Our Riding Ware

Kamis, 21 Mei 2015

[sambungan] Bermain di Bawah Bromo, Terseok-seok Menuju Puncak B29

Cerita sebelumnya dapat  klik disini

Braaak!!
Braaak!!! baru saja beranjak dari parkir berberapa puluh meter dari ladangnya mas Eko, Bishop hilang keseimbangan ketika melewati jalan tanah coklat yang licinnya minta ampun karena basah sehabis hujan, berikut kubangan-kubangan cukup dalam tingginya hampir se-roda, seakan tidak ada pilihan jalan untuk Bishop.  

Suara ambruknya Bishop terdengar oleh mas Eko, sontak saja dia menghampiri sambil berlari. Mendirikan motor ini berdua cukup buat ngos-ngosan, menarik mundur kembali Bishop dari kubangan, membuat saya meneguk air mineral setelahnya. 

Entah langit sedang menertawakan atau menangisi kejadian ini, tapi beberapa menit setelah mendirikan Bishop, tiba-tiba hujan deras mengguyur. Dengan bicara cepat, mas Eko berkata, "ayoo..kerumah saya dulu!untuk berteduh" Tawarannya saya terima kembali. Setelah membalik arah Bishop, putaran gas pun ditancap kembali, hanya sempat memakai celana anti air, sedangkan jas hujan sudah tidak sempat terpakai. 

Rumah mas Eko tidak jauh dari warung tempat kami bertemu sebelumnya. Setelah mempersilakan masuk, saya langsung ijin ke kamar mandi untuk ganti pakaian yang sudah basah kuyup. Setelahnya mas Eko, sudah menunggu di depan perapian yang letaknya menyatu dengan ruangan depan rumah ini. Susu panas sudah ada dihadapan, sesosok wanita keluar dari dapur, tidak lain aedalah ibu dari mas Eko, dan mempersilakan meminum hidangan yang telah dibuatnya, supaya hangat badannya kata beliau.

Nilai keramahan yang sudah jarang ditemui di perkotaan, walau kami belum kenal sebelumnya tapi keluarga mas Eko sudah menerima saya layaknya saudara jauh yang baru datang. Terharu. 

Didepan perapian, kami ngobrol ngalor-ngidul ditemani Combat, yaitu nama anjing milik mas Eko, tidak lama kemudian ayah mas Eko juga ikut nimbrung mengobrol dengan kami. Begitu hangat. Mulai cerita dari, drop outnya dari falkutas pertanian salah universitas di Malang karena lingkungan keluarga memintanya untuk segera menikah. Tapi istrinya mas Eko tidak tinggal disini, melainkan di Malang, karena kebutuhan studi anaknya. Mas Eko termasuk murid berprestasi sedari SLTP, sampai ada guru yang berbaik hati untuk mendanai sekolahnya, termasuk ketika masuk universitas. 

Walaupun sudah tidak berada di lingkungan kampus, tapi mas Eko masih berhubungan baik dengan sarjana pertanian disana. Untuk bertukan pikiran masalah pertanian tentunya, yang sekarang menjadi mata pencarian utama keluarga ini. Penelitian untuk mendapat hasil pertanian terbaik juga dilakukan, biasanya teman sarjananya mengirim formula obat/pupuk, sementara mas Eko yang meraciknya dan langsung dicoba diladangnya. Hasil formulanya dilaporkan kembali ke temannya, begitu seterusnya sampai mendapatkan hasil terbaik.

Hampir dua jam saya asyik mengobrol di rumah ini, sementara waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Melihat diluar hujan sudah agak reda walau masih rintik gerimis, saya mohon pamit dengan keluarga ini. Mas Eko sempat menyarankan untuk naik ojek saja ke B29, nanti bisa dicarikan tetangganya yang biasa mengantar wisatawan kesana. Kali ini saya menolak tawaran mas Eko, dan tetap bersikeras untuk kesana bersama Bishop.

Setelah mengucapkan banyak terimakasih dengan keluarga ini,. Semoga kebaikan dan keberkahan selalu tercurah buat keluarga ini. Saya meninggalkan rumah ini diringi gerimis. 

Combat ikut mengobrol dengan kami
selfie didepan perapian *halah.
senyum ayahnya mas Eko melepas saya sehabis pamitan
  
bersambung............

Senin, 18 Mei 2015

Bermain di Bawah Bromo, Terseok-seok Menuju Puncak B29

Rangkuman seluruh cerita perjalanan ini ada disini

Selepas dari kediamannya om Riza Aditya, saya bersiap melanjutkan perjalanan ke arah Bromo, tentu tempat ini sudah tidak asing lagi, karena memang sudah menjadi idola para pelancong. Bermalam di rumah om Riza sangat cukup memulihkan energi, setelah menempuh Cikarang - Dieng - Malang, walau malamnya kami begadang sampe jam 12 malam.

Di kota ini saya juga bertemu dengan mas Agni, kami sempat mengobrol pada malamnya tentang persiapan expedisinya yang di beri nama Malang South Coast Expedition, yaitu melakukan perjalanan bermotor untuk menyusuri pantai-pantai selatan Malang, tujuannya adalah mengumpulkan data, serta cerita menyangkut sosial, budaya dan tentu saja keindahan alamnya, untuk kemudian hasilnya bisa dipersentasikan dengan pihak-pihak terkait, dan tentu saja dari ekspedisi ini diharapkan bisa membawa kebaikan bagi sosial masyarakat dan juga ekosistem alamnya. 

Kegiatan yang dilakukan mas Agni bersama timnya bagi saya sendiri memberikan sudut berbeda dari aktifitas melakukan perjalanan bermotor, paling tidak bukan hanya sekedar untuk bernasis ria untuk mengganti profile picture di akun media sosial atau adu gengsi aksesoris motor demi sebuah komentar "kereeen..".

Oya jika ingin mengetahui kegiatan mas Agni dan kawan-kawan di bawah nama RECON (Ride for Environment and Conservational Action) bisa kunjungi fan page nya disini


Bermain di bawah Bromo

Jam tangan menunjukan jam tujuh pagi, Bishop dan saya meluncur dari Malang menuju Bromo via Tumpang, tidak begitu sulit menempuh jalur ini, karena petunjuk jalan di beberapa simpangan cukup jelas, lagi pula ini kedua  kalinya saya melewati jalur yang sama.

