Our Riding Ware

Senin, 09 Maret 2015

End Year Ride [Resume]

Sudah beberapa tahun terakhir ini, mempunyai kebiasaan untuk menghabiskan sisa cuti untuk melakukan perjalanan dengan roda dua dalam beberapa hari, minimal seminggu. Untuk pemula seperti saya, durasi selama itu masuk kategori long trip. Apalagi sebagai buruh, waktu libur adalah  salah satu anugerah, disamping bonus tahunan tentunya.

Kali ini saya melakukan perjalanan seorang diri. Seperti yang saya yakini, perjalanan dengan istilah "solo riding" merupakan ajang untuk meditasi dan refleksi diri. Sepanjang jalan banyak melakukan monolog dengan diri sendiri ketika akan melakukan sesuatu, memutuskan, menanggung apa telah diputuskan. Saya juga lebih 'kyusuk'  melakukan passion ini. Dengan begitu kita akan semakin mengenal diri sendiri, meng-evaluasi setiap tindakan. Dan...free the soul as motorcycle traveler!

Soal tujuan tidak begitu penting, tapi saya akan mengarah ke timur Jawa. walau sudah beberapa kali mengunjungi destinasi dalam perjalanan ini, tapi ada cerita yang berbeda yang mengharu biru, menyenangkan, dan banyak hikmah yang didapat.

Walau seorang diri diatas roda dua ini, tapi saya begitu merasakan kehadiran Nya , orang-orang baik seperti dikirim dari langit untuk mengisi cerita perjalanan ini. Mereka yang sudah saya kenal sebelumnya, atau malah baru ketemu saat itu bak pahlawan yang tiba-tiba muncul saat saya membutuhkan, tanpa diminta atau broadcast di media social sekalipun. Dan tentu bonus perjalanan atas alam ciptaNya yang selalu membuat hati berdebar.

Untuk itu saya mengucapkan terimasih dan bersyukur atas perlindunganNya selama perjalanan, dan juga teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu, terimakasih atas cerita2nya yang menginspirasi.

Alhamdulillah sampai kembali di Cikarang dengan selamat walau mengalami beberapa insiden minor, dan masalah teknis di motor. Tercatat 2250 kilometer di spedometer Bishop, dalam perjalanan kali ini. Tentu tidak apa2nya nilai dalam angka jarak, dibandingkan pengalaman selama perjalanan.

Kebetulan karena dilakukan diakhir tahun, sekaligus sebagai evaluasi diri selama setahun terakhir dari refleksi diri selama perjalanan. Jika boleh meminjam kata-kata dari pak Jono selaku "juru kunci", yang tidak sengaja saya temui saat mengunjungi  di museum Trinil, mengatakan perlunya menghargai sejarah untuk mengetahui dan belajar dari masa lampau, supaya kehidupan selanjutnya lebih baik.

Selamat Tahun Baru, 2015! Semoga bisa menjadi insan yang lebih baik!

Tadinya rencana lewat Pantura, tapi baru sampai Pekalongan sudah jengah dengan kemacetan panjang dibeberapa ruas jalan dengan proyek sepanjang zamannya. Akhirnya belok kanan, memilih jalur Kajen-Linggosari-Kalibening-Batur-Dieng. Salah satu spot yg bisa dinikmati dalam jalur ini.
Menunggu sunrise Sikunir
Bersantai sejenak di puncak Sikunir




Persiapan melanjutkan ke timur, dari telaga Cebong, Dieng, setelah bermalam disini
Lepas dari Dieng ditemani hujan dan kabut
Tidak direncana mampir musium Trinil, banyak belajar sejarah tentang manusia purba sampai evolusi bumi dari sang juru kunci, pak Jono.
Singgah dan bermalam di kediamannya om Riza Aditya, trimakasih cerita2 inspiratifnya, bersama mas Agni juga :)
Tempat yang selalu buat kangen di timur jawa
Dan selalu menjadi tempat bermain yang mengasyikan
Menuju puncak B29, jalur dari desa Sariwani. 30-40 km jalannya mayoritas seperti ini.
Memasuki Wonokerso, berkabut dan jalan tanah licin, dan hujan turun saat itu, dihimbau dan ditolong petani setempat, untuk tidak melanjutkan perjalanan ke B29 karena kondisi cuaca
mas Eko adalah petani itu, dan mengajak untuk singgah dirumahnya sebentar untuk menikmati kopi panas, dan obrolan hangat sambil menunggu hujan reda dan ganti baju setelah basah kuyup
Terimakasih mas Eko & keluarga. Pamit dulu ya, untuk melanjutkan perjalanan

