Our Riding Ware

Kamis, 18 April 2013

Test & Review Jaket Seri TMC

Perkenalan dengan pak Arif selaku pemilik brand Respiro yang produk-produknya berupa perlengkapan berkendara roda dua yang sudah tidak asing lagi namanya di negeri ini, berlanjut pada penggunaan produk Respiro di setiap perjalanan kami. Sebenarnya semenjak sering melakoni kegiatan moto travelling ini (3 tahun yang lalu) saya sudah naksir dengan produk ini tapi karena saat itu jaket seri Ring of Fire yang saya anggap sangat ideal untuk melakukan kegiatan ini masih belum terbeli mengingat budget yang terbatas.

Tahap awal saya di serahi oleh pak Arif dua buah jaket, yang saya pakai adalah jaket seri TMC yang merupakan nama dari blog otomotif terkenal di Indonesia. Sedangkan jaket yang di pakai boncenger adalah seri terbaru yang belum ada namanya, yang rencananya akan kami kembangkan bersama untuk mendapatkan produk yang sesuai dengan kebutuhan dalam melakukan perjalanan dengan motor seperti yang biasa kami lakukan.

Jaket TMC yang mempunyai spefikasi material: Poly 450D PU coating, waterproofness: 2000mmwc, inner material: polyester mesh soft touch ini kesan pertama yang dirasakan saat memegang pertama adalah jaket yang ringan untuk jaket yang  terdapatnya pelindung pundak dan siku didalamnya serta tampilan yang simpel. Dengan 2 saku di bawah kanan/kiri, dan 2 saku di bagian atas juga di kanan/kiri, semua dilengkapi dengan zipper (resleting), dan juga 1 saku dibagian dalam tanpa zipper. Bagian samping kanan/kiri  terdapat air mesh panel semacam bahan jaring yang membuat angin masuk sehingga tetap nyaman digunakan dibawah terik matahari dan suhu udara yang tinggi. Terdapat 4 tulisan "Respiro" di bagian belakang, lengan kanan/kiri, dan depan yang bersifat reflective atau memantulkan jika cahaya mengenainya.

Pelindung yang terdapat dibagian siku dan pundak menjadi sangat penting untuk mengurangi resiko akibat kecelakaan/jatuh. Di jaket ini sudah dilengkapi pelindung tersebut dengan menggunakan material yang berkualitas CE atau Conformité Européenne untuk memenuhi standar EN 1621-1 yaitu standar perlindungan internasional terhadap dampak mekanis. Manfaat dari fitur ini pernah saya rasakan secara tidak sengaja, ketika dalam perjalanan (klik disini cerita perjalanannya) dan mengalami kecelakaan, tubuh saya terlempar dari motor ketika melaju dikecepatan 60-70kpj, hanya bagian lutut yang luka karena memang tidak menggunakan pelindung lutut saat itu.

Walaupun jaket ini body fit atau kata lain desainnya mengikuti lekuk tubuh tapi tidak mengganggu pergerakan dari bagian tubuh itu sendiri, karena di sekitar bagian pundak terbuat dari bahan yang elastis. Akan terasa jika misalnya mengangkat motor sehabis jatuh karena medan yang ekstrem maka kedua tangan akan banyak bergerak sebagai usaha agar motor berdiri kembali.

bebas bergerak walaupun bodyfit
Untuk zipper atau retsleting utama jaket (bukan yang di saku) menggunakan sistem reserved. Retsleting dengan merk YKK dengan sistem seperti ini pertama kali saya lihat di jaket ini, yang tujuannya untuk membei kenyamanan pada posisi duduk diatas motor.Untu penjelasan teknis tentang sistem ini pernah ditulis sendiri oleh TMC blog (postingannya klik disini). Saya pribadi jarang menggunakan fasilitas ini, mungkin karena badan yang langsing jadi masih ada ruang untuk jaket tidak 'ganjel' ketika posisi duduk di motor.

Secara keseluruhan setelah beberapa kali menggunakan jaket ini, menurut saya jaket ini cocok di gunakan saat melakukan perjalanan di terik mahatari atau kemacetan kota yang akan membuat gerah, dengan mesh panel yang ada di jaket ini  akan mengatasi masalah tersebut. Kurang direkomendasi untuk dipakai pada daerah dingin atau pegunungan, saya pernah measa kedinginan ketika memakainya ketika melakukan perjalanan di dataran tinggi Dieng. Tapi hal ini bisa disiasati dengan menggunakan base layer, yang terjual terpisah. Jaket ini bisa diandalkan dan nyaman untuk perjalanan jauh, terbukti sampai tulisan ini di ketik rider asal Bali, Mario Iroth masih melakukan perjalanan keliling Asia dengan menggunakan jaket ini.

Dengan Mario Iroth yang sedang keliling asia
Untuk harga atau order dan keterangan lain bisa langsung ke TMCblog  Atau bisa didapatkan di store Respiro terdekat di kota anda. Sekian dulu review singkat tentang jaket TMC ini, sambil menunggu jaket seri baru yang dipersiapkan untuk kami.


(coming soon)



Minggu, 17 Maret 2013

50 Km dari Kota Industri

Antara Bekasi dan Karawang yang lebih sering terdengar dengan kawasan industrinya, serta hiruk pikuk didalamnya yang semakin disesaki dengan para kaum urban yang mengais rejeki. Termasuk saya sendiri yang tinggal di antara ke dua kota tersebut, Cikarang. Disaat akhir pekan, beberapa dari mereka membutuhkan tempat untuk menyatu dengan alam sebagai sarana penyegaran. 

Adalah curug Cigentis, yang terletak di desa Mekar Buana, kecamatan Tegalwaru, kabutaten Karawang bisa dijadikan tempat untuk tujuan diakhir pekan. Lokasinya yang ada di gunung Loji, dibawah kaki gunung Sanggabuana, sebagai layaknya daerah pegunungan maka akan ditemui banyaknya hijau pepohonan, dan sejuknya udara ketika tiba di lokasi.

Hari Minggu (24/02/2013) saya dan boncenger melakukan pejalanan ke lokasi tersebut. Dengan rute yang dilihat sebelumnya di google map kami berangkat dari Cikarang saat menjelang siang. Diketahui dari map jarak yang akan ditempuh 50 kilometer (rute klik disini). Panas terik matahari mengiringi keberangkatan perjalanan kami. Tapi situasi itu tidak terlalu berpengaruh terhadap kenyamanan berkendara kami, karena jaket yang kami kenakan mempunyai sistem air flow dengan adanya Mesh Panel (bagian bahan kain yang memungkinkan angin masuk dengan maksud menyejukan badan) dibagian lengan/samping jaket.