Pagi itu sangat cerah, awannya begitu biru, sengaja Bishop tidak saya pacu kencang untuk menikmatinya lengkap dengan udara sejuk khas pegunungan. Bukit-bukit hijau ditanami sayuran juga sedap dipandang. beberapa kali menghentikan Bishop untuk sekedar mengambil foto, atau mengirup udara segar ketika melepas helm. Jalan aspal disini relatif lebih mulus dari pada sebelumnya ketika saya 2 tahun yang lalu melewatinya.

salah satu view jika via Tumpang
sebelum Jemplang
Sampailah dipertigaan Jemplang, jika lurus adalah menuju padang savana atau pasir Bromo, sedangkan kalau belok kanan adalah Ranu Pani, yang juga merupakan pos pendakian gunung Semeru. Awalnya saya hendak menuju puncak B29 terlebih dahulu, yaitu salah satu tempat yang lagi naik daun namanya, konon jika berada disana kita seperti berada diatas awan, diatas sana juga terlihat kepulan asap kawah gunung Bromo. Kenapa di beri nama puncak B29, menurut beberapa informasi karena tempat itu berada di ketinggian 2900 mdpl.

pertigaan Njemplang
Di pertigaan Jemplang ini saya bertanya pada beberapa orang yang ditemui, tentu saja bertanya jalan menuju B29, sebagian mereka kurang tahu jalur yang saya maksud, malah ada yang baru mendengar tentang tempat itu. Karena menurut keterangan dari om Riza, puncak B29 bisa ditempuh dari arah Ranu Pani. Saya ingin memastikan jalan masuk dari arah Ranu Pani dari beberapa orang tadi, karena memang tidak ada petunjuk jalan berupa papan tulisan. Tapi informasi tersebut nihil di Jemplang ini.

Baiklah, Bishop di belokan ke kanan kearah Ranu Pani, disana mungkin info tentang jalan masuk ke arah B29 dapat ditemui. Jalan menuju Ranu Pani saya disuguhi pemandangan hijaunya padang savana dihimpit kaldera Bromo, terlihat dari ketinggian saat saya melintas. Saya ambil dapat mengambil gambar, seolah mengunakan pesawat tanpa awak (drone). Beberapa kali Bishop berhenti untuk memandanginya, sangat menyejukan.

apa terlihat dari jalan menuju Ranu Pani
Saat menemukan seorang warga Tengger, yaitu suku yang mendominasi di kawasan Bromo-Semeru ini, saya bertanya jalan yang dimaksud, lagi-lagi mereka tidak mengetahui tempat yang bernama B29 itu. Saya sampai bertanya kepada tiga orang berbeda, akhirnya salah satu dari mereka menunjukan pertigaan menuju B29, menurut keterangannya, nanti terdapat belokan, tidak jauh dari situ berdiri sebuah bangunan mirip Pura atau candi kecil, sebelah kanannya ada jalan kecil kearah B29.

Berbekal informasi tadi, akhirnya saya menemukan jalan dimaksud. Tapi setelah melihat jalanya saya jadi ragu-ragu untuk melewatinya. Sebuah jalan setapak, terlihat menanjak dengan terlihat basah sehabis hujan, dan akan licin dan merepotkan Bishop jika menempuhnya, tentu saya memperkirakan dengan bobot Bishop yang berat kosongnya saja mencapai 140 kg, apalagi ditambah barang bawaan berpergian selama seminggu, tampaknya akan mustahil melewatinya sendirian.

Setelah melihat peta di ponsel, untuk mencapai B29 ada jalan lain dengan turun terlebih dahulu menuju padang savana dan pasir Bromo, arahnya memutar jika dari lokasi Ranu Pani. Tidak pikir panjang, saya tancap gas Bishop balik arah dan menuju padan savana yang terlihat dari atas tadi.

sampai bawah
Tidak terlalu sulit menuju bawah, hanya sedikit perlu mengantri dengan mobil jip ketika turun dari Jemplang. Selepas turunan Jemplang, akan disuguhi hamparan padang rumput nan hijau tentunya, layaknya sebuah karpet, kawasan ini ditutup warna hijau. Beberapa gundukan menyerupai bukit kecil juga menghiasi, para pelancong menyebutnya bukit Teletabis, karena memang menyerupai rumah tokoh film anak-anak Lala, Dipsi, Tinki Winki, Po ini.

hai..Lala, Dipsi, Tinki Winki, Po, keluar lah

bersantai di tempat ini
Serasa tidak pernah bosan berada ditempat ini, walau ini ketiga kalinya saya disini. Begitu tenang, sejuk, dan indah tentunya. Bonus perjalanan ini begitu saya nikmati dengan berhenti, memarkir Bishop dan bersantai. Sebenarnya betah untuk berlama-lama di sini, tapi mengingat waktu sudah semakin siang, Bishop kembali saya pacu, setelah melewati padang rumput, kali ini pemandangan sedikit berbeda.

mari bermain bersama Bishop
bermain
Hamparan padang pasir kini terlihat, karena pada waktu  masih masuk musim penghujan, maka pasir dsini padat dan tidak sulit dilewati dengan roda dua, berbeda ketika musim kemarau pasirnya sangat lembut dan gembur, ban akan masuk agak dalam, akan menyulitkan ketika melewatinya. Kunjungan kedua beberapa taun lalu, pernah saya alami dengan kondisi pasir seperti itu, dan Bishop jatuh beberapa kali.

wahana bermain yang sudah ditutup??
Layaknya anak kecil sedang di bawa ketaman bermain, saya dan bishop sangat senang berada disini untuk bermain tentunya. Sesekali Bishop saya pacu kencang layaknya pengendara Rally Dakar melewati padang pasirnya, atau juga melewati gundukan-gundukan pasir padat, seakan berlatih kesimbangan berkendara. Menyenangkan sekali!! Terjatuh ketika hilang keseimbangan berada di kemiringan gundukan menjadi hiburan tersendiri, saya pu menertawai diri sendiri dari kejadian ini. Walau setelahnya meringis karena mendirikan Bishop di kemiringan ternyata susah dan berat. Saya harus menyeret motor India ini kepermukaan yang datar dahulu, lalu mendirikannya. Lumayan cukup menarik otot punggung.

cukup menarik otot
dan ternyata harus diseret kebawah dulu
mari bermain kembali
Sesampainya di depan gunung Batok, sedikit lelah terasa, apalagi setelah menyeret-nyeret Bishop. Pepohonan tampak disini, menjadi pilihan menarik untuk mengantungkan badan, rebahan diatas hammock. Dan benar istirahat disini cukup untuk memulihkan energi dan siap melanjutkan perjalanan ke arah puncak B29. saat itu sekitar pukul dua belas, setelah turun dari hammcok saya bersiap kembali.