Dari Sukapura, ternyata jalan semakin mengecil dengan jurang sebelah kiri siap menampung jika tergelencir karena licin sehabis hujan, saya memutuskan untuk balik arah.
sebenarnya sudah memutuskan untuk balik kota Prbolinggo untuk menunda ke B29 lain kesempatan, tapi ada akses lain yaitu dari Argosari, dan sampai sini ketika magrib menjelang, ditemani kabut tebal, sempat terjatuh karena jalan tanah berlubang panjang tidak terlihat tertutup kabut.
Bermalam dirumah pak Slamet, yang kebetulan sebagai penjaga tiket masuk ke B29. Jarak dari rumah ini ke B29 masih sekitar 1,5 kilometer, dan besok subuhnya rencana untuk melanjutkan riding.
Pak Sampurna lari menghampiri saya ketika Bishop ambruk, kondisi jalan tanah menanjak sehabis hujan, dengan dihiasi lubang panajng mirip selokan, serta penerangan minim membuat kesulitan tersendiri. Akhirnya pak Sampurna bersedia menemani saya untuk sampai atas, setelah sebelumnya menyaarankan untuk naik ojek ato jalan kaki, tapi saya tetap keras kepala untuk naik bersama Bishop, dg alesan akan turun ke arah Malang (bukan jalan yg sama dengan naiknya)

Pak Sampurna (merangkul saya) walau baru kenal beberapa jam, tapi sudah mau bahu membahu melewati jalan offroad, disela-sela napas tersendat akibat oksigen yang menipis diketinggian 2000an mdpl, beliau memberi semangat dengan tidak terlihat lelah mendorong Bishop, ato membantu mengangkat bishop ketika jatuh berkali-kali. Kegembiraan dan emosi setelah sampai puncak tidak bisa dibendung, termasuk oleh pak Sampurna.
touch up!
Sisi lain dari puncak
Turun tembus Ranu Pani tidak kalah mendebarkan
Tapi, keindahan kawasan Tengger, Bromo, Semeru dari atas membuat berdecak kagum
Ketemu dengan Endi ditengah jalur B29-Ranu Pani, dia yang mengarahkan melewati ini agar tidak tersesat, dan menjadi penyelamat saya ketika footstep menghimpit kaki saat bishop ambruk ditebing.
Pulang kerumah orang tua di Jogja, salah satu jalurnya, Trenggalek- Pacitan.

******************

Selasa, 03 Maret 2015

Bermalam di Puncak Guha

Mengapa bernama Puncak Guha
 
memancing
Dua pria ini saya hampiri setelah selesai mendirikan tenda, penasaran dengan apa yang mereka lakukan, salah satu dari mereka bercerita jika sedang memancing Lalay (sebutan hewan Kelelawar dalam bahasa Sunda).

Masih dari keterangannya, bahwa tempat tenda saya berdiri terdapat gua yang pintunya menghadap laut lepas, tempat ribuan kelelawar bersemayam, dan hewan tersebut akan keluar saat malam menjelang. Kail serta senarnya diulurkan kira2 dimulut gua, dengan pemancing berdiri diatas tebing, yg dibawahnya sudah hamparan ombak laut.

Benar saja tidak lama setelah magrib tiba, beberapa kelelawar berhasil menyangkut dikail, dengan sigap ditarik senarnya, sementara diatas sudah siap seseorang dengan pisau untuk menjagal hewan bertaring ini. Kejadian ini berulang-ulang sampai mereka merasa sudah cukup menyembelih puluhan ekor hewan ini, untuk dibawa pulang dan disantap bersama keluarga.

Saya pun menebak kenapa tempat ini dinamakan pantai Puncak Guha, dan terdapat gambar kelewawar (menyerupai logo tokoh Batman) dipapan pintu masuk lokasi ini. Karena terdapat gua (guha), dan tempat ini berada diketinggian diatas laut (puncak).

Bishop siap bermalam disini

Pagi Hari

Angin pantai mengoyak tenda seolah untuk membangunkan, memang tenda yang saya dirikan hanya berjarak 5 meter dari tebing. Sudah tampak terang diluar sana, saya kira pertunjukan mentari terbit sudah terlewatkan. Ternyata setelah saya tanya mas Nova yang sudah sibuk dengan kameranya, mengatakan belum telat untuk menyaksikan munculnya matahari dari balik deretan bukit disana, dan sinarnya akan memantul diatas hamparan samudera. Sambil menunggu saya menyalakan kompor untuk segelas kopi.

give me coffee, tent and motorcycle
Tidak lama kemudian menyusul muncul dari dalam tenda, mas Supri, Firli, Wahyu, om Jack dan Apriyadi. Ya, kami menghabiskan malam ditempat ini setelah pulang dari acara tahunan suatu forum penghobby perjalanan sepeda motor bernama Nusantaride. Acaranya sendiri berlokasi di Pangelangan, Bandung. Seusai acara saya menuju selatan Jawa, artinya pantai adalah tujuan selanjutnya. Kami secara tidak sengaja ketemu dan berkumpul di pantai Puncak Guha ini, karena setelah acara National Nusantaride Rally Pangelangan  masih ada waktu sehari untuk mengabiskan waktu akhir pekan, secara tidak direncana pula kami kompak punya keinginan untuk bermalam minggu dipantai ini.

Momen yang ditunggu tiba, dari kami sibuk dengan sendirinya, diantara mengarahkan lensa kameranya pada bergantinya warna langit seiring semakin tingginya sang mentari, atau sekedar berdiam khusuk mengamati proses awal hari dimulai. Sesudahnya kami segera berkemas, untuk kembali ke rumah masing-masing yang kebetulan dari kota yang berbeda.