Memasuki daerah Jatilaksana, hamparan sawah yang menguning tampak menghiasi perjalanan, untuk memastikan rute yang ditempuh menuju curug Cigentis, penjaga warung dipinggir memberi petunjuk ikuti saja jalan ini, jika sudah ketemu pasar Loji lalu belok kanan, setelah mendapat jawaban atas pertanyaan dari penjaga warung, behenti sejenak sambil memandang hamparan sawah yang di latarbelakangi pemadangan pegunungan.

Setelah menenggak air mineral yang dibeli diwarung yang sama, Bishop dipacu kembali. dengan kecepatan sedang, 60-70 kpj. Tiba di pasar Loji, beberapa persimpangan jalan terdapat petunjuk bertuliskan 'Curug Cigentis'. Memang curug ini salah satu andalan objek wisata di Karawang. Perbukitan semakin jelas terlihat seakan sambung menyambung dengan gunung Sanggabuana. Sampai di pos penarikan retribusi kendaraan ketika memasuki wilayah wisata curung Cigentis. Setelah menyulurkan lembaran Rp 5000,-  semakin dekat dengan yang kami tuju, dan jalan yang di lalui semakin tidak sebagus sebelumnya, mulai dai sini bagi yang berkendara roda 4 atau lebih tidak bisa melanjutakan perjalanan dengan kendaraannya dan harus jalan kaki sekitar 1,5 kilometer. Jalan bebatuan, gravel, jalan aspal yang tidak tidak rata. Semakin lama semakin menanjak ekstrem, boncenger sempat ingin turun dari bishop, tapi saya cegah karena berpikir masih bisa melewatinya. Beberapa pengunjung lain terlihat menurunkan boncengernya ketika hendak menanjak.  Kira-kira 2 kilometer dari pos retribusi sampai tiba di lokasi curug.

jalan 2 km sebelum curug
Sampai tempat parkir terakhir, kami berjalan kaki sejauh 200 meter sampai benar-benar bisa melihat curug. Jalan batu yang ditata tidak begitu rapi, beberapa penjual sovenir tanda mata curug Cigentis kami temui. Semakin dekat dengan curug, penjual makan/minum bahkan jagung bakar banyak terlihat. Dan akhinya curug Cigentis gagah terlihat, ramai pengunjung yang berkumpul dibawah curug yang saya perkirakan tingginya 10-20 meter dengan lebar 5 meteran. Segarnya air yang mengalir dari curug, udara yang sejuk, tempat ini bisa dijadikan untuk menyegarkan pikiran.

souvenir
selalu ramai di akhir pekan
curug
pilih sendiri tempat untuk menikmatinya
was here
2 jam disini, kami segera beranjak untuk pulang. Langit tampak gelap, kabut mulai turun, hujan pun tidak lama turun sebelum kami benar-benar meninggalkan obyek wisata ini. Sepanjang perjalanan pulang, menikmati ritikan hujan, sore yang menakjubkan sesudah hujan dengan langit berawan diselingi warna merah jambu. Kami pun sangat menikmati ini.

kabut turun
enggan pulang 
perjalanan pulang
bermain air sebelum meneruskan perjalanan pulang
sampai jumpa kembali....


klik foto lebih banyak di sini

Senin, 11 Maret 2013

So give me Coffee and Bike

Kerinduan sang boncenger untuk melakukan suatu perjalanan dengan ber-motor sudah dilontarkan beberapa bulan yang lalu, tapi karena beberapa kesibukan pekerjaan akhirnya pada 23 Februari 2013 baru bisa terlaksana. Destinasi kali ini adalah daerah bumi priangan, Bandung-Jawa barat. Kebetulan rencana untuk silahturahmi ke salah satu produsen perlengkapan berkendara roda dua, mas Arif Gampang Utomo selaku pemilik brand Respiro, bisa di realisasikan pula dalam perjalanan kali ini.

Kediaman mas Arif di Cimahi, awal tujuan kami. Berangkat sabtu pagi dari Cikarang, dengan rute Cikarang - Purwakarta-Cikalong Wetan-Padalarang-Cimahi. Guyuran hujan ketika berangkat tidak menyurutkan niat kami untuk memulai perjalanan ini. Sampai Purwakarta hujan baru reda, dinginnya kaki terasa karena sepatu tidak waterproof .  Untuk mengihilangkan rasa dinginnya kaos kakipun diganti dengan kantong plastik. Untuk mencapai Cimahi tidak mengalami kesulitan dengan rutenya, karena ini adalah kedua kalinya, kami ke kota ini. 5 jam waktu untuk menempuh perjalanan ke kota Cimahi ini, karena sudah pukul 11.00 dan perut sudah terasa lapar. Kami pun mencari warung makan. Sambil makan siang saya menghubungi mas Arif, ternyata beliau tidak sedang dirumah. Memang kedatangan kami lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Sambil menunggu kami manfaatkan menjemur beberapa perlengkapan yang keujanan tadi. Cimahi ternyata saat itu sangat terik. Dan juga mencuci bishop ditempat pencucian motor karena warnanya sudah berubah kecoklatan.

Hampir 2 jam menunggu, kami dapat info jika mas Arif sudah di rumah. Terlihat sebuah motor Kawasaki Versys di garasi, menadakan itu rumah yang dimaksud, karena sebelum kami kesini, mas Arif bilang jika sedang menguji motor ini yang belum genap satu bulan di belinya. Disambut oleh tuan rumah dengan hangat, saya masih di garasi memperhatikan motor berkapasitas hampir 650 cc ini, dengan reflek saya langsung menungganginya, mas Arif pun segera mengambil kunci motor ini, dan mempersilakan untuk mencoba mengendarainya. Dengan senang hati, saya terima tawarannya untuk segera menghidupkan mesinnya. Dengan tinggi saya yang kira-kira 178 cm, untuk menapakan kaki ketika motor berhenti masih kesusahan. Masih dengan posisi kaki jinjit, layaknya penari balet. Melewati jalan komplek perumahan, sudah cukup merasakan akselerasi dan torsi yang sangat mewah dengan motor ini.