Eiiits...ternyata masih ingin bermain
cukup untuk memulihkan tenaga
terdengar dari kejauhan, "mas..mau nyewa kuda tidak?"
Berhubung sudah tengah hari, berarti juga saaat makan siang, bergegas dari sini untuk naik ke arah Cemoro Lawang karena setahu saya disana terdapat beberapa warung nasi. Perjalanan ke puncak B29 akan dimulai lagi dari Cemoro Lawang.


Terseok-seok Menuju Puncak B29

rutenya
Jika dilihat dari peta diatas, jalur yang sudah dilalui adalah Jemplang - Cemoro Lawang, tempat saya dan Bishop bermain sebelumnya. Berpatokan dari google map pula jalur akan saya tempuh untuk menuju puncak B29. Terus terang saja, jalur ini tidak saya ketahui sebelumnya, dan baru dicari rutenya ketika di Cemoro Lawang ini,  tapi mengetahui hal-hal yang baru diketahui saat melakukan perjalanan adalah sesuatu yang menarik, berikut dengan kejutan-kejutan didalamnya. Kesasar adalah hal sudah biasa, tujuan bukan hal utama lagi, menikmati proses perjalanan malah menjadi dari tujuan itu sendiri.

Dari Cemoro Lawang jalan masih aspal, cenderung banyak turunan, pemandangan perkebunan masih menghiasi, Bishop saya pacu kecepatan sedang, karena nanti terdapat belokan kekanan setelah ini, lagipula pemandangan ini sayang dilewatkan jika memacu kecepatan Bishop diputaran tinggi.

Arah Sukapura adalah target titik poin berikutnya jika melihat di peta, sempat bertanya pada warga dipinggir jalan, dan ditunjuka pertigaan yang mengarah kesana. Masuk pertigaan, jalan berubah menjadi aspal lubang-lubang.

Sukapura adala nama kecamatan yang masih termasuk di kabupaten Probolinggo, sementara saya melewati desa Sariwani, jalan berubah menjadi gravel, bebatuan rata sepanjang jalan. Beberapa kali mengambil posisi berkendara dengan berdiri untuk menghindari sakit pada pinggang, atau Bishop lebih mudah dikendalikan dengan posisi seperti ini.

 dipinggir Pura  (tempat ibadah  Hindu) saat melintas kecamatan Sukapura
bebatuan
Tidak banyak yang berubah dari kondisi jalan, kecuali lebar jalan menyempit terkadang harus mepet bahu jalan dan berhenti jika berpapasan dengan roda empat atau truk. Aktifitas warga juga terlihat sepanjang jalan, dengan  sebagian besar pekerjaannya adalah petani perkebunan sayur atau buah. Ramah warga lokal selalu hadir saat orang baru ditemuinya, terbukti ketika saya beberapak kali sedang istirahat dipinggir jalan untuk sekedar menengguk air mineral, warga lokal tidak segan berhenti juga dan berbincang dengan saya.

pulang dari kebun, berhenti untuk sekedar tanya, "dari mana, mau kemana"

harus bergantian
sempat berkendara bareng pengendara ini beberapa kilometer, yang mengantarkan dagangannya ke Lumajang setiap seminggu sekali
Hari semakin sore, kabut mulai turun langit juga tampak gelap, dugaan akan turun hujan juga terlintas dipikiran. Bishop sedikit ditambah kecepatannya. Memasuki desa Wonokerso, google map yang sebagian acuan menelusuri jalan kehilangan sinyal GPS nya. Sial!! Lagi pula ponsel satu-satunya yang berperan multitasking ini termasuk untuk melihat map sudah lowbat.

Terdapat persimpangan yang tidak ada petunjuk jalanya layaknya di jalan perkotaan, tentu saja bertanya pada warga setempat adalah solusinya, entah berapa kali saya melakukannya. Terkadang harus bolak - balik di jalan yang sama, kalau tidak mau disebut kesasar. Berhenti, melepas helm, turun dari jok dan membaur dengan warga saat kehilangan arah, adalah salah satu cara berinteraksi dengan mereka, beberapa cerita menarik terkadang terlontar dari perkataanya, cerita-cerita lokal menarik yang tidak akan ditemui di layar televisi atau secarik kertas koran. 

dengan bapak ini, saya dianjurkan ambil jalan sebelah kiri
gerbang Wonokerso
Kabut semakin tebal, gerimis pun mulai rintik. Menambah hawa dingin menusuk tubuh, walau sudah memakai rangkap kaos dua buah, semakin lama berkendara disini semakin tinggi pula lokasi yang dicapai. Masih di desa Wonokerso, terlihat pemukiman didepa mata, sasaran tatapan pertama adalah warung kopi yang ada didepan.

Selain untuk berteduh dari gerimis yang semakin kencang, warung ini bisa digunakan untuk merebah lelah setelah menempuh jarak dari Cemoro Lawang, dengan medan jalan yang cukup untuk mengeluarkan keringat. Berhenti diwarung biasanya juga saya gunakan sebagai 'modus' untuk bisa berinteraksi dengan warga lokal. Dengan segelas kopi hitam, saya bisa berbincang dengan warga setempat yang kebetulan singgah diwarung sepulang dari kebun atau ladang.