Kami merasa beruntung karena dua hari ini sangat cerah, setelah sebelumnya ketika berangkat ke Pengalengan, hujan sempat mengguyur selama perjalanan. Ini ketiga kalinya saya ke tempat ini, dan baru sekali ini berkesempatan untuk menghabiskan malam bersama taburan bintang dilangit dan obrolan teman-teman. Sambil mengenang kunjungan pertama ke lokasi ini dua tahun yang lalu. Terus terang saja, tempat ini mempunyai kesan dan kenangan tersendiri bagi saya.

sunrise Puncak Guha
pemadangan lain di pagi hari
berpose di jalur paling selatan Jawa sebelum berpisah kekota masing-masing
Info Lokasi: Puncak Guha secara administratif berada  Desa Sinarjaya kecamatan Bungbulang, Kab. Garut, sekitar 5 kilometer kearah timur pantai Ranca Buaya. Tempat wisata ini belum dikelola secara serius, terbukti tidak ada tiket retribusi resminya, kadang cuma warga yang menarik uang karcis. Tidak ada fasilitas toilet, atau tempat makan/minum. Jika berkunjung hendaknya membawa tempat untuk sampah, karena memang tidak tersedia disini, sudah terlihat sampah berserakan ketika kami berada disini. Dan semoga tempat ini bisa tetap indah tanpa sampah dari pengunjungnya.


Oya...mas Nova sempat mendokumentasikan dalam bentuk video  tentang perjalanan kami, check it out!

Minggu, 08 Februari 2015

Perjalanan Cahaya #Voluntourism

Bagi para pelancong, pejalan, backpaker atau sebutan yang lain, perjalanan adalah merupakan suatu proses, dari awal titik yaitu keberangkatan sampai titi saat kepulangan, dalam menempuh kedua titik tersebut tentu saja banyak cerita, tujuan, motivasi, serta alasan ketika melakukannya. 

Kami melakukannya dengan alat transportasi roda dua, yaitu sepeda motor, ya semua pejalan mempunyai cara untuk menemukan dan menikmati perjalanannya. Alasan mula mempunyai kegairahan melakukan kegiatan ini salah satunya adalah proses untuk mengenal nusantara, tempat kami dilahirkan dan dibesarkan, dengan melihat keindahan alamnya, mendengarkan cerita warga lokal ketika mampir di suatu tempat atau daerah.

Layaknya kisah asmara kedua insan manusia, setelah saling mengenal selanjutnya apa tindak nyata untuk menunjukan rasa cintanya?. Begitu pula terhadap tanah air ini, walau masih skala kecil terbesit dalam pikiran untuk berbuat sesuatu untuk menunjukan rasa kasmaran kami terhadap negeri ini.

Kami menyebutnya "Perjalanan Cahaya" yaitu ketika kami melakukan perjalanan, disela-selanya banyak menemukan ironi, salah satunya di negeri yang konon kaya raya dengan sumber alam, untuk memeratakan sumber energi saja, dalam hal ini energi listrik masih ditemui ketiadaaannya dalam perjalanan kami. Keadaan tersebut beberapa kami temui disaat sengaja menyasarkan diri, menemukan tempat yang baru kami ketahui, mayoritas dari tempat-tempat tersebut adalah perkampungan yang jauh dari akses serta hiruk pikuk kota. Keasrian, keindahan alam serta ramah tamah warga lokal adalah  bonus perjalanan yang tidak bisa kami tolak. Disaat sebagian masyarakat dunia tidak bisa lepas dari asupan energi listrik untuk menunjang kehidupannya, dipelosok negiri ini masih menggunakan bahan bakar minyak untuk menyulut sumbu sebagai alat penerangan dari kegelapan malam. 

Setelah mengetahui keadaan tempat-tempat tersebut yang belum mendapatkan keadilan energi, kami melakukan aksi berupa pemasangan instalasi listrik yang bersumber dari panel surya, yaitu alat yang menghasilkan energi listrik dari masukan cahaya matahari. Kami menggunakan lampu berjenis LED untuk menenerangi ruang-ruang bebilik bambu dikampung fakir energi listrik dengan alasan karena jenis ini hemat energi.

Tercatat empat lokasi atau perkampungan sejak pertengahan tahun 2014 telah kami lakukan pemasangan instalasi penerangan listrik. Beberapa catatan perjalanan kami bisa di simak dari beberapa postingan yang kami tulis:
  1. Kampung Cisoka. (klik disini untuk catatan perjalanan)
  2. Kampung Palasari (klik disini untuk catatan perjalanan) 
  3. Kampung Cimulu (klik disini untuk catatan perjalanan)
kampung Cisoka, ditengah keindahan alamnya terdapat ironi
Panel surya terpasang di kampung Palasari
Memasang instalasi listrik di kampung Cimulu
Dan  yang keempat baru saja kami lakukan pemasangan panel surya beserta instalasi listriknya di kampung Cigumentong, Desa Sindulang, Sumedang, Jawa Barat. Dibantu oleh beberapa teman dari komunitas penghobby perjalanan bermotor, sedikit berbeda dengan kegiatan kami sebelumnya, kami juga membawa buku-buku dari tempat kami berangkat, sedianya buku ini akan kami tempatkan di balai warga sebagai perpusatakan mini, balai ini tempat biasanya digunakan untuk kegiatan warga, dari rapat warga, sampai untuk belajar anak-anak warga Cigumentong.

