Our Riding Ware

Senin, 31 Maret 2014

Gunung Parang, Bongkok dan Rel Cisomang

Kami hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk memutuskan melakukan perjalanan singkat ini, kota Purwakarta adalah tujuan kami saat itu. Karena hari yang semakin sore (23-3-2014) , setelah Bishop sempat 'ngambek' dengan masalah kelistrikan sehingga tidak bisa diajak jalan-jalan sore lebih awal.

Saya, Dadang dan Neni segera meluncur pukul tiga sore dari Cikarang ke kota yang terkenal dengan waduk Jatiluhur-nya itu. Apakah kami akan ke waduk tersebut?tidak ada rencana sama sekali diawal perjalanan. Di awal perjalanan Dadang sudah menghubungi salah satu teman kami yang memang berdomisili di kota tujuan. Adalah kang Rama teman yang akan kami temui, beliau sudah menunggu di suatu ruas jalan sebelum masuk ke daerah Plered, Purwakarta.

Baru kali ini saya bertatap muka dengan kang Rama, walaupun sudah beberapa kali berinteraksi didunia maya, lewat media sosial ataupun forum diskusi. Tidak banyak basa-basi karena waktu juga semakin sore, kang Rama menuntun dengan berkendara di depan kami. Entah akan dbawa kemana, kami ikuti  saja. 

Melalui pedesaan dengan jalan hot mix yang lebarnya kira-kira 3 meter kami menyusuri tiap meternya dengan kecepatan sedang. Seolah semakin menanjak, sayapun bergumam dalam hati jika ini adalah daerah pegunungan.


Sampai akhirnya kang Rama memberhentikan motornya dipinggir jalan, dengan pemandangan persawahan yang menghijau, berlatang belakang gundukan batu menyerupai gunung. Selepas melepas helm, kang Rama berkata "itu adalah gunung Parang" sambil menunjukan kearah gundukan batu itu. Saya sediri sempat terbengong-bengong dengan apa yang terlihat, sebuah gunung sepenuhnya bermaterial batu andesit, menjulang dengan ketinggian +/- 900 meter dari permukaan laut. Dari sini kami mengarahkan motor kami ke gunung ini lebih dekat lagi dengan menempuh beberapa kilometer. Benar saja, kami tiba disebuah tanah lapang, harus mengenggakan kepala untuk bisa mengalihkan pandangan ke puncak gunung.

gunung Parang dari tempat kami berhenti
lebih dekat
Karena hari semakin gelap, kami melanjutkan perjanan. Berhenti setiap ada objek yang menarik perhatian kami, salah satunya adalah gunung Bongkok, letaknya tidak jauh dari gunung Parang. Dengan tipikal gunung yang sama, tetapi Gn. Bongkok ini mempunyai ketinggian lebih pendek, yaitu sekitar 300 meter, tidak menjulang tinggi tetapi melebar, dihiasi pepohonan yang menempel di tebing seakan mempercantik gunung ini. Desa ini juga berbatasan dengan waduk Jatiluhur, jadi kami bisa melihat genangan air waduk dari sini, dengan berlatang bentangan bukit di sekitar waduk. Pemandangan yang membuat kami berhenti unutk mengeluarkan kamera.

gunung Bongkok
waduk Jatiluhur terlihat
Selepas ini kang Rama mengarahkan kami menuju ke Cisomang, lebih tepatnya ke jembatan yang digunakan untuk rel kereta api. Karena hari sudah gelap ketika kami tiba di lokasi, tepatnya di desa Cisomang, kecamatan Darangdan, Purwakarta ini, tidak banyak yang bisa saya tulis tentang jembatan rel  kereta api tertinggi di Indonesia ini. Di sebelah rel kereta ada jalan yang hanya cukup bisa di lewati oleh sepeda motor, karena sudah gelap jadi sensasi berkendara diatas ketinggian jembatan 200-300 meter dengan panjang 230 meter kurang terasa. Mungkin hal ini bisa kami jadikan alasan untuk ketempat ini lain kesempatan. 