Bertanya dari mana, mau kemana adalah pertayaan lumrah kepada siapa yang dianggap orang baru oleh warga lokal. Obrolan pun melebar, sesekali saya menggunakan bahasa jawa, maksud hati supaya lebih cepat berinterkasi, tetapi ada beberapa kosakata berbeda dibandingkan dengan bahasa jawa yang biasa saya gunakan, dan kahirnya kami menggunakan bahasa campur-campur.

Mengetahui saya akan menuju puncak B29, salah satu warga bernama mas Eko, menunjukan jalan menuju kesana dari desa ini. Jalan tersebut akan melewati kebun/ladang miliknya, mas Eko menawari saya jika akan ke jalan masuk menuju B29 dari Wonokerso ini, bisa bareng dengannya, karena kebetulan dia akan ke ladang. Dan tawaran saya terima. 

Setelah menghabiskan mie instan dan segelas kopi, saya dan mas Eko keluar warung dan melaksanakan rencana kami. Dengan motor bebek sudah dimodif  layaknya motor trail lengkap dengan ban 'tahu'nya, mas Eko melesat tanjakan demi tanjakan, Bishop membututinya seakan tidak mau ketinggalan. Sekitar 3 kilometer dari warung tibalah di ladangnya. Saya juga ikut memarkir Bishop dipinggir jalan.

Tampak tebing menghijau, bercampur warna coklat tanah yang belum tertanami, sebagian lagi tetutup oleh kabut tebal. Kemiringan tebing yang digunakan bercocok taman ini cukup curam, kemiringannya saya perkirakan mencapai 45 derajat. Mas Eko menuruni tebing ini, lagi-lagi saya mengikuti.

Ladang ini ditanami dengan sistem tumpang sari, yang artinya bermacam macam jenis sayur mayur atau buah ditanam dalam satu lahan. Mas Eko menyewa lahan pertanian ini dari Perhutani sebesar 200 - 300 ribu rupiah per hektar untuk setiap tahunnya. Mas Eko juga bercerita tentang suka dukanya menjadi petani, sampai bercerita tentang keluarganya. Cerita lokal yang menarik.

Karena hari semakin sore, sayapun beranjak dan pamitan dengan mas Eko. Setelah di briefing singkat olehnya mengenai gambaran jalur yang akan di lalui menuju B29, saya bergegas untuk menancap gas Bishop kembali.

mas Eko dan ladangnya
foto bareng sebelum lanjut perjalanan

bersambung klik disini

Minggu, 12 April 2015

Piknik versi Menembus Batas Indonesia

pic·nic
/ˈpikˌnik/
noun
noun: picnic; plural noun: picnics
1.
an outing or occasion that involves taking a packed meal to be eaten outdoors
Masing-masing orang tentu punya persepsi untuk mendefinisikan suatu kata atau istilah. Kali ini saya berkesempatan mengikuti perjalanan para motorist yaitu sekumpulan manusia yang punya kegemaran melakukan perjalanan roda dua (sepeda motor), kumpulan itu dibawah nama Menembus Batas Indonesia, yang selanjutnya disingkat MBI. Kegiatan mereka ketika melakukan perjalanan roda dua biasa disebut dengan istilah PADI akronim dari Piknik Asyik Di Indonesia.

Ini kedua kalinya saya mengikuti perjalanan bersama MBI setelah sekitar 2 tahun yang lalu pernah 'piknik' bareng (cerita perjalanannya klik disini). Jadi,  sudah tidak aneh dan terlalu kaget jika jalur yang akan dilewati nantinya jalan yang 'aneh-aneh'. Tapi setiap perjalanan pasti akan ada kejutan-kejutan baru, dan tentunya cerita yang berbeda. Berbeda dengan pemotor kebanyakan yang biasa kita lihat di jalan raya dengan kegiatan 'touring'nya. Dari pemilihan jalur teman-teman MBI ini sudah anti mainstream alias tidak biasa untuk sepeda motor jenis onroad

Selain ber-PADI, ada sisi dan misi lain dari melakukan kegiatan kali ini. Adalah Ride For Indonesia salah satu program dari MBI, beberapa sub program telah dilakukan seperti Ride For Education (RFE) di SDN Giri Asih, Cisaranten, Cikadu, Cianjur Selatan. Program  RFE diwujudkan dengan pemberian donasi sebagai penunjang kegiatan belajar di SD tersebut, termasuk pemberian buku-buku.

Tentu saja daerah pelosok ini dipandang sebelah mata oleh pihak penyelenggara negara, sulitnya akses menuju daerah ini menjadi alasan utama. Kegemaran teman-teman berkendara roda dua ke daerah melewati jalan tidak pada umumnya diperkotaan ini bisa menjadi pengakomodir suara mereka.

Pada kesempatan perjalanan kali ini di daerah yang sama tepatnya di kampung Sukajadi, Cisaranten, Cikadu, Cianjur Selatan, teman-teman  MBI mempunyai program bertajuk Ride For Indonesia, Water for Life. Apakah itu? bersama tim Kartala (www.kartala.org) lewat Perjalanan Cahaya, mencoba mengaplikasikan sistem pompa air dengan tenaga dorongan aliran air (hydram pump). Sistem pompa ini juga sedang diaplikasikan di kampung Palasari - Subang oleh tim Kartala yang mempunyai permasalahan yang sama, yaitu mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Bagaimana cerita perjalanan saya dalam mengikuti kegiatan teman-teman MBI ini, atau seperti apa PADI nya MBI, dan juga tantangannya untuk mencapai lokasi, bisa disimak di paragraf-paragraf berikutnya. 


Jalur Belanda yang Syahdu

Beberapa teman sudah mulai berkendara menuju daerah Cianjur Selatan yaitu tempat akan kami berkumpul yang merupakan titik point terakhir dalam perjalanan kali ini, dari hari Jumat (3/4/2015). Sementara akan berangkat sabtu subuh, walau hari Jumat tanggal merah, tapi ada pekerjaan yang harus ditunaikan. 