di garasi mas Arif
Obrolan dengan mas Arif pun semakin menghangat, banyak wawasan yang diterima dari beliau, dari perjalanan merintis usaha perlengkapan berkendara roda dua ini. Dari beliau bekerja sebagai staff ahli di sebuah perusahaan textil ternama, hingga di kirim tugas ke beberapa negara manca. Beberapa merk terkenal di Eropa dan Amerika seperti Dainese, Alpine Star perhah terlibat dalam tugas/perkerjaannya. Dengan berbekal pengalaman tersebut, beliau memutuskan resign dari perusaaan textilnya dan membuat trading fabric & garment  sendiri. Dengan produk dengan nama merk Respiro ini, beliau membuat berbagai keperluan bekendara sepeda motor, dengan memperhatikan keamanan dan kenyamanan. Sejak tahun 2008 keberadaan Respiro dimulai dengan pengembangan produk jaket yang waterproof dan windproof untuk beberapa merk diluar negeri dan merk produk outdoor terkenal dalam negeri. Mungkin jika dikisahkan keseluruhannya butuh waktu berhari-hari, tak terasa kami hampir 2 jam disini, dan segera pamit ke tuan rumah untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Bishop di arahkan ke daerah Pangalengan, Bandung selatan. Melihat jalur di google map di layar ponsel, perkiraan jaraknya adalah 50 km. Walau sempat kebingungan dan beberapa kali melewati jalan yang sama di kota Cimahi ini, karena beberapa ruas jalan hanya untuk satu jalur saja. Akhirnya bisa keluar dari kota ini. Entah apa karena saat itu bertepatan dengan malam minggu, sehingga lalu lintas terlihat padat, terutama ketika melewati kawasan pasar dan pertokoan. Memasuki daerah Banjaran hawa dingin pegunungan mulai terasa, dengan jalan yang khas pula, menanjak dan banyak tikungan.

Sebelum melakukan perjalanan ini, saya mencari beberapa referensi tentang daerah Pangalengan ini. Entah mengapa memilih daerah ini, saat itu cuma iseng lihat peta, dan kebetulan belum pernah menggelindingkan roda bishop ke daerah ini. Salah satu daya tarik daerah ini adalah situ Cileunca. Memasuki Pangalengan, bersamaan dengan gelapnya hari. Beberapa kali berhenti untuk memastikan jalur yang ditempuh benar, lewat layar ponsel, untuk membuka google map. Sekitar pukul 19.00 saat itu, jalan yang mimin lampu penerangan membuat saya memacu Bishop dengan kecepatan rendah, sesekali menengok kanan kiri untuk mendapatkan petunjuk kearah situ. Tampak samar-samar genangan yang luas pada posisi yang lebih rendah dari bishop melaju, belum bisa mengira-ira berapa luasnya karena saat itu hanya gelap.

Akhinya kami menemukan gerbang menuju situ. Dengan minimnya penerangan kami coba masuk perlahan, tampak sebuah warung yang menjual makan/minum, setelah parkir didepan warung, teh hangat pun kami pesan dari sang penjual. Seorang ibu dengan logat bahasa sunda yang kental. Sambil menikmati teh hangat, saya bertanya tentang penginapan atau tempat mendirikan tenda di sekitar situ kepada pemilik warung. Beliau tidak menyarankan untuk mendirikan tenda di sekitar tenda, dengan tidak menjelaskana alasannya. Malah menyarankan untuk menginap di tempat warung yang terdapat kamar, dengan menawarkan harga Rp 150.000,- permalam. Tidak beberapa lama, kami pamit dari warung untuk melihat situasi situ, sambil mencari alternatif tempat untuk bermalam. Menyusuri jalan pinggir situ yang tidak ada penerangan membuat kami tidak menemukan apa yang dicari. Hanya rumah pendududuk, dan itu pun sebagian pintunya sudah tertutup. Semakin jauh kami meninggalkan situ, semakin tidak ada pemukiman dan hanya gelap gulita disekitarnya.

Kami pun kembali ketempat awal datang ke situ. Tepat dipinggir jalan Pulosari-Wanasari, ada sebuah warung makan yang sederhana, tampak beberapa beberapa pengunjung sedang yang lain sedang menonton televesi, kami pun segera memesan 2 porsi makan malam. Setelah selesai makan, saya tanya kepada pemilik warung tentang penginapan, beliau dengan segera menjawab jika ada tempat menginap disebelah warung ini, sebuah rumah yang memang sengaja di peruntukan tamu yang ingin bermalam. Saya pun segera melihat keadaan rumahnya, sebuah bangunan dengar dinding dari anyaman bambu, terdiri dari 2 buah kamar tidur, 1 ruang tamu yang juga terdapat tempat tidur, sebuah ruang tv, lengkap dengan kamar mandi. Tampak sederhana memang, tapi cukup untuk menampung satu keluarga, yang terlalu besar untuk menginap kami berdua. Segera menanyakan harga, beliau menjawab "biasanya ini memang buat menginap keluarga, harganya tiga ratus ribu, tapi karena untuk berdua saja saya kasih harga 150 ribu deh". Setelah saya tawar, akhirnya 120 ribu harga yang kami sepakati.

Setelah rumah selesai dirapikan oleh pemiliknya, kami memasukan barang-barang dan Bishop kedalam. Entah mengapa ada perasaan yang tidak nyaman disini, itu juga saya lihat di wajah boncenger. Yang biasanya tidak pernah minta di antar ke kamar mandi, kali ini saya di suruh menunggu di sebelah pintu kamar mandi. Memang menurut beberapa referensi yang saya baca sebelumnya, jika daerah situ Cilenuca ini memeliki beberapa cerita mistis. Tapi hal itu tidak saya ceritakan kepada boncenger. Tetapi sepertinya boncenger merasakannya saat berada di lokasi. Kami pun sepetinya mengerti untuk tidak mengungkapkan ha-hal yang berbau mistis disini, untuk menjaga mood tetap positif. Hal mistis malah diungkapkan boncenger disela perjalanan pulang, jika melihat hanya kepala selain kita berdua dirumah itu. Saya bertanya "kok kamu ga teriak tau ngomong?" dia pun hanya tersenyum, dengan raut muka sedikit jengkel ke saya, karena tidak cerita jika daerah situ ada cerita mistisnya.

Terbangun jam 5 pagi dari ruangan tamu dengan jendela tidak bekorden, segera memasukan barang-barang ke side bag. Pagi itu terasa dingin, terlebih ketika mencuci muka, layaknya air es. Sayapun mengurungkan niat untuk mandi pagi. Keluar dari rumah ini menyusuri jalan yang letaknya memang dipinggir situ Cileunca itu sendiri, langit dengan awan mendominasi, seakan hendak turun hujan. Menepikan bishop dibahu jalan untuk sekedar menikmati suasana pagi , dan melihat pemandangan disekitar situ. Situ Cileunca yang merupakan danau buatan ini seluas 1.400 hektar ini dibuat diatas tanah milik orang kebangsaan Belanda, bernama Kuhlan. Selama tujuh tahun situ ini dibangun, dari tahun 1919. Situ yang berada di ketinggian 1550 mdpl ini, lokasi tepatnya berada di desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, di kelilingin oleh perkebunan teh Malabar dengan latabelakang pemandangan gunung Malabar.