gelapnya rel Cisomang


Foto lebih banyak : klik disini

Rabu, 26 Februari 2014

Mengapa Kami harus ke Bromo

padang savana Bromo
“Bromo Bromo Bromo, terhitung sudah kali kedua kami mengujungi pegunungan ini. Kawasan Taman Nasional yang tak pernah bosan menyuguhkan pesonanya. Ia selalu memberikan para pengunjungnya kejutan yang menyenangkan. Ahh, betapa kami selalu terkenang , selalu rindu pada sebuah perjalanan pertama kalinya.
Desember 2011, saat suhu gunung Bromo terasa sangat dingin,kami mulai mancari kehangatan mentari di sela-sela pegunungan ini. Kami ingin menikmati matahari terbit yang cahayanya menerpa perbukitan Bromo dengan magis.
Tetiba saya teringat seorang Teologi yang salah satu esainya yang genit mengatakan “Bandung lahir ketika Tuhan sedang tersenyum ” Maka, saya percaya bahwa Tuhan sedang bersorak bergembira saat Ia menciptakan Bromo.
Lalu munculah perbukitan hijau memanjang berbaris rapih. Ini salah satu primadona keelokan Bromo. Rasanya tak cukup jika hanya mengatakan indah. Ia pula bukan hanya sekedar sebuah lanskap geografis, Ia adalah refleski salah satu kekayaan pesona alam Nusantara”
Itulah sepenggal kata yang ditulis oleh Neni, yang setia duduk dibelakang kemudi motor yang saya kemudikan. Menempuh jarak sekitar 2000 kilometer dai Jakarta sampai Kawasan Taman Nasional Tennger Semeru yang terletak di wilayah administratif 3 kabupaten yaitu Pasuruan, Malang, Lumajang, Probolinggo - Jawa Timur ini.

Rekaman video dan bidikan kamera selama kami di Bromo terekam apik, coba kami rangkai dalam sebuah video. Sampai kami menyadari alasan mengapa kami ke tempat ini, setelah melihat dokumnetasi yang kami ambil.

Ya ada pepatah barat mengatakan “A picture speaks thousand words” . Bukan alasan malas  saya untuk mendeskripsikan tentang keindahannya. Tetapi setelah melihat rekaman kami mungkin anda mempunyai persepsi tersendiri.







Kamis, 06 Februari 2014

Lukisan Sore

Saya sering diperingatkan oleh orang tua ketika masa kecil saat sedang asyik bermain dihalaman rumah, "jika sudah menjelang magrib masuklah rumah, hentikan aktifitas sejenak". Waktu pergantian hari  yang ditandai dengan terbenamnya matahari, konon rawan dengan malapetaka atau celaka ketika kita melakukan kegiatan diluar rumah. 

Saya sendiri belum mengetahui alasan kenapa bisa beberapa orang beranggapan seperti itu sampai akhirnya saya pernah membaca suatu artikel, jika saat pergantian hari (sekitar pukul 5-6 sore) waktu itu pula matahari mulai redup memancarkan cahanya, perubahan warna dilangit yang semakin gelap juga berpengaruh untuk panca indera manusia, dalam hal ini mata juga akan melakukan adaptasi pada setiap cahaya yang diterima. 

Dan akan mengalami ganguan fungsi saat proses adaptasi tersebut. Karena mata merupakan "sensor" awal sebelum diterima otak untuk diterjemahkan dalam bentuk aktifitas organ tubuh yang lain, maka menurunnya fungsi mata berpotensi apa yang kita lakukan akan mengalami hilang fokus, dan bisa dibayangkan apa yang terjadi.

Sebagai seorang yang sering melakukan perjalanan, waktu-waktu pergantian siang dan malam saya manfaatkan dengan menikmati keindahan pergantian cahaya sang surya saat lengser dari atas bumi dimana saya berpijak. 

Saya akan behenti dimanapun saat kejadian itu terjadi. Salah satunya ketika kami melakukan perjalanan dengan menempuh rute Cikarang-Cibarusa-Cariu--Cikalong Kulon-Cianjur-Cisarua-Bogor-Jakarta pada 22- April -2012 yang lalu. Bisa di sebut ini adalah a half day trip, karena kami hanya mengabiskan waktu setengah hari untuk menembuh rute tersebut. Dan perjalanan ini bersifat 'dadakan' alias tidak direncanakan. 

Rute ini beberapa kali pernah kami lewati pada pagi maupun sore hari, dan tampak biasa saja. Trek pegunungan seperti biasa, banyak tikungan dan tanjakan, tetapi suhu tidak se-sejuk seperti pegunungan kebanyakan, malah  cenderung  membuat gerah.

Sampai akhirnya diperjalanan ini kami melewati daerah Cikalong Kulon pada pukul sekitar 5 - 6 sore, membuat kami memperlambat laju motor saat langit tapak bewarna merah muda, sampai  akhirnya memutuskan berhenti tidak jauh dari tebing dipinggi jalan. Mengeluarkan kamera dari dalam tas, mulai mengabadikan pergantian warna langit yang merupakan pantulan matahari saat akan tebenam. 

