Our Riding Ware

Minggu, 16 November 2014

Aksi Untuk Keadilan Energi

"Saya menguhubungi kang Rama seminggu sebelum berangkat ke kampung Cisoka, sebelumnya saya sudah membaca dari artikel tentang kegiatan teman-teman dari Purwakarta, lewat aksi sosialnya yaitu membuat kampung Cisoka kembali terang dengan lampu LED, dengan teknologi panel surya yang sebelumnya sebagian besar warga disini menggunakan lilin sebagai penerangan ketika malam tiba. 
Alhamdulillah kang Rama menginjinkan saya untuk turut serta. Bersama teman lainnya, yaitu Riesva, Asep. Kami tiba di kampung Cisoka ketika malam menjelang, sementara kang Titan sang teknisi lampu tiba saat tengah malam, bersama rekan-rekan yang berniat membuat video dokumenter tentang kegiatan ini.
Postingan kali ini, rangkuman dari apa yang melintas di otak saya ketika mengikuti kegiatan ini, tentu masih banyak cerita yang tidak tertulis, dan banyak rasa tidak terungkap disini"

Bermula dari kegemaran melakukan perjalanan dengan sepeda motor, menelusuri tiap jalan bumi pertiwi yang masih terjangkau dengan roda dua, menikmati keindahan alam didalamnya. Beberapa kesempatan juga sengaja menyasarkan diri untuk mendapatkan tempat baru, serta pemandangan belum pernah terlihat. Salah satu tujuannya adalah untuk mengenal wajah negeri ini lebih dekat dan intim, Indonesia. Karena pepatah pernah mengatakan, "tak kenal maka tak sayang". Karena hal itu kami berusaha mencintai negeri ini dengan cara ini. 

Dalam perjalanan roda dua ini, tentu banyak kesempatan untuk bencengkerama dengan penduduk lokal dalam rute yang dilewati. Berhenti untuk sekedar istirahat, atau mendengar cerita lokal akan lebih akan mengenal budayanya,  dan juga kehidupan sosial mereka. Selalu ada hikmah dan pelajaran dari setiap cerita. Bahkan untuk membangkitkan rasa empati antar sesama insan manusia.

Setelah mengenal lantas gimana mengungkapakan rasa sayang lewat aksi nyata?. Daerah yang dilalui dengan roda dua ini, kebanyakan adalah daerah pelosok, menjauh dari keramaian modernisasi kota. Tempat, desa atau kampung yang disinggahi biasanya jauh dari kata di sila kelima yaitu "Keadilan Sosial Bagi Seluruh rakyat Indonesia". Tentu tidak bisa serta merta menyalahkan penyelenggara negara, tetapi lebih ke arah memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah didaerah lewat aksi sosial. Bukankah, menyalakan lilin lebih baik dari pada mengutuk kegelapan?

Adalah berbagai komunitas penghobby perjalanan  roda dua yang berdomisili di kota Purwakarta dan sekitarnya, memulai aksi sosial untuk salah satu kampung tepatnya berada di kampung Cisoka, desa Citengah, kecamatan Sumedang selatan, kabupaten Sumedang. Kampung ini "ditemukan"  dalam  kegiatan blusukan dengan roda dua pada bulan Mei 2014. 



beberapa kilometer sebelum kampung Cisoka
Dalam perjalanan pertama kekampung Cisoka, yang sebenarnya sebagai persinggahan ketika menempuh rute jalan alternatif Sumedang - Limbangan, Garut. Setelah berbincang-bincang dengan warga setempat diketahui bahwa kampung yang terdiri dari 27 kepala keluarga ini mempunyai kesulitan dalam mendapat penerangan, dalam bentuk lampu yang bersumber dari energi listrik. 

Ironis memang, kampung yang berjarak tidak lebih  15 kilometer  dari kota Sumedang ini, belum bisa menikmati pasokan listrik dari perusahaan listrik negara. Saat itu, warga hanya mengandalkan teknologi panel surya sumbangan dari mahasiswa UNPAD. Sinar matahari yang diterima dari panel surya dirubah menjadi energi listrik lalu disimpan lewat media accu. Dari accu ini disalurkan menjadi cayaha lampu pijar. Namun seiring waktu berjalan, karena kurangnya pengetahuan tentang merawat alat-alat ini, beberapa accu mulai rusak, dan tentu saja beberapa rumah di kampung ini kembali mengandalkan lilin untuk penerangan pada malam hari, satu malam bisa menghabiskan lilin sebanyak dua sampai tiga batang. 



kampung Cisoka
semua atap rumah terdapat panel surya
Tentu hal ini akan tidak menguntungkan secara ekonomis bagi warga, karena harus membeli lilin setiap hari. Dan juga cahaya dari lilin tingkat cahayanya tidak layak untuk menerangi ketika berkegiatan ketika malam hari, misalnya untuk membaca.  Para warga yang sehari-hari bekerja sebagai penggarap kebun teh ini mendambakan ruangan rumahnya yang berdidinding anyaman bambu terang, layaknya masyarakat dikota-kota bisa melakukan aktifitas yang ditunjang dari energi listrik. Karena hal tersebut sudah menjadi kebutuhan primer. Kita yang hidup dikota besar biasa menggantungkan dari ketersediaan pasokan listrik untuk menunjang kegiatan sehari-hari tentu  bisa merasakan sangat bermanfaatnya ketika listrik padam. 