Awan tebal menyelimuti diatas situ Cileunca, gerimis pun mulai turun, kami pun bergegas meninggalkan tempat ini, Bishop dipacu perlahan mengelilingi situ, menikmati hembusan udara dingin menembus lewat ventilasi helm merupakan kebahagian tersendiri yang dirasakan. Masih di sekitar situ, saya melihat ada jalan menuju sebuah perkampungan, setelah berunding sebentar dengan boncenger, bishop pun di belokan kejalan tersebut. Jalan pedesaan yang tidak mulus, dengan aspal yang rusak, kadang jalan tanah. Rumah penduduk berjejer tidak berjauhan. Dari rumah yang sederhana sampai rumah mewah kami temui di desa ini, yang setelahnya kami ketahui adalah desa Margasari, kecamatan Pangalengan. Kami terus menyusuri jalan ini, karena belum berujung. Bertemu dengan truk-truk besar, karena rasa penasaran, saya ikuti kemana arah truk tersebut. Ternyata, berhenti disebuah bangunan yang mirip pabrik dengan pagar beton setinggi 2 meter. Ada bau yang menyengat, dan ternyata itu adalah bau kotoran sapi.

situ Cileunca pagi hari yang berawan
karpet hijau Pangalengan
jalan menuju awan
menikmati udara pagi di Pangalengan
Didepan bangunan tersebut bertuliskan perusahaan susu terkenal, yang kebetulan merk susu kotak kegemaran saya. Ternyata bangunan ini adalah pertenakan sapi dengan fasilitas dan operasional berstandar internasional,  mengelola 2.900 sapi impor dari Australia yang dibesarkan di sini dengan melibatkan peternak lokal untuk memenuhi kebutuhan produksi susu merk tersebut. Memang, daerah Pengalengan merupakan penghasil susu yang sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Situ Cileunca hampir kelihatan seluruhnya, karena posisinya yang lebih tinggi. Sambil mengendarai bishop, kami mencoba melalui jalan desa dengan pemandangan perkebunan sayur mayur, berlatar belakang gunung Malabar yang pucuknya diselimuti awan tebal. Jalan semakin menyempit dan menurun, ternyata sampai ditepi situ, dengan ada perahu yang entah digunakan sebagai apa. Tidak lama disini, kami balik arah menuju saat masuk jalan ke desa ini kembali.

tampak dibelakang adalah peternakan sapi
lebih dekat dengan situ Cileunca
balik arah dari pinggir situ
Ditengah perjalanan, masih ditengah desa Margasari, perut kami terasa lapar, tampak kerumunan warga sedang mengantri pedagang bubur ayam, segera memberhentikan bishop dan bergabung bersama mereka. Sambil menunggu bubur ayam disajikan, saya ngobrol dengan salah satu warga. Dengan logat sunda yang sangat kental dari ucapannya, warga ini menerangkan kehidupan desa ini yang rata-rata perkejaannya adalah sebagai petani sayur mayur, dan sebagian peternak sapi.  Sambil berdiskusi pula dengan boncenger, untuk tujuan selanjutnya. Saya menawarkan untuk ke suatu desa yang masih berada di kecamatan Pangalengan, desa tersebut terkenal dengan olahan kopi Luwak-nya.

sarapan bubur
Setelah melihat peta di layar ponsel, Bishop diarahkan menuju kampung Pasirmulya, desa Margamulya, kecamatan Pangalengan. Lokasi ini saya dapat dari berbagai referensi di internet. 7 kilometer dari situ Cileunca, di jalan raya Pangalengan, ada papan petunjuk bertuliskan "Kopi Malabar", yang terdapat keterangan berjarak 2 kilometer ke lokasi.  Jalan perkampungan selanjutnya kami lalui dengan aktifitas warganya didalamnya, beberapa kali papasan dengan warga yang mengendarai sepeda motor dengan kanan kirinya seperti tabung penampung susu. Benar saja, tidak lama kemudian melihat beberapa warga kumpul di tempat penampungan hasil susu perahan mereka.

Karena tidak ada petunjuk jalan lagi, kami bertanya kepada penduduk untuk menuju lokasi yang kami maksud. Penduduk memberi arah jalan berikut menyebut nama pak Nuri sebagai pemilik olahan kopi Luwak tersebut. Sesuai petunjuk akhirnya menemukan papan berwana hijau bertuliskan "Kopi Luwak Malabar". Kenapa namanya Malabar, saya coba menebak sendiri karena lokasi ini terletak di kaki gunung Malabar. Tidak jauh dari Bishop parkir, berdiri seorang pemuda. Segera saya tanyakan tentang maksud kedatangan kami. Pemuda yang bernama mas Irfan ini kebetulan adalah pegawai dari pak Nuri yang biasa melayani tamu ketika berkunjung kesini. Pak Nuri sendiri kebetulan tidak sedang disini.  Mas Irfan segeran menunjuk sebuah bangunan, dan mempersilakan kami masuk. Pada saat kami datang, pintu berpagar besi, kemudian pintu kaca mirip bangunan rumah toko belum dibuka. Setelah masuk dibangunan difungsikan untuk menerima tamu ini, terdiri dari kursi dan meja panjang dari kayu tebal, setiap ruangan terlihat bersih dan rapi, disebelah ruang tamu terdapat ruang yang di pisah dengan kaca bening, yang didalam terdapat beberapa toples besar terbuat dari kaca yang isinya biji kopi, serta ada juga mesin yang digunakan untuk mengsangrai biji kopi sebelum disajikan.

akhirnya sampai
setelah di sangrai
siap dinikmati
Mas Irfan segera memulai proses pembuatan kopi, memasukan biji kopi kesebuah mesin, dan tidak lama kemudian kopi luwak Malabar panas tersaji sudah.Rasa kopi yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, aroma kopinya sangat menyengat, ketika diteguk pahit kopi sangat terasa, seakan rasa kopinya menempel di lidah dan disemua organ tubuh yang dilewati aliran kopi. Mas Ifan menyarankan menambahkan gula yang terbuat dari aren jika merasa pahit. Sambil menikmati kopi mas Irfan bercerita tentang pengolahan kopi, dan menjawab dengan antusias setiap pertanyaan yang kami lontarkan. Kopi disini berjenis Arabika,  ketinggian lokasi perkebuna kopi yang 1800 meter dari permukaan laut dengan suhu sejuk bekisar 15-21 derajat sangat cocok untuk budidaya jenis kopi ini.

