Our Riding Ware

Senin, 29 Juni 2015

[sambungan#3] Bermain di Bawah Bromo, Terseok-seok Menuju Puncak B29 [Selesai]

Cerita sebelumnya klik disini

Awalnya tidak curiga apa yang terjadi dengan Bishop, tapi setelah diperhatikan dengan seksama ada hal janggal. Handle koplingnya lepas dari lubang pengaitnya, dan ujungnya patah. Sama sekali tidak bisa digunakan sesuai fungsinya. Sempat terjadi panik sebentar, sempat terpikir gimana melakukan perjalanan pulang jika untuk menjalankan Bishop saja tidak bisa, terlebih medan jalannya ang tidak biasa pada umumnya.

Mencoba tenang sambil membuka tempat peralatan, kunci pas serta yang lain. Selalu saya bawa, untuk mengantisipasi kondisi seperti ini. Sepertinya percuma untuk menyiarkan keadaan ini lewat media sosial dengan pesan "mayday..mayday..". Tukang ojek yang bisa lewat jalan menuju kesini pun enggan, apalagi orang lain akan sengaja membawa untuk sebuah apa yang dibutuhan Bishop saat itu. Terlihat bungkusan kabel tie atau pengikat kabel. Di coba melakukan beberapa ikatan pada handle kopling.

Berasa seperti tokoh film  MacGyver, kali ini saya berhasil memfungsikan tuas kopling ini kembali, paling tidak untuk sementara dan bisa sampai kota Malang, untuk membeli tuas yang baru nantinya. Arrgh..leganya.

patah
Sambil menikmati pemandangan dari ketinggian +/- 2900 mdpl ini saya mencari infromasi tentang jalur kepulangan, yaitu jalur menuju Ranu Pani lalu arah Malang. Kalau jalur ke Malang sama dengann jalur saat berangkat. Tapi, jalur ke arah Ranu Pani ini masih perlu banyak informasi, karena tidak ada petunjuk jalan yang jelas mengarah kesana, serta konon medan jalan yang terbilang lumayan ekstrim.

Tadinya ada seorang warga setempat yang berkenan mengantar sampai Ranu Pani, tetapi warga tersebut akan turun dulu untuk mengantar wisatawan. Setelah ditunggu cukup lama, pe-ngojek tersebut tidak muncul juga. Baiklah, saya akan mencari penggantinya dengan beberapa tukang ojek yang masih beberapa terlihat disini.

Bertanya dengan seorang pengojek yang sedang menunggu wisatawan untuk memakai jasanya. Setelah sedikit berbasa basi, saya menuju pada pertanyaan, "berapa tarif jika akan memakai jasanya untuk mengantar sampai Ranu Pani" dijawabnya dengan menyebut nilai rupiah enam puluh ribu. Sedikit tersentak dengan jawabannya. Mencoba menawarnya dengan maksud tarif bisa turun, tetapi usaha saya tidak berhasil. Dia tetap kuat pendiriannya dengan harganya.

Malah ditambah dengan perkataan menakut -takuti, katanya "jalurnya sangat sulit, ada beberapa ruas jalan hanya setapak yang pinggirnya adalah jurang dalam, serta ada beberapa persimpangan akan sangat membingungkan".

Apa yang disebutkan tukang ojek itu tidak lantas membuat saya berniat memakai jasanya, tapi justru sebaliknya saya segera meninggalkan dia menuju ke tempat Bishop dan segera berkemas. Bukan alasan karena didompet hanya tersisa tiga puluh rupiah, walau ada mesin ATM disini tetap tidak akan keluarkan untuk membayarnya. Tapi, lebih untuk tidak membiasakan warga setempat untuk "memalak" para pelancong dari luar daerah untuk menikmati objek B29 ini.

Dengan modal hanya mengetahui jalan masuk ke rute ini dengan tidak adanya informasi lengkap, Bishop segera dipacu. Melewati jalan perkebunan dengan lebar satu meteran, yang biasa digunakan warga menuju ladang sayur mayur mereka.

Jalan semakin menyempit bisa dikatakan berubah menjadi jalan setapak atau seroda. Terdapat persimpangan berbentuk huruf "Y" , sempat berhenti disini untuk menentukan akan mengambil jalan yang mana. Ditengah kebingungan, seperti mendapat pertolongan dari langit, tidak jauh dari Bishop berhenti, terlihat kerumunan remaja sedang berkumpul dengan masih duduk di sepeda motornya. Saya tanyakan tentang arah tujuan saya. Mereka menunjukan arahnya. Salah satu dari mereka menawarkan untuk berkendara bareng hingga Ranu Pani, karena kebetulan remaja ini akan pulang menuju Ranu Pani juga. Alhamdulillah.

Remaja ini mengenalkan dirinya dengan nama Endi. Saya disuruh melaju lebih dulu, sementara endi membututi dari belakang, "ntar kalo ada persimpangan, saya bilangin arahnya, mas" celetuk dia dari belakang. Dan tantangan dimulai, melewati jalan sempit dengan beragam kondisi merupakan keseruan yang mendebarkan.

Mengatur kecepatan Bishop untuk pelan dan menjaga kesimbangan ketika disebelah kanan adalah jurang dalam, terlihat padang pasir Bromo dibawah dari saya berkendara. Atau memutar handle gas Bishop lebih dalam ketika   menemui kubangan air menggenang sehabis hujan, serta menenggelamkan setengah dari roda, menambah kecepatan pada situasi seperti ini diperlukan untuk menambah torsi sehingga bisa terbebas dari lumpur yang seakan tidak mau melepaskan roda untuk melaju.

jalan seroda
kubangan
jurang
Ditengah perjalanan saya mempersilahkan Endi melaju lebih dulu, salah satu alasannya saya akan lebih leluasa mengambil foto dengan ponsel berpiksel rendah ini, setelah kamera poket lowbat sejak di B29. Jalan bertambah variasi, kini tanjakan sempit denga licin sehabis hujan sempat membuat saya dan Bishop ambruk. Endi menghampiri dan membantu mengangkat Bishop setelah mendengar jatuhnya Bishop. Juga melewati pepohonan ilalang dari sisi kanan-kiri yang dahannya membentuk terowongan, membuat saya berkendara sambil menundukan badan serta menutup kaca helm demi keamanan, terutama mata yang tidak mau tersambar ranting.

jalan licin
terowongan
Kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika melewati jalan selebar 1 meteran dengan kanan kiri tebing, mirip trek mainan Tamiya atau Hotwheels, kesimbangan mengendalikan Bishop mutlak diperlukan disini, tapi entah karena sudah sedikit lelah atau hilang kosentrasi, roda Bishop tergelincir ketika melewati permukaaan jalan yang tidak rata.