Setelah mengetahui kondisi kampung tersebut, direncanakanlah kunjungan ke desa tersebut untuk kedua kalinya. Tepatnya pada bulan Agusutus, 2014 tentunya dengan bersepeda motor, dan membawa alat-alat serta komponen seperti lampu, dan accu beberapa orang dari kami, menuju kampung Cisoka kembali. 

Rumah ketua RT kampung Cisoka adalah target pertama untuk pemasangan lampu. Sejak beberapa bulan terakhir rumah yang berdinding anyaman bambu, dengan model panggung, serta berukuran tidak lebih dari tigapuluh meter persegi ini hanya mengandalkan lilin untuk penerangan ketika malam hari. Hampir seluruh rumah di kampung ini, mempunyai bentuk serupa.

Pengerjaan instalasi lampu ini berupa penggantian accu yang sudak rusak, serta mengganti lampu pijar dengan lampu jenis LED berdaya 1 watt, lampu jenis ini digunakan karena dengan intesitas cahaya yang sama atau lebih dari lampu pijar, tetapi lebih bisa hemat daya listrik, dengan demikian muatan listrik yang tersimpan didalam accu akan lebih tahan lama. Hal serupa dilakukan pada 2 rumah lainnya, serta 1 mushola dengan memakai accu lebih besar, karena membutuhkan daya lebih untuk alat pengeras suara.


menginstalasi
salah satu LED yang sudah menyala
Pada kesempatan ini, digunakan juga untuk mendata kembali rumah mana yang masih mengalami masalah penerangan. Untuk selanjutnya dipersiapkan kembali alat/komponen yang diperlukan. Tidak bisa dilakukan sekaligus, karena terbatasnya anggaran dana. Sebagai informasi, sumber dana berasal dari swadaya anggota komunitas. 

Tiga bulan kemudian setelah kunjungan kedua, kami melakukan hal sama yaitu pemasangan lampu LED dan mengganti accu yang sudah rusak. Sesekali juga diberikan pengetahuan ke warga Cisoka untuk merawat accu supaya mempunyai umur yang lebih lama alias awet. Tercatat enam rumah yang sudah bisa menikmati penerangan lammpu LED. Genap sudah, kini seluruh rumah bisa menikmati terang ketika malam tiba. Daya accu yang terbatas sementara ini hanya bisa digunakan untuk penerangan, belum bisa untuk menyalakan alat elektronik laiinya, seperti radio dan televisi. 


Sebelum meninggalkan kampung Cisoka, kami berpamitan dengan pak Lili selaku ketua RT. Sangat terasa persaaan beliau lewat kata yang terucap, beliau terlihat bahagia ketika seluruh rumah di kampung ini sudah bisa menikmati terang lampu, yang akan memudahkan warga untuk beraktifitas, dan menghemat dari sisi ekonomi karena tidak perlu membeli lilin setiap hari.  



pak  Lili dan LED disalah satu ruangan
Tentu saja aksi ini tidak berhenti dikampung ini saja, seperti hal-nya kami yang tidak akan berhenti menggerakan roda sepeda motor, untuk membelah jalan-jalan dipelosok negeri ini selama diberikan kesehatan dan waktu. Masih ada beberapa data yang kami pegang, desa yang masih membutuhkan keadilan energi. 

Disini saya bisa banyak belajar tentang bagaimana memaknai sebuah perjalanan dari sisi yang berbeda. Berbuat sesuatu untuk sesama. Terimakasih teman-teman semua yang telah berkenan mengajak ke kampung Cisoka. 










Sabtu, 25 Oktober 2014

Antara Telaga Cinta - Gunung Putri

Kehangatan Telaga Cinta

Dimulai dari kopdar alias kopi darat di telaga Cinta daerah Subang. Agak berbeda dengan penggiat pemotor kebanyakan, yang melakukan tatap muka setelah biasanya berinteraksi di dunia maya, sosial media, dan lain-lain dengan memili lokasi di pusat keramaian kota. Kami memilih di alam terbuka, nan sepi sesekali hanya serangga malam mengiringi dan penerangan dari api unggun menyinari. 