Sekelumit kegiatan yang kami lakukan, harapan kami apa yang dilakukan dama Perjalanan Cahaya ini, bisa memberi manfaat warga didaerah ketika kami melakukan kegiatan travelling. Bagi kami ada rasa bahagia, terharu, kepuasan pribadi ketika apa yang kami lakukan bisa membuat warga tersenyum bahagia ketika rumah-rumahnya terang dan bisa lebih leluasa berkegiatan, tidak tergantung dari pasokan listrik negara. Apa yang kami rasakan hampir sama atau lebih ketika tujuan melakukan perjalanan sebelumnya hanya untuk mengagumi, menikmati, kepuasan ketika mencapai lokasi keindahan alam Indonesia, keberagaman budayanya. Setelah itu kami berusaha untuk bertidak nyata sebagai rasa cinta terhadap negeri ini, Indonesia.

*****

Berikut ini film dokumenter pendek yang dibuat saat kegiatan di kampung Cigumentong.




*Postingan blog ini diikutkan dalam Traveller Kaskus Voluntourism Writing Contest



Minggu, 04 Januari 2015

Palasari Kini Berseri


"Adalah Thomas Alva Edison seorang sebagai penemu lampu pijar, pada tahun 1879 silam. Dimulai dari negaranya, Amerika. Kini seluruh dunia bisa menikmati hasil kerjanya, yaitu menikmati cahaya lampu dari energi listrik"

Kesasar Membawa Terang

Ternyata ada bagian dunia lain, belum bisa merasakan temuan Thomas A. Edisson ini. Di negara tercinta ini tepatnya di kampung Palasari. Belum terdapatnya jaringan listrik menuju kampung ini, berdampak tempat  ini seperti bukan bagian dunia yang sebagian sudah terang benderang, dan bisa mengalami modernisasi lewat perangkat elektronik yang bisanya dapat berfungsi jika teraliri arus listrik.

Lokasi krisis listrik ini "ditemukan" ketika kang Rama dan kang Yudi pada awal bulan September 2014 saat berkendara melewati rute Cisalak (Subang) - Lembang, jalur ini banyak dihiasi oleh beberapa perkebunan teh salah satu namanya adalah Bukanagara. Ketika melewati rute yang didominasi oleh jalan gravel, setelah masuk dari desa Darmaga, kedua rider tersebut penasaran dengan jalan setapak dan menanjak, maka diikuti lah jalan tersebut. Dan tidak terduga, disana ada satu kampung yang masih jauh dari kata sejahtera.

Kampung Palasari, Desa Sukakerti, kecamatan Cisalak, Subang tepat nya nama lokasi ini jika ditinjau secara administratif. Setelah berbagai informasi dikumpulkan dari warga setempat, salah satunya adalah bahwa kampung ini belum pernah sama sekali teraliri arus listrik, atau belum pernah menikmati manfaat dari energi listrik sama sekali sejak dibangunnya kampung yang terdiri dari 10 kepala keluarga ini. Sebagai gambaran, menurut cerita dari ketua RT setempat jika beliau umurnya sekitar 50 tahun dan merupakan keturunan kedua perintis kampung ini, yang keberadaan kampung ini kurang lebih sejak Belanda membangun jalan akses keperkebunan teh.

Beberapa faktor yang menjadikan kampung ini fakir energi listrik, jauhnya dari sumber jalur distribusi listrik membuat perusahaan listrik negara enggan melaksanakan  tugasnya, serta juga faktor ekonomi warga kampung yang sehari hari bekerja sebagai pembuat gula aren atau berkebun ini, belum sanggup membayar jika harus mengeluarkan uang untuk pemasangan tiang listrik beserta instalasinya dengan penghasilannya perhari yang tidak seberapa.

Berangkat dari keprihatinan kang Rama dan kang Yudi dua minggu setelah kunjungan pertama di Palasari, dibawakannya lah satu buah genset dan perlengkapan instalasi penerangannya, dari mulai kabel sampai lampu LED. Semua yang dibawanya dibeli secara swadana. Enam rumah warga serta satu mushola kini setelah semua terinsatalasi dapat menikmati terangnya lampu dari energi listrik unutk pertama kalinya sejak kampung ini ada. Sudah bisa dibayangkan wajah-wajah begitu gembiranya warga Palasari.

BBM Naik, Cahaya tak Terbeli

Disaat para netizen mengomentari kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) lewat akun media sosialnya masing-masing, kang Rama malah mengusulkan untuk segera ke kampung Palasari untuk segera memasang solar panel dan lampu LED dengan harapan warga Palasari tidak mengunakan bensin untuk mengoperasikan genset, karena dalam semalam mereka bisa menghabiskan 3 sampai 4 liter bensin untuk menerangi seluruh kampung.

Sabtu (24/11/2012) rencana yang disusun sehari sebelumnya langsung dieksekusi, saat itu saya dan kang Rama menuju kampung Palasari terlebih dahulu dengan lengkap membawa peralatan termasuk solar panel dan LED,  sementara kang Yudi dan Dadang sedianya akan menyusul sore harinya.

beberapa kilometer sebelum Palasari
Saat masuk kota Subang hujan mengguyur, membuat sedikit membuat perjalanan kami melambat. Tapi pukul dua siang, kami tiba di Palasari, langsung disambut oleh ketua RT setempat. 