Braaak!!  Bersama saya, Bishop ambruk kekiri. Tebing menahannya, tapi ada hal tidak diduga. Footstep atau pijakan kaki bagian depan, menjepit bagian kaki saya, tepatnya di sebelah bawah dengkul. Kaki saya seperti di paku dengan tebing dengan tekanan seberat Bishop. Tidak bisa bergerak sama sekali, mencoba berontak tidak mengubah keadaan, saya cuma bisa berteriak sekencang-kencangnya, dengan suara kencan kesakitan dan terselip kata 'tolong-tolong'. Dengan maksud Endi yang sudah melaju duluan mendengar, dan kembali mundur. Sekitar 3 menit, Endi tampak dan segera membagunkan Bishop. 

Bekas tusukan  footstep sampai sekarang saat menulis cerita perjalanan ini masih membekas hitam. Setelah meneguk air mineral, dan menangkan diri kami melanjutkan perjalanan. Entah apa yang terjadi jika tidak ada Endi, remaja ini seperti dikirim dari lagit oleh Tuhan untuk menyelematkan saya, agar bisa melanjutkan perjalanan dan hidup ini. 

keluar dari jalan maut
Endi, hero of the day..!
view sebelum keluar dari jalur B29 - Ranu Pani
Endi berkata,  "sebentar lagi udah sampai jalan yang ke Ranu Pani kok, mas". Benar saja, tidak lama kemudian tibalah di jalan akses antara Jemplang dan Ranu Pani. Kami muncul di pertigaan yang terdapat Pura kecil, pertigaan ini sudah saya akan masuki sehari sebelumnya, dan ragu-ragu untuk melewatinya karena melihat tanjakan dan lebar jalan yang tidak memungkinkan rasanya jika melaluinya bersama Bishop.

Setelah mengucapkan banyak terimakasih kepada Endi serta memberikan sekedar uang saku kepadanya, saya pamit menuju pulang, kali ini mengarah ke Jogja dan melewati Malang kembali. Suatu saat jika kembali ke kawasan Tengger-Bromo-Semeru ini, semoga saya bisa menemui Endi kembali. Semoga dia masih ingat dengan saya. 


Penutup

Beberapa pejalan, pelancong atau apalah isitilahnya melakukan perjalanan seorang diri dipercaya sebagai ajang meditasi, banyak renungan-renungan terjadi didalamnya, terkait kejadian didalam perjalanan. Banyak melakukan monolog atau bicara sendiri kepada dalam diri untuk suatu keputusan, dengan begitu kita akan lebih mengenal diri sendiri dan menjadi diri sendiri juga tentunya. Sifat mandiri mutlak diperlukan disini. Tetapi percaya jika Tuhan tidak tidur, Dia banyak mengirimkan bala bantuan ketika hambanya merasa memerlukan. Dipertemukan dengan orang-orang baik yang baru ditemui menjadikan kesan tersendiri. Walau harus tetap waspada terhadap marabahaya yang akan terjadi, dan semua ada resiko yang selalu siap dihadapi. Alhamdulillah selalu dalam lindungan Nya.


-SELESAI-

Senin, 08 Juni 2015

[gallery] Bermain di Bawah Bromo, Terseok-seok Menuju Puncak B29

Cerita sebelumnya dapat di klik disini

Setelah cukup mengeringkan keringat sehabis 2 kilometer yang melelahkan, layaknya pelancong yang lain, saya mengambil beberapa foto disini, sedikit sial karena kamera poket habis energi baterainya alias lowbat ketika baru mengambil beberapa gambar dilokasi ini, hanya menggunakan kamera dari handphone dengan resolusi gambar tidak seberapa sebagai perekam dokumentasi, paling tidak gambar-gambar ini memang tidak layak di ikutkan kontes photography.

yuhuu..negeri diatas awan eh kabut!
sisi sebelah timur, puncak Argapura terlihat. Arrrgh..syahduu!
saya gak tau, apakah foto siluet termasuk kategori selfie?tapi yang sedang berdiri itu saya, haha (foto by timer)
sisa tanah masih menempel
entah kabut atau awan
sudah mulai menyingkir, dan tampak segara wedi
sehari sebelumnya, saya melewati apa yang terlihat dibawah. Dan perjalanan adalah sebuah proses
tidak banyak yang dilakukan disini, tidak berpindah-pindah mencari view berfoto, karena masih butuh untuk menyisakan energi untuk pulang
Cerita selanjutnya, selain mendokumentasikan apa yang terlihat disini, juga ada hal penting yang harus dikerjakan disini, dan tentu cerita perjalanan turun dari sini.


Bersambung............

Jumat, 29 Mei 2015

[sambungan#2] Bermain di Bawah Bromo, Terseok-seok Menuju Puncak B29

Cerita  sebelumnya bisa klik disini

Terbangun pukul 3.15 pagi, kali ini alarm ponsel terlambat karena saya mengaturnya pukul 4.00. Keluarga pak Taufik pun belum terbangun. Sementarta saya sudah bersiap kembali dengan mengemasi semua barang bawaan, menata kembali supaya lebih ringkas. 

Setengah jam kemudian saya keluar dan  menyiapkan Bishop untuk menanjak ke puncak. Pak Taufik sudah terbangun, karena beberapa wisatawan sudah lewat depan rumahnya, mereka berjalan kaki dari bawah setelah menginap di rumah-rumah penduduk. Pak Taufik melaksanakan tugasnya sebagai penerima retribusi, dengan karcis seharga lima ribu rupiah. 

Selesai semua persiapan selesai saya ijin pamit ke Pak Taufik, ketika ditanya berapa tarif menginap semalam, beliau menolak untuk diberi beberapa lembar uang. Arrrgh...sesuatu yang membuat heran, kenapa orang pelosok tidak terlalu doyan duit? Berpesan hati-hati ketika nanjak karena masih licin sehabis hujan, pak Taufik melepas saya dari kediamannya.

Penerangan jalan hanya mengandalkan lampu depan dan LED tambahan dari Bishop, kabut masih menyelimuti kawasan ini membuat jalan yang dilalui menjadi remang-remang ditengah gelapnya subuh, jarak pandang hanya seperkian meter. Ini adalah tantangan awal sebagai pengguna kacamata minus. 

