Our Riding Ware

Minggu, 12 April 2015

Piknik versi Menembus Batas Indonesia

pic·nic
/ˈpikˌnik/
noun
noun: picnic; plural noun: picnics
1.
an outing or occasion that involves taking a packed meal to be eaten outdoors
Masing-masing orang tentu punya persepsi untuk mendefinisikan suatu kata atau istilah. Kali ini saya berkesempatan mengikuti perjalanan para motorist yaitu sekumpulan manusia yang punya kegemaran melakukan perjalanan roda dua (sepeda motor), kumpulan itu dibawah nama Menembus Batas Indonesia, yang selanjutnya disingkat MBI. Kegiatan mereka ketika melakukan perjalanan roda dua biasa disebut dengan istilah PADI akronim dari Piknik Asyik Di Indonesia.

Ini kedua kalinya saya mengikuti perjalanan bersama MBI setelah sekitar 2 tahun yang lalu pernah 'piknik' bareng (cerita perjalanannya klik disini). Jadi,  sudah tidak aneh dan terlalu kaget jika jalur yang akan dilewati nantinya jalan yang 'aneh-aneh'. Tapi setiap perjalanan pasti akan ada kejutan-kejutan baru, dan tentunya cerita yang berbeda. Berbeda dengan pemotor kebanyakan yang biasa kita lihat di jalan raya dengan kegiatan 'touring'nya. Dari pemilihan jalur teman-teman MBI ini sudah anti mainstream alias tidak biasa untuk sepeda motor jenis onroad

Selain ber-PADI, ada sisi dan misi lain dari melakukan kegiatan kali ini. Adalah Ride For Indonesia salah satu program dari MBI, beberapa sub program telah dilakukan seperti Ride For Education (RFE) di SDN Giri Asih, Cisaranten, Cikadu, Cianjur Selatan. Program  RFE diwujudkan dengan pemberian donasi sebagai penunjang kegiatan belajar di SD tersebut, termasuk pemberian buku-buku.

Tentu saja daerah pelosok ini dipandang sebelah mata oleh pihak penyelenggara negara, sulitnya akses menuju daerah ini menjadi alasan utama. Kegemaran teman-teman berkendara roda dua ke daerah melewati jalan tidak pada umumnya diperkotaan ini bisa menjadi pengakomodir suara mereka.

Pada kesempatan perjalanan kali ini di daerah yang sama tepatnya di kampung Sukajadi, Cisaranten, Cikadu, Cianjur Selatan, teman-teman  MBI mempunyai program bertajuk Ride For Indonesia, Water for Life. Apakah itu? bersama tim Kartala (www.kartala.org) lewat Perjalanan Cahaya, mencoba mengaplikasikan sistem pompa air dengan tenaga dorongan aliran air (hydram pump). Sistem pompa ini juga sedang diaplikasikan di kampung Palasari - Subang oleh tim Kartala yang mempunyai permasalahan yang sama, yaitu mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Bagaimana cerita perjalanan saya dalam mengikuti kegiatan teman-teman MBI ini, atau seperti apa PADI nya MBI, dan juga tantangannya untuk mencapai lokasi, bisa disimak di paragraf-paragraf berikutnya. 


Jalur Belanda yang Syahdu

Beberapa teman sudah mulai berkendara menuju daerah Cianjur Selatan yaitu tempat akan kami berkumpul yang merupakan titik point terakhir dalam perjalanan kali ini, dari hari Jumat (3/4/2015). Sementara akan berangkat sabtu subuh, walau hari Jumat tanggal merah, tapi ada pekerjaan yang harus ditunaikan. 

Tadinya ada seorang teman (mas Danu)  akan turut serta bersama saya melakukan perjlanan ini. Tapi karena sesuatu hal, teman tadi membatalkan untuk berkendara bersama, info pembatalan tersebut saya terima lewat pesan whatsapp, dengan terbaca "saya gak jadi berangkat, karena kesiangaaan!" dengan tambahan gambar emotion orang menangis. Padahal saat baca pesan  itu saya sudah sampai Cianjur, haha. Semprul!

Okelah..tidak jadi masalah berkendara sendiri. Karena saya temasuk bisa menikmati perjalanan walau solo riding. Bishop (nama motor saya) sudah mulai menggelinding dari kandangnya di Cikarang pukul 03.30 dinihari. Jalur Cikarang-Cariu-Jonggo-Cianjur saya lalui dikegelapan subuh. Sempat terlintas isu 'begal' yang sedang marak saat ini, apalagi jalan waktu itu sepi senyap. Tapi pikiran itu lekas hilang seiiring senangnya hati ketika sudah diatas roda dua.