Pandangan mata kami tidak berkedip saat menatap langit dibalik perbukitan yang berbaris rapi, diselimuti kabut tipis menambah suasana mistis dengan sedikit romantis karena ditemani orang tersayang. Warna langit dari merah muda, berganti kekuningan, semakin lama menjadi merah kelam, sampai akhirnya tidak ada cahaya menerangi bumi kecuali  lampu pijar dari warung tidak jauh dari tempat kami berdiri. Menjadi lukisan sore saat itu. Semua terekam apik di dalam kamera dan tentu saja dimemori ingatan kami. Seakan mengigatkan kami  tentang proses kehidupan. 










Senin, 03 Februari 2014

Splash!

Kami tidak sedang bersenang-senang diatas 'penderitaan' orang  lain ketika melewati beberapa jalan berkubang, disaat warga setempat mungkin sudah bosan mengeluh dalam hati ke pemerintah daerah untuk menggunakan pajak yang mereka bayar untuk mempermulus jalan yang mereka lalui setiap hari. Kami hanya berusaha menikmati perjalanan dengan cara kami. 

Air yang tertampung di sepanjang kira-kira 25 kilometer menuju Ujung Kulon, Banten menyiprat kesegala arah ketika roda yang sengaja dipercepat untuk menciptakan efek splash, serasa menjadi hiburan bagi kami. Beberapa foto hasil bidikan Neni dibawah menggambarkan betapa kami menikmati perjalanan ini. Dan juga bisa merupakan potret ketidakmerataan pembangunan insfratruktur di negara yang katanya gemah ripah loh jinawi ini.







Foto-foto lain bisa dilihat  klik disini

Sabtu, 01 Februari 2014

Around #Ujung_Kulon

Rembesan air hujan yang menempel di tenda terasa ketika terbangun setelah menempuh perjalanan selama 15 jam menuju lokasi NNRUK, tertidur pulas membuat hujan malam harinya tidak mengusiK sampai akhirnya menengok keluar tenda dan menyadarkan jika saat itu sudah pukul 6 pagi. 

Baru benar keluar tenda setelah seorang teman mengoyang-goyangkan tenda dengan bermaksud membangunkan. Diluar ternyata sudah banyak tenda berdiri, tidak terlihat sebanyak ini pada dinihari ketika kami tiba dilokasi. Menyusul beberapa teman datang disekitar tenda dan beramah tamah kami disini.



Setelah siang menjelang saya berkeinginan untuk melihat ada apa saja disekitar kawasan Ujung Kulon. Langsung buka google map, ternyata ada beberapa jalan menuju sampai batas kendaraan bisa dilewati, yaitu bebatasan langsung dengan hutan kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.

Beberapa teman yang bersedia untuk bergabung melihat sekitar Ujung Kulon dengan tunggangannya, antara lain Latanza, Dadang dan Om Ori. Bertolak dari lokasi NNRUK di Sunda Jaya homestay , Desa Taman Jaya kami menuju ke barat lagi. Jika dilihat dari map jarak antara Sunda jaya dan batas Taman Nasional Ujung Kulon (paling barat) adalah sekitar 5 kilometer.

Melewati jalan yang tidak jauh berbeda dengan sebelumnya yaitu berupa jalan aspal rusak, kadang tanah berkubang seakan membuat ketagihan untuk melewati kembali setelah diniharinya melakukan hal sama. Tetapi kali ini karena siang hari maka untuk melakukan pengambilan gambar (foto) akan lebih mudah dari segi pencahayaan. Dalam hal ini motographer andalan kami (Neni) melakukan tugasnya dengan kamera kesayangannya.

Teman-teman tampak menikmati sekali ketika mengambil ancang-ancang, memasukan gigi rendah pada motornya, dan tancap gas saat didepan kubangan, efek air menyebar kesegala arah diabadikan sebuah jepretan kamera yang setelah melihat priview hasilnya berkomentar "bagus..bagus.." bernada puas. Sepatu dan celana yang basah tidak dihiraukan lagi, beberapa kubangan sukses kami lalui.

om Ori
Latanza
Dadang
Ketika menemukan persimpangan, kami sempat ragu-ragu untuk memilih arah. Setelah di jelaskan dengan penduduk setempat ketika kami bertanya kepadanya, jika lurus maka akan sampai dusun terakhir berbatasan dengan hutan taman nasional Ujun Kulon, jika belok kekanan akan menuju pantai lagi dan juga pos penjagaan Cilintang.