Tidak banyak, hanya sekitar 10 orang pada waktu itu. Dari berbagai kota kami berkumpul, Purwakarta, Bandung, Subang, Jakarta, Cikarang dan paling jauh dari Jogja. Minimnya peserta memang karena mendadaknya publikasi acara. Sang inisiator acara, kang Rama dari Purwakarta mengajak lewat photo di wall media sosial miliknya. Saya sendiri malah mendapat kabar tentang acara kumpul-kumpul ini dari om Julianto dari Jogja, yang juga hadir dilokasi. 

Justru karena minimnya yang hadir, keakraban semakin intim, obrolan hangat terjadi, diselingi canda tawa di tengah gelapnyanya malam. Sebelum akhirnya masuk tenda masing-masing yang didirikan pada pinggir telaga saat tengah malam menjelang , lengkap beberapa motor yang parkir di sisinya.

Bangun pagi didalam tenda, saat matahari sudah menampakan diri. Berbagai teman sudah mulai persiapan dengan berkemas, meninggalkan lokasi. Sementara yang lain ada yang mengambil beberapa foto, bahkan mandi dengan berenang ditelaga juga menjadi kegiatan menarik disini.

Tak menyangka kang Rama dan teman dari Subang yaitu om Amet sudah menyiapkan sarapan, dengan masakan khas Subang. Enak sekali. Apalagi makan bersama dengan duduk sila bersama diatas matras, dipinggir telaga. Arrgh..jika boleh menyontek lirik lagu dari Iwan Fals, Kemesraan ini janganlah cepat berlalu.

tepi telaga Cinta

bersiap pulang
arah balik dari telaga
Tapi lirik itu tidak berlaku, karena tidak lama setelah sarapan, ada teman yang pamit duluan terutama om Julianto yang memang karena jarak pulang paling jauh. Selanjutnya kami semua meninggalkan lokasi. Walau hanya sekejap, tapi kumpul-kumpul ini sangat berkesan. 


Menuju Gunung Putri

Tidak cukup disini, tersisa empat orang yang akan menghabiskan hari minggu ini dengan berkendara dengan rute menarik, tentu saja bukan jalan aspal. Om Yudi sebagai penunjuk jalan, karena pernah melakukan perjalanan dengan rute yang akan dilewati, di ikuti om Berlandio, saya sendiri, dan Tegar.

Dari Subang tembus Lembang itu yang dikatakan om Yudi. Kami hanya membututi dari belakang, kecepatan sedang karena melewati jalan bebatuan, lubang, serta berpasir lengkap kami lalui. Masuk keluar hutan pinus pun kami lakoni. Tentu saja dengan bonus perjalanan berupa pemandangan pegunungan menyejukan mata.

Selama dijalan terselip cerita seru, dari mulai beberapa kali barang bawaan jatuh dari atas jok motor karena memang sering terguncang, atau lepas nya sambungan kabel aki yang sempat saya alami, sempat membuat bingung karena motor tidak segera menyala. Dan juga cerita om Berland, yang jatuh ditikungan berpasir. Karena om Berland melaju kencang didepan kami saat kecelakaan, kami tidak melihat kejadiannya, Setelah akhirnya seorang warga bilang jika ada salah satu teman dari kami dengan menyebutkan ciri-cirinya seperti yang dipakai om Berland yaitu motor merah dan helm hitam, jatuh ditikungan. Kami pung tertawa terbahak-bahak mendengar ceritanya.


bersantai ditengah jalan,,eh ditengah hutan
salah satu kondisi jalanya


Tegar tampak mungil
Kami menemukan jalan aspal kembali ketika tiba di Maribaya, singgah sejenak untuk sekedar isitrahat dan mebasahi tenggorokan dengan air minum, karena sepanjang perjalanan tadi jarang ditemukan warung, berhenti disini seperti menemukan oase di padang pasir.


menemukan aspal dan pemandangan seperti ini
Disini kami juga menunggu om Yudistira yang kebetulan tinggal di Lembang, beliau hendak bergabung dengan kami untuk menuju gunung Putri, yaitu tujuan kami selanjutnya.

Setelah melakukan makan siang, dan juga motornya Tegar selesai diperbaiki disuatu bengkel karena ada bagian motor yang lepas dan perlu pengelasan, segera kami tancap gas ke gunung Putri.