Arahan dari teman (mang Dedi) tentang lokasi yang akan dicapai, lewat pesan singkat di ponsel menjadi patokan saya menuju kesana. Salah satunya berbunyi "nanti kalo sudah sampai jalan Sukanagara-Cianjur, dan ada petunjuk arah curug Citambur, belok kiri dan ikuti jalur itu saja". Kebetulan jalur sampai Curug Citambur tidak asing lagi, beberapa waktu yang lalu saya pernah melewatinya, jalan tembus sampai daerah Rancabali dan Situ Patenggang. 

terlihat Citambur  
Jalan aspal terkelupas menghiasi jalur ini, terlihat beberapa air mengalir dari tebing, air terjun yang tampak alami sekali. Bishop saya pacu dengan kecepatan sedang, dengan maksud bisa menikmati hijaunya pemandangan kali ini.

Semakin mendekati daerah Cipelah, pemandangan berganti dengan hamparan kebun teh, layaknya permadani turki, barisan pohon teh seakan membentuk motif karya seni tinggi. Arrgh..saya betah berkendara disini. Setelah lepas Cipelah, saya teringat dengan arahan petunjuk teman dari pesan singkat tadi, bahwa disebutkan "belok kanan ke arah Cireundeu, setelah Cipelah". Dan untuk menemukan belokannya, saya bertanya ke petani kebun teh, karena tidak ada petunjuk papan ke arah Cireundeu. 

setelah belokan
Beberapa jalan aspal mulus sebelum belokan ini, berganti jalan gravel. Hamparan kebun teh masih tepampar disekitarnya hingga daerah Cibuni. Kali ini saya bertanya ke orang dipinggir jalan "kemana jalan arah Cikadu?" dan dijawab "ada pertigaan, di situ ada warung nasi, dan belok kiri"

Saat tiba diwarung nasi jam tangan menunjukan pukul 12 lewat, kebetulan sekali perut sedari tadi sudah meminta jatahnya. Tidak disangka sebelum memesan sepiring makan siang, saya bertemu dengan om Juliansyah . Beliau yang mengendarai motor berkubikaasi 650 cc ini ternyata adalah termasuk dalam rombongan teman-teman MBI yang sudah berangkat dari hari Jumat. Tapi kok sendirian? tanya saya saat itu. Beliau menjelasakan, bahwa mengalami kecelekaan ketika sudah masuk jalur ke arah Cikadu, beberapa kilometer dari warung ini. Karena ada rasa sakit pada tulang persendian, maka beliau memutuskan tidak melanjutkan perjalanan dan menginap di rumah pak RT setempat pada malam harinya. 

Setelah mengobrol sekitar setengah dengan om Juliansyah saya pamit untuk melanjutkan perjalanan. Beliau juga mengingatkan untuk segera melewati jalur arah Cikadu sebelum hujan turun, memang saat itu mendung sudah tampak di langit, karena jalur tersebut akan bertambah tingkat kesulitannya jika air hujan tumpah di jalan.
Bishop-pun saya pacu menyusuri jalur Belanda, begitu teman-teman MBI biasa menyebutnya, walau jika menanyakan nama jalur itu ke warga setempat tidak akan ada yang mengerti nama Jalur Belanda, mereka lebih lazim menyebutnya jalur Cireundeu. 

Di iringi lagu Sweet Disposition dari  The Temper Trap dari ear phone tersemat dikuping dalam helm, saya pacu Bishop perlahan sambil 'membaca' kondisi jalan yang saat itu disambut oleh bebatuan terhampar dijalan. Serasa sudah terbaca, gas Bishop saya pelintir lebih dalam lagi, ternyata dugaan saya salah, jika biasanya jika menambah kecepatan batu akan terlempar dari putaran ban Bishop selama bisa mengendalikan setang, tapi kali ini saya dan bishop yang terhempas setelah melewati bebatuan sebesar kepalan tangan orang dewasa. Sial!!.

selamat datang di Jalur Belanda
what a beautiful 'sh*t happen'?
Belajar dari jatuhnya Bishop di satu kilometer pertama di jalur Belanda, saya lebih waspada dan mefokuskan pikiran untuk melewati setiap bongkahann batu yang tersebar merata di sepanjang jalan. Lengah sedikit atau lepas kontrol sedetik bisa terulang lagi kejadian serupa.

Jangan harap menemukan jalan aspal mulus disini. Kata teman yang pernah lewat panjang jalur ini adalah sekitar 17 kilometer dari warung nasi hingga kampung Sukajadi, tujuan saya untuk bertemu teman-teman MBI. Spedometer Bishop tidak berfungsi, maka saya tidak tahu tepat berapa panjang jalur ini. Baru sepertiga perjalanan di jalur ini, rasa lelahnya hampir sama dengan perjalanan Jakarta - Yogja via Pantura. Energi dibutuhkan lebih untuk mengendalikan Bishop di jalan seperti ini, pakaian dalam sudah basah keringat, dan semua ventilasi di jaket saya buka semua, walaupun saat itu tidak terik matahari dan cenderung mendung.