Tadinya ada seorang teman (mas Danu)  akan turut serta bersama saya melakukan perjlanan ini. Tapi karena sesuatu hal, teman tadi membatalkan untuk berkendara bersama, info pembatalan tersebut saya terima lewat pesan whatsapp, dengan terbaca "saya gak jadi berangkat, karena kesiangaaan!" dengan tambahan gambar emotion orang menangis. Padahal saat baca pesan  itu saya sudah sampai Cianjur, haha. Semprul!

Okelah..tidak jadi masalah berkendara sendiri. Karena saya temasuk bisa menikmati perjalanan walau solo riding. Bishop (nama motor saya) sudah mulai menggelinding dari kandangnya di Cikarang pukul 03.30 dinihari. Jalur Cikarang-Cariu-Jonggo-Cianjur saya lalui dikegelapan subuh. Sempat terlintas isu 'begal' yang sedang marak saat ini, apalagi jalan waktu itu sepi senyap. Tapi pikiran itu lekas hilang seiiring senangnya hati ketika sudah diatas roda dua.

Arahan dari teman (mang Dedi) tentang lokasi yang akan dicapai, lewat pesan singkat di ponsel menjadi patokan saya menuju kesana. Salah satunya berbunyi "nanti kalo sudah sampai jalan Sukanagara-Cianjur, dan ada petunjuk arah curug Citambur, belok kiri dan ikuti jalur itu saja". Kebetulan jalur sampai Curug Citambur tidak asing lagi, beberapa waktu yang lalu saya pernah melewatinya, jalan tembus sampai daerah Rancabali dan Situ Patenggang. 

terlihat Citambur  
Jalan aspal terkelupas menghiasi jalur ini, terlihat beberapa air mengalir dari tebing, air terjun yang tampak alami sekali. Bishop saya pacu dengan kecepatan sedang, dengan maksud bisa menikmati hijaunya pemandangan kali ini.

Semakin mendekati daerah Cipelah, pemandangan berganti dengan hamparan kebun teh, layaknya permadani turki, barisan pohon teh seakan membentuk motif karya seni tinggi. Arrgh..saya betah berkendara disini. Setelah lepas Cipelah, saya teringat dengan arahan petunjuk teman dari pesan singkat tadi, bahwa disebutkan "belok kanan ke arah Cireundeu, setelah Cipelah". Dan untuk menemukan belokannya, saya bertanya ke petani kebun teh, karena tidak ada petunjuk papan ke arah Cireundeu. 

setelah belokan
Beberapa jalan aspal mulus sebelum belokan ini, berganti jalan gravel. Hamparan kebun teh masih tepampar disekitarnya hingga daerah Cibuni. Kali ini saya bertanya ke orang dipinggir jalan "kemana jalan arah Cikadu?" dan dijawab "ada pertigaan, di situ ada warung nasi, dan belok kiri"

Saat tiba diwarung nasi jam tangan menunjukan pukul 12 lewat, kebetulan sekali perut sedari tadi sudah meminta jatahnya. Tidak disangka sebelum memesan sepiring makan siang, saya bertemu dengan om Juliansyah . Beliau yang mengendarai motor berkubikaasi 650 cc ini ternyata adalah termasuk dalam rombongan teman-teman MBI yang sudah berangkat dari hari Jumat. Tapi kok sendirian? tanya saya saat itu. Beliau menjelasakan, bahwa mengalami kecelekaan ketika sudah masuk jalur ke arah Cikadu, beberapa kilometer dari warung ini. Karena ada rasa sakit pada tulang persendian, maka beliau memutuskan tidak melanjutkan perjalanan dan menginap di rumah pak RT setempat pada malam harinya. 

Setelah mengobrol sekitar setengah dengan om Juliansyah saya pamit untuk melanjutkan perjalanan. Beliau juga mengingatkan untuk segera melewati jalur arah Cikadu sebelum hujan turun, memang saat itu mendung sudah tampak di langit, karena jalur tersebut akan bertambah tingkat kesulitannya jika air hujan tumpah di jalan.
Bishop-pun saya pacu menyusuri jalur Belanda, begitu teman-teman MBI biasa menyebutnya, walau jika menanyakan nama jalur itu ke warga setempat tidak akan ada yang mengerti nama Jalur Belanda, mereka lebih lazim menyebutnya jalur Cireundeu. 

Di iringi lagu Sweet Disposition dari  The Temper Trap dari ear phone tersemat dikuping dalam helm, saya pacu Bishop perlahan sambil 'membaca' kondisi jalan yang saat itu disambut oleh bebatuan terhampar dijalan. Serasa sudah terbaca, gas Bishop saya pelintir lebih dalam lagi, ternyata dugaan saya salah, jika biasanya jika menambah kecepatan batu akan terlempar dari putaran ban Bishop selama bisa mengendalikan setang, tapi kali ini saya dan bishop yang terhempas setelah melewati bebatuan sebesar kepalan tangan orang dewasa. Sial!!.

selamat datang di Jalur Belanda
what a beautiful 'sh*t happen'?
Belajar dari jatuhnya Bishop di satu kilometer pertama di jalur Belanda, saya lebih waspada dan mefokuskan pikiran untuk melewati setiap bongkahann batu yang tersebar merata di sepanjang jalan. Lengah sedikit atau lepas kontrol sedetik bisa terulang lagi kejadian serupa.

Jangan harap menemukan jalan aspal mulus disini. Kata teman yang pernah lewat panjang jalur ini adalah sekitar 17 kilometer dari warung nasi hingga kampung Sukajadi, tujuan saya untuk bertemu teman-teman MBI. Spedometer Bishop tidak berfungsi, maka saya tidak tahu tepat berapa panjang jalur ini. Baru sepertiga perjalanan di jalur ini, rasa lelahnya hampir sama dengan perjalanan Jakarta - Yogja via Pantura. Energi dibutuhkan lebih untuk mengendalikan Bishop di jalan seperti ini, pakaian dalam sudah basah keringat, dan semua ventilasi di jaket saya buka semua, walaupun saat itu tidak terik matahari dan cenderung mendung.