Tanpa banyak membuang waktu, peralatan segera disiapkan. Kali ini kami membawa sebuah panel surya dengan kapasitas 20 wp, akan digunakan sebagai sumber energi listrik untuk menghidupkan lampu LED di 10 rumah. Pemasangan panel surya dipusatkan di atap mushola, untuk selanjutrnya disalurkan keseluruh rumah-rumah melalui kabel yang sudah terinstalasi sebelumnya ketika memasang genset.

tiba di Palasari, langsung bongkar peralatan
accu dan surya panel, dipusatkan dari mushola
warga Palasari juga ingin belajar instalasi listrik
hingga malam
Pemasangan LED dilengkapi saklar tiap rumah diselesaikan hingga malam menjelang, dengan bantuan cahaya dari senter, target membuat kampung Palasari bersinar dengan LED dari energi terbarukan yaitu solar panel, telah terlaksana. Walau daya listrik yang dihasilkan dari panel surya masih terbatas, dan hanya bisa menyalakan lampu LED, dan perangkat pengeras suara mushola, tapi itu yang mereka butuhkan saat ini. Mereka bisa berkegiatan lebih leluasa saat malam hari, tanpa takut kehabisan bahan bakar, tanpa harus membeli lilin tiap hari. Semoga kampung ini bisa semakin bisa bergeliat dengan aktifitas-aktifitasnya.

Setelah malamnya kami menginap di mushola Palasari, pagi hari kami bersiap untuk kembali. Kebahagian bagi kami adalah ketika mereka tersenyum dan becerita ketika malam hari rumah mereka terang sinar cahaya LED lebih terang dari sebelumnya, setelah berapa puluh taun silam hanya mengandalkan sinar lampu berbahan bakar minyak tanah, dengan sumbu terbakar api. Bagi saya sendiri itu sangat mengharukan. 

Palasari kini berseri

*****

Minggu, 16 November 2014

Aksi Untuk Keadilan Energi

"Saya menguhubungi kang Rama seminggu sebelum berangkat ke kampung Cisoka, sebelumnya saya sudah membaca dari artikel tentang kegiatan teman-teman dari Purwakarta, lewat aksi sosialnya yaitu membuat kampung Cisoka kembali terang dengan lampu LED, dengan teknologi panel surya yang sebelumnya sebagian besar warga disini menggunakan lilin sebagai penerangan ketika malam tiba. 
Alhamdulillah kang Rama menginjinkan saya untuk turut serta. Bersama teman lainnya, yaitu Riesva, Asep. Kami tiba di kampung Cisoka ketika malam menjelang, sementara kang Titan sang teknisi lampu tiba saat tengah malam, bersama rekan-rekan yang berniat membuat video dokumenter tentang kegiatan ini.
Postingan kali ini, rangkuman dari apa yang melintas di otak saya ketika mengikuti kegiatan ini, tentu masih banyak cerita yang tidak tertulis, dan banyak rasa tidak terungkap disini"

Bermula dari kegemaran melakukan perjalanan dengan sepeda motor, menelusuri tiap jalan bumi pertiwi yang masih terjangkau dengan roda dua, menikmati keindahan alam didalamnya. Beberapa kesempatan juga sengaja menyasarkan diri untuk mendapatkan tempat baru, serta pemandangan belum pernah terlihat. Salah satu tujuannya adalah untuk mengenal wajah negeri ini lebih dekat dan intim, Indonesia. Karena pepatah pernah mengatakan, "tak kenal maka tak sayang". Karena hal itu kami berusaha mencintai negeri ini dengan cara ini. 

Dalam perjalanan roda dua ini, tentu banyak kesempatan untuk bencengkerama dengan penduduk lokal dalam rute yang dilewati. Berhenti untuk sekedar istirahat, atau mendengar cerita lokal akan lebih akan mengenal budayanya,  dan juga kehidupan sosial mereka. Selalu ada hikmah dan pelajaran dari setiap cerita. Bahkan untuk membangkitkan rasa empati antar sesama insan manusia.

Setelah mengenal lantas gimana mengungkapakan rasa sayang lewat aksi nyata?. Daerah yang dilalui dengan roda dua ini, kebanyakan adalah daerah pelosok, menjauh dari keramaian modernisasi kota. Tempat, desa atau kampung yang disinggahi biasanya jauh dari kata di sila kelima yaitu "Keadilan Sosial Bagi Seluruh rakyat Indonesia". Tentu tidak bisa serta merta menyalahkan penyelenggara negara, tetapi lebih ke arah memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah didaerah lewat aksi sosial. Bukankah, menyalakan lilin lebih baik dari pada mengutuk kegelapan?