Layaknya di video game, jalur menawarkan level tantangan yang berbeda untuk melewatinya, Tentu saja bebatuan mendominasi, malah hampir sepanjang jalan penuh batu. Kadang tanah merah nan becek juga menghiasi. Kubangan tidak diketahui kedalamannya jika belum ban Bishop menyelaminya, sangat  menyegarkan ketika airnya mulai masuk sepatu. Tanjakan/turunan dari mulai kemiringan 30 sampai 60 derajat akan menguji torsi mesin, dan ini yang membuat saya sayang sama Bishop karena semua dapat dilaluinya. Beberapa ruas jalan juga air mengalir dari dinding tebing, mengikuti alur jalan, sama persis dengan sungai, walau tidak deras mengalir.

Vegetasi tumbuh liar disepanjang tebing menambah syahdu jalur ini. Tapi hati-hati jurang kadang menghadang di tepi siap menerima jika kita ceroboh. Salah satu keunikannya juga terdapat jembatan kayu. Konon jembatan ini adalah peninggalan Belanda ketika menjajah nusantara, itu  mengapa jalur ini disebut jalur Belanda oleh teman-teman MBI.

Melakukan perjalanan di daerah remote, pelosok, terpencil atau apapun istilahnya menimbulkan renungan-renungan ketika berhenti untuk sekedar meneguk air mineral. Mensyukuri nikmat-Nya. Belajar ber-empati. Belum bisa membayangkan jika sehari-hari saya melewati jalur ini sebagai jalan utama untuk beraktifitas. Sementara warga sini melahap jalan terjal setiap hari untuk bisa tetap bisa melakukan kegiatan sosial ekonominya.

Beberapa kali berpapasan dengan warga, seperti biasa mereka menyapa ramah ketika saya mendahuluinya, atau saya sedang duduk isitirahat dipinggir jalan. Ada seorang warga juga tiba-tiba berteriak ketika berpapasan "ripuh, euy jalana!" (saya artikan, jalan nya sangat merepotkan bagi mereka).

ripuh euy!
Yang membonceng lebih banyak jalan kakinya. Beruntung saya hanya memboncengkan tailbag. 
Oya..ditengah perjalanan saya juga berpapasan dengan rombongan motorist yang berlawanan arah, 5 orang jumlahnya,  mereka hendak kembali. Ternyata mereka berasal dari daerah Bekasi yang ikut kloter pertama keberangkatan bersama teman-teman MBI. Tampak lelah wajah-wajah mereka. Walaupun sudah menginap semalam, dan tidak sampai lokasi, desa Sukajadi. Ya mungkin faktor kelelahan.

Saya sempat iseng menanyakan ke mereka, "masih jauh kah lokasinya?" dijawab salah satu dari mereka dengan nada pelan "ya kalo saya bilang dekat, ntar kalo kita ketemu lagi, saya bisa di tonjokin sampeyan karena berbohong" saya pun tertawa. Padahal saya bertanya untuk memperkirakan bensin di tangki Bishop cukup atau tidak untuk mencapai lokasi. Sebab tidak akan ditemui penjual bensin atau warung sekalipun di jalur ini.

Keterangan terakhir warga setempat saat saya menanyai, bahwa jika ketemu pemukiman, terdapat pertigaann makan belok kiri untuk mengarah kampung Sukajadi. Bishop agak saya tambah kecepatannya, karena gelap mendung sudah bertambah pekat. Benar saja terlihat atap genting pemukiman. Entah karena sudah mulai hilang fokus, atau senangnya serasa melihat oase dipadang pasir, ketika melewati kubangan panjang, dan ternyata dalamnya cukup membuat Bishop hilang keseimbangan dan terkapar dipinggir jalan. Sementara reflek lompat saya ketika merasa mulai oleng, menyelamatkan dari rubuhan Bishop.

Bishop sukses mandi!
Benar saja tidak jauh dari kubangan terdapat pemukiman, salah menuju salah satu rumah dan bertanya arah menuju desa Sukajadi. Warga setempat juga memperkirakan jarak ke Sukajadi sekitar 7 kilometer lagi. Tidak jauh kondisinya dengan jalan sebelumnya tapi kali ini sedikit berbeda, karena gerimis mulai membasahi kaca helm. Jas hujan sengaja tidak saya kenakan, dan membiarkan rintik hujan menyegarkan badan ini, lagipula saat berangkat tadi saya belum sempat mandi.