silahkan pilih sesuai selera dan dana
sang luwak
baru saja keluar
Mas Irfan juga bercerita, jika belum lama ini kedatangan beberapa tamu dari negeri Belanda untuk belajar cara pengolahan kopi luwak. Memang Kelompok tani yang bernama 'Kopi Rahayu Tani"  disini menyediakan pelatihan untuk mempelajari bagaimana memproduksi kopi luwak dari awal sampai menjadi segelas kopi yang siap saji. Disini tersedia kopi yang dikelompokan berdasarakan lokasi penanaman pohon kopi dan pengolahannya, itu juga yang nantinya mempengaruhi harga jualnya. Jenis Speciality adalah hasil kopi dari ketinggian kurang dari 1000 mdpl, sedangkan jenis Gourmet  diatas 1000 mdpl, untuk kopi Luwak kopi hasil dari proses cerna dari binatang Luwak (Paradoxurus hermphrodirus), yang secara insting Luwak itu sendiri memilih kopi yang memiliki citarasa khas. Bulan ke 4 - 5 adalah musim panen kopi dan saat itu Luwak diberi makan kopi, dan dikeluarkan masih berbentuk kopi bersama kotorannya. Setelah melalui proses pencucian hingga sangrai (dimasak didalam tungku/mesin  dengan panas tertentu), sehingga kebersihan nya terjamin. Kelompok tani yang bekerja sama dengan PUM Netherlands Expert Coffe ini juga telah memilik Standar Mutu Biji Kopi serta telah menyandang '"Citarasa Tiga Terbaik se-Indonesia" sertifikasi dari Puslitkoka (Pusat Penelitian Kopi dan KakaoIndonesia), di Jember tahun 2011.

Kopi seharga 25 ribu rupiah percangkir ini tidak terasa sudah habis. Konon jika beli dicafe-cafe harganya bisa mencapai 200 ribu rupiah percangkir. Kami bertanya ke mas Irfan, "apakah bisa melihat kandang luwaknya?". Beliaupun menyanggupi dengan syarat tidak boleh mengambil gambar dengan kamera saat didalam kandang. Letak kandang letaknya 300 meter dari tempat minum kopi tadi. Memasuki lahan yang dikelilingi tembok setinggi 3 meter, didalamnya ada bangunan lagi untuk menempatkan kandang Luwak. Sekitar 40 kandang berada didalam bangunan itu, satu kandang dengan luas 1,5 meter persegi terdapat satu ekor Luwak. Karena binatang yang sangat sensitif dan mudah stres, kandang tidak boleh kotor. Maka setiap pagi dan sore selalu dibersihkan. Disela-sela ceritanya mas Irfan, entah mengapa beliau memperbolehkan  mengambil gambar dengan kamera yang boncenger bawa. Setelah sebelumnya saya 'merayu' jika nantinya fotonya akan dipampang di blog dan secara tidak langsung menjadi ajang promosi untuk kopi uwak itu sendiri, hehe..

bersama mas Irfan sepulang dari kandang luwak
Tak terasa 2 jam sudah kami disini, jam 9.30 berpamitan dengan mas Irfan dan mengucapkan terimakasih yang telah besedia 'menjamu', memberikan wawasan baru tentang salah satu komoditas yang membanggakan daerah ini dan Indonesia. Perjalanan pulangpun dimulai.Dengan menempuh rute yang agak berbeda dari saat keberangkatan, yaitu Pangalengan-Cililin-Saguling-Cikalong Kulon-Cikarang. Alhamdulillah tiba di rumah dengan zero accident & trouble. 


foto lebih banyak klik disini







Rabu, 13 Februari 2013

Water Dragon Sunday Ride

When You Ride You should try and forget everything else. Dont think about the rest of your life ot the rest of the world. Try to forget all that and think only of the road or the track and the bike. It's not always easy to stay focused on the bike, sometimes you feel that one part of the brain rides the bike, thinks about the tyre, sees the road, but maybe the other part is thinking about a girl, a friend, a song” – Valentino Rossi

Walaupun tidak sedang berkendara di sirkuit internasional, dengan kecepatan diatas 200 km/jam, ungkapan pembalap Moto GP asal Italia diatas, saya rasakan di dalam perjalanan kali ini. Perjalanan dengan jarak tidak lebih dari 250 km (pergi-pulang), dengan jalur yang tidak lazim untuk sepeda motor yang kami kendarai, ketegangan saat melewatinya, terlempar dari motor saat terlena, sampai tertawa bahagia ketika mencapai klimaks melihat terbenamnya sang matahari di tempat betemunya sungai-samudra dengan mengendarai perahu nelayan, akan menjadi cerita dalam perjalanan kami ini.

Kami?ya.. perjalanan ini diikuti oleh empat orang, yaitu om Hendra, om Sigit, om Rustam dan saya sendiri, pada hari minggu, 10 Februari 2013. Melihat postingan Facebook dengan nama akun 'Menembus Batas' yang isinya akan mengadakan perjalanan sehari, saya tertarik untuk mengikutinya. Jika membaca beberapa cerita perjalanan bermotor  Menembus Batas ini, dalam menempuh pejalanannya lebih didominasi oleh jalur-jalur yang jauh dari kata jalan aspal mulus. 

Setelah melakukan obrolan dengan pemilik akun ini yang setelahnya saya ketahui pemiliknya adalah om Hendra yang berdomisili di Cibinong-Bogor, saya pun siap sedia untuk mengikuti perjalananya. Tidak banyak bertanya kepada beliau, yang penting sudah disepakati titik kumpul dan jam keberangkatannya, untuk jalur dan tujuannya sengaja tidak ditanyakan secara detail karena akan saya jadikan sesuatu yang menjadikan rasa penasaran. 

Jam 08.00 di sekitaran Mal Metropolitan-Bekasi adalah titik kumpulnya, saya sendiri datang kepagian jam 7.10, saya gunakan waktu tunggu ini untuk sarapan. Setelah satu jam kemudian om Hendra tiba ditemani oleh om Sigit, saya baru pertama kalinya bertatap muka dengan kedua beliau  ini. Om Hendra bilang jika menunggu salah satu teman lagi yang akan ikut dalam perjalanan ini, yaitu om Rustam yang berangkat dari Cibinong juga tetapi mengalami masalah dengan tunggangannya. Hampir 2 jam kami menunggu om Rustam ditemani beberapa gelas kopi di jalan Kalimalang ini, waktu tunggu tidak terasa karena obrolan yang asyik dan menarik. Cerita om Hendra yang masih tergabung di komunitas 'Bikepacker Indonesia' tentang perjalanan seorang diri mengayuh sepeda Bogor-Aceh, atau terombang-ambing di tengah laut selama 4 hari dalam perjalanan ke Sulawesi dengan sepeda motornya sangat seru diceritakan sampai akhirnya om Rustam tiba.

menunggu
Dan perjalanpun di mulai, dengan om Hendra di posisi depan sebagai penunjuk jalan sekaligus memimpin grup. Sekedar info juga jika perjalanan ini bagi om Hendra adalah seperti napak tilas, karena sebelumnya beliau pernah mengayuh sepedanya ke tempat yang akan kami tuju kali ini. Sinar matahari yang terik serta kemacetan kota Bekasi kami nikmati diawal perjalanan. Tak lupa mengisi bensin di SPBU dalam kota, sebagai antisipasi kesusahan mencari bahan bakar untuk motor di sana. Selepas Babelan jalan tidak sepadat sebelumnya, kami sempat berhenti di sebuah jembatan, terlihat 2 buah kapal yang terdampar dari tempat kami berhenti.