Adalah berbagai komunitas penghobby perjalanan  roda dua yang berdomisili di kota Purwakarta dan sekitarnya, memulai aksi sosial untuk salah satu kampung tepatnya berada di kampung Cisoka, desa Citengah, kecamatan Sumedang selatan, kabupaten Sumedang. Kampung ini "ditemukan"  dalam  kegiatan blusukan dengan roda dua pada bulan Mei 2014. 



beberapa kilometer sebelum kampung Cisoka
Dalam perjalanan pertama kekampung Cisoka, yang sebenarnya sebagai persinggahan ketika menempuh rute jalan alternatif Sumedang - Limbangan, Garut. Setelah berbincang-bincang dengan warga setempat diketahui bahwa kampung yang terdiri dari 27 kepala keluarga ini mempunyai kesulitan dalam mendapat penerangan, dalam bentuk lampu yang bersumber dari energi listrik. 

Ironis memang, kampung yang berjarak tidak lebih  15 kilometer  dari kota Sumedang ini, belum bisa menikmati pasokan listrik dari perusahaan listrik negara. Saat itu, warga hanya mengandalkan teknologi panel surya sumbangan dari mahasiswa UNPAD. Sinar matahari yang diterima dari panel surya dirubah menjadi energi listrik lalu disimpan lewat media accu. Dari accu ini disalurkan menjadi cayaha lampu pijar. Namun seiring waktu berjalan, karena kurangnya pengetahuan tentang merawat alat-alat ini, beberapa accu mulai rusak, dan tentu saja beberapa rumah di kampung ini kembali mengandalkan lilin untuk penerangan pada malam hari, satu malam bisa menghabiskan lilin sebanyak dua sampai tiga batang. 



kampung Cisoka
semua atap rumah terdapat panel surya
Tentu hal ini akan tidak menguntungkan secara ekonomis bagi warga, karena harus membeli lilin setiap hari. Dan juga cahaya dari lilin tingkat cahayanya tidak layak untuk menerangi ketika berkegiatan ketika malam hari, misalnya untuk membaca.  Para warga yang sehari-hari bekerja sebagai penggarap kebun teh ini mendambakan ruangan rumahnya yang berdidinding anyaman bambu terang, layaknya masyarakat dikota-kota bisa melakukan aktifitas yang ditunjang dari energi listrik. Karena hal tersebut sudah menjadi kebutuhan primer. Kita yang hidup dikota besar biasa menggantungkan dari ketersediaan pasokan listrik untuk menunjang kegiatan sehari-hari tentu  bisa merasakan sangat bermanfaatnya ketika listrik padam. 

Setelah mengetahui kondisi kampung tersebut, direncanakanlah kunjungan ke desa tersebut untuk kedua kalinya. Tepatnya pada bulan Agusutus, 2014 tentunya dengan bersepeda motor, dan membawa alat-alat serta komponen seperti lampu, dan accu beberapa orang dari kami, menuju kampung Cisoka kembali. 

Rumah ketua RT kampung Cisoka adalah target pertama untuk pemasangan lampu. Sejak beberapa bulan terakhir rumah yang berdinding anyaman bambu, dengan model panggung, serta berukuran tidak lebih dari tigapuluh meter persegi ini hanya mengandalkan lilin untuk penerangan ketika malam hari. Hampir seluruh rumah di kampung ini, mempunyai bentuk serupa.

Pengerjaan instalasi lampu ini berupa penggantian accu yang sudak rusak, serta mengganti lampu pijar dengan lampu jenis LED berdaya 1 watt, lampu jenis ini digunakan karena dengan intesitas cahaya yang sama atau lebih dari lampu pijar, tetapi lebih bisa hemat daya listrik, dengan demikian muatan listrik yang tersimpan didalam accu akan lebih tahan lama. Hal serupa dilakukan pada 2 rumah lainnya, serta 1 mushola dengan memakai accu lebih besar, karena membutuhkan daya lebih untuk alat pengeras suara.


menginstalasi
salah satu LED yang sudah menyala
Pada kesempatan ini, digunakan juga untuk mendata kembali rumah mana yang masih mengalami masalah penerangan. Untuk selanjutnya dipersiapkan kembali alat/komponen yang diperlukan. Tidak bisa dilakukan sekaligus, karena terbatasnya anggaran dana. Sebagai informasi, sumber dana berasal dari swadaya anggota komunitas. 

Tiga bulan kemudian setelah kunjungan kedua, kami melakukan hal sama yaitu pemasangan lampu LED dan mengganti accu yang sudah rusak. Sesekali juga diberikan pengetahuan ke warga Cisoka untuk merawat accu supaya mempunyai umur yang lebih lama alias awet. Tercatat enam rumah yang sudah bisa menikmati penerangan lammpu LED. Genap sudah, kini seluruh rumah bisa menikmati terang ketika malam tiba. Daya accu yang terbatas sementara ini hanya bisa digunakan untuk penerangan, belum bisa untuk menyalakan alat elektronik laiinya, seperti radio dan televisi. 


Sebelum meninggalkan kampung Cisoka, kami berpamitan dengan pak Lili selaku ketua RT. Sangat terasa persaaan beliau lewat kata yang terucap, beliau terlihat bahagia ketika seluruh rumah di kampung ini sudah bisa menikmati terang lampu, yang akan memudahkan warga untuk beraktifitas, dan menghemat dari sisi ekonomi karena tidak perlu membeli lilin setiap hari.  



pak  Lili dan LED disalah satu ruangan
Tentu saja aksi ini tidak berhenti dikampung ini saja, seperti hal-nya kami yang tidak akan berhenti menggerakan roda sepeda motor, untuk membelah jalan-jalan dipelosok negeri ini selama diberikan kesehatan dan waktu. Masih ada beberapa data yang kami pegang, desa yang masih membutuhkan keadilan energi. 