Sangat menyenangkan berkendara dengan kondisi seperti ini, terkadang beberapa kubangan Bishop lewati dengan sedikit dipelintir gas, dan menibulkan efek splash, air kubangan muncrat hingga kaca helm. Menyenangkan!. Berhenti di jembatan kayu di tengah rerimbunan pohon akan menjadi suasana yang akan saya ridukan kelak, air sungai gemericik di bawah jembatan menambah kesyahduan.

jalur Belanda, the freshmaker! eh itu iklan permen bukan akua
Jalan semakin menantang, kali ini gemericik air sering terlihat turun membasahi tebing, sebagian membentuk air terjung. Keren!. Batuan tampak mengkilap dengan tersiramnya air dari langit. Jalanan membentuk sungai,  lengkap dengan air mengalir mengikuti jejak ban Bishop. Lima kilometer terakhir menuju kampung Sukajadi terasa sempurna dengan hadirnya air terjun yang alirannya meluap ke jalan lalu turun lagi ke jurang di sebelah kanan jalan.

sempurna!!
Sebenarnya betah berlama-lama disini, untuk sekedar mengambil foto-foto, atau menikmati segarnya cipratan air curug, tapi berhubung hari semakin sore maka Bishop dilanjutkan kembali. Tidak terasa saya sudah berkendara selama hampir 2 jam yang katanya dari warung Cibuni tadi berjarak 17 kilometer untuk sampai ke desa Sukajadi.

Bishop dipacu perlahan tapi pasti, walau terkadang batu yang licin hampir melempar kami kembali, tetapi Tuhan menganugerahi kaki saya yang panjang, membuat lebih sigap bisa segera menapak untuk tetap menopang supaya tetap berdiri, padahal saat itu sudah miring dan hampir menabrak tebing. Alhamdulillah.

foto setelah hampir menabrak tebing. Andai saja di depan adalah batu akik, pasti saya sudah jutawan, hahaha
Satu jam telah berlalu dari berhenti di curug tadi. Dan pemukiman sudah terlihat. Saya berhenti untuk bertanya ke pengembala kerbau di pinggir jalan. "Apakah ada gerombolan bermotor yang mau memasang pompa air didesa ini, pak?" tanya saya saat itu. Ditunjukan perkampungan yang terlihat gentingnya.

Jalan tanah licin menuju kampung itu sempat membuyarkan kembali, dan Bishop jauh terpeleset. Sial lagi!! Tapi tidak lama kemudian sampailah ditujuan dengan disambut hangat senyum, pelukan dan salam teman-teman yang sudah berada di lokasi sedari pagi. Beberapa teman berkata "wah ternyata sampe sini juga, kamu!"

Teman-teman yang sudah tiba di lokasi lebih dulu dari berbagai kota adalah, om Mada (Tangerang), om Julianto (Yogya), Irfan Rhadian (Yogya), om Riza Aditya (Malang), Mang Dedi (Bandung), Andri Lauren (Bandung), om Deddy (Bekasi), mas Nano Marsono (Jakarta), Ryan Rinaldi (Jakarta), Guntur (Bogor), om Herlambang (Bogor) dan om Hendra Revelino (Bogor)

touch down, Sukajadi


Selanjutnya:  ada apa saja di desa ini, apa  aktifitas kami disini, serta gimana perjalanan pulang kami, akan saya sambung ceritanya setelah beberapa hari kemudian.. :D


bersambung..............


Selasa, 31 Maret 2015

Cupunagara Sunday Morning Ride

Desa ini berada di kecamatan Cisalak, Subang. Untuk menuju desa ini diperlukan  kesiapan untuk melewati jalan bebatuan lepas beberapa puluh kilometer dari jalan masuknya, yaitu Kasomalang - Subang. Jalur ini juga merupakan jalan alternatif jika akan menuju Maribaya-Lembang. 

Kami berempat kang Rama, om Salum, om Hendry dan Dadang. Bermalam di salah satu sudut desa, berupa tanah lapang, dengan latar belakang bukit gagah berdiri, sekeliling hijau kebun teh. Layaknya tempat impian untuk menyegarkan pikiran disibuknya rutinas kota. Padahal lokasi ini tidak sengaja kami temukan setelah tanya penduduk setempat untuk mendirikan tenda. Warga menunjukan dengan ramah, bahkan kami dicarikan kayu bakar untuk membuat api unggun dimalam harinya. Malam harinya kami habiskan dengan berbincang-bincang dipinggir api unggun. 

Dibangunkan oleh udara dingin di desa Cupunagara walaupun saat itu udah  masuk didalam kantong tidur (sleeping bag), keluar dari tenda ternyata teman-teman yang lain sudah sibuk dengan kameranya untuk mengabadikan matahari terbit walau saat itu sedikit mendung.