Benar saja, baru sekitar dua puluh meter keluar dari rumah pak Taufik, Bishop salah mengambil jalur ke jalan yang lebih rendah, mirip kubangan. Karena sedikit kaget karena kubangan itu tidak terlihat sebel;umnya, Bishop jatuh untuk pertama kali hari itu, seakan mengawali perjalanan ini dengan buruk. Entah kenapa Bishop semakin terasa berat, perlu tenaga ekstra untuk mengangkatnya tidak seperti biasanya. Pijakan kaki saya juga terlalu licin untuk menjadi tumpuan ketika akan mengangkatnya, beberapa kali kepleset.

Dari arah rumah pak Taufik berlari tergopoh-gopoh dengan terlihat sinar senternya, menghampiri kami. Tidak pakai basa-basi segera membantu mendirikan Bishop. Setelah sempat berkenalan sebelumnya, beliau bernama pak Sampurna, salah satu warga sini yang merupakan tetangga pak Taufik. Sambih ngos-ngosan untuk mengatur nafasnya, pak Sampurna menyarankan saya untuk menitipkan Bishop dirumahnya, dan jalan kaki menuju puncak. 

bangun setelah jatuh pertama
Lagi-lagi saya bersikeras untuk mengajak Bishop naik keatas, dengan alasan ingin pulang lewat jalan berbeda, yaitu jalur yang bisa tembus ke Ranu Pani. Saya juga minta tolong ke pak Sampurna untuk bisa menemani perjalanan saya ke puncak, untuk menunjukan jalan yang layak dilewati. Karena jalurnya sudah bisa terbaca ketika Bishop jatuh diawal pagi ini, maka saya akan habis energi jika harus melewati jalan ini sendiri dengan berat Bishop seperti itu.

Pak Sampurna menyanggupi untuk mengantar saya. Bishop tancap gas kembali, pak Sampurna berjalan didepan, sambil membawa senter. "ambil kiri, mas!" sambil menunjukan dengan sinar senter beliau mengarahkan jalurnya yang paling layak dilewati. Begitu seterusnya beliau memberi aba-aba, tergantung arah yang menurutnya pantas dilalui Bishop.

"lewat sini, mas!" ujarnya
Tapi karena memang jalurnya super licin, lagi-lagi Bishop terpeleset. Pak Sampurna kembali mundur untuk bersama mengangkat Bishop. Beberapa ruas jalan sengaja disiapkan oleh warga setempat karung-karung berisi pasir, fungsinya adalah ketika licin seperti ini, pasir ditaburkan kejalan untuk meminimalisir slip roda. Pak Sampurna beberapa kali juga melakukan tabur pasir ketika Bishop akan lewat.

 tabur pasir
Pasir yang disebar terutama pada bagian jalan sangat licin membantu traksi roda untuk bisa maju walau harus tetap dibantu dorongan. Memang cukup membuat ngos-ngosan kegiatan dorong mendorong ini, apalagi lokasi ini berada di ketinggian sekitar dua ribu meter dari permukaan laut, itu berarti kadar oksigen tidak sebanyak didataran yang lebih rendah.

Setiap beberapa dorongan saya duduk untuk isitirahat dipinggir jalan sambil meneguk air mineral,500 ml air harus berbagi dengan pak Sampurna, saya sedikit menyesal tidak membeli botol mineral lebih banyak sebelumnya. Ketika sedang melepas lelah, pak Sampurna segera mengingatkan saya untuk segera melanjutkan penanjakan. Alasannya, karena jika terlalu lama akan semakin banyak pengunjung lain yang menggunakan jalan ini, itu berarti akan menyusahkan karena jalan ini tidak terlalu lebar. Apalagi sebelah kanan jurang menjulang, siap menampung jika terjadi kecerobohan atau hal naas.

Memang benar, di bawah sudah terlihat beberapa sinar penerangan senter dari pengunjung yang berjalan kaki. Menurut pak Sampurna, biasanya malah banyak tukang ojek yang sudah naik dengan membocengkan para wisatawan, tapi karena medan jalan basah sehabis hujan maka pengojek memilih tidak beroperasi.

Entah Bishop ambruk berapa kali,  sudah tidak sempat menghitung. Engine guard yang berada di samping kiri-kanan terbuat dari pipa besi sudah bengkok tidak beraturan karena menopang motor  buatan India ini. Beberapa ratus meter terakhir, semburat sinar mentari mulai menampakan warna merahnya. Sementara tenaga sudah semakin kepayahan.

Pak Sampurna menyarankan untuk meninggalkan barang bawaan Bishop berupa dry bag 60 liter, dan tank bag. Tentunya dengan maksud meringankan beban, dan bisa naik dengan lebih leluasa. Pak Sampurna berjanji akan menyusul dengan membawa bawaan tadi, sementara saya disuruh melaju duluan.Kali ini saya melaju tanpa pak Sampurna, memang Bishop lebih mudah menanjak dari sebelumnya, tapi ketika salah milih jalur berlubang, saya harus dorong-mendorong sendirian.

Tibalah di percabangan jalan, arah kiri adalah jalan lebih sempit tapi bisa untuk motor serta jaraknya lebih pendek, sedangkan sebelah kanan sebaliknya, lebih lebar dan jaraknya lebih panjang. Saya ambil sebelah kiri, tapi setelah beberapa meter, pengunjung yang kebetulan melihat saya, menyarankan untuk ambil sebelah kanan saja, karena lebih landai, sedangkan sebelah kiri terdapat tanjakan dengan kemiringan curam. Saya ikuti saran pengunjung tersebut, sempat ambruk kembali ditikungan tanjakan ini.

"oh...sh*t..!"  berkarta dalam hati ketika menarik handle gas terakhir ditanjakan pamungkas, sebagai tanda bebas dari tantangan menanjak sepanjang 2 kilometer dengan terseok-seok. Bishop langsung saya parkir. Terdapat tulisan Puncak B29, menandakan saya sudah sampai. Tidak banyak yang dilakukan untuk beberapa menit kemudian, saya lebih banyak berdiam sambil melepas lelah, memerhatikan sekitar yang tampak samar-samar karena masih belum terang hari.


Berada disini ibarat dongeng Jack dan bijij kacang, menaiki pohon kacang setelah ditanam dan berada diatas awan setelah sampai diujung pohon. Lokasi B29 merupakan semacam bukit, dari sini saya dapak melihat gunung Bromo di sebelah barat, lautan pasir atau segara wedinya belum terlihat karena ditutup awan tebal nan putih,  sedangkan sebelah timur adalah bukit-bukit hijau perkebunan, serta pucuk gunung Argapura terlihat, bagian bawahnya tertutup awan pekat. Membuat merinding!