Tidak lama kemudian sampai didepan gapura desa, saat jalan aspal berubah tanah sedikit berbatu dan menanjak. Letak gapura ini searah ketika menuju Tangkuban Perahu, tidak jauh dari hotel Grand Paradise. Ini menjadi titik terakhir jika akan ke gunung Putri menggunakan angkutan umum, atau bahkan mobil karena medan jalan saat kami lalui ada beberapa ruas yang ambles.


setelah masuk gapura desa
Jalan berubah menjadi sangat berdebu, kami memasuki hutan dengan pohon menjulang tinggi dengan kerapatan sangat dekat antar pohon. Beberapa jalan mirip selokan juga dilalui, dengan tetap menjaga jarak karena pandangan terbatas akibat debu pekat bertebangan dari tanah yang kering ketika roda motor kami melibasnya. Beberapa kali berpapasan dengan motor jenis trail, karena track ini lebih cocok untuk bermain dengan genre dirt bike.


mulai masuk hutan lagi
gunakan masker

tanjakan terakhir
Kami pun tiba di puncak Putri, ditandai dengan melihat sebuah tugu berdiri. Seperti sudah menjadi kebiasaan di negeri ini, bangunan misalnya berupa tugu ini sudah dicoret-coret ditulis dengan nama-nama tidak jelas maksud tujuannya, kecuali hanya untuk mengotori saja. Mungkin perlu kutukan buat orang yang berbuat vandalisme ini.


tugu
Disini bisa terlihat patahan Lembang dengan jelas, dari gunung 1587 mdpl ini kami juga bisa melihat beberapa gunung menjulang di sekitar tanah sunda ini, dari mulai gunung Gunung Manglayang, Gede Pangrango, Gunung Cikurai, Gunung Tilu dan Gunung Rakutak akan terlihat samar di sebelah selatannya. Sementara di sebelah Barat, Gunung Tangkuban Parahu terlihat gagah bersebelahan dengan Gunung Burangrang.


touch up 
Patahan Lembang??Jika tidak kesini mungkin saya sampai sekarang tidak tahu tentang fenomena alam tersebut. Salah satu sumber dari internet secara singkat menyebutlan : "Patahan Lembang merupakan retakan sepanjang 22 kilometer, melintang dari timur ke barat. Berawal di kaki Gunung Manglayang di sebelah timur dan menghilang sebelum kawasan perbukitan kapur Padalarang di bagian barat. Patahan itu tepat di antara Gunung Tangkubanparahu dan dataran Bandung sehingga membentuk dua blok, utara dan selatan. Sebuah dinding raksasa sepanjang 22 kilometer terbangun oleh naiknya permukaan tanah di blok selatan dan turunnya permukaan tanah di blok utara. ”Tembok” itu membentengi pemandangan orang di utara ke arah selatan. Gerakan blok batuan itulah yang mengirim gempa" (kompas.com)
patahan Lembang
Tidak lama disini, ramainya puncak Putri oleh gerombolan motor trail, dan pengunjung lain membuat memilih turun dan bersantai diantara pepohonan tidak jauh dari tugu puncak Putri. Kami memasang hammock diantara dua pohon, ngobrol santai bahkan sampai tertidur. Semakin sore udara dingin, segera diputuskan untuk turun ke kota Lembang, om Yudistira mempersilahkan untuk mampir ke kediamannya.

Entah karena kosentrasi sudah menurun karena lelah fisik, atau pikiran sedang tidak fokus, saat jalan menurun saya mengalami insiden kecil, yaitu hilang keseimbangan ketika melewati gundukan tanah, dan berhenti ketika menabrak dinding tanah sebelah kiri, ahasil setang Bishop berubah bentuk alias bengkok. Cukup beruntung tubuh tidak mengalami perubahan bentuk, tidak ada cedera apapun. Menuruni beberapa jalan sampai kota dengan setang bengkok ternyata cukup menyiksa, sampai akhirnya saya bilang ke om Yudis untuk mencari toko peralatan motor untuk membeli setang baru,  saya beruntung mendapatkan. 

Singgah sejenak di rumah om Yudis, termasuk mengganti setang Bishop dilakukan disini. Kami berempat juga sempat mandi istirahat, mengobrol ngalor ngidul, dengan sajian istimewa yaitu susu murni panas. Sangat nikmat. Terimakasih om Yudis atas kebaikan ini. Menjelang pukul delapan malam saya berpamitan segera kemabli kekota asal, bersama Tegar. Sedangkan om Yudis dan Berland tetap singgah, untuk menginap semalam.

Terimakasih teman-teman yang bertemu di telaga Cinta hingga perjalanan ke Gunung Putri. Petemuan singkat ini sangat berkesan, bisa menyambung silahturahmi tanpa ribet layaknya suatu event gahering skala besar. Ya kami melakukan dengan cara sederahana. Talk less, ride more!!


sampai ketemu dilain kesempatan, kawan!