Setelah menyedu kopi, makan cemilan pagi, serta memperhatikan kehidupan desa yang sedari pagi sudah sibuk di sawah belakang tanah lapang dengan menyemprot pestisida dilahan padi-nya, saya dan kang Rama berniat menelusuri jalan perkebunan teh peninggalan seorang Belanda, yaitu bernama Hoflan. Perkebunan ini di buat hampir bersamaan dengan dibangun jalan menuju kesini pada taun 1847. Saat itu jalan ini dibuat untuk jalur pedati, sebagai pengangkut hasil kebun. Perkebunan teh ini sekarang dibawah naungan PT Perkebunan Nusantara VIII.

Beberapa warga lalu lalang disekitar tenda, sambil meyapa kami bertanya hendak kemana, dan mereka menjawab ada acara keagamaan, kegiatan bulanan didesa ini yang letaknya di  situs keramat Cipabeasan, letaknya dipinggir tebing bukit Kertamanah. Yang terlihat hijau dan kokoh berdiri dari desa Cupunagara. 

Saya dan kang Rama segera bergegas untuk menikmati berkendara di tengah hijaunya perkebunan teh ini. Melewati jalan menanjak, dengan sesekali jalan bebatuan dan lumpur sehabis hujan, sangat seru dan mengasyikan!

terlihat tempat kami mendirikan tenda dan bermalam, dengan suasana desa yang sempurna
kang Rama on the road
Bishop semakin sexy, haha
peaceful!!
Berduyun-duyun ke acara keagamaan, terlepas dari acaranya, saya melihatya suatu harmoni antara alam dan manusia yg indah. Mereka rela jalan kaki menempuh beberapa kilomenter dengan jalan menanjak dan berlumpur untuk berkumpul menjalin silahturahmi dan keakraban. Bandingkan dengan di kota?mereka berperang argumentasi untuk politik yang busuk, menyebar kebencian di media sosial dengan artikel yang belum tentu kebenarannya. Yang kata mereka dalam rangka bentuk kepedulian terhadap republik ini. Memuakan!!!
Situs Cipabeasan. Disini terdapat makam kuno dan sebuah situ (danau kecil) yang sangat dikeramatkan. Menurut juru kuncinya, di lokasi ini juga dimakamkan seorang penyebar Islam yaitu Eyang Mangkunagara. 
tempat yang akan saya rindukan, sampai jumpa Cupunagara!

*****************

Senin, 09 Maret 2015

End Year Ride [Resume]

Sudah beberapa tahun terakhir ini, mempunyai kebiasaan untuk menghabiskan sisa cuti untuk melakukan perjalanan dengan roda dua dalam beberapa hari, minimal seminggu. Untuk pemula seperti saya, durasi selama itu masuk kategori long trip. Apalagi sebagai buruh, waktu libur adalah  salah satu anugerah, disamping bonus tahunan tentunya.

Kali ini saya melakukan perjalanan seorang diri. Seperti yang saya yakini, perjalanan dengan istilah "solo riding" merupakan ajang untuk meditasi dan refleksi diri. Sepanjang jalan banyak melakukan monolog dengan diri sendiri ketika akan melakukan sesuatu, memutuskan, menanggung apa telah diputuskan. Saya juga lebih 'kyusuk'  melakukan passion ini. Dengan begitu kita akan semakin mengenal diri sendiri, meng-evaluasi setiap tindakan. Dan...free the soul as motorcycle traveler!

Soal tujuan tidak begitu penting, tapi saya akan mengarah ke timur Jawa. walau sudah beberapa kali mengunjungi destinasi dalam perjalanan ini, tapi ada cerita yang berbeda yang mengharu biru, menyenangkan, dan banyak hikmah yang didapat.

Walau seorang diri diatas roda dua ini, tapi saya begitu merasakan kehadiran Nya , orang-orang baik seperti dikirim dari langit untuk mengisi cerita perjalanan ini. Mereka yang sudah saya kenal sebelumnya, atau malah baru ketemu saat itu bak pahlawan yang tiba-tiba muncul saat saya membutuhkan, tanpa diminta atau broadcast di media social sekalipun. Dan tentu bonus perjalanan atas alam ciptaNya yang selalu membuat hati berdebar.

Untuk itu saya mengucapkan terimasih dan bersyukur atas perlindunganNya selama perjalanan, dan juga teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu, terimakasih atas cerita2nya yang menginspirasi.

Alhamdulillah sampai kembali di Cikarang dengan selamat walau mengalami beberapa insiden minor, dan masalah teknis di motor. Tercatat 2250 kilometer di spedometer Bishop, dalam perjalanan kali ini. Tentu tidak apa2nya nilai dalam angka jarak, dibandingkan pengalaman selama perjalanan.