Melanjutkan perjalanan menyusuri pedesaan, dengan aspal tidak semulus di kota, kadang timbul debu ketika kami melewatinya. Sampai akhirnya kami sampai pada lokasi yang tidak kamu temui rumah-rumah penduduk, hanya terlihat beberapa genangan air mirip kolam, serta rawa-rawa yang di sekitar. Karena terlihat sepi gas pun dibuka lebih lebar, motor kami pacu lebih kencang. 

the captain
we are many, we are funny
Walaupun motornya om Hendra sudah di pasang GPS, beliau juga sudah pernah melewati jalan ini, untuk ke tujuan ternyata harus bertanya kepada penduduk local yang ditemui. Sampai akhirnya tiba di kampung Baru Setia, Desa Huripjaya, Kec. Babelan- Bekasi. Disini, sejauh mata memandang hanya terdapat kolam-kolam yang dibatasi oleh tanggul dari tumpukan tanah, yang tinggginya 1-2 meter, sedangkan lebarnya antara 30 sampai 50 centimeter. Ya kolam-kolam tersebut lebih umum disebut tambak.

Om Hendra pun segera menunjuk jalan diantara tambak, sekilas agak kaget dengan apa yang di bilang beliau “ini jalannya!”. Dan kami pun langsung mengikutinya, melewati tanggul tambak ini perlu extra hati-hati, menemukan tanah yang berkubang dengan tanah agak basah habis terguyur ujan, kami agak kesusahan melewatinya, dengan bergatian melewatinya, dibantu dorongan dari teman yang menunggu untuk melewatinya, akhirnya kami semua bisa melewatinya.

Masih melewati jalan serupa, kami masih bisa melewatinya dengan tetap fokus terjaga. Tahun Baru China atau Imlek saat itu serasa kehilangan mitosnya, karena terik mahatari serasa menyengat tubuh. Tidak disadari jalan semakin menyempit. Kami disadarkan ketika om Hendra yang berada paling depan, tiba-tiba berhenti. Tidak ada prasangka apa-apa saat itu, saya kira om Hendra sengaja berhenti atau sekedar mengambil napas untuk istirahat, tetapi setelah diperhatikan dari belakang sepertinya beliau sedang kesusahan menarik mundur motornya, roda depan yang ternyata melenceng beberapa centimeter saja dari tapak jalan. Tambak yang konon 4 meter kedalamannya ini siap menampung motornya jika diteruskan maju beberapa centimeter saja.

jalur punggung naga
antara menangis dan tertawa
Kami melewati jalan yang lebarnya hanya lebih sedikit dari lebar motor. Dengan tinggi 1-2 meter dari permukaan air tambak. Otomatis bagian tanah yang keras hanya selebar tapak ban saja, jika berhenti saya sendiri merasa bingung untuk menapakan kaki, karena tanah yang di pijak sangat gembur dan cenderung akan longsor. Kebingungan lagi, karena om Hendra belum berhasil menarik motornya. Tapi saat-saat seperti yang dibutuhkan adalah ketengangan untuk berpikir. Dari anggota grup yang berada di belakangnya om Hendra, Om Rustam yang berhasil mestandarkan motornya dan maju ke depan membantu om Hendra. Saya sendiri berusaha mendirikan motor dengan standar samping, tetapi tanahya tidak cukup keras untuk menopangnya, cenderung ambles.

Dengan agak kesusahan akhirnya motor berhasil ditarik menuju jalur yang benar. Benar-benar saya merasa sedang bemain sirkus, untuk menjaga keseimbangan, mengatur kecepatan motor, menekan tuas rem akan menjadi mimpi buruk , karena akan tambah sulit menahan berat motor dengan kaki yang berpijak ditanah yang labil. Tetap fokus dijalan yang tidak lebar ini, lengah sedikit saja akan tahu akibatnya. Pikiran akan jatuh, mengambil motor jika sudah kecebur ke tambak , dan lain-lain akan semakin memperburuk keadaan, harus dibuang jauh-jauh pikiran seperti itu.

Setelah melaju beberapa meter, om Sigit mengalami hal sama dengan om Hendra sebelumnya, dan berhasil juga di tarik dengan bantuan yang lain. Di tengah situasi seperti ini, om Hendra coba mengibur dengan berkata “itu sudah terlihat rumah, disitu ada warung!”. Memang saat itu tenggorokan terasa kering, dengan napas terengah-engah, sehabis menarik beberapa motor. Perjalanan dilanjutkan, dengan tetap kosentrasi, pandangan tetap fokus 3-5 meter kedepan. Karena kejadian roda melenceng ketika pandangan kita hanya berputar beberapa derajat saja.

Rumah yang dikatakan om Hendra semakin terlihat, kamipun sampai . Terpancar wajah gembira dari teman-teman. Disambut oleh 2 orang bapak pemilik rumah, rumah bedinding papan kayu, beratap asbes ini adalah tempat kedua bapak ini untuk menunggu dan ber-kegiatan lain mempelihara ikan yang ada tembak-tambak di sekitarnya. Kamipun memesan air minum, walaupun ini bukan warung tapi pemilik rumah segera menyediakan apa yang kami pesan. Karena sudah siang, perutpun merasa perlu di isi dengan makan siang. Setelah mengungkapan keinginanan kami, bapak itu dengan sigap mengambil kayu bakar, untuk memanggang ikan bandeng yang sudah ada. Ya..tambak disini salah satu penghasil bandeng. Menunggu beberapa lama, ikan dengan gosong dibagian luarnya sudah siap tersaji. “yang bagian luarnya jangan dimakan ya!” pesan bapak yang perkiraan saya ber umur 50 tahun.

rumah di tengah tambak
bakar bandeng
Tanpa berpikir lama kami menyantapnya dengan lahap, dengan nasi plus sambal. Hampir 1,5 jam kami disini, sekedar untuk menghimpun tenaga kembali. Walaupun jalur ini tidak panjang, tetapi cukup menguras tenaga dan pikiran. Kami pun pamitan, tak lupa kami membayar apa yang telah disajikan tadi. Ketika ditanya berapa tarif semuanya, bapak itu menjawab “terserah saja mau berapa!” . Setelah menyerahakan beberapa lembar uang, kami mengucapkan terima kasih dan meninggalkan tempat ini.