Disini saya bisa banyak belajar tentang bagaimana memaknai sebuah perjalanan dari sisi yang berbeda. Berbuat sesuatu untuk sesama. Terimakasih teman-teman semua yang telah berkenan mengajak ke kampung Cisoka. 










Sabtu, 25 Oktober 2014

Antara Telaga Cinta - Gunung Putri

Kehangatan Telaga Cinta

Dimulai dari kopdar alias kopi darat di telaga Cinta daerah Subang. Agak berbeda dengan penggiat pemotor kebanyakan, yang melakukan tatap muka setelah biasanya berinteraksi di dunia maya, sosial media, dan lain-lain dengan memili lokasi di pusat keramaian kota. Kami memilih di alam terbuka, nan sepi sesekali hanya serangga malam mengiringi dan penerangan dari api unggun menyinari. 

Tidak banyak, hanya sekitar 10 orang pada waktu itu. Dari berbagai kota kami berkumpul, Purwakarta, Bandung, Subang, Jakarta, Cikarang dan paling jauh dari Jogja. Minimnya peserta memang karena mendadaknya publikasi acara. Sang inisiator acara, kang Rama dari Purwakarta mengajak lewat photo di wall media sosial miliknya. Saya sendiri malah mendapat kabar tentang acara kumpul-kumpul ini dari om Julianto dari Jogja, yang juga hadir dilokasi. 

Justru karena minimnya yang hadir, keakraban semakin intim, obrolan hangat terjadi, diselingi canda tawa di tengah gelapnyanya malam. Sebelum akhirnya masuk tenda masing-masing yang didirikan pada pinggir telaga saat tengah malam menjelang , lengkap beberapa motor yang parkir di sisinya.

Bangun pagi didalam tenda, saat matahari sudah menampakan diri. Berbagai teman sudah mulai persiapan dengan berkemas, meninggalkan lokasi. Sementara yang lain ada yang mengambil beberapa foto, bahkan mandi dengan berenang ditelaga juga menjadi kegiatan menarik disini.

Tak menyangka kang Rama dan teman dari Subang yaitu om Amet sudah menyiapkan sarapan, dengan masakan khas Subang. Enak sekali. Apalagi makan bersama dengan duduk sila bersama diatas matras, dipinggir telaga. Arrgh..jika boleh menyontek lirik lagu dari Iwan Fals, Kemesraan ini janganlah cepat berlalu.

tepi telaga Cinta

bersiap pulang
arah balik dari telaga
Tapi lirik itu tidak berlaku, karena tidak lama setelah sarapan, ada teman yang pamit duluan terutama om Julianto yang memang karena jarak pulang paling jauh. Selanjutnya kami semua meninggalkan lokasi. Walau hanya sekejap, tapi kumpul-kumpul ini sangat berkesan. 


Menuju Gunung Putri

Tidak cukup disini, tersisa empat orang yang akan menghabiskan hari minggu ini dengan berkendara dengan rute menarik, tentu saja bukan jalan aspal. Om Yudi sebagai penunjuk jalan, karena pernah melakukan perjalanan dengan rute yang akan dilewati, di ikuti om Berlandio, saya sendiri, dan Tegar.

Dari Subang tembus Lembang itu yang dikatakan om Yudi. Kami hanya membututi dari belakang, kecepatan sedang karena melewati jalan bebatuan, lubang, serta berpasir lengkap kami lalui. Masuk keluar hutan pinus pun kami lakoni. Tentu saja dengan bonus perjalanan berupa pemandangan pegunungan menyejukan mata.

Selama dijalan terselip cerita seru, dari mulai beberapa kali barang bawaan jatuh dari atas jok motor karena memang sering terguncang, atau lepas nya sambungan kabel aki yang sempat saya alami, sempat membuat bingung karena motor tidak segera menyala. Dan juga cerita om Berland, yang jatuh ditikungan berpasir. Karena om Berland melaju kencang didepan kami saat kecelakaan, kami tidak melihat kejadiannya, Setelah akhirnya seorang warga bilang jika ada salah satu teman dari kami dengan menyebutkan ciri-cirinya seperti yang dipakai om Berland yaitu motor merah dan helm hitam, jatuh ditikungan. Kami pung tertawa terbahak-bahak mendengar ceritanya.


bersantai ditengah jalan,,eh ditengah hutan
salah satu kondisi jalanya


Tegar tampak mungil
Kami menemukan jalan aspal kembali ketika tiba di Maribaya, singgah sejenak untuk sekedar isitrahat dan mebasahi tenggorokan dengan air minum, karena sepanjang perjalanan tadi jarang ditemukan warung, berhenti disini seperti menemukan oase di padang pasir.


menemukan aspal dan pemandangan seperti ini
Disini kami juga menunggu om Yudistira yang kebetulan tinggal di Lembang, beliau hendak bergabung dengan kami untuk menuju gunung Putri, yaitu tujuan kami selanjutnya.