Layaknya di video game, jalur menawarkan level tantangan yang berbeda untuk melewatinya, Tentu saja bebatuan mendominasi, malah hampir sepanjang jalan penuh batu. Kadang tanah merah nan becek juga menghiasi. Kubangan tidak diketahui kedalamannya jika belum ban Bishop menyelaminya, sangat  menyegarkan ketika airnya mulai masuk sepatu. Tanjakan/turunan dari mulai kemiringan 30 sampai 60 derajat akan menguji torsi mesin, dan ini yang membuat saya sayang sama Bishop karena semua dapat dilaluinya. Beberapa ruas jalan juga air mengalir dari dinding tebing, mengikuti alur jalan, sama persis dengan sungai, walau tidak deras mengalir.

Vegetasi tumbuh liar disepanjang tebing menambah syahdu jalur ini. Tapi hati-hati jurang kadang menghadang di tepi siap menerima jika kita ceroboh. Salah satu keunikannya juga terdapat jembatan kayu. Konon jembatan ini adalah peninggalan Belanda ketika menjajah nusantara, itu  mengapa jalur ini disebut jalur Belanda oleh teman-teman MBI.

Melakukan perjalanan di daerah remote, pelosok, terpencil atau apapun istilahnya menimbulkan renungan-renungan ketika berhenti untuk sekedar meneguk air mineral. Mensyukuri nikmat-Nya. Belajar ber-empati. Belum bisa membayangkan jika sehari-hari saya melewati jalur ini sebagai jalan utama untuk beraktifitas. Sementara warga sini melahap jalan terjal setiap hari untuk bisa tetap bisa melakukan kegiatan sosial ekonominya.

Beberapa kali berpapasan dengan warga, seperti biasa mereka menyapa ramah ketika saya mendahuluinya, atau saya sedang duduk isitirahat dipinggir jalan. Ada seorang warga juga tiba-tiba berteriak ketika berpapasan "ripuh, euy jalana!" (saya artikan, jalan nya sangat merepotkan bagi mereka).

ripuh euy!
Yang membonceng lebih banyak jalan kakinya. Beruntung saya hanya memboncengkan tailbag. 
Oya..ditengah perjalanan saya juga berpapasan dengan rombongan motorist yang berlawanan arah, 5 orang jumlahnya,  mereka hendak kembali. Ternyata mereka berasal dari daerah Bekasi yang ikut kloter pertama keberangkatan bersama teman-teman MBI. Tampak lelah wajah-wajah mereka. Walaupun sudah menginap semalam, dan tidak sampai lokasi, desa Sukajadi. Ya mungkin faktor kelelahan.

Saya sempat iseng menanyakan ke mereka, "masih jauh kah lokasinya?" dijawab salah satu dari mereka dengan nada pelan "ya kalo saya bilang dekat, ntar kalo kita ketemu lagi, saya bisa di tonjokin sampeyan karena berbohong" saya pun tertawa. Padahal saya bertanya untuk memperkirakan bensin di tangki Bishop cukup atau tidak untuk mencapai lokasi. Sebab tidak akan ditemui penjual bensin atau warung sekalipun di jalur ini.

Keterangan terakhir warga setempat saat saya menanyai, bahwa jika ketemu pemukiman, terdapat pertigaann makan belok kiri untuk mengarah kampung Sukajadi. Bishop agak saya tambah kecepatannya, karena gelap mendung sudah bertambah pekat. Benar saja terlihat atap genting pemukiman. Entah karena sudah mulai hilang fokus, atau senangnya serasa melihat oase dipadang pasir, ketika melewati kubangan panjang, dan ternyata dalamnya cukup membuat Bishop hilang keseimbangan dan terkapar dipinggir jalan. Sementara reflek lompat saya ketika merasa mulai oleng, menyelamatkan dari rubuhan Bishop.

Bishop sukses mandi!
Benar saja tidak jauh dari kubangan terdapat pemukiman, salah menuju salah satu rumah dan bertanya arah menuju desa Sukajadi. Warga setempat juga memperkirakan jarak ke Sukajadi sekitar 7 kilometer lagi. Tidak jauh kondisinya dengan jalan sebelumnya tapi kali ini sedikit berbeda, karena gerimis mulai membasahi kaca helm. Jas hujan sengaja tidak saya kenakan, dan membiarkan rintik hujan menyegarkan badan ini, lagipula saat berangkat tadi saya belum sempat mandi.

Sangat menyenangkan berkendara dengan kondisi seperti ini, terkadang beberapa kubangan Bishop lewati dengan sedikit dipelintir gas, dan menibulkan efek splash, air kubangan muncrat hingga kaca helm. Menyenangkan!. Berhenti di jembatan kayu di tengah rerimbunan pohon akan menjadi suasana yang akan saya ridukan kelak, air sungai gemericik di bawah jembatan menambah kesyahduan.

jalur Belanda, the freshmaker! eh itu iklan permen bukan akua
Jalan semakin menantang, kali ini gemericik air sering terlihat turun membasahi tebing, sebagian membentuk air terjung. Keren!. Batuan tampak mengkilap dengan tersiramnya air dari langit. Jalanan membentuk sungai,  lengkap dengan air mengalir mengikuti jejak ban Bishop. Lima kilometer terakhir menuju kampung Sukajadi terasa sempurna dengan hadirnya air terjun yang alirannya meluap ke jalan lalu turun lagi ke jurang di sebelah kanan jalan.

sempurna!!
Sebenarnya betah berlama-lama disini, untuk sekedar mengambil foto-foto, atau menikmati segarnya cipratan air curug, tapi berhubung hari semakin sore maka Bishop dilanjutkan kembali. Tidak terasa saya sudah berkendara selama hampir 2 jam yang katanya dari warung Cibuni tadi berjarak 17 kilometer untuk sampai ke desa Sukajadi.