Lima belas menit kemudian pak Sampurna tiba, dengan barang bawaan serta helm saya. Rasanya ucapan terimakasih tidak cukup untuk mengapreasi kebaikan beliau. Walau kami baru kenal beberapa jam, tapi seakan sudah menjadi sebuah tim solid, yang bahu-mebahu untuk meyelesaikan tantangan ini. 

Jujur saja, saya terharu setelah sampai atas dan melihat jalan yang barusan dilewati.
Pak Sampurna tiba
Emosi kami tidak terbendung, rasa senang, puas, terharu bercampur aduk menjadi satu

Bersambung..............

Kamis, 21 Mei 2015

[sambungan] Bermain di Bawah Bromo, Terseok-seok Menuju Puncak B29

Cerita sebelumnya dapat  klik disini

Braaak!!
Braaak!!! baru saja beranjak dari parkir berberapa puluh meter dari ladangnya mas Eko, Bishop hilang keseimbangan ketika melewati jalan tanah coklat yang licinnya minta ampun karena basah sehabis hujan, berikut kubangan-kubangan cukup dalam tingginya hampir se-roda, seakan tidak ada pilihan jalan untuk Bishop.  

Suara ambruknya Bishop terdengar oleh mas Eko, sontak saja dia menghampiri sambil berlari. Mendirikan motor ini berdua cukup buat ngos-ngosan, menarik mundur kembali Bishop dari kubangan, membuat saya meneguk air mineral setelahnya. 

Entah langit sedang menertawakan atau menangisi kejadian ini, tapi beberapa menit setelah mendirikan Bishop, tiba-tiba hujan deras mengguyur. Dengan bicara cepat, mas Eko berkata, "ayoo..kerumah saya dulu!untuk berteduh" Tawarannya saya terima kembali. Setelah membalik arah Bishop, putaran gas pun ditancap kembali, hanya sempat memakai celana anti air, sedangkan jas hujan sudah tidak sempat terpakai. 

Rumah mas Eko tidak jauh dari warung tempat kami bertemu sebelumnya. Setelah mempersilakan masuk, saya langsung ijin ke kamar mandi untuk ganti pakaian yang sudah basah kuyup. Setelahnya mas Eko, sudah menunggu di depan perapian yang letaknya menyatu dengan ruangan depan rumah ini. Susu panas sudah ada dihadapan, sesosok wanita keluar dari dapur, tidak lain aedalah ibu dari mas Eko, dan mempersilakan meminum hidangan yang telah dibuatnya, supaya hangat badannya kata beliau.

Nilai keramahan yang sudah jarang ditemui di perkotaan, walau kami belum kenal sebelumnya tapi keluarga mas Eko sudah menerima saya layaknya saudara jauh yang baru datang. Terharu. 

Didepan perapian, kami ngobrol ngalor-ngidul ditemani Combat, yaitu nama anjing milik mas Eko, tidak lama kemudian ayah mas Eko juga ikut nimbrung mengobrol dengan kami. Begitu hangat. Mulai cerita dari, drop outnya dari falkutas pertanian salah universitas di Malang karena lingkungan keluarga memintanya untuk segera menikah. Tapi istrinya mas Eko tidak tinggal disini, melainkan di Malang, karena kebutuhan studi anaknya. Mas Eko termasuk murid berprestasi sedari SLTP, sampai ada guru yang berbaik hati untuk mendanai sekolahnya, termasuk ketika masuk universitas. 

Walaupun sudah tidak berada di lingkungan kampus, tapi mas Eko masih berhubungan baik dengan sarjana pertanian disana. Untuk bertukan pikiran masalah pertanian tentunya, yang sekarang menjadi mata pencarian utama keluarga ini. Penelitian untuk mendapat hasil pertanian terbaik juga dilakukan, biasanya teman sarjananya mengirim formula obat/pupuk, sementara mas Eko yang meraciknya dan langsung dicoba diladangnya. Hasil formulanya dilaporkan kembali ke temannya, begitu seterusnya sampai mendapatkan hasil terbaik.

Hampir dua jam saya asyik mengobrol di rumah ini, sementara waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Melihat diluar hujan sudah agak reda walau masih rintik gerimis, saya mohon pamit dengan keluarga ini. Mas Eko sempat menyarankan untuk naik ojek saja ke B29, nanti bisa dicarikan tetangganya yang biasa mengantar wisatawan kesana. Kali ini saya menolak tawaran mas Eko, dan tetap bersikeras untuk kesana bersama Bishop.

Setelah mengucapkan banyak terimakasih dengan keluarga ini,. Semoga kebaikan dan keberkahan selalu tercurah buat keluarga ini. Saya meninggalkan rumah ini diringi gerimis. 

Combat ikut mengobrol dengan kami
selfie didepan perapian *halah.
senyum ayahnya mas Eko melepas saya sehabis pamitan
Bergerak meninggalkan desa Wonokerso perlahan, melewati pemukiman warga, dengan kondisi gerimis. Jalan bebatuan semakin licin setelah diguyur hujan, beberapa kali roda bishop mengalami hampir kepleset. Menurut info dari mas Eko, ada jalur lagi menuju B29, letaknya kira-kira sebelum keluar desa Wonokerso, nanti ada beberapa petunjuk mengarah kesana.

petunjuk arah yang lucu
Keluar pemukiman warga diakhiri dengan sebuah tanjakan curam menikung. Berkendara didaerah dingin keinginan untuk buang air kecil semakin sering frekuensinya. Bishop diparkir pinggir jalan setelah tikkungan, segera lari ke ladang untuk mendapatkan toilet darurat di semak-semak pinggir ladang.

Keluar dari semak, ternyata ada warga dengan menunggang motor lengkap dengan pakain khas sehari-hari suku Tengger yaitu selalu ada sarung yang menempel di badan, berhenti di samping Bishop. Lagi-lagi keramahan warga setiap melihat pendatang terjadi disini, mungkin karena melihat  plat nomor Bishop dari luar kota, atau juga karena bawaan Bishop yang tidak lazim, atau lagi setelah melihat saya ternyata tidak memakai sarung. 