Jumat, 10 Oktober 2014

Meraba Bukit Kaba

Hari ke empat (7/10/2014) di provinsi Bengkulu ini adalah saat yang tepat untuk melakukan perjalanan dengan roda dua, pikir saya saat itu. Tepatnya di desa Sambirejo, kecamatan Selupu Rejang, kabupaten Rejang Lebong saya singgah selama total 5 hari. Sebenarnya tujuan utama ke kota ini adalah menghadiri pernikahan saudara sepupu, yang kebetulan saya belum pernah sama sekali berkunjung/silahturahmi dirumah paman atau yang biasa saya sebut paklik ini. Jadi ini adalah perjalanan pertama di daerah yang pernah menjadi tempat pengangsingan presiden pertama, Ir. Soekarno.

Untuk mencapai kota ini diperlukan waktu dua sampai tiga jam perjalanan darat dari ibukota Bengkulu. Lebih lama daripada penerbangan yang saya lakukan dari bandara Soekarno-Hatta ke bandara Fatmawati, Bengkulu yang hanya memakan waktu satu jam. Tidak seperti di kota besar di pulau Jawa, transportasi umum seperti bis antar kota tidak akan di temui, apalagi taksi. Kami harus memesan beberapa hari sebelumnya untuk memastikan mobil 'travel' bisa menjemput kami dibandara.
sebatang dulu sebelum terbang
Halo Bengkulu:
 photo 2copy_zps1c6b3f87.jpg
Kembali ke rencana awal untuk berkendara di kota ini, tidak banyak persiapan yang dilakukan. Untuk motor, saya pinjam dari sepupu. Sebuah motor sport 150 cc yaitu Yamaha Vixion akan menemani perjalanan kali ini. Perlu diketahui, kecamatan ini adalah dataran tinggi dengan di hiasi pemandangan perbukitan, perkebunan sayuran dengan suhu udara berkisar 20-25 derajat celsius. Sering tampak petani mengangkut hasil kebunnya dengan motor di modifikasi menyerupai jenis trail, tampak dari ban 'tahu' dan velg yang lebih besar dari standar pabrikan.
Mengangkut sayuran:
 photo 48copy_zpsfe5e4a3f.jpg
Ban tahu & Pertamini:
 photo 49copy_zpsd7ba87ee.jpg
Tadinya saya akan dipinjami motor jenis trail tersebut, karena menurut orang setempat, medan yang akan saya jelajahi lebih cocok dengan jenis motor tersebut. Tapi karena motor yang sedianya akan saya pakai sedang tidak sehat maka saya gunakan motor seadanya saja. Saya termasuk orang yang tidak mau ambil pusing dengan motor apa yang akan saya gunakan, toh itu hanya sebagai sarana. Saya lebih berpikir bagaimana cara untuk bisa menikmati perjalanan serta mencapai lokasi. 

Bukit Kaba adalah tujuan kali ini. Jika dilihat dari peta, jaraknya tidak lebih dari 50 kilometer dari tempat saya akan berangkat. Minimnya informasi untuk menuju kesana dengan roda dua tidak mengurungkan niat, tidak ada partner perjalanan alias tidak ada mengantar ke lokasi juga tidak menjadi halangan berarti. Saya termasuk penikmat solo riding akut, atau bisa sangat menikmati melakukan perjalanan seorang diri.

Depan rumah tempat saya singgah adalah termasuk jalan utama akses Bengkulu-Curup-Lubuk Linggau. Mulai mengelindingkan roda motor pukul 9.30 pagi, pagi itu sangat cerah setelah hari sebelumnya kota ini diselimuti kabut, informasi lain menyebutkan jika kemarin itu bukan kabut, melainkan asap kebakaran hutan di provinsi tetangga.

Seperti biasa untuk mengetahui rute, selain mengandalkan peta yang ada di handphone saya juga melihat petunjuk arah papan berwarna hijau, atau jika tidak ada juga petunjuk arah dari tulisan papan maka bertanya warga setempat adalah solusinya. Kesasar juga merupakan kenikmatan tersendiri, karena akan menemukan hal-hal baru, dan bisa belajar untuk keluar dari zona aman.

Sepanjang jalan akan disuguhi pemandangan barisan bukit yang seakan mengelilingi kota ini, juga hamparan kebun sayur-sayuran yang menyejukan mata dan pikiran. Jika hari-hari saya dipenuhi oleh hiruk pikuk kota industri, beserta kesemrawutannya, apa yang saya lihat di perjalanan ini seakan menjadi tombol reset, yang mengembalikan gairah dalam diri.

Lurus, Lubuk Linggau. Kanan, Bukit Kaba:
 photo 50copy_zpsbe717b5c.jpg
Desa Siaga Bencana
Belum genap 20 menit dengan kecepatan rata-rata 40 kpj terlihat gerbang selamat datang menandakan telah memasuki desa Siaga Bencana. Seperti yang saya baca dari berbagai sumber, Gunung Kaba yang warga lokal menyebutnya bukit Kaba (1937 mdpl), dipuncaknya terdapat kawah aktif yang menyemburkan asap mengandung sulfur. Terdapat beberapa  kawah/puncak lainnya yaitu, Bukit Itam (1893 mdpl)  dan Bukit Malintang (1713 mdpl).