Sebelum menapakan roda di dusun terakhir kami harus melewati sebuah sungai dengan lebar sekitar 3 meter, ber-air jernih sehingga kami mantap melewatinya karena mengetahui kedalamannya. Dan kami pun tiba dusun/kampung Cikaung Girang, Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur. Disini kami berhenti di teras sebuah warung kecil menjajakan kebutuhan ringan sehari-hari, dan tentunya kami memesan beberapa botol minuman untuk melepas dahaga.

akses menuju Cikaung
Ditemani oleh pemilik warung, kami selonjoran diteras sambil saling mengobrol. Layaknya orang 'asing' yang baru saja ketemu, kami dan pemilik warung saling mengenalkan identitas. Beberapa cerita kami dengar dari penduduk setempat yang ikut bergabung ngobrol, berbagai cerita kami dengar, dari sudah susah menemukan atau melihat badak bercula satu yang terkenal dari kawasan ini walau mereka sering keluar masuk hutan kawasan hutan Taman Nasional Ujung Kulon. Ada juga cerita menarik juga, walau beberapa titik dipasang beberapa kamera/video record, untuk keperluan penelitian tentang habitat hewan-hewan yang ada dikawasan ini, tidak pernah lagi terekam aktifitas badak bercula atau hewan lain seperti harimau jawa yang disinyalir masih hidup disini, tetapi ketika akan mengambil alat perekam tadi terlihat jejak kaki hewan seperti badak dan harimau tadi.

warga Cikaung
Atau cerita tentang akses jalan menuju lokasi Ujung Kulon ini yang sepeti kurang pendapat perhatian dari pemerintah daerah. "Beberapa waktu lalu sih ada pejabat provinsi Banten datang kunjungan kesini, tapi sampai sekarang juga tidak ada perkembangan untuk membenahinya. Sudah menjadi biasa ketika seperti momen akan dilaksanakan Pemilu ini dimanfaatkan oleh calon-calon 'wakil rakyat' untuk memanfaatkan isu jalan yang tidak layak itu buat ber-kampanye. Ya ketika akan pemilihan seolah-olah akan diperbaiki dengan menata bebantuan sebagai alas aspal, tapi ketika Pemilu usai tidak ada proses pengaspalan" jelas salah satu warga Cikaung. Belum sempat kami menanggapi warga tadi berujar lagi "memang sepertinya golput adalah pilihan terbaik" seolah sudah tidak percaya lagi dengan janji-janji politikus. Saya hanya menganggukan kepala seusai mendengar ceritanya sambil melihat poster lengkap dengan simbol partainya salah satu calon legislatif yang tertancap di pohon sukun didepan kami mengobrol.

Satu jam lebih kami disini dan segera berpamitan dengan warga karena waktu semakin sore. Tujuan kami selanjtunya adalah pos Cilintang, tempat yang ditunjukan oleh warga dipersimpangan tadi sebelum kami sampai di kampung Cikaung. Tidak terlalu kesulitan mencapai lokasi, kalaupun ragu-ragu dipersimpangan kami tinggal wanya dengan penduduk setempat, seperti halnya ketika sampai pada sebuah tugu bertulisakn "Selamat Datang di Ujung Kulon" lengkap dengan ilustrasi seekor badak. Setelah bertanya dengan seorang bapak yang kebetulan tidak jauh dari tugu ini, beliau menunjukan arah ke kiri untuk menuju ke pos Cilintang.



Tibalah kami di pos penjagaan Cilintang, terlihat beberapa petugas jagawana yang masih beseragam sedang duduk santai di atas bale-bale kayu didepan bangunan/rumah jaga. Jika akan masuk kedalam hutan, para petugas ini siap mendampingi para tamunya. Setelah memarkir Bishop saya langsung menanyakan ke para penjaga tentang akses menuju ke pantai, ditunjukannya sebuah jalan setapak untuk menuju kepantai. Tidak banyak yang ditanyakan karena waktu itu semakin sore, dan niat kami untuk melihat sunset pantai membuat bergegas menyusuri jalan setapak tersebut dengan berjalan kaki.

pos Cilintang (photo: mang Dadang)
Berjalan sekitar 100 meter disamping kami berbatasan langsung dengan hutan Taman Nasional Ujung Kulon yang tampak masih alami dengan di batasi oleh pagar terbuat dari kawat yang tampak di aliri arus listirk ini dimaksudkan untuk menjaga margasatwa tidak keluar dari kawasan ini.  Sampailah kami dibibir laut, tampak beberapa pohon besar tumbang tapi masih tampak hidup dan ditumpani oleh tumbuhan lain. Garis pantai yang sebenarnya membentang panjang tetapi terhalang oleh beberapa pohon yang menjorok ke laut, membatasi kami untuk hilir mudik berajalan diatas pasir. Lokasi ditempat bediri berhadap langsung dengan teluk Selamat Datang. Sunset yang kami tungu juga urung muncul karena tertutup awan mendung. Karena itu kami balik ke pos untuk segera menuju kembali ke lokasi acara NNRUK.