Pertanyaan standar dilontarkan, dari mana, mau kemana  oleh bapak pengguna motor Honda GL ini. Ketika saya jawab, jika saya dari daerah Bekasi, Cikarang tepatnya, bapak tersebut sempat kebingungan karena tidak tahu daerah tersebut, bukan karena berada di belahan planet lain, tapi setelah dijelaskan bahwa Bekasi tetangga kota dari Jakarta beliau baru mengerti. Saya utarakan juga jika saya hendak menuju ke puncak B29, dengan antusias beliau menunjukan jalurnya, yang ternyata jalur masuknya tidak jauh dari tempat kami mengobrol dan petunjuk jalannya sudah terlihat. 

sehabis pipis
Hari semakin sore saat itu jam tangan menunjukan pukul 5.20, saya segera pamit dengan bapak tadi. Menyusuri jalur yang ditunjukannya, Bishop kali ini sengaja dipercepat puataran rodanya, mengingat waktu sudah menjelang gelap, melewati jalan aspal berlubang dan kemudian berganti jalan cor mulus membentuk dua jalur, tiap jalur selebar setang Bishop. Sepertinya jalan ini memang di persiapakan untuk jalur wisata ke B29. Pemandangan disini pun menggoda untuk berhenti dan mengambil foto. Arrgh..andai saja tidak sedang mendung. Hamparan bukit hijau bercampur warna coklat tanah yang belum ditanamin, terlihat petakan-petakan ladang sayur mayur terlihat rapi dan serasi. 

jalan masuk
jalan cor

rapi dan serasi
Jalan kini berganti dengan tanah, dengan lebar semakin menyempit, akhirnya bergati jalan setapak atau seroda. Dahi saya pun mengkerut, dan bertanya dalam hati, "serius nih jalannya?". Tidak ada orang lain yang bisa di mintai keterangan. Tengak-tengok pun tidak terlihat ada jalan lain selain yang didepan mata. Tetap saja ada rasa penasaran, Bishop saya tinggalkan begitu saja, selanjutnya berjalan menyusuri jalan setapak ini, kira-kira sejauh 200 meter,  maksud hati untuk memastikan, apakah jalan ini layak untuk dilewati bersama Bishop. Tentu saja faktor keselamatan adalah hal yang terpenting untuk menjadi pertimbangan. 

Bukan menyerah, tapi bisa mati konyol jika lewat sini dengan kondIsi seperti ini. Jalan selebar setang motor, permukaan pun tidak rata,  dengan jurang sebelah kiri sedangkan sebelaH kanan adalah tebing. Mungkin jika tidak licin sehabis hujan masih bisa dilewati, tapi kali ini saya berpikir masih banyak yang bisa saya lakukan dikehidupan selanjutnya. Akhirnya kembali ketempat Bishop dan memutar setangnya balik arah.

jalan kaki dari sini
semakin jauh jalan kaki, jalannya seperti ini, dan balik arah

Mengingat hari semakin gelap, waktu magrib hampirpun tiba. Terpikir untuk menunda ke B29, mungkin lain kesempatan saya akan kembali. Energi yang lumayan terkuras, belum terbayang jalur buat mencapai kesana menjadi pertimbangan saat itu.

Masih menyusuri jalan gravel, bebatuan, Bishop diarahlan kota Lumajang, yang konon bisa tembus Malang lagi. Sampai akhirnya bertemu dengan beberapa pemuda dipinggir jalan, untuk menanyakan jalan keluar dari sini menuju kota. Selain info jalan ke kota didapat, ternyata ada berita baik, yaitu ada jalan menuju B29 dari Argosari. Pikiran seketika berubah. Apalagi para pemuda tersebut akan menempuh jalan yang sama, sampai jalan masuk ke jalur B29 via Argosari.

Untuk menyingkat waktu, saya pun segera mengikutinya sampe pertigaan jalur masuk. Sedikit kacau karena gelap sudah datang, kabut tebalpun turun, jarak pandang terbatas tidak lebih dari 10 meter juga menghantui. Sebagai pengguna kacamata minus, ini lumayan menjadi tantangan tersendiri. 

Lampu tambahan dinyalakan, terlihat samar-samar, ternyata kanan kiri adalah jurang. Walau jalan sedikit lebar, sekitar dua samapai tiga meter, tapi tetap saja kewaspadaan harus tetap terjaga. Semakin menanjak dan tidak menentu kerataan jalannya. Jalur-jalur mirip selokan juga ditemui. Merasa serba salah melewatinya, ketika menanjak Bishop akan saya pacu tenaganya, tetapi jarak pandang terbatas akan membahayakan karena tidak tahu apa yang dihadapan. Bisa-bisa kebablasan sampai jurang. Amit-amit.

jalur masuk
Benar saja, ketika melewati tanjakan, Bishop tidak terlalu dimaksimalkan tenaganya, hanya beberapa putaran gas saja. Ternyata tidak disangka terdapat lubang mirip galian kuburan kabel telekomunikasi, menahan laju roda, Bishop pun tidak bisa ditahan ketika sudah miring, lebih baik dilepas atau dijatuhkan saja. Karena beban beratnya akan berlipat-lipat ketika sudah posisi miring. 

Langsung berusaha untuk mengangkatnya, ternyata Bishop tidak bergerak sedikitpun. Mungkin faktor kelelahan dari saya, cukup wajar ini hari ke 3 setelah menempuh perjalanan dari Cikarang, ditambah hari ini melewati jalan semi offroad. Saya ulangi sampai dua kali untuk mengangkatnya, ternyata tetap tidak kuat.

Sedikit pasrah sambil menunggu tenaga pulih kembali. Seolah Tuhan mengirim bala bantuan tanpa diminta, terlihat pancaran lampu kendaraan dari arah depan. Seketika lampu depan dan sein Bishop saya nyalakan, dengan maksud memberi tanda keberadaan Bishop, karena jika tidak bisa saja mereka menabrak kami karena keterbatasan jarak pandang.

kualitas foto dan jalan yang sama buruk. Foto aslinya gelap tapi coba diedit dengan menerangkan, hasilnya tentu saja  banyak noise, paling gak bisa menggambarkan jalan buruk dan kondisi jatuh Bishop. Biar gak dibilang hoax, haha
Mereka ada sekitar 4 motor, segera membatu mengangkat Bishop. Alhamdulillah...dan terimakasih terucap  ke para pengendara yang akan sedianya akan kembali ke Surabaya setelah menikmati B29. Ternyata ada salah satu dari rombongan pengendara tersebut adalah warga setempat, dan menyarankan untuk menitipkan Bishop di bawah, lalu saya mengunakan ojek ke B29, mengingat medan yang sulit ditempuh setelah hujan. Tapi tawarannya saya tolak. Kali ini saya membtuhkan warga tersebut untuk menunjukan jalan ke B29, termasuk memberi tanda jika ada lubang atau jalan tidak layak dilewati. 