Tidak jauh dari gerbang, terdapat pos pendakian ke bukit. Saya berhenti sejenak disini. Lebih dikenal dengan sebutan Posko Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) terdapat bangunan rumah yang seharusnya digunakan untuk mendapatkan informasi tentang pendakian ke bukit Kaba, dan juga untuk melaporkan diri jika akan mendaki. Ini sangat penting sebenarnya, karena jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kan lebih mudah untuk melacaknya. Tapi ironisnya disini tidak di temukan satu orang pun yang bisa dimintai keterangan. Pintu posko terkunci rapat.

Hanya berbekal peta lokasi yang ada didepan posko, saya mengamati jalur pendakian. Terdapat dua jalur, yaitu jalur pertama adalah untuk pejalan kaki yang jalannya bisa dimulai dari belakang posko berupa jalan setapak tentunya, sedangkan jalur kedua adalah terdapat jalan aspal berukuran tidak lebar, saya pikir jalur kedua ini adalah yang bisa dilalui sepeda motor. Tidak lama disini saya langsung tancap menuju jalur kedua.

Posko
katakan peta..peta!
Terdapat dua jalur pendakian:
 photo 6copy_zps02030c01.jpg
Sekitar 3 kilometer dari posko akan dijumpai gerbang menandakan jika akan memasuki Bukit Kaba, ini lah pintu masuk jalur kedua. Disambut oleh jalan aspal tidak begitu mulus selebar 1,5 meteran dengan kanan kiri pepohonan lebat berbagai jenis, dari tumbuhan merambat sampai berbatang besar. Semua tampak alami.  Memang lokasi ini merupakan salah satu hutan lindung. Sebagai informasi tambahan , jika jalur ini letaknya  di sabuk bukit, layaknya ikat pinggang yang melingkari tubuh, sebelah kiri adalah jurang dengan jarak 2-5 meter dari jalan.

gerbang masuk
Semakin jauh jalannya semakin variatif dan cenderung menyempit, dan aspal semakin rusak malah ada yang bebatuan, belokan patah dan menanjak banyak ditemui disepanjang jalan. Tidak ada orang lain atau berpapasan dengan pengunjung lain, benar-benar sepi. Hanya terdengar sesekali bunyi serangga, kadang terkihat kupu-kupu yang tiba-tiba terbang memotong jalan. 
jalan setelah gerbang:
 photo 9copy_zps699366ec.jpg
jalannya berubah:
 photo 11copy_zps30b4c733.jpg
so what??just enjoy de road
Setiap melakukan perjalanan saya selalu berusaha untuk bepirkir positif, menghilangkan sugesti dan pikiran negatif. Tetapi ketika melewati jalur ini sesekali ada perasaaan tidak enak, kadang timbul rasa kekhawatiran yang tidak jelas datang dari mana. Benar adanya, ketika melakukan perjalanan seorang diri akan lebih sensitif terhadap apa yang disekeliling kita. Kita akan lebih banyak melakukan dialog dengan diri sendiri, dan tentu saja itu menjadi refleksi diri. Saya akan lebih mengenal siapa saya. "I think one travels more usefully when they travel alone, because they reflect more." - TJ-

Jalan semakin menanjak, lebih banyak ditemui jalan aspal yang berubah menjadi bebatuan. Sampai akhirnya setelah lewat satu tikungan saya terkejut dengan jalan yang tepat didepan. Jalan ambles, membentuk seperti sungai dengan kedalaman setinggi motor, dengan lebar sedikit lebih panjang dari setang motor, dengan posisi menanjak kemiringan sekitar 20-25 derajat, sepanjang kira-kira 10 meter. Berhenti sejenak, turun dari motor dan melihat kondisi jalan yang ambles itu sampai akhir ketemu aspal lagi. 

jalan apaan ini???:
 photo 12copy_zps20139250.jpg
survey jalur:
 photo 13copy_zps85b38117.jpg
Lagi-lagi saat berdialog dengan diri sendiri, kira-kira sanggup tidak melewati ini. Setelah berpikir gimana caranya untuk melewatinya. Motor saya starter dan coba melaju untuk menanjak, sekitar jalan 2 meter motor mati mesinnya setelah kehilangan torsi atau tenaga. Tidak ada ruang untuk mengambil ancang-ancang membuat keadaan ini wajib mengandalkan putaran bawah dari mesin motor. Saat-saat ini saya kangen Bishop untuk melakukannya. Tapi kerinduan itu segera dihilangkan dan harus menghadapi kenyataaan yang ada. Saya coba beberapa kali dengan cara yang sama. Tapi tidak berhasil. Sementara saya juga harus menjaga keseimbangan karena jika miring kekanan/kikiri motor akan menyerempet dinding tanah. 

