban depan tentu saja akan kehabisan tenaga. Kepikiran untuk menghancurkan paksa spakbornya. Entah datang dari mana, saya mendapatkan ide untuk mengurangi tekanan angin ban depan dan belakang, konon bisa menambah traksi atau daya cengkram antara ban dan tanah. Setelah dikurangi tekananya, saya coba usaha mengeluarkan bishop dari tanjakan ini, dan akhirnya berhasil.

akhirnya bisa keluar
ada yang pesen donat?
Diujung tanjakan sambil nafas tersendat-sendat, saya bersyukur bisa keluar dari tanjakan jahanam itu. Dan mengambil pelajaran, bahwa tantangan dipejalanan diberikanNya bedasarkan batas kemampuan dari tiap-tiap orang yang diberi tantangan.

Menyusuri kembali jalan yang lebih layak karena terdapat beberapa pemukiman. hujan semakin deras, dingin membuat semakin mengigil, saya sadar bahwa jaket yang saya kenakan sudah dari kemarin terkena hujan dan airnya mulai meresap menyentuh kulit. Sambil mencari tempat kosong untuk ganti jas hujan dan berteduh sejenak. Akhirnya saya menemukan teras bengkel otomotif yang sedang tidak beroperasi. Hampir menghabiskan setengah jam disini, untuk ganti kostum dangan jas hujan dan perlengkapan lainnya supaya kedap air.

meneduh
perlengkapan kedap air 
Hujan tidak reda juga, perjalananpun dilanjutkan. Masih di kecamatan Kalipucang- Cilacap. Melalui jalan pedesaan berkendara ditengah rintik hujan sambil mendengarkan lagu kesukaan yang bergema didalam helm merupakan kesenangan tersendiri bagi saya. Oya sebelumnya google map navigasi saya arahkan ke pulau Nusa Kambangan. Ya..saya sudah merencanakan ketika diperjalanan untuk mendatangi pulau yang terkenal sebagai tempat beberapa Lembaga Pemasyarakat berkeamanan tinggi di Indonesia. Pulau tersebut juga kadang di juluki 'Alcatraz' nya Indonesia.

seberang sungai adalah pulau Nusa Kambangan
Hamparan sawah padi terlihat luas, berbatasan dengan sungai lebar menuju laut. Sedangkan di seberangnya lagi terdapat dataran. Jika melihat google map di ponsel, saat posisi saya berada, dataran yang terlihat itu adalah pulau Nusa Kambangan. Baru pertama kalinya saya berada disini. Tidak seperti bayangan saya sebelumnya,  ketika dahulu pernah mendengar tentang pulau ini. Sebelumnya saya kira,  dari mulai pinggir pulau sudah dipagari layaknya penjara-penjara yang pernah saya lihat.

Sampai akhirnya laju roda bishop terhenti ketika saya melihat papan besar bertuliskan "Pelabuhan Penyebrangan Majingklak" setelah mengambil foto di depan gerbang pelabuhan, saya beranikan untuk masuk ke kawasan ini. Disambut seorang wanita, jika dilihat dari penampilannya beliau adalah seorang ibu rumah tangga.

didepan gerbang pelabuhan
"Permisi bu, boleh saya tanya-tanya?"  saya membuka percakapan setelah melepas helm
"Oh..silahkan, mau tanya apa, mas?"jawab ibu itu menyambut hangat
"Begini bu, kalo saya mau ke Nusa Kambangan apakah benar bisa melalui pelabuhan ini? saya bertanya lagi.
"Iya benar, mas. Tapi coba saya tanya bapaknya (suami ibu tersebut)" seusai menjawab, beliau menuju rumah disebelah pos, sambil memanggil suaminya.
Tidak lama, sang suami keluar  sambil mengajak saya masuk kedalam rumah tersebut, kata bapak tersebut "supaya enak ngobrolnya"

disambut
Adalah bapak Abdullah yang mengajak saya masuk sebuah rumah seukuran kira-kira enam puluh meter persegi. Tampak masih dalam perbaikan, pak Abdul juga menjelaskan diawal obrolan jika ini adalah rumah dinas yang baru dibangun untuk menjalankan tugasnya sebagai pengawas di PT. ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyebrangan). Beliau sudah mengabdi di ASDP sekitar 11 tahun, berpindah-pindah tugas di beberapa provinsi termasuk pernah bertugas di Papua. Beliau kelahiran dan besar di kota Bandung, dari logat bahasanya sudah bisa saya tebak sebelumnya.

Setelah mengutarakan maksud saya, pak Abdul menjelaskan jika ingin menyeberang ke pulau Nusa kambangan dapat menggunakan perahu yang bisa disewa seharga kisaran empat puluh sampai lima puluh ribu rupiah. Untuk mencapai pulau itu memakan waktu tidak lebih dari setengah jam. Jika ingin kembali, tinggal hubungi aja operator perahu yang disewa tadi via telepon, makan akan dijemput kembali. Pak Abdul menjelaskan segala sesuatu info yang saya butuhkan secara detail. Sambil ditemani kopi panas, obrolan pun semakin hangat.

Hujan juga tidak semakin reda, malah deras. Pak Abdul bercerita panjang lebar. Saya merasa menjadi pembawa acara talk show tokoh inspiratif. Kenapa demikian?saya lebih banyak mendengarkan cerita dari pak Abdul tentang berbagai hal. Bahwa ternyata beliau punya hobi mengendarai motor yang lebih umum di sebut touring dengan berbagai komunitasnya. Tapi sudah ditinggalkan hobinya tersebut, sekarang lebih sering masuk keluar hutan dengan menggunakan motor jenis trail yang beliau modifikasi/membuat sendiri.

Keahlian meracik jenis motor trail yang dari awalnya motor bebek atau batangan biasa ini, akhirnya beliau memutuskan untuk mendirikan bengkel modifikasi di kecamatan Kalipucang ini. Dengan merekrut pemuda-pemuda yang awalnya menganggur, bengkel tersebut bisa menajadi lahan nafkah bagi para pemuda yang bekerja disana. Beliau sendiri tidak ber-orientasi pada keuntungan materi atas bengkel itu. Baginya, bengkel itu sudah bisa beroperasi, bisa menyalurkan kegiatan postif dilingkungannya sudah cukup. Sungguh niat yang mulia.

bersama pak Abdul
Sudah satu jam lebih saya bersama pak Abdul, hujan juga malah semakin deras. Sedangkan waktu sudah menunjukan hampir pukul 12 siang. Saya memutuskan untuk tidak menyeberang ke pulau Nusa Kambagan karena lasan cuaca dan waktu. Mungkin lain waktu bisa mempunyai kesempatan lagi kesana. Sayapun berpamitan dengan pak Abdul beserta istri seraya mengucapkan banyak terimakasih atas informasi dan kehangatan sambutannya.

Mengingat waktu yang semakin siang, saya fokus untuk samapi Jogja hari ini. Rute yang ditempuh selanjutnya adalah Kalipucang-Cilacap-Kebumen-Jalan Daendels-Yogyakarta. Alhamdulillah saya tiba dirumah orang tua (Tempel-Sleman) saat waktu menunjukan pukul sembilan malam.
Bapak dan Ibu, maafkan anakmu yang pulang telat (lagi).

melewati daerah Kawunganten, Cilacap. Tidak serasa sedang mudik. Tidak macet. 
masuk kota Kebumen, dan melewati perbukitan itu
istirahat dipinggir jalan Daendels
ba'da magrib melewati kota Ambal-Kebumen, menyantap makanan kesukaan yaitu sate Ambal,
 warung milik pak Kasman


**********