Warga tersebut akhirnya menyanggupi, selanjutnya saya hanya mengikuti jalur yang dilewati warga itu ketika berkendara di depan. Sekitar sartu sampai dua kilometer saya tiba didepan rumah warga yang berada tepat dipinggir jalan, disitu Bishop berhenti dan memarkir dihalaman rumah. Karena rumah ini juga merupakan tempat penarikan retribusi jika akan berwisata ke B29. Saya memberi uang ke warga yang mengantar saya sampai sini, walau warga tersebut tidak mau menarif harga. Setelahnya saya berbincang dengan pemilik rumah sekaligus petugas penarik karcis B29.

Ternyata menurut keterangan Pak Taufik (pemilik rumah ini) untuk mencapai lokasi masih dibutuhkan jarak sekitar dua kilometer dengan medan lebih tidak layak bagi kendaraan sejenis Bishop, yaitu jalan tanah licin sehabis hujan, dengan tanjakan curam berikut dengan berbelok-belok. Akan mustahil jika melanjutkan perjalanan malam ini juga dengan kondisi kepayahan seperti ini. Sayapun meminta ijin untuk bisa menginap dirumah pak Taufik, untuk besok subuh melanjutkan perjalanan. Beliau pun mempersilahkan. 

Disini saya juga memesan makan malam, menu mie instan dengan nasi pun terasa enak sekali. Sambil makan, pak Taufik bertutur jika sekitar seminggu yang lalu ada pengendara 'turing' lengkap dengan pannier alumunium naik ke B29, tapi pengendara itu naik ojek sementara motornya di kendarai 'joki' warga setempat. Dengan alasan medan yang sulit. Pak Taufik juga menjelaskan ciri-ciri pengendara tersebut, setelah saya coba menebak dengan menyebutkan sebuah nama, ternyata tebakan saya benar. Jika pengendara tersebut masih teman satu penghobi perjalanan bermotor yang saya kenali. Saya kenal beliau berpengalaman dalam melakoni kegiatan ini. Terbayang sudah, beliau yang sudah malang melintang di kegiatan perjalanan roda dua cukup lama saja merasa kesulitan menempuhnya, apalagi saya yang belum lama melakukan kegiatan ini. "Oke..lihat saja besok, sesuatu jika belum dicoba tentu tidak akan diketahui hasilnya", gumam saya dalam hati.

Saya pun pamit untuk segera tidur, telah disiapkan ruang depan oleh pak Taufik. "seadanya ya mas, tempat tidurnya" ujarnya sambil mengulurkan bantal. Saya tidur beralaskan kasur palembang dengan nyenyak sampai besok subuh.

sampai jumpa besok subuh

bersambung........ klik disini

Senin, 18 Mei 2015

Bermain di Bawah Bromo, Terseok-seok Menuju Puncak B29

Rangkuman seluruh cerita perjalanan ini ada disini

Selepas dari kediamannya om Riza Aditya, saya bersiap melanjutkan perjalanan ke arah Bromo, tentu tempat ini sudah tidak asing lagi, karena memang sudah menjadi idola para pelancong. Bermalam di rumah om Riza sangat cukup memulihkan energi, setelah menempuh Cikarang - Dieng - Malang, walau malamnya kami begadang sampe jam 12 malam.

Di kota ini saya juga bertemu dengan mas Agni, kami sempat mengobrol pada malamnya tentang persiapan expedisinya yang di beri nama Malang South Coast Expedition, yaitu melakukan perjalanan bermotor untuk menyusuri pantai-pantai selatan Malang, tujuannya adalah mengumpulkan data, serta cerita menyangkut sosial, budaya dan tentu saja keindahan alamnya, untuk kemudian hasilnya bisa dipersentasikan dengan pihak-pihak terkait, dan tentu saja dari ekspedisi ini diharapkan bisa membawa kebaikan bagi sosial masyarakat dan juga ekosistem alamnya. 

Kegiatan yang dilakukan mas Agni bersama timnya bagi saya sendiri memberikan sudut berbeda dari aktifitas melakukan perjalanan bermotor, paling tidak bukan hanya sekedar untuk bernasis ria untuk mengganti profile picture di akun media sosial atau adu gengsi aksesoris motor demi sebuah komentar "kereeen..".

Oya jika ingin mengetahui kegiatan mas Agni dan kawan-kawan di bawah nama RECON (Ride for Environment and Conservational Action) bisa kunjungi fan page nya disini


Bermain di bawah Bromo

Jam tangan menunjukan jam tujuh pagi, Bishop dan saya meluncur dari Malang menuju Bromo via Tumpang, tidak begitu sulit menempuh jalur ini, karena petunjuk jalan di beberapa simpangan cukup jelas, lagi pula ini kedua  kalinya saya melewati jalur yang sama.

Pagi itu sangat cerah, awannya begitu biru, sengaja Bishop tidak saya pacu kencang untuk menikmatinya lengkap dengan udara sejuk khas pegunungan. Bukit-bukit hijau ditanami sayuran juga sedap dipandang. beberapa kali menghentikan Bishop untuk sekedar mengambil foto, atau mengirup udara segar ketika melepas helm. Jalan aspal disini relatif lebih mulus dari pada sebelumnya ketika saya 2 tahun yang lalu melewatinya.

salah satu view jika via Tumpang
sebelum Jemplang
Sampailah dipertigaan Jemplang, jika lurus adalah menuju padang savana atau pasir Bromo, sedangkan kalau belok kanan adalah Ranu Pani, yang juga merupakan pos pendakian gunung Semeru. Awalnya saya hendak menuju puncak B29 terlebih dahulu, yaitu salah satu tempat yang lagi naik daun namanya, konon jika berada disana kita seperti berada diatas awan, diatas sana juga terlihat kepulan asap kawah gunung Bromo. Kenapa di beri nama puncak B29, menurut beberapa informasi karena tempat itu berada di ketinggian 2900 mdpl.

pertigaan Njemplang
Di pertigaan Jemplang ini saya bertanya pada beberapa orang yang ditemui, tentu saja bertanya jalan menuju B29, sebagian mereka kurang tahu jalur yang saya maksud, malah ada yang baru mendengar tentang tempat itu. Karena menurut keterangan dari om Riza, puncak B29 bisa ditempuh dari arah Ranu Pani. Saya ingin memastikan jalan masuk dari arah Ranu Pani dari beberapa orang tadi, karena memang tidak ada petunjuk jalan berupa papan tulisan. Tapi informasi tersebut nihil di Jemplang ini.