Kembali berpikir sejenak, entah darimana saya mendapat ide untuk melakukan cara ini, yaitu kaki saya berpijak ditanah posisi paling tinggi pada kanan-kiri nya. Sedangkan tangan tetap memegang setang. Posisi tubuh saya seperti kuda-kudaan ketika keponakan saya akan menunggangi punggung. Logikanya dengan cara ini akan mengurangi beban motor, dan tujuannya adalah mendongkrak tenaga awal si mesin. Entah benar apa tidak logika saya saat itu, tapi ketika dicoba motor berhasil menanjak walau dengan sedikit kepayahan. 

what a style?
Layaknya bermain game konsole bergenre petualangan, yang semakin tinggi level game itu semakin susah melewatinya. Di tanjakan ini adalah bagian paling susah bagi saya yang masih hijau pengalamaan kegiatan, ya sebut saja motorcycle adventure ini. Ketika berhasil melewati, sontak saja kegirangan dalam hati tidak bisa dipungkiri lagi. Tetapi sesudahnya terasa sangat lelah dengan nafas putus-putus, teringat dengan hukum alam, semakin tinggi posisi dari permukaan laut maka kadar oksigen semakin menipis, mungkin itu juga yang membuat nafas saya seakan mau habis.

Menanjak sekitar 200 meter, jalan semakin melebar, di akhir tanjakan saya terperangah melihat di 100 meter didepan mata, mirip tembok memanjang berwarna hijau ditumbuhi rerumputan, terlihat tangga terbuat dari beton menjulang naik. Disini juga terdapat tanah lapang, mirip tempat parkir kendaraan, berdasarkan informasi yang saya dapat, dulu memang jalan yang telah saya lalui bisa dilewati mobil sekalipun, tapi karena longsor dan perubahan kondisi alam lainnya maka jalannya berubah seperti yang telah diceritakan sebelumnya. Motor diberhentikan, memandang sekeliling, seketika kegembiraan diluapkan dalam hati. Saya tahu itu adalah apa yang menjadi tujuan setelah melewati jalur kedua. 

kegembiraan
Informasi dari saudara, jika sudah terlihat tangga seribu, berarti kawah bukit berada di baliknya. Ya mereka menyebutnya tangga seribu karena jumlah anak tangganya konon mencapai hampir seribu buah, ada mitos juga jika menghitung jumlah anak tangga beberapa kali, hasilnya tidak pernah akan sama dari setiap orang, atau setiap kesempatan menghitung. Seketika saya teringat dengan tangga menuju makam kerajaan Imogiri - Jogja, mitosnya serupa.

Sementara jika berbalik badan, maka akan terlihat sejauh mata memandang adalah rimbunnya hutan alami, sebagian telah terlewati ketika menuju kesini. Pemukiman warga Rejang Lebong juga terlihat sangat mungil atapnya. Saya pun mengabadikan beberapa gambar dari kamera poket yang dibawa. Sebelum menaiki tangga seribu tentunya. 

balik badan, dan pemandangan
Tidak lama terdengar raungan knalpot sepeda motor dari arah bawah, kemudian mucul dihadapan dua motor jenis bebek dengan pengendara membawa senapan angin. Di duga mereka adalah warga sekitar bukit Kaba, jika melihat apa yang dipakai, dan tanpa memakai helm. Saya pun menyapanya.

Layaknya orang yang baru ketemu, kami pun saling mengenalkan diri. Heri dan Riki adalah namanya. Warga desa yang terletak tidak jauh dari posko pendakian. Sebagai orang lokal tentu mengenal lebih jauh tentang bukit Kaba. Mereka kesini tujuan utamanya adalah berburu satwa disekitar bukit terutama jenis burung. Heri bercerita, jika bukit Kaba selain sebagai tempat wisata pelepas penat, juga untuk berbagai keperluan seperti melunasi nadzar, yaitu melaksanakan apa yang telah dijanjikan jika apa yang dimohon terkabulkan. Kebanyakan yang kesini dengan melepas burung merpati atau kambing untuk melaksanakan nadzar mereka. Memang saya temui ada beberapa ekor burung merpati disini, mungkin jika saya temui kambing akan saya bawa turun kebawah untuk dijual kembali. 

Atau cerita berbau mistis, ada salah satu dusun bernama Curup yang jika warganya mendaki ke bukit ini akan mendapat celaka diperjalanan, entah itu hilang atau malah ditemukan sudah tidak bernyawa. Heri juga berpesan untuk menjaga ucapan dan perilaku selama disini, karena sudah banyak kejadian aneh diluar logika jika tidak bisa menjaga hal tersebut.