Kebetulan karena dilakukan diakhir tahun, sekaligus sebagai evaluasi diri selama setahun terakhir dari refleksi diri selama perjalanan. Jika boleh meminjam kata-kata dari pak Jono selaku "juru kunci", yang tidak sengaja saya temui saat mengunjungi  di museum Trinil, mengatakan perlunya menghargai sejarah untuk mengetahui dan belajar dari masa lampau, supaya kehidupan selanjutnya lebih baik.

Selamat Tahun Baru, 2015! Semoga bisa menjadi insan yang lebih baik!

Tadinya rencana lewat Pantura, tapi baru sampai Pekalongan sudah jengah dengan kemacetan panjang dibeberapa ruas jalan dengan proyek sepanjang zamannya. Akhirnya belok kanan, memilih jalur Kajen-Linggosari-Kalibening-Batur-Dieng. Salah satu spot yg bisa dinikmati dalam jalur ini.
Menunggu sunrise Sikunir
Bersantai sejenak di puncak Sikunir




Persiapan melanjutkan ke timur, dari telaga Cebong, Dieng, setelah bermalam disini
Lepas dari Dieng ditemani hujan dan kabut
Tidak direncana mampir musium Trinil, banyak belajar sejarah tentang manusia purba sampai evolusi bumi dari sang juru kunci, pak Jono.
Singgah dan bermalam di kediamannya om Riza Aditya, trimakasih cerita2 inspiratifnya, bersama mas Agni juga :)
Tempat yang selalu buat kangen di timur jawa
Dan selalu menjadi tempat bermain yang mengasyikan
Menuju puncak B29, jalur dari desa Sariwani. 30-40 km jalannya mayoritas seperti ini.
Memasuki Wonokerso, berkabut dan jalan tanah licin, dan hujan turun saat itu, dihimbau dan ditolong petani setempat, untuk tidak melanjutkan perjalanan ke B29 karena kondisi cuaca
mas Eko adalah petani itu, dan mengajak untuk singgah dirumahnya sebentar untuk menikmati kopi panas, dan obrolan hangat sambil menunggu hujan reda dan ganti baju setelah basah kuyup
Terimakasih mas Eko & keluarga. Pamit dulu ya, untuk melanjutkan perjalanan

Dari Sukapura, ternyata jalan semakin mengecil dengan jurang sebelah kiri siap menampung jika tergelencir karena licin sehabis hujan, saya memutuskan untuk balik arah.
sebenarnya sudah memutuskan untuk balik kota Prbolinggo untuk menunda ke B29 lain kesempatan, tapi ada akses lain yaitu dari Argosari, dan sampai sini ketika magrib menjelang, ditemani kabut tebal, sempat terjatuh karena jalan tanah berlubang panjang tidak terlihat tertutup kabut.
Bermalam dirumah pak Slamet, yang kebetulan sebagai penjaga tiket masuk ke B29. Jarak dari rumah ini ke B29 masih sekitar 1,5 kilometer, dan besok subuhnya rencana untuk melanjutkan riding.
Pak Sampurna lari menghampiri saya ketika Bishop ambruk, kondisi jalan tanah menanjak sehabis hujan, dengan dihiasi lubang panajng mirip selokan, serta penerangan minim membuat kesulitan tersendiri. Akhirnya pak Sampurna bersedia menemani saya untuk sampai atas, setelah sebelumnya menyaarankan untuk naik ojek ato jalan kaki, tapi saya tetap keras kepala untuk naik bersama Bishop, dg alesan akan turun ke arah Malang (bukan jalan yg sama dengan naiknya)

Pak Sampurna (merangkul saya) walau baru kenal beberapa jam, tapi sudah mau bahu membahu melewati jalan offroad, disela-sela napas tersendat akibat oksigen yang menipis diketinggian 2000an mdpl, beliau memberi semangat dengan tidak terlihat lelah mendorong Bishop, ato membantu mengangkat bishop ketika jatuh berkali-kali. Kegembiraan dan emosi setelah sampai puncak tidak bisa dibendung, termasuk oleh pak Sampurna.
touch up!
Sisi lain dari puncak
Turun tembus Ranu Pani tidak kalah mendebarkan
Tapi, keindahan kawasan Tengger, Bromo, Semeru dari atas membuat berdecak kagum
Ketemu dengan Endi ditengah jalur B29-Ranu Pani, dia yang mengarahkan melewati ini agar tidak tersesat, dan menjadi penyelamat saya ketika footstep menghimpit kaki saat bishop ambruk ditebing.
Pulang kerumah orang tua di Jogja, salah satu jalurnya, Trenggalek- Pacitan.

******************

Selasa, 03 Maret 2015

Bermalam di Puncak Guha

Mengapa bernama Puncak Guha
 
memancing
Dua pria ini saya hampiri setelah selesai mendirikan tenda, penasaran dengan apa yang mereka lakukan, salah satu dari mereka bercerita jika sedang memancing Lalay (sebutan hewan Kelelawar dalam bahasa Sunda).