Sampai dilokasi NNRUK disambut oleh sunset yang kami harapkan sebelumnya, serta teman-teman yang baru saja tiba dari beberapa daerah seperti Bandung, Jogja, Solo, Semarang. Kehangatan obrolan teman-teman pun terjadi, biasanya kami ber interaksi lewat forum Nusantaride di dunia maya tapi kini bisa bertemu di dunia nyata. Itu adalah salah tujuan dari diadakan acara tahunan ini. Kami saling berbagi cerita tentang pengalaman masing-masing berkendara menikmati alam nusantara.

Kami tidak datang untuk bertemu dengan artis adventurer yang biasa di televisi, karena kami-lah artis atas diri kami sendiri walaupun dengan petualangan sederhana yang kami lakukan. Tidak ada motor ratusan juta yang sediakan panitia untuk foto-foto, dan di upload di media sosial, karena kami bangga dengan motor yang kami miliki walupun itu murah harganya. Ya sebagian dari kami berpendapat motor  hanya sebagian alat untuk mengenal negeri ini dengan berkelana, menyusuri tiap sudutnya, serta berbagai cerita lewat foto dan cerita perjalanan.

Sekelumit tempat yang kami bisa ekplore dikawasan yang berdekatan langsung dengan habitat badak ini, sebenarnya masih banyak lokasi-lokasi yang ingin kami telusuri termasuk pulau-pulau di dekat sini, dengan menyewa perahu dengan harga sewa sekitar 2 jutaan bisa berpenumpang 20 orang, bisa menyambangi pulau-pulau sekitar sini yang konon keindahannya sering disebut surga dunia.

kembali
sunset Sunda Jaya

Sekelumit tempat yang kami bisa ekplore dikawasan yang berdekatan langsung dengan habitat badak ini, sebenarnya masih banyak lokasi-lokasi yang ingin kami telusuri termasuk pulau-pulau di dekat sini, dengan menyewa perahu dengan harga sewa sekitar 2 jutaan bisa berpenumpang 20 orang, bisa menyambangi pulau-pulau sekitar sini yang konon keindahannya sering disebut surga dunia.


******

Peta letak dan luas kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (sumber: http://www.ujungkulon.org/tentang-tnuk/letak-dan-luas) :














Selasa, 21 Januari 2014

15 jam Menuju National Nusantaride Rally Ujung Kulon

Sabtu pagi (11/12/2014) dingin masih menyelimuti Cikarang, mungkin karena malam harinya hujan mengguyur kota yang biasanya membuat gerah ini. Mata belum sempat terbuka, tapi ketukan pintu dan ucapan "Asalamualaikum" membuat saya beranjak dari tempat tidur untuk menengok siapa yang datang.

Adalah Dadang dan Latanza sudah berada didepan halaman rumah beserta tunggangannya. Seolah mereka menjemput saya untuk berangkat mengikuti acara National Nusantaride Rally Ujung Kulon (NNRUK), sebuah acara untuk mengumpulkan para pelaku pengendara sepeda motor yang biasanya melakukan perjalanan dengan berbagai misi, salah satunya adalah memperkenalkan keindahan alam Indonesia.

Latanza yang baru saja melakukan perjalanan Jogja -Cikarang saya persilahkan isitrahat lebih dulu. Selang satu jam kami pun sudah bersiap menuju Jawa paling barat tempat berlangsungnya NNRUK. Kami memilih rute Cikarang-Setu-Cibubur-Bogor-Jasinga-Rangkasbitung-Pandeglang-Labuan-Lokasi.

on the way
Karena berangkat dari Cikarang sudah menunjukan pukul 9 pagi, beberapa ruas jalan sudah mengalami kemacetan. Sesampainya di jalan Cibubur, disana sudah menunggu mas Lukman, tampak sudah bersiap bergabung dengan kami menuju NNRUK. Sehabis ini saya menjemput Neni yang telah menunggu di jalan Margonda, untuk duduk manis di jok belakang Bishop.