Heri juga mengatakan jika saya beruntung bisa menemui langit cerah tanpa ditutupi kabut. Karena mereka sendiri sering kesini, tetapi jarang sekali menemukan cuaca seperti ini.

Heri dan Riki pun naik keatas duluan dengan meniti tangga seribu. Sementara saya berhenti sejenak untuk sekedar menenggak minum. Oya jika kesini hendaknya membawa air minum dari bawah, karena disini tidak ditemui pedagang makan/minuman.

tempat parkir, tangga seribu, Heri & Riki yang naik duluan
Setelah mereka hampir sampai atas, saya menyusul naik. Kemiringan tangga hampir 45 derajat, membuat energi terkuras, beberapa kali berhenti buat menyelesaikan nafas yang terputus-putus. Penuh hati-hati menapaki anak tangga, karena tidak ada pengangan disisinya, keseimbangan tubuh harus tetap terjaga. Konon juga sering terjadi kecelakaan ketika pengunjung menaikinya, tentu celaka ketika jatuh dan megelinding kebawah.

Akhirnya sampai atas, diujung tangga dibatasi pagar berbeton yang hampir mengelilingi kawah, beberapa pagar sudah rusak dan rubuh. Sementara sesekali melongok kebawah kawah untuk memperhatikan kepulan asap sulfur yang berhembus dari permukaan tanah. Terdapat jalan setapak juga jika ingin turun kebawah kawah, tapi saya tidak melakukannya karena jaraknya lumayan jauh. Saya lebih memliih berada dipinggir kawah memperhatikan sekelilingi. Terus terang baru pertama kali ini menjumpai pemandangan seperti ini, berada di ketinggian sekitar 1938 meter dari permukaan laut, dengan berdapingan mulut besar kawah yang masih aktif.

bersama Heri dan Riki samapi puncak :)

Walau saya saat itu berada diketinggian tapi kenapa dalam hati bergumam bahwa betapa 'rendahnya' atau kecilnya manusia dibandingkan dengan ciptaan Nya terahampar dihadapan. Gusti Allah memang Maha Keren!

Saya semakin mendekat ke bibir kawah, harus hati-hati, lengah sedikir saja bisa terjun bebas ke dasar. Saya perkirakan dalamnya sekitar 100 meter. Bau belerang menyengat tidak bisa di hindari, entah efek bau tersebut atau bukan  kepala sedikit pusing. Berjalan mengelilingi pinggir kawah walau tidak satu lingkaran penuh, hanya berjalan yang bisa djangkau, karena beberapa bagian adalah tebing terjal. Mengabadikan beberapa gambar dengan kamera seakan wajib hukumnya, sesekali narsis dengan tripot dan selftimer menjadi solusi ketika berpergian sendirian.


kota Curup kelihatan dari sini:
 photo 61copy_zps8468a641.jpg
pagar kawah:
 photo 62copy_zpsf048abc4.jpg
lebatnya hutan lindung:
 photo 58copy_zpsd9eb1e9c.jpg
jalan turun menuju kawah:
 photo 52copy_zpse0145434.jpg
sisi lain:
 photo 60copy_zpsa792d7f8.jpg
kepulan asap sulfur:
 photo 56copy_zps10ef891f.jpg
mengelilingi bibir kawah:
 photo 54copy_zps820631da.jpg


Tidak ada orang lain selain saya sendiri setelah Heri dan Riki pamit turun duluan. Begitu hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Walaupun saat itu sangat terik, tapi udara gunung tidak membuat tubuh ini berkeringat.

Keheningan pecah saat terdengar suara satwa jenis kera, saya menebak itu suara simpanse atau sejenisnya, karena pernah mendengar ketika berkunjung ke kebun binatang, arah suara dari hutan dibawah, sangat keras suaranya. Sedikit membuyarkan kosentrasi. Tidak lama kemudian saya turun menuju parkiran.

mereka mengaku dari kota Pahiang. Dan latar belakang tembok penuh vandalisme seolah menjadi ciri tidak baik bangunan di negeri ini. Semoga generasi ini tidak melakukan hal serupa

Tadinya mau tancap gas kembali pulang, tapi dekat tempat parkir saya jumpai beberapa anak muda disana. Saya hampiri dan mulai mengobrol. Mereka sekitar delapan orang telah menginap disini dengan cara berkemah, dan mendaki ketika menuju kesini. Tentu dengan jalur pendakian. Tidak lama mengobrol disini, sayapun pamit turun. Tidak ada halangan berarti ketika jalan kebawah sampai gapura pintu masuk jalur kedua bukit Kaba. Alhamdulillah.

Disini saya mendapat "message in a bottle" bahwa gusti Allah masih sayang pada saya, dengan masih melindungi selama dan setiap perjalanan. Semoga. Amin.



**************