Masih dari keterangannya, bahwa tempat tenda saya berdiri terdapat gua yang pintunya menghadap laut lepas, tempat ribuan kelelawar bersemayam, dan hewan tersebut akan keluar saat malam menjelang. Kail serta senarnya diulurkan kira2 dimulut gua, dengan pemancing berdiri diatas tebing, yg dibawahnya sudah hamparan ombak laut.

Benar saja tidak lama setelah magrib tiba, beberapa kelelawar berhasil menyangkut dikail, dengan sigap ditarik senarnya, sementara diatas sudah siap seseorang dengan pisau untuk menjagal hewan bertaring ini. Kejadian ini berulang-ulang sampai mereka merasa sudah cukup menyembelih puluhan ekor hewan ini, untuk dibawa pulang dan disantap bersama keluarga.

Saya pun menebak kenapa tempat ini dinamakan pantai Puncak Guha, dan terdapat gambar kelewawar (menyerupai logo tokoh Batman) dipapan pintu masuk lokasi ini. Karena terdapat gua (guha), dan tempat ini berada diketinggian diatas laut (puncak).

Bishop siap bermalam disini

Pagi Hari

Angin pantai mengoyak tenda seolah untuk membangunkan, memang tenda yang saya dirikan hanya berjarak 5 meter dari tebing. Sudah tampak terang diluar sana, saya kira pertunjukan mentari terbit sudah terlewatkan. Ternyata setelah saya tanya mas Nova yang sudah sibuk dengan kameranya, mengatakan belum telat untuk menyaksikan munculnya matahari dari balik deretan bukit disana, dan sinarnya akan memantul diatas hamparan samudera. Sambil menunggu saya menyalakan kompor untuk segelas kopi.

give me coffee, tent and motorcycle
Tidak lama kemudian menyusul muncul dari dalam tenda, mas Supri, Firli, Wahyu, om Jack dan Apriyadi. Ya, kami menghabiskan malam ditempat ini setelah pulang dari acara tahunan suatu forum penghobby perjalanan sepeda motor bernama Nusantaride. Acaranya sendiri berlokasi di Pangelangan, Bandung. Seusai acara saya menuju selatan Jawa, artinya pantai adalah tujuan selanjutnya. Kami secara tidak sengaja ketemu dan berkumpul di pantai Puncak Guha ini, karena setelah acara National Nusantaride Rally Pangelangan  masih ada waktu sehari untuk mengabiskan waktu akhir pekan, secara tidak direncana pula kami kompak punya keinginan untuk bermalam minggu dipantai ini.

Momen yang ditunggu tiba, dari kami sibuk dengan sendirinya, diantara mengarahkan lensa kameranya pada bergantinya warna langit seiring semakin tingginya sang mentari, atau sekedar berdiam khusuk mengamati proses awal hari dimulai. Sesudahnya kami segera berkemas, untuk kembali ke rumah masing-masing yang kebetulan dari kota yang berbeda.

Kami merasa beruntung karena dua hari ini sangat cerah, setelah sebelumnya ketika berangkat ke Pengalengan, hujan sempat mengguyur selama perjalanan. Ini ketiga kalinya saya ke tempat ini, dan baru sekali ini berkesempatan untuk menghabiskan malam bersama taburan bintang dilangit dan obrolan teman-teman. Sambil mengenang kunjungan pertama ke lokasi ini dua tahun yang lalu. Terus terang saja, tempat ini mempunyai kesan dan kenangan tersendiri bagi saya.

sunrise Puncak Guha
pemadangan lain di pagi hari
berpose di jalur paling selatan Jawa sebelum berpisah kekota masing-masing
Info Lokasi: Puncak Guha secara administratif berada  Desa Sinarjaya kecamatan Bungbulang, Kab. Garut, sekitar 5 kilometer kearah timur pantai Ranca Buaya. Tempat wisata ini belum dikelola secara serius, terbukti tidak ada tiket retribusi resminya, kadang cuma warga yang menarik uang karcis. Tidak ada fasilitas toilet, atau tempat makan/minum. Jika berkunjung hendaknya membawa tempat untuk sampah, karena memang tidak tersedia disini, sudah terlihat sampah berserakan ketika kami berada disini. Dan semoga tempat ini bisa tetap indah tanpa sampah dari pengunjungnya.


Oya...mas Nova sempat mendokumentasikan dalam bentuk video  tentang perjalanan kami, check it out!

Minggu, 08 Februari 2015

Perjalanan Cahaya #Voluntourism

Bagi para pelancong, pejalan, backpaker atau sebutan yang lain, perjalanan adalah merupakan suatu proses, dari awal titik yaitu keberangkatan sampai titi saat kepulangan, dalam menempuh kedua titik tersebut tentu saja banyak cerita, tujuan, motivasi, serta alasan ketika melakukannya. 