Selepas dari sini, masih menyusuri jalan yang tidak jauh beda dengan sebelumnya, tetapi lebih lebar beberapa centimeter, tetap harus extra hati-hati. Saya sendiri merasa sedikit pusing kepala, mungkin karena mata harus fokus di satu titik, tidak menoleh kanan-kiri, hanya melihat 3 meter yang ada didepan. Kadang betemu dengan petani tambak yang mebawa muatan hasil tambak, memakai keranjang yang sematkan disebelah kanan & kiri motor mereka. Atau berpapasan dengan pemancing, terlihat dari alat pancing yang mereka bawa. Om Hendra sedikit ragu-ragu, karena memang jalannya membingungkan dengan banyak cabang jalan. Untuk memastikan jalan yang benar, om Hendra tanya kepada penambak yang kebetulan lewat, “jalan menuju Muara Gembong dimana ya,pak?” tanyanya. Dan bapak tersebut menjawab,” nanti lurus terus, setelah ada pertigaan yang ada warungnya, belok kiri!” jawabnya.

“Muara Gembong yang berada sangat jauh dari hiruk pikuk kota Bekasi sendiri dikelilingi oleh lahan perairan laut Jawa yang luas dan terhimpit di antara Jakarta Utara dengan Kabupaten Karawang. Kecamatan ini terletak 64 km dari pusat Kota Bekasi. Tak kurang dari empat jam diperlukan untuk menempuh perjalanan dari kota Jakarta dan sekitar dua setengah jam dari Kota Bekasi. Sebagian besar penduduk Muara Gembong bermatapencaharian sebagai nelayan, menangkap ikan, kepiting dan juga udang untuk dijual ke Jakarta khususnya ke daerah Cilincing, Ancol, dan Muara Angke Kecamatan ini terdiri dari enam desa, Jayasakti seluas 220 hektare (Ha), Pantai Mekar 235 Ha , Pantai Sederhana 65 Ha, Pantai Bahagia 265 Ha, Pantai Bakti 2,90 Ha, dan Pantai Harapan Jaya dengan lahan terluas 275 Ha. Kawasan pemukiman penduduk pinggir laut dengan luas lahan keseluruhan 14.009 hektar tersebut didominasi oleh lahan perairan. Tambak perikanan yang mencakup lahan seluas 10.125 Ha menjadi mata pencaharian utama 60 persen dari total kepadatan penduduk 36.181 jiwa. Sisanya bekerja dengan menjadi petani darat, mengelola lahan pertanian kering seluas 60 Ha. Lahan kritis di Muara Gembong telah dolah dengan budidaya pertanian seluas 512 Ha. Muara Gembong terkenal dengan potensi alamnya, muara ini adalah habitat ikan bandeng yang sangat diminati oleh warga Jakarta karena dagingnya yang tidak bau, hal itu dikarenakan “bandeng gembong” diberikan pakan ikan yang alami. Selain bandeng, kepiting dari Muara Gembong juga terkenal di Jakarta, kemudian “Terasi Jembret”, terasi yang diolah secara alami oleh beberapa penduduknya. Beberapa istri nelayan mengolah udang rebon yang didapat dari laut untuk dijadikan terasi. Penduduk di Kecamatan Muara Gembong didominasi dengan etnis Jawa, kebanyakan mereka menggunakan bahasa Melayu. Bahasa Sunda juga menjadi bahasa sehari-hari mereka, selain bahasa Melayu. Di Desa Pantai Mekar saja sudah terdapat Puskesmas dan Kantor Dinas Kesehatan, selain itu tiga buah gedung Sekolah Dasar Negri (SDN), satu gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan dua buah gedung Sekolah Menengah Atas (SMA) juga telah mendukung dan melengkapi aspek pendidikan warganya “. (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Muara_Gembong,_Bekasi 

Apa yang ditunjukan bapak tadi benar. Mendapatkan pertigaan yang dimaksud. Jalannya lebih lebar dan lebih ‘manusiawi’. Saya merasakan seperti anak sekolah yang baru saja lulus ujian, dengan gembira merayakannya, saking girangnya Bishop (nama motor saya) dipacu dengan kecepatan 60-70 km/jam. Diatas tanah yang akan menimbulkan debu-debu, dengan pemandangan tambak di sekitarnya. Terlebih om Hendra mempersilahkan untuk saya berada di depan, untuk kerperluan dokumentasi, karena di depan motornya om Hendra terpasang perekam video. Tidak memperhatikan teman yang dibelakang, terlalu asyik dengan menarik handel gas. Sampai hal yang tidak di inginkan pun terjadi. Ada kubangan didepan, saya pikir saat itu dapat melewati dengan kecepatan agak tinggi (saat itu 70km/jam), entah lagi teledor. Ketika melewatinya, dengan cepat bishop ‘melempar’ tubuh saya. Tidak ingat kronologis secara tepat, Cuma yang di ingat, hanya guncangan yang mengenai helm yang lumayan cukup keras. Dengan spontan pula, langsung mengangkat bishop dan melihat keadaannya.

Disini baru mengerti manfaat alat pelindung diri yang menempel di motor ataupun di tubuh. Engineguard (besi pipa yang berada disisi kanan/kiri mesin hampir berbentuk huruf ‘U’) menjadi bengkok telah melindungi saya dari motor yang akan menimpa tubuh terutama kaki, jaket terdapat pelindung siku dan pundak yang kata pembuatnya sudah berkualitas CE atau Conformité Européenne untuk memenuhi standar EN 1621-1 yaitu standar perlindungan internasional terhadap dampak mekanis, bekerja dengan baik, hanyak sedikit lecet dibagian lutut karena memang saat itu tidak mengunakan pelindung kaki.

bengkok
Sempat bercanda setelah ini, “wah..sayang sekali om Hendra jauh dibelakang, jadi ga kerekam deh. Perlu diulang adegan jatuhnya?” tanya saya sambil tertawa. Setelah agak tenang, perjalanan dilanjutkan. Dengan kecepatan motor diperlambat, setelah 20 menit kami sampai disebuah desa, bernama Pantai Mekar, di kecamatan Cabangbungin. Jam 15.00 saat itu masih terasa menyengat, om Hendra berhenti di sebuah warung, untuk istirahat. Sambil menenggak minuman, kami ngobrol dan evaluasi selama perjalanan. Dan tentunya membahas jatuhnya saya.