Setelah melakukan makan siang, dan juga motornya Tegar selesai diperbaiki disuatu bengkel karena ada bagian motor yang lepas dan perlu pengelasan, segera kami tancap gas ke gunung Putri.

Tidak lama kemudian sampai didepan gapura desa, saat jalan aspal berubah tanah sedikit berbatu dan menanjak. Letak gapura ini searah ketika menuju Tangkuban Perahu, tidak jauh dari hotel Grand Paradise. Ini menjadi titik terakhir jika akan ke gunung Putri menggunakan angkutan umum, atau bahkan mobil karena medan jalan saat kami lalui ada beberapa ruas yang ambles.


setelah masuk gapura desa
Jalan berubah menjadi sangat berdebu, kami memasuki hutan dengan pohon menjulang tinggi dengan kerapatan sangat dekat antar pohon. Beberapa jalan mirip selokan juga dilalui, dengan tetap menjaga jarak karena pandangan terbatas akibat debu pekat bertebangan dari tanah yang kering ketika roda motor kami melibasnya. Beberapa kali berpapasan dengan motor jenis trail, karena track ini lebih cocok untuk bermain dengan genre dirt bike.


mulai masuk hutan lagi
gunakan masker

tanjakan terakhir
Kami pun tiba di puncak Putri, ditandai dengan melihat sebuah tugu berdiri. Seperti sudah menjadi kebiasaan di negeri ini, bangunan misalnya berupa tugu ini sudah dicoret-coret ditulis dengan nama-nama tidak jelas maksud tujuannya, kecuali hanya untuk mengotori saja. Mungkin perlu kutukan buat orang yang berbuat vandalisme ini.


tugu
Disini bisa terlihat patahan Lembang dengan jelas, dari gunung 1587 mdpl ini kami juga bisa melihat beberapa gunung menjulang di sekitar tanah sunda ini, dari mulai gunung Gunung Manglayang, Gede Pangrango, Gunung Cikurai, Gunung Tilu dan Gunung Rakutak akan terlihat samar di sebelah selatannya. Sementara di sebelah Barat, Gunung Tangkuban Parahu terlihat gagah bersebelahan dengan Gunung Burangrang.


touch up 
Patahan Lembang??Jika tidak kesini mungkin saya sampai sekarang tidak tahu tentang fenomena alam tersebut. Salah satu sumber dari internet secara singkat menyebutlan : "Patahan Lembang merupakan retakan sepanjang 22 kilometer, melintang dari timur ke barat. Berawal di kaki Gunung Manglayang di sebelah timur dan menghilang sebelum kawasan perbukitan kapur Padalarang di bagian barat. Patahan itu tepat di antara Gunung Tangkubanparahu dan dataran Bandung sehingga membentuk dua blok, utara dan selatan. Sebuah dinding raksasa sepanjang 22 kilometer terbangun oleh naiknya permukaan tanah di blok selatan dan turunnya permukaan tanah di blok utara. ”Tembok” itu membentengi pemandangan orang di utara ke arah selatan. Gerakan blok batuan itulah yang mengirim gempa" (kompas.com)
patahan Lembang
Tidak lama disini, ramainya puncak Putri oleh gerombolan motor trail, dan pengunjung lain membuat memilih turun dan bersantai diantara pepohonan tidak jauh dari tugu puncak Putri. Kami memasang hammock diantara dua pohon, ngobrol santai bahkan sampai tertidur. Semakin sore udara dingin, segera diputuskan untuk turun ke kota Lembang, om Yudistira mempersilahkan untuk mampir ke kediamannya.

Entah karena kosentrasi sudah menurun karena lelah fisik, atau pikiran sedang tidak fokus, saat jalan menurun saya mengalami insiden kecil, yaitu hilang keseimbangan ketika melewati gundukan tanah, dan berhenti ketika menabrak dinding tanah sebelah kiri, ahasil setang Bishop berubah bentuk alias bengkok. Cukup beruntung tubuh tidak mengalami perubahan bentuk, tidak ada cedera apapun. Menuruni beberapa jalan sampai kota dengan setang bengkok ternyata cukup menyiksa, sampai akhirnya saya bilang ke om Yudis untuk mencari toko peralatan motor untuk membeli setang baru,  saya beruntung mendapatkan. 

Singgah sejenak di rumah om Yudis, termasuk mengganti setang Bishop dilakukan disini. Kami berempat juga sempat mandi istirahat, mengobrol ngalor ngidul, dengan sajian istimewa yaitu susu murni panas. Sangat nikmat. Terimakasih om Yudis atas kebaikan ini. Menjelang pukul delapan malam saya berpamitan segera kemabli kekota asal, bersama Tegar. Sedangkan om Yudis dan Berland tetap singgah, untuk menginap semalam.

Terimakasih teman-teman yang bertemu di telaga Cinta hingga perjalanan ke Gunung Putri. Petemuan singkat ini sangat berkesan, bisa menyambung silahturahmi tanpa ribet layaknya suatu event gahering skala besar. Ya kami melakukan dengan cara sederahana. Talk less, ride more!!


sampai ketemu dilain kesempatan, kawan!