Baiklah, Bishop di belokan ke kanan kearah Ranu Pani, disana mungkin info tentang jalan masuk ke arah B29 dapat ditemui. Jalan menuju Ranu Pani saya disuguhi pemandangan hijaunya padang savana dihimpit kaldera Bromo, terlihat dari ketinggian saat saya melintas. Saya ambil dapat mengambil gambar, seolah mengunakan pesawat tanpa awak (drone). Beberapa kali Bishop berhenti untuk memandanginya, sangat menyejukan.

apa terlihat dari jalan menuju Ranu Pani
Saat menemukan seorang warga Tengger, yaitu suku yang mendominasi di kawasan Bromo-Semeru ini, saya bertanya jalan yang dimaksud, lagi-lagi mereka tidak mengetahui tempat yang bernama B29 itu. Saya sampai bertanya kepada tiga orang berbeda, akhirnya salah satu dari mereka menunjukan pertigaan menuju B29, menurut keterangannya, nanti terdapat belokan, tidak jauh dari situ berdiri sebuah bangunan mirip Pura atau candi kecil, sebelah kanannya ada jalan kecil kearah B29.

Berbekal informasi tadi, akhirnya saya menemukan jalan dimaksud. Tapi setelah melihat jalanya saya jadi ragu-ragu untuk melewatinya. Sebuah jalan setapak, terlihat menanjak dengan terlihat basah sehabis hujan, dan akan licin dan merepotkan Bishop jika menempuhnya, tentu saya memperkirakan dengan bobot Bishop yang berat kosongnya saja mencapai 140 kg, apalagi ditambah barang bawaan berpergian selama seminggu, tampaknya akan mustahil melewatinya sendirian.

Setelah melihat peta di ponsel, untuk mencapai B29 ada jalan lain dengan turun terlebih dahulu menuju padang savana dan pasir Bromo, arahnya memutar jika dari lokasi Ranu Pani. Tidak pikir panjang, saya tancap gas Bishop balik arah dan menuju padan savana yang terlihat dari atas tadi.

sampai bawah
Tidak terlalu sulit menuju bawah, hanya sedikit perlu mengantri dengan mobil jip ketika turun dari Jemplang. Selepas turunan Jemplang, akan disuguhi hamparan padang rumput nan hijau tentunya, layaknya sebuah karpet, kawasan ini ditutup warna hijau. Beberapa gundukan menyerupai bukit kecil juga menghiasi, para pelancong menyebutnya bukit Teletabis, karena memang menyerupai rumah tokoh film anak-anak Lala, Dipsi, Tinki Winki, Po ini.

hai..Lala, Dipsi, Tinki Winki, Po, keluar lah

bersantai di tempat ini
Serasa tidak pernah bosan berada ditempat ini, walau ini ketiga kalinya saya disini. Begitu tenang, sejuk, dan indah tentunya. Bonus perjalanan ini begitu saya nikmati dengan berhenti, memarkir Bishop dan bersantai. Sebenarnya betah untuk berlama-lama di sini, tapi mengingat waktu sudah semakin siang, Bishop kembali saya pacu, setelah melewati padang rumput, kali ini pemandangan sedikit berbeda.

mari bermain bersama Bishop
bermain
Hamparan padang pasir kini terlihat, karena pada waktu  masih masuk musim penghujan, maka pasir dsini padat dan tidak sulit dilewati dengan roda dua, berbeda ketika musim kemarau pasirnya sangat lembut dan gembur, ban akan masuk agak dalam, akan menyulitkan ketika melewatinya. Kunjungan kedua beberapa taun lalu, pernah saya alami dengan kondisi pasir seperti itu, dan Bishop jatuh beberapa kali.

wahana bermain yang sudah ditutup??
Layaknya anak kecil sedang di bawa ketaman bermain, saya dan bishop sangat senang berada disini untuk bermain tentunya. Sesekali Bishop saya pacu kencang layaknya pengendara Rally Dakar melewati padang pasirnya, atau juga melewati gundukan-gundukan pasir padat, seakan berlatih kesimbangan berkendara. Menyenangkan sekali!! Terjatuh ketika hilang keseimbangan berada di kemiringan gundukan menjadi hiburan tersendiri, saya pu menertawai diri sendiri dari kejadian ini. Walau setelahnya meringis karena mendirikan Bishop di kemiringan ternyata susah dan berat. Saya harus menyeret motor India ini kepermukaan yang datar dahulu, lalu mendirikannya. Lumayan cukup menarik otot punggung.

cukup menarik otot
dan ternyata harus diseret kebawah dulu
mari bermain kembali
Sesampainya di depan gunung Batok, sedikit lelah terasa, apalagi setelah menyeret-nyeret Bishop. Pepohonan tampak disini, menjadi pilihan menarik untuk mengantungkan badan, rebahan diatas hammock. Dan benar istirahat disini cukup untuk memulihkan energi dan siap melanjutkan perjalanan ke arah puncak B29. saat itu sekitar pukul dua belas, setelah turun dari hammcok saya bersiap kembali.

Eiiits...ternyata masih ingin bermain
cukup untuk memulihkan tenaga
terdengar dari kejauhan, "mas..mau nyewa kuda tidak?"
Berhubung sudah tengah hari, berarti juga saaat makan siang, bergegas dari sini untuk naik ke arah Cemoro Lawang karena setahu saya disana terdapat beberapa warung nasi. Perjalanan ke puncak B29 akan dimulai lagi dari Cemoro Lawang.


Terseok-seok Menuju Puncak B29

rutenya
Jika dilihat dari peta diatas, jalur yang sudah dilalui adalah Jemplang - Cemoro Lawang, tempat saya dan Bishop bermain sebelumnya. Berpatokan dari google map pula jalur akan saya tempuh untuk menuju puncak B29. Terus terang saja, jalur ini tidak saya ketahui sebelumnya, dan baru dicari rutenya ketika di Cemoro Lawang ini,  tapi mengetahui hal-hal yang baru diketahui saat melakukan perjalanan adalah sesuatu yang menarik, berikut dengan kejutan-kejutan didalamnya. Kesasar adalah hal sudah biasa, tujuan bukan hal utama lagi, menikmati proses perjalanan malah menjadi dari tujuan itu sendiri.