Menyusuri jalan raya Bogor, dengan kecepatan sedang karena sudah mulai padat lalu lintasnya, beberapa kali saya harus sering menengok kaca spion untuk mengecek teman-teman yang berada dibelakang, beberapa teman tidak begitu hafal dengan rute yang akan kami lalui. Tidak sengaja kami bertemu dengan om Ori di jalan ini, dengan mengendarai motor jenis trail beliau menyapa kami, karena sudah pernah beberapa kali ketemu sayapun membalas sapaannya. Tentu saja beliau akan menuju NNRUK juga.

Ketika belok ke arah jalan baru Bogor yang mengarah ke Jasinga, kejadian pisah rombongan terjadi. Mas Lukman ternyata tidak belok, malah justru jalan lurus dan hilang dari pantauan. Setelah menelponya kami menunggunya, sementara om Ori yang berada didepan sudah melejit lebih dulu, dan kami merelakan beliau untuk jalan lebih dahulu.

Setelah formasi lengkap kembali kami melanjutkan perjalanan. Kami berhenti beberapa kali untuk makan siang masih didaerah Bogor, dan beberapa kali di minimarket ketika memang dibutuhkan untuk sekedar istirahat. Seperti kebiasaan setiap melakukan perjalanan, untuk berhenti maksimal per  2 jam.

Memasuki daerah Rumpin, rintik hujan terlihat menempel di kaca helm. Semakin jauh semakin deras, kami pun berhenti untuk memakai perlengkapan anti air. Jadilah sepanjang perjalanan ditemani oleh derasnya hujan.

pakai jas hujan
Memasuki Jasinga, jalan berkelok khas pegunungan kami rasakan, dengan pemandangan pohon sawit, dan perbukitan yang memanjakan mata ketika sesekali menengok melihat sekitar jalan. Saking asyiknya menikmati setiap tikungan sampai kadang saya lupa jika masih ada teman yang dibelakang saya, tampaknya saya dengan Latanza yang lebih bisa menikmati jalan seperti ini. Beberapa kali Dadang dan mas Lukman luput dari pandangan kaca spion, itu berarti saya harus menurunkan kecepatan sampai mereka mendekat kembali.

kiss the rain
Ketika memasuki Rangkasbitung hari semakin gelap, pada saat itu sekitar pukul 18.00, tetapi hujan sudah reda. Selelah berhenti sejenak disebuah mimarket untuk istirahat dan melepas jas hujan. Kami melanjutkan perjalanan menembus gelap menuju Pandeglang, yaitu kota setelah Rangkasbitung. Tidak ada hambatan berarti melewati kota Pandeglang, cuma ketika akan masuk kota Labuhan ada pengerjaan jalan yang mengharuskan tetap hati-hati melewatinya karena permukaanya tidak rata, dan kadang harus bergantian dengan pengendara yang lawan jalur karena jalan berubah jadi satu jalur.


Tidak disengaja kami ketemu dengan salah satu teman yang sedang melintas di jalan Pandeglang, serasa tidak asing dengan motor yang ditungganginya walaupun baru pertama kali ketemu disuatu acara. Adalah mas Bucek sang pengendaranya, yang akan menuju NNRUK pula, jadilah tambah satu lagi personil lagi. Karena mas Bucek motornya dilengkapi GPS, maka posisi terdepan dari rombongan digantikanya, karena dari perkiraaan lokasi tidak begitu jauh lagi, dan karena dari pihak panitia event untuk mencapai lokasi hanya dibekali oleh koordinat.

di sela waktu istirahat
Tidak bisa banyak yang dilihat ketika malam tentu tidak bisa menceritakan kondisi sekitar. Lagi-lagi kami ketemu lagi ditengah perjalanan dengan mas Hendry bersama rekannya satu motor lagi, dalam perjalanannya ke lokasi yang sama, bertambah kembali anggota rombongan.

14 jam sudah berkendara diatas roda dua, rasa ngantuk, lelah sudah mulai terasa. Menengok google map, diperkirakan 20 - 30 km lagi mencapai lokasi. Di luar dugaan kondisi jalan selanjutnya adalah berupa aspal rusak, berlubang atau lebih tepatnya disebut berkubang karena di isi oleh air sehabis hujan, tidak jarang juga diselingi batuan lepas, gravel tiada henti. Entah siapa yang memulai dahulu, saya, Dadang dan Latanza berinisiatif mendahului rombongan.