warung
Kurang lebih 20 menit disini, dan bergegas menuju ke desa Pantai Bahagia. Tidak jauh dari sini terdapat sungai yang bermuara ke laut Jawa. Muara Bendera adalah tujuan kami selanjutnya. Menyusuri pinggir sungai, dengan jalan setapak yang jika berpapasan dengan sesama motor, harus berhenti salah satu untuk memberikan jalan. Jarak dari sungai tidak lebih dari 3 meter ke jalan yang kami lalui. Sekitar 20 menit kami berhenti di pinggi sungai, untuk menyebrang sungai. Terlihat perahu kayu, yang kedua ujung perahu terdapat tali yang dikatikan tali yang melintang sepanjang sungai. Perahu ini yang biasa disebut dengan nama “eretan” ini memang di gerakan dengan menarik tali tersebut untuk menuju seberang sungai. Karena air sungai saat itu lebih deras dari hari biasanya, maka hanya 2 motor saja yang bisa dimuat, untuk itu kami bergantian menyebranginya.


Menemukan sensasi tersendiri ketika menaiki eretan dengan motor diatasnya. Karena memang jarang melakukannya, seperti akan menuju daerah pedalaman pelosok negeri, padahal hanya berjarak 60 kilometer dari Jakarta sebagai ibukota negara. Tidak lama kami sampai di sebuah warung kelontong. Dengan hangat kami disambut oleh pemilik warung. Ternyata ini adalah tempat yang dijadikan oleh om Hendra untuk menginap sewaktu mengayuh sepedanya ke tempat yang sama. Sambil minum teh botol dan pesan mie rebus, obrolan hangat terjadi. Warga disini menggunakan bahasa jawa banten, walaupun saya sendiri menggunakan bahasa jawa, tetapi bahasa yang mereka lontarkan tidak seperti bahasa jawa yang biasa saya gunakan.

eretan
ride the boat!
Om Hendra menawarkan kepada kami untuk menyewa perahu nelayan, menuju pantai/laut menyusuri muara Bendera ini. Kebetulan waktunya tepat dengan akan terbenamnya matahari. Kami pun meng-iyakan tawarannya om Hendra. Segera perahu datang dan segera berangkat. Sungai yang lebarnya tidak melebihi 100 meter, dengan arus sungai yang tidak se-tenang biasanya (kata operator perahu), kanan kiri berjejer bangunan rumah yang kebanyakan digunakan sebagai dermaga mini untuk keperluan nelayan. Kami sangat gembira, terlihat jiwa kanak-kanaknya muncul kembali disini. Tak mengapa, toh ini perasaaan alami yang tidak bisa ditahan-tahan. Saking hebonya, mondar-mandir diatas perahu, mengambil beberapa foto matahari yang mulai turun, 4 orang berada dipaling depan perahu, yang tidak kami ketahui ternyata itu membuat perahu kehilangan keseimbangan, dan melenceng ,menuju sisi kanan kali, dan tidak bisa dihindari perahu berhenti karena tertahan pinggir sungai yang terdiri dari tanah menyerupai lumpur. Bagian depan perahu menyangkut pepohonan. Dengan sedikit menahan tawa, karena tidak enak hati oleh kedua ‘nahkoda’, kami berusaha membantu menarik perahu ke jalur sungai. Dengan segala usaha, dari menggoyang-goyangkan perahu, sampai mendorong perahu dengan tumpuan pohon yang menyangkutkan, akhirnya perahu bisa terbebas.

membebaskan perahu
Hari semakin gelap, matahari semakin menguning memantul dari permukaan sungai, suara motor berbahan solar penggerak perahu yang lumayan berisik, tapi tidak menghilangkan kekhusyukan untuk menikmati pemandangan dan situasi yang ada. Sampailah tempat bertemunya aliran sungai dan laut lepas, beberapa kali berpapasan dengan perahu nelayan yang lain sepulang melaut, merupakan pengalaman pertama kali bagi saya. Sang surya yang sedikit malu-malu tertutupi awan tipis. Semakin turun malah semakin terlihat bundar kuning telur. Seakan perjalanan yang menegangkan, terlempar dari bishop , hilang seketika berganti dengan decak kagum pemandangan yang dihadapan. Kami sontak kegirangan ketika matahari terlihat jelas setengah digaris horizontal laut, terlihat siliuet sebuah kapal didepan pandangan kami. Serasa perjalanan kami terbayar lunas, dapat bonus pula.

Muara Bendera (photo by : Menembus Batas)
ride for the sun (photo by : Menembus Batas)
here comes the sun (photo by : Menembus Batas)
Setelah matahari benar-benar hilang dari pandangan, sang nahkodapun memutar kemudinya menuju awal kami berangkat tadi. Melawan arus sungai membuat laju perahu melambat. Sesekali tercium mesin perahu yang terlalu panas, sempat menepi sebentar karena baling-baling penggerak perahu terdapat rerumputan yang menghambat putarannya. Sampai ditempat semula, om Hendra segera bernego tentang harga sewa perahu, akhirnya disepakati harga 200 ribu rupiah untuk sewa satu perahu. Pak Harto menyambut ketika turun dari perahu, om Hendra terlihat begitu akrab dengan pak Harto, karena sebelumnya pernah ketemu ketika om Hendra mengayuh sepedanya ke tempat ini, dan sempat menginap disini pula. Sambil istirahat kami mendengarkan berbagai cerita dari pak Harto yang juga sebagai ketua RW di desa ini.

Sekitar jam 20.00 kami pun berpamitan. Jalan pulang pun tidak kalah serunya, sedikit berbeda dengan keberangkatan, melewati Pakis-Muara Bakti-Babelan-Bekasi. Didaerah Pakis jalan didominasi oleh gundukan-gundukan tanah sehabis hujan, jalan aspal yang berlubang, debu dari tanah yang timbul ketika terlewati roda cukup menyesakan nafas, penerangan jalan yang hampir tidak ada menambah seru saat kepulangan. Diakhiri dengan makan disekitaran MM Bekasi. Saya memisahkan untuk kembali ke Cikarang.

Terimakasih kepada Allah SWT yang sudah melindungi selama perjalanan pendek ini. Teman-teman seperjalanan, Om Hendra, Om Sigit, Om Rustam. Walaupun perjalanan ini relatif berjarak pendek, total pergi-pulang sekitar 200 kilometer. Tetapi saya bisa merasakan sensasinya, dan sangat mengesankan. Menemukan kawan dan hal baru.

[video by Menembus Batas]