Bishop dipacu perlahan tapi pasti, walau terkadang batu yang licin hampir melempar kami kembali, tetapi Tuhan menganugerahi kaki saya yang panjang, membuat lebih sigap bisa segera menapak untuk tetap menopang supaya tetap berdiri, padahal saat itu sudah miring dan hampir menabrak tebing. Alhamdulillah.

foto setelah hampir menabrak tebing. Andai saja di depan adalah batu akik, pasti saya sudah jutawan, hahaha
Satu jam telah berlalu dari berhenti di curug tadi. Dan pemukiman sudah terlihat. Saya berhenti untuk bertanya ke pengembala kerbau di pinggir jalan. "Apakah ada gerombolan bermotor yang mau memasang pompa air didesa ini, pak?" tanya saya saat itu. Ditunjukan perkampungan yang terlihat gentingnya.

Jalan tanah licin menuju kampung itu sempat membuyarkan kembali, dan Bishop jauh terpeleset. Sial lagi!! Tapi tidak lama kemudian sampailah ditujuan dengan disambut hangat senyum, pelukan dan salam teman-teman yang sudah berada di lokasi sedari pagi. Beberapa teman berkata "wah ternyata sampe sini juga, kamu!"

Teman-teman yang sudah tiba di lokasi lebih dulu dari berbagai kota adalah, om Mada (Tangerang), om Julianto (Yogya), Irfan Rhadian (Yogya), om Riza Aditya (Malang), Mang Dedi (Bandung), Andri Lauren (Bandung), om Deddy (Bekasi), mas Nano Marsono (Jakarta), Ryan Rinaldi (Jakarta), Guntur (Bogor), om Herlambang (Bogor) dan om Hendra Revelino (Bogor)

touch down, Sukajadi


Selanjutnya:  ada apa saja di desa ini, apa  aktifitas kami disini, serta gimana perjalanan pulang kami, akan saya sambung ceritanya setelah beberapa hari kemudian.. :D


bersambung..............


Selasa, 31 Maret 2015

Cupunagara Sunday Morning Ride

Desa ini berada di kecamatan Cisalak, Subang. Untuk menuju desa ini diperlukan  kesiapan untuk melewati jalan bebatuan lepas beberapa puluh kilometer dari jalan masuknya, yaitu Kasomalang - Subang. Jalur ini juga merupakan jalan alternatif jika akan menuju Maribaya-Lembang. 

Kami berempat kang Rama, om Salum, om Hendry dan Dadang. Bermalam di salah satu sudut desa, berupa tanah lapang, dengan latar belakang bukit gagah berdiri, sekeliling hijau kebun teh. Layaknya tempat impian untuk menyegarkan pikiran disibuknya rutinas kota. Padahal lokasi ini tidak sengaja kami temukan setelah tanya penduduk setempat untuk mendirikan tenda. Warga menunjukan dengan ramah, bahkan kami dicarikan kayu bakar untuk membuat api unggun dimalam harinya. Malam harinya kami habiskan dengan berbincang-bincang dipinggir api unggun. 

Dibangunkan oleh udara dingin di desa Cupunagara walaupun saat itu udah  masuk didalam kantong tidur (sleeping bag), keluar dari tenda ternyata teman-teman yang lain sudah sibuk dengan kameranya untuk mengabadikan matahari terbit walau saat itu sedikit mendung.

Setelah menyedu kopi, makan cemilan pagi, serta memperhatikan kehidupan desa yang sedari pagi sudah sibuk di sawah belakang tanah lapang dengan menyemprot pestisida dilahan padi-nya, saya dan kang Rama berniat menelusuri jalan perkebunan teh peninggalan seorang Belanda, yaitu bernama Hoflan. Perkebunan ini di buat hampir bersamaan dengan dibangun jalan menuju kesini pada taun 1847. Saat itu jalan ini dibuat untuk jalur pedati, sebagai pengangkut hasil kebun. Perkebunan teh ini sekarang dibawah naungan PT Perkebunan Nusantara VIII.

Beberapa warga lalu lalang disekitar tenda, sambil meyapa kami bertanya hendak kemana, dan mereka menjawab ada acara keagamaan, kegiatan bulanan didesa ini yang letaknya di  situs keramat Cipabeasan, letaknya dipinggir tebing bukit Kertamanah. Yang terlihat hijau dan kokoh berdiri dari desa Cupunagara. 

Saya dan kang Rama segera bergegas untuk menikmati berkendara di tengah hijaunya perkebunan teh ini. Melewati jalan menanjak, dengan sesekali jalan bebatuan dan lumpur sehabis hujan, sangat seru dan mengasyikan!

terlihat tempat kami mendirikan tenda dan bermalam, dengan suasana desa yang sempurna
kang Rama on the road
Bishop semakin sexy, haha
peaceful!!
Berduyun-duyun ke acara keagamaan, terlepas dari acaranya, saya melihatya suatu harmoni antara alam dan manusia yg indah. Mereka rela jalan kaki menempuh beberapa kilomenter dengan jalan menanjak dan berlumpur untuk berkumpul menjalin silahturahmi dan keakraban. Bandingkan dengan di kota?mereka berperang argumentasi untuk politik yang busuk, menyebar kebencian di media sosial dengan artikel yang belum tentu kebenarannya. Yang kata mereka dalam rangka bentuk kepedulian terhadap republik ini. Memuakan!!!
Situs Cipabeasan. Disini terdapat makam kuno dan sebuah situ (danau kecil) yang sangat dikeramatkan. Menurut juru kuncinya, di lokasi ini juga dimakamkan seorang penyebar Islam yaitu Eyang Mangkunagara. 
tempat yang akan saya rindukan, sampai jumpa Cupunagara!

*****************

Senin, 09 Maret 2015

End Year Ride [Resume]

Sudah beberapa tahun terakhir ini, mempunyai kebiasaan untuk menghabiskan sisa cuti untuk melakukan perjalanan dengan roda dua dalam beberapa hari, minimal seminggu. Untuk pemula seperti saya, durasi selama itu masuk kategori long trip. Apalagi sebagai buruh, waktu libur adalah  salah satu anugerah, disamping bonus tahunan tentunya.

Kali ini saya melakukan perjalanan seorang diri. Seperti yang saya yakini, perjalanan dengan istilah "solo riding" merupakan ajang untuk meditasi dan refleksi diri. Sepanjang jalan banyak melakukan monolog dengan diri sendiri ketika akan melakukan sesuatu, memutuskan, menanggung apa telah diputuskan. Saya juga lebih 'kyusuk'  melakukan passion ini. Dengan begitu kita akan semakin mengenal diri sendiri, meng-evaluasi setiap tindakan. Dan...free the soul as motorcycle traveler!