Saat itu saya sendiri berpikir untuk mengusir rasa ngantuk dangan cara menambah kecepatan, sengaja melewati kubangan sehingga cipratan air terjadi, cukup membasahi bagian kaki. Ternyata apa yang saya pikirkan terjadi juga pada Dadang dan Latanza, saling menyalip ketika terdapat kubangan, guyuran cipratannya cukup membuat rasa ngantuk ini hilang, balas membalas pun terjadi antara kami. Malah seakan menjadi hiburan tersendiri ketika melewati jalan seperti ini. Karena terlalu menikmati jalan ini, sampai tidak terasa bahwa kami sudah dekat dengan lokasi, beberapa kilometer sebelum tiba dilokasi saya bertanya kepada penduduk, karena kondisi penerangan yang gelap gulita membuat ragu.

Akhirnya kami tiba di lokasi tepatnya berada di Sunda Jaya Homestay, Taman Desa Jaya, Ujung Kulon Banten, koordinat Lat: S 6°47.022' (6°47'1.3") Long: E 105°30.164' (105°30'9.8") pada pukul 2.30 dinihari, disambut oleh beberapa teman yang sudah tiba lebih dahulu. Dengan kondisi basah kuyup, kami segera mencari kamar mandi, untuk selanjutnya mendirikan tenda dilokasi yang telah sediakan oleh panitia. dan tentu saja tertidur pulas setelahnya.

rute perjalanan (http://goo.gl/maps/Da8vh)

*Postingan berikutnya menceritakan tentang perjalanan disekitar lokasi NNRUK



Senin, 06 Januari 2014

30 km; 3,5 jam; Mencekam



Saat itu (21/12/2013) waktu pada jam tangan menunjukan pukul 16.30, tibalah saya dan bishop (nama motor saya) di suatu tempat dengan menyajikan pemandangan alam tidak lazim, paling tidak ditengah perjalanan pulang ke Jogja, tempat ini membuat saya berhenti, melepas helm dan sarung tangan serta mengamati sekitar. Setelah menempuh beberapa kota Cikarang-Subang-Bandung-Sumedang-Majalengka-Kuningan dan akhirnya berada di Brebes. (rute lengkap klik disini

Tepatnya di desa Sindangheula, kecamatan Banjarharjo, kabupaten Brebes, Bishop saya memarkir dipinggir jalan raya beraspal yang tampak mulus, terlihat memang jalan ini baru saja diselesaikan pengerjaannya. Pandangan lurus kedepan tertambat pada rangkaian gunung atau perbukitan kehijauan seolah membentengi desa ini. Sebelah selatan merupakan rangkaian gunung Kendeng dengan puncaknya gunung Kumbang (1218 dpl). Gerimis tidak membuat saya bergegas meninggalkan tempat ini.

Sedangkan hamparan sawah menguning, sebagian sudah tidak berpadi karena sudah dipanen melengkapi lukisan-Nya ini. Aktifitas petani membuat saya terkesima, maklum apa yang saya lihat pada saat itu sudah jarang ditemukan, petani dengan mengangkut jerami, beberapa kali juga terlihat menggiring barisan kerbau setelah menunaikan tugasnya membajak sawah. 

Tidak terasa hari semakin gelap, segera saya menyipakan segala sesuatu untuk melanjutkan perjalanan, termasuk melihat google map di layar ponsel, sudah menjadi kebiasaan bagi saya ketika melakukan perjalanan rute ditemukan ketika saat itu juga. Tidak ada isitlah kesasar, tapi lebih tepat disebut menemukan hal baru. Jalur ditunjukan melewati perbukitan yang ada dihadapan. Tidak berpikir panjang, segera tancap gas melaju dijalan yang tampak hilang tertelan bukit. 

Jika dilihat dari google map  maka terlihat gambaran topografi  jalur yang akan saya lalui. Perbukitan mengelilingi hampir membentuk lingkaran, menyerupai sebuah mangkok. Benar saja, saya harus melewati tanjakan ekstrim, diperkirakan kemiringan sudutnya antara 45 derajat, kadang kala harus dikagetkan dengan belokan memotong dengan langsung menanjak. Jalan lebarnya sekitar 3 meter selalu merepotkan jika berpapasan dengan mobil, tapi hal itu jarang terjadi karena jalur ini tergolong sepi.

Hujan semakin deras, memaksa saya memakai perlengkapan anti air. Selalu menjadi kendala dengan penglihatan, kaca helm yang terburamkna oleh air hujan, jika kacanya ditutup makan akan timbul kaca mengembun, sedangkan saat kaca terbuka masih ada kacamata minus yang bernasib sama dengan kaca helm saat menemui hujan. Bishop tidak bisa dipacu kencang dengan alasan tersebut.