Dari Cemoro Lawang jalan masih aspal, cenderung banyak turunan, pemandangan perkebunan masih menghiasi, Bishop saya pacu kecepatan sedang, karena nanti terdapat belokan kekanan setelah ini, lagipula pemandangan ini sayang dilewatkan jika memacu kecepatan Bishop diputaran tinggi.

Arah Sukapura adalah target titik poin berikutnya jika melihat di peta, sempat bertanya pada warga dipinggir jalan, dan ditunjuka pertigaan yang mengarah kesana. Masuk pertigaan, jalan berubah menjadi aspal lubang-lubang.

Sukapura adala nama kecamatan yang masih termasuk di kabupaten Probolinggo, sementara saya melewati desa Sariwani, jalan berubah menjadi gravel, bebatuan rata sepanjang jalan. Beberapa kali mengambil posisi berkendara dengan berdiri untuk menghindari sakit pada pinggang, atau Bishop lebih mudah dikendalikan dengan posisi seperti ini.

 dipinggir Pura  (tempat ibadah  Hindu) saat melintas kecamatan Sukapura
bebatuan
Tidak banyak yang berubah dari kondisi jalan, kecuali lebar jalan menyempit terkadang harus mepet bahu jalan dan berhenti jika berpapasan dengan roda empat atau truk. Aktifitas warga juga terlihat sepanjang jalan, dengan  sebagian besar pekerjaannya adalah petani perkebunan sayur atau buah. Ramah warga lokal selalu hadir saat orang baru ditemuinya, terbukti ketika saya beberapak kali sedang istirahat dipinggir jalan untuk sekedar menengguk air mineral, warga lokal tidak segan berhenti juga dan berbincang dengan saya.

pulang dari kebun, berhenti untuk sekedar tanya, "dari mana, mau kemana"

harus bergantian
sempat berkendara bareng pengendara ini beberapa kilometer, yang mengantarkan dagangannya ke Lumajang setiap seminggu sekali
Hari semakin sore, kabut mulai turun langit juga tampak gelap, dugaan akan turun hujan juga terlintas dipikiran. Bishop sedikit ditambah kecepatannya. Memasuki desa Wonokerso, google map yang sebagian acuan menelusuri jalan kehilangan sinyal GPS nya. Sial!! Lagi pula ponsel satu-satunya yang berperan multitasking ini termasuk untuk melihat map sudah lowbat.

Terdapat persimpangan yang tidak ada petunjuk jalanya layaknya di jalan perkotaan, tentu saja bertanya pada warga setempat adalah solusinya, entah berapa kali saya melakukannya. Terkadang harus bolak - balik di jalan yang sama, kalau tidak mau disebut kesasar. Berhenti, melepas helm, turun dari jok dan membaur dengan warga saat kehilangan arah, adalah salah satu cara berinteraksi dengan mereka, beberapa cerita menarik terkadang terlontar dari perkataanya, cerita-cerita lokal menarik yang tidak akan ditemui di layar televisi atau secarik kertas koran. 

dengan bapak ini, saya dianjurkan ambil jalan sebelah kiri
gerbang Wonokerso
Kabut semakin tebal, gerimis pun mulai rintik. Menambah hawa dingin menusuk tubuh, walau sudah memakai rangkap kaos dua buah, semakin lama berkendara disini semakin tinggi pula lokasi yang dicapai. Masih di desa Wonokerso, terlihat pemukiman didepa mata, sasaran tatapan pertama adalah warung kopi yang ada didepan.

Selain untuk berteduh dari gerimis yang semakin kencang, warung ini bisa digunakan untuk merebah lelah setelah menempuh jarak dari Cemoro Lawang, dengan medan jalan yang cukup untuk mengeluarkan keringat. Berhenti diwarung biasanya juga saya gunakan sebagai 'modus' untuk bisa berinteraksi dengan warga lokal. Dengan segelas kopi hitam, saya bisa berbincang dengan warga setempat yang kebetulan singgah diwarung sepulang dari kebun atau ladang.

Bertanya dari mana, mau kemana adalah pertayaan lumrah kepada siapa yang dianggap orang baru oleh warga lokal. Obrolan pun melebar, sesekali saya menggunakan bahasa jawa, maksud hati supaya lebih cepat berinterkasi, tetapi ada beberapa kosakata berbeda dibandingkan dengan bahasa jawa yang biasa saya gunakan, dan kahirnya kami menggunakan bahasa campur-campur.

Mengetahui saya akan menuju puncak B29, salah satu warga bernama mas Eko, menunjukan jalan menuju kesana dari desa ini. Jalan tersebut akan melewati kebun/ladang miliknya, mas Eko menawari saya jika akan ke jalan masuk menuju B29 dari Wonokerso ini, bisa bareng dengannya, karena kebetulan dia akan ke ladang. Dan tawaran saya terima. 

Setelah menghabiskan mie instan dan segelas kopi, saya dan mas Eko keluar warung dan melaksanakan rencana kami. Dengan motor bebek sudah dimodif  layaknya motor trail lengkap dengan ban 'tahu'nya, mas Eko melesat tanjakan demi tanjakan, Bishop membututinya seakan tidak mau ketinggalan. Sekitar 3 kilometer dari warung tibalah di ladangnya. Saya juga ikut memarkir Bishop dipinggir jalan.

Tampak tebing menghijau, bercampur warna coklat tanah yang belum tertanami, sebagian lagi tetutup oleh kabut tebal. Kemiringan tebing yang digunakan bercocok taman ini cukup curam, kemiringannya saya perkirakan mencapai 45 derajat. Mas Eko menuruni tebing ini, lagi-lagi saya mengikuti.

Ladang ini ditanami dengan sistem tumpang sari, yang artinya bermacam macam jenis sayur mayur atau buah ditanam dalam satu lahan. Mas Eko menyewa lahan pertanian ini dari Perhutani sebesar 200 - 300 ribu rupiah per hektar untuk setiap tahunnya. Mas Eko juga bercerita tentang suka dukanya menjadi petani, sampai bercerita tentang keluarganya. Cerita lokal yang menarik.

Karena hari semakin sore, sayapun beranjak dan pamitan dengan mas Eko. Setelah di briefing singkat olehnya mengenai gambaran jalur yang akan di lalui menuju B29, saya bergegas untuk menancap gas Bishop kembali.

mas Eko dan ladangnya
foto bareng sebelum lanjut perjalanan

bersambung klik disini