Soal tujuan tidak begitu penting, tapi saya akan mengarah ke timur Jawa. walau sudah beberapa kali mengunjungi destinasi dalam perjalanan ini, tapi ada cerita yang berbeda yang mengharu biru, menyenangkan, dan banyak hikmah yang didapat.

Walau seorang diri diatas roda dua ini, tapi saya begitu merasakan kehadiran Nya , orang-orang baik seperti dikirim dari langit untuk mengisi cerita perjalanan ini. Mereka yang sudah saya kenal sebelumnya, atau malah baru ketemu saat itu bak pahlawan yang tiba-tiba muncul saat saya membutuhkan, tanpa diminta atau broadcast di media social sekalipun. Dan tentu bonus perjalanan atas alam ciptaNya yang selalu membuat hati berdebar.

Untuk itu saya mengucapkan terimasih dan bersyukur atas perlindunganNya selama perjalanan, dan juga teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu, terimakasih atas cerita2nya yang menginspirasi.

Alhamdulillah sampai kembali di Cikarang dengan selamat walau mengalami beberapa insiden minor, dan masalah teknis di motor. Tercatat 2250 kilometer di spedometer Bishop, dalam perjalanan kali ini. Tentu tidak apa2nya nilai dalam angka jarak, dibandingkan pengalaman selama perjalanan.

Kebetulan karena dilakukan diakhir tahun, sekaligus sebagai evaluasi diri selama setahun terakhir dari refleksi diri selama perjalanan. Jika boleh meminjam kata-kata dari pak Jono selaku "juru kunci", yang tidak sengaja saya temui saat mengunjungi  di museum Trinil, mengatakan perlunya menghargai sejarah untuk mengetahui dan belajar dari masa lampau, supaya kehidupan selanjutnya lebih baik.

Selamat Tahun Baru, 2015! Semoga bisa menjadi insan yang lebih baik!

Tadinya rencana lewat Pantura, tapi baru sampai Pekalongan sudah jengah dengan kemacetan panjang dibeberapa ruas jalan dengan proyek sepanjang zamannya. Akhirnya belok kanan, memilih jalur Kajen-Linggosari-Kalibening-Batur-Dieng. Salah satu spot yg bisa dinikmati dalam jalur ini.
Menunggu sunrise Sikunir
Bersantai sejenak di puncak Sikunir




Persiapan melanjutkan ke timur, dari telaga Cebong, Dieng, setelah bermalam disini
Lepas dari Dieng ditemani hujan dan kabut
Tidak direncana mampir musium Trinil, banyak belajar sejarah tentang manusia purba sampai evolusi bumi dari sang juru kunci, pak Jono.
Singgah dan bermalam di kediamannya om Riza Aditya, trimakasih cerita2 inspiratifnya, bersama mas Agni juga :)
Tempat yang selalu buat kangen di timur jawa
Dan selalu menjadi tempat bermain yang mengasyikan
Menuju puncak B29, jalur dari desa Sariwani. 30-40 km jalannya mayoritas seperti ini.
Memasuki Wonokerso, berkabut dan jalan tanah licin, dan hujan turun saat itu, dihimbau dan ditolong petani setempat, untuk tidak melanjutkan perjalanan ke B29 karena kondisi cuaca
mas Eko adalah petani itu, dan mengajak untuk singgah dirumahnya sebentar untuk menikmati kopi panas, dan obrolan hangat sambil menunggu hujan reda dan ganti baju setelah basah kuyup
Terimakasih mas Eko & keluarga. Pamit dulu ya, untuk melanjutkan perjalanan

Dari Sukapura, ternyata jalan semakin mengecil dengan jurang sebelah kiri siap menampung jika tergelencir karena licin sehabis hujan, saya memutuskan untuk balik arah.
sebenarnya sudah memutuskan untuk balik kota Prbolinggo untuk menunda ke B29 lain kesempatan, tapi ada akses lain yaitu dari Argosari, dan sampai sini ketika magrib menjelang, ditemani kabut tebal, sempat terjatuh karena jalan tanah berlubang panjang tidak terlihat tertutup kabut.
Bermalam dirumah pak Slamet, yang kebetulan sebagai penjaga tiket masuk ke B29. Jarak dari rumah ini ke B29 masih sekitar 1,5 kilometer, dan besok subuhnya rencana untuk melanjutkan riding.
Pak Sampurna lari menghampiri saya ketika Bishop ambruk, kondisi jalan tanah menanjak sehabis hujan, dengan dihiasi lubang panajng mirip selokan, serta penerangan minim membuat kesulitan tersendiri. Akhirnya pak Sampurna bersedia menemani saya untuk sampai atas, setelah sebelumnya menyaarankan untuk naik ojek ato jalan kaki, tapi saya tetap keras kepala untuk naik bersama Bishop, dg alesan akan turun ke arah Malang (bukan jalan yg sama dengan naiknya)

Pak Sampurna (merangkul saya) walau baru kenal beberapa jam, tapi sudah mau bahu membahu melewati jalan offroad, disela-sela napas tersendat akibat oksigen yang menipis diketinggian 2000an mdpl, beliau memberi semangat dengan tidak terlihat lelah mendorong Bishop, ato membantu mengangkat bishop ketika jatuh berkali-kali. Kegembiraan dan emosi setelah sampai puncak tidak bisa dibendung, termasuk oleh pak Sampurna.
touch up!
Sisi lain dari puncak
Turun tembus Ranu Pani tidak kalah mendebarkan
Tapi, keindahan kawasan Tengger, Bromo, Semeru dari atas membuat berdecak kagum
Ketemu dengan Endi ditengah jalur B29-Ranu Pani, dia yang mengarahkan melewati ini agar tidak tersesat, dan menjadi penyelamat saya ketika footstep menghimpit kaki saat bishop ambruk ditebing.
Pulang kerumah orang tua di Jogja, salah satu jalurnya, Trenggalek- Pacitan.

******************