Sedangkan hari semakin gelap, sepanjang jalan hanya dikerumuni oleh pohon jati atau pinus yang menjulang tinggi. Sementara hujan semakin deras menghujam, celana yang tadinya tahan air entah mengapa menjadi tembus air membasahi kulit menambah menggigilnya tubuh ini. Sedikit lega ketika jalan dari tanjakan berubah turunan, itu berarti saya sudah melewati bukit ini dan berharap akan menemukan pemukiman untuk sekedar menghangatkan tubuh dengan kopi panas atau istarahat meluruskan kaki.

Benar saja akhirnya menemukan pemukiman penduduk, beberapa tulisan papan petunjuk menamakan daerah ini bernama Salem. Kegiatan tersesat selalu memberi dampak wawasan baru tentang daerah yang belum pernah dijamah secara tidak sengaja. Salem ini merupakan kecamatan dari kabupaten Brebes, letak geografisnya berada di lembah yang dikelilingi hutan dan deretan pegunungan disekitarnya. Tentu pemandangan khas pegunungan akan menyejukan mata di daerah ini. Posisi kecamatan ini seperti seolah-olah seperti didasar mangkok/piring, sekelilingi adalah perbukitan yang cukup tinggi, karena kondisi lokasi seperti tersebut wilayah ini tergolong terisolir. Sangat di sayangkan saya tidak bisa mengenal daerah ini lebih jauh, tapi karena waktu semakin mendekati malam, kondisi  badan yang basah membuat keinginan untuk keluar dari wilayah ini.

Sehabis melewati daerah ini, untuk keluar harus menembus hutan kembali, waktu itu menunjukan pukul 19.00, saat memasuki rerimbunan pohon, tidak ada penerangan jalan sama sekali, hanya lampu depan bishop yang bisa diandalkan walau tidak terlalu terang. Sekitar 2 kilometer berjalan ada perasaan ragu-ragu, sedikit takut. Bertanya-tanya dalam hati, seberapa panjang jalan seperti ini, apakah aman, dan lain sebagainya. Keraguan itu membuat saya balik arah kembali ke arah pemukiman.

Ditemui sebuah warung, saya langsung memesan kopi panas. Selain itu maksud hati ingin menanyakan beberapa hal kepada pemilik warung, seorang wanita berjilbab yang tampak masih muda. Dari pertayaan yang saya lontarkan, dia menjawab denga logat sunda, jika jalannya memang seperti itu yaitu berupa hutan, dan gelap semua, tapi nanti sesekali akan menemukan desa, waktu tempuh bisa mencapai dua jam sampai keluar hutan ini.

Entah apa dari sugesti obrolan tadi, atau dari keterangan pemilik warung yang membuat saya bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Pikiran negatif dipaksa untuk menjadi positif untuk bisa melewati hutan ini, tidak ada jalan lain untuk bisa keluar dari daerah ini dan mencari tempat istirahat di kota terdekat.

Menelusuri jalan hutan pun dimulai, walau jalannya sudah ber aspal, tapi tetap harus extra hati-hati, banyak kubangan karena aspal rusak tertutup dengan genangan air hujan, hujan semakin deras mengiringi perjalanan. Beberapa kali lubang-lubang itu berhasil membuat kaget, dan cukup ampuh membuat shock breaker depan bishop bocor olinya (oli bocor in diketahui setelah tiba di Jogja). Sesekali hewan malam mengeluarkan suaranya menambah semakin mencekam suasanya. Tapi saya coba mengelola rasa takut yang ada didalam diri. Tapi tidak bisa mengatur rasa dingin yang membuat badan ini semakin menggigil, karena derasnya air hujan.

Semakin terlihat lampu penerangan rumah-rumah penduduk, itu berarti semakin dekat menuju kota terdekat, dan juga terbebas dari kegelapan hutan bersama mencekam suasana didalamnya. Akhirnya saya tiba di kota Bumiayu, disebuah pasar dengan ruko berjejer saya menepi. Menuju kerumunan orang dan bertanya tentang penginapan terdekat, ditunjukan tempat menginap terdekat dengan tarif termurah. Akhirnya saya mendapatkan penginapan dengan tarif 70.000 rupiah permalam dan segera isitrahat untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja kesesokan harinya. Sebelum bisa tidur saya bersyukur bisa melewati jarak 30 kilometer (Sindangheula-Bumiayu) dengan durasi 3,5 jam yang membuat andrenalin sedikit terpacu ketika melewatinya, sampai akhirnya saya bisa tidur nyenyak didalam sleeping bag.

kecamatan Lasem seperti berada di alas mangkok. H-I (Sindangheula-keluar Lasem).
 Rute lengkap : http://goo.gl/maps/P1tTA