Kami melakukannya dengan alat transportasi roda dua, yaitu sepeda motor, ya semua pejalan mempunyai cara untuk menemukan dan menikmati perjalanannya. Alasan mula mempunyai kegairahan melakukan kegiatan ini salah satunya adalah proses untuk mengenal nusantara, tempat kami dilahirkan dan dibesarkan, dengan melihat keindahan alamnya, mendengarkan cerita warga lokal ketika mampir di suatu tempat atau daerah.

Layaknya kisah asmara kedua insan manusia, setelah saling mengenal selanjutnya apa tindak nyata untuk menunjukan rasa cintanya?. Begitu pula terhadap tanah air ini, walau masih skala kecil terbesit dalam pikiran untuk berbuat sesuatu untuk menunjukan rasa kasmaran kami terhadap negeri ini.

Kami menyebutnya "Perjalanan Cahaya" yaitu ketika kami melakukan perjalanan, disela-selanya banyak menemukan ironi, salah satunya di negeri yang konon kaya raya dengan sumber alam, untuk memeratakan sumber energi saja, dalam hal ini energi listrik masih ditemui ketiadaaannya dalam perjalanan kami. Keadaan tersebut beberapa kami temui disaat sengaja menyasarkan diri, menemukan tempat yang baru kami ketahui, mayoritas dari tempat-tempat tersebut adalah perkampungan yang jauh dari akses serta hiruk pikuk kota. Keasrian, keindahan alam serta ramah tamah warga lokal adalah  bonus perjalanan yang tidak bisa kami tolak. Disaat sebagian masyarakat dunia tidak bisa lepas dari asupan energi listrik untuk menunjang kehidupannya, dipelosok negiri ini masih menggunakan bahan bakar minyak untuk menyulut sumbu sebagai alat penerangan dari kegelapan malam. 

Setelah mengetahui keadaan tempat-tempat tersebut yang belum mendapatkan keadilan energi, kami melakukan aksi berupa pemasangan instalasi listrik yang bersumber dari panel surya, yaitu alat yang menghasilkan energi listrik dari masukan cahaya matahari. Kami menggunakan lampu berjenis LED untuk menenerangi ruang-ruang bebilik bambu dikampung fakir energi listrik dengan alasan karena jenis ini hemat energi.

Tercatat empat lokasi atau perkampungan sejak pertengahan tahun 2014 telah kami lakukan pemasangan instalasi penerangan listrik. Beberapa catatan perjalanan kami bisa di simak dari beberapa postingan yang kami tulis:
  1. Kampung Cisoka. (klik disini untuk catatan perjalanan)
  2. Kampung Palasari (klik disini untuk catatan perjalanan) 
  3. Kampung Cimulu (klik disini untuk catatan perjalanan)
kampung Cisoka, ditengah keindahan alamnya terdapat ironi
Panel surya terpasang di kampung Palasari
Memasang instalasi listrik di kampung Cimulu
Dan  yang keempat baru saja kami lakukan pemasangan panel surya beserta instalasi listriknya di kampung Cigumentong, Desa Sindulang, Sumedang, Jawa Barat. Dibantu oleh beberapa teman dari komunitas penghobby perjalanan bermotor, sedikit berbeda dengan kegiatan kami sebelumnya, kami juga membawa buku-buku dari tempat kami berangkat, sedianya buku ini akan kami tempatkan di balai warga sebagai perpusatakan mini, balai ini tempat biasanya digunakan untuk kegiatan warga, dari rapat warga, sampai untuk belajar anak-anak warga Cigumentong.

Sekelumit kegiatan yang kami lakukan, harapan kami apa yang dilakukan dama Perjalanan Cahaya ini, bisa memberi manfaat warga didaerah ketika kami melakukan kegiatan travelling. Bagi kami ada rasa bahagia, terharu, kepuasan pribadi ketika apa yang kami lakukan bisa membuat warga tersenyum bahagia ketika rumah-rumahnya terang dan bisa lebih leluasa berkegiatan, tidak tergantung dari pasokan listrik negara. Apa yang kami rasakan hampir sama atau lebih ketika tujuan melakukan perjalanan sebelumnya hanya untuk mengagumi, menikmati, kepuasan ketika mencapai lokasi keindahan alam Indonesia, keberagaman budayanya. Setelah itu kami berusaha untuk bertidak nyata sebagai rasa cinta terhadap negeri ini, Indonesia.

*****

Berikut ini film dokumenter pendek yang dibuat saat kegiatan di kampung Cigumentong.




*Postingan blog ini diikutkan dalam Traveller Kaskus Voluntourism Writing Contest